Chapter 2 :

Gara-gara Tahu Sumedang

.

Kira-kira jam sebelas malam, Tenma ditelepon emaknya Fei —Kinako. Kabar buruk si Fei sakit.

"Buruan kemari ya, Ten. Fei muntah-muntah, mules-mules. Baa-san ame Jii-san takut, jangan –jangan dia hamil," kata Kinako.

"Aaah, Kinako baa-san. Masa cowok bisa hamil?

"Kali aja. Abis mulesnya kayak orang ngidam."

"Iya, Kinako baa-san. Tungguin. Bentar lagi saya dateng."

Tenma keluar dan mengunci kamarnya dari keluar, lantas nyari-nyari kunci mobil —coretkakakiparcoret—nya itu. Untung benda te es be tergeletak di meja telepon. Ichinose-nii baru pulang dari Amerika, dan kayaknya udah tidur kecapekan. Aki-nee juga pasti udah bobo. Sampe jam tujuh malem tadi latihan senam bareng Natsumi-san di loteng.

Tenma nggak berani ngetok-ngetok kamar mereka. Tu anak cuma ngirim SMS aja ke Aki. :

Aki-nee, bilangin ke Ichi-nii, mobil dipinjem bentar. Mau ke rumah Fei. Dia sakit parah. Sankyu.

Pelan-pelan Tenma ngedorong mobil sport milik Ichinose keluar dari garasi, dibantu tukang rokok yang biasa dagang nggak jauh dari rumahnya. Abis itu, baru deh mobil diidupin.

Brrmmmmm. Moga-moga aja Ichi-nii dan Aki-nee nggak bangun! bisiknya sambil tancap gas

.

.

.

Setengah jam kemudian, dia udah nyampe di rumah Fei.

"Fei-nya mana, Kinako baa-san?" tanya Tenma ke emaknya Fei yang duduk di ruang tamu sambil baca-baca do'a.

"Di toilet. Dari sore sampe malem gini dia buang-buang air terus."

"Kira-kira udah berapa kali?"

"Sebelas kali!"

"Wah, bahaya! Bisa dehidrasi!"

"Dehi-hi-hidrasi? Apaan seeh?"

"Kekurangan cairan, Kinako baa-san. Kalo orang buang-buang air terus, body—nya bisa kekurangan cairan. Harus banyak dikasih minum."

"Dari tadi udah baa-san kasih minum terus, malah baa-san mandiin segala! Nggak mungkin deh, kekurangan cairan. Sorry ya, biar tinggal di kampung(?), nggak pake PAM, tapi air mah nggak kekurangan!?"

Tenma garuk-garuk kepala. "Asurei jii-san kemana, Kinako baa-san?"

"Nyari tukang urut. Kali Fei masuk angin. Udah dari sih, perginya, kok belum dateng-dateng juga ya? Jangan-jangan die nge-date sama Kuntilanak! Tue bangke gile!" Kinako malah muncul cemburunya.

Fei juga sama. Udah hampir setengah jam, tu kelinci belum juga selesai ngebom.

"Jangan-jangan dia nyemplung ke toilet," duga Kinako. "Lo samperin deh,Ten..."

.

.

.

Tenma pelan-pelan jalan ke bagian belakang rumah yang cuma diterangi lampu lima watt.

"Feiii! Feiii! Udah belooom?" teriak Tenma sambil ngegedor-gedor pintu toilet.

"Beb-beb-beloooommm... Ng... bentar lagi neeeh... tanggung... dikit lagee...!" Terdengar jawaban Fei.

"Susah, ya? Keras, ya?" tanya Tenma kayak dokter aja.

"Ng-ng-nggak... yang keluar malah air doang... Dingin-dingin empuk!"

"Itu namanya mencret!" Tenma cemas. "Keluar darah, nggak?"

"Nggak tau... nggak berani liat. Eh, ada sih, merah-merah, tapi cabe..."

"Makanya makan bakso jangan pedes-pedes!"

"Gu-gu-gue nggak makan bakso. Mungkin gara-gara tahu Sumedang(~what?)."

"Kenapa?"

"Tadi, sore gue diajak Saru beli tahu lima. Eeeh, ta-ta-hu tahunya jatoh semua. Kata Saru jangan suka mubazirin makanan. Jadi, gue cuma makan cabenya doang. Trus, dia bilang, kalo cabenya nggak gue makan, gue rugi sama juga mubazirin makanan..."

"Heh, dasar rakus! Elo tu ya, mau-maunya aja ikut anjuran monyet sesat itu! Cepetan! Kita dokter sekarang juga!"

"Haaaa?!"

Meskipun Fei ngamuk-ngamuk nggak mau dibawa ke dokter. Tenma maksa temennya itu.

"Menurut buku yang pernah gue baca ilmu kedokteran milik Gouenji-san, tentang gejala-gejala elo, gue takut. Jangan-jangan lo komplikasi: kena muntaber, demam berdarah, maag kronis, darah tinggi, asam urat, kolesterol, kreminan, turun bero!"

"Hah!? Banyak banget?" Kinako kaget. "Bawa cepetan! Masa' ntar meninggal gara-gara mules? Malu-maluin!"

*...*

Malam-malam, tepat jam 12, Tenma membawa Fei nyari dokter yang praktik 24 jam. Tenma coba mengingat-ingat lokasi praktik yang doyan begadang itu. Yang terdekat. Kalo nggak ketemu juga, terpaksa deh ke rumah sakit. Masuk gawat darurat.

"Ke mana kita, Ten? Aduh, perut gue nih..." Fei melintir lagi.

"Tahan! Awas lo kalo mencret di mobil abang gue!" ancam Tenma.

Abis muter sana-sini. Tenma akhirnya ngeliat plang praktik dokter 24 jam. Buru-buru dia minggirin mobil, parkir , dan memapah Fei masuk ke tempat pendaftaran pasien. Yang jaga cewek cantik, sendirian, pake seragan putih-putih seperti umumnya penampilan perawat.

"Maaf, silahkan daftar dulu," kata cewek itu dengan sedikit senyum dingin.

Tenma cepet-cepet ngambil bolpoint dan sret-sret-sret menulis nama dan alamat. "Dokternya ada?"

"Sabar, saya telepon dulu..."

"Lho? Emangnya nggak ada dokter jaga?"

Cewek itu tersenyum lagi. "Yang jaga sore, barusan pulang. Nah, dokter gantinya, mestinya sih, udah nyampe. Duduk dulu ya, pasti dateng kok..."

"Tapi temen sya udah kritis!"

"Kenapa, sih?"

"Mules-mules, muntah-muntah!"

"Oh. Nggak apa-apa. Biasa. Kalo mau ke toilet, itu... di sebelah sana!" jawab si perawat sembari masuk ruangan. Mungkin mau menelepon dokter.

Fei meringis-ringis. "Gile juga, mules dibilang nggak apa-apa! Belom tau dia!" Lalu Fei bangkit dari kursi, dan terbungkuk-bungkuk minta dianterin Tenma ke toilet.

"Jangan lama-lama ya," Tenma mengingatkan.

"Tergantung. Gini aja deh. Gue di toilet aja, daripada bolak-balik. Ntar kalo dokternya udah dateng. Lo gedor ajar!" atur Fei.

Tenma balik lagi ke ruang tunggu. Di sana cewek cantik tadi udah muncul lagi. "Dokternya on the way. Kalo nggak ada apa-apa, paling lima belas menit lagi nyampe," katanya. "Emang sih, Dokter Sengoku suka telat. Dia rada males, soalnya belum punya anak istri, hihihi..." perawat itu mencoba bercanda.

"Mmm," Tenma Cuma berdeham. Baru sekali seumur hidup menunggu dua orang sekaligus kayak gini. Nungguin orang mules, sekalian nungguin dokter males.

*...*

Tiba-tiba HP Tenma bunyi. Gawat! Aki-nee nelpon!

"Tenmaaaaa!"

"Ya, Aki-nee. Sori, Nee."

"Sori! Sori! Mobil kamu bawa ke mana?"

"Ngaterin Fei, Nee. Dia sakit parah. Nanti kalo Aki-nee sakit, aku juga bakalan anterin kok. sakit aja buruan, Nee..."

"Nggak, usah bercanda! Cepetan pulang! Ichinose-kun tadi ditelepon harus balik ke Amerika!"

"Iya, Aki-nee, iya..."

"Cepet!"

Abis itu Tenma bingung. Fei belum diapa-apain dokter, tapi mobil harus dibawa pulang karena Ichi-nii perlu. Aduuuh, gimana, nih?"

Lagi bingung-bingungnya, terdengar suara mobil memasuki pelataran parkir. Hm, ini mungkin dokter Sengoku, pikir Tenma. Ganteng sih, tapi agus—agak gundul sedikit.

"Malam, dokter...," angguk Tenma.

"Malam juga. Maaf terlambat, udah nunggu dari tadi?"

"Ah, nggak. Belum dua jam..." jawab Tenma ngasal.

Dokter Sengoku tersenyum. "Silahkan masuk."

"Maaf, Dok. Bukan saya yang sakit. Tapi temen saya yang sakit. Sebentar, saya panggil dulu," Tenma langsung lari ke toilet dan menggedor-gedor pintunya. "Fei, keluar woiii! Dokternya udah dateng!"

Semenit kemudian Fei muncul sambil mengucek-ucek mata. "Sialan, gue ketiduran..."

Tenma memapah lagi sahabat karibnya itu. "Nggak usah ngeluh macem-macem ke dokter. Bilang aja mules-mules, dan langsung minta resepnya. Gue mesti cepet-cepet balik. Ichi-nii perlu mobil malem ini juga!"

Tenma ngaterin Fei sampai ke kamar periksa.

"Buka!" perintah Dokter Sengoku.

"Bu-bu-buka apanya, Dok?" tanya Fei.

"Bajunya!"

Fei rebahan.

"Saya periksa dulu perut kamu ya," jelas Dokter Sengoku sambil nyatelin steteskop ke kupingnya. Lantas, bagian ujung alat itu ditempelin ke tubuh bulet yang terlentang pasrah di depannya.

"Hmmm."

"Kenapa, Dok?" tanya Tenma. "Apakah perutnya perlu dipotong?"

"Waaaaaa!" Fei menjerit. "Masa perut dipotong? Emangnya lontong(?)."

Dokter Sengoku tersenyum. "Ini namanya penyakit perut kebo. Makan banyak, tapi sembarangan. Akibatnya, kuman dan bakteri ngumpul semua di sini."

"Cuma makan tahu doang..." protes Fei.

"Coba saya lihat gigi kamu!" Dokter langsung membuka mulut Fei. "Wuiiihhh, yellow pages banget! Jarang gosok gigi, ya?"

"Bener, Dok. Kulit cabe aja bisa tiga hari nyelip di giginya!" celetuk Tenma.

Kali ini Fei nggak berkutik.

"Kebersihan mulut harus dijaga. Dan, yang nggak kalah penting, omongan kita juga harus dijaga. Jangan ngucapin kata-kata yang nggak bisa menepati. Mulutmu adalah harimaumu!"

Bukannya ngobatin, tu dokter malah sibuk ceramah.

*...*

Tak lama kemudian Dokter Sengoku kembali ke depan meja kerjanya, menulis resep, lantas berteriak, "Kurumadaaa!"

Tenma dan Fei berpandangan. Kurumada?

Dokter Sengoku bangkit, "Punya asisten, kerjanya tidur mulu. Kurumadaa!"

Semenit setelahnya, orang yang dipanggil pria berusia sekitar dua puluh lima tahun, dan matanya keliatan ngantuk banget. Dokter Sengoku menyerahkan selembar resep yang mungkin harus segera diracik obatnya.

"Sebagian obat yang saya tulis di resep bisa ditebus di apatek. Tapi ada obat yang harus diminum sepulang dari sini. Obatnya sedang diracik. Tunggu sebentar ya?" kata Dokter Sengoku.

Tenma dan Fei kembali lagi ke ruang tunggu. Kira-kira lima belas menit, Kurumada muncul dan menyerahkan sebotol kecil obat racikan.

"Pulang dari sini, langsung diminum ya. Satu sendok teh," katanya.

"Mmm, saya nggak punya sendok," kata Fei. "Pake tangan boleh?"

Tenma menyikut pinggang Fei. Malu-maluin aja bilang nggak punya sendok.

"Pake ember aja sekalian!" Kurumada jadi sewot. Sebel mendengar omongan Fei.

"Berapa kali sehari?" tanya Fei.

"Tiga kali. Kalau mulesnya sudah hilang nggak usah diminum lagi."

"Kalo diterusin?"

"Ntar mulesnya pindah ke kepala!"

Tenma inget lagi sama telepon aneki-nya. Makanya buru-buru dia menarik Fei dan menjebloskan anak itu ke jok mobil.

Brrm!

"Wooooiii! Jangan pergi dulu. Belom bayaaaaar!" teriak Kurumada. Namun sayang sekali teriakan bahkan umpatan dari Kurumada tak didengar oleh Tenma. Sebab mobil Tenma sudah lebih dulu meninggal area parkir. Poor Kurumada.

.

.

.

.

*END?*

=RnR=