Langsung ke intinya saja, REVIEEEEEEW!

Evil Red Thorn:

Wuaduh, Evil-san, ini bukan humor... Tapi kadang wa iseng iseng nambain biar ga ngebosenin...*pasti ngertilah yah...* iya, Khusina jahat bukan? Gara-gara buru buru dia ga nyadar. Lari lari keliling Wu pula XD thanx

Xfriend104:

Tapi ga enak juga wa dipanggil begitu, rasanya berat hati mau ngemanggil. Pulang sekolah emang ada waktu luang, tapi kesibukan! Wa ga ada ide... Makanya wa kadang ke perpus*kalo perpusnya buka* dan barulah wa dapet ide. Thanx

(WARNING: mungkin yang ini lumayan panjang, jadi yang suka cerita panjang kali lebar, thanx mau sabar~)


Games: Dynasty Warriors, belong to KOEI-san
Chapter 21: The battle... Again?
Gendre: Friendship & Adventure
Rate: K+
Chara: Sun Shang Xiang & Lian Shi
Summary: lelaki dalam mimpi itu pasti ada, bahkan mimpi tidak berbahaya. Tapi... Kali ini, aku tidak tahu ini mimpi atau bukan...

.

.

.

Aku memicingkan mata, menatap dengan jelas. Tetap saja tidak kedengaran kalau mata yang dipasang! Hu uh... Tapi, penasaran makin membuatku ingn mengikuti permintaannya. Tunggu, apakah itu bisikan setan? Ah, lupakan.

"Ling Fong..." bisik sesuatu(?)

"Eh? KYAAA!" teriakku. Mundur 100 langkah.

"Ling Fong!?" teriak Shang Xiang setelah sadar bahwa aku dari tadi memperhatikannya.

"Jangan dulu! Ada yang dingin... Dingin dileherku..." ucapku mengelus bagian belakang leherku.

"Kejamnya, memangnya saya hantu?" tanya sesuatu*again?* oh, ternyata Lian Shi.

"Maaf... Soalnya..."

Aku mengalih perhatian kererumputan tempat dimana lawan bicara Shang Xiang. Namun, yang kulihat hanya daun... Tapi ada jejak kakinya.

"Lho, mana dia..." celingak celinguk Shang Xiang.

"Hem?" tanya Lian Shi.

"Tidak, tidak ada apa apa" ucap Shang Xiang sambil tersenyum.

"Ouh... Tapi, kok ada jejak kaki yah?"

Lian Shi berjalan ke rerumputan, mengikuti jejak itu tiba tiba terkejut akan sesuatu. Apa itu? Hantu aslikah?(kejauhan)

"Je... Jejaknya berakhir disini!" teriak Lian Shi.

Tentunya Shang Xiang kaget, namun aku yang begitu suka misteri hanya menjawab santai sambil menunjuk.

"Bukan, dia hanya melepaskan sepatunya disini" jawabku.

"Ouh..."

"Tadi, aku melihat Shang Xiang berbicara dengan seseorang. Dia siapa?"

"Si, siapa lagi kalau bukan pria dari mimpi!?" jawab Shang Xiang ketus.

"Iya ya, mimpi yang bisa dilihat oleh semua orang... KAU SEBUT ITU MIMPI!?"

"Ling Fong, kamu tidak sopan" ucap Lian Shi.

"Itu manusia, manusia asli! Dia bukan mimpi!"

"Sa... Saya juga telah memberitahumu! Kamu yang menganggap ini halusinasi!" bentak Shang Xiang.

"Itu..."

"Sudah! Saya mau tidur!"

Sun Shang Xiang menutup pintu dengan keras. Untung hidungku tidak senasib sama hidung Lian Shi... Hahaha. Tapi... Akhirnya kami jadi begini... Padahal kemarin kita teman, wah wah... Aku membuat musuh lagi...

"Lian Shi! Hah, hah, hah..." teriak seseorang.

"Yang Mulia Sun Quan!?"

"Lian Shi... Kumpulkan semua orang! Shu menyerang!"

Aku terbelalak kaget. Nona... Nonaku... Nonaku Yue Ying... Ma... Masya! Tapi, apakah dia ikut kemedan perang? Hm... Mungkin saja... Karena...

"Kamu! Kamu Ling Fong! Bangunkan semua orang!" perintah Sun Quan.

"A, a, a, ah... Baik!"

Aku segera berlari dari sana. Aku tidak tahu kalau aku harus menjadi bawahan Wu, tapi ini juga kesempatanku untuk bertemu Masya... Walau sebagai musuh...

Aku ingin bertemu dengannya.

Karena, cuma dia yang selalu mengerti aku...

.

"Shu datang untuk berperang dengan kita semua lagi! Kemungkinan, mereka datang untuk mengambil kembali Bai Di! Karena itu, saya lemah... Saya tidak bisa menolak permintaan iblis itu, karena itu... Pinjamkan kekuatan kalian kepadaku!" teriak Sun Jian, mengangkat pedang(kayak orang demo)

"YAAAAAA!" semua berteriak, juga mengangkat senjata mereka masing masing.

Aku terdiam, aku tidak ikut bersorak. Masa iya? Aku harus bersorak membunuh Masya? Nona Yue Ying? Yang benar saja!

"AYO SEMUA!" teriak kembali Sun Jian.

"YAAAAAA!" sorak kembali semua orang.

Aku mendekati Shang Xiang masih terdiam. Aku membisikan sesuatu kepadanya.

"Maafkan aku..."

"Eh?"

Aku langsung lari mengikuti kerumunan orang gila perang.

"Ling Fong! Apa maksudnya!? Ling Fong!" teriak Shang Xiang.

Aku tetap berlari seperti motor yang rem-nya bolong(you know what I mean..) seharusnya... Aku memanfaatkan Wu untuk balas dendam. Tapi, sekarang bukan waktu yang tepat, dan juga tidak ada waktu untuk ngambek atau mengerengek. Masya... Secepat mungkin...

.

Aku mengambil panahku dan menaruh dipanahku, rasanya ada yang menganjal... Kenapa aku perang malam malam terus yah? Serem tau...

"Kita bertemu lagi yah... Ling Fong"

Aku berhenti sejenak. Merasa suara yang sama sekali tidak asing-asingnya. Aku menoleh kebelakang, melihat wanita tersenyum dengan wajah tegas. Rambut pirang kecokletan, bermata indah, bertubuh ideal dan tinggi. Nona Yue Ying... Ya, Nona Yue Ying... Pertemuan pertamaku, dengan guruku...

.

"No, Noa Yue Ying..." panggilku, wajahku pucat sekali.

"Kamu masih ingat yah? Syukurlah..." jawab Yue Ying tetap tersenyum.

"Nona Yue Ying... Boleh kuajukan pertanyaan?" tanyaku memasang wajah serius, tegas, tegar, dan lain lain(?)

"Boleh"

"Apakah... Ling Ling... Ada disini...?"

Wajah Yue Ying yang tadi tersenyum jadi kecewa berat. Kelihatannya firasatku selama ini betul.

"Ya, dia ada disini" jawab Yue Ying.

"Be, benarkah!? Dimana dia? Kenapa dia ada disini?"

"Ikatan"

"Apa?"

"Ikatan hubungan. Dia sudah berharap untuk bisa bertemu denganmu, tapi kamu malah ditarik Wu. Dia disni... Untuk menemuimu"

Aku memasang wajah sedih. Sangat sedih. Disini... Untukku... Hmp, aku dengan Masya emang persis, cuma 11-12 lah... Tapi, hubungan kami, tidak jauh berbeda. Padahal, semua itu rencanaku bukan...?

"Terima Kasih Nona Yue Ying!" ucapku.

"Kamu mau menemuinya, carilah dia..."

"Ya! Dan aku akan!"

"Pergilah, muridku"

"Nona Yue Ying... Aku tidak tahu aku akan kemana lagi... Tapi, aku tidak bisa... Meninggalkan Masya segampang itu!"

"Pergilah makanya. Karena, dia juga ingin bertemu denganmu"

"Ehm!"

Aku mengangguk dan melewati Yue Ying. Yue Ying tersenyum kecil.

"Nah, Wu... Berikan kekuatan lemah kalian!"

.

Masya, kamu dimana... Sambil mencari, celingak celinguk, aku melawan beberapa orang orang Shu. Aku benci membunuh... Tapi bukankah aku harus membunuh daripada dibunuh?

Lagipula, aku tidak tahu ini apa. Dan aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Sebenarnya agak salah, namun tidak apa apa bukan? Aku hidup, untuk mwngikuti ini.

"Hah, hah, hah..."

Aku mengelap keringatku, ugh... Tanganku pegal dan sakit. Kelihatannya gara gara sudah lama tidak bertarung jadi begini kali yah...

.

Aku tetap berlari sampai pada akhirnya aku sampai disuatu bukit. Entahlah namanya gunung kek, atau dataran tinggi. Rasanya tetap saja aku ada diketinggian. Huff..

"Khusina?" panggil seseorang.

Aku terdeg-degan.

Aku kenal suara ini, suara yang telah lama kurindukan... Dia...

"Masya..." aku menoleh kebelakang.

"Khusina..."

Stop, jangan jadi drama... Ulang(plak)

"Khusina?"

"Masya... Kau... Punya senjata yah akhirnya" ucapku kagum.

"Yah, ini milik Jian Wei..."

"Baguslah, apa... Kau bisa menyerangku dengan itu?"

Tiba tiba matanya terbelalak kaget, lalu menangis.

"Kenapa... Kok kamu mau aku membunuhmu...? Padahal disini kita bisa bertemu!" bentaknya.

"Masya, kau sudah ada disini. Berhenti mengerengek!"

"Tapi... KAU JUGA PUNYA PERASAAN SEPERTIKU BUKAN?"

"Itu udah basi, sekarang... Mungkin, jika kita mati bersama... Kita bisa kembali ke tempat semula"

"Jika tidak?"

"Ya udah"

"Khusina!"

"Karena itu, ayolah!"

"Jangan salahkan aku... Khusnia Angelika!"

"Aku menunggu Masya Yoshiko!"

Aku mengayun panahku, diapun mengayun trident-nya. Aku hanya bisa tersenyum kecil sambil tetap bertarung. Anehnya, aku tidak memakai panah satupun. Aku hanya memakai busur. Bukan busur buat matematika, bukan...

.

"Masya...? Kau tidak apa-apa?" tanyaku, saat dia sudah terpojok hampir disudut ketinggian.

"Lanjutkan!" ucapnya.

"Kau mau jatuh dari tebing heh anak nakal?"

Tidak, kamukan yang mengusul duluan?"

"Itu udah basi"

"Basi lagi! Basi lagi!"

"Emang benar..."

Aku menatap serius kepadanya yang belum menyerah sama sekali. Hem, sepupu yang lucu...

SYUUUNG!

Eh?

CRAP!

"Eh?" ucap Masya, ketika sebuah panah menancap dibahunya. Panah yang tadi melewatiku.

Masya hilang kendali, disudut ketinggian, dia terjatuh dari sana. Dengan segera aku berlari kesana. Namun terlambat. Dia sudah terjatuh, darahnya berhamburan diangin angin. Aku langsung menoleh kebelakang.

Itu Lian Shi...

Dia menembak memakai senjata crossbow... Apa... Dia... Dia...

Hatiku kacau, darahku meluap luap, tanganku dingin, dan wajahku pucat. Masya tidak tampak lagi, dia telah jatuh ke perairan... Lama kelamaan air itu berubah menjadi agak merah merahan.

.

"Khusina... Surga itu seperti apa yah...?"

.

Surga itu seperti apa yah...

Aku merasakan cairan hangat yang membelai pipiku yang memerah, jatuh perlahan lahan, pelan pelan meleleh dari mataku. Mengeretakkan gigiku, badanku membeku. Wajahku pasti sudah hancur sekali...

Masya... Surga itu...

"Hik... Ukh... Uhk... Uh... HUAHUAHUAHUAHUA!"

Aku mencengkram rumput yang ada didepanku. Dari tadi terjatuh jatuh air dari mataku, membelai pipiku... Melelehkan hatiku yang dingin... Merusak... Pertemuanku dengannya... Pertemuan kedua dan terakhir... Ma... Ma...

"MASYYAAAAAAA!"

.

.

.


Duh kebayang bayang dah... Review my friends?