LANJOOOOOT!*tetep GaJe!* mwahahahahahahahahahahahahaha,uhuk,uhuk,uhuk... Maaf, Author lagi Batuk, Pilek, Pening, dan Ngantuk*all in one*
ScarletAndBlossoms:
E, lagu yang mana yah? *pikun* okay lupakan, apa yang di akhir akhir itu? Oh, itu iseng iseng aja*sebenarnya beneran* buatan sndiri... otaku... Hehehehe, lucu juga kedengarannya... THANX!*buset lu Thor!*
Jenny:
Ehehehe, maap yah Jenny-san... Thanx udah setia menunggu fic ini! Thanx!
Games: selamanya tetep Dynasty Warriors milik KOEI!
Chapters 19: Things...
Gendre: Friendship & Adventure
Rate: K+ *lol*
Chara: Sun Shang Xiang & Lian Shi
Summary: Okay, aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat disini, namun ini takdir yang tak bisa kutolak, aku akan berusaha!
.
.
.
Aku menatap langit langit, sambil menghirup bau kayu yang besar tanpa kerusakan. Shang Xiang keluar dengan wajah menyesal, oh... Dia nyadar kalau dia telah BERBOHONG kepadaku! Bagus, sekarang aku mengerti dia.
"Aku juga mau keluar" Ucapku, berdiri dan membuka pintu. Dunia yang sudah tidak begitu asing bagiku, masih seperti biasa, orang yang ramai, dan hampir berwarna merah. Kalau menginggat Masya... Jadi inggin tahu kabarnya gimana disana.
"Hei" seseorang memangkul tangannya di pundakku, aku secara reflek langsung menampar tangan yang besar dan kokoh itu.
"Hah, hah, hah... Tolong!" teriakku.
"He, he, hei! Apa maksudmu?" ucapnya.
Aku segera berlari, bagiku tidak begitu aman untuk jalan keluar sendirian. Sangat berbahaya... Uwah, aku takut... Mama selalu memperingatiku untuk tidak dekat dengan orang lain, apalagi kalau laki laki. Lagipula, sebenarnya aku mau berjalan kemana? Aku bisa tersesat!
Kuhentikan langkahku dan menatap sekeliling, aku... Ada dimana? Sial... Aku sedang apa yah? Aku... Ah, sudahlah... Sekarang aku harus kembali.
Kembali, kembali kemana?
Aku lupa aku lari kearah mana!
Sial, ini kesalahanku... Aku sekarang harus kemana? Mana disini tidak tahu apa itu hape dan aku tidak membawa hape! Sial...
Aku tetap berjalan, siapa tahu basing basing jalan bisa ketemu...
.
Tapi, makin lama aku tersesat... Aku mulai terduduk, dan menangis. Aku benar benar takut, dunia yang tidak kukenal, beda dengan setiap jalan rumahku, walau aku sudah lama di Shu, aku tidak hapal hapal jalannya. BAYANGKAN! Tersesat disuatu tempat.
Sial, aku harus apa? Memang menangis bisa membawaku pulang? Hah? Memangnya bisaaaaa? Tuhan mempermainkanku... Bahkan takdir mempermainkanku. Akh...
"Hei, kau mau kemana?" seseorang, aku kenal it. Oh, lelaki waktu itu.
"A-apa?" tanyaku menghapus air mataku.
"Kau mau kemana?" ulangnya.
"Tersesat..." jawabku, merona.
"Makanya, jadi orang jangan mau tahu!" bentaknya kembali.
"Kan au takut, tiba tiba kau memanggilku!"
"Kamu itu terlalu berpikiran aneh, saya cuma mau memanggilmu karena dipanggil Yang Mulia Sun Jian!"
"Ouh, terima kasih... Anu..."
"Ling Tong, namaku Ling Tong"
"Aku Li Ling Fong"
"Kita sepertinya semarga ya? Sudahlah, ayo kamu tidak mau membuat kecewa bukan?"
"Mau" ucapku, melirik kekiri. "Eh, bercanda..." dia melotot sebelum aku mengatakan ini.
.
"Li Ling... Fong?" tanya Sun Jian, mencoba membetulkan namaku.
"Iya, itu namaku"(yang asli bohong)
"Oh yah, Kelihatannya kamu akrab dengan putriku yah?" tanyanya.
"Siapa?"
"Sun Shang Xiang"
"Oh yah, cukup... Lumayan... Mungkin..."
"MUngkin?"
"Ya, aku tidak begitu mengerti dia, dia ceria namun tertutup"
"Bahasamu cukup sulit, namun baik baiklah kepadanya"
"Hah?"
"Itu perintah Nona Muda" ucap Ling Tong menyender di pintu sambil melipat tangannya.
"Kan banyak orang orang di Wu, kenapa mesti aku?"
"Semua sudah mencoba, maka itu siapa tahu kamu juga bisa"
"Aku tidak mengerti"
"Pokoknya berbaik baiklah"
Sun Jian menyibak mantelnya dan berbalik, aku hanya membenggong. Akrab? Bisa saja, malahan gampang buat akrab dengan orang orang! Tinggal berbicara dan tidak menyinggungnya, deal! Itupun sudah bisa dibilang sahabat! Tempat ini aneh.
"Kenapa? Ada apa dengan wajahmu? Kamu membenci perintah itu?" tanya Ling Tong.
"Tidak, malahan aku cukup mau" jawabku, menghela nafas.
"Walau Shang Xiang ceria, namun dia mempunyai sesuatu yang selalu dipendamnya..."
"Sesuatu? Apa masa kecilnya yang gelap itu?"
"Tanyakan sendiri kepada orangnya, kami tidak terlalu dekat"
Ling Tong keluar sambil memasang wajah tanpa ekspresi, kalau pembicaraanku betul berarti... Ada hubungannya? Shang Xiang, giliran aku yang membalas kebaikanmu!
.
TOK, TOK, TOK
Aku memukul kepalaku, oke! Ayolah!
TOK, TOK, TOK
"Ya?" jawab suara disebrang pintu, itu suara Shang Xiang.
"Ini... M, Li Ling Fong" jawabku, ragu ragu.
Dia langsung membuka pintu dan menampakkan senyumnya itu, aku hanya bisa membalas senyuman penuh paksa itu.
"Ada apa?" tanya tetap tersenyum.
"Hm... Yah... Aku mendengar banyak tentang dirimu kalau... M... Banyak sekali..." jawabku jelas aja tidak...
"Tentang apa...?"
"Tentang dirimu, banyak yang mengatakan, maksudku Tuan Sun Jian menyuruhku menjadi... Teman... Teman karib?"
"Bukankah kita memang teman?" tanyanya balik mulai ragu.
Aku mulai mencerna pikiranku lagi. Apa yang harus kujawab? Hwaaaaaaa, aku jadi pusing sendiri... Karena otakku encer kayak bubur gula-gali(?) wa mencoba memulai topik lain.
"M, kita belum tahu satu sama... Lain..." ucapku.
"Ouh... Yah, masuk"
Aku berjalan masuk sambil meneguk ludahku dan melihat kamar putri yang awesome keren! Tidak menyangka bisa masuk kekamar putri semewah mewah iya.
"M... Kamu lihat? Saya cuma seorang putri kerajaan yang sangat menyukai latihan dan senjata..." ucapnya duduk dikasur yang kelihatan empuk sekali.
"Yah, kalau aku... Cuma seorang penganggur yang datang dari hutan dan masuk ke Shu"
"Yah, kamu sudah menceritakannya"
"Yeah... Kamu benar..."
"Oke... Mungkin hanya kamu... Begini, saya bermimpi saya bertemu dengan seseorang yang tinggi, dia membawaku sampai kemana-mana, tempat yang kusukai dan lain lain... Kupikir itu bukan mimpi, karena rasanya itu terjadi hampir setiap hari..."
Aku terdiam.
"Kamu percaya? Itu bukan mimpi bukan? Bahkkan lelaki dalam mimpiku itu rasanya pernah kulihat..."
Aku tetap diam.
"Ano, Ling Fong? Kamu mendengarkanku?" tanyanya.
"Oh, yeah... Aku mendengarkan... Seseorang memanggilku... M..."
"Tidak, kamu tidak mepercayaiku...?"
"Tidak, tidak, tidak. 100%, aku mempercayaimu..."
"Fong!"
Aku perlahan lahan membuka pintu dan langsung berteriak.
"Lupakan saja itu! Itu cuma imajinasi!" teriakku, dia langsung melempar barang barang yang ada didekatnya, untungnya aku mengelak.
"Kamu bilang kamu percaya!"
"Imajinasi, imajinasi!"
Aku berlari lari meninggalkannya yang kesal karenaku. Dasar... Apaan itu?
.
.
.
Bagaimana? Maaf membuat para readers menunggu...
