Go to google it!*SALAH!* Eh, Go to review it!*parah bahasa inggrisnya*
Evil Red Thorn:
Save your lifeee! Hahaha, ya nggaklah... Bukan diambil kontrolnya, tapi hanya berpesan lewat pikiran(ngerti ga?) nah macem mana caranya, tanyakan ke... PETA!*plak* ups, silakan cari tahu~ Thanx
BlackKnight92:
Iya cepet, mumpung sebentar lagi ujian, daripada ga bisa buat crita... (=3=) Khusina itu orang Indonesia, Enggeus itu pembacaan menurut Lian Shi, sebenarnya tulisan yang benar itu "Anggus" Thanx
ScarletAndBlossoms:
Yoah... Mungkin juga, bisa jadi.. Tapi... Duh, wa binggung sendiri XD hahaha, dua Blossoms-neechan!*plak* maksunya itu sejenis 'saudara jauh' tanpa indetitas*ga ngerti pak!* alaaah, wa lama lama pusing sendiri! Thanx
Games: Dynasty Warriors, belong to KOEI
Chapters 27: Perjalanan ke Wei
Gendre: Friendship & Adventure
Rate: K+
Chara: Sun Shang Xiang & Lian Shi*akan berubah saat di Wei guys~*
Summary: untuk mencari tahu orang yang mengaku sebagai seorang 'kakak' lihat saja! Aku tidak akan merasa sedikitpun diakui sebagai saudaramu! Orang yang kuanggap menjadi seorang saudara cuma MASYA!
.
.
.
BRAK!
"Ya ampun! Nona Fong! Apa-apaan kamu!?" tanya Lian Shi kaget saat tahu aku mendorong pintu dengan ganas dan kasar.
"A, aku telah mencoba menghentikannya..." ucap Xiao Qiao tersenyum lebar dan mengaruk garuk pipinya.
"Kak Da! Aku membutuhkanmu!" teriakku, menatap ke Da Qiao yang sedang duduk dikursi rapat.
"Eh?" tanya Da Qiao agak kaget.
"Aku tidak punya waktu! Aku membutuhkanmu!" aku kembali berteriak.
Suasana menjadi hening, semua mata tertuju kepadaku. Aku hanya ngos-ngosan dengan tatapan kesal dan berharap. Tapi, tiba tiba seorang lelaki dengan warna rambut dan jenggot berwarna coklat kemerahan berdiri dan menatapku tajam.
"Apa maumu membawa seenaknya Istriku?" tanyanya.
"Oh, jadi kamu yang namanya Yang Mulia Sun Ce?" tanyaku, kelihatan tidak sopan.
"Ya"
"Aku Li Ling Fong, ada aku membutuhkan Kak Da Qiao!"
"Apa maumu membawa seenaknya Istriku!?" tanya Sun Ce sedikit berteriak.
"Untuk...!"
'Beritahu aku... Kenapa kamu bisa disini...'
"AAAAAGH!" aku berteriak dan menunduk sambil mencengkram rambutku kembali.
Suara itu lagi... Tapi, sekarang ini bukan pemberitahuan, melainkan ini sebuah pertanyaan. Aku harus menjawab bagaimana? Kenapa aku harus menjawab pertanyaan isi kepalaku sendiri? Ehm, baiklah... Aku akan menjawab...
'Dibawa oleh suatu monster aneh... Kau... Mengenalku, dan siapa kau...? Bagaimana bisa kau menemukanku disini...?' batinku, penuh konsentrasi.
'Sudah kubilang aku saudaramu... Saudara jauhmu' jawab isi kepalaku sendiri. WOW! Ini menjawab!
'Aku tidak pernah mengenalmu...'
'Nanti kau sadar sendiri...'
Begitulah... Percakapan ala halusinasi mitos yang benar benar aneh dan susah dipercaya tapi... 'Saudara jauh' itu ada di Wei... Kerajaan Iblis yang dikatakan Xiao Qiao dengan wajah kaget sekali. Selain Wu, ternyata ada lagi yang lebih kejam...
"Fong! Kamu tidak apa-apa? Fong! Kumohon jawab aku!" teriak Da Qiao, menangis-nangis.
"Kak Da Qiao...?" tanyaku, sadar kalau Da Qiao dari tadi mengoyang goyang tubuhku.
"Oh..."
"Fong? Kamu akhir-akhir ini aneh... Ada apa?" tanya Xiao Qiao.
"Orang itu memanggilku untuk ke Wei..." jawabku, memegang kepalaku.
"Orang itu...?" tanya Da Qiao penasaran.
"Aku juga tidak tahu..."
"... Kamu kelihatannya terlibat peristiwa yang aneh, baiklah... Hah... Yakinlah kamu membawa Da Qiao pulang dengan keadaan hidup" ucap Sun Ce pasrah, wow... Miracle.
"Yang Mulia Sun Ce..." ucapku terbelalak kaget.
"Yang Mulia Ce... Terima kasih!" ucap Da Qiao tersenyum ceria, Sun Ce masih terlihat pasrah.
"Aaah... Saya juga inggin ikuut..." ucap Xiao Qiao manja.
"Tidak boleh!" bentak Zhou Yu, melarang dah...
"Ehm, Nona Lian Shi... Titip ucapan 'Sampai Jumpa' kepada Kak Shang Xiang" ucapku.
"Ya... Ah, bawalah Enggeus... Kamu membutuhkannya..."
"Baiklah Nona Lian Shi!" jawabku dengan gaya Mission accepted.
.
Setelah mengambil kuda ditempat kandang kuda, kami keluar dari Wu berdua saja dengan Da Qiao yang hanya berjalan kaki sambil membawa sebuah kipas besi raksasanya. Ini juga untuk bertarung? Ide yang menarik...
"Kamu tidak apa-apa berjalan kaki?" tanyaku yang sedang menggendarai kuda.
"Eh, ti, tidak apa-apa..." jawab Da Qiao.
"Tapi sebaiknya ditengah tengah tempat kita istirahat, kita membutuhkannya bukan? Lagipula perjalanan kita jauh" ucapku.
"Oh baiklah"
Aku kembali menatap kedepan. Sambil mikir panjang, tentang 'Saudara jauh' yang mengirim pesan lewat pikiran. Ini aneh... Misterius... Bagaimana caranya? Jangan-jangan, itu monster yang dulu itu, kenapa menganggap sebagai saudara? Ya ampun! Mana mau akunya!
Aku menghela nafas panjang. Rasanya baru kali ini aku memimpin... Walau cuma satu orang pengikut, dan itu sebenarnya partner-ku.
Ajaib...
SREK...
"Suara apa itu?" tanyaku celingak celinguk.
"Bukan begitu, hutan ini hutan binatang buas... Sebaiknya kita hati-hati..." ucap Da Qiao mengkerutkan keningnya.
"Binatang buas...!?"
"Iya"
Aku menelan ludah. Binatang buas? Bagaimana saja itu? Bagaimana cara dia memangsa? Bagaimana cara mereka mengendap endap? Jujur, Ke kebun binatang saja belum pernah, aku hanya melihat macam-macam binatang di Game dan di Ensiklopedia Binatang. Tapi, tidak berbedakan? Tapi didalam buku tidak tertulis bagaimana cara lari dari binatang buas(?)
Aku melirik ke Da Qiao, dia kelihatan oke-oke saja, ternyata orang tidak dapat dinilai dari penampilannya... Da Qiao yang kalem dan alim, ternyata dibalik itu pemberani dan serius. Menabjubkan...
"Sudah hampir malam..." ucap Da Qiao menatap keatas
"Secepat itu!?" tanyaku kaget alias baru sadar.
"Iya, Fong sendiri yang terlalu banyak pikir... Kita istirahat dimana?" tanya Da Qiao mengalih pembicaraan.
"Di...!"
'Desa ini... Desa binatang buas...'
Aku reflek terjatuh dari kuda, membenturkan kepalaku ketanah. Auch, Lumayan... Lumayan sakit... Sial... Tapi aku tidak bisa mengerakkan tubuhku, lagi-lagi tatapanku kosong tertuju ke tanah. Kupikir kesadaran ini akan berlangsung lama, tapi tidak. Tubuhku akhirnya mau diajak kompromi...
"Fong?" tanya Da Qiao, matanya kelihatan kaget dan kulitnya yang putih jadi putih sekali.
Aku segera bangkit.
"Tenang saja, aku masih hidup..." ucapku.
"Ta, ta, tapi... KEPALAMU TERBENTUR!" teriak Da Qiao segera mengambil peralatan pengobatan yang terletak dikantong kuda.
"Ini bukan luka serius..."
"Tapi nanti..."
Aku mengangkat tanganku kedepan wajahnya.
"Aku tidak apa-apa... Ayolah kita jalan lagi, nanti kita bisa-bisanya kemalaman dan terjebak disini" jelasku.
"Ehm..." ucap Da Qiao mengangguk.
"Tapi, aku ingin bertanya, apa disini ada sebuah desa?" tanyaku saat kembali menginggat kata kata 'Desa binatang buas'
"I, iya... Kira-kira arah jam 2 dari sini... Tidak begitu jauh..." jawab Da Qiao.
"Kita kesana!"
Aku segera berdiri dan menaiki kudaku.
"Ayo berlari Kak Da!" teriakku, menyibak tali kudaku dengan kuat.
"Ba, baik!" jawab Da Qiao.
Desa binatang buas... Aku tidak tahu ini perangkap atau mungkin melindungiku. Tapi yang pasti... Jawaban yang sangat diinginkan ada disana...
.
"Ini desanya...?" tanya Da Qiao.
"Jangan tanyakan kepadaku" jawabku tidak peduli.
Suasananya sunyi, banyak bangunan yang sudah roboh ataupun rusak. Yang kutahu, ini tempat yang lebih menyeramkan daripada rumah hantu di Mall. Aku tidak mengerti kenapa dia menyuruhku kesini.
"... Fong, desa ini, dulunya desa yang sangat indah dan bersih. Berpuluh puluh orang senang datang kesini, bahkan ada mitos yang mengatakan bahwa jika kesini, akan bahagia" jelas Da Qiao.
"Tapi, ini desa apa?" tanyaku memastikan.
"Dulu, desa ini bernama Shàngdì bàodá nǐ. Tapi sekarang... Nama desa ini berubah menyeramkan menjadi 'Desa binatang buas" ucap Da Qiao sedih.
"...Kita akan beristirahat disini"
"Eh?"
"Tenang saja, itu cuma nama... Kita butuh istirahat penuh"
"Ba, baiklah..."
.
.
.
Oke, selamat hari katina Guys~ Skarang wa mau ke Vihara dulu...
Aupu: MANDI DULU!
Wa: TAU!
Review~
