Oke, ketemu lagi dengan Ayy :D hahahaa... bales review dulu, ya! ;)
UchihaRikendo : makin menarik? wah makasih :* hehehe...
Detaayu75 : hahaha.. iya donk, Sasuke emang yang paling keren :* ckckck... ini udah updet sekilat yang saya bisa... review lagi ya! :*
Adlin Afifaah : waaah.. penname-mu hampir sama dengan nama asli saya lho. Cuma beda satu huruf aja *Gakpenting* Momen SasuSaku di chap ini sudah saya tambah2in nih gara-gara baca review request-an mu.. moga puas ya.. :D untuk typo, maaf.. itu udah tradisi -_- hehe.. review lagi yah! ;)
Uchiharuno phorepeerr : iya nih.. panasss tapi dikit kok :P tergoda sama Hinata? Hmmmm ntar deh saya pertimbangkan.. *tendang* nih disini udah saya buat Saku jadi 'terikat' sama Sasuke.. jadi kamu gak usah cemas lagi :* oke? Umm, review lagi, ya!
Putri Hassbrina : Amiin... benarkah makin suka? Aihh, makasih :* :* ini udah updet secepat yang saya bisa... semoga suka di chap ini dan jangan lupa review lagi! ;)
Jellalna : jiaaah -_- arwah yuri? Ah ide bagus juga :D *Shannaro!?* ini udah saya updet chap 6 nya.. moga suka, ya! Dan kalo berkenan, review lagi! ;)
Iya baka-san : addduhh.. di chap ini Ayy buat Onee-chan jadi greget sama SasuSaku.. eh atau greget sama Hinata ya? Auk ah :P review lagi nee-chan...
Tsurugi De Lelouch : yapzz... betul..betul..betul.. halang rintang sudah menghadang kisah SasuSaku saat ini... *cipokSasuke* hehe... review lagi!
Fivani-chan : iyaa tuh.. ToT kok Gaara asal nyosor ke Saku sih? Kan seharusnya nyosor ke Ayy aja.. *Buang* hehe.. :P Ini udah updet. Review lagi, ya!
Kiki RyuEunTeuk : iyaa.. ini udah updet lagi :D
Aku : aih.. kurang dingin ya? *masukin Sasuke ke dalam kulkas* hehehe.. salam kenal juga ya ;) dan makasih karena udah mau review fic Ayy ini :* :* review lagi ya!
SaSaku ToCherry : iya.. ini udah saya updet cepet :*
Lhylia kiryu : hohoho.. saya updet cepet lagi lho.. :* :* Dan semoga gak kesel sama SasuSaku disini yang makin 'euh' ... review lagi ya!
Sweet Ave Maria : iyaa, pelaihari itu di Kalsel :D saya sekolah disini 2 tahun, mungkin sebentar lagi pindah ke Jawa Timur.. heheh
Sasa-hime : wkwkwk.. yang pasti Sasu keringetan jadi tambah kereeeeen.. Hyaaaaaaa *histeris sendiri* hehee.. review lagi, ya ;)
Uchiha Dian-chan : wkwk.. iya kan biar bikin Sasu frustasi kalau Saku ngilang.. :P eh, ini udah saya updet lagi.. review, ya!
PCherry : Okeoke, saya terima request darimu :* saya udah nyelipin secuil momen romance SasuSaku. Semoga suka ya :D dan jangan lupa untuk review lagi!
Sami haruchi 2 : iyaa.. ini SasuSaku udah banyak kok di chap ini :D *boong* hehehe... review lagi, ya! :*
My review : UWAAAOOO... makasih udah dibilang keren :D Iyaa.. ini udah saya updet secepat yang saya bisa... review lagi ya! :D
Hikari Matsuhita : iyaa.. di chap ini bahkan arwahnya udah mulai ganggu Saku lho :D
SSasuke 23 : iya juga sih.. semua pada nebak arwah yang nyulik Saku.. -_- tapi kan gak bikin galau kalau yang nyulik itu arwah.. lebih seru kalau Gaara yang nyulik.. :P *kabuur sama Naruto*
Always sasusaku : yeyeye... saya juga seneng bgt nih bisa updet lagi.. :* heheee.. iya, di chap ini udah saya selipin beberapa adegan SasuSaku, semoga kamu bisa puas ya ;D jangan lupa tinggalkan reviewnya lagi!
Me : iyaaa... ini udah updet lagi :D
Hanazono yuri : iyaaa. Ini udah updet secepat yang saya bisa.. semoga puas ya sama chap ini.. ;)
Sasu love saku : wkwkw.. kan emang bikin greget kalau yang jadi 'ketiga' itu Gaara dan Hinata *tendang* tapi di chap ini ada banyak scene SasuSaku yang romantis kok :P bahkan ada yang 'anget' wkwkwk... ini udah saya updet.. wajib review lagi, ya!
Sasusaku uciha : keren? Benarkah? *pelukcium* semoga gak ngaret lagi dah.. hehehe.. maklumin aja, kemarin kan lagi sibuk2nya persiapan UN. Hehehe.. iya nih, di chap ini udah Ayy masukin beberapa scene romantis SasuSaku. Semoga suka, ya! Dan jangan lupa review lagi ;)
Mikyo : saya juga.. ngebayangin Sasu yang lagi keringetan karena habis lari dengan muka penuh rasa khawatir.. UWAAAAH *HisterisSendiri* ku-kurang panjang? padahal udah selalu saya usahain lebih dari 10 halaman word lho tiap chapternya.. *tepar ngetiknya* hehe.. review lagi, ya! :*
Yosh, udah selesai bales ripiuw nya.. kalau ada kesalahan dalam penulisan nama, saya mohon maaf.. karena nih ngetik balesannya sambil ngantuk-ngantuk -_-
Oke, back to the story!
.
Tak pernah aku menginginkannya...
Terlahir dengan mata ini...
Aku tak suka
Mata kiri ini...
Aku membencinya
Kenapa harus aku? Kenapa?
Kalau seandainya aku boleh memilih,
Aku tak ingin terlahir dengan mata sialan ini
.
.
The One of My Eyes
By: Kamikaze Ayy
Naruto dan segala chara adalah milik Masashi Kishimoto. Saya hanya mengarang fiksi ini tanpa mengambil sepeserpun keuntungan materi dari isi cerita.
Pairing : Sasuke Uchiha & Sakura Haruno
Genre : Supranatural, Mysteri, Suspense, and Romance
Dedicated for all the readers
DONT LIKE, DONT READ!
NO FLAME!
.
.
Chapter : 6
"Sa..Sasuke-kun?"
"Maafkan aku, Sakura."
Sakura tercengang mendengar penuturan Sasuke. Apa barusan ia mendengar pemuda itu meminta maaf? Apa ia tak salah dengar, eh?
"Sasuke-kun?" Sakura hanya dapat melafalkan nama itu. Entah mengapa ia bingung harus berkata apa dalam keadaan seperti sekarang ini.
Sasuke melepaskan pelukannya. Pemuda itu memegang kedua bahu Sakura kuat. Nampak jelas ada rasa penyesalan yang teramat dalam pada tatapan onyx itu.
"Maaf karena aku berkata kasar kepadamu," jelas Sasuke yang seraya memandang lembut manik viridian milik Sakura.
Sakura hanya mampu membalasnya dengan anggukan pelan. Kata-kata yang seharusnya dengan mudah ia rangkai itu kini menjadi absurd. Terlalu abstrak untuk ia ungkapkan.
"Kau menangis?" lanjut Sasuke lagi setelah melihat adanya jejak linangan air mata di pipi Sakura. pemuda itu kemudian mengambil inisiatif dengan menghapus bekas air mata dengan ibu jarinya. "Apa aku yang membuatmu menangis?" tanya pemuda itu lagi seraya mengelus lembut pipi Sakura.
Gadis cherry blossom itu tak mampu berkata-kata. Ia hanya menggeleng sebagai balasan akan pertanyaan Sasuke. Entah mengapa, di saat seperti ini lidahnya malah terasa kelu dan kaku. Karena bingung dalam merangkai kata-kata, Sakura pun memeluk Sasuke. Berharap Sasuke mengerti akan maksudnya yang tak dapat diutarakan lewat sepatah kata.
Pemuda berambut raven itu terkejut saat dipeluk Sakura. Ia tak menyangkan bahwa gadis pink itu akan melakukan hal demikian. Karena yang ada di pikirannya adalah Sakura marah karena perkataannya tadi di sekolah dan akan sangat sulit untuk meminta maaf kepadanya. Tapi, lihatlah! Sakura malah memeluknya. Dan entah mengapa jauh dari dalam hati Sasuke merasa amat senang.
Lama mereka terdiam dalam posisi saling memeluk. Beruntung karena keadaan jalanan sedang sepi. Sehingga tak perlu khawatir orang akan memandang mereka aneh karena berpelukan mesra di pinggir jalan seperti sekarang. Sasuke menenggelamkan kepalanya diantara lekukan leher dan bahu Sakura. Indra pembauannya dipenuhi oleh aroma segar yang menguar dari gadis Haruno tersebut. Entah mengapa, ia merasa nyaman dengan itu.
"Woi, mau sampai kapan kalian berpelukan seperti itu?" Tiba-tiba Naruto berkata dengan suara lantang yang membuat Sasuke maupun Sakura lantas otomatis saling melepaskan pelukan. Mereka berdua terlihat kikuk.
"Hn." Sasuke memandang Naruto dengan tatapan horor yang hanya dibalas cengiran wajah tak berdosa milik tuan muda Uzumaki tersebut.
"Kalian sedang apa disini?" Sakura memberanikan diri untuk bertanya. Ia cukup penasaran akan alasan Sasuke yang berada di Konoha.
Naruto yang sedari tadi hanya mengamati lewat mobil saja itu pun kemudian keluar dan berjalan mendekati Sakura. "Tentu saja untuk mencarimu, Sakura-chan. Kau tau, Sasuke sudah seperti orang gila karena mencemaskanmu sej–"
Buaagh...
Sasuke menyikut perut Naruto yang dibalas rintihan kecil kesakitan oleh sahabatnya tersebut.
Sakura terdiam. Meskipun sekilas, ia tahu bahwa Naruto tidaklah sedang membual belaka. Apa itu berarti Sasuke benar-benar sangat mengkhawatirkannya? Ah, rasanya seperti ada banyak kupu-kupu berterbangan di dalam rongga dadanya. Sakura tersenyum kecil. Ia merasa bahagia.
"Maaf, karena aku sudah membuat Sasuke-kun khawatir," ucap Sakura seraya memandang Sasuke yang hanya berekspresi datar.
"Hn." Sasuke hanya berdeham dengan ekspresi dingin seperti biasa. Mati-matian dia berusaha untuk menahan ekspresi itu.
"Lalu, bisakah kita menolong sesorang yang tengah pingsan di dalam mobilku?" Naruto berkata dengan raut wajah serius.
"Apa maksudmu, Dobe?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya seraya melirik tajam kepada Naruto.
"Haah... lihat saja, ayo!" Naruto berbalik dan kembali menuju dimana ia memarkir mobilnya.
Setelah pintu mobil bagian belakang dibuka, terlihatlah seorang perempuan manis dengan rambut indigo panjang terurai yang sedikit berantakan. Kedua kelopak matanya terpejam. Keadaannya nampak kacau. Pakaiannya lusuh dan kotor. Nampak sedikit darah segar yang berada di dahinya.
"Astaga, Hinata?" Sakura langsung mengambil tindakan pertama untuk menolong gadis Indigo yang dibawa Naruto itu. Ia memeriksa denyut nadi di tangan kiri Hinata yang tampaknya masih stabil.
"Apa yang terjadi, Dobe? Kau menabraknya?" tanya Sasuke seraya memelototi Naruto. Sasuke berangkat ke Konoha dengan naik motor sport-nya, sedangkan Nrauto menyusul dengan menaiki mobilnya sendiri juga. Jadi mereka tidak bersama. Karena itulah, Sasuke tidak tahu darimana Naruto bertemu dengan Hinata. Tak heran jika pemuda raven itu kini mencurigai Naruto telah berbuat tindakan kriminalitas pada Hinata.
"Tenang, Teme! Aku tidak menabraknya. Aku menemukan dia yang terkapar dalam mobilnya yang menabrak pohon di pinggir jalan tadi. Sepertinya ia merupakan korban tabrak lari," jelas Naruto seraya menatap sebal pada Sasuke yang masih melihatnya dengan pandangan intimidasi.
"Cepat bawa Hinata ke villa itu! Lukanya harus segera diobati," perintah Sakura seraya menunjuk sebuah villa megah milik Gaara yang tak jauh dari tempat mereka berada.
"I-iya." Naruto segera kembali ke dalam mobil dan melajukannya ke villa yang ditunjuk oleh Sakura.
Sasuke sendiri segera kembali mendapati motornya dan bergegas menyusul Naruto dan Sakura. Setelah sampai, Sakura bergegas menyuruh Naruto membawa masuk dan membaringkannya diatas sofa. Gadis cherry blossom itu kemudian mengambil air dan mencari Gaara untuk menanyakan dimana kotak P3K berada. Gaara terkejut karena sakura pulang sambil menanyakan kotak P3K, ditambah dengan kedatangan tiga orang lain lagi yang mana salah satunya tengah terkapar tak sadarkan diri dengan kondisi kacau. Tapi Sakura berjanji akan menjelaskannya nanti setelah ia mengobati Hinata terlebih dahulu.
"Baiklah, sekarang biar aku coba bersihkan dulu lukanya," ucap Sakura seraya membersihkan darah di dahi Hinata yang hampir mengering.
"Apa lukanya serius, Sakura-chan? Apa kita perlu membawanya ke rumah sakit?" tanya Naruto beruntun. Sepertinya ia adalah orang yang paling cemas akan keadaan gadis berambut indigo tersebut.
"Ku rasa tidak perlu," sahut Sakura pelan dengan masih membersihkan luka Hinata secara hati-hati. "Sepertinya lukanya tidak terlalu serius. Aku masih bisa mngatasinya sendiri," lanjut Sakura lagi. Perempuan soft pink itu masih serius merawat luka Hinata. Membersihkannya, kemudian memberi antiseptik agar lukanya bisa steril dari bakteri dan virus, hingga membebatnya dengan perban. Pekerjaannya terlihat begitu rapi. "Aku sempat masuk anggota PMR, jadi hal seperti ini aku cukup bisa menanganinya." Sakura berkata bangga seraya mengedipkan sebelah matanya pada Naruto.
"Kau berbakat, Sakura-chan."
"Terimakasih. Baiklah, aku mau membereskan obat-obat ini, kalian ngobrollah dulu. Dan jangan sampai kalian membangunkan Hinata!" ucap Sakura sembari membawa peralatan P3K dan baskom air untuk ditaruh ketempatnya semula.
"Perkenalkan, aku Uzumaki Naruto. Dan ini Sahabatku, Uchiha Sasuke." Naruto memperkenalkan dirinya kepada Gaara seraya menunjuk Sasuke yang sedari tadi hanya diam menatap Gaara dengan ekspresi datar miliknya.
"Sabaku Gaara," jawab Gaara datar.
Kemudian Naruto menceritakan secara singkat kenapa mereka menyusul ke Konoha. Tentu saja dengan menyensor bagian dimana Sasuke terlihat begitu depresi karena hilangnya Sakura. Gaara hanya mengiyakan. Ia juga tidak keberatan jika mereka berada di villa miliknya untuk menikmati liburan. Karena toh pada dasarnya pemuda dengan rambut merah itu sama sekali tidak berniat untuk berlibur bersama Sakura berdua. Ia hanya tidak mau menghabiskan liburannya seorang diri di villa besar itu.
Sreeeet...
Sasuke menangkap secara sekilas ada bayangan yang melintas. Ia memfokuskan pandangannya agar dapat melihat dengan jelas. Namun lagi-lagi bayangan itu tak dapat ia temukan. Entah itu hanya perasaannya saja atau...
PRAAAANG...
"Sakura?" ketiga pemuda yang masih bercengkerama –tepatnya hanya Naruto dan Gaara, sedangkan Sasuke tetap diam– itu segera berlari menuju dapur dimana sumber suara tersebut berasal. Gaara berlari duluan dengan kemudian disusul oleh Sasuke dan Naruto.
"Kenapa, Saku?" tanya Gaara cemas seraya datang menghampiri Sakura yang masih berdiri dalam diam tanpa ekspresi. Pandangannya kosong. Nampak cangkir jatuh pecah berserakan diatas lantai saat Sakura hendak membuat kopi untuk mereka.
"Saku?" Gaara kembali mengulang panggilannya. Namun tak ada jawaban. Sakura tetap diam.
"Sakura-chan?" Kali ini Naruto yang memanggil seraya menyentuh pundak Sakura.
Gadis berambut soft pink itu terhenyak dan segara menoleh pada tiga orang pemuda yang tengah mencemaskan keadaannya. Emerald yang biasanya selalu ceria itu kini berkilat ketakutan. Entah apa yang baru saja ia lihat. Sakura memandang Sasuke dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Tiba-tiba gadis itu berlari menubruk Sasuke dan memeluk erat pemuda raven tersebut.
"Sasuke-kun... aku takut," ucap Sakura pelan seraya menyembunyikan wajahnya pada dada Sasuke.
Naruto hanya memandang Sakura dengan tatapan heran. Apa yang sebenarnya baru saja terjadi kepada gadis itu?
Sedangkan Gaara, diam seraya memandang tajam pada kedua insan yang sedang berpelukan di depan matanya tersebut. Apakah Sakura sudah benar-benar melupakannya karena pria beriris onyx itu? Namun dengan cepat segera Gaara tepis pikiran itu karena melihat kondisi Sakura saat ini,
"Sssshh... tidak apa-apa, Sakura." Sasuke berusaha menenangkan Sakura yang masih ketakutan dalam dekapannya. Pemuda berwajah stoic itu memegang pundak Sakura yang masih bergetar, kemudian secara perlahan melepas pelukan Sakura dan memandang wajah gadis itu lamat-lamat. "Sakura, tenaglah! Sekarang ceritakan kepada kami! Apa yang terjadi?" ucap Sasuke lembut.
Sakura hanya membalas ucapan Sasuke dengan pandangan yang terlihat seperti masih ketakutan. Tak tega dengan keadaan Sakura, Sasuke pun kembali mendekap gadis cherry tersebut. ia membenamkan kepala gadis itu pada dada bidangnya dan mengelus pelan surai merah muda milik Sakura.
"Sebaiknya kita bawa dia ke kamarnya saja," sahut Gaara yang masih merasa cemas akan keadaan Sakura. "Kau bawalah Sakura ke kamarnya di lantai atas! Letaknya paling ujung dari tangga," ucap Gaara pada Sasuke yang hanya dibalas anggukan pelan oleh pemuda berambut raven tersebut. "Naruto, kau ikut aku! Bawa Hinata yang masih di ruang tamu, aku akan menyiapkan kamar untuknya," titah Gaara lagi yang kali ini ditujukan pada Naruto.
Mereka kemudian bergerak sesuai perintah Gaara. Sasuke dengan pelan memapah Sakura menaiki tangga hingga masuk ke dalam kamarnya.
Krrriiiieeet...
Sasuke menutup pelan kamar Sakura. Pemuda tersebut kemudian membawa Sakura untuk duduk diatas ranjang. Sakura masih saja meringkuk ketakutan dalam pelukan Sasuke. Membuat pemuda berambut raven mencuat itu menjadi bingung sendiri tentang bagaimana cara menenangkannya.
"Sakura, tenanglah! Ceritakan kepadaku, Apa yang terjadi kepadamu?" ucap Sasuke pelan seraya mengelus rambut Sakura.
Gadis blossom itu kemudian mendongak menghadap Sasuke. Iris emerald tersebut masih tampak ketakutan dan shock. "Aku melihatnya, Sasuke-kun." Sakura berkata dengan nada parau. "Aku melihat hantu itu berwujud sama seperti diriku. Rambutnya sama denganku," sambung Sakura lagi pelan.
Sasuke diam mendengarkan ucapan Sakura. Arwah yang berwujud sama seperti Sakura? Apa maksudunya?
"Ssssh... sudah. Sebaiknya kau beristirahat dulu!" ucap Sasuke seraya kembali membawa Sakura dalam dekapannya. "Aku akan menjagamu, Sakura. Jadi, tenanglah!"
"..."
"Percayalah kepadaku!"
Ucapan Sasuke entah mengapa membuat dada Sakura terasa hangat. Perasannya yang sedari tadi merasa ketakutan karena sosok arwah perempuan dengan untaian rambut berwarna sama dengannya itu perlahan lenyap tergantikan rasa damai karena dekapan pemuda di hadapannya tersebut.
"Aku percaya padamu, Sasuke-kun." Sakura menggumam pelan. Membuat Sasuke sedikit tersenyum kecil. Senyuman tulus yang jarang ia perlihatkan.
Syuuut...
Bayangan itu lagi! Sasuke manajamkan pandangannya. Ia mengawasi setiap sudut kamar Sakura. Lalu pandangannya terfokus kearah balkon. Disana terdapat seorang pria dengan rambut berwarna hitam namun lebih panjang dan terlihat agak berantakan dari miliknya. Yang membuat Sasuke menjadi terkejut adalah, matanya. Ya, pria tersebut memiliki mata persis seperti dirinya. Sharingan?
"Kau akan kembali kepadaku, Sasuke!" Arwah tersebut berkata seraya menyeringai. Sasuke hanya balas menatap dengan datar.
"Apa maksudmu?" sahut Sasuke pelan. Namun cukup keras untuk di dengar Sakura yang tengah berada dalam pelukannya. Sakura ikut mendongak melihat kearah pandangan Sasuke di balkon. Gadis berambut soft pink itu juga mendapati pria paruh baya sedang menyeringai ke arah Sasuke. Dan lagi, iris matanya yang berbeda warna. Sebelah matanya berwarna merah seperti darah sama persis seperti milik Sasuke.
Reflek Sakura menggenggam tangan Sasuke semakin erat. Sadar bahwa gadisnya tersebut sedang merasa ketakutan, Sasuke pun berusaha menenangkannya. "Tenanglah, Sakura! Aku akan selalu melindungimu, ingat?" ucap Sasuke dengan tidak menurunkan kewaspadaannya pada sosok arwah di hadapannya tersebut.
"Hahahaha... Nampaknya gadis itu adalah orang yang cukup penting bagimu, eh?" kata arwah itu seraya memandang tajam pada Sakura.
"Katakan saja apa maumu!" Sasuke berkata dengan nada tegas. Tidak nampak adanya gentar atau rasa takut sedikitpun dari pemuda stoic itu.
"Sudah ku katakan, bukan? Aku mau kau kembali kepadaku."
Sasuke menatap arwah pria misterius itu dengan tajam.
"Tapi kurasa, saat ini bukanlah waktu yang tepat. Aku akan kembali saat purnama penuh berada tepat diatas langit. Sampai saat itu tiba, persiapkan dirimu, Cucuku!"
Wuuuuussshhh...
Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, arwah pria paruh baya itu kemudian menghilang bersama deru angin malam yang mulai berhembus di Konoha.
"Sa...Sasuke-kun?" Sakura memandang Sasuke yang masih terdiam menatap balkon dengan pandangan kosong.
"..."
"Arwah siapa itu, Sasuke-kun? Nampaknya ia mengenalimu," tanya Sakura seraya menggenggam lembut tangan Sasuke.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu," sahut Sasuke datar.
"..."
Sakura terdiam. Ia punya firasat buruk bahwa sebentar lagi akan datang masalah besar yang membawa bahaya bagi keselamatan mereka semua.
"Tidak perlu takut! Ada aku disampingmu," tegas Sasuke yang seolah mengerti akan kegundahan hati Sakura.
"Iya," balas Sakura seraya menatap Sasuke dengan hangat.
Lama mereka terdiam. Saling menyelami pikiran masing-masing tentang apa yang baru saja mereka alami.
"Sakura, aku masih merasa bersalah atas kejadian di ruang klub tadi. Maafkan aku, aku hanya merasa kesal kepadamu saat itu," ucap Sasuke tiba-tiba membuat Sakura menatapnya bingung.
"Kesal kepadaku? Kesal kenapa?" tanya Sakura seraya memiringkan kepalanya jenaka. Membuat wajahnya terlihat semakin manis dan lucu.
"Aku hanya merasa kesal saat melihatmu bersama Gaara di halaman belakang sekolah siang tadi. Karena itu, aku malah berbuat yang tidak-tidak kepadamu," jelas Sasuke lagi dengan nada datar, namun Sakura dapat rasakan adanya ketulusan disana.
Tunggu! Sasuke kesal karena melihat ia sedang bersama Gaara? Apa itu artinya Sasuke ... cemburu?
Cuuup...
Sakura mencium bibir Sasuke sekilas dengan cepat, membuat Sasuke terkejut dan memandang Sakura dengan tatapan penuh tanya.
"Apa?" ucap Sakura pendek. "Dengan begitu kita impas, bukan?" lanjut Sakura lagi seraya tersenyum kecil. Begitu tampak amat manis.
Sasuke menyeringai kecil. Perlahan tangan kanannya menarik dagu Sakura agar kembali mendongak menatap iris onyx miliknya. Mereka saling bertatapan. Dua kristal hijau itu memandang langsung pada dua onyx yang mana salah satunya adalah onyx palsu.
"Belum impas, Nona."
Sasuke memajukan perlahan wajahnya mendekati wajah Sakura hingga akhirnya bibir mereka saling bersentuhan. Dan mereka pun kembali berciuman panjang namun kali ini sama sekali tidak ada unsur paksaan dan kekerasan seperti ciuman mereka yang pertama kali.
Sakura memejamkan kedua iris emeraldnya. Bisa ia rasakan kelembutan ciuman Sasuke yang sarat akan rasa kasih sayang serta penyesalan. Dan gadis itu, dengan senang hati pun membalas tiap kecupan Sasuke. Bahkan saat lidah Sasuke mengetuk permukaan bibirnya untuk meminta akses lebih lanjut, Sakura membuka mulutnya dan menyambut lidah Sasuke yang mencumbunya dengan lembut. Sungguh Sakura sangat menikmati ciumannya kali ini bersama Sasuke.
Setelah beberapa menit berlalu, Sakura melepaskan pagutannya demi menarik nafas. Ia hirup oksigen sebanyak-banyaknya, namun tak memberi kesempatan lama, Sasuke langsung menariknya kembali dalam ciuman panjang berikutnya yang penuh nafsu. Sakura yang meski merasa kewalahan, tetap berusaha membalas ciuman Sasuke.
Mereka yang pada awalnya berada dalam posisi duduk itu, entah sejak kapan kini sudah menjadi posisi berbaring dengan tubuh Sasuke menindih Sakura. Gadis pink itu melingkarkan kedua tangannya di leher Sasuke, sedangkan Sasuke menggunakan tangan kirinya sebagai tumpuan berat badannya agar tak menindih tubuh Sakura, dan tangan kanannya memegang pipi kiri Sakura. Saat tangan Sasuke mulai bergerak turun ...
Tok...tok...tok...
"Sakura-chan, makan malam sudah siap. Gaara menyuruh kita untuk segera turun." Terdengar suara Naruto dari luar kamar.
Sontak Sakura dan Sasuke saling melepaskan diri. Sakura segera merapikan baju dan rambutnya yang berantakan akibat aktifitasnya bersama Sasuke barusan.
"I-iya, aku akan segera turun." Sakura menyahuti dengan nada kikuk meski sebenarnya Naruto tetaplah berada di luar kamar.
Setelah terdengar bunyi langkah kaki yang menjauh dari pintu kamar, Sakura melirik Sasuke yang masih duduk di pinggiran ranjang.
"Emh, ayo kita makan dulu, Sasuke-kun." Sakura berkata pelan dengan gugup.
"Hn," sahut Sasuke singkat seraya bangkit dan berjalan menuju pintu. Entah mengapa, Sakura merasa sedikit kecewa...
Cuuup...
Ternyata tanpa disangka, Sasuke langsung berbalik dan mengecup pelan kening Sakura. Dan tanpa berkata apa-apa, langsung membuka pintu kamar dan pergi meninggalkan Sakura yang masih termanggu. Sakura menyentuh keningnya yang baru saja mendapat kecupan dari Sasuke. Ia tersenyum kecil. Ribuan kupu-kupu itu serasa melesak berhimpitan dalam rongga dadanya. Sakura mulai mengerti alasan kenapa ia tak merasa nyaman dengan ciuman Gaara tadi sore. Ya, sepertinya penyebabnya memang Sasuke Uchiha.
Setelah mencuci mukanya, Sakura pun segera turun dan bergabung dengan yang lain untuk makan malam.
oOo
"Aku akan membawakan makanan untuk Hinata keatas," ucap Naruto saat mereka sudah selesai dengan makan malamnya.
"Tunggu, biar aku buatkan susu dulu untuk Hinata." Sakura berkata seraya pergi ke dapur dan mulai membuat susu hangat
Tak lama kemudian Sakura muncul kembali sembari membawa nampan berisi makanan untuk Hinata juga segelas susu putih hangat.
"Ini, suruh Hinata untuk makan kalau dia sudah sadar. Aku juga akan melihat kondisinya setelah mencuci piring terlebih dahulu," ucap Sakura kepada Naruto seraya mengerling jenaka.
"Oke, Sakura-chan." Dan pemuda pirang jabrik itupun melesat menuju kamar Hinata seraya membawa nampan berisi menu makan malam dari Sakura tadi.
Sasuke yang sudah menyelesaikan makan malamnya pun segera menuju ruang tengah untuk bersantai seraya menyalakan televisi yang ada di sana. Entah apa yang dilihatnya, karena sejak ia menyalakan televisi, pikirannya sama sekali tidak fokus. Pemuda tampan itu masih memikirkan arwah yang dikatakan Sakura dan arwah pria misterius yang ditemuinya dikamar Sakura tadi. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh mereka darinya?
Sebenarnya ia tak ingin ambil pusing dengan hal tersebut, tapi yang jadi masalah adalah bagaimana jika arwah itu malah meneror Sakura. Sasuke berpikiran demikian berdasarkan kenyataan bahwa arwah-arwah itu pun kini mulai berani menampakkan diri di hadapan Sakura. Karenanya, tidak menutup kemungkinan bahwa keselamatan Sakura juga sedang terancam.
"Tch!"
Sasuke berdiri dan bermaksud untuk meminta secangkir teh atau kopi hangat pada Sakura di dapur. Namun, betapa terkejutnya ia melihat Sakura yang sedang tertawa bersama Gaara. Mereka berdua sedang mencuci piring bekas makan malam seraya bercengkrama dengan akrab. Sekilas, perasaan kesal itu kembali menelusup dalam pikirannya.
Tak ambil pusing dengan keakraban dua insan itu, Sasuke terus berjalan dengan cuek dan mengambil cangkir lalu kemudian menuangkan teh hangat yang ada di poci, yang nampaknya memang sudah Sakura siapkan.
Sakura yang sadar akan kehadiran Sasuke menjadi salah tingkah. Ia tak enak karena kedapatan sedang bercanda bersama Gaara, meski mereka belum mengikrarkan suatu hubungan, tapi dengan perlakuan di kamar tadi berarti mereka 'kan sudah memiliki ikatan spesial. Meski itu hanya anggapan dari pihak dirinya.
"Sasuke-kun..."
Tiba-tiba sebuah suara lembut menyapa indra pendengaran Sasuke, Sakura dan Gaara. Ketiganya lalu menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Hinata yang sedang berjalan dengan tertatih-tatih sembari ditopang oleh Naruto.
"Hn?" Sasuke membalas dengan heran yang terdengar sangat dingin.
"Hinata? Kenapa kau keluar kamar?" Sakura berjalan tergopoh-gopoh menghampiri gadis indigo tersebut. "Naruto, kenapa kau malah membawa Hinata berjalan-jalan?" Kini Sakura memelototi Naruto.
"Dia sendiri yang memaksa, Sakura-chan." Naruto berkata seraya masih membantu Hinata berjalan.
"A-aku tidak apa-apa," ucap Hinata pelan.
"Dia bilang kalau dia ingin menemui Sasuke," jelas Naruto seraya melirik sahabat ravennya yang hanya berdiam diri dengan tampang datar andalannya seolah berkata bahwa ia tidak peduli.
"Bertemu denganku?" sahut Sasuke dingin namun terkandung nada heran.
"Ya begitulah. Ada yang ingin Hinata-chan bicarakan berdua denganmu, Teme."
"Bicara apa?" tanya Sasuke.
"Emh.. ano, bi-bisakah kita membicarakannya ha-hanya berdua?" ucap Hinata dengan tergagap. Manik mutiara lautnya itu berkilat menatap penuh harap pada Sasuke.
"Baiklah." Sasuke berjalan mendekati Naruto lalu menggantikan posisi Naruto yang sedari tadi menopang tubuh Hinata agar gadis tersebut dapat berjalan. "Ayo kita keluar sebentar!"
"I-iya..."
Sasuke kemudian membawa Hinata berjalan keluar dengan hati-hati. Mereka meninggalkan dapur dimana di situ masih terdapat Naruto yang hanya dapat memandang dengan tatapan terluka. Juga Sakura yang bahkan kini tengah menggigit bibir bawahnya keras demi menahan airmata yang hendak meluncur dari peraduan emeraldnya. Cemburu, kah?
Sedangkan Gaara, pemuda tersebut diam dan memilih melanjutkan pekerjaannya mencuci piring setelah melihat ekspresi Sakura saat Sasuke pergi keluar bersama Hinata. Pemuda bermata emerald pucat itu sebenarnya juga mati-matian tengah menahan rasa kesalnya. Tapi bagaimanapun juga, ia tidak dapat bersama Sakura lagi 'kan?
Ya, mereka sama-sama merasakan rasa sakit karena orang yang mereka kasihi. Ironis sekali, bukan?
...
Tak salah 'kan, kalau aku menaruh harapan?
Harapan masa depan tentang kisah kita,
Kepada Tuhan yang maha mengetahui...
Ku yakin kau akan mengerti,
Karena pada senyummu, selalu ku rasakan bahagia.
Pada bahagiamu, selalu ku ucapkan syukur.
...
To Be Continued
A/N : Jreeeeng... Jreeeeng... :D Gimana chap ini? galaunya kerasa gak? Hehehe *tendang* feelnya dapet gak? Horornya seru gak? *banyaknanyaloe!* hehe... kayaknya Gaara adalah pihak yang paling menderita yah di chap ini -_- entahlah.. ntar saya pikir-pikir lagi deh mau saya buat gimana ntar tuan Sabaku itu. *Buagh!* dan itu.. arwah-arwahnya udah mulai berdatangan ;D *tebarbungamelati*
Yah, kalau jalan ceritanya terlihat aneh, maaf ya... saya juga kadang bingung sendiri lho *Jduagh!?* wkwkwk... Oke deh, kalau ada yang mau disampaikan uneg-uneg nya tentang fic ini, baik berupa protes, kritik, saran juga pendapat.. silahkan tuangkan di kolom review aja yah! Atau yang mau sekedar salam senyum sapa dengan Author juga silahkan... ;) *sokakrabbangetloe!* hehe.. Chap depan mungkin udah gak bisa updet secepat seperti sekarang -_- yah pokoknya tergantung support dari readers semua deh..
Eh iya, kalau gak keberatan, saya ada buat satu fic dengan genre hampir serupa dengan The One of My Eyes, pair SasuSaku juga. Judulnya Kiss and Die, minta saran dan pendapatnya juga ya untuk fic itu kalau berkenan membaca. *MalahPromosi!?* hehehe.. saya jamin dah, ceritanya gak kalah seru kok dari fic ini ;) *WoyStopIklan!*
Oke, sampai jumpa di chap berikutnya ya~~
Pelaihari, 19 Mei 2013
Salam Hangat Selalu,
Kamikaze Ayy
