Oke, kembali ke tekapeh! Bersama Wa disini*kok jadi MC ye?* oke lah... Ga udah ngulur ngulur, masalahnya... INI UDAH KESIANGGAN! Go to review!
Evil Red Thorn:
Hiks, rest in... Tunggu, diakan belum dikubur! XD yaah, kita belum tahu intinya... Ntah dia ntar ditolong, atau ntar dia dibiarkan aja..*JAHAT LU THOR!* hehe, thanx...
ScarlettAndBlossoms:
Ow, ow, ow... Sabar Onechan! Sabar! Jangan salahkan dulu! Soalnyakan Masya disini emang musuh... (=3=) ntar wa coba membuatnya biar lebih baik... Thanx...
Black Roses 00:
Hem, WA MENYERAH*CEPET AMAT!?* ya, wa coba dulu. Sebenarnya emang udah nyerah, ya... Siapa tahu... Thanx...
Games: Dynasty Warriors
Chapter 22: return to tomorrow
Gendre: Friendship & Adventure
Rate: K+
Chara: Sun Shang Xiang & Lian Shi
Summary: aku tidak menyangka, ini benar benar akan menjadi pertemua kedua dan terakhir... Tapi, aku perlu... Menemuinya, harus dan mesti... Karena dia, sudah menjadi salah satu bagian keluargaku...
.
.
.
Aku tidak bisa menghentikan tangisanku yang dari tadi mengalir dan keluar dari mataku. Walau mataku sudah kupejamkan, tapi tetap saja keluar cairan hangat yang membasahi rerumputan.
"Musuh tetaplah musuh, Ling Fong. Saya tidak tahu apa hubungan kalian, tapi saya hanya mengikuti perintah" ucap Lian Shi, menuruni senjatanya.
"Kau benar, musuh tetaplah musuh... Walau memiliki hubungan..." ucapku berdiri.
"Ya..."
"Akhirnya... Akhirnya... Akhirnya aku benar-benar... Sendirian"
Aku membalik badanku, memperlihatkan air mataku.
"Aku sendiri yang membuat diriku menjadi sendirian... Aku sendiri yang mematahkan perhubungan ini... Semua... Benar-benar karenaku..."
"... Tidak ada gunanya kamu berdiplomasi seperti itu, waktu tidak bisa diulang"
Lian Shi membalik badan, membelakangiku dan berjalan ke Bai Di. Aku tidak tahu aku harus apa lagi... Oh yah Masya... Kuberitahu apa surga itu... Surga itu, tempat yang lebih menyakitkan dibanding dunia ini... Lebih perih, lebih sakit, lebih sekali...
Surga yang kumaksud... Adalah harus kehilangan dirimu... Masya Yoshiko... Bagimu itu tempat yang indah dan damai. Namun bagiku itu tempat yang menyakitkan...
Aku membalik badan dan menegok kebawah. Air itu, air itu telah menjadi kolam darah... Berwarna kehitaman karena sebenarnya aku tidak melihat apa-apa karena malam.
'Aku harus kembali' pikirku.
Aku membalik badan, mengambil trident yang tidak sengaja jatuh dari tangannya. Lagi lagi air mataku mengalir. Sudahlah! Sebenarnya... Bisa apa aku... Dengan menangis...? Buang-buang waktu saja...
.
"Aku kembali" ucapku.
"Ling Fong..." Shang Xiang menghampiriku dan berbisik. "Aku sudah mengetahui siapa yang ada dalam mimpiku..."
"Heh?"
"Sudah, kamu tidak perlu minta maaf..." Shang Xiang melanjutkan bisikan. Aku hanya menatap tanpa ekspresi.
"Baiklah..."
Aku pergi dari Sun Shang Xiang yang hanya menatapku, aku tidak menoleh lagi. Sambil menyeret trident dan memelankan langkahku. Sejak dulu, aku memang benci Wu, benci membunuh, dan benci kehilangan. Harusnya... Aku saja yang dihilangkan. Takdir... Mempermainkanku!
Lalu tiba-tiba ada sesuatu yang berat dipundakku, aku menoleh sedikit kebelakang, oh... Sun Shang Xiang... Apa lagi yang akan dibicarakan olehnya...
"Kau kenapa?" tanya Shang Xiang.
"Tidak kenapa-kenapa" jawabku tanpa ekspresi sedikitpun.
"Kudengar kau pernah berperangkan?"
"Bukan soal itu..."
"Jadi...?"
"Kenapa kau ingin tahu? Ini urusan pribadiku!" ucapku menampar tangannya dari pundakku, dia menatap terkejut.
Aku berjalan lagi kedepan, tidak menghiraukan lagi apa adanya. Aku tidak butuh simpati, aku tidak butuh nasehat, dan juga aku tidak butuh belas kasihan. Aku hanya butuh Masya, bahkan aku senang sekali dia datang untuk menemuiku, menemaniku, menolakku untuk pergi perang, dan semuanya.
Dari ujung rambut sampai ujung jari... Semuanya penting bagiku, jangan sampai ada yang tersisa... Walau seutas rambutpun... Tapi, ini semuanya, semuanya semuanya terbuang... Yang tersisa cuma nama...
Cuma nama...
Masya... Jika aku mati, bagaimana jadinya? Jika aku masuk surga bagaimana? Jika surga yang kita tempati sama bagaimana?
1000 pertanyaan itu ingin kutanyakan ke Masya tapi kuharap tak ada gunanya.
.
Aku membuka pintu berwarna coklat yang pastinya letak dimana kamar Lian Shi. Aku memasuki ruangan itu dan menutup kembali pintu itu pelan. Lalu bersender didekat kasur, memeluk lututku dan meletakkan kepalaku. Menutupi selutuh wajahku.
Aku terlalu banyak berpikir, hingga aku tertidur. Bagiku, bukan karena banyak pikiran namun kebanyakan menangis. Lalu, disaat yang sama... Aku bermimpi.
Dimimpi itu aku melihat pasangan muda dari suatu kerajaan, memeluk seorang bayi, bayi itu dinamakan Sun Shang Xiang.
Sun Shang Xiang tumbuh dewasa dan jatuh cinta kepada seorang pria diluar kerajaannya yang sebenarnya telah diutuskan. Pria itu bernama Liu Bei.
Lalu mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.
Mimpi yang menyedihkan...
"Ehm..." dengkurku.
TOK, TOK, TOK...
Suara ketukan pintu, kelihatannya aku telah terbangun dari dunia mimpi. Aku mengangkat kepalau sejenak dan mengeram.
TOK, TOK, TOK...
Suara ketukan pintu terus berlanjut. Orang keras kepala.
Aku berjalan kearah pintu, dan memutar ganggang pintu. Sesaat aku membuka aku melihat Sun Shang Xiang, kayaknya ini anak emang keras kepala kali yah.
"Ouh, Lian Shi tidak ada disini" ucapku.
"... Oh..." jawabnya.
"Tidak ada keperluan lain?"
"Masih ada"
"..."
"Kamu kenapa"
Aha, mengulang lagi pertanyaan basi! Dasar memang ini anak.
"... Hanya kehilangan" jawabku, menoleh kearah lain.
"..."
"Per, percayalah kepadaku Kak Shang Xiang, rasanya menyakitkan... Padahal akhirnya kami bisa bertemu, tapi tak kusangka akan terjadi seperti ini" jawabku dengan suara parau.
"Takdir itu kejam yah..." ucapnya, kelihatannya dia mencoba menghiburku.
"Kau tidak perlu menghiburku! Karena, dari dulu... Aku sudah sendirian..."
"... Saya sangat senang, saat mendengar kabar bahwa Lu Xun membawa jendral dari Shu, karena kupikir saya bisa berbicara lagi tentang Tuan Liu Bei... Saya, saya juga merasa kesepian... Sendirian"
"Tapi kau punya keluarga, jangan samakan aku denganmu"
"Yah, kupikir juga begitu"
"Lagipula, aku tidak tahu banyak soal Yang Mulia Liu Bei, bertemu dengannya kira-kira cuma 2 atau 3 kali"
"Oh, begitu yah..."
"Iya" jawabku kecil. "Oke, baiklah..."
"Ya..."
"Ucapkan salam malam kepada semua orang, terutama dirimu"
"..."
Sun Shang Xiang menaiki rambut poniku dan mencium keningku. Aku hanya menatap kebawah, karena aku dengannya sepertinya sama, tapi cuma 11-12... Aku kehilangan Jiang Wei dan aku merasakan sakit dan rindu yang tak kan terlupakan. Begitu juga dirinya yang merindukan Tuan Liu Bei yang pernah menjadi suaminya.
"Malam, Ling Fong mimpi indah" ucapnya, membalik badan dan berjalan meninggalkanku.
Mimpi indah? Malahan tadi aku mimpi menyedihkan! Hu uh... Sudahlah, mimpi buruk yang menjadi kebiasaanku belum berakhir meski disini juga.
Masya, kelihatannya aku ingin mempelajari 'teman' dengan orang-orang Wu ini...
.
.
.
Apakah masih berantakan dan alurnya kecepatan? Kalau ada maafkan Author*sujud* thanx...
