Mari berlanjut... Seperti biasa Fic yang membosankan, tapi tetep ada yang setia review, Author terharu besar besaran!*plak* ya udah deh, kita balas seperti biasa*baru dikit kek*
Black Rosses:
Yah... Hm? Review? Kalau yang kemaren itu, emang ga ada, wa udah cek.*iyekeh?* coba nanti wa periksa ulang, thanx!
Evil Red Thorn:
Yeah, kudanya bener bener dah! Tapi tetep aja harus nyesuaiin... Demi mendapatkan kuda!*ya ampun... gayamu* thanx!
ScarletAndBlossoms:
Hahaha, rasanya aja mana bisa wa tahu, makan saja belum...*hahaha* yah, biar pasrah dikit*dilempar Khusina* thanx!
BlackKnight92:
Yah, liat aja lah... Ntar juga nyadar, soalnya wa juga belum nentuin, thanx!
Games: Dynasty Warriors, belong to KOEI
Chapter 26: The other me
Gendre: Friendship & Adventure
Rate: K+
Summary: Dilempar kuda sendiri supaya sadar? Jahaaat! Tapi, ini pelajaran agar aku harus lebih hati hati untuk menunggangi kuda sebesar itu...
.
.
.
"Panas..."
Aku menghadangi silau matahari dengan sebelah tanganku, walau tak semuanya tertutup.
"Ini bukan panas, ini cerah..." jelas Lian Shi.
"Ya, terlalu cerah..." balasku.
Aku mengipas ngipas leherku yang ditutupi dasi ala raja dari mana entah sambil tetap kepanasan. Aneh, Lian Shi pakai baju itu santai santai saja. Bahkan kulitnya putih seperti vampire, biasanya teman-teman sekelasku ingin memiliki warna kulit seperti itu, ada-ada saja keinginan mereka...
"Kenapa kita tidak segera pulang saja? Makin lama makin menyengat..." ucapku penuh harap.
"Baiklah..." jawab Lian Shi berdiri.
"Ngomong-ngomong kudanya..."
"Antar saja ke kandang kuda, kamu bisa memakainya jika ada keperluan"
"Oh... Benar"
Aku berdiri, menyapu kotoran dicelanaku dan bergegas berjalan ke kuda itu. Anggus sedang asyik makan rumput, tapi acara makan rumput ditunda sesaat aku menarik tali yang mengikatnya.
"Saya akan ada di Istana, jika anda ingin menemui saja datanglah" peringat Lian Shi.
"Yah, terima kasih" balasku, menarik kuda itu supaya mengikutiku.
Lian Shi segera meninggalkan lapangan hijau ini. Sepertinya Wu jauh lebih sibuk dari Shu. Nona Yue Ying saja jarang sekali pergi-pergi ke Istana. Yah, mungkin cuma Lian Shi yang super sibuk.
"Hieeeh... Brrfff..."
"Oh, maaf... Saat disini aku jadi banyak pikir..." ucapku, apakah Anggus mengerti bahasa manusia? Mimpiii!
Aku segera menariknya kembali. Anggus, dia hanya bisa menuruti dan berjalan mengikutiku. Sampai ke kandang kuda, aku harus kosongkan pikiran... Jangan lagi aku mengisi pikiran pikiran yang merepotkan sekeliling. Hanya saja kalau..
.
"Ah, ya Nona... Akan saya jaga dan tentu saja!" ucap penjaga kandang kuda itu menunduk.
Aku mengangguk lemah. Dan membalikkan badan. Apa aku harus ke Istana yah... Yah, mungkin bisa begitu...
Aku mengangkat kakiku dan tiba tiba aku terjatuh.
"Eh...?" tanyaku pada diriku sendiri.
'Dengar suaraku... Khusina Angelika... Dengar suaraku...'
A, apa ini... Suara... Dikepalaku... Aaaaagh! Sial, aku tidak dapat mengontrol diriku... Siapa yang ada dalam kepalaku? Siapa? Dan kenapa dia tahu nama asliku? Dia dalam kepalaku ini siapa!
Aku mencengkram rambutku dengan kedua tanganku, suara ini, berputar-putar didalam kepalaku, menyebar tiap kata-kata 'dengar' dikepalaku. Aku dengar, aku dengar kata-kata itu, tapi... Apa ini...?
"Nona! Nona! Anda baik-baik saja!?" tanya penjaga kandang kuda sedikit berteriak.
Aku terbelalak kaget dan menoleh ke sumber suara.
"Oh, tidak... Mungkin aku cuma mengantuk..." jawabku berdiri.
"Apakah benar..."
"Iya, tenang saja... Aku tidak mudah jatuh sakit!"
"... Benarkah?"
"Ayolah Pak, aku masih muda... Aku tahu apa yang terjadi"
"Baiklah kalau begitu... Sebaiknya anda pulang dan tidur"
"Iya, aku tahu"
Aku segera pergi meninggalkan penjaga kandang kuda yang kembali mengerjakan tugasnya untuk memberi makan kuda-kuda yang sudah ribut. Aku hanya memegang kepalaku dan berusaha mencoba mencari tahu suara itu...
Halusinasi...
Ya mungkin juga begitu, baru kali ini aku berhalusinasi seperti itu... Rasanya seperti nyata sekali, ya sangat nyata tak ada kebohongan. Halusinasi yang menyeramkan...
.
Kepalaku masih sakit dan terus menginggat ucapan yang ada didalam kepalaku. Aku ingin tahu apa maksud dari itu...
"Foooong!" panggil seseorang segera memeluk lenganku.
"No, Nona Xiao Qiao!?" balasku kaget. Lama lama aku akan mati karena kaget.
"Tadi kakak jahaaat sekalii! Tidak mengajakku untuk menemuimu!" ucap Xiao Qiao, terdengar agak kesal.
"Ah, ahahaha... Mungkin dia lupa..."
"Mana mungkin lupa pada adik sendirikaaaan..."
"I, itu cukup ma, masuk akal..."
"Eng... Fong, kamu terlihat pucat sekali, ada apaaa?" tanya Xiao Qiao dengan suara memelas dan agak manja.
"Eh? Ma, masa? Cu, cuma penilaianmu saja mungkin..." jawabku gugup, aku yakin keringat dingin bercucur diwajahku.
"Eeeeeh, kamu mau berbohong dengan orang yang lebih tua?"
"Bukan begitu maksudku..."
Aku mencoba untuk mencari alasan yang tepat, walau terdengar bohong tapi inikan bohong demi kebaikan. Tapi... Apa benar ini bohong demi kebaikan? Ada-ada saja isi otakku ini...
"Dia mungkin pucat karena belajar kuda, Xiao..." ucap seseorang, kami berdua serempak menoleh. Lelaki bertubuh atletis dan rambut panjang yang lurus. Uwah... Percaya atau tidak dia benar benar tampan.
"Ah, Tuan Zhou Yu... Uh... Seharusnya saya yang mencari tahu!" bentak Xiao Qiao.
"Jangan memaksanya Xiao..."
"Di, di, di, dia si, siapa...?" tanyaku menunjuk nunjuk.
"Oh, oh yah... Fong belum mengenalmu Tuanku Yu! Ling Fong, ini suamiku, Zhou Yu, dia juga pengatur strategi di Kerajaan Wu ini" jelas Xiao Qiao.
"Salam kenal, kamu Li Ling Fong bukan? Pendatang Wu yang dibawa Lu Xun bukan?" tanya Zhou Yu tersenyum.
"... Aku tidak merasa menjadi pendatang Wu yang benar" ucapku.
"Eh?" balas Zhou Yu dan Xiao Qiao.
"Menyeret orang seeanaknya, apa bisa dibilang pendatang? Dan yang lebih menjadi mimpi buruk adalah, membunuh dua orang yang kusayangi!"
"Fong..."
"HEH! Tuan Yu! Jangan menyakiti hati Fong lagi! Ayo Fong, kita temui kakakku saja!"
Xiao Qiao menarikku dengan wajah kesal, kelihatannya Xiao Qiao tahu perasaanku, atau dia hanya...
Dengar suaraku... Khusina Angelika... Dengar suaraku... Jawab aku...
"AAAGH! PERSETAN!" teriakku, mencengkram rambutku dengan kedua tanganku.
Suara itu kembali lagi! Ini bukan halusinasi! Percayalah! Ini adalah rasa pusing, binggung, dan kesakitan yang pertama kalinya! Sakiiit!
"Li Ling Fong!" Xiao Qiao segera memegang pundakku dan mencoba menyadarkanku.
Wei... Disana datanglah... Temui aku...
"Wei... Dimana itu...?" tanyaku memegang kepalaku yang sudah agak baikan.
"Wei? Itu tempat iblis! Kenapa menanyakan itu...?" tanya balik Xiao Qiao.
Aku saudaramu... Mungkin juga kakakmu...
Aku terdiam sejenak dan merasakan bahwa mataku kosong sekali. Aku berdiri dan menatap ke Xiao Qiao yang masih menunduk karena tadi membantuku untuk menyadarkan diriku.
"Dimana Kak Da Qiao?" tanyaku.
"Ke, kenapa?" tanya Xiao Qiao agak kaget.
"Sekarang! Aku memerlukannya! Untuk mengakhiri mimpi buruk ini!"
.
.
.
Aupu: *headshot Wa pake sniper* KENAPA KAMU NYURI CERITA DARI GAME LO!?
Wa: emang ga bole? Kan nyari ideh!
Aupu: udah, sana lanjutkan kata-kata membosankanmu ituh.
Review guys!? Hahaha!
