Chapter 5 :
Welcome Back Yuuichi
.
Seorang pemuda berusia sembilan belas tahun berjalan dengan langkah mantap melewati gerbang sebuah komplek perumahan yang terbuka lebar, tubuh tegapnya yang dibalut kemeja putih lengan pendek kini berpeluh. Tapi hal itu tidak mengurangi pesonanya sama sekali, terbukti para wanita —dan beberapa pria yang diragukan orientasi seksualnya— selalu memandangnya dengan tatapan kagum. Rambut navy jabriknnya yang rapi (?), matanya yang secoklat madu menatap sebuah rumah dari kejauhan dengan tatapan rindu. Langkahnya terhenti sejenak, seulas senyum terlukis di bibirnya, senyuman tulus seperti biasa dari dasar lubuk hatinya, senyum yang jarang sekali ia pertontonkan pada perawat-perawat dan dokter rumah sakit yang dulu merawatnya. Mungkin kerinduan yang terpendamlah yang menimbulkan senyum tulus bak malaikat jatuh dari surga itu di wajahnya.
'Ayah, Ibu, anakmu pulang.' Batin Yuuichi dengan mata berkaca-kaca
"Maaf mas, salesman dilarang masuk."
"Wuanjrit, gue bukan salesman!"
.
.
.
.
.
"DEMI KOLOR LOPE-LOPE MILIK SEITEI~! Gue baru enam tahun gak pulang dan lo udah lupa sama gue? Emangnya lo dulu tiap minjem duit sama siapa hah?"
Yuuichi kini misuh-misuh di depan pos jaga, yah karena insiden "disangka salesman" tadi mengacaukan suasana hatinya. Hilang sudah aura-aura rindu rumah dan bayangan kamar miliknya yang dulu ia tinggalkan, yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana cara menelan kepala satpam kurang ajar ini bulat bulat.
"Sorry Yuu, gue kira lo itu salesman, lagian dandanan lo gitu sih, bawa bawa tas gede lagi."
Gamma, satpam berusia sebaya dengannya, yang selalu membangga-banggakan rambut sapu ijuknya itu agak ciut nyalinya melihat kemarahan sang Tsurugi sulung. Bukan karena dirinya seorang penakut, Hey! Ini Yuuichi bung! Yuuichi yang sewaktu kelas 6 SD dulu selalu menggelar pertunjukan kuda lumping setiap kali dirinya marah atau moodnya sedang kurang baik —yang tentu saja di dukung oleh Gamma untuk mencari penghasilan tambahan—. Saat usia belasan tahun saja ia sudah mampu menelan belasan, atau mungkin puluhan benda tajam bulat bulat tanpa terluka sedikitpun! Sekarang? Jangan tanya, siapa tahu ilmunya sudah berkembang pesat, seperti menelan seseorang bulat-bulat mungkin? Oh, membayangkannya saja sudah membuat tubuh Gamma merinding.
"Salesman palelu ijuk! Udah ah, gue balik dulu."
Tanpa banyak kata lagi Yuuichi berbalik meninggalkan pos jaga tersebut, tujuannya hanya satu. Pulang ke rumah lalu tidur, perjalanan delapan jam dari Amerika-Raimon sudah membuatnya lelah, belum lagi insiden penyambutan dari Gamma yang sangat tidak elit sekali. Padahal seharusnya kan dirinya disambut dengan karpet merah dan para tetangga melemparkan bunga sambil mengelu-elukan dirinya. Bukan, berniat narsis atau terlalu percaya diri, tapi hal itulah yang dijanjikan Kyousuke kepadanya kemarin. Dan satu hal yang paling dia ingat dari adik kecilnya adalah, Kyousuke selalu menepati janjinya.
.
.
.
.
"Jadi, Nii-san serius pulang besok?"
Yuuichi menjauhkan telinganya sedikit dari telepon genggamnya. Rupanya Tsurugi bungsu satu itu benar benar merindukan kakaknya yang oh-so-awesome- ini.
"Iya Kyousuke, jangan lupa adakan acara penyambutan ya, hahahahaha."
"Oke Nii-san! Semua akan 'Suke siapkan!"
Sebenarnya sih niat bercanda, tapi sepertinya Kyousuke menganggap semua dengan serius, Yuuichi hanya bisa tersenyum tipis, eh? Atau itu seringai jahil?
"Serius ya Kyousuke, Nii-san minta ada karpet merah dan bunga bunga bertaburan lalu semua tetangga keluar dan mengelu-elukan namaku, kalau tidak seperti itu awas saja! Nii-san tak mau lagi jadi kakakmu!"
"Ngg, Nii-sani itu sulit sekali buat 'Suke, 'Suke kan masih 1 SMP."
"Loh, tadi katanya bakal siapin semuanya, yasudah Nii-san ga jadi pulang, 'Suke bukan adik Nii-san lagi."
Sedikit menggoda adik kecilmu tidak salah kan? Kecuali adikmu adalah orang yang terbiasa serius sedari kecil dan selalu menuruti kehendak kakaknya.
"Iya, iya nanti 'Suke siapin semuanya yang Nii-san minta, nih Okaa-san mau ngomong sama Nii-san"
Dan perbincanganpun beralih antara Yuuichi dan Ibundanya tercinta.
.
.
.
.
Yuuichi tersenyum tipis, rupanya ada sesuatu yang tidak bisa adiknya lakukan, lagipula, anak SMP mana yang mampu menyiapkan semua permintaan Yuuichi dalam satu hari? Bahkan seorang EO (Event Organizer) saja butuh waktu setidaknya satu minggu untuk mempersiapkan semua itu. Alih-alih memikirkan betapa murungnya Kyousuke karena tidak mampu menyediakan permintaan anehnya, Yuuichi malah memikirkan hukuman apa yang cocok untuk adiknya itu.
'Jadi pembantu selama satu minggu? Hmm, rasanya cocok'
'Atau jadi pesuruh, atau budak, ah bingung! Semuanya bagus! Atau gue jadikan dia umpan untuk menggaet gadis gadis yang biasa berkumpul di taman? Ah tanpa Kyousuke pun gue mampu menggaet mereka semua, secara pesona gue terlalu awesome untuk ditolak, ah! Hukum rajam! Ya hukum rajam cocok untuk Kyousuke!'
Ambil kata sadistic, tambahkan kalimat narcisizme syndrome campurkan bahan-bahan yang telah kita siapkan tadi ke dalam adonan lalu aduk secara merata, tambahkan gula secukupnya, lalu panaskan di oven, tunggu sekitar 30 menit, Tara! Jadilah penyakit kejiwaan baru yang bernama Yuuichi's Syndrome.
'ssrrrrt'
Tiba tiba Yuuichi dikagetkan oleh gulungan karpet yang muncul dari arah rumahnya dan membuka tepat di hadapan sang pemilik rambut jabrik itu, lagi-lagi senyum tipis mengembang di wajahnya,
"Rupanya Kyousuke menyiapkan kejutan ya?" Bisik Yuuichi pada dirinya sendiri, dengan langkah mantap Yuuichi menapaki karpet merah tersebut. Dan suasananya komplek yang tadinya sepi berubah ramai, seluruh warga berkumpul untuk bersorak menebarkan bunga pada sang Tsurugi sulung.
'Ah, perasaanku, seperti menjadi pahlawan yang baru pulang dari medan perang, disambut oleh karpet merah disambut bunga-bunga, adikku memang adik yang hebat.' batin Yuuichi senang, sampai saat Yuuichi mulai memperhatikan bunga apa yang dilempar oleh para warga komplek tersebut.
'Cempaka, Kantil, Melati, Sedap Malam, Hey! Inikan bunga 7 rupa! Emangnya gue mayit apa, dan jangan bilang kalo. . .'
Langkah Yuuichi terhenti sejenak, diamatinya karpet yang sedari tadi diinjak olehnya. Karpet merah, berpola sebuah bangunan yang memiliki kubah terpampang jelas di hadapannya.
'Asem, ini kan karpet mushola.'
Dan teriakan teriakan warga yang menggemakan namanya kini baru terdengar jelas di telinga Yuuichi, sepertinya euphoria barusan sempat membuat telinganya agak sedikit tuli.
"Elu Yuuichiii!"
"Elu Yuuichii!"
"Elu Yuuichii!"
"Nii-san!"
Entah sejak kapan Kyousuke berada di samping Yuuichi, bocah yang mirip menyerupai dirinya —kecuali untuk bagian rambut tentu saja— mulai mengatupkan tiga jarinya yang terbuka satu per-satu.
"karpet merah, ada, bunga, ada, warga yang mengelu-elukan nama Nii-san, ada. Sip! Lengkap semua permintaan Nii-san, 'Suke adik yang hebat kan kak?" ujar bocah itu dengan senyuman polos yang mengembang di wajahnya, mau tak mau Yuuichi ikut mengembangkan senyumnya, bagaimanapun juga ini permintaan Yuuichi kan? Jangan salahkan Kyousuke yang salah tanggap akan permintaan anehnya.
"Iya, 'Suke memang adik Nii-san yang paling hebat, sekarang masuk duluan gih, bilang sama Okaa-san dan Otou-san Nii-san agak telat." ucap Yuuichi sambil mengelus rambut adik kesayangannya tersebut, Kyousuke yang paham akan maksud kakaknya pun langsung berlari riang menuju rumahnya, dan menutup pintu serta jendela rapat rapat.
"Huhh, masih sama seperti dulu ya, makhluk makhluk ini." kata Yuuichi entah pada siapa,
"Elu Yuuichiii!"
"Elu Yuuichii!"
Segerombolan warga yang sedari tadi mengelu-elukan —dalam arti harafiah— nama Yuuichi pun masih dengan semangat berteriak, seakan akan memancing kemarahan sang Tsurugi sulung tersebut.
Yuuichi memejamkan matanya sejenak, mencoba mengontrol emosinya, tarik napas-embuskan, tarik napas lagi-embuskan.
"Elu Yuuichii!"
"Aaaaargh, iye gue YUUICHI! Sekarang bubaaaaaaaaaarrrr!"
Kontrol emosi yang buruk.
.
.
.
.
.
"Hah-hah-hah!"
Yuuichi terengah-engah, saat ini dirinya berada di halaman belakang kediaman Tsurugi, kemejanya sudah terlepas entah kemana, tubuhnya sudah tak tertutupi oleh sehelai benangpun. Sedangkan Kyousuke hanya mampu menatap kakaknya dengan tatapan memohon.
"Nii-san. . ."
"Sebentar Kyousuke, Nii-san dikit lagi selesai."
Tubuh Yuuichi berguncang maju-mundur dengan cepat, Kyousuke pun hanya bisa terdiam melihat wajah Nii-sannya yang kini dibasahi oleh keringat, setitik air mata mengalir dari wajah polosnya melihat apa yang dilakukan oleh kakanya sekarang.
"Akhirnyaa, 'Suke, cepat ambil selang!"
Yuuichi berujar dengan nada lega dan tersirat sedikit nada kelelahan di dalamnya, hei! Delapan jam perjalanan Amerika-Raimon ditambah kejadian yang sangat memalukan barusan saja sudah membuatnya lelah, dan sekarang Yuuichi masih harus mencuci karpet mushola yang tadi ia injak-injak. Bayangkan betapa lelahnya Yuuichi sekarang,
"Nii-san, maafin 'Suke. . ."
Tubuh kecil nan ramping itu kini merapatkan diri pada Yuuichi yang sedang membersihkan sisa-sisa busa yang menempel pada karpet. Tangan kecilnya memeluk Yuuichi dengan erat.
"Ga-ga-gara-gara Kyousuke, N-Nii-san ja-jadi dihukum, huwaaaa!"
Air mata yang sedari tadi dibendungnya pun kini tumpah, tak mampu lagi menahan kesedihan melihat derita sang kakak, bocah kecil itupun menangis tersedu-sedu. Yuuichi yang melihat hal inipun mengusap kepala adiknya dengan lembut, melepaskan diri dari pelukan sang adik lalu merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan sang adik, senyum lembutpun terukir di wajah gantengnya itu.
"Bukan salah 'Suke kok, kan Nii-san yang minta, jadi ini salah Nii-san juga, 'Suke ga salah kok." ujar Yuuichi lembut masih sambil mengusap kepala adik satu satunya tersebut.
"Ja-jadi a-Nii-san gak marah?" tanya Kyousuke takut-takut
"Enggak."
"Ja-Jadi Nii-san masih mau jadi kakak 'Suke kan?"
Yuuichi hanya bisa tertawa mendengarkan pertanyaan polos dari Kyousuke, tangannya mengacak pelan rambut —yang menyerupai buntut— milik Kyousuke.
"Nggak kok, Nii-san gak marah. Sekarang 'Suke masuk gih, Nii-san mau jemur karpet dulu, sekalian tolong buatin Nii-san es teh ya?"
Kyousuke mengangguk pelan, tapi masih belum berajak dari tempatnya berdiri.
"Kenapa lagi 'Suke?"
"Nggg, tehnya pakai gula gak?" tanya Kyousuke polos, seringai jahil kini terukir lagi di wajah Yuuichi.
"Nggak, pake madu, minta sama om Hibiki, sekalian suruh si Gamma yang anterin pake kostum ranger pink ditambah iring iringan warga komplek yang teriak 'orang gila'."
Wajah Kyousuke tampak berpikir sejenak, sejurus kemudian kepalanya mengangguk mantap, dan tubuh kecil itupun menghilang dibalik pintu. Dan Yuuichipun kembali berkutat dengan karpet tercintanya.
.
.
.
.
.
"Ibu, Kyousuke dimana?" tanya Yuuichi sambil menggosok rambutnya dengan handuk, ia tidak melihat Kyousuke semenjak pekerjaannya sebagai tukang cuci karpet selesai.
"Ibu juga gak tahu, tadi adikmu keluar sambil membawa gelas, katanya sih mau ke tempat om Hibiki." jawab nyonya Tsurugi sambil menyeruput teh hangatnya, majalah yang sedari tadi di tangannya terjatuh seketika saat mendengar teriakan dari luar rumahnya.
"Orang gilaa."
"Orang gilaa."
"Bu, Yuuichi keluar sebentar ya?"
Nyonya Tsurugi hanya mengangguk kecil lalu berjalan menuju jendela depan rumahnya, mata Nyonya Tsurugi terbelalak saat ia mengintip dari jendela rumahnya, sekarang halaman depan kediaman Tsurugi dipenuhi oleh banyak orang, mulai dari ibu-ibu sampai anak-anak, dan anehnya lagi disana ada sesosok makhluk dengan kostum ranger pink sedang memberikan segelas teh pada Yuuichi!
.
.
.
.
.
OWARI...
OMAKE
"Kerja bagus Kyousuke!"
Yuuichi berujar pada Kyousuke sambil menepuk kepala bocah tersebut, sedangkan sang bocah hanya tersenyum menampilkan barisan giginya yang rapi.
"Nii-san masih heran, bagimana sih caramu membujuk mereka?"
Kyousuke menunduk sejenak lalu menatap Yuuichi dengan tatapan memelas.
"Nii-san, gendong!"
Yuuichi yang melihat tatapan adik semata wayangnya pun hanya mampu mengiyakan permintaan Kyousuke, walau tubuhnya kini terasa hancur remuk luluh lantak bagaikan rumah yang baru saja tersapu tsunami, tapi tatapan Kyousuke benar benar membuatnya merasa iba dan tidak tega. So, tidak ada yang mampu menolak tatapan —anak-kucing-minta-dipungut—milik Kyousuke kan?
.
.
.
Welcome back Yuuichi; Selamat datang kembali Yuuichi... Fic menyambut Episode 19 InaGyara. Akhirnya nii-san tercintahh~ kita balik lagi Yey~! \^0^/ *sujud ke mbah Level-5*
Nii-san udah pake tongkat... *tambahin receh (?)* Ugh... pengen cepet-cepet Yuuichi bisa jalan n bisa masuk jadi pemain SIJ (?). Hey! Berangan-angan.. boleh kan (=3=/)
Oh... ya disini Yuuichi sama Tsurugi dibikin OOCness —OCC ngenes— terutama; khususon; actually Tsurugi. Ayolah sebagai seorang adik, mana nggak seneng kalo kakak tersayangnya pulang dan bisa berjalan lagi. Hm...?!
Aku pikir kalian setuju hehehe...
Err~ kalo dipikir-pikir Kyousuke memang dibuat terlalu childish... hm ya sudahlah (?) namanya juga FanFiction, hal yang mustahil menjadi unmustahil (?) bukan.
Trus yang tadi ada ke-rate-rate M.. hayo yang tadi berpikiran mesum (*slapped*).. tenang-tenang masih aman kok.. ya masih...
.
Yosh... sekian dari saia, saia harap yang baca dan yang dibacakan, mengulurkan waktu sejenak untuk menegok kotak mungil review dibawah ini (?). ^^/
Anggap aja bentuk demo kalian buat fic ini.. OK!
Jaa... matane.. =n,n=
