Oke, kelihatannya telah ada ripiu kembali. Makasih banyak! Arigatou goraimazu! Ga sempet juga sih... ^^" Oke, kita... Lanjooooot! *SBYdotkom*
Nagi & Scarlet:
Iya! Ayo kita hajar Boyan! *Ambil Bazooka* Oke, Khusina hanya OC wa disini, dan itu hanya imajinasi... *Wew* Yah, wa juga sebenarnya ingin tetap Khusina di Shu aja... Tapi, kalau disana terus, pembaca bisa bosen... Oke, Jiang Wei yah... Kasihan juga liatnya... Padahal dalam cerita tidak ada... Oke, thanx!
ScarletAndBlossoms:
Curios yah, iya, ya. Memang ga kepikiran. Hehehe, thanks! Oh ya, buat yang Chap 15 juga sekalian... *Hamper lupa* biasa, orang pikun salah makan obat*Maksudnya Thor?* oke, makasih yah! Udah lama ga buat crita, duh suer... Kangen berat... Thanx!
Games: Dynasty Warriors, belongs from KOEI
Chapter 17: Perkenalan
Gendre: Friendship & Adventure (Ehehehe *ngapain kau muncul? Hajar authornya!)
Rate: T (Ale ale... *Nah sudah, pengen dipecat dah)
Chara: Sun Shang Xiang & Lian Shi
Summary: Wu, apa salah Shu? Kalian kejam! Membunuh orang yang sangat kusayangi! Itu sungguh kejam! Kejam! Kenapa? Kenapa kalian harus membunuhnya? Kenapa? Hanya dendam kalian harus bertarung dengan darah? Aku, aku tidak suka ini...
.
.
.
Kututupi wajahku dengan kedua tanganku, dari selip selip tangan jatuh terintik rintik air mata yang panas. Kejam, itu sungguh kejam. Kenapa? Kenapa harus Jiang Wei yang mati! Kenapa tuhan begitu mengigginkan Jiang Wei? Hatiku sangat sakit! Cobalah rasakan penderitaanku! Kenapa harus begini?
"Tuan Jiang Wei! Kembalilah padaku!" Teriakku lanjut.
"Kamu jangan terlalu bodoh"
"Kau... Kau... Kau sungguh keteraluan! Kau telah membuat sesuatu yang tak inggin kulihat! Kau menyebalkan!"
"Bukan cuma dirimu yang merasakan hal yang menyakitkan itu! Lebih dari sejuta orang telah kehilangan orang yang sangat disayang!"
"Kau, kau..."
Aku menutup mataku, dan terpaku seram. Mencoba untuk melupakan hal yang begitu mengerikan selama seumur hidupku, tanpa sadar tubuhku memberat, jatuh dipertumpahan darah. Jiang Wei... Badanku, berat sekali seperti ditimpa gorilla, labi-labi... Gitulah...
.
Tangan yang lembut, halus, dan dingin. Aku membuka mataku, melihat kalang kabut yang menjadikan seseorang menjadi dua. Siapa? Aku tidak tampak jelas tapi yang jelas itu seorang wanita, tangannya kecil dan halus. Aku mengedipkan mataku berkali-kali. Mulai tampak jelas.
"Oh, nona muda... Anda sudah bangun?" tanya wanita itu.
"Tidak, aku masih mengantuk" jawabku.
"Kamu marah? Karena meninggalkan Shu?"
"Tepat!"
"Kumohon tolong sabar"
"Tidak bisa!"
"Diam! Kita bicarakan dengan baik!"
"Mana bisa begitu! Kau, kau tidak menyadari bagaimana rasanya!"
"Saya tahu rasanya, nona muda! Ada juga yang telah meninggal disini"
"Aku benci dia!"
"Uuuuuugh... Hufff. Dia sebenarnya baik"
"Mananya?"
"Cuma, dia dendam dengan orang yang dibunuhnya.."
"Dia tidak membunuh! Tapi, gara gara aku... Sepertinya..."
"Kamu yang membunuhnya?"
"Aku dijadikan umpan oleh dia! Dan dia membuat Tuan Jiang Wei meninggal!"
"Itu tidak masuk akal"
"Benar juga"
Kami terdiam sejenak saat bertengkar mulut. Aku menarik nafas panjang. Siapa wanita ini? Kulitnya pucat sekali, kuharap dia tidak mengatakan dia sakit. Kenapa? Kenapa? Kenapa dia berusaha membuatku berteman?
"Baik, sebaiknya kita akhiri pertengkaran, dan jadi teman baik?" tanya wanita itu.
"Ogah, temanan dengan orang Wu yang kejam!" bentakku.
Kelihatan olehku pandangan kejam didepan matanya, aku hanya membalik badan sekaligus membuang muka. Menyebalkan. Siapa yang mau coba? Berteman dengan musuh?
"Lian Shi! Kakakku memanggilmu!" kata seseorang membuka pintu tiba tiba.
"Hm? Baiklah, anu... Shang Xiang bisa kau jaga nona ini, dia cukup keras kepala"
"Laksanakan! Oh, jadi ini Nona muda hasil 'Rampasan perang' yah?"
"Enak saja!" jawabku.
"Duh, jangan marah-marah, kita teman oke?"
"..."
Wanita bernama Lian Shi tadi pergi sambil menatap iba kepadaku, atau kepada gadis 'Shang Xiang' ini. Rampasan perang? Yah... Bisa dibilang benar dan juga salah.
"Halo, namaku Sun Shang Xiang, putri kerajaan Wu" katanya.
"... Namaku Li Ling Fong, hanya pengungsi Shu"
"Memangnya kamu dari mana?"
"Dari hutan"
"Lolucon Shu yah?"
"Bukan"
"Ayolah! Semagatlah! Selama harimau masih memiliki taringnya!"
"... Nona Shang Xiang, ntah mengapa kalau denganmu rasanya lebih tenang"
"Oh ya? Padahal bibi Bu lebih baik daripadaku"
"... Kau mau jadi temanku? Karena kurasa kaulah yang akan mengerti aku"
"Setuju!"
"Setuju juga!"
Ntah mengapa kalau bersama dia, rasanya ada kemiripan dengan Nona Yue Ying, hanya baju dan jabatannya saja yang beda. Dan, bola mata hijaunya seperti teh. Cantiknya...
"Kamu pendiam yah"
"Kalau bertemu dengan orang yang baru kenal aku memang begini"
"Ehehehehe, hm? Hwa... Matamu bagus yah? Memancarkan warna coklat yang lezat"
"Yah, semua keluargaku selalu bilang begitu, matamu Hijau itu asli yah?"
"Ya, sangat asli"
"Nona Shang Xiang, maukah kau jangan memanggilku nona muda? Panggil aku Fong"
"Tentu saja mau"
Teman, teman dari Wu. Eh? Tu, tu, tu, Tunggu tunggu tunggu! Diakan wanita Wu! Sekaligus putri lagi! Kenapa aku akrab begini dengannya? Agh... Ini membuatku gila! Serius lah.. Aku tidak mengerti aku ini kenapa.
"Kau kenal Lu Xun?" tanyaku.
"Ya, aku cukup akrab dengannya"
"Bagimu, dia itu seperti apa?"
"Dia baik, hormat, dan sopan"
"Dia tidak seperti itu!"
"Hah?"
"Dia yang membawaku sebagai rampasan perang! Itu, menakutkan!"
"... Hei, kau kenal Liu Bei?"
"Ya, dia yang mulia Shu"
"Aku adalah istrinya..."
Eh?
HUWAAAAAAA! Jadi, jadi, jadi? Putri Wu ini menikahi diluar kerajaannya!? Apa-apaan itu! Yang benar saja!
"Ah, aku harus pergi, aku ada janji" ucapnya.
"Ah, yah..."
Dia mengedipkan mata kepadaku dan tersenyum simpul lalu keluar. Aku sepertinya agak menyukainya. Dan, rasanya ingin memanggilnya kembali... Huh... Tapi tidak bisa, Masya, petualanganku, begitu jauh dari pandangan mataku.
.
.
.
Hiks, gara gara lupa bawa kunci, wa diluar dan terpaksa mengetik fic ini diluar, mengerikaaaaaaan... Sudahlah, reviews!
