Yosh, 'Ada hal yang aneh' strike again!*dilempar tomat* okay, thanx kepada readers atau yang telh mereview, atau mungkin juga yang telah mengklik Fic panjang kali lebur ini... Okay, Shut Up author! Tapi wa seneng juga udah chapter 30! Hahahaha!
Thanx for the Review:
ScarletAndBlossoms:
Iya yah, wa aja baru nyadar... *Ela ela ela eh...* Bukan robot, tapi sejenis Gens baru*Yeah, wa juga ga ngerti...* katanya kan ada yang namanya 'Bayi tabung' ya sejenis itu, tapi Khusina diciptakan dengan cara memisahkan sebagian dari Ri-chan*Rio: kamu ikut ikutan panggil aku Ri-chan...* Gampang gampang sulit yah... Okeh deh, yang pasti harus masuk 10 besar!*Maksa nih?* wew, kepanjangan... THANX!
Evil Red Thorn:
Maksud 'dia' itu Ri-chan yah?*Rio: JANGAN PAKE CHAN!*, Khusina itu kan 1/2 badan Ri-chan yang diambil secara tidak keseluruhan*If you know what I mean...* Yups, bisa dikatakan sedarahlah... Sedagingnya... Pokoknya banyak persamaan deh! Hanya saja Khusina hilang ingatan saat berumur 7 tahun*Saat Ri-chan berumur 8* Manusia copy-an? Yah... Ntar wa jelasin deh... THANX!
Games: Dynasty Warriors, belong to KOEI
Chapters 30: Replikat?
Gendre: Friendship & Adventure
Rate: K+*Srius lu Thooor?-plak*
Chara: Da Qiao *Lu Chuo Kuo menghilang, syuung...*
Summary: Aku ini... Manusia... Atau bukan... Pertanyaan itu baru saja terisi dikepalaku. Sial, sial, sial! Aku tidak mau tau! Aku tidak mau tahu lebih dari ini!
.
.
.
'...'
"Kau tidak mau menjawab heh? Kau bisa saja membunuhku!" bisikku agak berteriak sedikit.
'Kau itu setengah dariku, memangnya aku ingin kehilangan nyawaku yang setengah itu?'
"Begitu... Lalu, maksud dari... Manusia Copy?"
'Copy, sama dengan print... Kertas putih, jika di-print juga akan mengeluarkan kertas putih. Tapi, kesalahannya... Kamu itu perempuan. Perempuan yang sama sekali tidak diterima di bumi ini. Kamu tidak terdapat dimana pun juga. Yah, seperti hewan margasatwa. Dilindungi dan jarang ada'
"Jika kertas putih keluarnya kertas putih... Berarti, jika itu aku... Pasti keluarnya... Kertas hitam... Karena tidak sengaja dinodai tinta..."
'Sejak kapan kau secerdas itu? Apa karena aku ya?'
"... Begitulah..."
'Ayo, kau sudah lihat bukan, Replikat bodoh'
Aku hanya diam. Rasa pahit yang sama saat mendengar kata 'Fukusei' berarti, aku bukanlah, manusia yang dilakukan proses alam ataupun dari Tuhan. Tapi... Dari penemuan kelinci percobaan. Dari dalam diriku, ini bukanlah aku, kesenangan dan kesedihan yang kudapatkan, bukanlah untuk diriku...
"Ya, aku sudah lihat..." jawabku memeluk lututku.
'Jadi, kita kembali?'
"... Bisa kau ulang lagi waktu?" tanyaku. "Aku ingin menghancurkan laboratoriom ini..."
'... Tidak'
"Ung..."
Aku mempererat gengaman tanganku dan membuat lututku berdekatan. Aku menantuk kepalaku dan menutup mata. Semoga... Jika aku mati... Aku ingin mati seperti Manusia lainnya...
.
"Ah, Fong bangun!" teriak Da Qiao, begitu kubuka mataku dia duduk disampingku. Aku langsung duduk, dan menyadari aku sedang ada disuatu ruangan.
"Owh... Ini dimana?" tanyaku.
"Di Wei, di kamar penjaga..." jawab Da Qiao berdiri dan menuangkan teh ke cangkir.
"Owh, kita sudah sampai yah..."
"Iya" jawab Da Qiao memberikan secangkir teh untukku.
"Dari mana kamu mendapatkannya? Ini di Kerajaan iblis yang dikatakan Kak Xiao Qiao bukan?" ucapku, meneguk teh yang diberikan tadi.
"Hehem, dari wanita-wanita Desa, tidak ada seorangpun tahu keadaan kita selain mereka"
"Oh... Jadi, sebenarnya kita tidak diterima di sini?"
"Entahlah, saya sedikit takut pada Raja Kerajaan Wei... Dia terkenal pemarah dan jahat"
"Hem..."
Aku menaruh cangkir itu ke meja disampingku. Sambil tetap merasakan jika sebenarnya aku hanyalah duplikat. Sekujur tubuhku jadi dingin... Ya, tentu saja. Karena ini masih salju.
"Ada apa Fong? Kamu butuh istirahat lagi?" tanya Da Qiao menundukkan kepalanya agar bisa memandang mataku.
"Tidak, sudah cukup" jawabku menegakkan kepalaku.
"Oh, baiklah"
Aku menuruni senyumku. Dan mendengus lega, masalahku sudah selesai sebelum 2 minggu. Yah, siapa lagi kalau itu bukanlah Ri-chan? Padahal, Ri-chan yang kukenal, baik hati dan selalu memberiku Apple tea... Tak kusangka, aku adalah sebagian dari dirinya...
BRAK!
"Kyaaa!" teriak Da Qiao jatuh terduduk.
Aku hanya bisa menoleh kaget. Kulihat dimataku ada dua orang prajurit berbaju perang ala Eropa itu melempar kedua suami istri dari desa. Suami istri itu diikat, mata dan mulutnya juga diikat dengan tali berwarna putih yang tidak cocok dengan Image-nya.
"Jadi ini, hah Guo Jia?" tanya Lelaki berbaju penuh armor berwarna perak dan biru.
"Ya, kulihat mereka menolong orang Wu. Kita harus membawa mereka ke Yang Mulia Cao Cao" ucap lelaki yang barusan disebut namanya, Guo Jia.
"Agh" desisku. Jadi, dari awal sudah ketahuan!? Sialan... Tidak lagi...
Aku berdiri dari ranjang, dan mengambil panahku yang menyender disebelah kasur. Apa salahnya kami datang! Lagipula kami punya tujuan! Walau sudah selesai...
"Pang De, mereka bukan perempuan sembarangan" ucap Guo Jia, memutar sebuah tongkat.
"Ya, saya tahu... Wu mengirim lagi orang-orang yang kuat..." ucap orang ber-armor itu, Pang De...
"..."
Kami berdua terdiam. Jika maju duluan, artinya lebih cepat mencari kematian. Setelah beberapa menit, Guo Jia berjalan kearah suami istri yang terikat itu, dan menendang sampai menabrakku.
"Ugh!" desisku.
"Pang De!" teriak Guo Jia.
Pang De segera berlari kearahku sambil mengayun sabit ditangan kanannya, untungnya Da Qiao segera menangkis dan mengarah sabit itu keatas. Sabit itu terpental dan menancap ditembok. Selamat... Tapi perutku sakit gara gara didorong... Aku mulai menatap marah dan kesal.
"Beraninya... Menodai badan Ri-chan!" teriakku, segera mengambil busurku dan mengarahkan ke Guo Jia.
Panah ku patah karena ditangkis tongkat-nya. Kelihatannya itu barang mahal atau mungkin juga barang yang sangat kuat. Tapi, aku tetap tidak bisa memaafkannya yang telah menodai badan Ri-chan! Aku berlari kearah Guo Jia, tapi dihadang oleh Pang De.
"Keparat..." ucapku kecil.
"Jangan menganggu Fong!" teriak Da Qiao segera mengayun kipas besi-nya didepan Pang De.
"Terima kasih Da Qiao!" ucapku, kembali ke tujuan.
"Ya Fong, urus lelaki berambut pirang itu!" teriak Da Qiao, segera menjauh dariku dan memulai peperangan dengan Pang De.
Guo Jia memegang erat tongkatnya yang sangat panjang itu, ku ayunkan panahku. Karena diujung panahku terdapat jarum. Berarti, aku punya satu senjata, dua fungsi.
"Apa yang kau tahan itu!" ucapku tetap menyerang.
Dia tetap menangkis seranganku, dengan begitu, aku mengambil kesempatan dengan mengambil busurku dan menembak kearah-nya. Tentu saja dia menangkis busurku, namun semua termasuk perhitunganku. Aku segera menginjak tongkatnya dan mengayun panahku kewajahnya.
"Agh!" teriaknya mundur beberapa langkah sambil menahan goresan yang terdapat dipipinya itu.
"Guo Jia!" teriak Pang De.
Da Qiao langsung mengayun kipas besarnya ke sabit ditangan kiri Pang De. Dan terjadi nasib yang sama. Sabitnya terpental dan menancap, sayangnya menancap diranjang...
"..." Pang De dan Guo Jia terdiam sejenak.
"Kalian orang-orang Wei bukan?" tanyaku.
"... Siapa lagi kalau bukan kami?" jawab Pang De.
"Aku ingin bertanya, apa benar Lu Chuo Kuo tinggal disini?"
Mereka saling bertatapan. Lalu Pang De menoleh kepadaku.
"Kami tidak tahu wajahnya, tapi memang ada nama itu. Dia memakai mantel hitam dan kerudung yang menutup wajahnya. Beberapa hari yang lalu, dia baru saja membunuh penjaga gerbang kami" Jelas Pang De.
"Ung..." aku mengangguk. "Begitu yah..."
"Ma, masalahmu sudah selesai bukan!? Kembalilah ke Wu!"
"Tidak... Tapi kumohon, biarkan aku tinggal disini selama beberaa hari!"
Mereka saling bertatapan lagi.
"Kamu... Pasti bercanda..." ucap Guo Jia masih menyekap darah dipipinya.
"Tidak!" bentakku.
"... Tapi Yang Mulia Cao Cao..." ucap Pang De terbata bata.
"Ya dirahasiakan! Susah ya?" tanyaku.
"... Tapi pertama, kalian sebagiknya menyambar menjadi laki-laki, jika ketahuan kalian perempuan, apa yang akan terjadi pada kalian..."
"..."
"Fong..."
"Setuju!" teriakku penuh semangat.
.
.
.
Eyaaaaa~ thanx for reading! Review 4 the 'Ada hal yang aneh'? Haha XD
