Halooo, minna~ saya updet cepet kan? *tebarbunga* hehe.. Oke, sekarang bales review dulu ya.. ;)
detaayu75 : iyaa ini udah dilanjut... review lagi ya! ;)
iya baka-san : iya tuh.. sasuke gak tau diri ;/ kasian sakura nya .. T_T review lagi ya, Onee-chan ;)
Name Shiha-chan : suka ya? Makasih :* iya nih udah saya updet... review lagi ya!
Mikyo : iya nih Sasuke gak tau kalau itu cemburu... :D iya, ini udah updet... review lagi ya!
Beautyfulangellovegmai. Com : iyaa.. ini udah saya updet kok :D maaf ya kalau gak bisa super kilat.. modem gak ada pulsa nih :p eh, review lagi ya!
My Review : iya ini udah updet kok... makasi udah bilang bagus :D *Sodorin permen* review lagi ya!
Nina317Elf : iya.. saya udah belajar semaksimal kemampuan saya.. semoga hasilnya memuaskan seperti yang saya harapkan.. amiin Makasih ya atas support-nya.
SaGaaRi Uchiha : iya nih.. sasu mulai lope lope nih sama saya *SALAHWOY* Saku kemana? Cari aja jawabannya di chap ini.. hehehee yosh, review lagi ya!
Fivani-chan : hahhaa.. kan biar greget gitu :3 biar mereka menggalau... *ditandang* eh, eh, yang didukung Cuma sasusaku aja? Ayy gak didukung juga nih? ;( hehehe becanda :D review lagi ya!
Sasusaku uciha : aduuuh jadi gak enak nih ;( maaf ya kalau saya updetnya ngaret banget.. maaf banget.. Sakura kalau jadian lagi sama Gaara, ntar Sasuke gimana donk? :D Hehehe... hantu itu adalah... *jrengjreng* RA HA SI A ;) Ini udah updet.. review lagi yah!
Uchiharuno : iya nih :D karena ayah kerja di pelaihari, jadi terpaksa pindah ke sini sementara. Eh tapi Cuma 2 tahun aja. Karena udah lulus SMA, saya mau pulang ke jawa lagi. :D #Malahcurcol. Benarkah makin greget? Wah senengnya :D Ayy juga cinta kamu daah :* :* ini udah updet.. review lagi ya!
Me: iya ini udah updet ^_^ review lagi ya!
Hikari Matsuhita : Huuu... maaf deh kalau lama updetnya :P wkwkwk... iya sih bener juga.. biar orang gak ngucilin dia terus *Peluk Sasuke*. Review lagi ya!
Ocha chan : bagus? benarkah? *hug* kok takut horor sih? Tenang aja, ada Sasuke yang akan menjagamu dari hantu-hantu yang berkeliaran *Chidori.* Sasori gak minta tolong sama Sasuke karena Sakura gak lagi dalam bahaya. Coba aja deh baca di chap ini. ;) review lagi ya!
Tita ttuttz : wuuih.. mkasih udah bilang keren... *pelukcium* ini udah updet tapi maaf gak bisa kilat. Review lagi ya :D
SSasuke 23 : Mistis apa'an? Kemarin itu romantis ;D *Ngarangsendiri.* "hantunya itu pacar Gaara? Sakura dibawa lari hantunya?" Sok tau deh :P coba aja baca di chap ini.. *kabuuuuuuur*
Kiki RyuEunteuk : ndak... bukan sama hantu cewek rambut putih :D coba aja baca di chap ini... udah updet.. tinggal reviewnya lagi ya!
Lhylia Kiryu : "arwahnya tunangan Gaara?" emh... bener gak ya? Ya liat aja di chap ntar ;D udah updet nih.. review lagi ya!
Fava ritsuka : fuh... maaf deh kalau updetnya lama :P syukurlah kalau suka sama SasuSaku yang mulai menggalau itu :D heheee.. wah pertanyaannya bakal buka jalan cerita nih :D liat ntar aja di kelanjutannya.. oke?
Tsurugi De Lelouch : waah.. seperti pembawa acara aja. Kayak dalang di acara on the sp*t aja ;D *tendang* makasih ya atas doanya.. ;D review lagi!
Sasa-hime : yeyey... saya juga suka Sasu :* *Shannaro* Sasu ilang ke hatiku aja :p *kabur bawa sasu.* hahaha.. kamu lucu.. reviewmu buat saya ngakak ;D
Putri Hassbrina : Holaaaaa jugaa :D Mkasih atas doanya :* iya gak apa-apa kok, asal masih ngikutin ceritanya terus aja saya udah seneng bgt :DD Review lagi ya! ;)
Bluepinkgirl : salam kenal juga Syida-san :D waaah syukurlah kalau puas... eh, eh, sekolah Sasu, Saku, Gaara, Naruto, Hinata itu di Oto. Di chap sebelumnya ada kesalahan ya? :D wkwkwk maaf ya... khilaf *Alesan aja loe!* review lagi ya! :D
Nelshafeena : spooky itu apa ya? -_-a *authorkuranggaulnih* syukurlah kalau bisa bikin penasaran.. :D *tebar permen.* oke, review lagi ya!
Hanazono yuri : kyaaaaa... :D ini udah updet... review lagi ya!
Sadika : iya nih... semuanya menggalau.. sekedar bocoran aja nih buat kamu.. ntar Hinata juga saya buat berkemampuan sejenis Sasuke. :D oke, ini udah updet.. review lagi ya! :D
Always Sasusaku : Huaaaaa... baru baca fic ini ya. Makasih karena udah mau baca :* ini udah updet.. semoga suka ya sama chap 5 ini.. review lagi!
Sami haruchi 2 : hayooo.. jawabannya ada di chap ini :D silahkan baca sendiri... *ditendang*
Lala : iya.. kan udah saya bilang dari awal ;D
Uchiha Dian-chan : yeaay.. makasih karena udah lope lope sama fic abal ini :* review lagi ya!
.
.
Tak pernah aku menginginkannya...
Terlahir dengan mata ini...
Aku tak suka
Mata kiri ini...
Aku membencinya
Kenapa harus aku? Kenapa?
Kalau seandainya aku boleh memilih,
Aku tak ingin terlahir dengan mata sialan ini
.
.
The One of My Eyes
By: Kamikaze Ayy
Naruto dan segala karakter di dalamnya adalah milik Masashi Kishimoto. Saya hanya mengarang fiksi ini tanpa mengambil sepeserpun keuntungan materi dari isi cerita.
Pairing : Sasuke Uchiha & Sakura Haruno
Genre : Supranatural, Mysteri, Suspense, and Romance
Dedicated for all the readers
DONT LIKE, DONT READ!
NO FLAME!
.
Chapter : 5
"SAKURAAA..."
Sasuke terus meneriakkan nama itu berulang-ulang. Ia berlarian kesana kemari berkeliling area sekolah. Dari halaman belakang, lapangan basket, aula, kantor guru, laboratorium, seluruh ruang kelas, bahkan toilet pun sudah ia periksa. Namun nihil, tak ada keberadaan Sakura disana.
"Haaah... Haaaah..." Sasuke berhenti sejenak mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal. Nampaknya berlari keliling sekolah cukup membuat tenaganya terkuras habis. Tak ingin membuang banyak waktu, Sasuke berlari menuju dimana ia memparkirkan motornya. Jika memang Sakura diculik dan dibawa kabur ke luar area sekolah, pastinya ia masih tak jauh dari sekolah ini. begitulah yang dipikirkan oleh Sasuke. Sialnya ia tidak punya nomor ponsel dari gadis berambut soft pink tersebut.
Sasuke mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Ia sudah tak dapat lagi berpikiran jernih. Pria tersebut bahkan tak mempunya tujuan kemana akan mencari Sakura. Tapi yang pasti, ia harus menemukan Sakura bagaimanapun itu caranya.
Ckiiiiit... Brrruuuuaaaghh...
Karena kurang berkonsentrasi pada jalan, Sasuke hampir menabrak bus. Karena oleng, ia akhirnya terjatuh ke trotoar di pinggir jalan. Beruntung ia tak mendapatkan luka parah.
Sasuke bangkit dan kembali menaiki motornya bermaksud untuk melanjutkan pencarian Sakura. Namun sebuah bayangan akan sosok wanita berambut panjang putih terurai seperti yang ia lihat di halaman belakang sekolah tadi kini kembali muncul. Arwah wanita tersebut memandang Sasuke dengan sorot tatapan yang sangat sulit diartikan.
Berusaha mengabaikan arwah tersebut, Sasuke memasang helmnya dan kembali menghidupkan motor sportnya. Saat akan menarik gas, arwah tersebut kemudian membuka mulutnya seakan hendak berbicara kepada Sasuke.
'Sakura itu milikku...'
Sasuke membelalakkan matanya. Arwah tersebut mengatakan sesuatu mengenai Sakura. Tapi pemuda dengan raut stoic itu ragu jika ia hanya salah dengar saja.
'Sakura milikku...'
Lagi! Ya, Sasuke mendengarnya lagi. Meski samar, tapi sepertinya ia tak salah dengar. Arwah perempuan itu mengatakan sesuatu tentang Sakura.
"Apa maksudmu? Dimana Sakura?" tanya Sasuke seraya menatap tajam pada arwah di hadapannya tersebut. Mesin motor yang tadi terlanjur ia hidupkan, kini ia matikan kembali.
'Sakura milikku...'
"Dimana Sakura?" bentak Sasuke keras. Beruntung keadaan jalanan sedang sepi sehingga tak perlu khawatir jika ia akan dianggap gila karena berteriak seorang diri.
Arwah wanita itu tidak menjawab. Wajahnya yang pucat pasi itu hanya menatap kosong kepada Sasuke. Secara perlahan, semilir angin bertiup pelan. Bersamaan dengan itu, arwah wanita tadi pun juga mulai memudar hingga akhirnya menghilang seolah terbawa deru angin.
Sasuke terdiam. Pikirannya kacau. Mulai dari kemunculan sosok arwah misterius, lalu Sakura yang tiba-tiba menghilang. Dan kini sosok arwah wanita tadi malah berkata bahwa Sakura adaah miliknya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi disini?
Drrrrt... Drrrrrt...
Ponsel milik Sasuke bergetar. Pria dengan raut stoic itu mengangkat panggilan yang ternyata dari Naruto.
"Ada apa?"
"Teme, aku tadi melihat Sakura bersama Gaara. Tapi Sakura terlihat tidak suka karena ia berusaha memberontak. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku berpikir bahwa sebaiknya aku memberitahukanmu tentang hal ini."
"Gaara?" Sasuke mengernyitkan keningnya. Ia merasa asing dengan nama yang baru saja diucapkan oleh Naruto.
"Iya, Gaara dari keluarga Sabaku. Yang ku tahu dia dulu sempat menjadi pacar Sakura."
Sasuke terkesiap. Darahnya serasa mendesir. Mantan Sakura, ya? Apakah yang dimaksud oleh Naruto adalah pria berambut merah yang tadi memeluk Sakura di halaman belakang sekolah? Sasuke menggigit bibirnya. Ia merasa kesal.
"Kemana mereka?"
"Entahlah. Aku berpapasan dengan mobilnya di jalan. Saat itulah aku melihat Sakura yang seolah sedang memberontak di dalam mobil. Dan yang ku tahu mobil tersebut milik Gaara."
Sasuke semakin merasa kesal. Apa yang akan dilakukan pria dengan nama Gaara itu kepada Sakura. Jika Gaara sampai melakukan hal yang buruk, maka Sasuke berpikir bahwa ia pun tak akan segan untuk memberinya perhitungan yang setimpal.
"Naruto, kau dimana?"
"Aku di jalan dekat apartmenmu."
"Aku segera kesana. Tungggulah di apartmenku."
Klik...
Sambungan panggilan terputus. Sasuke segera melajukan motornya menuju apatment untuk menemui Naruto. Jantungnya berpacu dengan cepat. Sasuke mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia begitu panik. Ia bahkan tak peduli bahwa ia berulang kali hampir menabrak pengguna jalan lainnya. Baginya yang terpenting saat ini adalah keselamatan Sakura.
Beberapa menit kemudian, Sasuke pun telah tiba di depan apartmennya. Disana rupanya Naruto telah menunggu di dalam mobilnya. Sasuke turun dari motornya dan menghampiri dimana mobil Naruto terparkir. Pemuda dengan rambut berwarna hitam kelam itu pun kemudian membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
"Apa penjelasanmu, Teme?" Naruto memandang Sasuke dengan tatapan tajam. Nampaknya ia juga menganggap ini merupakan permasalahan serius.
Sasuke menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia menceritakan kejadian mulai dari Sakura yang berada di ruang klub, mereka bertengkar hingga akhirnya suara teriakan Sakura sesaat setelah ia keluar dari ruang klub. Naruto mendengarkan dengan seksama.
"Jadi, Sakura benar-benar diculik?" Naruto bertanya dengan nada yang seolah ragu mengingat bagaimana dulu Sakura sangat intim dengan Gaara.
"Entahlah." Sasuke memejamkan matanya. Jelas terlihat bahwa pemuda tersebut sedang frustasi.
"Apa kau sangat mencemaskannya, eh?" goda Naruto berusaha mencairkan suasana.
"..." Sasuke tak membalas. Ia hanya menatap sebal kepada sahabatnya tersebut.
"Baiklah. Sekarang apa rencanamu?" Naruto menatap kedepan. Ia tahu bahwa Sasuke begitu mengkhawatirkan Sakura. Meski baru kali ini bagi seorang Naruto melihat Sasuke benar-benar mencemaskan orang lain. ditambah lagi, orang lain tersebut adalah seorang perempuan. Oke, catat ini dalam rekor dunia!
"Aku akan mencari Sakura."
"Dengan cara bagaimana kau bisa menemukannya?" Naruto melirik Sasuke yang tengah memijit pelipis kepalanya pelan.
"Entahlah. Kau punya saran?"
"Aku tidak yakin. Tapi tadi aku berpapasan dengan mobil Gaara yang menuju daerah barat. Jalan kesana kemungkinannya ada dua. Dia keluar kota atau ke daerah pinggiran Oto," terang Naruto santai.
"Tidak mungkin kita memeriksa keduanya. Apa kau tidak tau tempat tinggal Gaara, atau paling tidak rumah kerabatnya yang menuju daerah itu?"
"Aku tidak tau. Tapi ada seseorang yang bisa kita tanyai. Namanya Kankuro, dia adalah kakak Gaara yang kebetulan teman lesku dulu." Naruto mengambil ponselnya dan mulai mengutak-atiknya. "Untunglah aku masih menyimpan nomor ponselnya. Sebentar, aku akan coba menghubunginya dulu," ujar Naruto seraya menekan tombol dial untuk mulai menyambungkan panggilan.
"Moshi-moshi..." terdengar sebuah suara maskulin yang menjawab panggilan Naruto.
"Kankuro-san?"
"Ah, Naruto? Ada apa?"
"Ada yang ingin ku tanyakan. Apa kita bisa bertemu?"
"Boleh. Kapan?"
"Secepatnya. Karena ini begitu darurat. Apa saat ini kau sedang ada kegiatan?"
"Tidak ada. Aku sedang berada di kafe dekat rumahmu. Kalau kau mau, kau bisa menyusul kesini. Aku akan menunggumu."
"Oke, 10 menit aku akan segera tiba."
KLIK...
Panggilan diputus oleh Naruto. Ia menaruh ponselnya ke dalam saku celananya lagi.
"Sekarang kita temui Kankuro dulu." Naruto berkata seraya mulai menyalakan mobilnya dan membawanya kembali menyusuri jalan raya menuju tempat yang sudah ia janjikan.
"Hn," sahut Sasuke pelan. Sepertinya pemuda dengan wajah stoic itu mempercayakan semuanya pada Naruto. Entahlah... Pikirannya kacau untuk saat ini.
oOo
"Jadi, apa yang mau kau tanyakan, Naruto?" Pemuda yang bernama Kankuro itu bertanya seraya menyeruput kopi pesanannya.
"Ini tentang Gaara," sahut Naruto pelan.
"Ada apa dengan adikku itu?"
"Ah tidak, kami hanya ingin menemuinya saja. Apa kau tau dimana ia berada?" tanya Naruto. Ia berusaha setidaknya Kankuro tidak mengetahui mengenai pencarian Sakura. karena bisa saja yang ia lihat itu salah.
"Entahlah, aku tidak bertemu dengannya dirumah dalam beberapa hari ini karena sibuk dengan berbagai tugas kuliahku," jawab Kankuro dengan tenang. "Tapi jika kau mau, aku akan menelponnya untukmu," sambungnya lagi.
"Boleh." Naruto menyahuti dengan nada riang.
"Sebentar," ucap Kankuro seraya mulai mencoba menghubungi adik laki-lakinya tersebut.
Setelah beberapa kali Kankuro mencoba menelpon, tapi tidak diangkat oleh Gaara. Akhirnya pada panggilan yang kesekian kalinya, barulah adiknya tersebut mengangkat panggilannya.
"Gaara, kau sedang berada dimana sekarang?"
"..."
"Sudah, katakan saja kau sedang berada dimana!"
"..."
"Ha? Mau apa kau disana?"
"..."
"Oke, nikmati liburanmu, Otouto!"
KLIK...
"Katanya dia sedang berada di Konoha. Tempat persisnya dia tidak mau mengatakan. Dia tidak mau aku datang menyusulnya dan mengacaukan liburannya. Hah, menyebalkan sekali dia." Kankuro berkata dengan muka kesal seraya kembali meminum kopinya beberapa teguk.
Naruto melirik Sasuke yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. "Konoha? Itu cukup jauh dari sini." Naruto juga mengambil cangkir capuccino miliknya dan meminumnya hingga tandas seperempat.
"Aku tidak terlalu yakin, tapi disana Gaara memiliki villa pribadi pemberian dari paman saat ia berulan tahun kemarin. Coba saja kalian cari kesana." Kankuro mencoba memberi masukan.
"Boleh kami minta alamatnya?" tanya Naruto lagi.
"Tidak masalah," sahut Kankuro seraya menuliskan alamatnya di kertas nota yang memang tersedia di setiap meja kafe tersebut. Setelah selesai, ia memberikannya kepada Naruto.
"Terimakasih atas bantuanmu, Kankuro." Naruto menyalami Kankuro sebagai tanda ucapan terimakasih.
"Oke." Kankuro balas menyalami Naruto seraya membalas cengiran Naruto dengan senyum tipisnya.
Setelah mendapatkan informasi yang diperlukan, Naruto bersama Sasuke segera pamit dan kembali ke mobil bermaksud untuk mebicarakan langkah yang akan mereka ambil berikutnya.
"Jadi apa yang akan kau lakukan, Teme?" tanya Naruto setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Kita ke Konoha," sahut Sasuke pelan. Pandangannya lurus ke depan. Rupanya ia tidak bisa berhenti memikirkan Sakura. "Ke apartmenku, aku ingin naik motor saja kesana."
"Sesuai permintaan anda, tuan Sasuke." Naruto menyahuti Sasuke dengan nada lucu yang dibuat-buat. Membuat pemuda beriris onyx tersebut sedikit mengerling sebal kepadanya.
Sasuke memejamkan matanya. Ke Konoha, ya? Itu berarti dia harus ke tempat asalnya. Tempat dimana ia dilahirkan sekaligus juga tempat dimana ia dibuang. Apa kau siap, Sasuke? Karena akan ada cukup banyak masalah yang menunggumu di desa itu.
oOo
"Lepaskan aku!" terlihat seorang gadis berambut merah muda tengah mencoba melepaskan cengkeraman pria yang memegang pergelangan tangannya.
"Aku akan melepasmu jika kau berjanji untuk tidak kabur," sahut seorang pria yang berambut merah seperti darah.
"Aku tidak akan lari." Sakura menjawab dengan nada sebal. Bibirnya terlihat mengerucut membentuk raut wajah kesal yang membuatnya tampak sangat imut. Gaara yang melihatnya pun jadi tersenyum kecil dan mengalah.
"Baiklah." Gaara melepaskan tangan Sakura dan membiarkan gadis itu berjalan sendiri. "Ayo, masuk!" sambungnya lagi setelah membuka pintu villa yang begitu besar.
"Sebenarnya apa maumu membawaku kemari? Dan apa yang akan dikatan Matsuri-san jika tau bahwa akus edang bersamamu?" Sakura bertanya dengan masih mengikuti Gaara masuk ke dalam villa.
"Berlibur. Dan Matsuri baru saja berangkat ke Suna sepulang sekolah tadi. Jadi dia tidak akan tahu," sahut Gaara dengan santai. Ia menjatuhkan tas sekolahnya ke atas sofa yang berada tepat di ruang tersebut. Setelahnya, pemuda dengan manik emerald redup itu berjalan ke arah jendela dan membuka gorden, menyebabkan cahaya matahari sore masuk mebuat ruangan tersebut lebih hidup.
Sakura terpana. Kejadian seperti ini pernah ia lihat dulu. Ya, dulu saat ia sedang belajar bersama dengan Gaara di rumahnya. Gaara membuka gorden jendela kamarnya. Sejenak, segala kilas balik akan kebersamaan mereka dulu pun kembali berputar dalam pikiran Sakura. Semua terngiang dengan sangat jalas, bagaimana saat Gaara mengucapkan kata cinta, dan bagaimana pula pemuda tersebut mengatakan perpisahan. Hal itu membuat Sakura menitikkan air matanya. Kenapa? Kenapa seperti ini? Padahal... padahal ia sudah hampir melupakan segala kenangan bersama pemuda merah yang sedang bersamanya saat ini. tapi kenapa? Kenapa ia malah membawanya seperti ini lagi?
"Saku?" Sebuah panggilan yang begitu dekat, menyadarkan Sakura dari lamunannya. "Kau kenapa?" Gaara menangkupkan sebelah tangannya pada pipi kanan Sakura.
"..."
Suara yang masih sama seperti dulu. Begitu dingin namun entah mengapa terasa hangat bagi Sakura. Nada penuh perhatian yang selalu berhasil membuat Sakura terdiam dalam biusnya. Bius yang mengantarkannya pada rasa ketenangan dan kedamaian. Ya, Sakura masih dapat merasakannya. Semua masih sama seperti dulu.
"Kau menangis. Apa aku menyakitimu?" Gaara menjulurkan sebelah tangannya dan menghapus jejak air mata di pipi Sakura dengan begitu lembut dan penuh kasih.
Sakura terkesiap. Kehangatan tangan Gaara yang tengah mengelus pipinya itu membuat jantungnya kembali berdetak kencang. Perasaan kasih yang berusaha ia pendam itu kini membuncah kembali memenuhi pikirannya.
"Tidak. Aku hanya teringat masa lalu saja," jawab Sakura pelan seraya memalingkan pandangannya ke samping. Rasanya begitu sakit jika harus bertatapan dengan iris yang berwarna sama dengan miliknya tersebut. Gadis musim semi itu mengigit bibir bawahnya dengan keras, untuk mencegah air matanya turun kembali.
Gaara yang melihat sikap Sakura tersebut membuatnya menatap gadis itu dengan tatapan sendu. Ia juga merasakan rasa sakit, tidak hanya Sakura saja. Gaara bahkan tau, bahwa sebenarnya apa yang telah dilakukannya ini adalah salah. Membawa Sakura dengan paksa ke Konoha dengan alasan ingin berlibur bersama gadis tersebut.
Ah, sungguh konyol sekali. Ia hanya mengikuti nurani dan perasaannya saja. Ditambah dengan adanya sedikit rasa kesal terhadap pemuda yang ia lihat berjalan bersama Sakura tadi pagi di sekolah, membuatnya tak bisa menahan perasaannya dan malah membawa Sakura paksa agar mau menemaninya.
"Kau butuh istirahat. Ayo, ku tunjukkan kamarmu!" ucap Gaara seraya menarik lengan Sakura, namun kali ini dengan lembut. Tidak sekasar pada saat pertama mereka tiba.
Sakura hanya menuruti ucapan mantan kekasihnya tersebut. ia percaya bahwa Gaara tidak akan menyakitinya. Karena pada dasarnya Sakura tahu bahwa Gaara adalah orang yang baik.
Gaara memilihkan kamar di lantai dua untuk Sakura. sengaja ia pilihkan demikian agar Sakura dapat menikmati pemandangan Konoha yang cukup indah. Terlihat Sakura cukup senang dengan pilihan kamarnya tersebut. Begitu sampai, Sakura langsung menuju balkon dan tak hentinya sorot kagum terpancar dari manik emerald tersebut. Gaara hanya tersenyum kecil melihat tingkah Sakura. Pemuda berwajah dingin itu mengelus pucuk kepala Sakura pelan sambil melihat betapa manisnya Sakura yang sedang kegirangan seperti ini.
Sakura menatap Gaara. Dua pasang emerald itu beradu pandang dalam diam. Sakura bisa melihat, ada rindu untuknya yang disampaikan oleh Gaara lewat sorotan matanya. Begitupula Gaara yang tahu tentang perihnya luka yang tergambar jelas pada sepasang manik viridian di hadapannya tersebut. Keduanya paham. Keduanya mengerti bahwa mereka saling merindu.
Gaara memeluk pinggang Sakura, sedangkan gadis cherry blossom itu memeluk leher Gaara. Keduanya masih saling bertatapan satu sama lain. Saling berusaha mengartikan tentang perasaan masing-masing. Gaara menarik badan Sakura mendekat. Seolah mengerti, Sakura pun memejamkan kedua matanya. Mereka berciuman dengan lembut. Tak ada nafsu, hanya ciuman lembut namun sarat akan rasa kasih dan perasaan rindu yang tergambar.
Saat mereka sedang tenggelam dalam ciuman panjang yang penuh kepedihan tersebut, tiba-tiba terlintas dalam benak Sakura wajah seorang pemuda lain. Pemuda yang mana akhir-akhir ini telah bersamanya menghabiskan waktu. Pemuda dengan wajah stoic yang selalu berhasil membuat Sakura meledak-ledak dan tersenyum riang. Pemuda dengan wajah angkuhnya namun memiliki sisi lain yang begitu hangat dan penuh perhatian. Pemuda dengan gaya rambut emo yang menemani dan menghiburnya semalaman saat ia sedang bersedih. Pemuda yang memiliki dua iris mata berbeda warna yang terlihat begitu indah bagi Sakura. Ya, dia Uchiha Sasuke. Pemuda yang entah mengapa akhir-akhir ini berhasil masuk dan mengisi relung hatinya yang kosong.
Mengingat semua tentang Sasuke, membuat Sakura secara tak sengaja pun mendorong Gaara kebelakang dengan keras hingga ciuman mereka terlepas. Sakura mengigit bibir bawahnya keras. Ada apa ini? seharusnya ia senang karena bisa berada dekat lagi dengan Gaara. Tapi, kenapa ia jadi sedikit merasa bersalah pada Sasuke? Gadis blossom tersebut kemudian berjalan melewati Gaara.
"A-aku mau jalan-jalan sebentar di sekitar sini," ucap Sakura kikuk tanpa menoleh kepada Gaara.
"Aa."
.
.
Sakura berjalan keluar dari villa. Ia menyusuri jalan setapak yang masih berada tak jauh dari villa milik Gaara. Pikirannya begitu kacau saat ini. bahkan tanpa disadarinya air matanya telah menggenang sejak ia meninggalkan villa. Gadis dengan iris viridian lembut tersebut berhenti tepat dimana disitu terdapat tempat duduk dengan banyak pohon disekitarnya sehingga membuat rindang. Sakura duduk dan memandang pemandangan sekitar. Kalau tidak salah ibunya pernah berkata bahwa ayahnya dulu tinggal di Konoha. Mereka lama tak berkunjung kemari sejak kematian kakeknya –keluarganya yang terakhir di Konoha– meninggal.
Konoha begitu sejuk. Tidak seperti Oto yang panas dan penuh dengan polusi udara setiap harinya. Sakura menghirup nafas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Rasanya begitu segar. Dari situ ia dapat melihat villa milik Gaara yang berdiri dengan kokohnya dengan dikelilingi berbagai pepohonan.
Saat teringat akan ciuman yang lakukan bersama Gaara barusan, membuat Sakura kembali merasakan perih. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh permukaan bibir ranumnya. Kenapa ia merasa sedikit menyesal akan ciuman yang tadi? Kenapa? Apa karena...
Sasuke?
Sakura menggelengkan kepalanya keras. Tidak mungkin ia menyesal telah berciuman dengan Gaara tadi karena pemuda stoic tersebut. Tidak mungkin.
Tapi, kenapa malah nama Sasuke yang muncul saat ia mencoba memikirkan hal lain? gadis berambut soft pink tersebut tersenyum kecil kala mengingat kejadian dimana Sasuke dengan bodohnya datang mengunjunginya, naik ke balkon lewat pohon. Lalu memeluknya dan berkata bahwa pemuda tersebut akan selalu melindunginya.
Tunggu! Berbicara mengenai Sasuke, Sakura ingat bahwa ia bertemu Gaara sesaat setelah ia keluar dari ruang klub –setelah bertengkar dengan Sasuke– di koridor. Dan ia ingat betul bahwa ia berteriak karena ditarik paksa oleh Gaara untuk mengikuti pemuda berambut merah itu. Tas beserta buku-buku yang ia bawa pun jatuh di koridor saat Gaara menariknya. Oh, tidak! Apa yang akan Sasuke kira kalau melihat itu? Ya, pemuda itu pasti sedang mengkhawatirkannya.
Tapi, mengingat tentang pembicaraan terakhir mereka...
"Hn. Kau tak perlu kesini lagi. tak ada yang membutuhkanmu disini"
"Aku minta maaf kalau keberadaanku mengganggumu. Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. Terimakasih atas segalanya,"
Juga saat Sasuke memeluknya dan kemudian menciumnya dengan paksa.
DEG...
Semua bayangan akan kejadian terakhir bersama Sasuke di ruang klub pun memenuhi pikiran Sakura. Saat Sasuke mengusirnya. Saat pemuda tersebut menariknya ke dalam sebuah pelukan. Lalu saat pemuda itu menciumnya dengan kasar.
Tes... Tes...
Air mata yang sedari tadi menggenang itupun kini kembali menganak sungai. Sakura menangis seraya menundukkan kepalanya. Entah mengapa, ia juga tidak tahu. Sedihkah ini? Sedihkah ia karena Sasuke berkata seperti itu kepadanya?
Ckiiiiit...
Suara decitan ban kendaraan yang berhenti, terdengar tak jauh dari tempat dimana Sakura berada sekarang. Gadis musim semi tersebut pun menoleh ke sumber asal suara.
Deg... Deg... Deg...
Sakura terkejut. Disana terlihat pemuda yang sedari tadi mengusik pikirannya itu sedang berdiri disamping motor sportnya. Sasuke tampak kacau dengan peluh bersimbah yang membasahi keningnya. Rambutnya pun terlihat lepek karena keringat yang sampai bertetesan di helainya. Wajah pemuda itu begitu sarat dengan kecemasan memandang Sakura.
Sakura tercengang. Tak ia sangka bahwa Sasuke akan berdiri disana. Apa yang ia lakukan? Apakah pemuda itu mengkhawatirkannya?
Sasuke berlari mendekati Sakura. Tak ia hiraukan tatapan bingung dari gadis merah muda itu. Lalu tanpa disangka, pemuda Uchiha tersebut langsung memeluk Sakura dengan erat. Begitu erat seakan tak mau lagi melepasnya.
"Sa..Sasuke-kun?"
"Maafkan aku, Sakura."
...
Apa yang akan kau lakukan
Saat dua pilihan menggantung di depan mata
Aku atau dia?
Kau pilih yang mana?
Yang kau cinta dan kau sayang
Tapi,
Sayangnya aku bukan pilihan
Aku tidak ada dalam pilihan
...
To Be Continued
oOo
A/N : Lalalalala~ saya frustasi buat chap ini. -_- saya nyadar diri kalau saya gak ada bakat buat feel dalam sebuah cerita yang bikin pembaca jadi 'ngeh' *gantungdiri.* saya gak yakin nih bisa memuaskan reader pada chap ini. pasti terlalu datar T_T Gomenasai.. saya udah berusaha sebisa saya... mohon maaf kalau hasilnya malah mengecewakan.. T_T dan itu adegan SasuSaku nya gak ada sama sekali. Cuma ada di bagian akhir sebentar banget malah langsung saya potong.. wkwkwk. *Dihajar*
Chap 6 udah selesai saya ketik. Disitu ada Hinata dan Gaara yang siap mengguncang hubungan SasuSaku, lho. *Jder.* Juga, arwah pengganggu pun mulai berdatangan menghantui mereka. :D mau di updet kapan ya enaknya? Mueheehehee ;P
Oke, sekian dulu ocehan saya, mohon reviewnya ya para pembaca sekalian.. :D silahkan tuang segala keluh kesah, pertanyaan, pendapat, saran serta kritik. Atau sekedar salam senyum sapa pun juga boleh... ;)
Dan sampai jumpa di chap berikutnya ya... ^_^/~
Pelaihari, 13 Mei 2013
Salam Hangat Selalu
Kamikaze Ayy
