Chapter 3 :

FACE OFF?!

.

Diam-diam Saru suka ngiri kalo ngebandingin dirinya sama Gillis, terutama soal penampilan. Gillis kelewat ganteng (cieleeiiii...), sementara Saru merasa wajahnya kelewan genting. Mata Gillis bagus, sedangkan mata Saru bagusnya pasa nerima duit buat jajan dari emaknya. Hidung Gillis mancung, alis tebal, bibir tipis. Hidung Saru menceng, alis tebal-tipis, dan bibir menggemaskan *maksudnya, menggemaskan buat para petinju!*

Namanya manusia 'kan nggak pernah puas. Begitu juga Saru. Diam-diam dia suka mikirin gimana caranya supaya penampilannya rada mendingan. Pikiran itu semakin sering melintas di kepalanya, sejak kehidupan sekarang jauh lebih sejahtera. Istilahnya jadi OKB #Orang Kaya Baru#

Makanya diam-diam belakangan ini Saru suka nyuratin Alpha Van Houten, anak profesor yang jenius, kenalannya Gillis waktu Gillis dulu liburan ke El Dorado (Emang nama tempatnya?! Saya baru tahu ._. *plak*). Tentu aja Saru nggak bilang-bilang ke Gillis kalo dia nyuratin Alpha. Ngedapetin alamatnya aja Saru mesti ngumpet-ngumpet, pas main ke kamar Gillis.

Udah dua surat Saru kirim, tapi belum dibales. Sekarang Saru lagi nyiapin surat ketiga. Baca deh...

Hei, Al!

Gue udah nyuratin elo dua kali. Jahat lo, kok nggak dibales? Terus terang aja gue kagum ama kepinteran elo. Nah, makanya gue minta tolong. Lo 'kan tau, wajah gue lumayan berantakan. Gue minta tolong, nih, gimana kek caranya, lo reparasi muka gue. Soal biaya nggak usah takut. Gue sekarang udah jadi orang kaya. Kalo dulu 'kan masih kayak orang.

Kalo elo memang jenius, coba buktiin ke gue. Siapa tau elo bisa operasi plastik. Gue mau deh jadi percobaannya.

Gitu aja deh, Al. Gue mau luluran dulu. Daaaahhhhhhh...!

Saru

.

.

.

Ternyata surat ketiga itu cukup ampuh, sebab dua minggu kemudian Saru mendapat jawaban dari si Alpha.

Sar,

Sorry, gue telat ngebales surat elo, gue lagi sibuk di laboratorium. Kebeneran, gue lagi bikin percobaan buat nyiptain teknik operasi plastik yang lebih sempurna. Hasilnya cukup oke. Kalo elo emang minat, kapan aja lo bisa datang. Catet, nih, alamat praktek gue yang baru. Apartemen Bentol-Bentol, Garuk-Garuk Floor, Omega, El Dorado. NB: Seberang Rumah Sakit Happy Modar.

Gitu aja, Saru Jelek.

Gue tunggu banget. Salam deh buat anak-anak SSC (Second Stage Children) semua.

Alpha Van Houten Yes or No.

.

.

.

Asyiiik! Saru girang banget abis nerima jawaban itu. Tapi kegembiraan itu nggak dia kasih tau ke siapa-siapa. Dia pengen diem-diem aja. Pokoknya ganteng dulu, baru bikin sutrees, eh surprise maksudnya.

Ah, kalo nanti emang berhasil, bakal gue singkirkan Shindou Takuto dan gue rebut Kirino Ranmaru... Saru berkhayal. #Saya tekankan disini nggak bakalan ada pairing SaruRan. Ngebayangin aja ngeri. Apalagi kejadian =.= Fei mau ama dia aja udah lebih dari syukur#

.

.

.

*...*

Suatu hari sepulang sekolah, Saru nekat nyamperin Beta, anak ketua yayasan SMA Protocol Omega 2.0 yang cakep tapi terkenal rada angkuh.

"Bet!" panggil Saru, sambil celingukan kanan-kiri, takut Fei, pacarnya, ngeliat.

Beta menoleh. "Ada apa?" tanya tu cewek datar.

"Ng... anu... elo mau nggak nganterin gue?

"Apa? Ngaterin lo?" Beta bengong.

"I.. iyya."

Beta rada heran. Tapi karena penasaran, Beta nanya lagi, "Kemana?"

Saru diam sebentar. Terus, pelan-pelan dia ngeluarin sebuah majalah dari belakang pinggangnya. "Gue mau daftar ikutan coverboy. Nih, ada pengumumam ama formulirnya.

Beta meraih majalah yang disodorkan Saru. "Elo juga bisa ikutan daftar, Bet. Soalnya tahun ini lombanya dibikin bareng, coverboy ama covergirl," bujuk Saru.

Beta bingung. Nggak salah? Cowok berantakan kayak gini nekat mau ikutan coverboy?!

"Gue bawa mobil kok. Gue udah punya mobil juga loh," kata Saru.

Beta pengen melotot. Abis, nada ucapan Saru norak banget kedengerannya. Emang, sih, akhir-akhir ini Beta sering melihat Saru ke sekolah pake mobil.

"Boleh. Tapi ntar sekalian anterin pulang, ya?" ujar Beta yang kebetulan Megami Athena—nya masuk bengkel. Lagian dia juga mendadak tertarik pengen ikutan lomba covergirl itu. #Beta : Oii itu nama Keshin gue bukan merek mobil. Authornya lage stress#

.

.

.

Di perjalanan, Beta ngacak-ngacak map pendaftaran yang tergeletak di dasbor. Di situ ada sobekan formulir yang udah dikliping.

Nama lengkap : Saryuu Evans

Panggilan : Saru (sehari-hari), monkey (khusus Fei)

Lahir : Fader, Jumat Kliwon 30 Febuari akhir (Ngarang)

Sekolah : SMA Second Stage Children International (Wuiidiih~ sekolahnya keren amat)

Hobi : dipoto tapi jangan dicetak

Idola : manusia purbakala(?)

Makanan Fave : cake banana, pudding banana, banana fried chicken, banana meal, sambel banana es te ra banana

Minuman Fav : ice cream banana, jus banana, banana of water, de el el no banana

Olahraga : SAKKA!

Moto : Sekali berarti, sudah itu mati

"Hihihi," Beta tertawa setelah membaca moto yang ditulis Saru."Pinter juga loe bikin kata-kata mutiara, Sar."

"Itu kan kenyataan."

"Maksudnya..."

"Iya. Dulu kan gue pernah naksir elo. tapi biarpun ditolak, gue nggak putus asa."

"Ih, Saru! Gue denger elo kan jadian sama Fei!" Beta melotot.

"Hehehe," Saru nyengir. "Itu kan dulu..."

"Jangan ngaco, Sar. Gue turun, nih!" ancam Beta.

"Eit, jangan. Iya deh, nggak..."

Saru terus menyetir mobil dondangnya. Tapi dalam hati dia mengacam, "Awas nanti, Bet, kalo gue udah pulang dari El Dorado. Elo pasti mati-matian naksir gue..."

.

.

.

Di depan redaksi majalah remaja Cilukba, Saru memarkir mobilnya. Di sana banyak dipasang spanduk pendaftaran coverboy dan covergirl.

Saru terpaksa nekat masuk sendiri ke ruang pendaftaran, karena Beta mendadak mulas, sehingga mesti ngebom dulu di kamar kecil di lantai dasar

"Cari apa, Om?" Seorang cewek cantik menegur Saru yang celingukan kayak anak ilang.

Sialan, gue dipanggil "om"! maki Saru dalam hati.

"Ng.. ini... saya mau ngedaftar."

"Aduuuuh, maaf. Untuk sementara, kami belum menerima lowongan..."

Muka saru merah. Kesal. "Maksud saya, bukan ngelamar kerja. Sya pengen daftar ikutan coverboy...!"

"Hah?!" Cewek itu tersentak saking kagetnya. Cicak-cicak di dinding ikut melongo begitu mendengar Saru pengen daftar jadi coverboy.

"Mungkin kamu salah." Cewek itu mengibaskan rambut pink-nya, takut kena debu. "Di gedung ini memang ada beberapa kantor redaksi majalah. Semua lagi bikin lomba cover. Mungkin yang kamu maksud lomaba yang bikin tabloid MotorPlus, kali..."

"Lho, emangnya kenapa?" tanya Saru heran.

"Abis idung kamu kayak knalpot, sih..."

Ternyata si Mbak manis yang diketahui bernama Meia itu cuma bercanda. Dengan sikap yang cukup ramah dia menerima formulir isian yang disodorkan Saru.

.

.

.

"Mmmmm... fotonya kok nggak ada? Lupa, ya?" tanya Meia.

"Nggak, Mbak. Emang belum. Saya minta waktu barang sebulan, soalnya foto saya yang terakhir lagi dicetak di Miami Laboratories," jawab Saru. "Bisa kan, mbak?"

"Bisa-bisa," angguk Meia. "Tapi, fotonya harus komplit. Close-up. Ada pengambilannya dari depan, samping, serta dari atas."

"Dari atas?" Saru heran. "Buat apa, mbak?"

"Soalnya gini. Dulu pernah ada biru iklan nyari model buat iklan sampo cowok. Kami ajuin coverboy kami, eh, ternyata dia ditolak."

"Kenapa, mbak?"

"Soalnya, pas dilakukan pemotretan dari atas, coverboy itu banyak pitaknya..."

"Ooooh..."

"Makannya, lomba yang sekarang ini pake persyaratan foto diambil dari atas."

"Saya kayaknya ada pitaknya, deh, mbak. Tapi kecil."

"Kalo kecil, sih, nggak ketara. Nggak apa-apa. Emangnya kenapa sampe pitakan? Ditimpuk gundu ama temen waktu kecil?"

"Bukan. Kena pacul, mbak."

"Hah?!" Meia tersentak lagi saking kagetnya. "Kalo kena pacul, sih, bukan kecil lagi. Itu mah growak!"

.

.

.

*...*

Pesawat Bolang-baling Airlines tinggal landas dari Bandara Fader. Di dalam pesawat, Saru duduk sambil komat-kamit berdoa supaya selamat dalam perjalanan. Padahal gimana mau selamat, perginya aja nggak bilang-bilang sama orang tua?

"Maafin Saryuu, Mak. Saryuu pergi demi perbaikan masa depan Saryuu." Air mata Saru menitik. Ia menyesal nggak pamit sma orang tua dan anak-anak SSC, yang lain. Biarin deh. Kan pengen bikin kejutan.

Seorang pramugrari mendekat. Cewek itu heran saat melihat salah seorang penumpang pesawatnya meneteskan air mata. "Kenapa? Sedih berpisah dengan kekasih?" guraunya.

"Bukan," Saru menggeleng. "Obat kuping saya ketinggalan..."

Pramugari itu tertawa renyah. Biskuittt, kali.

Saru memundurkan sandaran kursinya, lalu berpesan, "Mbak, saya tiduran sebentar. Nanti kalo udah nyampe di El Dorado, bangunin saya, ya?" Metromini, kali, pake dibangunin!

.

.

.

Perjalanan pesawat ke El Dorado itu mengalami beberapa hambatan. Angin bertiup amat kencang, awan tebal menghalangi. Beberapa kali pesawat terpaksa muter-muter menunggu cuaca normal.

"Ada apa, Mbak Pramugari?" tanya Saru yang mendadak terbangun.

"Cuaca buruk."

"Wah, bisa telat dong nyampe di El Dorado-nya."

"Yaaa, terlambat dikit, sih, biasa. Emangnya mau ngapain, sih, kok buru-buru banget ke El Dorado? Bisnis?" Pramugari itu entah kenapa mau berakrab-akrab dengan Saru.

"Nggak ada apa-apa. Main aja. Saya mau ke rumah kenalan saya. Orangnya jenius, loh. Ngetop di El Dorado. Namanya Alpha Van Houten Yes or No, anak profesor Alphabet Van Houten NoYes.

"Ooo."

"Kenapa ooo?"

"Kalo dia, sih, saya kenal," kata Pramugari itu lagi.

"Mbak kenal si Alpha?"

"Iya," jawabnya mantap. "Saya lama menjalani perawatan medis di kliniknya. Terakhir, saya baru aja menjalani operasi plastik. Lagian saya lahir di El Dorado, meskipun mami saya asli orang Semarang(?)."

Saru terdiam.

Jadi si mbak ini pernah menjalani operasi plastik? Wah, hebat! Alangkah cantiknya! Pikir Saru.

"Kenapa Mbak operasi plastik? Mbak kan udah cakep?"

"Kecelakaan pesawat, wajah saya terbakar. Untung ada Alpha V.H.Y.O.N," gumam pramugari itu sembari mengenang peristiwa naas yang dulu menimpanya.

Setelah beberapa menit terdiam, Saru akhirnya mengaku, "Sebenarnya saya juga pengen berobat ke dia, mbak."

"Berobat? Ke Alpha V.H.Y.O.N?"

"Iya, mbak."

"Kamu kan sehat? Sakit apa?"

"Hehehe... sakit jelek, Mbak," jawab Saru polos. "Saya pengen ganteng, Mbak, biar kepilih jadi coverboy. Makanya saya mau ke Alpha buat operasi plastik..."

Mbak itu tertawa. Tapi kemudian berhenti mengamati wajah Saru. "Saya sarankan, sebaiknya jangan operasi, deh."

"Lho, saya kan pengen ganteng. Kok nggak boleh?"

Belum sempat si pramugari menjawab, tiba-tiba pesawat oleng. Terdengar suara gedombrangan. Pasti angin ribut!

"Suara apa itu, Mbak?" tanya Saru kaget.

"Itu... mmm.. kayaknya itu bunyi ember-ember plastik jatuh. Itu pesanan Alpha V.H.Y.O.N."

"Lho, buat apa dia pesen ember, Mbak?"

"Itu sebabnya saya ngelarangan kamu. Si Alpha kekurangan bahan-bahan kimia untuk melakukan praktik operasi plasik. Sebagai gantinya, untuk sementara ini dia mau pake ember plastik bekas..."

Hah?! Saru ngejengkang. Sepertinya menyakit ayan-nya kambuh.

"Menurut yang saya denger, operasi yang menggunakan campuran ember plastik bakalan kurang sempurna. Soalnya, kalo wajah kita kena matahari, bakalan meleleh..."

"Hiyyyy!" Saru bergidik ngeri.

Kampret, nih, si Alpha! Mentang-mentang istilahnya operasi plastik, dia seenaknya pake bahan ember plastik!

Saru bangun dari duduknya. Trus nyari-nyari kopernya.

"Mau ke mana?" tanya pramugari itu bingung.

"Saya turun di sini aja."

"Hah!? Mana bisa? Emangnya metromoni?"

"Biarin! Saya mau lompat aja. Saya nggak jadi, deh, operasi plastik!" teriak Saru sambil terhuyung-huyung menuju pintu pesawat.

.

.

.

Gedebuk! Saru terjatuh.

"Ssh... sialan, ternyata gue cuma ngimpi..."

Saru mengusap-usap kepalnya yang benjol kepentok besi tempat tidur.

.

.

.

*OWARI...*


Wwkwkwkkw seperti biasa, endingnya jelek bukan :v

Sekarang lagi demen banget Saru dinistain... *dor*

Berhubung lagi bangkit dari hiatus... saya nggak mau curhat, ntar dibilang *piiip* *piip* *piiiiiiiiiiiiiiiiiiippppp*

Sekali lagi minna,,,,,, minta RnR nya dong :D