Aishie Schiffer : aah.. makasih ^_^ iya ini udah updet chap 2.. review lagi yak.

Rara chan : alurnya berat yah? ya oke dah ntar saya akan buat lebih ringan agar mudah dinikmati... mohon tanggapannya lagi yah untuk chap ini ^_^

chachaa : keren? sankyuuu *hug* ini udah dilanjut sayonk... ripiuw lagi yah ^_^

sami haruchi 2 : iya ini udah dilanjut.. review lagi yah ^_^

Karasu Uchiha : ah ayy udah liat animenya sampai tamat :D Hehehe... ini udah updet chapter 2.. semoga suka yah ^_^

Ran Murasaki SS : Ok, udah di lanjutt... ripiuw lagi!

arumru kuroi-ru : iyaa... ini idenya dari phsychic.. tapi ntar alurnya bakal beda banget.. ^_^ hohoho *kampleng* okehh.. ripiuw lagi yak!

Hikari 'ShiChi' ndychan : iya ini udah updet.. tapi maaf gak bisa kilat ^_^

Baka Iya SS : Iya betull seperti Kakashi ^_^ hohoho *barusadar* minta ripiuwnya lagi yak!

SakuraChiha93 : gomeen... gomen.. gomen gak bisa updet kilat dikarenakan UAS dan ulangan yang bejibun.. gomen... hehehe masih minat baca kan? review lagi yak!

Tsurugi De Lelouch : ini udah di lanjut senpai... *kissu* minta saran yah senpai untuk chap ini ^_^

SSasuke 23 : kenapa kalau pennamenya disebut? gak boleh? *asahkusanagi* heheheh :D bibinya masih ada.. tp ntar aja lah dia keluarnya :D skrg fokus ke hubungan SasuSaku dulu :D oke, repiew lagi yak!

me: iya ini udah updet tp maaf gak bisa kilat ._.v

Neko-chan : iya ini udah di updet.. maaf ya soal alurnya kemarin yg ngebut... soalnya saya gak mau fokus tentang Sasuke ekcil, tapi fokus ke masa Sasuke setelah bertemu Sakura ^_^ hehehe minta pendapatnya lagi yah tentang chap ini.

limfaQ : dukung? beneran? aaaah makasiiiiih.. *pelukeret* ini udah lanjut... ripiuw lagi yak! ^_^

Ayano Futabatei : maaf... maaf.. maaf gak buru-buru dilanjutkan.. habisnya masa UAS memaksa saya untuk harus fokus ke pelajaran dulu.. maaf yah :( *terimanasib* oke, minta reviewnya lagi yak ^_^

Nina317Elf : iya bener-bener.. Sakura bagai penyejuk musim... *hugSakura-chan* minta reviewnya lagi yah ^_^

Light of Sky : iya bener... kuchik-chan, minta reviewnya lagi yak! ^_^

Sky Pea-chan : iya ini udah di updet.. review lagi yah ^^

Sami Haruchi : kalau saya sih rate M karena akan ada unsur dewasa seperti kekerasan, alkohol dan (maybe) lime+lemon *bukakartumesum* okeh ripiuw lagi yah ^_^

MeyHanazaki1 : iya hebat matanya Sasu... ini udah updet kok kak mey... ripiuw lagi ya, onee-chan *kedipkedip*

SandriThePrinceOfScorpio : kamu mesum... *jitakpakekusanagi* :D hehehehe

Yosh, udah selesai balas reviewnya... maaf kalau ada kesalahan penulisan nama ya.. ^_^


...

Tak pernah aku menginginkannya...

Terlahir dengan mata ini...

Aku tak suka

Mata kiri ini...

Aku membencinya

Kenapa harus aku? Kenapa?

Kalau seandainya aku boleh memilih,

Aku tak ingin terlahir dengan mata sialan ini

.

.

The One of My Eyes

By: Kamikaze Ayy

Naruto dan segala chara adalah milik Masashi Kishimoto, serta Psychic adalah milik Manabu Kaminaga. Saya hanya mengarang fiksi ini tanpa mengambil sepeserpun keuntungan materi dari isi cerita.

Pairing : Sasuke Uchiha & Sakura Haruno

Genre : Supranatural, Mysteri, Suspense, and Romance

Dedicated for all the readers

DONT LIKE, DONT READ!

NO FLAME!


.

.

Chapter : 2

"Hahahahahaa..." Sakura tertawa keras saat mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Sasuke. 'Mata yang dapat melihat segala hal yang tak dapat dilihat oleh manusia lain?' Jangan bercanda!

"Kau tak percaya?" Biasanya Sasuke selalu menyembunyikan semuanya seorang diri. Ia bahkan tak pernah memberitahukan perihal masalah ini kepada kakaknya.

"Tentu saja tidak. Hahahahahahaa..." Sakura masih tergelak pelan sembari memegangi perutnya.

"Temanmu tadi berteriak kesakitan seperti itu karena ulah seorang wanita berambut pendek yang tak ingin lukisannya di pindah dari gudang tersebut."

DEG...

Benar? Ya, benar sekali! Sakura dan Ino memang sedang berniat mencari koleksi lukisan-lukisan para senior pendahulu mereka untuk dipajang di ruang klub melukis. Namun saat Ino akan memindahkan sebuah lukisan tua yang bergambar bangunan mewah seperti kastil itulah ia mulai berteriak kesakitan seperti sedang disiksa. Dan, darimana Sasuke bisa tahu itu?

"Ka-kau?"

"Aku sudah bilang, kan?"

'Jadi lelaki tersebut memang tak berbohong? Mustahil sekali!'

"..."

"..."

Tak ada yang berbicara lagi, semua terlarut dalam alam pikirannya, baik Sakura maupun Sasuke sama-sama tenggelam dalam alam lamunan masing-masing. Saling berusaha mencerna apa yang baru saja mereka dengar dan lakukan.

Sasuke adalah tipe orang yang tertutup kepada orang lain, bahkan kepada kakaknya sendiri pun juga begitu. Tapi mengapa dengan gadis merah muda yang bernama Sakura tersebut, ia jadi bisa lebih membuka diri? Bahkan ia menceritakan sebuah rahasia besarnya kepada gadis dengan nama musim semi tersebut. hey, mereka bahkan baru saja berkenalan tak lebih dari sepuluh menit yang lalu. Tapi, tatapan permata emerald itu... Ck, merepotkan, eh?

Tap.. Tap.. Tap..

Sakura yang masih terdiam dalam alam khayalannya segera tersadar saat menyadari bahwa Sasuke telah beranjak dari posisinya semula yang tengah menghimpitnya di tembok, kini pemuda itu telah berjalan menjauhinya.

"Hey, mau kemana kau?"

Sasuke menghentikan langkahnya begitu mendengar gadis pink tadi kembali memanggilnya. "Ruang klub," jawab Sasuke santai.

"Hey tunggu!" dan gadis musim semi itu kembali mengejar Sasuke. Sasuke tak menghiraukan panggilan Sakura. ia terus berjalan tanpa menoleh seolah mengabaikan gadis merah muda tersebut.

"..."

"Hey, aku masih belum percaya dengan ceritamu. Yah, kau memang benar bahwa kami sedang mencari lukisan tua milik alumni terdahulu sekolah ini, tapi itu hanya kebetulan saja kan? Itu tak memberi bukti tentang kebenaran ucapanmu."

Tuing...

Muncul perempatan di dahi Sasuke, apa maksud gadis itu? Ia menuduhnya telah berbohong dan seolah telah mengarang cerita tentang matanya itu, eh? Ah konyol sekali.

Sasuke tak lagi menyahuti ucapan Sakura, baginya sama sekali tak penting tentang gadis itu mau percaya atau tidak. Ia terus berjalan ke arah ruang klubnya, dan masuk lalu kembali duduk diatas sofa seraya mengambil laptop hitam yang sedari tadi telah menunggu kedatangannya.

"Ah, aku tahu! Kau terobsesi oleh cerita horor film hantu, ya? Sampai kau berimajinasi segitu tingginya. Atau kau sedang membaca novel dengan genre suspense?"

Tuing...

Perempatan siku lainnya kembali muncul di kepala pemuda itu. Betapa tidak, jadi gadis itu menganggapnya seorang maniak film atau novel dengan kisah horor lalu mengaplikasikannya di dunia nyata? Huh, sekali lagi .. konyol sekali! Dan, hey sejak kapan gadis itu masuk ke ruangan klubnya? Apa jangan-jangan ia adalah seorang stalker? Oke, pikirannya mulai terkontaminasi virus ngaco dari gadis tadi.

Sasuke tetap diam tak bergeming, ia mulai fokus pada pekerjaan di laptopnya tanpa mau ambil pusing pada ucapan gadis cerewet itu.

"Ah kalau memang begitu, bolehkah aku meminjam novel atau kaset dari film horor milikmu itu? Sepertinya kisahnya cukup menarik?"

Cukup! Cukup sudah dengan segala omongan kosong gadis pink tersebut!

"Haruno Sasori."

"Ha? A-apa kau bilang?" Sakura membelalakkan matanya saat mendengar sebuah nama disebutkan oleh Sasuke dengan nada pelan.

"Haruno Sasori, saudara laki-lakimu yang telah meninggal lima tahun lalu karena tertabrak truk saat mengejarmu."

DEG...

'Bagaimana ia bisa tahu?'

"Anak laki-laki itu kini berada di belakang kananmu."

"Hahahaha.. berhenti berbicara hal konyol, Uchiha-san!" Sakura tertawa seakan berusaha menepis apa yang sedang Sasuke katakan. Namun, tawa itu terdengar sangat miris dan menyayat hati.

"Kau sedih 'kan? Karena saudaramu itu meninggal saat bermain dneganmu? Kau merasa bersalah?"

"Berhenti! Berhenti berbicara seperti itu!"

"Berusaha mengelak, eh?"

"BUKAN AKU YANG MEMBUNUHNYA! SASORI-NII MENINGGAL KARENA KECEROBOHANNYA SENDIRI." Sakura berteriak keras membuat Sasuke harus menutup telinganya jika tak ingin gendang telinganya pecah.

Tes... Tes... Tes...

Air mata itu mengalir dari balik kelopak emerald. Sakura tersungkur di lantai dengan lutut sebagai tumpuan badannya. Kedua tangannya mengepal erat.

"Hn?"

"A-aku, bukan aku yang membunuh Sasori-nii. Bukan aku! Hiks..." Sakura terus saja berkata seperti itu sembari menangis, membuat Sasuke yang entah mengapa menjadi merasa bersalah karena telah mengatakan hal seperti tadi. Tapi toh ini salah gadis itu juga yang terus mendesaknya dan mengatainya sebagai pembohong karena maniak pada cerita horor. Jadi, impas bukan?

Tapi...

Tak tega juga rasanya melihat gadis merah muda itu terus mengisak karenanya. Perlahan Sasuke bangkit dari posisi duduknya setelah sebelumnya menaruh laptop hitamnya di atas meja.

Greeeb...

Entah karena keberanian apa, Sasuke memeluk gadis musim semi itu. Ya, ini sangat aneh. Padahal ia terkenal karena sikap tidak pedulinya pada orang lain, tapi mengapa dengan gadis yang baru saja ia kenal ini malah membuatnya menjadi seperti ini.

"Maafkan aku, aku tau kau masih tak terima dengan kematiannya, tapi dia berkata jika ia sudah memaafkanmu dan sama sekali tak menyalahkanmu atas kematiannya di masa lampau." Sasuke berbisik pelan di telinga Sakura seraya masih etrus mebelai-belai rambut gadis itu seolah berusaha menenangkannya, walau sebenarnya Sasuke juga tak mengerti bagaimana cara menenangkan seorang perempuan yang sedang menangis.

"Hiks... Sasori-nii.. hiks.." Sakura masih menangis. Luka dalam yang telah ia tutupi selama lima tahun belakangan ini, kini harus kembali menganga lebar karena pemuda Uchiha yang tengah memeluknya sekarang.

Sasuke merenggangkan pelukannya, ia menatap dalam pada Sakura yang masih terisak. "Apa kau mau melihat saudaramu itu?"

"..."

Sebuah tawaran yang cukup mengagetkan Sakura. Bagaimana bisa ia melihat kembali kakak laki-lakinya yang nyata telah meninggal dan dikuburkan lima tahun lalu.

"Kalau kau masih tak percaya akan omonganku, aku akan buktikan kepadamu. Tutup matamu dan pegang tanganku," ucap Sasuke lembut.

Sakura melakukan apa yang dikatakan Sasuke. Ia menutup matanya dan tangannya pun terdiam saat jemari besar Sasuke menggenggamnya dengan lembut.

"Sekarang bukalah!"

Sakura membuka kedua kelopak matanya, menampilkan sepasang indah emerald yang langsung terkejut saat melihat sosok saudara kandung lelakinya yang telah meninggal lima tahun silam. Pemuda dengan wajah manisnya, manik mata hazel dan rambut merah lembut yang sangat persis dengan ayahnya.

"Onii-san..."

Sakura melepaskan genggaman Sasuke, ia kemudian berdiri lalu menjulurkan tangannya bermaksud menggapai tubuh kakaknya yang nampak sedang tersenyum.

"Onii-san... Maaf-"

"Kau tak perlu meminta maaf, aku begini karena memang sudah takdirku, Saku-chan." Demi langit yang menaungi bumi, Sakura berani bersumpah jika ia dapat mendengar alunan suara maskulin sosok kakaknya yang sangat ia rindukan.

"Hiks... Onii-san~" Sakura tak dapat menahan air matanya yang melesak keluar. Liquid bening itu jatuh meluncur begitu saja dari pelupuknya. "Onii-san, Sakura merindukan nii-san."

"Aku juga sangat merindukanmu, Saku-chan. Aku ingin bermain bersama denganmu lagi. Tapi tenanglah, meski kita tak dapat bermain bersama di dunia nyata, percayalah bahwa aku selalu bersamamu. Di hatimu~" Sasori menyentuh tangan Sakura. walau kulit keduanya tak dapat bersentuhan karena sosok Sasori yang seolah tembus padang dan transparan tersebut, tapi Sakura dapat merasakan kelembutan dan kehangatan kakaknya.

"Aku sangat menyayangimu, Onii-san. Hiks~" Sakura menggigit bibir bawahnya pelan begitu ia menangkap sosok Sasori yang semakin memudar.

"Aku juga sangat menyayangimu, Saku."

Dan bersamaan dengan itu, semua menjadi gelap bagi Sakura.

xxxxx

"Kau lama sekali, Teme!"

"Hn, tadi ada urusan."

"Aargh, alasan konyol."

"Hn."

Sasuke yang baru saja tiba di rumah keluarga Namikaze, langsung disambut omelan Naruto karena kedatangannya yang 'nyaris' telat dari jam perjanjian tadi. Well, silahkan salahkan gadis cerewet berambut pink tadi yang telah memaksanya untuk terlibat dalam hal berbau mistis. Ia juga harus kerepotan saat gadis pink itu pingsan setelah sebelumnya Sasuke mempertemukannya dengan arwah kakaknya dengan kemampuan yang dimiliki Sasuke. Semoga gadis yang ia tinggalkan di ranjang UKS itu baik-baik saja.

"Sasuke-kun, ayo masuk! Makan malamnya sudah siap," ucap seorang wanita paruh baya yang sangat cantik berambut merah panjang sepingggul sembari tersenyum ramah kepada Sasuke dan mengajak lelaki tampan itu untuk masuk dan menuju dapur.

"Hn," jawab Sasuke datar seperti biasa.

"Kushina memasak sangat banyak malam ini, jadi kalian punya kewajiban untuk menghabiskan semuanya," ucap seorang pria dewasa berambut kuning jabrik yang sekilas sangat mirip dengan Naruto hanya saja ini dalam versi dewasa.

"Lihat saja nanti, Tou-san! Aku akan menghabiskan ramen spesial buatan Kaa-san." Naruto menyahut seraya melirik ke arah ramen dengan campuran daging spesial buatan ibunya, membuat yang lain tertawa renyah akibat nada ucapannya.

Sasuke pun kemudian menikmati makan malamnya dengan tenang bersama keluarga Namikaze. Ya, ini lah keluarga yang dengan tulus mau menerima kehadirannya. Setidaknya, selain keluarga kandungnya sendiri tentunya.

"Teme, kau yakin tak mau menginap saja disini bersamaku?" Naruto memandang Sasuke yang sedang menaiki motor sport birunya. Mereka telah selesai dengan acara makan malamnya, dan kini Sasuke akan kembali ke apartement miliknya.

"Tidak, ada beberapa pekerjaan yang ingin segera ku selesaikan." Sasuke menjawab sembari mulai menyalakan mesin motornya.

"Hah... ya, terserahlah!" sahut Naruto.

"Berhati-hatilah di jalan, Sasuke-kun! jika nanti ada waktu luang, berkunjunglah lagi ke sini." Kali ini wanita yang memiliki nama Kushina itu berkata seraya tersenyum kepada Sasuke.

"Hn! Aku berangkat." Sasuke pun mulai menjalankan motornya perlahan meninggalkan kediaman keluarga Namikaze tadi.

Wuuuuzh...

Angin malam yang dingin itu menerpa tubuh tegap Sasuke yang masih berkonsentrasi dengan jalanan sepi yang sedang ia lalui. Mungkin untuk sebagian orang, ini akan jadi hal yang cukup mebuat bulu kuduk merinding, tapi tidak untuk Sasuke yang sudah terbiasa dengan hal tersebut. bukan hanya di tempat yang sepi seperti sekarang, tapi di tempat ramai pun ia dapat melihat berbagai macam makhluk yang ia yakini berasal dari alam berbeda dengannya. Yah, semua berkat kekuatan mata kirinya.

Syuuuuuush...

DEG... DEG...

Ckiiiiiiit...

Sasuke menghentikan laju motornya, entah mengapa perasaannya menjadi tak nyaman. Lalu tubuhnya tiba-tiba menegang saat tatapannya bersibobrok dengan seorang makhluk yang juga menatapnya.

Bruuuuuuum...

Sasuke langsung membelokkan motornya dan melaju menuju jalan lain yang bukan merupakan lintasan ke arah apartmennya.

"Tolooooooong... Toooolong..."

Nguuuuuung... Ckkiiiiiiit..

Tiba di sebuah gang kecil yang sepi nan gelap.

"Lepaskan dia!" Sasuke memarkirkan motornya secara asal dan langsung turun lalu menatap empat orang pria bermuka sangar. Terlihat jika salah satunya sedang memegangi lengan gadis dengan wajah manis dan surai indahnya yang berwarna merah muda itu nampak acak-acakan.

"Cih, brengsek!"

Buaagh...

Dan yang terjadi adalah baku hantam dengan jumlah lawan yang sama sekali tak seimbang membuat Sasuke sedikit kewalahan namun berakhir dengan kemenangan di tangannya.

"Ayo naik!" Sasuke kembali menaiki motornya dan mengajak Sakura untuk ikut bersamanya.

Setelah yakin bahwa gadis tadi sudah berada di atas goncengan motornya, Sasuke segera menarik gas dan melesat meninggalkan tempat tersebut. Empat orang preman tadi dibiarkan tergeletak pingsan begitu saja.

xxxxx

Sakura diam membisu tak berkata sepatah katapun saat Sasuke sedang membersihkan luka goresan di lengannya. Ia kini sedang berada di sebuah apartment yang diyakininya adalah milik Sasuke. Kejadian di gang tadi masih cukup membuat shock jiwanya. Bagaimana tidak, saat sedang dalam perjalanan pulang seorang diri, tiba-tiba saja ada yang menyeretmu ke dalam lorong gang sepi. Beruntung tak lama kemudian Sasuke datang bagaikan seorang pahlawan.

"Aaaw..." Sakura meringis menahan perih karena Sasuke mengusapkan obat antiseptik pada lukanya.

"Hn, sudah!" Pria yang sedari tadi telah dengan sabar mengobati luka Sakura itu kini bangkit dan merapikan segala peralatan obat yang digunakannya. Ia lalu berjalan meninggalkan Sakura seorang diri.

Sakura termenung sembari memandang lengan kirinya yang terbalut perban itu. Cukup rapi untuk ukuran seorang pria yang membalutkannya. Diam-diam Sakura tersenyum memikirkannya. Emeraldnya beralih pada suasana ruangan sekitarnya yang cukup minimalis, sederhana namun bersih dan rapi. Perobatan yang juga sedehana namun tertata apik itu menambah nilai plus di mata Sakura.

"Apa kau mau pulang? Maaf aku tidak langsung membawamu pulang melainkan malah kemari, aku tidak tau dimana rumahmu," ucap Sasuke yang tiba-tiba muncul seraya membawakan dua cangkir teh hangat.

"Eeengh~" Sakura menggeleng pelan, ia ingat jika orang tuanya sedang di luar kota. Jadi, percuma juga kalau pulang, ia juga masih sedikit trauma dengan kejadian barusan.

"Kau yakin tetap disini?"

Meski sebenarnya Sakura ragu, tapi ia tidak punya pilihan lain. Setidaknya, Sasuke bukanlah termasuk orang jahat seperti preman yang hampir memperkosanya tadi.

"Iya."

"Baiklah, kau gunakan saja kamarku! Aku akan tidur di sofa." Sasuke bangkit dari duduknya berniat mengambil bantal dan selimut untuk nanti ia tidur di sofa, tapi berhenti karena Sakura yang menarik pergelangan tangan kanannya.

"Tidak usah, kau tidurlah bersamaku!" Sasuke mengernyit heran saat mendengar ucapan Sakura. hei, apa maksudnya?

"Ah, ti-tidak! Ja-jangan berpikiran yang macam-macam! Ma-maksudku, kau tak perlu tidur di luar, kau tidurlah di kamarmu bersamaku- ah, ta-tapi bu-bukan tidur seperti itu yang ku mak-"

"Yah, aku mengerti!" Sasuke menyela ucapan Sakura yang terbelit-belit, entah karena takut atau gugup. "Ayo!" Sasuke mengendikkan dagunya menunjuk sebuah satu-satunya kamar yang berada di apartmentnya.

Sakura menarik nafasnya, ini pertama kalinya ia menginap di sebuah apartmen pribadi milik seorang pria. Tapi entah mengapa, Sakura sama sekali tak merasa takut ataupun khawatir, ia malah merasa aman berada bersama Sasuke. Melihat Sasuke yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju sebuah kamar, Sakura lantas mengikutinya.

"Kalau kau mau membersihkan diri, kamar mandinya ada di pojok sana," ucap Sasuke lagi seraya menunjuk tempat yang dimaksud.

Sakura diam tak menjawab, ia bergerak duduk di atas sebuah ranjang berukuran king size yang terdapat di kamar tersebut. gadis blossom itu sekali lagi mengedarkan pandangannya, kamar yang cukup minimalis dan sederhana namun rapi dan bersih.

"Apa kau sendirian tinggal disini?" tiba-tiba saja Sakura bertanya.

"Hn, begitulah." Sasuke menjawab sembari mengambil selimut cadangan dari dalam lemarinya.

Secara tak sengaja, Sakura melihat adanya memar di bagian lengan kanan atas Sasuke.

"Ah, ini." Sakura bangkit lalu menyentuh lengan kanan Sasuke, nampak jelas luka memar itu cukup besar. "Kau duduklah di ranjang, aku akan mengambil air untuk mengompresnya," kata Sakura pelan seraya beranjak untuk mengambil air dan handuk kecil yang terdapat di kamar mandi.

"Tak per-" terlambat! Karena Sakura sudah keburu pergi tanpa mau mendengar ucapan Sasuke. Pria itu hanya mendesah pelan, lalu sesuai perintah Sakura, ia pun duduk diatas ranjang dengan tenang.

Tak lama kemudian, gadis merah muda itu muncul kembali dengan sebaskom air dan handuk kecil berwarna biru tua. Ia lalu duduk di samping Sasuke dan mulai mengompres luka memar di lengan kanan pemuda tampan tersebut.

"Tadi sore, aku bermimpi tentang kakakku, ia tersenyum sembari memelukku." Aneh rasanya bercerita mengenai hal seperti itu kepada orang lain yang bahakn baru dikenalnya beberapa jam yang lalu.

"..." Sasuke hanya diam tak merespon, namun ia mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Terimakasih karena tadi, kau membuatku dapat melihat sosok kakakku lagi. Kakakku, meninggal lima tahun yang lalu karena tertabrak truk saat bermain denganku. Dia mengejarku yang saat itu sedang berusaha menangkap kupu-kupu, namun ternyata... ternyata- hiks..."

"Sssst... sudahlah, aku mengerti! Aku bisa melihat itu semua dari mata kakakmu." Sasuke berbicara lembut seraya berusaha menenangkan gadis yang mulai mengisak di hadapannya tersebut.

"Aku iri. Karena kau selalu dapat melihat Sasori-nii." Sakura tersenyum miris dengan tangannya tak berhenti menyapukan handuk kecil secara pelan pada bagian memar di lengan Sasuke.

"Kakakmu selalu berada di belakangmu. Mengawasimu dan menjagamu."

"Ha?"

"Ah, lupakan!"

Sakura tersenyum manis seraya menatap dua bola mata obsidian Sasuke, yang tentu saja salah satunya berwarna hitam karena lensa kontak.

"Apa kau bisa melihat sisa umur seseorang?"

Sasuke mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Sakura. apa sekarang gadis itu menyangkanya adalah seorang shinigami yang bisa tau sisa umur seseorang.

"Tidak, aku hanya dapat melihat warna kematiannya saja." Sasuke menjawab santai.

"Warna kematian?"

"Hn, warna yang berbeda. Warna yang tak bisa ku lihat dengan mata kananku, hanya bisa dengan mata kiriku ini."

Sakura beralih mengompres bagian lebam di pipi Sasuke, meski tak terlalu parah, tapi akan menjadi sangat merepotkan jika nanti terasa sakitnya.

"Aku berhutang banyak kepadamu, kau telah menyelamatkanku."

"Tidak! Bukan aku yang menyelamatkanmu, tapi kakakmu."

"Eh?'

"Kakakmu yang memberitahuku bahwa tadi kau sedang dalam bahaya."

"Kakak?"

"Ya, bukankah sudah ku bilang, kakakmu itu selalu mengawasimu dan melindungimu."

Air mata Sakura kembali menetes, ia begitu bahagia karena sadar bahwa kakaknya selalu berada di dekatnya. Namun dengan cepat juga ia menghapusnya.

"Rasanya sangat memalukan, sudah beberapa kali aku menangis di hadapanmu." Sakura mendongak menatap Sasuke yang hanya dibalas seringai oleh pemuda itu. "Jangan mengejekkku!" Sakura mengerucutkan bibirnya kesal mendapati senyuman mengejek dari Sasuke.

"Hn."

"Huh!"

Lalu Sakura menyudahi acara mengompres luka Sasuke, ia kemudian membereskan air yang digunakannya barusan. Sedangkan Sasuke kembali menggelar alas tidur yang akan ia gunakan di lantai.

"Kenapa kau menaruh alas tidur itu?" Sakura bertanya kepada Sasuke.

"Hm, bagaimanapun juga kau adalah perempuan dan aku laki-laki. Apa kau tak takut jika nanti aku melakukan sesuatu kepadamu?" Sasuke menjawab dengan nada cuek sembari meneruskan pekerjaannya yang kini mulai menata bantal dan selimut untuknya.

Sakura terkesiap, wajahnya memanas. Laki-laki ini memperlakukannya dengan sangat terhormat, layaknya ia seorang putri kerajaan yang tak boleh di sakiti.

"Ba-baiklah. kalau begitu, Oyasuminasai." Sakura membaringkan tubuh mungilnya dan menarik selimut membungkus tubuhnya.

"Hn, Oyasumi!" Sasuke pun mematikan lampu, lalu segera membaringkan tubuhnya diatas futon yang telah ia gelar di lantai.

xxxxx

"Hoaemmm.." Sakura bangkit dari tidurnya dan menggeliatkan pelan tubuhnya. Ia melirik kearah jendela yang masih tertutup korden biru dengan rapatnya. Sakura mengedarkan pandangannya, ini bukan kamarnya, itulah yang ia pikirkan. Detik kemudian ia pun sadar kalau sedang menginap di apartment Sasuke. Wajah Sakura memanas, jantungnya berdegup kencang mengingat apa yang tengah ia lakukan saat ini benar-benar memalukan.

"Kau sudah bangun?" Sasuke muncul dari balik pintu lalu berjalan mendekati jendela besar kamarnya dan menyingkap tirai agar cahaya matahari dapat masuk.

Sakura mengerjapkan matanya pelan karena masih belum terbiasa dengan penerangan yang tiba-tiba tersebut.

"Cepat bangun! Mandi lalu kita sarapan," ucap Sasuke sembari menyerahkan sehelai handuk berwarna biru tua.

Sakura memandang kedua iris mata Sasuke yang berlainan warna, nampaknya pria itu tak sedang memakai kontak lensanya. "Ah, i-iya." Tak membuang waktu lagi, Sakura pun segera melesat menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Tak butuh waktu lama untuk gadis itu bersolek karena pada dasarnya ia memang tak terlalu peduli akan penampilannya. Sakura berjalan menuju dapur dan melihat Sasuke yang sedang sibuk mengolah makanan untuk sarapan mereka.

"Ada yang bisa ku bantu?" tanya Sakura pelan.

"Hn, tidak usah. Kau duduklah saja di meja makan itu dengan manis!" Sasuke menjawab dtanpa memalingkan pandangannya pada Sakura.

"Hey, kau sudah merawatku sejak semalam, jadi sekarang gantian, sini biar aku saja yang akan memasak." Sakura mengambil alih penggorengan yang sudah memansa tersebut. "Telur dadar, eh?" Sakura mengernyit.

"Hn, aku tak terlalu pandai memasak." Sasuke menyerah, ia memilih duduk di bangku meja makan sembari melihat Sakura yang mulai meracik bahan-bahan yang tersedia di dapur minimalis tersebut.

"Ne, Sasuke-san. Kemana orang tuamu?" Sakura bertanya sembari menuangkan telur yang sudah ia campuri dengan bahan-bahan lainnya diatas penggorengan.

"Mereka sudah meninggal."

"Aaa gomenasai sudah bertanya hal seperti itu." Sakura terkejut dan memandang pria yang tengah menopang dagu itu dengan raut wajah penuh penyesalan.

"Hn, tak apa."

"Jadi, itulah sebabnya kenapa kau sering berada di ruangan klub sampai larut malam."

"Ya, kira-kira begitulah." Sasuke menjawab dingin, ternyata gadis pink tersebut memperhatikan aktifitasnya selama ini.

"Kalau kau mau, aku bisa datang kesini setiap pagi dan sore untuk membuatkanmu makanan," tawar Sakura seraya mulai memasukkan potongan sayuran ke penggorengan yang lain.

"Tidak perlu, kau tak perlu menyusahkan diri." Sasuke menolak halus.

Sakura terdiam, ia sibuk mengaduk tumisan sayur yang sedang ia buat saat ini. Tak lama kemudian, makanan pun siap. Sasuke dan Sakura duduk berhadapan dalam satu meja makan sembari saling menghabiskan makanannya masing-masing dengan tenang.

"Kau pandai memasak." Tiba-tiba Sasuke berkata setelah nasi dimangkuknya habis.

"Aaa.. arigatou, ini karena Okaa-san yang selalu mengajariku memasak," jawab Sakura seraya tersenyum simpul. "Aku akan membersihkan piring dulu, kau tunggulah di depan!" Sakura lalu bangkit sembari membawa tumpukan mangkuk dan piring bekas mereka sarapan. Sasuke mengernyit, entah kenapa ini malah seperti mereka sudah berumah tangga dengan Sakura sebagai seorang istri yang baik dan pandai memasak. Oke, pikiran aneh macam apa itu! Sasuke menggelengkan kepalanya pelan.

xxxxx

"Ada baju ganti di lokerku, jadi kau tak perlu mengantarku pulang terlebih dahulu." Sakura berkata kepada Sasuke yang saat ini tengah menyetir motor di jalan.

"Hn."

Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di depan sekolah. Sasuke memarkirkan motornya dengan rapi lalu ia berjalan meninggalkan pelan meninggalkan Sakura.

"Hey, tunggu" Sakura berteriak saat Sasuke berlalu mengacuhkannya.

"Hn?" Sasuke menoleh.

"Etto, Arigatou." Sakura menundukkan tubuhnya sebagai ucapan terimakasih atas segala bantuan yang diberikan Sasuke.

"Hn." Dan Sasukepun kembali berlalu.

Sakura tersenyum simpul melihat sisi punggung Sasuke yang semakin menjauh dari pandangannya.

"Sakura-chan." Sakura terlonjak kaget saat tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang.

"Ah, Tenten. Ada apa?" Sakura balik menyapa dengan ramah.

"Itu, aku ingin minta pertolonganmu."

"Eh, pertolongan apa?"

"Adikku sejak tiga hari yang lalu tak kunjung sadar dari tidurnya. Dokter berkata jika tak ada penyakit yang terdeteksi di tubuhnya, dan hal itu membuat kami bingung. Aku sudah mendengar berita tentang Ino yang kerasukan arwah di gudang belakang. Jadi maukah kau membantu? Onegai," Tenten memandang Sakura dengan pandangan sayu membuat Sakura jadi iba melihatnya

"Aaa.. baiklah." Sakura yang memang pada dasarnya adalah gadis baik hati itu pun menyetujuinya.

"Terimakasih, Sakura. ini alamat rumahku, kau bisa datang kapan saja," ucap Tenten seraya menyerahkan secarik kertas yang mencantumkan alamat rumahnya. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Jaa," sambung Tenten seraya berlari kecil menjauhi Sakura.

"Ah, sepertinya aku harus kembali merepotkan Sasuke." Sakura memasukkan kertas tadi kedalam tas tangan kecilnya. Ia memandang kearah lantai tiga dimana disitu tempat ruangan club Konoha senior High School berada.

...

To Be Continued


...

A/N : Yuhuuuu~ Saya kembali. *krik* maaf jika updetnya sangat lama. Saya lagi ujian akhir semester kemarin, jadi gak sempet bikin fic ini T_T huweee gomanasai... dan ini kenapa feelnya datar banget? -_- saya butuh nyawa (?) setelah menghadapi UAS, saya benar-benar lupa sama ide ceritanya, jadi buat feelnya juga susah *digaplokrame-rame* yah semoga aja masih ada yang sudi membaca fic ini ^_^

Yosh, akhir kata kalau ada saran, masukan, kritik, salam sapa atau cacian -_- silahkan di tuangkan di kotak review.. ^_^ dan seperti biasa, saya membuka sesi request untuk ide adegan selanjutnya, yang penting idenya gak menyimpang dari alur yang telah saya siapkan! ^_^ Ok, sampai jumpa di chap berikutnya~~

Pelaihari, 20 Desember 2012

Salam Hangat Selalu

Kamikaze Ayy