well, cerita membosankan, author membosankan, ketikan membosankan, dan kerjaan membosankan... hehehehe, ga sadar dah lumayan... tetapi bumbu-bumbu perang pesanan oleh seseorang disinilah... dan kepala yang dilumuti balon dah dipecain juga... ^^

send thanks to review!

ScarletAndBlossoms:

Terima kasih dah pecahin balon... *emang ada ulang tahun?* well, kelihatannya bentar lagi rencananya mo tamet. but, kapan kapan lah... ^^ hope like it!


Games: Dynasty Warriors, belong from KOEI
Chapter 7: peperangan tanpa batas?
Gendre: Friendship & Adventure
Rate: T (walau ga yakin...)
Chara: Jiang Wei
Summary: pertarungan yang sama sekali tidak membuatku tenang. Suara nyaring, jeritan, dan kesakitan. pertarungan... tanpa... batas...

.

.

.

Aku mencengkram panahku, mulai menuruni kapal, berjalan perlahan lahan, bernafas selagi bisa. aku menelan ludahku dan menghela nafas, mengedipkan mataku berkali kali. tanpa aba aba, aku langsung berlari, menarik panahku dan melepaskannya dari busurku. satu orang tertembak, aku hanya bisa terdiam.

Menyebalkan sekali jika harus seperti ini. walau memungkinkan aku akan mati, dan tenggelam dengan dosa dosa yang kuperbuat. kelihatannya sudah habis, dan sepertinya aku harus kembali. tapi... sebelumnya...

CRAS!

Aku menusuk tanganku sendiri dengan anak panah ini, mencoba merasakan rasa yang diterima mereka. benar benar sakit, sakitnya bukan main, benar benar membuatku ingin beteriak keras keras. beginikah rasanya? sakit benar yang mereka terima... aku menatap tanganku yang terlumuri darah oleh pembuatanku sendiri.

JLEB!

"agh!"

Aku meringis sakit, siapa itu? masih ada musuhkah? sial, malam ini gelap sekali, susah melihat musuh yang bersembunyi... panah mereka tepat di pergelangan tanganku... aku memegang pergelangan tanganku dan mencoba menutupi darahku yang jatuh jatuh.

JLEB!

Panah itu kembali lagi menancap di tangan yang kututupi di pergelangan tanganku. sial, benar benar menambah kepedihan... air mata mulai jatuh dan meleleh di pipiku, berteriak sakit. tidak bisa kutahan lagi, aku memicingkan mataku, berharap ada yang datang... walau aku benci berteriak, tetapi kesakitan mendorongku...

Aku mendengar suara busur yang melepaskan anak panahnya, dan menuju lagi kepadaku, aku menutup mataku, seseorang, tolonglah aku... tolonglah aku!

TRANG!

"Ling Fong!"

Panggil seseorang lelaki yang menolak panah itu. aku membuka mataku pelan pelan, menoleh ke atas. melihat lelaki gagah dengan tombak yang kokoh dan kuat. lelaki itu menoleh padaku, mengangkatku dan membawa pergi dari sana sebelum panah itu menyerbu lagi.

"kamu tidak apa apa, Nona Fong?" tanya lelaki itu.

"ehm... ya, Tuan Jiang Wei" jawabku pelan.

"sykurlah, saya khawatir sekali..."

"..."

PLAKK!

Aku menamparnya sekuat mungkn dan menangis tersendu sendu.

"apa salahku!?" katanya, mengelus pipinya itu.

"aku takut! aku sangat takut! kenapa kau tidak datang!? hah? apa yang membuatmu menunggu sangat lama!?" kataku.

"ehm... maaf ya..."

Jiang Wei memeluk diriku tanpa malu atau sengaja. akupun tidak merasa sungkan sungkan dipeluk olehnya. karena, kehangatannya bagaikan seorang ayah untukku... aku tenang sekali, tidak ingin melepaskan pelukan yang diselimuti kehangatan sang ayah...

.

Jiang Wei's POV: ON

Aku melepaskan pelukanku padanya saat sadar melihat sesuatu yang dari tadi menetes netes dari lengan dan tangannya. saat aku menarik pergelangan tangannya, darah yang keluar dari pergelangan tangannya sangat banyak. aku merobek jubahku dan mengikat pada lukanya itu.

"kalau kamu tidak hati hati, beginilah jadinya" kataku memperingatinya.

"itu aku juga tau!" jawabnya keras.

"kamukan bisa memanah, kenapa kamu tidak memanah? hah, Nona Fong?"

"gelap begitu memangnya aku bisa menembak apa!?"

"oh... cukup mengejutkan, tetapi... syukurlah kamu baik baik saja"

"yah, untung saja kau datang, terima kasih Tuan Jiang Wei"

Aku mengangguk lemah dan tersenyum tipis padanya. gadis yang sedikit aneh dan berani. jarang ada orang seperti dia. aku yakin, saat sudah dewasa, dia akan semakin cepat dan handal. aku menarik tangannya membantunya berdiri dan mulai berjalan kesuatu tempat. tiba tiba Ling Fong menepukku dari belakang. aku menoleh kearahnya.

"Tuan Jiang Wei! janji ya janji, aku akan membalas kebaikanmu suatu saat!"

"kalau begitu katamu... baiklah!"

"kau percaya padaku? mudah sekali?"

"karena, kamu tidak pernah bohong padaku... baiklah, bagaimana kalau kutunggu?"

"ehm! tunggu yah!"

Normal's POV: ON

Aku jalan mengikutinya, lega sekali rasanya mengatakan sesuatu yang ingin kukatakan tanpa bantuan. aku berlari didepannya dan menoleh padanya.

"ayo, Tuan Jiang Wei! kita kalahkan mereka satu menjadi semua!" kataku, tidak sabar.

"sabar"

Rasanya aku lebih menganggapnya sebagai kakak dari teman. anehnya, aku tida merasa kesepian seperti pertama kali. kalau aku sudah kembali ke dunia semula, aku janji... aku tidak akan melupakan kenangan ini... selamanya.

.

.

.

To Be Continue


Ehehehe, mungkin kali ini pendek tapi lumayan kok! thanks for you are read n review this! thank you very much, much, much!