Kita lanjut okay, thanx untuk yang terhormat *tumben kau sopan... #beleping!* okay, lanjutkan!


Games: Dynasty Warriors, belongs from KOEI
Chapters 16: Dibunuh atau terbunuh
Genre: Friendship&Adventure
Rate: T
Chara: Jiang Wei & Yue Ying (entah mengapa sepertinya akan berubah)
Summary: Aku tidak mengerti, bahkan rerumputan yang bergoyang, tidak bisa memberitahuku. Aku benar=benar ingin tahu. Pasti akan menjadi petunjuk sesuatu.

.

.

.

Kapal sampai mendarat di perdesaan kerajaan yang luar biasa luas. Rumput bergoyang mengikuti arus angin. Rasanya benar-benar menyebalkan. Rasanya ada sesuatu yang membuatku ingin mati saja, yah, seperti perasaan takut akan sedih. Atau, apapun itu... Ada hal aneh dibalik semua ini.

Langit begitu terang, membuat semua orang terlihat tampak lebih jelas. Anginnya membuat kecepatan bertambah, bahkan sinar violet matahari membakar rerumputan. Jalannya berliku, aku baru saja ingin meletakkan panahku ke depan busurku, tapi. Dihentikan dengan sambutan kejam dari musuh.

Semua tidak akan berdiam, semua langsung berlari sambil menggayun senjata mereka. Kuda-kuda meringik kaget melihat silau matahari yang memantulkan cahaya di pedang berwarna kilat.

Tali kuda itu ditarik seakan-akan memaksa si kuda berjalan cepat. Baju merah para musuh, ternoda warna yang sama, sayangnya lebih agak gelap.

"Nona Yue Ying! Belakang!" teriakanku.

Aku membalikkan wajahku, menoleh kearah Yue Ying. Dengan kecepatan yang bisa dibilang refleks, dia mengikuti alur pembicaraanku. Anak panahku, kulajukan secepat mungkin, mungkin aku masih agak bodoh, tapi aku yakin kalau kekuatanku sudah lebih kuat.

Ntah apa namanya, seperti perumahan. Orang-orang lari kaget melihat sekumpulan musuh, alias kami. Kuda-kuda mengeram marah, mengusir para orang-orang Wu. Jeritan mereka lebih mirip gunturan petir dibanding suara ombak terdekat.

"Nona Fong! Sebaiknya kamu pergi ke kerajaan selatan, Huang Zhong akan mengatur ini!" teriak Yue Ying, menunjuk arah.

"Nona Yue Ying? Baiklah, tapi. Nona Yue Ying akan kemana?" tanyaku, masih sibuk berlari-lari.

"Tenang, saya akan ke kerajaan timur"

"Baiklah, aku mengerti"

"Berjanji kalau kamu tidak akan mati"

"Nona juga yah"

"Cepat! Kalau kalian hanya menghabiskan waktu untuk itu, lebih baik sekarang!" bentak Huang Zhong, mengambil pedang yang diikat di pinggang.

"Baik! Aku pergi sekarang!" jeritku, langsung membalik badanku, menuju selatan.

Jujur, aku tidak tahu dimana itu, tapi itu bukan apa-apa, namanya saja kerajaan selatan, ya sudah pasti arah selatan... Jamin, atau tidak ya sudah. Yang penting, ini dulu...

.

Kupercepat langkahku, walau wajahku dibasahi keringat. Aku tidak akan menyerah. Hah, capek sekali. Aku terduduk, meletakkan busurku disamping. Ampun, padahal aku tidak begitu berjalan jauh. Baru beberapa langkah. Bagaimanapun itu, tempat ini luas.

Kusapu keringatku yang menodai wajahku, capek ditambah panas. Jadi ingin minum yang dingin-dingin.

"Kamu, kamu datang kesini, untuk mendapatkan kepalaku bukan?" tanya seseorang.

"Heh? Buat apa aku mengambil kepala manusia? Memangnya aku ini pembuat jalan apa?" jawabku, menegakkan wajahku.

Kulihat, dia pemuda yang seumuran dengan Jiang Wei, rambut pendeknya yang berwarna coklat, begitu kelihatan halus. Dua pedang kecilnya kelihatan kuat dan sudah diasah. Baju merahnya, mengobarkan semangat kerajaannya.

"Bukan untuk kepalaku?"

"Tentu saja! Buat apa aku mengambil nyawamu yang masih berguna, hah?"

"Saya tidak tahu maksudmu, yang jelas. Jika kamu tidak mau membunuhku, saya saja yang membunuhmu"

"Heh! Kau pikir aku perempuan lemah hah? Jangan sombong! Lihat dulu, kau saja belum seberapa!"

Kuambil busurku, dan kuletakkan anak panahku. Kulepaskan secara ligat, dan mundur sedikit, saat dia mematahkan anak panahku dengan pedang ditangan kanannya. Hebat, malah aku mengatakan hal yang tidak mewujudkan ini.

Aku megigit batang tengah panah, dan kutarik satu lagi, kutaruh dibusur coklatku, dan kulepaskan. Dengan kecepatan bagai api terhembus angin, dia meloncat. Yah, kurasa dia tidak membaca pikiranku. Ku ambil panah di mulutku, dan kutaruh kembali dibusurku, kulepaskan secara bersamaan waktu.

CRAAS!

"Hah! Dasar bodoh! Kalau kau meloncat keatas, kau tidak bisa melakukan apa-apa!" bentakku.

"Jangan senang dulu, kita lihat saja, siapa yang akan tertawa belakangan!" sahutnya marah.

"Jangan karena aku adalah perempuan, kau menganggapku lemah dan mudah! Aku sudah latihan berhari-hari dengan Tuan Jiang Wei!"

"Jiang Wei? Strategi penerus Zhuge Liang itu?"

"Tentu saja, siapa lagi?"

"Sepertinya, kamu bisa kujadikan umpan"

"Apa?"

Dengan semangat berkobar-kobar, lelaki itu berlari tanpa mencabut panah dipinggangnya itu. Kenapa? Apa maksudnya aku akan dijadikan umpan? Aku tidak mengerti, apa dia akan melakukan sesuatu supaya Jiang Wei masuk perangkap? Dengan aku sebagai umpan?

Ini tidak masuk akal! Aku menarik kembali anak panah di kantong anak panah, yang tergantung dipunggungku. Aku tidak mau jadi bahan jebakan! Kalau sesuatu terjadi pada Tuan Jiang Wei, aku tidak akan memaafkanmu!

Dia melempar pedang kecilnya itu, menancap dibusurku. Dan menjerat ketanah. Si, sial, dia terlalu pintar... Tanpa terdengar suara larian kaki, pedang di tangan kanannya, sudah ada didepan leherku.

"Berteriak" ucapnya.

"Apa?"

"Berteriak, dan itu akan memancingnya untuk kesini"

"Ti, tidak mau!"

"Atau lehermu kutebas?"

"Tidak!"

''Makanya, berteriak, kalau masih menyayangi nyawamu..."

Pedangnya semakin dekat, mulai memotong leherku. Aku tidak mau mati, tidak mau... Tidak mau...

"HENTIKAAAAAAN!"

Hah, hah, hah... Akhirnya aku berteriak... Aku, aku berteriak, tidak, tidak, tidak, aku, aku benar-benar sudah berteriak? Oh, gawat...

.

Aku menatap tajam pada lelaki itu, matanya yang agak berwarna keemasan, mulai menyeramkan. Seperti ingin membunuh seseorang.

SRAK

Kami serempak menoleh. Sial, itu benar-benar Jiang Wei! Dasar bodoh aku ini! Ugh, lelaki itu memundurkan pedangnya, lalu tersenyum. Dia tetap didepanku, sambil merenggang nyawa, aku tertunduk lemas.

"Kita bertemu lagi yah?" tanya Jiang Wei.

"Ya, sepertinya begitu. Saya menunggumu dari tadi" jawab Lelaki itu.

"Lebih baik kamu menyingkir Lu Xun, kamu curang kalau mengumpankan seorang anak kecil"

"Tapi, dengan dia, kita bisa bertarung bukan?"

"Ya, memang benar"

"Nah, Jiang Wei, kamu mau saya yang membunuh anak ini, atau kamu, meletakkan senjatamu itu?"

"..."

"Bunuh saja aku! Memang bagimu aku ini penting hah!? Tuan Jiang Wei" bentakku.

"Te, tentu saja kamu penting! Selama ada kamu, Nona Yue Ying jadi lebih gembira dan lebih jenius. Dan, saya... Selama ada kamu, saya jadi lebih mempercayai kekuatanku... Tentu..."

"Dasar! Aku tidak mau kau terbunuh! Mendingan, kalau aku saja bukan?"

"..."

"Bagaimana? Tuan penerus Zhuge Liang?"

"Kulakukan, asal kamu tidak membunuh anak itu"

Jiang Wei, mencengkram tombaknya itu. Tidak, tuhan, kumohon, aku, aku apa sih gunanya? Lebih baik, aku saja yang dibunuh! Tapi, keadaan terbalik, dia menusuk dirinya dengan tombaknya. Jiang... Wei...?

"Hah, dari pada saya mati ditanganmu, lebih baik, saya mati dengan sendirinya! Itu tidak akan membuat nama baikmu menjadi terhormat!"

"Kamu... Sialan!"

"Nah, jangan bunuh... Anak itu..."

BRUUK

Benturan tanah terdengar seperti jeritan setan. Darahnya mengalir sampai menempel di kakiku, aku berusaha untuk menahan sesuatu diwajahku, wajah pucat, kulit dingin, remasan ganas.

"Hmp, ini tidak akan membahagiakan Yang Mulia Sun Quan, kamu, saya menangkapmu, untuk menjadi bagian dari kami"

"Uh, uh, ah, uh... Ugh, ugh, um..." kuremas rambut pendekku seakan ingin menjambaknya, suaraku serak, tapi ini bukan kemauanku.

"Silakan menangis dulu, kutunggu dirimu"

Aku berdiri dan langsung berlari kearah Jiang Wei. Jiang Wei mati karena aku, semua salahku, aku yakin wajahku pucat, air mataku tumpah-tumpah tercampur darah. Aku terduduk disampingnya, celana tebalku dikotori oleh darah yang asli bersih. Dan, akhirnya aku berteriak sengsara.

"TUAN JIANG WEI!"

.

.

.


Yosh, kita lanjut, jut, jut!
Agak sedih, karena Jiang Wei mati... TToTT"
Hik...