Kembali lahgi! *dengan gaya ala superman* nah, skarang Author mo salem dulu... for the greatest reviews!

Nagi & Scarlett:

Ga juga, masih garing, hambar, dan hangus *duduk dipojokan komputer #ga PD* tapi, dah di usahain agar adengannya lebih seru lahgi... thanks!

ScarletAndBlossoms:

Apa!? siapa yang bilang? mana ada wa ngefans ama Jiang Wei! wa ngefansnya ama papa wa! *gaya superhero* hehehehehe, kalo andalen iya, Ling Tong! Thanks!

Black roses 00:

Iya... perangnya sdikit... ga banyak ide sih, dan wa kalo ngetik itu cukup lambat, jadi ya di singkat deh! *slap* yah, namanya juga Khusina masih anak kecil... polos... okay, forget it! Thanks!


Games: Dynasty Warriors, belong from KOEI
Chapter 11: perayaan musim semi
Gendre: Friendship & Adventure
Rate: T (=,='')
Chara: Jiang Wei
Summary: aku yakin kalau aku baru saja mendengar kata kata yang membuatku ingin pingsan. tetapi, aku harus pulang, dengan kalung yang kudapatkan... apa yang harus kujawab...?

.

.

.

Baru saja aku mendengar suatu kata yang membuatku kaget bukan kepalang. Kata kata itu, sangat berarti bagiku, perasaan yang diungkapkan di depanku... tapi, aku harus pulang. Jika aku menjawab "ya" itu semua sia sia... Jika aku menjawab "tidak" bagaimana ekspresinya? pilihan adalah tanggung jawabku...

"Tidak bisa... aku, tidak bisa menerima perasaanmu itu..."

Akhirnya aku mengatakannya juga! walau perasaan takut, khawatir, dan kecewa berkeliling disebelahku. Dia sedikit kaget atas apa yang kuucapkan, diapun menundukkan kepalanya kecewa perasaannya ditolak dengan mudah.

"Bukan! bukan maksudku begitu! itu... anu... ada wanita lain yang pasti lebih baik dariku, benar!?"

"Itu sama sekali tidak benar!"

"Eh?"

Aku agak kaget dia menindasku dan pergi meninggalkanku. apa yang salah? biasa kata kata itu yang paling bagus menurutku. kenapa yah...?

BLETAKK!

"Aduh!"

"Kamu kemana saja Ling Fong!? Saya mencarimu dimana mana!" bentak seorang wanita yang pastinya Yue Ying.

"Aku... aku tertidur didekat gerbang..."

"Gerbang istana? yang benar saja! lain kali jangan hilang lagi yah? saya sangat kaget semalaman kamu belum pulang..."

"Te... tenang saja! aku pasti tidak akan hilang!"

"Ya..."

Aku mengulas senyum dan membuat jariku berbentuk "V". Yue Ying menghembuskan nafas dan menarikku kedepan, pasti dia sangat khawatir, aku tidak pulang sesaat selesai perang, tapi... sudahlah, aku memang pantas dipukul... seperti anak nakal. tiba tiba Yue Ying menolehkan wajahnya kepadaku.

"Karena ini awal musim semi, nanti malam akan ada perayaan... kamu tahu?" tanya Yue Ying.

"Tidak..."

"Nanti malam kita semua akan melihatnya... Kamu pasti tahu perayaan bukan?"

"Ya, aku pernah melihatnya beberapa kali setiap tahunnya"

"Ouh... kalau begitu, apa yang kamu sukai?"

"Kembang api! aku sangat menyukai kembang api!"

"Oh... semua juga pastinya suka kembang api, tetapi kamu sangat..."

"Ya.. hehehe"

Aku mengulas senyum dan melihat kelangit, menyipitkan mataku karena sinar matahari terlalu terang. Aku sudah tidak sabar untuk melihat perayaan musim semi! kalau diduniaku, itu dinamakan tahun baru. Aku benar benar tidak sabar! malam, datanglah... aku ingin melihat kembang api lagi...

Sesampai dirumah, tentunya Ruangan milik Nona Yue Ying... aku duduk di atas kasur dan masih memikirkan sikap Jiang Wei yang mengatakan... "Itu sama sekali tidak benar!", sepertinya dia membentakku, apa salahku? memang benar bukan? masih ada orang lain yang kemungkinan besar cocok!

Aku mencengkram selimut disampingku dan menatap ke jendela, senang juga kalau bisa disini tetapi... aku benar benar rindu papa dan mama... ingin bertemu, tapi... setan itu belum datang datang... apa ada yang kurang dengan kalung ini? setauku tidak ada...

TUK, TUK, TUK!

Hem? ada yang mengetuk pintu? siapa, di saat saat genting begini, selalu saja terganggu... apa memang harus seperti ini? nasib... aku berjalan kearah pintu, saat membuka aku melihat Xing Cai dengan tampang tegasnya itu.

"Ada apa Nona Xing Cai?" tanyaku.

"Ini, Tuan Jiang Wei menitipkan ini kepadaku, untukmu. katanya, dia tidak bisa bertemu dengamu" kata Xing Cai memberikan sebungkus bungkusan berwarna coklat.

"Ah, terima kasih"

"Tidak apa apa, saya permisi dulu"

Xing Cai menunduk sopan lalu pergi. Jiang Wei... apa yang dia berikan? aku membuka bungkusan dan berisi semacam sate yang setauku ini namanya kalo zaman edo... Dango. Kue yang ditusuk seperti sate, makanan manis ni... lalu ada sepucuk surat. aku membukanya dan membacanya.

"Untuk Nona Fong,
Saya tidak bisa berbicara langsung, karena saya sangat sibuk. Nanti malam ada perayaan musim semi, saya ingin anda membantu saya membuat kembang api. Kalau anda mau, tolong datang ke belakang ruang rapat.
Salam, Jiang Wei"

Itulah isinya... hem, kembang api? boleh juga, aku bisa belajar membuat kembang api dengannya, dan juga bakat itu bisa kupakai saat tahun baru berikutnya... tentu saja aku mau! aku ini sangat menyukai kembang api! semoga saja cepat malam, aku ingin membuat dan melihat kembang api yang mengwarnai langit gelap...

Sesaat malam...

"Tuan Jiang Wei! hah... hah... hah... aku sudah minta izin dari Nona Yue Ying!"

"Baguslah kalau begitu, ayo bantu saya membuat kembang api sebelum para orang orang bosan!"

"Ya!"

Aku duduk dan mencoba mengikuti cara pembuatan Jiang Wei, wuih, susah sekali... aku gagal terus... punyaku semuanya jelek, sedangkan punya Jiang Wei bagus dan rapi. apa dia tidak punya kekurangan? strategi, perang, dan pembuatan sesuatu. hebat sekali... beberapa kali kubuat terkadang dimarahi Jiang Wei... akukan baru pertama kali...

"Salah! Melingkarinya harus seperti ini!" kata Jiang Wei memperingatiku.

"Duh... susah sekali... bagaimana kamu bisa sebagus itu...?" kataku kesusahan.

"Kalau dibuat dengan tenang, santai, dan tidak terburu buru, hasilnya pasti memuaskan"

Betul juga, mama selalu bilang, kalau terburu buru hasilnya akan jelek, dan sama sekali tidak bagus... untung Jiang Wei memberitahuku.

"Selesai!" sorakku.

"Lumayan, hanya saja terlalu kecil dan kurang menarik..."

"Jangan mengkritik hasilku! akukan baru saja senang akan karyaku!"

"Ya, ya, ya... oke, kita luncurkan!"

Aku mengikuti perintah Jiang Wei, aku menghidupkan api dan menyalakan kembang api untuk naik keatas. semua langsung berpaling keatas, benar benar memuaskan... hanya saja... punyaku... agak jelek dan beberapa petasan ada yang kabur... ada yang hilang... ada yang salah arah... menyebalkan!

"Saya... menantikan ini untuk melihat dengan orang yang kusukai" kata Jiang Wei menatap kelangit.

"Eh? maksudmu aku?"

"Ya..."

"Aku... menantikan untuk melihat kembang api, dengan senyum orang orang istana"

"Itu bagus"

"... Tuan Jiang Wei... apa maksudmu tentang 'Itu sama sekali tidak benar'?"

"Itu... bukan apa apa... lupakan saja, yang penting, kita tetap teman"

"Ya!"

"Giliran saya yang bertanya... kamu bukan dari sini?"

"..."

Aku terdiam, ternyata dia masih ingat, gawat sekali... apa yang harus kujawab? kalau aku mengatakan yang sejujurnya... bagimana reaksinya? tapi... baiklah! jangan menyimpan rahasia lagi... baik... akan kukatakan!

"Ya" jawabku singkat.

"Kamu dari masa depan?"

"Ya"

"Lalu kamu tidak bisa pulang?"

"Ya"

"Kamu menolak perasaanku karena, kalau kamu pulang... perasaanku sia sia?"

"Kau tau banyak sekali Tuan... Jiang... Wei..."

"Itu harus memikirkannya terlebih dahulu, dasar bodoh"

"Aku tidak bodoh! huh!"

"... Namamu sebenarnya? pasti ada bukan?"

"Khusina Angelika, itu nama asliku... dan... Ini rahasia kita berdua, Tuan Jiang Wei janji tidak akan menyebarkannya?"

"Ya... janji"

"Sebagai tanda benar kalau kau menjaga rahasia, kelingkingmu"

"Hm?"

"Janji, janji, janji... yang memutuskan janji kau bersalah"

"Seperti anak kecil..."

"Kan aku memang anak kecil!"

"Hmp... hahahahaha!"

Tiba tiba dia tertawa, dengan pipi yang memerah. mungkin dia malu karena dirinya seperti anak kecil, tapi... ya memang, aku cukup malu juga menyebut diriku anak kecil... padahal umurku kan sudah mulai menginjak masa remaja... mungkin MKKB (Masa Kecil Kurang Bahagia). apapun itu, aku lega mengucapkannya.

Kami kembali menghidupkan kembang api, benar benar seru, kali ini aku tidak bersama keluargaku dan teman temanku melihat kembang api, tapi membuatnya bersama teman yang bisa disebut sahabat perang. kalau aku pulang nanti, aku ingin menceritakan... saat aku disini... pada papa, mama, dan teman temanku.

.

.

.


Garing, membosankan, dan ga seru... ntar wa bikin lebih seru! pasti! *tekat dewa*
review!?