Ketemu lagey? Lanjut yah? Okay, here for the greatest reviews!

ScarletAndBlossoms:

Apa wa tulis aja yah? Author setia? XD okay! Iya ni, Yue Ying kerjanya nampar orang trus... Kurang kerjaan ya bu? *Plakk!* hehehe! Thanks!


Games: Dynasty Warriors, belong from KOEI
Chapter 14: Be Stronger
Gendre: Friendship & Adventure
Rate: T (karena akan ada perkelahian)
Chara: Jiang Wei & Yue Ying
Summary: Kekuatan apa yang ada dalam diriku? Masih bisa hidup, walau tercakar dengan sengsara, aku banyak terluka, mungkin karena terlalu ceroboh... Tapi, apakah ini hukuman?

.

.

.

"Uuugh..."

"Ah, maafkan saya..."

Aku mulai menyadari kesakitan dipunggungku, rasanya... Darahku menguap-nguap, nafasku terengah-engah... Saat itu, aku terjatuh ditangan Yue Ying, mulai pingsan... Nafasku sesak, kepalaku sakit, dan rasanya sakit sekali... Bukan main...

"Ah... Khusina? Tolong! Tolong dia, tadi dia melindungiku! Kumohon!" kata Masya memohon.

"Biar saya saja! Kalian tunggu saja!" kata Yue Ying, mengangkatku.

Sial... Disaat seperti ini... Aku benci, yang namanya sakit... Aku berusaha menahan sakit ini, tapi... Tidak ada gunanya jika dalam keadaan ini, berbicara... Sial, ini sangat merepotkan coba kalau aku laki-laki, karena laki-laki memiliki tubuh kuat... Padahal hanya cakaran goresan saja... Aku sudah tidak bisa bertahan... Bodoh...

.

"Uuugh... Agh!" teriakku.

"Sabar, cakaran yang ternoda dari punggungmu itu beracun!"

Yue Ying mengobati luka cakaran dipunggungku, sial... Sakitnya melebihi sakitnya jatuh dari motor... Sial, aku tidak tahan lagi! Lebih baik aku disuntik oleh petugas kesehatan! Sial... Tahan, tahan... Jika sabar, waktu akan lebih cepat...

"Agh!"

.

"Khu... Sina? Khusina? Bangun!" panggil Masya.

"Ugh... Uh... Ma... Masya? Itukah kau?"

"Yaiyalah! Memang aku malaikat dari kayangan?"

"Maaf, maaf..."

Aku menghela nafas, syukurlah... Sakitnya sudah sedikit mereda, jujur aja! Sakitnya bahkan melebihi rasa sakit terkena panah saat itu... Kayaknya, lama-lama aku bisa jadi mumi, karena banyak perban dilengan, ditubuh, dan dikaki. Sesaat aku menoleh kesamping aku melihat Jiang Wei tersenyum pulas.

"Syukurlah! Saya sangat takut jika kamu meninggal... Apalagi saat kamu berteriak, saya ingin menangis..." kata Jiang Wei.

"Dasar! Aku tidak akan mati semudah itu tau!"

Aku tertawa kecil, dasar... Mati itu soal nanti! Sekarang soal sakit dulu! Aku yakin, jika aku bertahan, rasa sakit bisa dilupakan! Aku menghela nafas sebentar dan berdiri sebentar, mencoba tenang, jangan terlalu takut, aku mencoba berjalan pelan-pelan, syukurlah, aku masih bisa berjalan dan berlari.

"Khusina, jika kau belum bisa berjalan, jangan dipaksakan dulu!" kata Masya memperingatiku.

"Ehm... Tidak, aku masih bisa berjalan"

Aku berjalan keluar, senangnya, mereka khawatir akan keadaanku. Tapi, rasa sakit seperti ini, ini baru pertama kalinya kurasakan... Rasa sakit ini, seumur hidup, baru kali ini kurasakan... Aku juga manusia, tidak selamanya aku beruntung terus, pasti suatu saat aku juga sial.

"Oh yah! Kuberitahu apa yang dibicarakan oleh Jiang Wei selama kau diobati!" kata Masya, mengulas senyum.

"Huwaaa... To... Tolong diam saja Nona Masya!" Jiang Wei mencoba menghentikan Masya

"Ada upah tutup mulut? Kak Jiang Wei?"

"Ehm... Saya traktir Dango yah?"

"Boleh? Mau!"

"Aku juga ikut, aku mau juga!" kataku.

Wah, Akhirnya aku bisa makan banyak juga, jujur! Makanku bahkan melebihi papaku! Tapi, aku tidak pernah gendut... Aneh bukan? Tapi, ya sudahlah... Aku sudah lapar dari tadi! Menurut setauku, Dango itu sejenis kue berbentuk bulat yang ditusuk seperti sate, dan rasanya manis.

"Saya juga ingin ikut, boleh bukan?" kata Yue Ying.

"Boleh!" seruku dan Masya.

"Eh? Hm... Baiklah! Ayo, ada tempat penjualan Dango yang enak!" kata Jiang Wei.

Aku belari mengikuti Jiang Wei, Yue Ying, dan Masya yang ada didepanku. Karena kakiku masih dalam keadaan diperban, aku berlari pelan, tiba-tiba aku terjatuh.

"Aduh!"

"Ah, Khusina! Kau tidak apa-apa? Sebaiknya diam saja..." kata Masya.

"Tidak... Tidak... Aku baik-baik saja..."

"Tidak baik jika memaksakan diri, Nona Fong, Biar saya saja yang membawanya" kata Jiang Wei, mengangkatku.

"Huwa!"

Aku sedikit terkejut, ini tiba-tiba sekali, menganggetkan. Saat aku melirik Masya, dia seperti pura-pura menoleh dan bersiul, kelihatan sedikit nyengir... Kalau orang tuaku tau, apa yang akan terjadi? Yang pastinya, Jiang Wei akan dikubur hidup-hidup oleh papaku!

Aku menghela nafas, malu sekali, ingn meronta-ronta. Lebih baik, pikirkan Masya dan setan kurang ajar itu sajalah...

Sesampai, ditoko Dango...

"Wah... Enak!" teriakku.

"Baru pertama kali memakannya?" tanya Yue Ying, mengambil secangkir teh hangat, dan meminumnya.

"Iya! Di Masaku, tak ada makanan seperti ini!"

"Iya, ya, benar-benar enak..." kata Masya melahap Dango.

"Sudah kubilang, saya tahu Dango yang enak di Shu ini" tambah Jiang Wei, mengambil tusukan berikutnya.

"Wah, jadi ingin membawa pulang!" kataku, melahap banyak tusukan Dango.

"Dasar gembul" kata Masya, cekikikan.

"Biarin!"

"Kalau kamu suka, boleh" kata Jiang Wei.

"Benarkah!? Terima kasih!"

Aku memakan banyak sekali, lebih banyak dari Masya, Jiang Wei, maupun Yue Ying. Karena enak sekali... Padahal rasanya hanya terbuat dari tepung, gula, dan beberapa madu. Tetapi, benar-benar ingin kubawa pulang... Kalau aku sudah pulang, aku mau membuat ini!

"Sebaiknya jangan Kak Jiang Wei, dia bisa memakan lebih dari 50 buah..." bisik Masya.

"Hebat..."

"Diam, Masya! Uuuuh..." bentakku.

Memang jarang sekali ada yang menjual makanan yang bahannya sedikit. Aku mengambil tusukan berikutnya. Lama kelamaan, akhirnya habis.

"Berapa?"

"500 keping emas"

"Ini, terima kasih untuk makanannya"

"Tidak apa-apa"

Aku tersenyum kecil, dasar. Mana ada orang sakit yang senang. Ada-ada saja aku ini. Bagaimanapun juga, ini benar benar hebat. Tidak terjual tu di dekat dekat rumahku. Masya... Karena ada kau, aku jadi tidak bisa tenang. Nona Yue Ying... Terima kasih telah mengobatiku. Tuan Jiang Wei... Jangan terlalu baik padaku. Soalnya, aku tidak bisa membalas mu.

Aku senang, aku senang selama ada di sini. Tidak kesepian, banyak yang melindungiku, banyak yang khawatir padaku. Tapi, aku tidak bisa lama-lama di sini. Karena, ini bukan rumahku yang sebenarnya... Aku menatap lenganku, kakiku. Luka ku banyak sekali, bahkan di perban sampai tak terlihat darah.

Ku harap aku tidak bermimpi! Karena, aku telah menjalani perang yang luar biasa. Yang tak akan gampang untuk di datangi. Selesai makan, kami pulang ke rumah masing masing, sebelumnya... Aku menarik lengan baju Jiang Wei, dia menoleh padaku. Menatap mengapa.

"Tuan Jiang Wei, ada sesuatu yang ingin ku katakan dari dulu. Maukah kau mendengarkanku?" kataku.

"Apa?" tanya Jiang Wei.

"Ikut aku sebentar! Masya, Nona Yue Ying, kalian pulang duluan. Ada yang harus ku bicarakan pada Tuan Jiang Wei"

"Baiklah, tapi jangan terlalu malam. Saya takut kamu hilang lagi" kata Yue Ying.

"Ya!"

Aku menarik Jiang Wei di tengah tengah pasar. Tapi, dia tidak bertanya tanya. Biasa saja, santai. Ya, kelihatannya tidak terpaksa.

"Ada apa Nona Fo.. Khusina?" tanya Jiang Wei.

"Ku dengar kau menyukai wanita di toko bunga! Apa benar?" tanya balikku.

"Heh?"

"Jawab dengan jujur Tuan Jiang Wei! Aku tidak mau kau bohong!"

"Si, Siapa bilang? Kamu mendengarnya dari siapa?"

"Jawab dulu pertanyaanku!"

"Tidak. Sekarang jawab pertanyaanku"

"Tentu dari orang! Mana mungkin aku bertanya dengan hewan"

"Oh, itu cuma pembicaraan. Saya selalu membeli bunga di sana, dan juga selalu bertanya padanya. Dia pintar, makanya saya selalu bertanya soal strategi. Lama kelamaan, jadi akrab"

"Ouh... Maaf! Maaf aku telah salah sangka!"

"Tidak apa-apa, tidak usah khawatir"

"Iya... Eh? Si, siapa yang khawatir!?"

"Mengaku saja, saya tidak ingin kamu bohong"

Uh... Sebal! Dia membaca pikiranku. Yah, memang. Memang aku ingin membuktikannya sebelumnya. Tuan Jiang Wei, bisakah kau ikut denganku? Kalau aku pulang? Tuan Jiang Wei?

.

.

.


Akhirnya aku bisa membuat Fic! *gaya Sanada Yukimura dari sengoku basara*
Reviews guys?
Author-san? Readers-san? Miina-san? Thanks!