Pertama-tama, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena keterlambatan yang sangat amat ngaret sekali untuk updet chap ini. Maaf ya tapi pas ngebaca review-review yang masuk, saya jadi terharu. sebegitu banyaknya yang menantkan kelanjutan fic ini. Jadi saya pun akhirnya kembali bersemangat ngetik fic ini lagi.
Special thanks buat semua para reviewer :
Nameuchiha blue, Tya, Kikyo, glenndigimon, uchizuma angel, VQ69momoy, , Guest, uzumaki angel, Helskia Lei Lipulli, WTFlikethat, didif, ayumi, LiLo, Date Kaito, zhao mei mei, ocha chan, Arakafsya Uchiha, sasa-hime, emerallized onyxta, Kiki RyuEunTeuk, hanazono yuri, SSasuke 23, Nina317Elf, Momo kuro, Qren, UchiHarunoKid, Dark Courriel, Uchiha Dian-chan, tiffanyyuki, Fivani-chan, me, Always sasusaku, Hikari Matsushita, Mikyo, My review, Tsurugi De Lelouch, Lhylia Kiryu, sasusaku uciha, sami haruchi 2.
Terimakasih pula kepada seluruh silent rider yang masih sudi membaca fic abal ini makasih banyak ya atas dukungannya apalagi yg sampe inbox di fb dan berkali-kali ngubungin di twitter. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih... Love you so much dah semuanya.. :* :*
Ok, back to the Story...
Tak pernah aku menginginkannya...
Terlahir dengan mata ini...
Aku tak suka
Mata kiri ini...
Aku membencinya
Kenapa harus aku? Kenapa?
Kalau seandainya aku boleh memilih,
Aku tak ingin terlahir dengan mata sialan ini
.
.
The One of My Eyes
By: Kamikaze Ayy
Naruto dan segala chara adalah milik Masashi Kishimoto. Saya hanya mengarang fiksi ini tanpa mengambil sepeserpun keuntungan materi dari isi cerita.
Pairing : Sasuke Uchiha & Sakura Haruno
Genre : Supranatural, Mysteri, Suspense, and Romance
Dedicated for all the readers
DONT LIKE, DONT READ!
NO FLAME!
.
.
Chapter : 7
"Jadi, apa yang mau kau bicarakan?" tanya Sasuke kepada Hinata setelah mereka berada di taman samping villa milik Gaara. Malam itu begitu redup, seolah mengerti akan topik yang hendak dibahas dua insan manusia itu.
Hinata yang duduk di bangku tak jauh dari posisi Sasuke yang sedang berdiri itu terlihat tengah berpikir untuk menyusun kata yang akan ia utarakan kepada pemuda berambut raven tersebut.
"A-ano.. Aku bisa merasakannya." Akhirnya Hinata pun berbicara. Jemari tangannya saling tertaut seolah dengan melakukan hal tersebut akan dapat menghilangkan kegugupannya.
"Apa maksudmu?"
"I-ini tentang arwah itu." Hinata memberanikan diri mendongak menatap Sasuke yang kini juga tengah menatap Hinata dengan tatapan tajam. Sepertinya kata-kata Hinata barusan membuat rasa penasaran Sasuke muncul.
"Arwah?"
"Aku bisa merasakan kehadiran arwah. Dan aku tau, kalau kau punya kemampuan untuk melihat arwah," jelas Hinata yang membuat mata Sasuke terbelalak tak percaya.
"..." Sasuke diam. Dari mana gadis itu tau akan kemampuan mata kirinya? Selama ini dia hanya pernah menceritakannya kepada Sakura saja.
Mengerti akan kebingungan Sasuke, Hinata pun menarik nafas panjang dan mulai menjelaskan secara singkat.
"Se-sejak masuk ke Oto High School, aku sering memperhatikan dan mengamatimu. Kau selalu menyendiri karena teman-temanmu selalu menjauhimu. Kata mereka, kau pembawa sial." Takut-takut Hinata melirik ke Sasuke, ia takut jika pemuda di hadapannya tersebut akan tersinggung oleh kata-katanya. "Ja-jadi aku sering mengikutimu." Wajah Hinata merona, secara tidak sengaja ia telah berkata bahwa ia seorang stalker. "Se-setiap aku merasakan adanya keberadaan arwah di suatu tempat, kau selalu memandang tajam ke arah tempat itu dan berbicara seorang diri seolah di situ ada seseorang yang menjadi lawan bicaramu. Da-dari situlah aku mulai menyadari, kalau kau dapat melihat dan berkomunikasi dengan arwah. A-apa aku salah?" Hinata memandang Sasuke dengan tatapan penuh harap.
Sekilas Sasuke merasa terkejut namun dengan cepat ia segera mengembalikan raut wajah datar andalannya. Ia menarik nafas pelan, "Hn. Kau benar. Aku memang dapat melihat dan berkomunikasi dengan arwah."
"Begitu.." Hinata memandang Sasuke dengan tatapan lembut yang sarat akan kekaguman. "Se-sebenarnya sejak tadi ketika aku sadar dari pingsan–" ragu gadis indigo itu untuk melanjutkan perkataannya karena ia juga masih belum terlalu yakin, "–aku merasakan keberadaan arwah yang entah kenapa terasa begitu mengerikan."
"Lalu?" Sasuke mengalihkan pandangan sepenuhnya pada Hinata. Ia merasa penasaran akan kelanjutan kata-kata gadis dihadapannya tersebut.
"A-aku juga tidak tahu kenapa, tapi sepertinya aku merasakan aura yang begitu kuat dan gelap. Aku punya firasat bahwa arwah itu akan melakukan sesuatu yang buruk," ucap Hinata dengan pelan.
"Ya, kau benar. Aku sudah bertemu dengan arwah itu. Tapi aku masih tidak mengerti akan maksud dan tujuannya," sahut Sasuke.
"A-apa yang akan Sasuke-kun lakukan terhadap arwah itu?" tanya gadis bermarga Hyuuga tersebut.
"Entahlah. Aku tidak mau memulai perang. Aku hanya akan bertindak jika dia sudah melewati batas normal," jawab Sasuke sembari mengakkan tubuhnya kembali dan mengibas debu yang sedikit menempel di celananya. "Ayo kita masuk! Udara malam tidak baik untuk kesehatanmu," lanjut Sasuke lagi.
"I-iya..."
Pria bermata onyx itu menghampiri Hinata untuk menopang tubuh gadis tersebut dan kembali membantunya berjalan menuju villa.
oOo
BRUUKK...
Sakura menghempaskan tubuhnya keras diatas ranjangnya. Entah mengapa ia begitu terbawa suasana kemelut sebal akibat Sasuke yang memapah Hinata keluar tadi. Gadis cherry blossom itu tak mengerti kenapa ia sekesal ini. Hah, mungkin memang benar cinta itu adalah hal yang paling sederhana juga paling rumit. Tak mau memikirkan hal tersebut lebih lanjut, Sakura lebih memilih beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju balkon. Disana ia memandangi cahaya bulan sabit yang entah mengapa nampak suram tanpa adanya binta bergemerlapan di sekitarnya. Sedang mendungkah cuaca malam ini?
"Sudah ku katakan, bukan? Aku mau kau kembali kepadaku."
"Tapi kurasa, saat ini bukanlah waktu yang tepat. Aku akan kembali saat purnama penuh berada tepat diatas langit. Sampai saat itu tiba, persiapkan dirimu, Cucuku!"
Wuuuuussshhh...
Ah, bayangan itu lagi... Sakura menggigit bibir bawahnya dengan cukup keras. Seolah berusaha mengalahkan rasa takut dalam hatinya. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh arwah laki-laki itu dari Sasuke? Apa ini ada kaitannya dengan mata sharingan yang dimiliki Sasuke?
"Kau sedang memikirkan sesuatu, Hime?"
Sayup-sayup Sakura mendengar suara lirih itu di balik punggungnya. Amat sangat lirih namun tak menutup kenyataan bahwa suara itu juga memiliki intonasi yang lembut. Dengan sedikit rasa gentar, Sakura pun menoleh. Dapat ia lihat wanita dengan iris emerald seperti dirinya itu nampak tersenyum parau kearahnya. Rambutnya tak lagi berwarna pink pucat seperti yang tadi diihatnya. Kini rambutnya panjang menjuntai berwarna putih senada dengan gaunnya. Seketika Sakura dapat merasakan tubuhnya gemetar. Ia ingin teriak namun entah mengapa lidahnya terasa kelu. Suaranya seolah tercekat di tenggorokan. Akhirnya kesadarannya pun berkurang hingga ia tak lagi tau bagaimana ia bisa membuka mata setelah ini.
oOo
Sinar mentari itu datang mengeruak dari celah bilik kelopak matanya, memaksa gadis pinky itu terjaga dari alam lelapnya.
"Enghh.." Sakura menggeliat pelan. Dapat ia rasakan udara pagi yang dingin nan sejuk itu menerpa wajahnya. Namun aneh, udara dingin itu tak berasa dingin karena yang ia rasakan adalah rasa hangat yang begitu nyaman.
"Kau sudah bangun?"
Sakura menoleh karena suara dingin yang sudah ia hapal itu terasa begitu dekat darinya. Dan dapat ia temukan pemuda stoic dengan wajah datarnya sedang memeluknya dari belakang yang sedang dalam posisi duduk, memberinya tempat bersandar ternyaman. Ah, pantas sajalah jika pagi ini tak terasa lagi dinginnya.
"I-iya," jawab Sakura terbata. Jantungnya berdegup kencang seolah ia baru saja olahraga maraton.
Hening. Tak ada jawaban sama sekali.
"Waktunya sarapan. Bersihkan dirimu sebelum sarapan dan bersiaplah! Akan ku ajak kau ke suatu tempat di desa ini," titah Sasuke pelan namun penuh dengan penegasan.
Sakura dengan patuhnya pun segera bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sasuke turut derdiri menegakkan tubuhnya dan merenggangkan kedua tangannya, dirasa sedikit pegal juga lengannya yang semalaman menjadi bantalan Sakura.
Sasuke keluar dari kamar Sakura. Ia pergi ke ruang tengah, tempat dimana Naruto sedang asyik menonton televisi.
"Teme, kau lihat Sakura?" Naruto bertanya sambil terus menonton acara komedi yang bahkan tak menarik minat Sasuke sama sekali.
"Hn. Dia di kamar," sahut Sasuke. Pria bermata onyx itu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di samping Naruto.
"Apa yang terjadi dengannya semalam?" tanya Naruto lagi pendek.
"Hn?"
"Jangan berbohong! Aku tau kau semalaman menemaninya." Naruto berkata pelan mengeluarkan steatment yang membuat sasuke musti melirik pria jabrik tersebut dengan lirikan kesal.
"..."
Naruto yang menyadari adanya percikan kesinisan dari sohib karibnya tersebut langsung saja tergelak pelan.
"Hahaha... Maaf, Teme. Aku tidak menguntitmu, hanya saja aku tak sengaja melihatmu masuk kamar Sakura malam tadi." Naruto berkata santai seraya mencomot keripik yang berada tak jauh darinya.
Sasuke diam tak menyahuti. Dan tanpa diketahui oleh keduanya, sepasang telinga milik pria dengan surai merah batanya itu menangkap dengan jelas perbincangan mereka. Ia telah berdiri disitu sejak pertama Sasuke menghampiri Naruto. Kedip emerald sayunya tak dapat ditebak, entah apa yang sedang berkecamuk dalam benaknya.
oOo
Suasana ruang makan pagi itu begitu hening. hanya terkadang Naruto yang mengoceh dengan bualannya yang hanya disambut biasa oleh yang lain.
Sreeeet...
Begitu menyelesaikan menu sarapannya, Sasuke segera berdiri dan meninggalkan meja makan.
"Cepat selesaikan makanmu, Sakura. Aku tunggu di depan," ucap Sasuke sekilas sebelum benar-benar meninggalkan ruang makan. Sakura yang merasa namanya dipanggil, segera menyahut dengan aggukan cepat. Serta merta Sakura pun mempercepat acara makannya.
Mendengar ucapan Sasuke, Gaara melirik dengan kesal. Apa yang akan dilakukan oleh Sasuke dan Sakura setelah ini. Tak hanya itu, Hinata juga menatap punggung Sasuke yang berlalu dengan pandangan nanar.
"Aa... aku sudah selesai. Terimakasih atas makanannya," ucap Sakura cepat. Lalu ia langsung berdiri dan beranjak meninggalkan meja makan.
"Jangan lupa oleh-oleh, Sakura-chan!" Naruto masih saja sempat meneriaki Sakura yang sedang bergegas. Sakura hanya menoleh lalu mencibir seolah menolak permintaan pemuda dengan surai kuning cerah tersebut.
"Kita akan kemana, Sasuke-kun?" tanya Sakura setelah dilihatnya Sasuke sudah bersiap diatas motor sport miliknya.
"Ke Kuil diatas bukit." Sasuke menyahutinya seraya memberi kode kepada Sakura untuk segera naik ke atas boncengan motornya.
Sakura pun menurut. Baginya, kata-kata Sasuke itu adalah titah yang tak pernh dapat ia tolak. Ia sendiri tak tau, kenapa ia bisa begitu menjadi gadis yang amat penurut terhadap pemuda stoic yang selalu dingin dan amat cuek itu.
Mereka mulai meninggalkan villa dgn kecepatan sedang. Sakura tak hentinya mengagumi pemandangan asri nan sejuk khas pedesaan. Tak hentinya bibir mungilnya itu terus mengoceh bahagia tentang segala apa yang dilihatnya sepanjang perjalanan. Sedangkan Sasuke, hanya bisa pasrah mendengarkannya sambil sesekali berdehem menanggapinya.
Saat mulai masuk kedalam kawasan perbukitan dimana kanan kiri dari jalannya adalah hutan belantara, Sakura mulai merasa ngeri. Meskipun saat itu adalah pagi hari, tetap saja keadaan hutan yang sangat rimbun nan gelap juga sepi, tampak begitu menyeramkan. Sakura bahkan lupa bahwa ia kini sampai meremas pelan jaket yang sedang dikenakan oleh Sasuke.
Sadar bahwa gadis yang sedang diboncengnya itu ketakutan. Sasuke pun berkata, "kalau kau takut, kau bisa memejamkan matamu!"
Sakuraa kembali menuruti ucapan Sasuke. Ia menutup dua iris emeraldnya dan secara reflek ia juga bersandar di punggung tegap Sasuke. Terasa hangat dan nyaman.
Sasuke yang dapat merasakan bagaimana Sakura kini tengah bersandar di punggungnya tersebut harus mati-matian menahan rasa debaran jantungnya. Pemuda itu tetap fokus pada jalan dan makin menambah kecepatan laju motornya.
Selang beberapa saat kemudian, Sasuke menghentikan laju motornya.
"Sakura..." Sasuke berusaha membangunkan Sakura karena mereka telah sampai.
"..." Hening. tak ada jawaban dari gadis dengan surai indah merah muda itu.
"Sakura..." panggilan kedua, Sasuke juga sambil menepuk pelan pipi Sakura agar ia terbangun. Nampaknya gadis cherry blossom tersebut ketiduran.
"Eeengh..." Sakura menggeliat pelan karena merasa adanya tepukan lembut yang memaksanya terjaga dari lelapnya rasa nyaman.
"Sasuke-kun, dimana kita?" tanya Sakura seraya mengucek-ngucek kedua emeraldnya yang nampak masih sayu.
Sasuke hanya tersenyum tipis melihat keadaan Sakura saat ini. Sungguh pemandangan yang indah dan sangat langka dapat elihat wajah seorang Sakura saat baru bangun tidur.
Cuupp...
Dan satu kecupan ringan mendarat persis di bibir tipis Sakura. membuat gadis tersebut menjadi diam membeku sesaat mendapat kejutan yang tiba-tiba tersebut.
"Kita sudah tiba. Ini adalah salah satu kuil tertua di Konoha," kata Sasuke singkat tanpa mempedulikan gimana reaksi Sakura karena ulah ciuman kejutannya barusan.
Mereka berjalan mendekati kuil tersebut, Sakura begitu takjub akan desain dari kuil tersebut. Ngantuk yang sedari tadi menderanya saat dibonceng oleh Sasuke, tiba-tiba menguap hilang begitu saja. Sederhana memang bahkan terkesan sangat kuno bagi ukuran kuil di jaman sekarang namun tetap saja terlihat begitu artistik dan elegan.
Sasuke hanya memandang biasa. Nampaknya tidak terdapat perubahan sama sekali dari sejak dulu ia pergi meninggalkan kota Konoha tersebut. Ya, tempat dimana ia pernah dilahirkan dulu. Juga tempat dimana ia pertama mulai merasa pahitnya kehilangan keluarga.
"Kau lihat, Sasuke-kun? Kuil ini begitu indah," Sakura berlarian kesana kemari, ia tampak begitu antusias melihat setiap detail patung yang terdapat di sana.
"Ini adalah kuil peninggalan dari tetua Uchiha."
"Peninggalan?" Sakura melirik Sasuke yang sedang diam tanpa ekspresi memandangi sebuah simbol kipas yang begitu besar.
"Hn."
Sakura diam. Menanti penjelasan Sasuke berikutnya.
"Kau ingat, malam dimana arwah laki-laki itu datang? Ku rasa itu ada hubungannya dengan kuil ini," terang Sasuke lagi.
"Apa yang bisa kita dapat disini?" tanya Sakura pelan.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Hanya saja naluriku berkata bahwa ada sesuatu yang akan kita temukan disini."
Entah hanya perasaan Sakura saja atau memang demikian kenyataannya, tiba-tiba keadaan menjadi semakin gelap seolah sudah petang hari. Padahal ia yakin bahwa mereka tak sampai dua jam sejak meninggalkan villa tadi.
"Sakura, tetaplah di dekatku!" Sasuke berkata pelan namun tegas. Membuat Sakura yang tadinya berada dalam jarak cukup jauh, segera berlari dan berlindung di balik punggung Sasuke seraya memeluk lengan pria tersebut dengan erat.
Yang Sakura tahu hanyalah kini Sasuke sudah bersiaga dengan bola mata sharingan yang nampak semerah darah.
Wuuuushhh...
Angin kencang bertiup menerpa wajah mereka. Sakura semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Sasuke. Suasana mencekam ini begitu terasa mengerikan.
"Kau datang, cucuku?" terdengar suara serak dari seorang pria. Ya, suara yang masih sama dengan suara arwah yang datang ke kamar Sakura dan berkata akan mengambil diri Sasuke.
Sasuke kontan semakin menjaga kesiagaannya. Kedua iris matanya yang berbeda warna tersebut menatap tajam ke setiap sudut kuil.
"Kau ketakutan, cucuku?" suara itu lagi.
"..." Sasuke diam tak menjawab.
"Tenang saja, untuk saat ini aku masih tidak bisa mengambil dirimu." Arwah itu muncal tepat di belakang antara Sasuke dan Sakura. "Tapi aku kan mengambil gadis manismu."
Sasuke langsung menoleh kebelakang dan menarik Sakura.
Syuuuuut...
Tapi sepertinya pemuda raven itu kalah start dari arwah pria misterius yang memanggilnya dengan sebutan cucu tadi. Segalanya terjadi dengan sangat cepat dan kasat mata.
Brrruuukk...
Tubuh Sakura terjatuh di pelukan Sasuke. Begitu lemas seolah tak ada lagi jiwa dalam raga itu. Apa yang sudah terjadi?
"Sakura!" Sasuke menepuk pipi Sakura pelan. Namun Sakura tak kunjung menjawab. Kedua iris mata yang selalu memamerkan keindahan permata emeraldnya itupun tak mau terbuka.
"Apa yang telah kau lakukan, ha?" Sasuke memandang tajam kearah arwah yang hanya terdiam dengan ekspresi dingin namun dapat terlihat sebuah seringai yang menghiasi sudut bibirnya.
"Datang kembali saat purnama itu telah penuh. Dan tukarkan dirimu dengan nyawa gadis itu!"
Wuuuuussshhh...
"Sial!"
Deru angin yang begitu kencang kembali berhembus. Kini anginnya menjadi dingin dan semakin terasa mencekam. Namun bersamaan dengan hilangnya angin tadi, suasana gelap kembali menjadi terang seperti pertama mula mereka datang. Dan membawa entah kemana arwah itu menghilang.
Sasuke terduduk, ia masih mencoba membangunkan Sakura dengan tepukan ringan. Namun nihil, tak pernah ada jawaban dari Sakura. Gadis pink itu benar-benar terkulai lemas bagai tak bernyawa lagi. Hanya deru nafas pelan yang samar lah yang menjadi patokan bagi Sasuke bahwa gadis itu masih tak kehilangan nyawanya.
"Cih! Kuso!" Umpatan demi umpatan mengalir dari mulut Sasuke.
Pemuda dengan manik onyx dan sharingan yang semerah darah itu merasa amat kesal, marah, ketakutan, dan entahlah apalagi semua membaur menjadi satu. Ia merasa kesal karena tak dapat menjaga Sakura. Merasa marah sebab arwah pria misterius itu berani-beraninya melibatkan Sakura. Dan merasa ketakutan karena Sakura yang tak kunjung sadar. Sasuke bersumpah akan melenyapkan arwah itu jika saja nyawa Sakura sampai menjadi taruhan.
"Sakura, ku mohon bangunlah..." Setitik air mata itu bahakn menetes di pipi tirus yang seputih persolen milik Sasuke. Ya, pria stoic itu menangis.
Lirih... suara yang biasanya terdengar dingin nan sinis itu kini berubah menjadi amat lirih nan sayu, "Sakura..."
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apapun... Apapun itu akan ia lakukan asal Sakura dapat kembali membuka kelopaknya dan menampilkan sepasang manik emerald indah yang begitu disukainya. Ya, asalkan Sakura kembali, apapun akan dilakukannya.
...
Saat aku pergi
Apa kau akan merindukan aku?
Apa kau akan memelukku saat aku kembali nanti?
Apa kau takut kehilanganku?
Aku mencintaimu, hari ini.
Besok...
Dan seterusnya.
...
To Be Continued
A/N : Lama banget updetnya? Maaf ya, maaf banget deh... Ayy lagi sibuk kuliah nih :D hehe.. gimana lanjutannya fic ini? Makin gaje atau makin norak? #plak
Oke deh gak usah bnyak bacot lagi... yang mau salam senyum sapa, kritik, pesan, kesan, salam, dll silahkan tuangkan saja di kotak review ya :D review dari kalian semua memberi semangat kepada saya untuk melanjutkan fic ini dan bertahan agar fic ini tidak sampai discontinued. Oh ya, apa disini ada yg juga menunggu updetan dari fic 'Kiss and Die'? Saya galau mau ngelanjutin fic itu atau tidak.
Oke dah, sampai jumpa di chapter berikutnya ya...
Surabaya, 29 Oktober 2013
Salam Hangat Selalu,
Kamikaze Ayy
