BIKER BILLIONAIRE:

A WILD RIDE (REMAKE)

Pairing : SICHUL Slight HANCHUL

Main Cast : Choi Siwon, Kim Heechul, Tan Hangeng and Super Junior Member

Genre : Romance Erotic

Rate : M

Chaptered

Warning: Genderswitch for Uke, OOC, Many Typos, IF YOU READ DON'T BASH

Disclaimer: The story line is belong to JACINDA WILDER as Writer of BIKER BILLIONAIRE. The caracters inside are belong to God and themselves.

*This is an explicit, erotic fiction for adults only! Contains super hot*

Chapter 3

Miliknya belum sepenuhnya menegang, tapi hampir berdiri tegak lurus terhadap tubuhnya. Dia menarik tubuhku ke arahnya, mengangkat seluruh beratku dengan satu tangan. Aku duduk mengangakangi lututnya dan memegang miliknya di tanganku sekali lagi.

Dia mengulurkan tangannya dan membuka laci di meja sebelah tempat tidur, merobek satu kondom dari rentengannya dan membukanya. Aku mengambil kondom itu darinya dan membentangkan di atas kepalanya, menggulung ke bawah dengan dua tangan secara bergantian. Saat sudah terpasang, dengan memegang pinggulku Siwon mengangkatku, kemudian mengangkat dan membimbingku ke arah kejantanannya. Aku memegang miliknya dengan satu tangan dan menjajaki milikku dengan ujung kepalanya.

Aku menahan tubuhku di atasnya sejenak, menatap ke arahnya, mata kami bertemu. Aku bersumpah ada bunga api yang terbang di udara, meskipun hanya sesaat. Aku membenamkan diriku ke bawah dalam satu gerakan lambat, terengah-engah, mulutku gemetar saat ia meregangkan vaginaku yang ketat menjadi lebih lebar untuk menerima dirinya. Ya Tuhan, miliknya besar. Dia mengisiku, dan membuatku meregang untuk menyesuaikannya.

Dia mengerang saat aku melingkupinya, geraman rendah seperti binatang di belakang tenggorokannya, suara primitive yang membuatku liar. Aku menyangga tubuhku dengan tangan di dadanya dan mulai memutar pinggulku dengan pelan, terukur tanpa tergesa-gesa, membiarkan milikku menyesuaikan ukurannya. Dia bahkan belum sepenuhnya masuk ke dalam, dan aku sudah menuju ke arah orgasme. Aku tak bisa bernapas merasakan dirinya ada di dalam diriku, dan malah bertambah buruk ketika ia memegang payudaraku dengan tangannya dan melakukan sihirnya lagi, memutar-mutar putingku, mencubit, dan menangkup payudaraku sambil mengangkatnya dengan tangannya yang besar.

"Apa aku menyakitimu?" Siwon bertanya, nyaris belum menggerakkan pinggulnya, belum menyodok sama sekali. "Kau begitu ketat, luar biasa ketat."

Aku menggeleng, menarik napas untuk bicara. "Tidak…kau sempurna. Tapi pelan-pelan dulu."

Aku mengangkat pinggulku hingga membuatnya hampir keluar dariku, dan dia mendorong ke arahku, ingin menenggelamkan dirinya lagi. Aku menghempaskan diriku, membuat kejantanannya masuk seluruhnya ke dalam diriku, sampai ke dasar, mengandaskan pinggulku padanya. Aku ambruk ke atas tubuhnya melumat bibirku ke bibirnya, napasku terengah, butir-butir keringat mengalir di punggungku.

Api bergolak di dalam perutku, cairan panas menggenang di antara pahaku, menyebar ke setiap jengkal tubuhku, melapisi setiap pori-pori tubuhku dengan hipersensivitas. Dia mulai bergerak, denyutan bertahap dan dorongan yang lembut. Setiap gerakannya mengirimkan ekstasi mendebarkan ke seluruh tubuhku, menyesakkan napas, menyebabkan rintihan dari tenggorokanku. Aku menyesuaikan ritmenya, hanya sedikit bergerak masuk dan keluar, aku mencengkeram tubuhnya, lenganku di lehernya, seluruh tubuhku menempel ke tubuhnya. Keringat kami bertemu dan napas kami bersatu. Bibirnya menyentuh bahuku dan jari-jarinya mencengkeram pinggul dan pahaku, berusaha mengambil kendali.

Aku merasakan otot-ototnya tegang dalam sentuhanku, dan kemudian ada saat memusingkan ketika ruang merentang dan berputar dan tiba-tiba dia sudah berada di atas tubuhku. Tubuhnya berat tetapi tidak menekanku, sekarang miliknya di dorong sepenuhnya tapi tidak menerjang. Mulutnya menemukan putingku, dan dia menggigit tonjolan sensitifku dengan gigi-giginya, menyebabkan jeritan kecil dari mulutku.

"Ya Tuhan, kau begitu responsive," katanya, memutar rambutku ke dalam jari-jarinya.

Dia mendongakkan kepalaku dan menelusuri bibirnya di leher dan turun ke payudaraku, meninggalkan jejak ciuman basah berapi-api.

"Responsif?" kataku dengan terkesiap.

"Bagaimana kau bereaksi terhadap apa yang aku lakukan padamu. Kau mengeluarkan suara setiap kali aku menyentuhmu. Aku menyukainya."

Ia bergerak lebih semangat sekarang, menarik keluar dirinya lebih jauh dan mendorongnya kembali, dan aku mengerang dengan setiap gerakan pinggulnya, setiap dorongan nikmat darinya. Aku tak bisa menahan suara yang keluar dariku, suara itu seperti sedang ditarik keluar dariku dari tenggorokanku.

"Aku biasanya tidak terlalu berisik," kataku, menanam ciuman di pipi, rahang dan terakhir bibirnya.

"Jangan berhenti," katanya. "Aku menyukainya. Aku suka suara yang kau buat."

"Kalau begitu jangan berhenti apa yang sedang kau lakukan," kataku, tersenyum di atas mulutnya.

"Tidak akan terjadi," janjinya.

Dia menarik keluar sehingga hanya ada ujungnya di dalam diriku, mengaitkan kakiku di atas bahunya dan menekuk lututnya. Setengah berat tubuh bagian bawahku kini disangga oleh kejantanannya dan kakiku yang ada di pundaknya. Tanganku mencengkeram selimut, mencakar dengan kekuatan putus asa saat ia mulai mendorong dirinya ke dalam diriku. Lambat pada awalnya, kemudian kecepatannya mulai meningkat. Pinggulku menempel pinggulnya, dan sekarang aku menerima miliknya sepenuhnya, seluruh miliknya masuk ke dalam dan menyeruduk dinding vaginaku, tergelincir dengan licin kembali keluar, hanya untuk menekan lagi, dibantu oleh cairan yang merembes dari milikku yang berdenyut.

Eranganku semakin vokal, bukan hanya rintihan napas, tapi suara jeritan kenikmatan sepenuhnya. Dia bergabung denganku, menggeram dan mendengus, seperti binatang mengamuk dengan mata liar dan otot berkilat. Berkeringat dan sensual. Dorongannya bertambah cepat, dan aku merasakan getaran kecil mulai menyebar di pahaku, pada awalnya hanya gemetar kecil dari otot-ototku. Aku tak mampu mencegah untuk memperlambat lonjakan pinggulku, naik dari punggung dan bergulir ke arahnya, sekarang aku mengerang tanpa henti.

Getarannya menyebar seperti api kebakaran ke otot-otot organ intimku, dan naik sampai perut, paru-paru, lengan dan kakiku, sampai aku menjerit seakan kerasukan. Dia seperti piston di dalam diriku, murut terbuka dalam suara menderu. Getarannya berubah menjadi gempa bumi, dan kemudian pergeseran lempeng tektonik, seluruh tubuhku mengejang, padahal aku belum orgasme sepenuhnya begitu juga dirinya.

Aku menjerit keras sekarang, lebih keras dari suara yang pernah aku keluarkan dan aku benar-benar menjadi hamba darinya, yang direnggut olehnya, tubuhku dibawa ke puncak sensasi. Dia berteriak, dan kemudian miliknya berdenyut dan mendorong ke dalam irama staccato keras dan aku merasa dia klimaks, merasakan otot-otonya mengejang dan dia bersandar di atas kakiku. Lalu aku melihat bintang, saat orgasmeku mulai terjadi, titik-titik putih di seluruh pandanganku, titik-titik kecil tak berwarna menyebar keluar satu sama lain sampai seluruh dunia menjadi putih sepenuhnya dan tubuhku terkurung dalam ekstasi dan kejang yang begitu kuat dan tak berujung, bahkan hingga aku tak mampu menjerit, tak bisa terisak, bernapas atau bahkan berkedip. Miliknya terus tenggelam dalam diriku, mendorong ledakan dalam tubuhku jadi lebih panas, lebih tinggi dan lebih kuat. Kupikir aku sedang robek menjadi dua, oleh kenikmatan murni, dan ia masih mendorong, hingga dia klimaks.

Sebuah pikiran tunggal melintas di benakku, aku ingin dia tanpa pelindung dalam diriku, hingga aku bisa merasakan benihnya mengalir ke dalam diriku. Tak ada lagi yang penting kecuali mencapai puncak sensasi. Persetan dengan konsekuensi.

Pikiran tersingkir, lalu saat ledakan bergulir tubuhku, aku kejang-kejang, dan entah bagaimana kakiku sudah berada di tempat tidur dan tubuhnya ada di atasku dan miliknya amsih berdenyut di dalam diriku, menarik sisa-sisa terakhir dari sensasi dalam tubuhku.

Napasku kembali menjadi terengah-engah, pusing memabukkan, dan aku menyadari sebagian penyebab aku melihat bintang karena akus ecara harfiah, secara fisik tak bernapas, orgasmeku begitu intens.

Aku mendengar suara tersedak, dan merasa dadaku naik turun, dan menyadari bahwa suara itu adalah aku, menangis tak terkendali, menjerit dan gemetar.

Siwon menyadarinya segera,dan dengan segera berguling dari atasku, memegangku dengan pipinya. "Aku menyakitimu." Dia tampak takut akan pemikiran itu, hina penuh kesedihan. "Kau menangis."

Aku menggeleng dan memaksa paru-paruku bernapas, mendorong pergi air matanya.

"Tidak, tidak Siwon," aku berguling jatuh ke atas dadanya dan lengannya membungkusku. "Aku menangis karena aku belum pernah….karena kau menyetubuhiku sampai aku tidak bisa bernapas."

"Apa itu berarti sesuatu yang bagus?" dia mencari ke dalam mataku, masih tampak cemas.

"Oh Tuhan. Ya pasti," aku tak bisa menjelaskan agar membuatnya pahan apa yang baru saja aku alami. "Kau sudah menghancurkanku, tahu."

"Apa?" dia tampak panic. "Aku memakai kondom, kau melihat aku memakainya."

Aku tertawa, menyadari betapa lucu kedengarannya.

"Tidak, maksudku kau telah menghancurkan harapanku terhadap semua pria lain. Mustahil bagi siapapun yang bisa melakukan hal itu padaku lagi."

Siwon menghela napas lega. "Sialan, kau mengagetkanku."

"Maaf, aku tak bisa mengungkapkan bagaimana rasanya. Aku tak tahu bahwa seks bisa seperti ini."

Dia menyeringai dan meremasku dalam pelukan tangannya. "Oh Heechul, berarti kau sudah demikian parah kehilangan." Dia meletakkan tangannya di pinggangku, kemudian menangkup pantatku.

Aku menggoyangkan pantatku pada sentuhannya. Aku suka bagaimana ia menyentuhku. Dan lalu aku khawatir tentang seberapa sering aku sejak bertemu dengannya mengatakan "suka" kepadanya.

"Jadi, apa itu artinya lumayan untukmu?" tanyaku.

Siwon menatapku dengan pandangan tak percaya. "Kau bilang apa itu artinya lumayan?"

Dia berguling di atasku, dan aku merasakan tekanan benda setengah keras di perutku. Aku mengeluarkan suara senang yang rendah di tenggorokanku. Kagum bahwa ia bisa siap lagi secepat itu.

"Ini adalah benar-benar seks terbaik dalm hidupku." Siwon menurunkan bibirnya ke bibirku, dan menciumku dengan kelembutan yang mengejutkan.

"Omong kosong," kataku.

Dia tertawa mendengus."Aku tak pernah bicara omong kosong pada pembual.

Aku mengulurkan tanganku ke bawah dan membelai miliknya yang mulai membesar, kemudian menyadari bahwa ia masih mengenakan kondom, lemas dan basah. Aku menariknya bebas dan meletakkannya di meja samping tempat tidurnya. Dia mengangkat alisnya ke arahku, lalu meraih satu kondom lagi.

Aku menghentikannya. "Aku akan segera datang bulan," kataku berbohong. "Kita tak perlu itu."

Dia ragu-ragu. "Aku lebih suka tak mengambil resiko."

Aku tahu itu resiko juga tapi aku tak peduli, tidak untuk saat ini. Selain itu, jika aku sudah terjerumus dalam masalah, maka itu tak lagi jadi masalah. Aku menyentuhnya lagi, menggeser tanganku pada miliknya yang licin, basah kuyup. Dia mengerang, menekan dahinya ke dahiku. Dia menggerakkan pinggulnya dengan halus, sekarang sudah ereksi sepenuhnya.

Aku menariknya masuk ke dalam diriku, dan dia msih ragu-ragu, mencoba untuk menariknya keluar. Seorang pria luar biasa.

"Aku ingin tanpa pelindung," kataku. "Aku ingin merasakan milikmu keluar dalam diriku."

"Aku seharusnya tidak melakukannya," protesnya.

Tapi itu sudah terlambat. Aku menggesek ke arahnya, meregang dan siap untuk menerima dirinya. Dia mengerang, setengah nikmat dan setengah frustasi. Matanya menyala, dan kemudian tampaknya ia membuat keputusan.

"Jika kau yakin," desahnya.

Lalu ia berguling dariku, mengabaikan jeritan protesku. Dia meluncur turun dari tempat tidur, menyambar tumitku dan menarikku ke arahnya. Dia menarik kakiku yang lain dan memutar kakiku hingga aku tak punya pilihan lain selain tengkurap. Aku menengoknya, menatap pura-pura ketakutan, mencakar tempat tidur seolah-olah aku menolak. Dia menyeringai sangat lebar, menyeret pantatku ke miliknya yang tegang. Dia membiarkan jari kakiku menyentuh lantai, lalu menyelipkan tangannya di bawah panggulku dan mengangkatku, mendorong bantal ke bawah perutku, sehingga pantatku menjadi lebih tinggi.

Aku nyaris tak bisa menyentuh karpet dengan satu jempol kakiku, setengah menggantung di tempat tidur, tidak aman dan tanpa keseimbangan atau control atas gerakanku. Siwon menggenggam miliknya dan menyenggolkannya di pantatku, menggeser ujungnya di bawah celahku, kemudian turun. Aku melebarkan kakiku, merasakan tangannya mencengkeram pantatku dan menyebarkannya terpisah.

Dia menampar pantatku dengan tangannya, cukup keras hingga menyengat, menyebabkan jeritan terkejut dariku, kemudian dia mencium tempat dia menampar tadi, mengubah jeritanku menjadi erangan. Dia melakukan hal yang sama pada sisi pantatku yang lain, dan kali ini ketika ia menciumnya aku mendorong pinggulku ke arahnya. Dia bergantian menampar dan berciuman sampai aku tak bisa menerimanya lagi, dan tepat pada saat iru ia mengelus kulit pantatku.

Aku memutar pinggulku lagi, permohonan tanpa kata ingin disentuh.

Dia menggeser miliknya ke celahku, berhenti. "Kesempatan terakhir untuk mundur, singa kecilku yang cantik."

Aku menatapnya dari balik bahuku, alis terangkat tinggi dan mata melebar. "Oh Siwon, aku sangat takut."

"Kau seharusnya takut," katanya, bibirnya melengkung dalam keinginan primitif dan humor.

Lalu ia membawa dirinya masuk ke dalam diriku, pelan dan hati-hati seperti yang pertama tadi. Dia membenamkan miliknya ke dalam diriku, mendorong miliknya ke dalam diriku, mendorong miliknya sampai pangkalnya dalam satu gerakan. Aku melengkungkan punggungku dan tersentak, menggigit selimut, dan aku merasakan getaran sudah terjadi. Meskipun pada kenyataannya aku amsih merasakan getaran pada orgasme terakhirku.

Dia meletakkan tangannya ke pantatku, awalnya hanya bergerak beberapa inci masuk dan keluar, dan dengan setiap gerakannya aku terkesiap, mendorong pantatku ke arah dirinya. Dia mencengkeram satu pinggulku dan meningkatkan temponya, sekarang lebih yakin pada dirinya sendiri karena ia tahu aku bisa menerimanya tanpa terbelah menjadi dua. Selusin dorongan kemudian, aku merasakan orgasmeku terbangun dan pinggulku mulai berputar terhadap miliknya, ia bergerak pada setengah kecepatannya sekarang.

Ketika aku mengerang lupa daratan, dia menggapai ke bawah, mencondongkan tubuhnya ke arahku, dan menemukan clitku dengan jari tengahnya, berputar-putar dalam lingkaran lebar.

"Oh Tuhan, Oh Tuhan," teriakku.

Aku orgasme dengan keras. Aku melihat bintang-bintang lagi, dan merasa kenjang di tubuh bagian bawahku. Tapi dia tidak berhenti, dan aku menyadari bahwa dia baru saja mulai. Jarinya masih bergerak di sekitar clit-ku, dan kemaluannya masih menyodok ke dalam diriku, dan aku menjerit dan mengerang di atas selimut, berusaha untuk menggerakkan pinggulku tapi aku tak bisa bergerak karena posisiku tak seimbang dan ogasme terus meroket melandaku, terbangun dan terbangun ke puncak yang lebih tinggi.

Ia mulai mendengus, hembusan napas yang panjang dan serak, dan ia mendorong lebih keras lagi ke arahku, memutar jarinya pada tonjolan basahku bahkan lebih cepat, mengubah orgasme keduaku menjadi klimaks yang liar. Aku orgasme lagi, dan milikku mengetat mencengkeram, menjepit miliknya, kemudian ia klimaks dan semua kendali menghilang.

Dia menghentak ke dalam diriku, dan aku merasakan bolanya menampar dan berdenyut. Klimaksnya seperti banjir panas di dalam diriku, mengisi setiap ruang yang tak tersentuh dirinya dengan cairan kental. Aku orgasme untuk ketiga kalinya dan kemudian aku kehilangan kemampuan untuk menghitung atau berpikir ketika orgasme bergulir satu demi satu, bukan lagi gelombang kenikmatan atau ekstasi tapi suatu badai sensasi yang menderu, orgasme demi orgasme, hanya datang dan datang dan aku bahkan tak bisa untuk merengek, hanya bisa menempelkan bibirku yang terus gemetar di atas selimut yang beraroma bersih dan membiarkan dirinya memperlakukanku sekehendaknya.

Dia membungkuk di atasku sekarang, napasnya terengah-engah di atas rambutku yang masih basah, napas kasar dan putus asa mencari udara. Seluruh tubuhnya gemetar, menjalar ke arahku, denyutan tak terkendali miliknya ke dalam diriku.

"Jika aku orgasme sekali lagi aku pasti mati," bisikku.

"Kalau begitu sebaiknya aku memberimu istirahat, ya?" balas Siwon berbisik.

Dia mengangkat tubuhnya dariku, tapi aku sudah seperti jelly, tak bisa bergerak dan ia harus mengangkatku, membaringkanku di atas tempat tidur.

"Yah, hanya…hanya untuk beberapa menit," kataku.

"Berapa kali kau orgasme?" Siwon bertanya.

Aku menggelengkan kepala, "Aku bahkan tak tahu. Tiga? Setelah tiga aku tak bisa menghitung lagi. Mereka datang begitu berdekatan bersama-sama hingga aku tak bisa bergerak ataupun berpikir."

"Aku tak pernah klimaks sebegitu hebat seumur hidupku," kata Siwon.

"Itulah yang kau bilang terakhir kali."

Siwon menyeringai, "Yah sepertinya ini lebih baik lagi."

T B C

Saya tidak peduli mau reviewnya sedikit dan sidersnya banyak, saya hanya mau berbagi fiksi tentang SICHUL disini. Jadi saya tidak terlalu memusingkan angka review, saya akan tetap menyelesaikan ini.

THANKS TO:

Hyona 21

Rheii Chan maafin atas typonya ya?

Tutup Botol

Cherry

Hani107

Kyuhyun solmet kasih AC sini, kamu kan kyu-xx shipper hahaha :p

Siapaya abis baca yang hot, readernya pada pingsan lupa review kali :P

MAKASIH SEMUANYA