Oke! Akhir-akhir ini chaptersku kurang bagus! Tapi, makasih buat review dan pembaca setia yang ada disana... *lambai-lambai tangan* okay, reviews!

ScarletAndBlossoms:

Wah, pereviews setia banget ni! Mau dango? Wa juga mau... TTvvTT tapi kagak ada duit. ^^", okay, wa udah tau sedikit crita milik One-chan, GANBATTE YAHH! But, mungkin ini tidak berlangsung lama...Thanks!


Games: Dynasty Warriors, belong from KOEI
Chapters 15: The Unknow Battle
Genre: Friendship&Adventure
Rate: T (Tidak ada yang perlu di bicarakan, sepertinya... *Plakk!)
Chara: Jiang Wei & Yue Ying
Summary: Cemburu? Khawatir? Benci? Rasa ingin tahu? Ukh, Jiang Wei seperti peka akan perasaanku... Jiang Wei berani mengatakannya, tapi... Kenapa aku pengecut begini?

.

.

.

Membawa pulang Jiang Wei, kemasaku? Tanpa sadar aku menggiginkan hal yang sama dengan Jiang Wei. Sudah! Umurku masih 13 tahun! Jangan berpikir aneh-aneh deh pokoknya! Bisa-bisa aku melupakan ujian yang sebentar lagi. Tapi, akukan disini. Tempat dimana tidak ada pelajaran sama sekali.

Aku tersenyum tipis, lalu tertawa. Aku benar-benar sudah gila, gila yang hanya didepan Jiang Wei. Tertawa sendiri, nangis sendiri, grogi manjang. Hhh, Shu. Namanya pendek, tapi gampang. Bagiku, kelihatannya ini tempat yang paling baik bagiku.

TAP, TAP, TAP...

"Tuan Jiang Wei! Liu Bei ingin mengajak anda untuk melawan musuh kembali! Sekarang, Wu!" kata seorang pengawal, menunduk sopan didepan kami.

"Wu?" tanyaku, tidak begitu hapal nama-nama sini.

"Baiklah" jawab Jiang Wei, mengganguk lemah.

"Mohon kerja sama besok, Tuan Jiang Wei!"

Pengawal itu, menunduk sekali lagi. Dan pergi meninggalkan kami. Pengawal itu kelihatan sibuk, kelihatannya perlu informasi lagi. Aku kembali menatap Jiang Wei, keringatnya jatuh-jatuh, wajahnya agak pucat. Apa, apakah Wu itu orang-orang yang kuat?

Bahkan Jiang Wei setakut itu? Yang benar saja. Aku tidak mau lihat kematian lagi! Soalnya, aku berprangkasa buruk didalam peperangan kali ini, kalau... Sesuatu terjadi pada Jiang Wei.

"Nona Fong, maksudku Khusina... Kita akhiri pembicaraan kita yah?" tanya Jiang Wei, mengulas senyum nggak wajar.

"Tunggu! A, aku mau ikut!"

"Berbahaya Nona! Jika kau terluka lagi, perasaanku tidak menentu!"

"Pokoknya aku mau, mau, dan mau!"

"No..."

"Kumohon! Aku tidak mau sendirian menunggu kehadiran lamamu!"

"..."

"Boleh?"

"Baiklah"

"Setuju! Ayo, kita harus bicara pada Nona Yue Ying! Dan juga Masya!"

Aku menarik Jiang Wei keluar dari pasar. Kalau soal begini, jagonya aku! Agak merayu yah? Tapi, tidak jadi halangan bukan? Tidak masuk daftar aturan keluarga atau peraturan norma-norma.

.

"Nona Khusina!? Kau... Tuan Jiang Wei! Saya tahu kamu menyukainya, tapi bukan artinya kamu harus membawanya di medan perang yang mengerikan ini!" bentak Yue Ying.

"Iya! Lagipula berbahaya tahu!" tambah Masya.

"Anu..."

"Kamu tahu sekarang pertempuran mati-matian! Tidak ada Zhuge Liang yang bisa mengatur dengan baik!"

"Bagaimana kalau Khusina terluka lagi!? Kau mau menanggungnya?"

"Itu..."

"Pokoknya, jaga dia disini! Jika ada apa-apa dengannya, saya tidak akan menahan diri untuk membunuhmu, Jiang Wei!"

"Kaukan bisa sendiri! Kaukan kuat, tidak perlu perempuan yang menjadi rekanmu!"

"BERHENTIIII! Aku yang ingin ikut! Aku yang membujuk Tuan Jiang Wei! Semua, itu kemauanku!" bentakku.

"Nona Khusina...?"

Aku ngos-ngosan, kukepal tanganku. Aku tahu kalau semua yang diucapkan Masya dan Yue Ying benar, tapi tidak ada salahnya kalau aku mati disana. Namanya juga perang, perang yang harus dibayar dengan nyawa. Dibunuh, atau terbunuh. Itu semua harus dipilih hanya satu.

"Baiklah, aku memang tidak bisa menolak permintaan Nona Khusina..." kata Yue Ying melipat tangannya.

"Bu Yue Ying? Kok begitu?" tanya Masya.

"Apa boleh buat, sudahlah. Ayo, kita harus makan, tidur, dan siap-siap akan besok pagi"

"Nona Yue Ying, terima kasih..." jawabku, mengigit bibir bawahku.

Kulihat badannya gemetaran. Dari tadi saat mendengar soal peperangan dengan Wu, mereka jadi aneh... Apa benar kalau dugaanku seperti itu?

.

Pagi ini, semua kelihatan gelisah. Aku jadi agak takut. Kenapa yah? Padahal ini kesempatan yang bagus untuk menunjukkan semua orang kalau Shu itu hebat. Bahkan, aku merasa, kalau Jiang Wei akan pergi jauh... Kenapa yah...?

"Fong!"

Kudengar seseorang memanggil nama cinaku. Suara perempuan ini, begitu kurindukan, apa mungkin...

Aku menoleh kebelakang, sambil berterus terang. Mataku terbinar-binar, senyuman terulas di bibirku, itu Cao Ma Lie. Wah, sudah lama sekali! Aku berlari sambil menggengam panah coklatku, berlari kearahnya.

"Kak Cao Ma Lie!" panggilku, dia menyambut dengan senyuman hangat.

"Ling Fong... Syukurlah, kau belum pergi!"

"Ada apa kak?"

"Ini, ini ku buat selama berminggu-minggu. Hanya untukmu."

"Ka, kalung? Dengan mata baru berwarna Biru muda... Seperti warna langit..."

"Bagus bukan? Aku binggung soalnya aku belum menanyakan apa-apa tentang dirimu"

"Terima kasih! Ini benar-benar indah!"

"Sama-sama. Itu juga sebagai jimat untukmu. Semoga kau menang yah! Aku mendukungmu!"

"Wah, ternyata berita pertempuran kami sampai di tempatmu yah?"

"Tentu saja, semua kerajaan diberitahukan"

"Ehm, doakan kemenangan kami semua yah. Kak Cao Ma Lie. Aku benar-benar gembira bertemu denganmu"

"Yah, aku juga, sangat senang. Mungkin ini takdir kita"

"Ehm"

"Hei Nona Fong! Kita harus berangkat sekarang!" teriak Huang Zhong, melambai-lambaikan panah besarnya itu.

"Kita bertemu lagi seusai peperangan. Aku mendoakan kemenanganmu, dan keselamatanmu. Soalnya... Wu itu bukan musuh biasa..."

"Bukan, musuh biasa?"

"Kau hanya perlu menginggat... Lihat lebih dalam, terputus karena kebahagiaan, dan memperbaiki ikatan. Itu saja, dah!"

"Ah! Tunggu Kak Cao Ma Lie... Tu, Tunggu... Oh..."

"Hei Nona Ling Fong!"

"Datang!"

Aku Berjalan pelan kearah kapal yang dinaiki Huang Zhong, Yue Ying, dan Jiang Wei. Mereka siap untuk bertarung. Mencengkram senjata mereka masing-masing, serasa ingin mematahkannya. Keingin tahuku soal Kak Cao Ma Lie begitu besar. Aku benar-benar mau mengerti maksud dari perkataannya.

Tapi, seberapa besarpun keingin tahuku. Aku tidak bisa bertanya padanya sendiri.

.

.

.

To Be Continue


Fine, sepertinya kita kehabisan bahan ide! *Masa adonan*
Well, thanx mau membaca... Ketemu lagi di Chap brikutnya...