Chapter 4 :

Doll!?

.

Kalo ada lomba anak paling manja di dunia, nggak ada yang bisa ngalahin manjanya si Nizhisono Shinsuke. Umurnya lima tahun, anak tantenya Ibuki, Tante Sakura.

Baru tiga hari ngurusin tu ponakan, kepala Ibuki udah nyut-nyutan. Padahal, rencananya si Shinsuke ini bakal tinggal sekitar tiga minggu, karena mamanya lagi syuting film yang dibuat Hakuryuu (papinya Ibuki). Dalam film horor-fantasi berjudul Tusuk Sate(?) itu, tante Sakura kebagian peran jadi nenek sihir yang baik hati. Dalam salah satu adegan, ada maling motor (red: diperankan oleh Matatagi Hayato) mau dipukulin atau dibakar, Tante Sakura menyulap Matatagi itu jadi artis. Akibatnya, orang-orang yang kalap mau mukulin itu malah berubah jadi minta tanda tangan!

.

.

.

Siang ini, abis pulang sekolah, Ibuki ngeliat si Shinsuke lagi nendang-nendang layar TV.

"E-e-e-eee! Jangan ditendang! Nanti pecah!" larang Ibuki.

"Abis dali tadi kalah mulu. Cebel!" si Shinsuke meninggalkan televisi, lalu membanting Play Station ke lantai. Waaa! Ibuki pucet. Baru kemaren PS itu dibeli oleh Kyousuke, maminya (What the~ =O,O"=) itu. Diperiksanya hati-hati mesin game itu. Untung nggak parah banget. Cuma pecah jadi tiga!

"Liat, nih! PS-nya ancur!" pelotot Ibuki ke si bocah pikachu itu.

"Bialin! Ntal mama beli lagi!"

.

.

.

Iya beli lagi, sih, urusan kecil. Mama dan papanya Shinsuke kan tajir mampus. Tinggal minta sama Om Shindou. Sret! Urusan kelar. Tapi masalahnya itu PS pemberian maminya. Ia takut dipegal sama maminya yang mantan samurai itu. Pernah ia hampir koid gegara ia sama Tenma nggak sengaja mecahin vas bunga kesayangan Kyousuke, waktu bermain sepak bola dibelakang rumahnya. Berhubung Ibuki masih amatiran jadi kiper, maka tendangan Tenma tak terelakan alias ia gagal menangkapnya. Praaang! Bola tadi sukses mengenai vas itu. Kyousuke yang memliki pendengaran yang cukup tajam(?) langsung lari terbirit-birit menuju belakang. Sesampainya, Astaganagabonar jadi 2! Ih! Waw, sesuatu! Ekpresi Kyousuke kala itu.

"Vas kesayangan Gue!" Suara maminya Ibuki meleking.

Gubrak! Meja kayu di depan Ibuki ditinju maminya.

Ibuki gemeteran.

"Maaapin Ibuki Mam. Sory... aye kagak sengaja sumpah.. Mami cantik deh," Ibuki berusaha menge-peace ria disertai rayuan gombalnya, sambil nunjukin wajahnya yang dibuat-buat biar mirip kayak wajah papinya. Ya... siapa tahu hati maminya luluh melihat wajah Hakuryuu, suaminya yang belum pulang setelah 3 kali puasa dan 3 kali lebaran (?). Maklum sebagai sutradara kerjaaan di lokasi syuting mulu bisa dari pagi sampe ketemu pagi lagi. Jadi kumpul bareng keluarga itu hal yang sangat langka bagi keluarga besar Hakuryuu yang damai nan sentosa(?).

Awalnya Kyoukuse luluh ngeliat putra kesayangan satu-satunya itu yang memang mirip banget sama suaminya. Mulai dari kuncupnya sampai postur tubuhnya. Bedanya, sih, kalo suaminya itu ada rambut kerintingnya! Jadi kangen DX batin Tsurugi bungsu.

Ungg~ seperti lagu Bang Toyib ya. Bang Kuncup, bang Kuncup, mengapa tak pulang-pulang? Neng Tsurugi, neng Tsurugi, panggil-panggil Kuncupmu.

Sadar akan jebakan Ibuki ngebuat dia luluh, Kyousuke pura-pura terharu dan masuk ke dalam. Ibuki langsung berjingkrak sambil goyang dompret(?) ia pikir kalo acting-nya sangat menyakinkan. Tenma yang sebenarnya-pelaku-pemecahan-vas, mulai H2C (Harap-Harap Cemas) soalnya nggak kayak biasanya mami temennya itu langsung terhasut oleh anaknya sendiri yang memiliki IQ dibawah rata-rata *idiot*#plak#

"Eh... sepertinya... a-aku pulang saja. Salam buat Mamimu ya Ibuki. Jaa~" Dengan langkah soyokaze step-nya Tenma udah berada di luar pagar rumah Ibuki. Belum sempat Ibuki ngebalesnya eh... udah main pergi saja... Ibuki-pun mulai bersenandung sembari mengiringi kepergiaan Tenma. "Seperti hantu... kau datang dan hilang dibenakku... Oh seperti hantu..."

.

.

"Adowwww..." Tiba-tiba Ibuki kesakitan. Ia mengusap-usap kepalanya yang sepertinya kena slepetan kelereng. Ia tengok ke belakang.

Deg! Alangkah kagetnya ternyata pelaku peslepetan adalah maminya sendiri.

"Anak nggak tau diuntung! Gue udah bilang kan jangan main bola di halaman belakang! Ini udah ke-99 kali, loe mecahin vas bunga kesayangan mami. Itu aja belom dibayar masih kredit tau!" Ibuki langsung ambil langkah seribu, sepertinya mood maminya itu benar-benar buruk.

"HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAA! SOMEONE HELP~!" jerit Ibuki sejadi-jadinya. Soalnya maminya bukan hanya melemparinya kelereng, tapi golok, clurit, pacul, tang, dan benda–benda tajam lainnya.

JREB! JREB! JREB! TRANG! TRANG! TRANG!

"GYAAA~! AMPYUUN MAM!" teriak Ibuki sambil melindungi diri dengan wajan yang entah darimana asalnya.

"!"

...

Pada akhirnya Ibuki dan Kyousuke main kejar-kejaran mengelilingi halaman sampai adzan Shubuh berkumandang(?).

~Poor Ibuki

.

.

"Ayo cuci kaki sana! Bobo siang!" bentak Ibuki.

"Waaa! Monyet aja siang-siang nggak ada yang bobo!" Si Shinsuke nangis guling-gulingan di lantai. Ibuki kelimpungan. Buru-buru dia membujuk keponakannya itu supaya diem.

"Cep-cep-cep! Jangan nangis! Ntar kakak beliin permen!"

"Nggak mau!" jawab si Shinsuke sambil menimpuk kepala Ibuki pake bantal.

"Husss! Jangan nangis keras-keras!"

"Kalo pelan namanya bisik-bisik, tauuu!"

Ibuki garuk-garuk kepala. "Ya udah, kalo mau main PS lagi, kita ke rental aja. Mau?"

Si Shinsuke langsung diem.

Terpaksa deh sampe jam empat sore Ibuki menemani keponakannya itu main PS di tempat rental yang ada di ujung kompleks. Dasar banyak maunya, bosen main PS, si Shinsuke ngajak jalan-jalan ke Mall. "Beliin boneka, ya?" pintanya.

"Anak laik kok minta boneka? Malu dong!"

"Aaaa, nggak mau! Kalo nggak dibeliin, ntal Shuke~ lompat ke got nih!"

"Lompat aja kalo berani!" jawab Ibuki cuek.

Bener aja! Tanpa sempat dicegah, si anak pikachu itu melompat ke got di depannya. Untung kaki duluan yang nyemplung coba kalo kepalanya?!

"Kamu, tuh, kebangetan ya?!" teriak Ibuki sembari mengangkat keponakannya yang udah berlepotan kotoran.

"Siapa takut?" jawab Shinsuke sambil cengar-cengir di dalam gendongan Ibuki.

Setelah membersihkan si Shinsuke dan menganti pakaiannya, Ibuki mencegat taksi.

"Nggak mau naek taksi! Naek pecawat bial cepet!" kata Shinsuke.

"Mall-nya kan deket, masa naek pesawat?"

"Nggak mau! Kalo nggak naek pecawat, Suke ke got lagi, nih!"

Ibuki bingung. "Oke, oke. Tapi pesawat terbangnya lagi mogok. Naek pesawat lain aja, ya?"

"Pecawat apaan?"

Ibuki mikir. Lama-lama bisa gila, nih, gue, pikirnya. "Naek pesawat telepon, mau?"

Si Shinsuke lompat-lompat kegirangan. "Mau! Mau! Aciiik!"

Sial! Kenapa juga gue ngusulin pesawat telepon? Ibuki menepuk jidatnya yang berlampis headband kesayangannya itu. Tapi, karena sayang keponakan, terpaksa deh Ibuki rela gila. Dia copot pesawat telepon rumahnya, lantas dia selipin di sela-sela paha si Shinsuke.

"Ayo naeeek!"

"Aciiikk!" teriak Shinsuke sambil melompat-lompat kayak naik kuda-kudaan.

Poor telepon~

.

.

.

Jam lima sore, Ibuki dan keponakannya itu tiba di Mall Raimon Center. Dia langsung mencari toko boneka. Tapi, udah sejam ngubek-ngubek di toko itu, nggak ada satu boneka pun yang dipilih Shinsuke.

"Tadi minta boneka!" bentak Ibuki mulai nggak sabaran.

"I-iya. Ta-ta-tapi nggak ada yang bagus," si Shinsuke kumat lagi cengengnya. "Nggak ada boneka yang bica ngomong..."

"Boneka bisa ngomong?!" pelotot Ibuki. "Mana ada boneka yang bisa ngomong?!"

"Nggak mau tau! Suke~ mau boneka yang bica ngomong! Huuu..."

Ibuki bener-bener gemeesssss. Dicubitnya paha keponakannya itu. Akibatnya, tangis si Shinsuke tambah keras! Dan, seperti biasa, kalo udah nangis keras-keras begitu, Ibuki sendiri yang kebingungan!

"Ssst, udah, jangan nangis. Kita cari lagi di toko lain," bujuk Ibuki.

"Tapi yang bisa ngomong, ya?" harap si Shinsuke sambil mengusap ingusnya yang meler.

.

.

.

Sampai jam sembilan malam, toko-toko udah siap-siap tutup, Ibuki ngajak keponakannya keliling-keliling. Ibuki emang udah yakin, boneka yang bisa ngomong, yang bisa diajak ngobrol, jarang yang jual. Ibuki sengaja muter-muter aja, biar si Shinsuke capek dan minta pulang. Syukur-syukur tidur, tinggal dibopong aja masuk taksi.

Tapi bukannya capek dan ngantuk, mata si Shinsuke malah keliatan tambah seger.

"Mana, Kak, toko bonekanya?" tanya tu anak mulai kesel.

Ibuki bingung. "Kakak, pipis dulu, kamu tunggu di sini sebentar ya?"

"Awas, jangan ngilang!" ancam si Shinsuke (A/N : eh? Bukannya kebalik ya?!)

"Kalo lama pipisnya, ntal Suke~ lompat ke got nih!"

Di toilet, Ibuki mengeluarkan HP-nya dan mengontak temannya yang bulet imut, Kabeyama.

"Lo sekarang juga ke rumah gue deh. Gue ada masalah nih."

"Masalah apaan?" sahut Kabeyama. "Gue udah tiga hari nggak enak badan. Nggak bisa ke mana-mana."

"Ntar aja gue ceritain, pokoknya lo harus ke rumah gue, tungguin aja di paviliun sampe gue dateng. Lo mesti nolongin gue. Ini masalah serius!" ancem Ibuki.

"Lo di mana?" tanya Kabeyama.

"Gue lagi di Mall sama keponakan gue."

"Keponakan? Keponakan yang mana? Gue belum tau."

"Ntar juga lo tau! Buruan deh jalan!"

"Okeeee!"

Sehabis mengontak sobatnya itu, Ibuki buru-buru keluar toilet dan menarik si Shinsuke keluar Mall.

"Bonekanya mana?" si Shinsuke berontak.

"Boneka yang bisa ngomomg di sini belom ada yang jual. Kakak udah telepon ke luar negeri. Boneka yang kamu mau, udah dikirim malem ini juga. Pokoknya tenang aja, sekarang kita pulang. Oceee?"

"Oceee!" si Shinsuke melompat-lompat kegirangan mendengar penjelasan Ibuki.

.

.

.

Mungkin, karena kecapekan, di dalam taksi si Shinsuke tertidur. Ibuki lega. Dulu, waktu gue seumur dia, apakah tingkah gue juga kayak gini? Tanya Ibuki dalam hati sambil memandang wajah bersih dan polos(?) di depannya.

Taksi pun tiba di rumah. Ibuki pelan-pelan membopong keponakannya masuk rumah. Ada sepasang sandal butut. Berarti Kabeyama udah dateng. Mobil Papi sama Mami belom keliatan. Berarti mereka belum pada pulang.

"Tante Sakura udah pulang, Bi?" tanya Ibuki ke Bi Morimura, pembantu di rumahnya.

"Belom. Tadi dia nelepon, katanya syutingnya sampe pagi," jawab Bi Morimura sambil ganti menggendong(?) Shinsuke masuk ke kamar tidur.

"Pelan-pelan, Bi, jangan sampe bangun," pesen Ibuki.

Di paviliun, udah ada Kabeyama yang keliatan cemas dan langsung nanya, "Ada masalah apaan? Susah buang air besar?"

Ibuku nggak langsung jawab. Dia minum dulu, duduk, narik napas, lalu, "Ponakan gue bikin pusing," katanya. Lantas bla-bla-bla dia nyeritain lengkap soal si Shinsuke dan kelakuan-nya selama tiga hari ini.

"Hahahhahaha!" Kabeyama ketawa ngakak dan keras banget. "Baru segitu aja lo pusing. Nikmati aja!"

"Nikmati apaan?"

"Hal-hal yang seperti ini, nggak semua orang ngalamin. Lo beruntung punya ponakan macem dia. Lo nikmati aja. Jalanin aja. Lagian, mau manja dan bengal kayak apa juga, dia kan anak kecil. Emang lagi masanya. Kalo yang kayak gitu dipusingin, gue mestinya lebih pusing dari elo!"

"Emangnya lo kenapa?"

"Lo tau kan kakek gue? Sama! Kalo manusia udah tua, tingkahnya juga kayak anak kecil. Pipis dianterin, makan disuapin, beol dicebokin... lebih repot!"

Tiba-tiba...

"Waaaaa! Waaa! Waaaa!"

Ibuki melotot. Itu suara si Shinsuke!

"Ponakan gue bangun." Ibuki bangkit, keluar dari Paviliun, dan pontang-panting menuju kamar tempat si Shinsuke bobo. Di ranjangnya, si bocah pikachu itu guling-gulingan.

"Kakak bohong! Mana bonekanya? Waaaa! Huuuuu! Mana ael panassssss?!"

Ibuki memeluk keponakannya itu. "Cup-cup-cup. Jangan nangis. Bonekanya udah dateng, kok. Sebentar Kakak ambil, ya?"

"Mana? Buruan! Ntal Suke..."

"Huss, jangan sembarangan sama aer panas!"

"Emang kenapa? Olang Suke minta dibikinin cucu!"

Bi Morimura muncul dan menjaga si Shinsuke.

Ibuki balik lagi ke paviliun dan memohon-mohon ke Kabeyama. "Tadi kan lo bilang nikmati aja. Sekarang lo buktiin omongan lo."

Kabeyama melongo.

"Shinsuke masih nuntut boneka yang gue janjiin. Yang bisa ngomong..." Ibuki garuk-garuk kepala. "Lo bisa kan, malem ini aja, pura-pura jadi boneka?"

"Apaan? Jadi boneka? Gila apa!" Kabeyama melotot.

"Malem ini doang. Besok dia pulang kok," terpaksa deh Ibuki bohong.

Kabeyama menarik napas. Sebel. Mentang-mentang gue bulat dan lucu(?), disuruh jadi boneka, gerutunya dalam hati. Kejaaaam!

"Waaa! Waaa! Waaa!" tangisan si Shinsuke makin menggelegar. Kabeyama jadi kasihan. Akhirnya dia bersedia pura-pura jadi boneka. Mulutnya yang kayak ikan kakap itu disumpel dot sama Ibuki. Mukanya dibedakin.

"Biar keliatan tambah lucu, lo pake rok ya?"

"Sekalian aja punggung gue ditancepin batere, biar jadi boneka beneran!" semprot Kabeyama.

.

.

.

Memangku Kabeyama merupakan siksaan bagi Ibuki. Tapi bagi keponakan, Ibuki rela terbungkuk-bungkuk membopong si bundar itu menuju kamar Shinsuke.

"Naaah, ini bonekanya!" kata Ibuki sembari melempar tubuh Kabeyama ke ranjang.

"Allloooo...!" Shinsuke membelai-belai muka Kabeyama. "Idiih, lucu, nama kamu siapa?"

"Arnold," jawab Kabeyama asal.

"Holeee, bonekanya bisa ngomong! Acik, nih, bica buat culhat!"

"Hehehehe, hehehehe...," Kabeyama tertawa.

"Holeee, bonekanya bica ketawa!" Shinsuke tambah kesenengan. "Udah cana! Bonekanya buat Suke." Anak kecil itu mengusir Ibuki dari kamarnya. "Eh, Kak, kalo batelenya ntal abis, bonekanya disetlum aja ya?"

"Boleh, boleh. Boleh bangettt!"

Kabeyama melotot.

"Alnold tau nggak, mi apa yang boleh dijual?" tanya Shinsuke ke bonekanya.

Kabeyama begong.

"Mi lasa tai ayam weeee!" Shinsuke tertawa geli. "Ada lagi nih tebakannya. Lele apa yang kalo dipijit idup, ditalo malah mati?"

"Lele manja!" jawab Kabeyama sekenanya.

"Ih, calaaah. Lelepon umum, begoo!" jawab si Shinsuke sambil menggetok kepala bonekanya pake garisan.

Ibuki tersenyum dan keluar, lalu menutup pintu. Dari luar, dia mencoba menguping apa yang dilakukan Shinsuke terhadap boneka barunya. Eh, malah sepi. Nggak kedengeran apa-apa.

Tapi, kira-kira lima belas menit kemudian, Ibuki kaget. Terdengar suara gedebak-gedebuk. Nggak lama kemudian, Kabeyama terhuyung-huyung keluar dari kamar, sambil mengacak-acak rambutnya yang basah.

"Ponakan lo gila! Abis main kuda-kudaan, kepala gue dipipisin!" teriak Kabeyama.

Ibuki ketawa ngakak sampai matanya berair.

"Nikmati aja, gitu loh!"

.

.

.

.

.

END...?