Chapter 6 :

Sepenggal Kisah Tsurugi Bersaudara

.

"Kyousuke! Cepat, nak, kita mau berangkat sebentar lagi," teriak nyonya Tsurugi dari luar rumah, memanggil-manggil anak bungsunya yang masih berkutat dengan komputer miliknya di dalam kamar pribadinya itu.

"Iya, Ma!" sahut Kyousuke dari dalam kamarnya. Pemuda itu kini tengah memeluk CPU dan monitornya. "I'll miss you forever, Kuro-chan!" ucapnya pada komputernya. "Selamat tinggal komputer, hardware, dan software-nya yang telah menemaniku selama penyakit insomniaku kambuh."—salah, yang benar komputer, hardware, dan software yang 'membuat' insomnianya kambuh.

Kyousuke langsung beranjak mengambil tas Eager-nya yang biasanya dipakai untuk para marketing dan memasukkan beberapa barang penting ke dalamnya. Dimasukkannya laptop —yang dinamakannya Lancelot-chan (?)—Acer miliknya, charger, mouse, headset, handphone Blackberry dan Soner miliknya kemudian ipod, flaskdisk 1TB, PSP, dan berbagai macam barang yang tak patut dimasukkan ke dalam tas menjelang mudik hari raya.

"Kyousuke!" teriak tuan Tsurugi dari luar rumah.

"Bentar, Pa!" sahut Kyousuke lagi sambil menutup rapat tasnya dan menyelempangkan tasnya. Dia pun berjalan keluar kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Setelah itu, dia pun keluar menuju ke halaman rumah dimana tuan Tsurugi bersama nyonya Tsurugi dan Yuuichi menunggu.

.

.

.

.


.

WOOOYY! ADA ES-EM-EEEESSS!!

Suara Tenma berbunyi nyaring dari handphone Samsung milik Kyousuke. Dengan cekatan pemuda itu mengambil handphone-nya di tas Eager yang diletakkannya dibawah jok. Dia pun membuka SMS yang masuk.

"Cieh, ringtone SMS aja pakai suaranya Tenma," goda Yuuichi yang duduk di sebelahnya dengan ekspresi deadpan.

"Urusai!" ucap Kyousuke yang sibuk mengotak-atik handphone-nya.

"Jangan ngegoda adikmu, Yuu," kata nyonya Tsurugi yang duduk di samping tuan Tsurugi yang sedang asik menyetir mobilnya.

Kyousuke tidak memperdulikan mereka dan kini dia pun tengah membaca pesan masuk itu, dari Kariya.

From: Hunter takut ular

Jika jemari tak mampu berjabat

Saat batin kotor ini rindu akan keikhlasan maaf

Hanya lewat pesan ini jemariku bersilaturahmi

Minalaidzinwalfaidzin Mohon maaf lahir dan batin

~Kariya~

Setelah itu Kyousuke mendecak dan me-reply... tepatnya mem-forward SMS dari Kariya.

To: Hunter takut ular

Jika jemari tak mampu berjabat

Saat batin kotor ini rindu akan keikhlasan maaf

Hanya lewat pesan ini jemariku bersilaturahmi

Minalaidzinwalfaidzin Mohon maaf lahir dan batin

=Tsurugi=

P.S : maap gak modal, lo udah biasa kan?

Saat Kyousuke akan mengembalikan handphone-nya ke dalam tas, handphone terkutuk itu berbunyi lagi.

Dia pun langsung mengangkat handphone-nya lagi dan melihat pesan masuk yang ternyata dari si pembuat keberisikan di handphone Kyousuke, siapa lagi kalau bukan Tenma.

WOOOYY! ADA ES-EM-EEEESSS!!

From: Pegasus Jejadian

Mata kadang salah melihat...

Mulut kadang salah berucap...

Mati kadang salah menduga...

Kaki kadang salah melangkah...

Tangan kadang salah berbuat...

Telinga kadang salah mendengar...

Nah, banyak banget kan salahku?

Maafin aku ya

-Tenma-

Kali ini Kyousuke menghela napas pasrah dan memencet beberapa kali tombol handphone-nya.

To: Pegasus Jejadian

Mata kadang salah melihat...

Mulut kadang salah berucap...

Hati kadang salah menduga...

Kaki kadang salah melangkah...

Tangan kadang salah berbuat...

Telinga kadang salah mendengar...

Nah, banyak banget kan salahku?

Maafin aku juga ya

=Tsurugi=

P.S : maap gak modal, lo udah biasa kan?

Ya, setiap ada SMS sejenis dengan yang dikirim Kariya atau Tenma padanya seperti SMS ramadhan ataupun idul fitri, Kyousuke tidak pernah sekalipun mau merangkai kata dan mengirimnya pada teman-temannya. Pasti dia menunggu teman-temannya mengirimnya, dan kemudian dia mengirim balik pada orang yang mengiriminya dengan pesan yang sama, dan di akhir 'mohon maaf lahir batin' dan sejenisnya selalu ditambahinya dengan 'juga'. Lalu dia selalu memberi catatan 'maap gak modal' di belakangnya. Dan itu telah dilakukannya sejak SMP kelas 1.

Sungguh seorang Tsurugi yang sangat jujur.

Kyousuke mengembalikan lagi handphone-nya ke dalam tasnya. Namun saat dia baru saja menyandarkan punggungnya ke jok mobil, handphone itu kembali berdering. Kali ini dengan suara Shindou dan iringan suara gak jelas Kariya dan Tenma sebagai backsound-nya.

Yo! Telefon masuk, yo! Kenapa gak lo angkat, Tsur? Yo! Angkat ato lo sembelit lima tahun, yo! (Backsound: Dum dum dum prut prut dum cuap pam pam cuap ck aaa~~ aah~ ououooh~)

Kali ini Yuuichi sweatdrop parah mendengar ringtone adiknya. Kira-kira untuk apa teman-temannya mau merekam suara hanya untuk dijadikan ringtone.

Kyousuke yang melihat kontak tanpa nama di layar handphone-nya pun langsung saja mengangkatnya.

"Assalamuallaikum," sapa Kyousuke. Biasanya dia menyapa dengan 'What is the fucking matter?' dan sebagainya yang sejenis, tapi karena ada orang tuanya di sana, jadi dia mencoba untuk mempersopan gaya bicaranya di telefon.

"TSUUUURRRUUUGGIIIIII-KUUUUNN~~~!" Dengan spontan Kyousuke menjauhkan handphone miliknya tersebut dari telinganya yang mulai tuli sesaat karena suara yang tiba-tiba dari beberapa orang. Sepertinya suara Sakura, Aoi, Makoto, dan anak-anak perempuan lain.

Setelah tenang, Kyousuke pun mendekatkan kembali handphone ke telinganya. Terdengar samar-samar teriakan 'kyaa kyaa' dari seberang sana. Dasar gadis-gadis sinting.

"Siapa, ya?" tanya Kyousuke pura-pura nggak kenal.

"Tsurugi-kun~ lagi mudik, ya? Gimana perjalanannya?" tanya seseorang yang sepertinya adalah Sakura.

'Anjrit nih cewek-cewek iblis, pertanyaan gue gak dijawab, main nyelonong nanya aja,' batin Kyousuke kesal. Kemudian dia menjawab, "Iya, baik. Udah ya. Waalaikumsalam." Dan dengan itu, dia resmi memutuskan sambungan teleponnya.

"Siapa, Kyousuke?" tanya Yuuichi penasaran.

"Kru Mak Lampir," jawab Kyousuke singkat, cair, dan nggak jelas.

"Ooh..." Yuuichi pun hanya meng-oh dan manggut-manggut, kemudian pemuda itu pun kembali melakukan kesibukannya, memelototi warung makanan sepanjang jalan menuju Kyoto.

.

.

.


.

Waktu itu adalah pukul 5.15 pukul Kyoto setempat. Mereka sampai dengan selamat di depan rumah Kakek Okita yang berada di kampung dengan pemandangan indah. Di belakang rumah Kakek Okita terlihat gunung dan sawah yang membentang luas, kebetulan pula matahari tenggelam di sana. Suasananya sejuk dan menyegarkan, dan itu semakin membuat perut dua pemuda berambut biru-gelap yang baru saja keluar dari mobil itu menyanyikan lagu Avenged Sevenfold.

"Eyaaang!" teriak mereka saat melangkahkan kaki di depan pintu rumah Okita.

"Hush! Jangan teriak-teriak begitu di rumah kakek," kata ny. Tsurugi.

"Hooaaaahh! Aku kan kangen, Ma!" kata Yuuichi pada Ibunya.

"Halah, alesan nii-san doang! Paling dia kangen duitnya eyang, soalnya dia sering dikasih duit, salah nominal pula! Harusnya dikasih sepuluh ribu aja! Bukan satu juta!" solot Kyousuke berang saat mengingat kejadian tahun lalu dimana dia mendapat salam tempel sejumlah setengah juta dari kakeknya, sedangkan Yuuichi mendapat satu juta.

Yuuichi pun menjulurkan lidah secepat kilat, dan itu membuat Kyousuke emosi.

"Sudah, sudah, ayo langsung masuk aja," kata Tn. Tsurugi sambil membukakan pintu rumah dengan kunci cadangan miliknya.

"Spada!" ujar Ny. Tsurugi. Kedua anaknya pun langsung sweatdrop melihat tingkah laku Ibunya yang tidak sinkron dengan ucapannya.

Beberapa saat kemudian, seorang kakek tak beruban datang menghampiri mereka. Nampaknya dia sedikit terkejut dengan kedatangan musiman anak-cucunya tersebut.

"Eyaang! Minta uang sakunya!" ucap Yuuichi gak tahu malu.

"Iya, iya, tenang aja. Kamu masih kecil seperti biasanya, ya, Yuuichi, sekarang kamu kelas berapa?" tanya Okita sambil menepuk kepala Yuuichi lembut. Kyousuke dan Yuuichi terdiam. Ny. Tsurugi terdiam memandangi mereka dengan senyum kecil di wajahnya, dia sedang menata barang yang dioper oleh Tn. Tsurugi dari bagasi mobil ke dalam rumah.

"A—" entah apa yang membuat Yuuichi tidak dapat bersuara. Seingatnya dia sudah lulus kuliah setahun yang lalu dan sekarang membantu Ayahnya di kantor. Jadi sistim kelas itu sudah tidak berlaku baginya beberapa tahun yang lalu. Kemudian Okita mengalihkan perhatiannya kepada Kyousuke dan dia pun tersenyum sambil menepuk pundak anak laki-laki itu.

"Kamu sudah besar, ya, sekarang, Kyousuke. Kapan kamu menikah?"

Gludak!!

Sontak satu keluarga Tsurugi minus Okita nggeblak dengan nista.

.

.

.


.

"Kyousuke mana, Ma?" tanya Yuuichi pada Ibunya saat melihat ketidakhadiran Kyousuke di meja makan.

"Di kamarnya," jawab Ny. Tsurugi. "Antarkan ini ya..." wanita itu menyerahkan dua gelas es krim vanilla pada Yuuichi. Yuuichi pun mengangguk saja dan menurut. Secepat kilat dia melesat ke arah kamar Kyousuke yang ada di rumah kakek mereka tersebut.

Yuuichi memasuki kamar yang dipenuhi dengan benda berwarna biru itu dan mengunci pintunya. Dia duduk di dekat Kyousuke yang kini tengah duduk di karpet dengan mata menatap laptopnya sambil memakai headset dan makan cemilan yang tak dapat diragukan lagi merupakan hasil curian Kyousuke dari lemari makan yang ada di dapur. Pria berambut dark-blue tanpa buntut itu pun meletakkan dua gelas es krim pemberian ibunya di atas karpet dekat dengan cemilan Kyousuke.

"Lagi apa, Suke~," panggil Yuuichi sambil mencubit kedua pipi Kyousuke yang sekarang telah kaku dan tak segembil juga selembut dulu.

"Apaan, sih lo! Dasar pedofil!" ucap Kyousuke sambil menampar tangan kakaknya dari wajahnya, tapi dengan cekatan Yuuichi menarik kembali tangannya dari pipi Kyousuke dan membuat Kyousuke menampar pipinya sendiri.

"HOAH!" pekik Kyousuke saat merasakan tamparannya sendiri yang sangat keras.

"Lagi lihat apa, sih?" Yuuichi merecoki kembali dan mengambil alih laptop Kyousuke. Dia melihat web browser Mozilla terbuka dengan beberapa tab yang sedang loading. Setelah diteliti, dia baru tahu kalau laptop itu terhubung dengan GPRS handphone Blackberry milik Kyousuke melalui bluetooth.

Dengan penuh nafsu, Yuuichi membuka satu per satu tab tersebut. Ada facebook, gaiaonline, fanfiction, forum game, plurk, dan you tube, juga situs manga hentai (?).

Yuuichi pun melirik nakal ke arah Kyousuke yang kini sedang sibuk mengusap-usap pipinya yang memerah dan membengkak karena terkena tamparannya sendiri sambil memakan es krim vanilla yang tadinya dibawakan Yuuichi. Yuuichi pun kembali memperhatikan you tube yang dibuka Kyousuke dan menampakkan berbagai video hentai.

"Nakal ya lo, Kyousuke~," kata Yuuichi. "Gue pikir udah tobat."

"Apa? Lo mau ngaduin ke Papa?" tanya Kyousuke sambil menikmati es krimnya dengan rasa perih.

"Nggak, orang gue juga mau lihat," kata Yuuichi. Kemudian dia bertatapan bersama Kyousuke dan menyeringai licik bersama.

"Dasar lo!" Kyousuke menyikutnya.

"Nanti praktekin yuk! Mumpung udah kagak puasa!" ujar Yuuichi ceria dan berseri-seri.

"Pedofil incest!" Kyousuke meneriakkan nama kontak Yuuichi yang ada di handphone-nya.

.

.

.

.


.

Pagi yang tenang dengan jendela tertutup dan korden yang menghalangi jalannya sinar Matahari untuk masuk ke dalam kamar Kyousuke. Pemuda bernama Kyousuke tersebut pun kini tengah tertidur nyenyak dengan bantal- bantal empuk dan selimut yang menutupi seluruh bagian tubuhnya kecuali rambut buntutnya yang mencuat sedikit. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk sehingga Kyousuke sedikit menggeliat tidak nyaman karena suara ketukan yang dihasilkan pintu itu.

"Ummh... Nn..." Kyousuke mengubur mukanya ke dalam bantal.

"Kyousuke, cepetan! Keburu sholat ied!" teriak Yuuichi yang ternyata adalah si pengetuk pintu.

"Uhuk! Uhuk! Sakit... niisan duluan aja!" sahut Kyousuke malas-malasan dengan suara yang sedikit tidak jelas.

"Bohong lu! Sakit apa lu? Gue dobrak nih!" teriak Yuuichi lagi dari luar kamarnya.

"Uhh..." Kyousuke mengernyit gusar mendengarkan suara kakaknya yang bagaikan maling teriak maling tersebut, eh, bukan.. tapi mungkin karena selama bulan Ramadhan kemarin Yuuichi jadi ketua koordinat sahur yang notabene teriak-teriak sahur setiap jam 3 pagi, maka suaranya jadi seperti toa masjid begitu.

"Kyousuke!" panggil Yuuichi dengan suara keras.

"Iyaa..." ucap Kyousuke sambil menyibakkan selimutnya hingga seluruh badannya terlihat. Sungguh mengejutkan bahwa ternyata dia telah mengenakan baju koko dan sarung di balik selimut. Entah kenapa... semua itu telah terpasang di badannya... ini sebuah misteri... yang sangat mengerikan... dan menyeramkan...

Mari kita anggap Kyousuke mengenakannya kemarin sebelum tidur untuk mengantisipasi kejadian malas ganti baju dan malah ke Masjid mengenakan kaus oblong dan boxer.

Kyousuke langsung bangkit dan beranjak dari tempat tidurnya, kemudian mengambil sajadah yang terlipat rapi yang ada di atas meja dan berjalan keluar kamar untuk menghampiri kakaknya.

Criet.~!

Pintu pun dibuka dan menampakkan Kyousuke yang telah-tampan-namun-kucel dan kelihatan masih ngantuk. Yuuichi mengernyit melihat adiknya tersebut.

"Udah wudhu?" tanya Yuuichi. Kyousuke menggeleng. Kemudian pemuda tersebut menarik tangan adiknya dan mengajaknya menuju ke belakang rumah untuk mengambil air wudhu.

.

.

.

.


.

Sholat ied hampir dimulai, Kyousuke dan Yuuichi tentu saja memilih untuk duduk di barisan paling pojok di belakang. Mau apa lagi, mereka kan datangnya sedikit terlambat.

Mereka berdua pun duduk bersebelahan. Yuuichi menggelar sajadahnya dan duduk di atasnya seraya mendengarkan ceramah yang dilakukan oleh Ustadz Nobunaga (?).

Kyousuke menggelar sajadahnya dan duduk di atasnya seraya membuka laptop yang disimpannya dengan rapi dalam lipatan sajadah di hadapannya. Eh? Tunggu! Laptop?

Yuuichi menganga menatap adiknya yang kini sedang online di situs xxx. Di dalam masjid. Kontan Yuuichi menutup laptop Kyousuke secara kasar.

"Kyousuke! Gimana sih lo! Ini kan masjid!" teriak Yuuichi dengan suara pelan—entah bagaimana maksud author ini.

"Yah, gimana lagi, itu kan udah ada di bookmark sama homepage! Jadi kalo browser dibuka itu web langsung loading!" jelas Kyousuke. Lagi-lagi Yuuichi menganga. Kemudian tangannya pun menampar kepala Kyousuke pelan.

"Dasar! Gimana kalo Papa tahu hayoo?" tanya Yuuichi.

"Halah! Dia kan punya laptop sendiri!" kata Kyousuke sambil mulai mengakses mangakece untuk melihat Tenma sang Pegasus Tangguh chapter terbaru, chapter 1000,1 (?) yang baru saja keluar dari mulut buaya dan mulut singa sekaligus (?).

"Eh? Ternyata kau suka Tenma juga, ya?" tanya Yuuichi.

"Enak aja lo bilang gue suka Tenma! Kau pikir aku gay apa?" solot Kyousuke tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar laptopnya.

"Lha? Kau bukan gay? Soalnya aku nemu doujin TenKyo di flashdiskmu," kata Yuuichi. "Halah, malah out of topic ini. Bukan Tenma temenmu itu, Kyousuke! Tapi Tenma yang ini," jelas Yuuichi sambil menunjuk layar laptop Kyousuke.

"Udah gue bilang gue bukan gay! Jadi gak mungkin gue suka sama Tenma!" kata Kyousuke.(*)

"Lo... baka, ya? Anak Tn. Tsurugi ama Ny. Tsurugi nggak sih?" tanya Yuuichi jengkel.

"Gue yang harusnya nanya, lo anak Tn. Tsurugi ama Ny. Tsurugi apa enggak? Tentunya lo tahu waktu Mama ngelahirin gue, sedangkan gue aja gak tahu lo lahir dari rahimnya atau rahim gelandangan karena gue lahirnya belakangan," ujar Kyousuke.

Yuuichi menepuk mukanya. "Udah gak usah dibahas, deh!" ucapnya sewot. Kini dia tengah melihat Kyousuke mendownload Tenma sang Pegasus Tangguh chapter 1000,1 tersebut di Niztazuma11. (**)

"Lo gak suka Tenma. Trus, lo suka siapa?" tanya Yuuichi.

"Tsurugi Kyousuke, dong!" jawab Kyousuke.

"Tuh kan, lo gay!" timpal Yuuichi.

Saat Kyousuke menoleh padanya untuk memberikan death glare, pemuda yang merupakan kakaknya itu memalingkan wajah ke arah depan, berpura-pura mendengarkan ceramah Kageyama. Kyousuke pun langsung mengikuti arah mata Yuuichi dan kemudian ikut melihat Kageyama.

"Saudara-saudara setanah air..." mereka berdua melihat Kageyama yang menatap serius pada seluruh jamaah dan menunjuk mereka semua. Begitu melihatnya mengucapkan empat kata saja sudah membuat Yuuichi dan Kyousuke enek dan langsung memalingkan wajah mereka kembali ke layar laptop.

"Eh, lihat Tenma-nya itu tadi dong," pinta Yuuichi.

Kyousuke langsung mengganti tab website SemeUke yang dibukanya dan meng-klik tab website mangakece. Mereka pun membaca manga tersebut dengan seksama.

"Ohmaigoat!" pekik Kyousuke lirih saat melihat adegan Kyousuke dicincang-cincang menggunakan gergaji mesin oleh Matsukaze Tenma.

"Hihihi... lama-lama ini manga jadi gore, ya," kata Yuuichi sambil meng-klik halaman selanjutnya, dimana pemakaman Tsurugi Kyousuke dilangsungkan dan para pelayat menggunakan pakaian baja seperti armor yang pastinya mencolok, semua raut wajah mereka sendu, bahkan Matsukaze Tenma yang baru saja mencincangnya—red Tsurugi Kyousuke di scene halaman tadi menampakkan ekspresi sedih yang amat mendalam. Kemudian terlihat gambar rangkaian bunga berwarna-warni close up dengan tulisan 'Turut berduka cita atas meninggalnya Tsurugi Kyousuke. Kami turut berbahagia. - Anonymous-'

"Lha? Tadinya turut berduka cita kok belakangnya turu berbahagia? Plin-plan banget! Gue rasa kejem banget deh Bang 5," desis Kyousuke tidak terima sambil menggelengkan kepalanya dan mengarahkan kursornya ke gambar dan meng- klik-nya untuk menuju halaman selanjutnya.

"Eh! Lihat tuh! Dari dalem tanah muncul tangan!" kata Yuuichi sambil menunjuk gambar makam Tsurugi Kyousuke yang kini digandrongi oleh sebuah tangan yang mencuat dari dalam tanah. Kyousuke pun memperhatikan adegan itu dengan seksama. Sekarang yang keluar dari makam itu adalah sebuah tubuh, tubuh Tsurugi Kyousuke yang mengenakan pakaian compang- camping dan badan gosong.

"Seingat gue tadi dia udah dimutilasi deh, kok bangkit dari kuburnya masih utuh gitu, ya?" tanya Kyousuke heran.

"Matanya copot tuh! Ngegantung lagi, hiii..." ucap Yuuichi merinding sambil menyilangkan tangan di dada, memeluk dirinya sendiri.

"Iya juga sih..." gumam Kyousuke sambil meng-klik gambar, di situ Tsurugi Kyousuke berdiri sambil memandang ke arah pembaca dengan satu matanya yang masih ada di tempatnya, dan Kyousuke meng-klik gambar itu lagi, di halaman selanjutnya pose Kyousuke tetap sama, ganti halaman selanjutnya, tetap sama.

Klik... Klik... Klik... Klik... Klik... Klik... Klik... Klik...

"Hosh... hosh..." entah sejak kapan meng-klik mouse menjadi suatu pekerjaan yang sangat melelahkan.

"Heh?" Yuuichi menatap pongo pada layar laptop.

"Apa-apaan sih, nih? 13 halaman isinya Tsurugi Kyousuke berpose sama. Udah gitu 13 halaman pula! Angka sial banget!" protes Kyousuke. Ya, 3 halaman pertama memang scene yang ditampilkan berbeda-beda, sedangkan 13 scene selanjutnya sama: menampakkan sosok Tsurugi Kyousuke yang begitu mengerikan. Entah itu karena kesalahan teknis atau memang adegannya begitu.

"Ya sudah, klik aja lagi, siapa tahu adegannya udah beda," usul Yuuichi.

Klik...

"Aha!" ucap mereka berdua lirih saat adegan sudah berganti, dimana tiba-tiba ada beberapa mayat hidup mengelilingi Tsurugi Kyousuke dan mereka menari bersama sambil menyanyikan lagu Te wo Tsunago.

Gubrak!

Yuuichi dan Kyousuke jatuh limbung karena alasan yang tak tentu.

"Kenapa, sih, bang 5 itu? Dasar orang iseng!" protes Kyousuke pelan sambil hampir membanting laptopnya.

"Udah... udah... sabar," ucap Yuuichi untuk menenangkan.

"Ck." Kyousuke mendecak kesal dan langsung meng-close tab mangakece dan menelusuri tab SemeUke yang baru saja dibukanya.

"Kau test? Dapat apa? Aku dapat DFWM," kata Yuuichi.

"Sadistic seme," jawab Kyousuke singkat menjawab pertanyaan Yuuichi.

"Padahal katanya kau bukan gay ya?" Yuuichi tertawa kecil.

"Bukan, wong aku ngisinya ngasal, lagian gua gak begitu ngerti bahasa Inggris gak jelas gini," ucap Kyousuke sambil menunjuk jawaban-jawaban yang hanya dimengerti oleh orang gay—mari kita katakan bahwa itu adalah bahasa gay. XP

"EHEM!" tiba-tiba terdengar suara deheman dari arah belakang, sontak Yuuichi dan Kyousuke menoleh, mendapati ayah mereka yang sedang berdiri sambil menyilangkan tangan di depan dada dan ekspresi marah. Dengan itu, Kyousuke langsung meng-close window Mozilla-nya.

"Eh... Papa..." Yuuichi meringis.

"Sebentar lagi sholatnya sudah mulai. Kalian nggak dengar apa? Lalu, kenapa kalian bawa laptop segala?" tanya Tn. Tsurugi. "Dan kenapa buka situs yang aneh- aneh?"

Glek.

"Hehe, aneh apanya? Wong kami lagi nyari bacaan dan kotbah lain... kotbahnya Mbah Kageyama ngebosenin sih," ujar Yuuichi beralasan.

"Matikan itu!" perintah pria tersebut. Kyousuke pun langsung menutup laptopnya tanpa memindahkannya, jadi nanti saat dia bersujud, keningnya akan menyentuh laptop.

"Kalian berdua nanti dihukum, ya," kata Tn. Tsurugi sambil berlalu.

"Hiiieee..." Yuuichi dan Kyousuke langsung saling berpandangan dengan muka horror.

.

.

.

.


.

Tsurugi Kyousuke, 16 tahun, kelas 2 SMAN Raimon, adalah seorang penderita agoraphobia yang suka menyendiri dan phobia pada keramaian. Seperti biasanya, saat keluarga yang lain sedang berkumpul di ruang tengah yang bagaikan lapangan sepak bola itu, dia memilih untuk mendekam sendirian di kamarnya.

Kali ini, Tsurugi Kyousuke, memiliki teman untuk mendekam bernama Tsurugi Yuuichi yang merupakan kakaknya sendiri. Namun alasannya berbeda dari sang adik yang memang mempunyai suatu penyakit kejiwaan aneh, si kakak tidak mau berkumpul dengan keluarga lain karena wajahnya. Ya, wajahnya yang tercoreng- moreng karena dilukisi oleh Tn. Tsurugi, ayah mereka, menggunakan magic permanent marker sebagai hukuman mereka karena telah melakukan hal nyeleneh di masjid. Kini mereka tengah saling membersihkan wajah sambil berderai air mata.

"Huwaah... aku mau ketemu Pen-chan!(***) Lama nggak ketemuu!" tangis Yuuichi sambil mencoba untuk membersihkan wajah Kyousuke dengan tissu, begitu juga sebaliknya.

"Kalau mau, ya, keluar aja sana!" kata Kyousuke.

"Nggak mau! Wajahku yang tampan ini..." lirih Yuuichi sedih.

Kyousuke pun mengusap-usapkan tissu yang ada di tangannya pada muka kakaknya secara kasar dan mencocol-cocolkannya karena jengkel dengan kakaknya yang sedari tadi mengeluh sambil menangis dan menyebabkan tangannya yang mulus melepuh terkena air mata Yuuichi yang jatuh saat pemuda itu mencoba untuk membersihkan magic permanent marker dari wajah kakaknya tersebut.

"Aw! Aw! Aw! Hati-hati!"

.

.

.

.

.

.

End... ?


(*) Tenma yang dimaksud Tsurugi itu Tenma teman sekolahnya, tapi sebenarnya yang dimaksud Yuuichi Tenma yang ada di manga, bukan Teman yang itu (?) #bingung sendri kan XDD

(**) Istilah di blog Twitter parody, saia Cuma numpang nyilip doang.

(***) Pen-chan yang dimaksud Yuuichi Masenshi Pendragon, nama Keshinnya. Sebut saja itu piaraan Yuuichi yang dititipkan pada eyangnya dikarenakan kediaman Tsurugi di Raimon itu apartemen yang melarang keras penghuninya memelihara seekor hewan (?). Anggap aja itu hewan titik. XD