All right, all right here we go... TO TEKAPEH*review~*

Evil Red Thorn:

WUOLA! Sangat seram! Tapi menarik sekali! Mungkin bisa jadi ide di New Moon wa nanti! XD thanx!

ScarletAndBlossoms:

WUoooh! WA SETUJUUU! Lebih cepat memang lebih baik! *thumb's up* yeah, tapi kalau cepat cepat tapi ga nyambung... :3 GA APA APA DEH! Thanx! Oh yah, ganbatte for Mid Nee-chan! Semoga dapet nilai diatas 70! AMIN!

Jenny:

Haha, keren yah? Padahal kita ga kebayang OC-nya macem apa... -_-" thanx!


Games: Dynasty Warriors, belong to KOEI
Chapter 23: Memorial
Gendre: Friendship & Adventure*No comment, tumben yah?-plak*
Rate: K+
Chara: Sun Shang Xiang & Lian Shi
Summary: mencoba berteman dengan Wu, ini ide gila tapi nyata. Yah, harus mencoba daripada menyerah...*ga ngerti...!*

.

.

.

Aku beranjak ke tempat tidur berwarna merah. Haha, lucu sekali, merah merah merah merah.. MERAH! Lama lama aku bisa menjadi vampir gara gara melihat warna darah terus.

Aku menarik selimut yang juga warna merah*lagi... Sigh* dan membanting tubuh kekasur yang empuk ini. Ntah mengapa, aku mulai berhalusinasi... Berpikir... Menginggat... Saat aku dengan Masya...

.

.

.

(Flashback seven years ago)

.

.

.

"Aku pulang"

Aku mengeser pintu yang terbuat dari kayu. Lalu terdengar teriakan seseorang yang tidak asing lagi dan sudah mainstream.

"Khusina! Selamat datang!" anak kecil bertubuh mugil itu berlari lari dan memelukku.

"!" kejutku, hampir jatuh tapi tak jadi jatuh*tahu maksud wa kan?*

Anak kecil bertubuh mugil alias lebih pendek dariku itu tak lain lagi adalah Masya Yoshiko, adik sepupuku.

"Eh! Main sama-sama yuk, Sina!" ucap Masya menaiki kepalanya dan tersenyum. "Eh! Mau main apa!?"

"Masya... Khusina-kan banyak pe-er dari sekolah, mainnya setelah selesai saja" ucap Mama Aupu yang tiba tiba muncul sambil mengankat keranjang pakaian.

"Huh..." gerutu Masya, akupun tersenyum simpul.

"Tak apa, pe-ernya nanti saja, mudah kok..." jawabku kayak orang dewasa saja...

"Hehe" tawa Masya.

.

'Sembunyi dimana yah...?' pikir Masya celingak celinguk. Lalu disaat yang sama dia melihat seperenam(?) tubuhku dibalik pohon. Dia langsung menghampiriku.

"Khusina, ketemu!" ucap Masya bangga.

"Oh! Hebat juga... Tapi sayang sekali"

Aku langsung berlari meninggalkan pohon dan Masya.

"AH! Curaaang!"

.

"Anu ayah! Tadi aku dan Khusina main petak umpet, tapi Khusina curang... Dia malah lari dan nggak mau jadi setannya!" ucap Masya panjang kali lebar bagi setengah(?)

"Ooh... Itu kamu aja yang ditipu" jawab Ayah Masya santai, tetap duduk didepan meja makan. Didepan kami.

"... Khusina, setelah makan, ajari aku kabur dalam petak umpet juga ya!?"

"Pe-er" ucap Mama AUpu dengan nada rada-rada horror.

.

"Masya, ayo pulang" ucapku cool.

"Khusina bilang, mau mengajariku kabur dalam petak umpet!" balas Masya cemberut.

"Besok aku ada janji dengan teman sekelas kerja kelompok membuat asbak" jelasku.

"Khusina pembohong!"

Aku menghela nafas. Ini anak... Menyebalkan amat sih? Aku mendekatinya dan menunjuknya dengan telunjuk, lalu mengalihkan tanganku ke belakangku dengan menunjuk pakai jempol.

Aku langsung berbalik dan berjalan kedepan. Mau nggak mau dia terpaksa mengikuti.

"Eh?"

BRUK!

Dan diapun terjatuh... Hah...

.

"Akhirnya aku digendong pulang yah...? Hehehe" ucap Masya.

"Hehehe dengkulmu, kamu itu berat tau" balasku sinis.

"Eh, Eh, besok kita main lagi yah?" ucap Masya mengalihkan pembicaraan.

"Nggak tau, besok aku ada kerja kelompok, dan kamu juga akan masuk les" jawabku.

"Benar juga" balas Aupu menaruh kedua tangannya dan bersikap doa Buddha. "Tapi tidak apa-apa kok... Kalau bisa bertemu sekali sekali aja boleh..."

"Hem..."

.

Benar juga, tapi tidak apa-apa kok... Kalau bisa bertemu sekali sekali aja boleh...

Sekali sekali itu... Kapan...

.

.

.

(Flashback seven years ago... End)

.

.

.

"Ehm..." gumamku.

Aku mengedipkan mataku dua kali, karena masih agak rabun. Aku bangun dan menoleh kejendela, pagi hari lainnya di Wu...*sigh* atau sudah siang? Karena mataharinya terlalu terik kalau mau jujur... Tak sadar terlalu banyak pikir jadinya aku tertidur. Ya sudahlah...

Aku menyibak selimut dan berdiri. Hem... Rasanya dari tadi ada yang menganjal. Aku melihat jaketku, nggak... Jaketku masih kayak biasa, hanya belum pernah disetrika makanya kusut. Aku menoleh ke panahku, panahku belum patah... Aku melihat ke sepatu...

Tunggu, sepatu?

Ya ampun! Aku masih pakai sepatu tau-taunya! Gara gara kebanyakan pikir aku jadi lupa melepaskan sepatuku. Tapi yah nggak apa-apa, soalnya kan susah mau lepas dan buka sepatu zaman ini... Karena aku cuma pakai sepatu saat sekolah. Kalau jalan-jalan paling-paling pakai sendal.

TOK, TOK, TOK...

"Maaf jika menganggu tidur Nona... Saya jendral yang diutuskan oleh Yang Mulia Sun Jian untuk memanggil anda pergi ke ruang makan... Sarapan sudah siap..." ucap dibalik pintu itu. "Saya permisi"

"Apakah tidak terlalu formal?" tanyaku, tapi jendral itu sudah pergi.

Haha, 'Nona' apakah sepertinya nama Nona ini telah tersebar?

Aku berjalan kepintu dan membukanya. Setelah menutup pintu aku berjalan ke Istana. Bagiku gampang saja mencari Istana. Karena bukankah Istana itu tempat yang mewah? Lagipula aku sudah pernah kesana.

"Selamat pagi Ling Fong... Hoaaam..." ucap seseorang menghampiriku. Ouh, Ling Tong.

"Kuharap kata-kata pagi itu hanya ada dalam mimpimu, pemalas. Ini sudah siang!" ucapku.

"Oh yah? Aku tidak ingat waktu" jawabnya.

"Huuuh..."

"Tuan Ling Tong, selamat siang" ucap seseorang, aku menoleh kearahnya dan lalu menoleh kearah lain.

Soalnya dia itu L-U-X-U-N! Tunggu, namanya kayak iklan shampoo yah? Hehehe...

"Boleh saya berjalan denganmu?" tanya Lu Xun hormat, apakah jabatan Ling Tong ini tinggi? Tapi... Ah, sudahlah.

"Boleh" jawab Ling Tong malas.

"... Buat apa kau bergabung" ucapku sinis ditambah kejam.

"Eh? Kalian sudah saling kenal?" tanya Ling Tong.

"TIDAK! Malahan aku tidak mau bertemu atau berteman dengannya!"

"Aneh, baru kali ini melihat perempuan yang tidak ingin berteman dengan Xunnie"

"Jangan panggil saya dengan sebutan itu" jawab Lu Xun menarik lengan baju Ling Tong sambil blushing.

"Hahaha, seperti biasanya kalau dipanggil begitu pasti langsung merona"

Aku menatap binggung. Apa benar dia Lu Xun saat peperangan dulu? Dia cukup berbeda... Apa jangan-jangan saudara kembar? Tapi... AKH! AKU PUSING! SUDAHLAH! TIDAK USAH MENAMBAH PIKIRAN PIKIRAN LAGI!

"YAHOOO! KALIAN SUDAH BANGUN!?" tanya seseorang menepuk punggung Ling Tong dan Lu Xun. Aku hanya sweatdrop.

"UHUK! GAN, GAN NING SIALAN!" bentak Ling Tong, menarik senjatanya yang seperti dua buah gulingan dari besi dan diikat dengan rantai.

"UGYA! LANGSUNG MEMULAI PERANG LING TONG!?" ucap lelaki bertato berambut duri landak itu juga mengambil sabitnya. Aku tambah Sweatdrop.

Akhirnya mereka bertengkar dengan senjata tapi tak seorangpun kena.

"Haha, mereka memang begitu, tidak perlu ditanggapi Nona" ucap Lu Xun tersenyum kepadaku, tapi aku tidak akan terpengaruh!

"Oh yah? Aku baru tahu" jawabku mungkin agak ketus.

"Ehm? Lho, kamu gadis yang diperang itu bukan?"

"Bukan, cuma hantunya"

"Maaf..."

"JANGAN MENGELAK! MINTA MAAF SAJA MANA MUNGKIN BISA MEMBERSIHKAN NAMANYA DARI PIKIRANKU! AKU MAU PERGI KE RUANG MAKAN SENDIRIAN SAJA DARI PADA BERSAMAMU!"

Aku berlari meninggalkan mereka bertiga sambil memasang wajah cemberut.

"Lho? Lu Xun, mana Ling Fong?" tanya Ling Tong mendorong wajah Gan Ning.

"Hem? Gadis yang bersama kalian itu yah?" tanya Gan Ning lagi menarik rambut ponytail Ling Tong.

"Ehm... Dia bilang dia mau pergi sendiri"

"Jangan bilang, kamu melakukan sesuatu padanya" ucap Ling Tong.

"Tidak! Saya tidak melakukan apa-apa!"

"..." Ling Tong dan Gan Ning menatap Lu Xun dengan tatapan curiga.

"BENAR KOK!" teriak Lu Xun.

.

Huh... Baru bangun saja sudah membuatku mati rasa! Menjengkelkan!

.

.

.


Alurnya jadi tambah lambat ajah... Reviews guys~