Long note from Author! *slap* kita lanjut? sebaiknya terima dolo ripiu yang setia!
ScarletAndBlossoms:
Wah... Oh yah, emang Apple Tea itu, kesukaanku kok! tetapi, wa ga ada suka ma sapa sapa... buat buat aja sesuai komik yang pernah kubaca... Eh? anjing setan? ntar mala ngelawak dong!? kwkwkw! thanks for RnR!
Black Roses 00:
O oh... the story is not over yet! tentu saja akan kuperpanjang... *Aupu udah ubanan* maap, Pu! tetapi, wa jadi tertarik akan kehebatan perang OCku! *plak!* jangan hantu hantu jepang itu dong... thanks for RnR!
Nagi & Scarlett:
Soal SmS, wa ga bisa bales... maupun kasi kabar! sori! *nunduk dalem dalem* oh yah, jangan seserem itu dong! inikan bukan bertema horror! kalo korbannya Aupu (Samarannya) wa kesepian! huaaaaa! thanks for RnR!
Games: Dynasty Warriors, belong from KOEI
Chapter 13: Jelaskan
Gendre: Friendship & Adventure (Tapi, aga Romance)
Rate: T (Setengah setengah bole ga? #dilempar ke Antlatika)
Chara: Jiang Wei & Yue Ying (Yue Ying mulai masuk)
Summary: Aku, Masya, dan Jiang Wei mulai terpaku. Kenapa bisa tiba tiba? Bahkan aku tidak mendengar suara kaki maupun apa! Tiba tiba dia sudah ada dibelakang... Masya...
.
.
.
Aku, Masya, dan Jiang Wei terpaku. Apalagi aku, badanku tidak mau bergerak atas perintahku, bagai aku sudah tersihir menjadi batu... Aku mulai seperempat sadar saat setan itu berpaling ke Masya. Apa yang dia mau? Apakah...
"Kiiiiiik...!"
Dia berlari menuju Masya sambil menunjuk cakarnya yang tajam, dan mulai menyerang. Aku tidak ingin melihat korban lagi... Aku berlari didepan Masya, menerima cakaran setan itu dengan senang hati (?)
CRASS!
"AGHHH...!"
Teriakku, menarik lengan bajuku. Menahan sakit cakaran tepat dipunggungku. Nafasku ngos-ngosan, pengelihatanku mulai sedikit rabun... Aku menaiki kepalaku, menatap Masya yang gemetaran dan ingin menangis. Aku mengulas senyum tipis.
"Ka... Kau tidak apa-apa? Masya...?" tanyaku.
"Aku tidak apa-apa, tapi... Kau..."
"Ini? Ini bukan luka berat... Ah! Lari! Selagi kalian masih tidak apa-apa!"
"Ta... Tapi kau...?"
"Ini perintah, Maysa!"
"Ah! I... Iya!"
"Bawa Jiang Wei juga... Aku... Sudah tidak... Kuat... Lagi..."
"Khusina!"
"Kiiiiiiik!" Suara setan itu terdengar lagi.
"Khusina... Aku akan datang lagi!"
Masya's POV: ON
Aku menarik Jiang Wei, tidak peduli dia meringis kesakitan. Aku tidak berani melihat kebelakang, aku tidak ingin... Melihat setan kejam itu... Walau aku kesal, aku ingin membunuh setan itu... Karena, dia telah menyakiti Khusina! Tapi... Bisa apa aku?
"Adu, Duh! Pelan sedikit, Nona Masya!" teriak Jiang Wei, terseret.
"Tidak ada waktu untuk itu!"
"Uuugh..."
"Ah! Ada seseorang disana!"
"Eh? Ah! Kita kearah wanita itu, kita bisa aman!"
Aku mengikuti perintah Jiang Wei, sesaat sampai di wanita itu, wanita itu mulai sedikit terkejut saat melihat setan dibelakang kami. Setan itu kembali menyerang, tetapi ditahan wanita itu dengan tongkatnya itu.
"Pergi! Dia, akan saya lawan!" kata wanita itu.
"Nona Yue Ying! Berhati-hatilah!" kata Jiang Wei.
"Ya! Cepat, selagi saya bisa menahannya!"
"Terima kasih!" balas kami berdua, serempak.
Aku berlari, tidak tau apa tujuanku, dimana tempat aman, tapi yang penting, sebaiknya pergi dari sana! Khusina... Kita... Apakah kita bisa "Bernyanyi" untuk terakhir kalinya?
Masya's POV: OFF
.
Khusina's POV: ON
.
.
.
Su no ni na ya
Ka zo o na ne...
Suru...
Azu no ta...
Merou...
Kiza ki ya ma
At su ko, dame...
Nuru...
Azu no ta...
Merou...
Uuugh... Suara ini... Seperti memberi kenangan hangat... Aku membuka mataku, dan melihat diriku masih hidup. Aku duduk ditempat, memegang kepalaku sebentar dan menghela nafas. Pelan pelan aku menyadari, ini bukan tempat pertama... Dimana ini?
"Hebat!"
Eh? Suara anak kecil? Siapa yah... Bagus sekali suara mereka... Aku berjalan pelan pelan, dan mengedipkan mataku beberapa kali, untuk menyadarkan diriku sedikit. Sesampainya, aku melihat dua anak perempuan, yang sangat menginggatkan ku, pada sesuatu...
"Khusina, sudah mulai hujan! Yuk, pulang!"
"Baik, Masya!"
Khusina? Masya? Apakah dua anak perempuan itu, diriku dan Masya saat masih kecil? Tapi, kenapa aku bisa terlempar sampai sini? Apakah kerjaan setan itu? Dasar kurang kerjaan... Tunggu dulu... Kalau diingat ingat... Ada satu hal yang sangat membuatku takut... Apakah... Itu...
KREKK...
Eh? Suara besi... Apakah... Kejadian itu... Terulang, lagi?
"Masya! Awas!"
CRASS!
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan, ini kejadian yang hanya aku dan Masya yang tau... Bahkan orang tua maupun keluarga kamipun tidak mengetahui hal ini... Punggungku tergores, saat menolong Masya dari jatuhnya besi bagunan... Itu... Hal yang sangat tidak menyenangkan...
"Khu... Na... Shi... Na... Khusina! Bangun! Bangun!"
.
"Khusina! Bangun! Kumohon, jangan tinggalkan aku!"
"Ehm... Ma... Masya...?"
Aku mulai sadar, saat badanku digoyang goyang oleh seseorang, saat aku membuka mata... Aku melihat Masya menangis membasahi wajahnya... Aku mencoba membuka mataku, dan mencoba sedikit membenarkan mataku... Yang agak rabun rabun. Tetapi, Masya sama sekali tidak berhenti menguncang guncang badanku. Akupun mulai sedikit marah.
"Hentikan, Masya!" bentakku, melepaskan tangannya dari bahuku.
"Ah! Khusina! Ka... Kau masih hidup! Syukurlah!" balas Masya.
"Syukurlah Nona Fong... Tetapi, Masya... Siapa yang kamu panggil Khusina?" tanya Yue Ying.
"Eh?"
Aku dan Masya serempak menoleh kebelakang, melihat Yue Ying dan Jiang Wei. A... Apakah, akan ada rahasia untuk satu orang lagi?
"Eh... Itu..." kataku terbata bata.
"Apa nama aslimu itu Khusina?" tanya Yue Ying.
"..."
Akhirnya aku turun tangan, aku menceritakannya secara panjang lebar, tanpa segan-segan aku membicarakannya. Lalu Yue Ying menghela nafas. Dan mengeleng geleng kepalanya pusing.
"Anu... Ngomong-ngomong, mana setan itu?" tanyaku, celingak celinguk.
"Kau pingsan selama... Kira-kira 6 jam... Dan... Setan itu... Kabur" jawab Masya.
"Ka... Kabur?"
"Iya, saat Nona Yue Ying memnyerang wajahnya, dia berteriak dan menghilang"
"Tunda sebentar pembicaraan kalian! Jadi, selama ini kamu hanya orang biasa yang seperti orang orang kerajaan?" tanya Yue Ying, nadanya tinggi.
"Iya" jawabku singkat.
"Kamu terpaksa ikut perang?"
"Sepertinya..."
PLAKK!
Yue Ying menamparku kuat sekali. Aku mulai menolehnya dengan tatapan heran. Aku tau ini salah, mengikuti perang untuk menyusahkan orang? Aku memang biang kerok... Aku menghela nafas, dan menahan tangisku. Tiba tiba Yue Ying memelukku.
"Bodoh! Kenapa tidak bicara dari dulu!? Jujur saja... Kalau padaku... Aku... Sangat khawatir tahu..." kata Yue Ying, mulai menangis.
"Nona Yue Ying...? Ma... Maafkan aku.."
Aku terduduk diam, rasa sakit dipunggungku mulai tidak terasa... Semua... Ini, rahasia yah?
.
.
.
Thanks for reading...
Ready to review?
Thankkyu!
