Yo~ bertemu lagi dengan saya :D Author cupu yang sedang mencoba peruntungannya di FFn *krik* Yak, saatnya sesi balas ripiuw dulu :*

Selenavella : hehehehe... iya begitulah :D Ini udah di updet.. semoga suka yah dgn chap 3 ini ^_^ mind to RnR again?

Mikyo : waduuh.. banyak bgt ternyata kekurangannya, -_- feel kurang dan alur terlalu cepet ya? Nanti akan saya coba perbaiki lagi yah ^_^ mohon kritiknya lagi yah.. dan oke, nanti mungkin di beberapa chapter depan akan saya buat mereka tinggal bareng.. ok? Jd ditunggu aja yah!

Anka-chan : ni-nikah? Kan mereka masih baru kenal :D hehehe.. mksih ya udah suka. Dan mohon ripiunya lagi untuk chap ini.

Karasu Uchiha : Kurang cool gimana? Minta Saran donk! :D

Hikari 'ShinChi' ndychan : sampai nangis? Waaa.. rupanya fic ku juga bisa bikin orang terharu ya.. ini udah updet.. mohon ripiuwnya lagi ya.

Guest : Iya, ini udah di lanjout... :p gak terlalu lama kan updetnya? Hehehe

Sami haruchi 2 : Lemon... kapan ya? Kapan? Kap- *PLAK* entahlah.. -_- saya masih bingung mau bikin eksplisit atau implisit aja. ini udah di updet. Ripiuw lagi yak!

Sami haruchi : eh 'sami haruchi' dengan 'sami haruchi 2' itu orang yg sama atau beda ya?

Ayano Futabatei : Iya.. ini udah lajuuut.. ^_^ ripiuw lagi yak!

Ehsan : nanti aku dibilang cewek mesum lagi kalau buat lemon! -_- kamu nih gimana sih.. labil! *tendang* :p

Ika. tainaka : iya ini udah dilanjut.. ripiuw lagi yak ^_^

Arika : Hiatus? Ah, masih belum kepikiran nih... hehehe yah karena saya sudah kelas 3 dan sebentar lagi udah mau UN, jadi mungkin updetnya gak akan secepat dulu lagi wes... tapi gak hiatus kok ^_^ review lagi yak

Nina317Elf : jiaaaah pasangan yang mengayomi :D wkwk iya SasuSaku banget :* hehehe. Review lagi ya!

Ssasuke23 : yang bikin greget dan wow itu yang kayak gimana sih? *berpikirkeras* ayy ikutin alurnya dengan santai aja.. heheh :D sumbangin ide ya!

Me : La-lama? Ah gomenasai kemarin kan ada ujian sayanya. Jadi gak boleh main laptop sama ayah... maaf ya ^_^ hehehe ini udah updet chap 3. Semoga suka! Jangan lupa review lagi.

Farberawz : seru ya? Makasih :D untuk konflik utama, ntaran aja deh dulu. Sekarang fokus sama hubungan awal SasuSaku aja.. oke, setuju?

Hikari Matsushita : wah :D Kamu bisa membaca apa yang sedang saya pikirkan yah? Pssst itu emang ide cerita dan karakter.. kamu diem2 aja ya biar yg lain gak tau :p hehehe. Ini udah updet chap 3.. review lagi ya!

Sadika : Iya... bener.. dari Anime detective Yakumo ^_^ ini udah saya usahakan updet cepat :D semoga suka ya... jangan lupa review lagi

Jihand Setyani : suka? Ah makasih..makasih.. *pelukcium* apa itu termasuk request? Kalau iya, ntar akan saya atur di beberapa chapter kedepan. Gimana?

Kiki RyuEunTeuk : iya.. ini udah saya usahakan updet cepat meskipun gak kilat.. review lagi ya

Sasa-hime : Ini.. masalah adiknya Tenten dikupas tuntas (?) di chap ini.. kasih kesannya di review ^_^

Lee XiuMin : iya.. ini udah di lanjut :D semoga suka dan jgn lupa untuk review lagi!

Baka Iya SS : Haloo juga –errr Baka-san (?) waduh gak enak banget panggilannya -_- panggil Iya-san aja dah kalau gitu :* hehehe. Ano ano... adegan dewasa itu gimana ya? *plaakbuagh* #authorpura-purabegonih. Hehehe ripiuw lagi yak!

Hanazono nithachan : benarkah suka? Aaah... makasih :* waduh sampe End? *tepar* sedikit-sedikit aja dulu ya.. :3 kalau sampai langsung End mah saya yang kelimpungan ngetiknya :D hehehe.. ini udah di updet, review lagi ya

Adecieloverz pengguin : iya.. ini udah lanjut.. :D review lagi yah jangan lupa ^_^

Yosh, udah selesai sesi balas reviewnya.. mohon maaf ya kalau ada kesalahan dalam penulisan nama. Hehehe . Ya, udah mari kita kembali ke cerita...


.

.

Tak pernah aku menginginkannya...

Terlahir dengan mata ini...

Aku tak suka

Mata kiri ini...

Aku membencinya

Kenapa harus aku? Kenapa?

Kalau seandainya aku boleh memilih,

Aku tak ingin terlahir dengan mata sialan ini

.

.


The One of My Eyes

By: Kamikaze Ayy

Naruto dan segala chara adalah milik Masashi Kishimoto, serta Psychic adalah milik Manabu Kaminaga. Saya hanya mengarang fiksi ini tanpa mengambil sepeserpun keuntungan materi dari isi cerita.

Pairing : Sasuke Uchiha & Sakura Haruno

Genre : Supranatural, Mysteri, Suspense, and Romance

Dedicated for all the readers

DONT LIKE, DONT READ!

NO FLAME!

.

.


Chapter : 2

KRIIIING...

Bel tanda pelajaran telah usai pun berbunyi dengan keras, membuat seluruh siswa yang tadinya nampak lesu tak bersemangat tiba-tiba kembali ceria bagaikan mendapat tambahan energi baru. Siswa-siswa tersebut berlomba keluar kelas namun ada pula beberapa yang terlihat santai meninggalkan sekolah. Nampak seorang siswi berambut merah muda sedang sibuk mengemas peralatan sekolahnya. Setelah dirasa sudah beres, ia pun melangkahkan kakinya menuju ruang penyimpanan loker. Sakura menaruh beberapa peralatan sekolahnya yang ia rasa tak perlu dibawa pulang. Kemudian Sakura kembali berjalan santai melewati koridor sekolah yang masih penuh dengan beberapa siswa.

Sreeet...

Dan tak sengaja pandangannya menangkap sosok Gaara –mantan kekasihnya yang sudah memutuskannya beberapa minggu yang lalu, kini sedang bercengkerama sembari saling berpegangan tangan dengan Matsuri –gadis manis yang katanya adalah tunangan Gaara. Ah maksudnya adalah tunangan karena perjodohan dari pihak orang tua mereka. Tapi yang jelas, saat ini mereka sudah nampak makin dekat saja. Terbukti mereka sedang bermesraan di taman belakang sekolah.

DEG... DEG...

Sakura memegang dada kirinya yang tengah berdegup kencang memainkan irama yang malah membuatnya merasa sesak dan nyeri. Rasanya ngilu. Matanya memanas, emerald yang sayu itu tak kuasa menahan bendungan air asin yang sudah siap meluncur jatuh.

Tak ingin keberadaannya diketahui, Sakura pun segera beranjak meninggalan tempat itu. Ia menyeka air matanya yang terlanjur jatuh menganak sungai di pipinya. Sakura tau, ia tak seharusnya bersikap seperti ini, karena Gaara sudah menjadi milik orang lain. Mereka putus pun dengan secara baik-baik. Tak ada masalah. Ya, tak ada yang perlu dipermasalahkan.

'Tapi, kenapa hati ini terasa sakit?'

Sakura kemudian menaiki tangga untuk menuju lantai tiga tempat dimana ruang-ruang klub berada. Sesekali ia merapikan rambutnya dan menggosok pelan bagian pipi dan matanya agar tak nampak bekas 'habis menangis' di hadapan Sasuke nanti.

Setibanya di sebuah ruang club photografi –dimana itu adalah sebuah klub kecil yang bahkan anggotanya cuma ada satu orang saja yaitu Sasuke, Sakura pun mengetuk pintu.

Tok.. Tok.. Tok..

Hening. Tak ada sahutan. Sakura mengernyitkan dahinya heran, kenapa tak ada jawaban? Apa sasuke sedang tak ada di ruang klub? Berusaha menepis segala pemikirannya, gadis itupun mencoba sekali lagi.

Tok.. Tok.. Tok..

Namun masih saja tiada yang menjawab. Sakura memberanikan diri untuk memutar kenop pintu dan membukanya secara perlahan.

Cklek...

Kosong. Tak ada orang.

Sakura memandang sekeliling ruang klub, ia melihat sebuah tas yang seragam seperti miliknya –tas khusus siswa Konoha Senior High School, tergeletak di atas sofa yang tersedia di ruangan tersebut.

"Haaah... ternyata benar tidak ada. Sedang kemana ya Sasuke?" Sakura bergumam seorang diri seraya menghempaskan tubuhnya ke sofa dan duduk dengan manis bermaksud menunggu kedatangan Sasuke. Sakura masih terbayang akan kejadian yang baru saja ia lihat tadi, pikirannya masih terpenuhi oleh bayang-bayang pria bermarga Sabaku tersebut. Gadis cherry itu menghela nafas pelan, ia menyandarkan punggungnya pada sisi sofa dan mengambil sebuah novel dari dalam tas miliknya lalu membacanya sembari menanti Sasuke –sekaligus melupakan 'sesuatu' yang sudah membuatnya kalut..

Ceklek...

Beberapa menit kemudian, Sakura mendengar suara pintu yang terbuka. Gadis itu pun mengalihkan pandangannya dari susunan huruf-huruf pada novel yang sedang ia baca itu untuk menoleh ke arah pintu. Nampak seorang pria tampan yang ia sedari tadi sudah ia tunggu sedang menatapnya dengan pandangan tajam.

Sakura yang mengerti arti dari tatapan tersebut pun langsung menyengir menampilkan sederet gigi putihnya, "Aah, gomenasai, Sasuke-kun. Aku tadi sudah mengetuk pintu tapi tak ada yang menyahuti, jadi aku masuk saja dan karena kau sedang tidak ada makanya aku memutuskan untuk menunggumu disini." Sakura tersenyum menampilkan wajah tak berdosanya.

Sasuke hanya menjawabnya dengan gumaman 'Hn' saja.

"Dari mana kau, Sasuke-kun?" Sakura bertanya seraya menaruh novel yang sedang ia pegang itu di atas meja.

"Toilet," jawab Sasuke dengan sangat singkat. Pemuda bermata kelam itu dapat melihat bagian mata Sakura yang agak memerah dan sedikit bengkak meskipun tidak terlalu nampak. 'Rupanya gadis itu baru saja menangis, eh?' Sasuke menggelengkan kepalanya pelan berusaha mengabaikan apa yang bukan menjadi urusannya.

Sakura hanya ber 'Oh' ria. Dan kemudian suasana menjadi hening.

"Emmm... ano.. sebetulnya aku kesini untuk meminta pertolonganmu lagi, Sasuke-kun." Sakura mulai membuka topik utama yang menjadi tujuan ia menemui Sasuke saat ini.

"Apa?"

"E-etto, tadi ada temanku yang berkata bahwa adiknya sedang sakit tapi pihak dokter tak dapat menemukan apa yang menjadi sumber sakitnya. Ia meminta bantuanku supaya kita mengecek keadaan adiknya." Sakura menggigit bibir bawahnya pelan.

"Lalu?"

"Yah, aku ingin supaya kau menolongnya."

"Aku tidak mau!"

Tuing...

Satu perempatan siku muncul di dahi Sakura akibat jawaban singkat yang dilontarkan oleh Sasuke.

"Ke-kenapa tidak mau?" tanya Sakura seraya menatap lurus pada Sasuke dan memberikan tatapan memohon terbaik miliknya.

"Karena itu merepotkanku," jawab Sasuke acuh seraya mulai membuka laptop hitam miliknya.

"Ayolah, Sasuke-kun~ kau tak boleh seperti itu! Kasihan temanku itu, dia pasti snagat mengkhawatirkan adiknya," bujuk Sakura lagi dengan pandangan melas.

"Kalau begitu kenapa tidak kau sendiri saja yang membantunya?" sahut Sasuke dingin.

"Aku kan tidak memiliki kemapuan seperti dirimu, Sasuke-kun."

"Pokoknya aku tidak mau."

Sakura mendesah sebal karena Sasuke yang masih saja bersikeras menolak untuk membantu masalah temannya tersebut.

"Kalau begitu, bagaimana jika kita buat perjanjian? Jika kau bisa menolong temanku itu, kau akan ku traktir makan sepuasmu. Bagaimana?" Sakura memberikan tawaran yang cukup membuat Sasuke menoleh kepadanya.

"Baiklah. Aku setuju."

Dan ternyata usaha keras Sakura membuahkan hasil. Gadis itu tersenyum menang.

"Jadi kapan kau ada waktu untuk melihat kondisi adik temanku?"

"Hmm, sekarang saja," jawab Sasuke seraya masih menarikan jemarinya lincah di atas keyboard laptop hitamnya.

"Sekarang?"

"Ya, sekarang! Ku rasa kau tidak sedang menderita gangguan pendengaran, Nona." Sasuke berkata sinis. Pandangannya tetap fokus pada pekerjaannya yang baru saja ia selesaikan. Setelah menyimpan hasil kerjanya, pria yang kini nampak beriris sepasang mata hitam gelap karena memakai kontak lensa itu pun menutup laptopnya pelan. Ia memandang Sakura yang masih menatapnya sebal, "Ayo berangkat!"

"Ah, i-iya." Sakura kemudian bangkit dari posisi duduknya, ia kemudian berjalan pelan mengikuti Sasuke yang sudah terlebih dahulu melangkah keluar ruangan klub.

Tak membutuhkan waktu lama untuk mereka tiba di daerah parkir tempat Sasuke menaruh motor, Sasuke memakai helmnya dan menyuruh sakura segera naik. Setelah Sakura berada di atas motornya, Sasuke mulai menarik gas dan segera meninggalkan halaman sekolah.

"Dimana alamatnya?" tanya Sasuke.

Sakura mengambil kertas kecil yang tadi diberikan oleh Tenten kepadanya. "Di daerah komplek perumahan Xiao nomor tiga," jawab Sakura seraya membaca tulisan yang tertulis rapi di kertas tersebut.

"Hn."

Detik kemudian, Sakura merasa jika ia sedang mengawang di atas angin karena motor yang dikendarai oleh Sasuke itu melaju dengan sangat kencang sampai Sakura sendiri terlalu takut untuk membuka matanya. Gadis itu dengan terpaksa pun memeluk pinggang Sasuke dengan sangat erat seraya mulutnya berkomat-kamit membacakan doa agar Kami-sama melindunginya. Mau protes pada Sasuke pun sepertinya percuma karena pasti tak akan dihiraukan oleh pemuda dingin itu.

Tak sadar, Sakura merasakan sebuah tepukan ringan yang mendarat di bahunya.

"Hei, mau sampai kapan kau seperti ini terus?" ucapan Sasuke membuat Sakura mendongakkan kepalanya dengan rasa takut.

"..."

"Kau kenapa?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya saat kebingungan dengan tatapan Sakura yang seolah berkata 'Apa aku sudah di surga?'

"..."

"..."

Setelah mengumpulkan sisa-sisa nyawanya, Sakura pun memandang Sasuke dengan tatapan tajam dan sinis. Ia segera melepaskan pelukannya lalu berteriak kencang, "APA KAU MAU MEMBUNUHKU, UCHIHA?"

Sasuke menutup telinga karena tak mau membran timpani telinganya menjadi pecah karena teriakan Sakura yang sangat cempreng.

"Tentu saja tidak. Memangnya kau kira aku pembunuh?" balas Sasuke kesal.

Sakura hanya mendengus sebal melihat wajah 'tak bersalah' Sasuke tersebut. Huh, rasanya ia ingin mencincang pemuda itu lalu ia jadikan sate dan dipanggang diatas pemang–

Ah, stop! Kenapa ia malah menjadi sosok kanibal yang cukup sadis di alam pikirannya sendiri.

Sasuke mengalihkan pandangannya pada sebuah rumah yang cukup besar dihadapannya. Sakura pun mengikuti arah pandang Sasuke, ia dapat melihat sebuah rumah megah yang dibangun dengan model klasik kuno namun nampak elegan. Di sisi pagar besinya terdapat tulisan angka nomor tiga.

Sakura menekan tombol bel lalu tak lama kemudian muncullah gadis manis bercepol dua yang sedang bergegas keluar rumah untuk membukakan pintu gerbang bagi tamunya.

"Ah, Sakura. Ayo masuk!" Tenten menyambut Sakura dengan senyum ramahnya, ia membukakan gerbang dan mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk.

"Terimakasih. Ah iya, ini adalah Uchiha Sasuke dari klub photografi. Ia yang akan membantu permasalahanmu," terang Sakura.

"Salam kenal, Uchiha-san." Tenten membungkuk hormat yang hanya dibalas dengan gumaman 'Hn.'

"Jadi langsung saja, mana adikmu?" Sasuke langsung to the point begitu mereka memasuki rumah mewah milik Tenten tersebut.

"Ah iya, mari kita langsung menuju ke kamar tempat dia dirawat saja." Tenten pun melangkahkan kakinya memasuki lebih jauh kawasan rumahnya. Sedang Sakura dan Sasuke hanya mengekor patuh pada sang tuan rumah.

Ceklek...

Tenten membuka pintu yang mana adalah ruangan adiknya yang sedang terbaring tak sadarkan diri. Sakura yang melihat kondisi anak laki-laki berambut coklat dan sangat persis dengan Tenten itu segera memeriksa keadaannya.

"Suhu badannya sangat tinggi, nadinya juga berdenyut dengan tempo yang cepat." Sakura berkata seraya masih memandangi anak laki-laki itu.

"Ya, dan dokter tak bisa mendeteksi tentang apa penyakit yang membuat adikku jadi seperti ini." Tenten menatap sayu pada adik laki-lakinya tersebut.

Sakura melirik ke arah Sasuke –sekedar ingin tau apa yang akan pemuda itu perbuat.

Sadar akan tatapan Sakura, Sasuke pun segera menutup mata kirinya sejenak lalu membukanya kembali. Dapat ia lihat 'sesuatu' yang nampaknya menjadi penyebab mengapa anak laki-laki itu kini terbaring sakit tanpa diketahui secara pasti penyakitnya.

Sasuke menggumamkan sebuah kalimat yang mana Sakura dan Tenten tak dapat mendengar saking pelannya.

"Apa mau mu?" Sasuke menatap tajam ke arah anak perempuan yang berawajah manis namun nampak pucat. Anak perempuan dengan surai berawarna emas tersebut tengah mengelus-ngelus kepala adik Tenten.

"Onii-chan bisa melihatku?" jawab anak perempuan itu setelah sadar jika pemuda itu sedang berbicara kepadanya. Pasalnya selama ini tak pernah ada orang yang menyadari kehadirannya.

"Hn. Cepat katakan apa mau mu?" Sasuke kembali mengulang pertanyaannya dengan nada sebal namun ia tetap menjaga volume suaranya sekecil mungkin agar Sakura dan Tenten tak mendegar.

"Aku mau terus berada berasama Shin-kun." Anak kecil itu menjawab dengan nada riang seraya mengecup pelan pipi adik Tenten yang ternyata bernama Shin tersebut.

"Kau tidak lihat? Dia menderita karena kau yang selalu mengekangnya."

"Aku tidak mengekangnya, Onii-chan! Aku hanya ingin terus bersama dia saja."

"Dan keinginanmu itu malah membuat Shin jadi sakit seperti itu."

"A-aku..." Anak perempuan itu terdiam tak menyahut. Ia hanya memandang sosok bocah laki-laki yang tengah tak sadarkan diri dengan raut wajah yang sama sekali tak menampilkan kedamaiam walau sedang tertidur.

"Sadarlah bahwa kau sudah berbeda." Sasuke berkata lagi seraya melirik ke arah Sakura dan Tenten yang tengah membicarakan sesuatu mengenai sekolah mereka.

"Ta-tapi.. hiks.. hiks.. Shin-kun sudah berjanji akan menikahiku." Anak perempuan itu memandang Sasuke dengan mata berkaca-kaca.

Heh mereka masih bocah yang Sasuke yakin masih duduk dibangku elementary school itu ternyata sudah pernah membuat janji yang cukup sakral. Sasuke mendengus kesal, nampaknya hanya ia yang belum pernah mengecap manisnya cinta. Ah, lupakan! Ini bukan waktunya untuk membahas hal itu.

"Sasuke-kun, aku dan Tenten akan keluar sebentar. Nanti kami akan kembali secepatnya," ucap Sakura seraya mulai melangkah keluar dari kamar Shin dengan menggandeng tangan Tenten.

"Hn." Sasuke menjawab acuh. Namun detik kemudian, ia kembali fokus pada sosok arwah anak kecil yang tengah menangis tersedu-sedu sembari memeluk adik laki-laki Tenten.

"Oni-chan, aku menyayangi Shin-kun. aku tak mau berpisah dengannnya," raung arwah anak kecil perempuan itu lagi.

Sasuke menghela nafas pelan, rupanya menghadapi masalah percintaan jauh lebih sulit daripada masalah kriminal.

"Siapa namamu?" tanya Sasuke setelah beberapa saat ia terdiam.

"Shizu," jawab sosok arwah yang memiliki wajah cukup imut itu.

"Shizu, apa kau mau membuat Shin menderita? Apa kau mau jika Shin tak tenang dalam tidurnya itu?" Sasuke beranjak dari posisinya berdiri lalu berjalan menghampiri arwah Shizu.

"Tidak~" Shizu menggeleng pelan.

"Kalau begitu, lepaskanlah." Sasuke mengelus perlahan rambut Shizu yang panjang. Saat pemuda tersebut menyentuh bagian dari tubuh arwah anak perempuan itu, ia merasa kesadarannya tersedot pada sebuah ruang dimensi lain. dimana pada ruang itu hanya ada layar-layar yang memaksanya melihat semua penggalan-penggalan kenangan milik Shizu. Kenangan saat Shizu bertemu dengan Shin di sebuah stasiun kereta. Kenangan saat mereka bermain petak umpet dimana Shizu selalu dapat ditemukan oleh Shin. Kenangan saat Shin mengucapkan janji bahwa jika ia besar nanti, ia akan menikahi Shizu. Lalu yang terakhir adalah kenangan saat Shizu meninggal karena kecelakaan mobil yang hebat hingga menyebabkan Shizu beserta kedua orangtuanya tewas ditempat. Semua penggalan kenangan itu terputar jelas di hadapan Sasuke.

"Onii-chan."

Sasuke langsung tersadar jika ia sudah kembali pada dunia asalnya setelah mendengar panggilan dari arwah Shizu. "Hn?"

"Kalau nanti aku meninggalkan Shin, apa ia akan terus mengingatku?" tanya Shizu dnegan nada pelan dan polos.

Sasuke mematung tanpa menjawabnya, ia bingung dengan jawaban apa yang akan ia berikan. Karena pasalnya ia sama sekali tak mengerti tentang masalah seperti ini. jika ia memberikan jawaban yang salah, mungkin saja akan berdampak dengan tetapnya arwah Shizu terus menempel pada Shin. Ini sungguh pilihan yang sulit. Perlahan, Sasuke mulai kembali mengelus kepala Shizu dengan lembut.

"Ya, ia pasti akan terus membawa dirimu dan kenangan kalian di hatinya." Itulah jawaban yang akhirnya Sasuke lontarkan.

Shizu terlihat memandang Sasuke dnegan tatapan yang sulit diartikan. Sasuke menjadi takut jika ternyata jawabannya yang barusan itu salah.

"Kalau begitu tak apa. Asal Shin terus mengingatku dan tak melupakanku," ucap Shizu dengan pandangan polos namun terpancar kepuasan.

Sasuke memandangnya tak percaya, namun akhirnya ia menyimpulkan senyuman tipis yang tulus pada arwah anak perempuan itu.

"Ya, akan ku pastikan jika ia tak akan pernah melupakanmu," sahut Sasuke mantap.

Dan kemudian, seluruh badan Shizu perlahan berhamburan menjadi serpihan-serpihan cahaya yang maik pudar dan akhirnya menghilang dalam pandangan Sasuke.

"Engh~" sebuah suara dari bocah laki-laki yang tengah terbaring itu membuat Sasuke mengalihkan pandangannya.

"Hn, kau sudah sadar?"

"A-air."

Sasuke lantas segera mengambilkan segelas air lalu membantu bocah bernama Shin itu agar dapat meneguk air putih. Tak lama kemudian, Tenten dan Sakura pun muncul seraya membawa berbagai macam hidangan dan minuman.

"Shin, ka-kau sudah sadar?" Tenten menatap adiknya tak percaya. Ia segera menaruh cangkir ocha di atas meja lalu berlari menghampiri Shin dan memeluknya tubuh ringkih adiknya dengan sangat erat.

"Syukurlah.. syukurlah.. Nee-chan yakin kau pasti akan sembuh." Tenten berkata seraya mengisak pelan. Ia sangat terharu akan kesembuhan adiknya tersebut.

Sakura menatap Sasuke yang kini hanya memasang tampang ekspresi datar dan dingin. Namun Sakura yakin, ada suatu kelegaan pada raut wajah pemuda itu.

Setelah acara haru itu selesai, Tenten pun menjamu kedua tamunya tersebut sebagai ucapan terima kasih karena telah menolong adiknya. mereka tertawa bersama dengan Tenten yang dalam posisi masih memeluk adiknya. dan yah tentu saja Sasuke tak akan ikut tertawa, ia tetap memasang raut stoic andalannya. Di situ juga akhirnya Sasuke menceritakan perihal arwah Shizu sebagai teman Shin yang menjadi sumber masalahnya. Setelah mendengar penuturan Sasuke, Shin pun berkata, "Onee-chan, ayo kita mengunjungi makam Shizu-chan!"

"Iya, ayo kita kesana!" jawab Tenten seraya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.

xxxxx

Sakura menatap Shin yang sedang berdoa didepan makam yang bertuliskan nama 'Aomori Shizu' dengan penuh khidmat. Tenten juga meletakkan sebuah karangan bunga tepat di depan batu nisannya seraya terus mengawasi tingkah adiknya.

"Aku berjanji akan selalu mengingat semua hal mengenai Shizu-chan." Shin memejamkan matanya seolah berusaha menghayati kesungguhan ucapannya.

Wuuuuuuuusshh...

Angin bertiup kencang namun terasa menyejukkan, Sakura tersenyum saat merasakan rambutnya yang terkibar pelan karena hembusan angin itu.

"Shizu sedang tersenyum menatap kita." Tiba-tiba ucapan Sasuke menyadarkan Sakura.

"Ya, dia pasti sedang senang," jawab Sakura sambil tersenyum manis menatap nisan Shizu yang disitu masih berada Shin dan Tenten.

"Hn." Sasuke menanggapinya dengan nada dingin miliknya.

Cukup lama mereka berada di pemakaman, hingga akhirnya Sakura dan Sasuke mohon pamit untuk pulang kepada Tenten. Gadis manis dengan gaya cepolannya yang khas itu amat berterimakasih atas bantuan Sasuke.

xxxxx

"Ka-kau yakin akan memesan itu semua?" Sakura menatap horor pada Sasuke yang tengah memesan makanan cukup banyak tersebut. Gadis dengan aroma musim semi itu tak percaya jika Sasuke yang pendiam dan snagat cuek ternyata memiliki nafsu makan yang besar.

"Hn? Bukankah kau sendiri yang berjanji kepadaku akan mentraktirku makan gratis sepuasnya,' ucap Sasuke seraya terus menunjuk menu-menu yang ingin ia pesan kepada seorang gadis pelayan.

"Ya ta-tapi kau bisa menghabiskan seluruh persedian uangku untuk bulan ini jika kau memesan sebanyak itu."

"Hn, itu bukan urusanku."

Sakura menatap sebal kepada Sasuke, ia kini harus menelan bulat-bulat rencana untuk menghemat biaya hidupnya di bulan ini. Oh, ingatkan Sakura juga untuk tidak sembarangan membuat janji lagi kepada Sasuke.

"Kenapa kau?" Sasuke menatap acuh kepada gadis pink di hadapannya yang sedang menekuk wajahnya.

"Tidak apa-apa." Sakura hanya menjawabnya acuh dengan nada lesu.

"Silahkan tuan, ini pesanan anda yang sudah kami bungkuskan." Tiba-tiba seorang pelayan muncul sembari membawakan beberapa kantong plastik yang berisi kotak-kotak makanan pesanan Sasuke.

"Hn, terimakasih." Sasuke mengambil alih memegang kantongan plastik yang cukup banyak tersebut. Ia melirik ke arah Sakura seolah memberi kode untuk segera membayar. Sakura pun mengeluarkan lembaran uang sesuai dengan yang tertera di tagihan yang ditunjukkan oleh pelayan tadi –tentunya dengan wajah tak ikhlas melepas jatah biaya hidupnya itu.

"Terimakasih atas kunjungannya," ucap pelayan itu dengan nada ramah setelah Sasuke dan Sakura melangkah keluar dari kedai.

"Kau pegang ini!" Sasuke memberikan kantongan plastik berisi makanan tadi kepada Sakura yang hanya bengong sembari menatap kesal.

"Hey, kenapa harus aku yang memegangnya?"

"Aku akan menyetir, tidak akan bisa jika sambil memegang bawaan itu." Sasuke menatap Sakura seolah mengatakan betapa bodohnya gadis dihadapannya tersebut.

"Huh, kau ini menyusahkan saja," keluh Sakura dengan suara yang amat samar tentunya.

"Seharusnya aku yang berkata seperti itu." Ternyata Sasuke masih bisa mendengar gumaman Sakura.

"Lagipula kenapa kau membungkus makanan ini dengan sangat banyak? Apa kau akan menghabiskannya sendirian?" Sakura menatap bungkusan-bungkusan plastik ditangannya.

"Hn. Nanti kau juga akan mengerti. Ayo segera naik!" Sasuke sudah bersiap diatas motornya yang kemudian disusul oleh Sakura.

"Iya," jawab Sakura lesu.

Setelah yakin bahwa gadis itu telah aman di boncengannya, Sasuke pun mulai melajukan motornya namun dengan kecepatan yang sedang –dan itu membuat Sakura sangat bersyukur karena tak perlu khawatir akan mati di jalan bersama pemuda itu.

Ckiiiiit...

Sasuke menghentikan motornya di depan sebuah bangunan kecil nan sederhana namun cukup rapi dengan penuh anak-anak kecil yang bermain di halaman depannya.

"Ah lihat, itu Sasuke-niichan!" Seorang anak kecil yang manis berlari menghampiri Sasuke yang baru saja turun dari motornya dan langsung memeluk pemuda tampan itu.

"Iya, itu Sasuke-niisan." Dan beberapa anak lainnya pun juga berlarian lalu memeluk Sasuke dengan sangat kompaknya.

"Hn, apa kabar kalian?" Sasuke membiarkan tubuhnya dikerumuni oleh anak-anak kecil.

"Kabar kami baik. Kenapa Onii-chan semakin jarang bermain kesini lagi?" sahut seorang anak kecil dengan rambut coklat dan wajah manisnya yang begitu polos.

"Maaf, ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."

"Ah, ada Sasuke-kun. Ayo anak-anak, kalian lepaskan dulu dan biarkan Sasuke-kun beserta temannya masuk," ucap wanita paruh baya yang cukup cantik. Nampaknya semua anak-anak tadi begitu patuh, mereka pun melepaskan pelukannya dari Sasuke dan membiarkan Sasuke lewat menuju Kurenai yang sudah menunggu.

"Hn, terimakasih Kurenai-san." Sasuke pun menarik tangan Sakura pelan agar mengikutinya masuk kedalam bangunan sederhana tersebut.

"Sudah cukup lama kau tidak mampir kemari, Sasuke-kun. apa kau sedang sibuk?" Kurenai bertanya sembari menuangkan teh pada cangkir di hadapan Sakura dan Sasuke.

"Iya, Onii-chan jadi sangat jarang bermain kesini lagi," tambah serang anak perempuan yang bertubuh agak kecil.

"Benar! Kami merindukanmu, Onii-san." Bocah laki-laki berambut hitam lain pun ikut menyahuti.

"Aa, begitulah. Ada banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan."

"Lain kali, sering-seringlah luangkan waktumu kemari, Sasuke-kun. Lalu siapa dia?" ucap Kurenai sembari tersenyum ramah pada Sakura yang sedari tadi hanya diam.

Wanita paruh baya itu juga mengerling penuh arti pada kedua tangan mereka yang masih berpautan. Sontak hal tersebut membuat Sasuke segera melepaskan genggaman tangannya pada tangan Sakura dengan wajah yang sedikit merona walau tak nampak karena raut stoic permanennya. Sakura pun demikian, mereka jadi salah tingkah dengan kerlingan jahil Kurenai dan beberapa tatapan polos anak kecil di sekeliling ruangan tersebut.

"Sakura. Dia temanku." Sasuke berkata setelah sebelumnya ia mati-matian menenangkan gejolak rasa dalam otaknya.

"Nama saya Sakura. Haruno Sakura," ucap Sakura sopan meski masih sangat nampak rona merah yang menjalari pipi ranumnya.

"Waaah, temanmu ini sangat manis, Sasuke-kun." Kurenai mengerling jenaka seolah menggoda Sasuke yang hanya bisa membuang muka untuk menghindari tatapan kurenai.

"Kakak perempuan ini membawakan makanan yang sangat banyak untuk kalian. Makanlah sepuasnya!" ucap Sasuke seraya mengambil bungkusan plastik di tangan Sakura dan memberikannya kepada anak-anak yang berada di panti asuhan kecil tersebut.

"Arigatou, Onee-chan." Seorang bocah perempuan kecil menatap Sakura dengan pandangan gembira, membuat Sakura jadi tersenyum simpul karena bahagia.

Rupanya Sakura sudah salah sangka terhadap Sasuke, ia baru tahu jika pemuda itu memiliki jiwa yang cukup terpuji. Tidak menyesal ia tadi menghabiskan isi dompetnya. Bahkan ia merasa sangat bersyukur karena dapat memberi kebahagiaan pada anak-anak yang memang sangat membutuhkannya.

Sakura mengalihkan pandangannya pada Sasuke. Ia dapat melihat tatapan onyx lembut dan penuh kasih dari pria tampan tersebut kepada anak-anak panti –walau sebenarnya raut wajahnya tetaplah nampak masam, datar dan menyebalkan.

Setelah berbincang-bincang dengan Kurenai dan anak-anak di panti asuhan itu –ah, mungkin lebih tepatnya hanya Sakura lah yang menanggapi perbincangan itu sedangkan Sasuke hanya diam mendengarkan, akhirnya mereka pun pamit undur diri karena hari yang sudah semakin sore.

xxxxx

Sakura POV

Aku merebahkan tubuhku ke atas ranjang tempat tidurku, rasanya hari ini benar-benar sangat melelahkan. Meskipun aku masih kesal karena Sasuke sialan itu menghabiskan cukup banyak uangku, tapi aku baru tau jika ternyata itu semua ia lakukan untuk anak-anak di panti. Ah, ternyata dia memiliki jiwa penyayang juga, ya? Rupanya selama ini aku salah telah banyak menilai dia begitu buruk. Sasuke juga cukup tampan, aku suka dua warna matanya yang sangat indah itu. Dia juga ternyata pemuda yang baik hati. Eh, ke-kenapa pipiku memanas begini karena memikirkannya?

Aku menggelengkan kepalaku pelan –berusaha untuk tidak memikirkannya lagi. Ada apa ini, kenapa pikiranku jadi dipenuhi oleh sosok pemuda itu? Ah, sudahlah. Mungkin lebih baik jika aku mandi saja dan segera beristirahat supaya besok bisa segar lagi. aku pun lantas bangkit dari ranjangku lalu berjalan menuju kamar mandi di sudut kamarku. Aku akan menemuinya lagi besok. Ah, mungkin aku juga akan membawakannya bento buatanku.

...

Normal POV

Sakura menyalakan shower dan membiarkan tubuhnya basah diguyur air dingin. Ia masih tidak habis pikir tentang anak-anak tadi yang semuanya cukup menyukai Sasuke. Apa mereka tidak tahu mengenai warna iris mata Sasuke yang berbeda? Yah, itu cukup wajar karena Sasuke selalu memakai kontak lensa jika berpergian. Tapi Sakura bersyukur jika masih ada yang mau menerima keberadaan Sasuke.

Sesekali Sakura tersenyum saat bayangan Sasuke kembali di berputar di pikirannya. Ah, tidak sadarkah kau bahwa kau bahkan tak lagi teringat akan pertemuan dengan mantan kekasihmu tadi, Sakura? Apakah kau bisa merasakan benih-benih yang sudah tertabur di dalam hatimu, Sakura? Yah, biarlah waktu yang akan menjawab.

...

...

Jadilah kamu penawar racun

Racun yang selama ini telah menggerogoti jiwaku

Racun yang hampir mematikan seluruh sel kehidupanku

Jadilah kamu...

Jadilah kamu penawarku

Penawar segala ketidakpastian di hidupku

...

To Be Continued


.

.

A/N : Yeaaah... Gimana? Gimana? Masih datar ya? Hohohoho... sabar..sabar.. kan ceritanya masih baru dimulai ^_^ ini aja masih belum masuk ke konflik utama lho... wkwkwk :D saya rencananya mau buat ni fic beralur lambat biar gak ngebut kaya fic PLMG dulu :p hehehe.. yah, kan belajar dari kesalahan. ;D

Kapan Lemon? Sabar..sabar.. ntar juga ada kok. Mungkin chap 4 nanti akan ada adegan yang bisa saya arahkan ke situ. Tapi mungkin saya buat yang implisit aja kali yah? Ya, yang gak terlalu kecut gitu... soalnya peraturan FFn itu *hening* -_-v ... Ta-tapi peraturan itu ada untuk dilanggar bukan? :D jadi yah terserah readers aja deh. Kalau banyak yang request adegan lemon eksplisit, ntar saya bikinin, tapi kalau ternyata banyak yang minta cukup implisit aja, yah ntar bisa saya atur ^_^ jadi, sekali lagi... semua kembali ke permintaan kalian. Silahkan aja request di kotak review, permintaan terbanyak itulah yang akan menentukan jalan cerita di chap 4 nanti.

Oke, sekian dulu bacotan dari saya... mohon umpan baliknya yah di kotak review ^_^ saran, kritik, pesan-kesan (?) atau sekedar sapa pun juga boleh.

Eh iya, selamat tahun baru ya untuk semua... *TELAT* Sampai jumpa di chap 4 ~~

Salam Hangat Selalu

Kamikaze Ayy