Hai.. Hai.. Waah udah berapa lama ya saya nggak updet? Hehehe maaf ya, :D setelah UN saya butuh rehat dulu... oke dah, balas review dulu ya... ;)
SaGaaRi Uchiha : Salam kenal juga.. :D kesialannya sih pasti ada... *tabok* maaf ya kalau updetnya lamaaaaaaa bangeeeeet.. :p tapi semoga masih berkenan membaca kelanjutannya..
SasuSakuSasoGaa : Iya, ini sudah lanjut kok... :D review lagi ya
SandriThePrinceOfScorpio : yang mesum siapa? Saya apa kamu? :p
Hanazono yuri : kyaaaaaa.. Makasih ya.. :D cinta segitiga ya? Ya, liat aja di chap ini ;) kayaknya bakal segi 6 deh.. wkwkwk *chidorii... hehe becanda.. eh, review lagi ya ;D
lhylia kiryu : Haloo :D kita berjumpa lagi.. ;) oke, ini udah di updet meski amat sangat ngaret.. hohoho... ditunggu nih reviewnya lagi.
SuntQ : tambah adegan romantis ya? Oke, sebisanya udah saya coba masukin beberapa adegan SasuSaku, ehm.. meskipun gak terlalu romantis, tapi semoga kamu suka ya ;D dan jangan lupa review lagi..
Sky pea-chan : benarkah? Waah makasih ;) review lagi ya!
Karasu Uchiha : Hohoho :D kalau chap ini gimana? Kasih pendapatnya lagi ya.
akasuna no ei-chan : okeh! Lanjutkan! *kayak kampanye aja*
sasa-hime : perasaan Sasu gimana ya... ehm... coba aja liat di chap ini. udah mulai kebaca belum perasaan Sasu? Kasih reviewnya lagi ya!
Feynatic : Yak! Ini udah updet lagi meski ngaret banget.. :p Lemon ditunda dulu... kita buat SasuSaku menggalau dulu. Hehehe maaf ya :D *sogok pake permen* review lagi ya ;)
SSasuke 23 : Suka yang ekstreem ya? Tenang aja Nee-chan, konflik utamanya bakal lebih berat dari PLMG deh kayaknya. Ehmm, gak tau juga sih -_- #tabok. Yak, reviewnya lagi ya ;D
Sadika : Oke oke.. ntar bakal ada kok, Cuma ditunda dulu.. saya pengen buat hubungan mereka menggalau dulu *Chidori* Review lagi ya!
Hikari Matsushita : Jiahahaha... Sasuke ngejual jasa ngusir roh.. kok kedengarannya gak elit banget ya buat pangeran Uchiha yang satu itu? Wkwkwk :D Oke, tapi ditunda dulu ya, banyak yang minta hubungannya di galaukan dulu *tendang*. Review lagi ya ;D
fava ritsuka : Aduuuh, maaf ya kalau updetnya lama banget? Salahkan UN aja yang udah banya menyita waktu Ayy *tendang*. Ini udah updet, semoga suka ya dengan chap ini ;D
Nina317Elf : Oh gitu ya? Ehmmm oke deh, saya tampung sarannya.. makasih ya ;) minta saran lagi ya untuk fic ini.
Miss Devil A : Siip.. Ayy tetap semangat kok ;D makasih ya atas supportnya :D kamu baik banget daah... :* :*
Me : gomenasai ;( ga bisa updet kilat nih gara-gara UN -_-
iya baka-san : Oke dah, Iya-nee.. *hug* iya betul..betul.. Sasuke stoic banget kaya batu dia. *Chidori* riview lagi ya, Nee-chan :*
Mikyo : eh, tumbuh benih2 apa ya? *sokbego* :p oke dah, ntar saya usahain buat adegan seperti itu, di chap ini saya coba bangun pertikaian hubungannya dulu. Heheh *tabok*. Review lagi ya :D
Kiki RyuEunTeuk : Iya sipp... ini udah saya coba bangun cenat-cenutnya.. ntar chap depan kita buat lebih cenuuttt lagi.. *Shannaro!* heheh.. eh, review lagi ya! ;)
Farberawz : siiip ;) ini udah dilanjut.. tapi maaf kalau lama yo?
Luchia Hiruma : Gomenasai... Lemonnya ditunda dulu... kita buat SasuSaku menggalau dulu.. :D review lagi yak!
Arakafsya Uchiha : Haay.. :D *pelukcium* iya sip dah, itu emang sudah ada dalam ide awal saya, ntar pasti saya buat mereka tinggal bareng. Ya, tapi gak tau kapan masih ya. Hehehe ;D
Uchiha Dian-chan : waah.. ehem-ehem itu apa ya? #Bletakk! :D yosh, ini udah updet, tapi maaf kalau lama banget. Review lagi ya! ;)
adem ayem : jawabannyaaaaa... ada di chap ini :D silahkan baca aja sendiri.. *jitak* hhehehe.. review nya lagi yak!
sami haruchi 2 : lemonnya di tunda dulu.. hehehe :p ada yang bilang masih kurang feelnya kalau buat lemon.. ;D jadi, mari kita buat SasuSaku greget dulu.. hehe.. review lagi ya!
Yosh~ Akhirnya selesai juga bales reviewnya.. mohon maaf kalau ada kesalahan dalam penulisan nama.. dan mohon maaf juga kalau chap ini sangat lama updetnya... oke, back to the story!
Tak pernah aku menginginkannya...
Terlahir dengan mata ini...
Aku tak suka
Mata kiri ini...
Aku membencinya
Kenapa harus aku? Kenapa?
Kalau seandainya aku boleh memilih,
Aku tak ingin terlahir dengan mata sialan ini
The One of My Eyes
By: Kamikaze Ayy
Naruto dan segala chara adalah milik Masashi Kishimoto. Saya hanya mengarang fiksi ini tanpa mengambil sepeserpun keuntungan materi dari isi cerita.
Pairing : Sasuke Uchiha & Sakura Haruno
Genre : Supranatural, Mysteri, Suspense, and Romance
Dedicated for all the readers
DONT LIKE, DONT READ!
NO FLAME!
.
Chapter : 4
"Haaah... haahh..." Sakura terjaga dari tidurnya karena mimpi buruk yang ia lihat dalam lelapnya. Gadis itu tampak kacau dengan raut wajah ketakutan. Entah apa yang baru saja ia lihat dalam mimpinya. Sakura menghidupkan lampu kamarnya dan melihat arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul satu dini hari. Gadis dengan mata viridian lembut itu kemudian mengambil posisi duduk dan memeluk lututnya serta menenggelamkan kepalanya diantara lekukan lututnya.
"Hiks.. hiks.."
Ya, dan gadis itu menangis dalam diamnya. Teringat pada sebuah mimpi buruk di masa lalu yang bahkan selalu berhasil membuat air matanya turun sampai sekarang.
...
"Kita harus berpisah." Seorang laki-laki dengan rambut berwarna merah menyala itu tertunduk dan tak mampu menatap kekasihnya yang memasang muka shock mendengar apa yang baru saja ia katakan.
"Ta-tapi, Gaara-kun." Sakura –gadis itu nampak tak percaya akan apa yang di ucapkan oleh kekasihnya. Memintanya untuk memutuskan hubungan ini? Jelas saja Sakura tak akan sanggup.
"Gomen, Sakura-chan. Tapi ini lah yang harus kita lakukan. Sebagai pewaris tunggal dari keluarga Sabaku, aku harus melakukan ini. maafkan aku, Sakura." Gaara memeluk Sakura dengan erat seolah hendak menyampaikan rasa sakit yang juga tengah ia rasakan. Pria itu menenggelamkan kepalanya diantara lekukan leher dan bahu Sakura.
Sakura mengerti. Ya, ia cukup mengerti dengan apa yang tengah menjadi permasalahannya dalam hubungan mereka saat ini. ia mengerti tentang masalah perjodohan yang harus dilakukan oleh Gaara demi keluarga besar serta perusahaan Sabaku. Tapi, apa ini adil baginya?
"Gomen, Sakura." Gaara tak hentinya mengucapkan kata maaf yang terdengar sangat parau nan sayu. Membuat Sakura yang sedari tadi berusaha menjaga airmatanya untuk tidak menetes pun tak mampu lagi menahan bendungan liquid bening tersebut.
Mereka berdua menangis dalam pelukan. Berusaha memberi kekuatan serta ketegaran pada masing-masing. Mungkin inilah takdir mereka. Takdir dimana mereka hanya bisa bersatu dalam mimpi namun tidak pada alam nyata.
...
Sakura masih terisak pelan. Surai merah mudanya nampak kusut dan acak-acakan, namun hal itu tak ia perdulikan. Baginya, rasa sakit akibat kenangan masa lalunya jauh lebih menyesakkan. Dadanya nyeri bagaikan tertusuk belati yang lalu menyayat pelan hingga ke jantungnya dan merobek bagian paru-parunya hingga membuat ia kesulitan bernafas. Berlebihan memang, tapi inilah kenyataan yang sedang Sakura rasakan. Sudah setahun lamanya hal itu berlalu, tapi mengapa kini Sakura kembali mengingatnya?
Tuk...
Sebuah suara kerikil kecil yang menimpa pintu kaca beranda kamarnya membuat Sakura sedikit menoleh. Namun ia kembali menundukkan kepalanya.
Tuk...
Kembali suara itu terdengar lagi. Hingga mau tak mau Sakura pun mengusap linangan air matanya dan beranjak dari ranjangnya menuju pintu beranda kamarnya lalu membukanya.
"..." Betapa terkejutnya Sakura saat melihat seseorang yang berada di depan rumahnya sedang mendongak keatas menatapnya yang sedang berdiri di beranda kamarnya yang berada di lantai dua. Seseorang yang bahkan kini sedang menampakkan raut muka datar seperti biasa dengan sikap acuh. Namun entah mengapa sorot mata onyx kelam itu menyinarkan betapa ia sedang cemas. Kepada siapa? Kepadanya kah? Sakura bertanya-tanya dalam hati.
"Hn."
"Apa yang sedang kau lakukan disitu, Sasuke?" Sakura bertanya dengan nada sedikit berteriak. Tak perlu khawatir karena orangtuanya sedang berada diluar kota karena urusan pekerjaan.
"Boleh aku naik ke tempatmu?" Alih-alih menjawab pertanyaan Sakura, Sasuke malah bertanya yang hanya dijawab anggukan oleh lawan bicaranya.
Seeeet...
Dengan sedikit kelihaian, Sasuke pun memanjat batang pohon Sakura yang tak berbunga tepat di hadapan kamar gadis dengan nama yang sama seperti pohon itu. Lalu ...
Haaapp...
Dan tepat mendarat dengan sempurna di hadapan Sakura.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang sedang kau lakukan disini? Dan bagaimana kau bisa tau letak rumahku?" Sakura mengulang pertanyaannya.
"Entahlah," jawab Sasuke pelan karena ia memang tak tahu apa alasan ia kini berada di tempat Sakura. Yang ia tahu, tadi Sasori –saudara Sakura yang telah meninggal– menyuruhnya untuk menemui Sakura dan menghiburnya. Arwah Sasori pulalah yang menuntunnya hingga bisa sampai ke kediaman keluarga Haruno. Meski Sasuke tak tahu pasti akan apa yang dimaksud, tapi melihat ada jejak aliran air di pipi Sakura membuat Sasuke sedikit paham akan situasinya.
"Apa mak-"
Greeeeb...
Sakura merasakan tubuhnya sesak, namun bukan lagi rasa sesak yang membuat dadanya berdenyut nyeri. Tapi rasa sesak ini sangat nyaman dan hangat. Sasuke memeluknya. Ya, pria tampan itu kini sedang mendekap tubuh mungilnya. "Sa-sasuke..."
Sasuke diam, jujur saja ia juga bingung dengan apa yang tengah ia lakukan saat ini. Memeluk seorang perempuan? Ah, sangat konyol sekali. Naruto pun bahkan tak akan percaya jika mendengar hal itu. Tentu saja, karena selama ini ia memang tak pernah dekat dengan satu orang wanita pun kecuali ibunya dan Kushina.
"Menangislah!" Dan sungguh Sasuke semakin tak mengerti. Kata-kata barusan keluar begitu saja dari mulutnya tanpa ia hendaki. Hanya mengikuti naluri saja.
"Hiks... hiks..." Sakura kembali menangis kencang dalam dekapan Sasuke. Ia menumpahkan segala kegelisahannya yang begitu membuatnya merasa tak nyaman. Tak perduli jika nantinya laki-laki dihadapannya ini menertawakannya karena menganggap ia cengeng. Yang Sakura butuhkan sekarang adalah tempat untuk sekedar bersandar. Ia lelah dengan bayang-bayang masa lalu.
Lama mereka terdiam dengan posisi saling mendekap tersebut. Sasuke merasa bahwa Sakura sudah sedikit agak tenang. Tangisannya pun nampak mereda. Perlahan Sasuke mengendurkan pelukannya. Ia pegang kedua pundak gadis dihadapannya tersebut lalu ia tatap manik emerald dengan dalam namun penuh kelembutan.
"Sakura, aku tak tahu apa yang terjadi kepadamu. Aku juga tak tahu apa yang membuatmu menangis. Tapi, kau tak sendiri. Bersandarlah kepadaku, aku akan menjadi tameng sekaligus pedang untukmu." Sasuke mengucapkan kata-kata tersebut dengan pelan namun tegas.
"Terimakasih, Sasuke-kun." Sakura dapat merasakan jantungnya berdebar dengan kencang saat deru nafas hangat Sasuke menyentuh permukaan kulit wajahnya.
"Hn."
"..."
Kembali mereka berpelukan dalam diam. Entah apa yang terjadi, tapi Sasuke ingin kembali melihat senyum manis Sakura.
Sreeeeek...
Tiba-tiba sebuah suara gemerisik yang berasal dari semak membuat Sasuke menajamkan pengelihatannya, namun tidak ada apa-apa. Suasana gelap dan begitu hening, hanya isakan dari gadis dalam dekapannya yang ia dengar.
Sreeek...
Lagi! Lagi Sasuke mendengarnya. Tapi kali ini berbeda, ia melihat sekelebat bayangan melintas dari halaman ruman Sakura. Sasuke memicingkan matanya, berharap agar ia dapat melihat dengan lebih jelas bayangan tadi. Namun bayangan itu sudah tak nampak lagi. Sasuke menggelengkan kepalanya pelan.
"Mungkin ini hanya ilusiku saja," pikirnya seraya terus memeluk dan mengelus surai merah muda milik Sakura. Tak mau berpikiran negatif, Sasuke melupakan tentang apa yang ia lihat barusan dan menganggap semua sebagai imajinasinya belaka.
Lama mereka berpelukan dalam gelapnya dini hari. Bahkan dinginnya suhu udara saat itu pun sama sekali tak mengganggu keduanya. Dan entah bagaimana, posisi mereka kini sudah berubah, Sasuke menyender pada pagar pembatas balkon kamar Sakura, sedangkan Sakura tengah bersandar ke dadanya dalam dekapannya. Begitu nyaman mereka berdua rasakan. Hingga alam mimpi kembali menyapa keduanya.
oOo
"Eeeenngh..."
Sakura menggeliat pelan saat mendengar suara kicauan burung di sekitarnya. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya seraya berusaha mengingat kejadian sebelum ia tertidur.
Bluuuuush...
Pipinya memerah taktala mengingat bahwa semalam ia memeluk Sasuke dan menangis dalam dekapan pria tersebut. Dan lebih malu lagi setelah tau bahwa kini ia sedang tertidur di balkon kamarnya sembari bersandar di dada Sasuke. Sakura bangkit secara perlahan, berusaha agar tidak membangunkan Sasuke.
" Terimakasih, Sasuke-kun."
Cuuup...
Sakura mengecup pelan pipi Sasuke. Ia tersenyum manis kala melihat wajah polos dari sang Uchiha yang sedang tidur.
"Ah, aku akan mandi dulu dan membuatkan sarapan untuk kita." Sakura segera berdiri dan berjalan menuju kamar mandi di kamarnya.
Setelah Sakura menutup pintu kamar mandi, Sasuke yang sebenarnay telah terjaga sedari tadi itu pun membuka kelopaknya dan menampilkan iris onyx yang berdampingan dengan permata merah semerah darah. Sasuke mengelus pipinya yang dicium oleh Sakura barusan.
Apa ini? Perasaan apa ini? Kenapa ia malah menjadi tak tenang seperti ini?
"Tch, menyebalkan saja!"
Sasuke bangkit dari posisinya dan berdiri menghadap halaman rumah Sakura. Suasana pagi yang masih berkabut membuat ia merasakan dingin yang sedari semalam tak ia sadari. Apa karena semalam ia tidur dengan memel–
"Aaaarrgh..." Sasuke mengacak rambutnya pelan.
"Sasuke-kun? Sudah bangun?"
Sasuke menoleh dan terlihat Sakura yang baru saja mandi dan hanya menggunakan sehelai handuk untuk menutupi tubuhnya. Tampak kulitnya yang begitu putih dan mulus seperti porselen, belahan dadanya yang mengintip dari celah handuk kecil itu membuat Sasuke yang pada dasarnya adalah pria normal menjadi merona.
Sadar akan tatapan Sasuke, Sakura pun mendelik. "Dasar mesum! Apa yang kau lihat, Bodoh?"
"Hn, aku tak sengaja melihatnya." Sasuke tetap berusaha tenang meski kenyataannya kini ia tengah kesulitan menormalkan degupan jantungnya yang berpacu begitu cepat.
"Pervert! Sudah, cepat mandi sana!"
"Iya.. Iya.."
...
"Waah, coba liat! Kenapa Haruno-san bersama orang itu?"
"Iya, bukankah dia itu Uchiha Sasuke yang kabarnya bukan anak manusia?"
"Iya, apa kau tau, dia memiliki dua warna mata yang berbeda?"
"Benarkah? Itu mengerikan..."
"Tampan sih, tapi banyak yang bilang dia itu pembawa sial."
"Kasihan sekali Sakura-san, ia seharusnya tak bersama pria seperti itu."
Suara bisikan terdengar dari berbagai sudut saat Sakura berjalan beriringan bersama Sasuke, tapi tak satupun mereka tanggapi. Sakura terus saja berjalan seraya sesekali berceloteh riang mengajak ngobrol Sasuke yang hanya ditanggapi dengan deheman seadanya seperti biasa. Tentu saja mereka menjadi bahan gunjingan. Betapa tidak? Sakura termasuk gadis yang cukup populer di Oto High School, karenanya tak heran jika ia menjadi pusat perhatian murid lainnya. Berbeda dengan Sasuke, ia sebenarnya cukup tampan dan banyak gadis yang jatuh hati kepadanya, namun gadis-gadis itu harus berpikir ribuan kali lagi setelah tau jika Sasuke memiliki dua warna iris yang berbeda. Hah, sangat miris, bukan? Tapi hal tersebut tidaklah dipermasalahkan oleh keduanya. Sakura sama sekali tak merasa terganggu. Baginya, cukup ia bersama Sasuke, semua akan baik-baik saja. Tak perduli dengan yang lain.
Dan dari sudut kelas lain dimana Sasuke dengan Sakura baru saja melewatinya, nampak seorang pemuda lainnya yang tengah mengepalkan kepalan tinjunya. Iris matanya diselimuti amarah, manik emerald pucat yang biasanya nampak dingin dan datar itu kini menyipit menatap tak suka pada dua insan yang sedang berjalan beriringan bersama seraya berbincang. Gadis pink itu, gadis yang dulu amat ia cintai. –Ah tidak, sepertinya sampai sekarang pun hatinya juga masih menyayangi gadis itu. Meski ia tau bahwa hubungannya dengan Sakura telah berakhir. Tapi apa daya, perasaannya tak bisa sejalan dengan keinginannya.
Buuugh...
Pemuda dengan rambut berwarna merah itu menghantam tembok yang tak bersalah demi melampiaskan kekesalannya. Darah segar mengucur dari jemarinya. Hatinya terasa ngilu, perasaannya sesak sampai bernafaspun ia merasa kesusahan.
"Cih! Kuso!"
oOo
"Hn, sudah sampai. Cepat masuk!" ucap Sasuke begitu mereka sampai di depan ruang kelas Sakura.
"Terimakasih, Sasuke-kun. Emmh, aku akan ke ruang klub saat makan siang nanti. Tunggu aku, ya!"
"Hn."
Sasuke berbalik dan berjalan gontai menuju kelasnya sendiri.
"TEMEE!"
Sasuke yang baru saja masuk kelas, harus rela telinganya langsung sambut suara cempreng milik sahabatnya sendiri.
"Hn, tidak usah berteriak, Bodoh!" Sasuke menghempaskan tubuhnya di kursi tempatnya duduk di pojok kelas.
"Teme, ceritakan padaku! Kenapa kau bisa bersama Haruno dari kelas sebelah itu? Kau tau, dia begitu cantik dan pintar. Banyak lelaki yang berusaha untuk mendapatkannya, tapi kenapa sekarang ia malah bersamamu?" tanya Naruto dengan panjang lebar tanpa jeda.
Sasuke melirik sekilas, ia menyenderkan punggungnya dan mulai memejamkan kedua matanya.
"Hey, Teme! Jawab pertanyaanku!" desak Naruto seraya mengerucutkan bibirnya.
"Hn, sudah jelas karena aku lebih baik dari semua pria yang barusaha mendapatkannya, kan?" jawab Sasuke menyombongkan diri seraya menyeringai kecil. Meski ia tau bahwa yang ia ucapkan tadi hanyalah sekedar gurauan, tapi tak ada salahnya kan bila dengan Naruto.
Naruto yang mendengar jawaban 'sok' dari Sasuke itupun hanya bisa ber-sweatdrop ria.
"Jangan bercanda, baka Teme!" ucap Naruto seraya melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Entahlah, kami hanya tidak sengaja bersama. Itu saja," balas Sasuke cuek membuat Naruto sedikit menyipitkan manik saphire miliknya.
"Kau berhutang satu cerita kepadaku, Teme!"
"Hn, terserah kau sajalah, Dobe."
Mereka terus berdebat sampai akhirnya bel tanda masuk memisahkan keduanya karena Ibiki-sensei yang masuk kelas dan akan memulai pelajaran pertama.
oOo
"Apa yang kau lakukan disini, Dobe?" bentak Sasuke pada Naruto yang kini malah sedang asyik bersantai di atas sofa dalam ruang klub miliknya.
"Aa, ruangan ini milik sekolah, dan aku sudah terdaftar sah sebagai siswa disini, jadi aku juga punya hak menggunakan ruangan ini, baka Teme."
Tuing...
Muncul satu perempatan siku di dahi Sasuke, ia kesal karena sedari istirahat tadi Naruto terus mengikutinya. Sekarang, pria dengan rambut jabrik pirang itu malah seenaknya menghabiskan makanan dan minuman yang ada dalam lemari es di ruangan klub tersebut.
Sebenarnya Sasuke tak masalah jika Naruto harus berada di ruangannya. Namun bukankah siang ini Sakura akan mengunjunginya, akan menjadi masalah jika Naruto sampai tau bahwa Sakura bahkan sering berkunjung ke klub nya. Oke, jadi sebenarnya sumber dari kegelisahan Sasuke saat ini adalah gadis dengan rambut soft pink. Tapi, kemanakah ia? Ini sudah lewat dari jam makan siang, tapi gadis berisik itu sama sekali belum menampakkan dirinya.
Tok... Tok...
Sasuke membuka matanya lebar saat mendengar pintu diketuk dari luar. Ia segera bangkit bermaksud membukakan pintu. Namun Naruto sudah terlebih dahulu berlari menyambut tamunya.
"A-ano, ma-maaf. A-apa Sasuke-san ada?" Seorang gadis manis dengan rambut indigo dan iris seputih mutiara lautan itu menunduk malu.
"Hinata?" Naruto memandang heran kepada gadis yang tengah berdiri dihadapannya tersebut, "Apa yang sedang kau lakukan disini? Ah, kau bilang mencari Sasuke, ya? Masuklah, dia ada di dalam." Naruto membukakan jalan mempersilahkan Hinata untuk masuk bertemu Sasuke.
Hinata berjalan mendekati Sasuke yang tak bergeming dari tempat dimana ia duduk, "I-ini bento u-untukmu. Ka-kalau tidak suka, kau bo-boleh membuaangnya." Hinata menyodorkan sekotak bento untuk makan siang Sasuke sembari mengigit bibir bawahnya pelan. Ia harus menahan rasa malu beserta degupan jantungnya karena saat ini ia sedang berhadapan dengan Sasuke, pria yang ia taksir sedari pertama ia masuk di Oto High School tersebut.
Sasuke cukup terkejut, karena baru kali ini ada orang lain selain Naruto –dan tentunya Sakura– yang masuk ke ruang klub, apalagi kali ini gadis di hadapannya itu tengah menawarkan sekotak bekal makan siang untuknya.
"Hn, terimakasih." Sasuke berkata dengan nada yang tetap datar, sebenarnya ia sedikit kecewa karena bukan gadis indigo itulah yang ia harap memberikan sekotak bento untuknya.
"Ka-kalau begitu, a-aku permisi dulu." Setelah berkata demikian, Hinata pun berbalik dan segera melangkah keluar dari ruangan dengan melewati Naruto.
Keadaan hening sesaat setelah Hinata menghilang dibalik pintu, Sasuke diam sembari menatap datar pada kotak bento yang diberikan Hinata.
"Jadi, apa kau akan memakannya, Teme?" Naruto bertanya seraya mendekati Sasuke dan membuka kotak bento. "Kalau kau tidak mau, biar aku saja yang makan. Aku sangat lapar."
"Hn, terserah kau sajalah," sahut Sasuke membiarkan Naruto yang mulai melahap isi bento.
Sasuke berdiri dan berjalan mendekati jendela besar yang menghadap lapangan basket sekolahnya, dari situ ia juga bisa menatap kelas Sakura. Ah, Sakura? Kalau dipikir-pikir, gadis pink itu belum juga datang memenuhi janjinya yang akan mengunjunginya. Ah sudahlah, kenapa juga ia mesti memikirkan hal tidak penting itu.
"Nyaaamm... Enak sekali, Teme! Kau yakin tidak mau mencobanya?" Naruto berkata dengan makanan yang masih penuh di mulutnya, membuat Sasuke jijik melihat cara makan sahabatnya tersebut.
"Tidak."
"Teme, apa kau tau? Hinata, gadis yang memberikan bento ini adalah teman sekelas Sakura Haruno. Ku rasa ia menyukaimu," Naruto menaruh sumpitnya dan memandang serius kepada Sasuke.
"..." Hening, tak ada sahutan dari Sasuke.
"Ya, aku sudah dapat menebak apa yang ada di pikiranmu. Haruno Sakura, ya?"
Sasuke masih tak menjawab, ia hanya melirik Naruto sekilas kemudian melangkah menuju pintu dan keluar dari ruangan klub dengan raut wajah yang sama sekali tak dapat dimengerti bahkan oleh Naruto sekalipun.
Krriiiet...
Setelah pintu tertutup lagi, kini tinggalah Naruto seorang diri di ruangan tersebut. Naruto masih tak mengalihkan perhatiannya pada kotak bento yang sudah ia tandaskan isinya. Pemuda dengan rambut pirang jabrik itu tersenyum hambar yang entah ia tujukan kepada siapa.
"Padahal aku sudah memperhatikannya sejak di bangku SMP, tapi malah kau yang ia lihat, Teme." Naruto meringis, timbul rasa sesak bercampur perih yang begitu tak nyaman pada perasaannya. Gadis yang ia suka, malah menyukai sahabatnya sendiri. Miris sekali.
Hah, seharusnya ia tak merasakan perasaan konyol seperti ini.
oOo
Sasuke berjalan diantara lorong-lorong sekolah. Ia tidak tahu kemana tujuannya. Ia hanya membiarkan langkah kakinya menuntunnya hingga sekelebat bayangan kembali menghantui pandangannya.
Srrreeet...
Sasuke menghentikan langkahnya. Bayangan itu lagi, ya? Pria berambut raven itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Namun nihil, tak ada siapapun. Atau bahkan jika itu adalah roh, ia seharusnya juga bisa merasakannya.
"Ah, sudahlah. Mungkin hanya imajinasiku saja." Sasuke meneruskan langkahnya hingga ia berhenti tepat dibawah tangga menuju atap sekolah. Saat ini seharusnya sudah berlangsung jam pelajaran terakhir, tapi rasanya ia ingin membolos saja. Sasuke menaiki tangga tersebut dan membuka pintu. Benar saja, di atap tak ada siapapun. Sunyi dan sepi.
Sasuke berjalan menuju pinggiran atap dimana disitu terdapat kawat pembatas. Pria stoic itu memandang lurus ke halaman belakang sekolah, disitu terdapat beberapa pepohonan rindang yang sepertinya cukup nyaman untuk dijadikan sebagai tempat beristirahat menghabiskan waktu luang. Namun pandangan Sasuke tertuju pada dua orang insan yang salah satunya ia kenali. Ya, siapa lagi gadis dengan rambut berwarna pink kalau bukan Sakura. tapi, sedang bersama dengan siapakah dia? Seorang lagi adalah pemuda dengan rambut berwarna merah. Sasuke tak cukup jelas melihatnya dari atas.
Bukankah Sakura sudah berjanji akan menemaninya siang ini, tapi gadis itu tidak datang dan sekarang ia malah melihatnya sedang berdua di halaman belakang sekolah dengan pria lain. Oke, apa kali ini kau cemburu, Sasuke? Sasuke menggelengkan kepalanya pelan. Masa bodohlah dengan gadis itu, ia tak peduli. Begitulah pikirnya berusaha mengelak akan apa yang tengah melanda perasaannya.
Berusaha untuk menghiraukan atas apa yang dilakukan oleh Sakura, Sasuke mengalihkan perhatiannya pada langit biru yang nampak begitu cerah dengan arak-arakan awan putih yang tertiup angin. Namun tak bisa, rasa ingin tahu Sasuke akan apa yang tengah Sakura lakukan bersama pria itu jauh lebih besar.
Pria dengan rambut model emo itu kembali memandang ke halaman belakang sekolah, dan begitu terkejutnya ia melihat Sakura yang sekarang sedang berpelukan dengan pria berambut merah tadi. Sedikit rasa kesal muncul memenuhi rongga dadanya.
"Cih!"
Sasuke menyipit memandang tak suka pada pemandangan dibawahnya itu. Merasa jengah akan hal tersebut, Sasuke pun bermaksud kembali menuju ruang klub. Tetapi baru saja hendak membalikkan badan, Sasuke melihat arwah dengan rambut terulur panjang berwarna putih pucat yang berada tak jauh dari posisi dimana Sakura berada. Arwah tersebut hanya diam dan memandang Sakura yang masih berpelukan. Sasuke membuka kontak lensa matanya, ia berkonsentrasi agar dapat melihat arwah tadi dengan jelas.
Rambut putih pucat panjang terurai, mengenakan gaun yang juga berwarna putih selutut, wanita itu terlihat melayang tak menapaki tanah, dan sedikit aura gelap yang menyelimutinya. Siapakah dia? Sasuke merasa tak pernah melihat arwah itu sebelumnya di sekitar sekolah ini.
Krrriiiing...
Bel pelajaran usai berbunyi, membuat Sasuke sebentar mengalihkan perhatiannya dari sosok arwah tadi. Sakura pun juga terlihat bergegas melepaskan pelukan pemuda merah itu dan berlalri menjauhinya. Sasuke menatap datar pada Sakura yang berlari menuju koridor sekolah. Raut wajah stoic yang dengan setia terpajang itu sama sekali tak menampakkan bahwa sebenarnya ia merasa sedikit khawatir juga kesal kepada gadis pink tersebut. Siswa-siswi lain mulai berhamburan keluar kelas untuk segera pulang. Sasuke kembali menjelajahi pandangannya ke halaman belakang untuk mencari sosok arwah wanita tadi. Namun sepertinya arwah itu sudah menghilang.
"Tch."
Sasuke memasang kembali kontak lensa berwarna hitam miliknya. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan atap menuju ruang klubnya. Perasaannya berkecamuk, antara kesal dan khawatir pada Sakura, juga penasaran akan sosok arwah dan pria yang tadi memeluk Sakura.
Sesampainya di depan ruang klub, Sasuke memutar kenop pintu dan membukanya.
Kriiieeeet...
Disana sudah tidak terdapat Naruto lagi, namun yang membuatnya terkejut adalah keberadaan Sakura yang tengah terduduk di sofa dengan memeluk lututnya sendiri. Rupanya gadis itu segera kemari setelah mengambil peralatan sekolahnya di kelas setelah bel pulang tadi.
"Sasuke-kun." Sakura menegadahkan kepalanya, ia berdiri menyambut Sasuke namun hanya dibalas dengan tatapan dingin dari pria tersebut. "A-ano, maaf karena tadi siang aku tidak sempat kemari padahal aku sudah berjanji kepadamu," ucap Sakura pelan.
Sasuke berjalan melalui Sakura menuju mejanya dan mulai membuka laptop hitam miliknya, "Hn. Kau tak perlu kesini lagi. tak ada yang membutuhkanmu disini," jawab Sasuke dengan nada datar namun terdengar angkuh. Menyakitkan memang, dan Sasuke sadar akan hal itu. Tapi, rasa kesal yang begitu menyesakkan dadanya karena melihat Sakura bersama pria merah tadi jauh lebih kuat menggerogoti hatinya. Mengesampingkan rasa bersalahnya, Sasuke lebih memilih melampiaskan rasa kesalnya.
Sakura terdiam membatu mendengar ucapan Sasuke. Pasalnya, kata-kata pria itu begitu tepat menusuk dadanya. Bagaimana bisa, baru saja semalam pria itu datang menghiburnya, memberinya tempat yang sangat nyaman dan hangat untuk bersandar melepas lelah dari segala masalahnya. Kini pria tersebut malah mengatakan bahwa ia tak dibutuhkan. Ya, mungkin memang benar jika keberadaannya sama sekali tak dibuthkan. Karena selama ini selalu ia lah yang malah menyusahkan Sasuke. Tapi, tetap saja kata-kata itu terasa menyayat hatinya.
"Aku minta maaf kalau keberadaanku mengganggumu. Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. Terimakasih atas segalanya," ucap Sakura pelan namun berusaha tegas.
Sakura memakai tas selempangnya dan mengambil buku-buku miliknya yang ia taruh di atas meja. Kemudian gadis itu pun berbalik dan bermaksud untuk keluar dari ruan klub. Tapi, sebuah tangan menghentikan pergerakannya.
Syuuuut...
Sasuke memegang pergelangan tangan kiri Sakura yang bebas dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Sasuke merasa kesal, namun ia tak mengerti kenapa ia harus merasa kesal. Padahal hanya melihat gadis ini bersama pria lain saja membuat ia merasa sesak yang amat tak nyaman bahkan membuatnya sulit untuk bernafas. Seperti ada sedikit rasa tidak rela.
Sasuke menengadahkan kepala Sakura dan mencium bibir gadis tersebut dengan paksa. Sakura yang terkejut dengan perlakuan Sasuke tersebut pun berusaha untuk memberontak. Sasuke tak tinggal diam, ia menekan kepala gadis itu agar tetap dalam posisinya dan memperdalam pagutannya. Ia mengigit bibir bawah Sakura kecil menyebabkan gadis dengan iris viridian lembut itupun terpaksa membuka mulutnya. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Sasuke, pria tersebut segera memasukkan lidahnya dan menyapu bersih seluruh rongga mulut Sakura secara paksa. Sakura yang merasa sudah tak tahan karena merasa kekurangan oksigen itu pun mendorong Sasuke dengan sekuat tenaga. Dan berhasil, Sasuke terdorong beberapa lankah kebelakang. Setelah lepas dari pelukan Sasuke, Sakura berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Setelah merasa cukup, gadis bersurai soft pink itu mendekati Sasuke, lalu ...
PLAAAK...
Ya, Sakura menamparnya dengan cukup keras.
"Hiks... Apa yang kau lakukan, Bodoh! Hiks..." Sakura berkata dengan nada terisak. Bahunya bergetar dan sorot wajahnya menampilkan rasa takut dan kecewa.
"..."
Mendengarnya, sekejap membuat rasa bersalah memenuhi pikiran Sasuke. Apa yang sudah ia lakukan barusan. Tak seharusnya ia melakukan hal bodoh seperti itu. Sekarang lihatalah, ia berhasil membuat Sakura menjadi ketakutan kepadanya.
"Kau–" Sakura menyipitkan emeraldanya dan memandang Sasuke dengan penuh amarah, "–Kau brengsek!"
Setelah berkata demikian, Sakura pun berlari keluar ruangan klub meninggalkan Sasuke seorang diri. Sasuke bahkan tak sempat mengucapkan kata maaf kepadanya. Rasanya amat perih saat melihat punggung Sakura yang menghilang di balik pintu. Dan kini, ia hanya terdiam mematung. Tanpa bisa melakukan apa-apa. Sasuke tertunduk, dadanya terasa sakit, matanya memanas tapi ia tak bisa menangis.
"AAAAAAHH..."
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar. Dan suara itu, Sasuke yakin adalah suara Sakura. Langsung Sasuke berlari keluar ruangan. Ia menoleh ke kanan dan kekiri tapi tak ia temukan Sakura. Namun betapa terkejutnya ia kala melihat tas selempang dan beberapa buku yang ia yakini milik Sakura itu berserakan di atas lantai koridor. Lalu, kemanakah pemiliknya?
Sasuke menarik nafas panjang dan berusaha untuk tenang. Namun tidak bisa, selain karena perasaan bersalah yang masih membayanginya, memikirkan bahwa kini Sakura telah menghilang juga semakin membuatnya kalut. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Sasuke mengambil tas dan buku-buku milik Sakura, lalu ia berlari menelusuri koridor sekolah yang sudah sepi itu sembari meneriakkan nama Sakura berulang-ulang. Tapi tetap saja, Sakura tak ada. Gadis itu bagaikan lenyap ditelan bumi tanpa jejak
Lalu, apa yang akan Sasuke lakukan sekarang?
...
Apabila aku berlari kedepan
Kau berjanji akan melindungiku dari belakang
Tapi saat aku sedang berlari
Aku merasa takut untuk menoleh kebelakang
Aku takut kalau ternyata kau tak ada
Aku takut kau lelah mengejarku
Aku takut kau tak lagi melindungiku
...
To Be Continued
oOo
A/N : Huwaaaaaaah... *tepar* Gilaaaaaa. -_- lama gak nyentuh fic ini gara-gara waktu kesita untuk UN, pas mau ngelajutin lagi entah kenapa malah lupa sama ide-ide awalnya -_- jadilah fic ini sangat ngaret updetnya. Saya terpaksa membaca ulang kembali chap fic ini dari awal dengan teliti dan berusaha menggali kembali ide-ide awal jalan ceritanya. Beneran lupa. Asli blank dah. Tapi berbekal keyakinan kuat dan support dari reader sekalian juga sedikit paksaan dari temen-temen yang sampai ngirim inbox buat nerusin nih fic, akhirnya chap 4 ini kelar juga. :D *Usap Peluh* Maaf ya, minna.. maaf kalau jalan cerita di chap ini agak aneh... Chap 5 saya usahakan akan lebih baik.. *semoga*
Eh, Ayy minta doanya ya semoga nilai UN Ayy bisa memuaskan. agak takut juga sih soal kimia nya ituuu lhoooo yang bikin gregetan -_- #malah curcol#
Oke dah, sekian dulu bacotan saya, mohon umpan baliknya ya reviewnya dan pendapatnya juga mengenai chap ini. Saran atau sekedar salam senyum sapa (?) juga boleh ;)
Sampai jumpa ya di chap 5 berikutnya~~ ^_^
Pelaihari, 03 Mei 2013
Salam Hangat Selalu
Kamikaze Ayy
