LoL, males update *plak!* males mikir *bletakk!* males ngetik *double slap* anywayz, menjelang ujian sebentar lagi, so kemungkinan update lama...
Wa mo bales dolo...
ScarletAndBlossoms:
*elus elus punggung SAD* makanya jangan makan ayam goreng, tukan tulangnya nyangkut... sebenarnya panah bukan kesukaanku, melebihi wa lebih suka Nunchaku dan Cakram. hehehe, jawabannya dah kepikiran? dicocokin dolo... muehehehe, selamat membaca!
Marysykess:
*duduk dipojokan sambil baca mantra* dialog, engga, dialog, engga, dialog, engga... gimana yah, ini udah terlanjur kak... payah dibaca? diusahain aja yah? *maksadotkom* wa juga akan usahain biar dimegerti deh... selamat membaca!
cekidot!
Games: Dynasty Warriors, belong from KOEI
Chapter 6: berusaha!
Gendre: Friendship & Adventure
Rate: K+ (author males nyari ide... lalalala)
Chara: Jiang Wei
Summary: senang, sedih, kecewa, biasa, iya, tidak. Tidak selamanya kita mendapatkan apa yang kita inginkan... terutama, soal menang dan kalah, hidup dan mati. tetapi, aku sudah siap!
.
.
.
Latihan yang membuatku lupa waktu, apalagi latihan yang harus memakai pikiran dan konsentrasi... aku latihan demi mereka, aku pasti bisa jika berlatih sekuat tenaga! setiap kali aku selalu lupa satu hal. yaitu, "tenang", susah rasanya memikirkan dalam keadaan terdesak.
Sudah sedikit lama, pada akhirnya aku terduduk ditempat karena capek. aku melihat sepasang suami istri pulang bersama sambil membawa alat pertanian, mungkin ini sudah waktunya istirahat. tapi, jika melihat pemandangan seperti itu aku jadi merasa rindu pada papa dan mama. kapankah aku pulang? walau begitu, aku tidak bisa seenaknya pergi datang, pergi datang. tiba tiba Master Zhuge Liang datang sambil membawa benda sejenis kipas.
"kalian... ayo, ke kapal!" kata Zhuge Liang dengan nada serius.
"ah! baiklah! mungkin ini memang waktunya!" jawab Jiang Wei menundukkan badannya sebagai rasa hormat.
"eh? malam?" kataku sedikit takut perang di kegelapan.
"ya, kalau anda tidak ingin ikut tidak masalah"
"a... aku mau, Master Zhuge Liang! aku mau!"
"kalau begitu, ayo! kita sudah kehabisan waktu!"
Zhuge Liang membalikkan badan dan berjalan kedepan, kami berdua mengikutinya dari belakang. aku hanya harus ingat kata "tenang" karena itu kunci dari perang, tidak perlu terburu-buru, kemungkinan juga itu bisa membuatku kehilangan kesadaran pada lawan. sesaat aku sedang berpikir, tiba tiba Zhuge Liang jatuh ditempat, dan Jiang Wei mendekatinya, membantu Zhuge Liang berdiri.
"Perdana Mentri!" teriak Jiang Wei, kelihatannya kaget.
"tidak, uhuk.. saya tidak apa apa! ayo, kita jalan lagi!" Zhuge Liang memaksakan kakinya untuk berdiri dan mengambil kipasnya itu.
Aku menatap kaget, ada apa pada Zhuge Liang? apa dia terkena penyakit? dari tadi dia memegang dadanya itu dengan nafas yang ngos-ngosan. aku mengambil kipasnya dan memberikan kipas itu padanya. walau aku tidak mengerti kenapa.
"ehm... Master Zhuge Liang, anda terkena penyakit ya?" tanyaku.
"ya, tapi tidak berat" jawab Zhuge Liang, suaranya agak parau.
Aku hanya mengikutinya, merasa kasihan padanya. ingin mencoba membentaknya supaya menyembuhkan dulu sakitnya. kalau sedang sakit, bukankah kekuatan akan berkurang? aku hanya bisa menundukkan wajahku dan menghela nafas pasrah.
"kamu pasti ingin menyuruh Perdana Mentri untuk tidak bergerak. benar?" tanya Jiang Wei tiba tiba menghampiriku.
"ya! tepat sekali! tapi, kenapa Master ingin perang? dengan keadaan tidak menentu?" kataku, memasang wajah ingin tau.
"Perdana Mentri, ingin mewujudkan impian Yang Mulia Liu Bei, dan juga membebaskan kekacauan ini."
"dia... hebat!"
"sudah kuduga kamu akan terkesan"
Aku tidak menjawab apapun, karena tidak ada yang bisa dibicarakan lagi. aku hanya tetap terdiam mengikuti langkah mereka. tiba tiba terdengar suara lari, aku ingin melihat tetapi... kelihatannya mereka tidak mendengarkan suara kaki itu. apa cuma perasaan? atau mungkin... tanpa aba aba, aku langsung lari ke dalam hutan dekat sini.
"Nona Ling Fong!"
"kejar dia Jiang Wei!"
"baik!"
Aku tidak menghiraukan Jiang Wei memanggil namaku berkali kali, pokoknya ada suara kaki dan suara serak memanggil! aku mempercepat langkahku mengejar sumber suara itu, saat sampai melihat seorang gadis yang di tangkap oleh dua orang lelaki.
"hei! lepaskan dia!" bentakku.
"apa hubunganmu dengannya?" kata seorang darinya.
"tidak ada, tetapi... kan kasihan!"
"tidak! jangan ikut campur jika tidak mengetahui tujuan kami!"
"memang apa tujuan kalian padanya?"
"dia dari Wei! kemungkinan dia ingin datang mencoba peperangan diam diam!"
"tidak! lepaskan aku! dengarkan dulu penjelasanku!" bentak gadis itu meronta ronta.
"lepaskan dia! ini perintah dariku" tiba tiba Jiang Wei muncul dari belakang dan menghentikan ini.
"Tuan Jiang Wei! wanita ini.."
"lepaskan dia! itu perintah!"
"ba... baiklah..."
Fiuh... ada untungnya juga yah? syukurlah Jiang Wei datang tepat pada waktunya. tetapi, tadi dia menyebut dirinya "aku" bukan "saya"... apa dia sejenis denganku? (?) aku membantunya berdiri dan tiba tiba terpesona. wah, gadis ini mirip boneka jepang, manis sekali...
"maafkan aku" kata gadis itu membuatku sadar dari benggongku.
"eh? tidak apa apa! tidak masalah! ehm, siapa namamu?" tanyaku.
"Cao Ma Lie"
"Kak Cao Ma Lie, salam kenal... aku Li Ling Fong!"
"hem..."
"ehm... Kak Cao Ma Lie, kenapa kau bisa ditangkap oleh mereka berdua?"
"aku... aku sama sekali tidak mempunyai rencana membuat perang diam diam! aku... aku tidak tahan di Wei!"
"jadi kau benar benar dari Wei?"
"ya! benar."
"lalu, kenapa kau tidak tahan disana?"
"Yang Mulia... hanya memikirkan kemenangan dan kekuasaan, tidak memikirkan seseorang. siapa yang bisa tahan dengan sikap bodoh itu!?"
"kasihan juga..."
"tapi, dia dari Wei, itu bukan berarti, saya memperbolehkan dia bersamamu" kata Jiang Wei menolak Cao Ma Lie disini.
"ugh... jahat! bagaimanapun juga, dia tetap disini! aku yang akan tanggung jawab!" bentakku, mana mungkin dia dibiarkan dihutan dingin ini!
"baiklah, tapi... lebih baik sekarang kita menyusul Perdana Mentri"
"ya, ya, ya..." jawabku malas.
Jiang Wei menghela nafas, mungkin dia sedikit kecewa akan sikapku ini. tetapi, kasihan jika dia di biarkan sendirian disini, apalagi dia perempuan! sendirian di malam yang dingin. kalau ditangkap hewan buas bagaimana? dasar, aku binggung Jiang Wei baik atau jahat.
Aku mengantarkan Cao Ma Lie ke perdesaan, dan menyuruhnya tetap disini. karena di sini aku yakin aman. aku menunduk dan kembali menyusul Jiang Wei yang jalan lebih dulu. aku diam sejenak lalu menelan ludahku. perang itu harus ada yang mati bukan? dimana mana yang namanya perang pasti ada kematian. aku jadi sedikit takut...
Aku yakin diriku sudah dihantui rasa takut, aku masih anak anak... lihat saja umurku saja masih 13, belum 16 atau 17 yang siap untuk perang. kalau saja aku datang kesini saat sudah dewasa, aku yakin... rasa rindu dan rasa takut hilang. tapi, setan apa itu? apa dia benar benar menarikku kesini? tapi, kenapa aku?
BRUK!
"Ling Fong!?" teriak Jiang Wei menghampiriku.
"duh..." aku mengusap ngusap rambut hitamku, tanpa sadar aku terjatuh.
"kamu tidak apa apa?"
"yah, ini salahku, jalan tanpa melihat kedepan"
"tadi kenapa?"
"mungkin tersandung sesuatu, makanya jatuh..."
"kamu masih bisa berjalankan?"
"tentu saja! mana mungkin kakiku patah cuma gara gara ini!"
"sayakan hanya bertanya"
"sudahlah, ayo! Master Zhuge Liang pasti sedang menunggu kita"
Aku berdiri dan memaksakan kakiku untuk berjalan, walau aku tau kakiku sepertinya terkilir. tidak lama, akhirnya sampai di tempat pelayaran kapal. aku mengengam busurku yang kuikat di belakang. aku harus bisa, dengan kata kunci "tenang" aku yakin bisa.
"mari, kali ini. kita menangkan dan mendapatkan Wu Zhang!" kata Zhuge Liang, dia masih saja tegar.
Aku menganguk dan menelan ludah, aku harus percaya pada diriku! yang diinginkan oleh Zhuge Liang adalah kemenangan. aku harus mengabulkan permintaan dan keinginan mereka itu. aku siap, dan aku berjalan memasuki kapal. menunggu sampai ke Wu Zhang Plains... demi Yue Ying, demi Jiang Wei, demi Zhuge Liang, maupun Guru Huang Zhong, aku pasti bisa!
Cao Ma Lie itu juga OC! tapi, itu OC author lain, kebetulan pas PM aja... (-_-)
mungkin blom perang yah? soalnya pala Author dipenuhi balon (?)
silakan review! author menunggu!
