Wa: maafkan author, wa lagi diem diem buat Fic... *bow*

Aupu: wew, Wa-san sopan... Di Indonesia bakalan ada hujan darah...

Wa: *mutarin mata* nevermind!

Aupu: lanjot...

Well, wa memang agak sibuk hari ini*sibuk main game :p* simpan tamparan kalian untuk Author... Gomenesai...

Evil Red Thorn:

sori baru wa bales skarang... Thanx yah... Yups, bisa dibilang gitulah! Ya ya bisa jadi! Haha, oke, wa lanjutkan! Thanx!

ScarletAndBlossoms:

Gapapa... Wa juga ga begitu sempat buat nulis, sekaranglah, walo diem diem.*kan cuma maen game* oce, thanx!

BlackKnight92:

Hem, itu wa ambil di game, sori ya game...*diterjang* Indonesia maju banget tuh... Thanx!


Games: Dynasty Warriors, belong to KOEI
Chapters 32: my last day
Gendre: Friendship & Adventure
Rate: K+
Chara: Da Qiao
Summary: disana terletak sebuah jawaban yang ingin kucari-cari. Ya, disana!

.

.

.

"Hem... Ya, harus kukatakan, Jin tidak jauh dari sini" ucap Guo Jia bergaya detektif.

"...?"

"Mau kami antar?" tanya Pang De.

"Tunjukkan saja jalannya..." ucapku ta sabaran.

"Lurus saja"

"Dengan begitu kau tidak perlu ikut bukan!"

"Hehe, kan sebagai perpisahan..." ucap Guo Jia mengaruk garuk kepalanya.

"Ehm, maafkan aku mengoresi pipimu..." ucapku ragu ragu.

"Ini? Tidak apa-apa, ayo. Selesaikan masalahmu!"

Aku mengangguk, dan segera menarik Da Qiao keluar Istana. Lahan perlahan, akan kukejar 'Original'ku. Rio Kousuke... Percayalah kepadaku, aku hanya setengah darinya, aku tidak sepenuhnya seperti dia.

Dari tadi aku melamun tapi tidak menabrak apapun, silakan tepuk tangan.

"Fong, sebenarnya... Ada apa?" tanya Da Qiao melihatku sibuk saat tiba tiba melepaskannya dan sibuk dengan kuda.

"... Mungkin, ini terakhir kalinya, kita bisa bersama" ucapku tersenyum simpul, sayangkan aku masih memakai masker...

"Hah? Kamu mau meninggalkanku? Kita baru menjadi Partner!" ucap Da Qiao marah.

"Maafkan aku Da Qiao, aku bukan berasal dari sini"

Dia tidak menjawab lagi. Yah, aku berterus terang sekali yah? Tapi aku harus jujur, walau harus membuatnya membenciku.

"Akan kuadukan ke Yang Mulia Sun Ce..." ucap Da Qiao mengengam tangannya.

"... Adukanlah, aku tidak akan mendapatkan sial" balasku, menaiki kudaku. "Jadi, kau tak mau ikut?"

"Jika benar ini untuk terakhir kalinya, kumohon aku ingin berpetualang lagi denganmu!"

Aku menaiki alisku. "Kalau begitu ayo"

"Ung!"

Dia segera mengejar kudaku sesaat aku menyibak leher kudaku. Aku tidak mengerti pemikirannya.

.

"Ini Jin?" tanyaku.

"Mungkin" jawab Da Qiao.

"Ayo, kita harus lihat isi dalamnya!"

Aku segera menyibak kuat tali kudaku, membuat Da Qiao terpaksa berlari. Semoga aku tidak ketinggalan dari Ri-chan! Lihat saja... Hanya Ri-chan satu satunya masalahku yang belum komplit!

"Hah... Hah..." desah Da Qiao kewalahan, maaf Da Qiao...

Di depan kami, kami sudah melihat dua orang penjaga gerbang yang sudah menyiapkan pedang mereka. Heh, meremehkan.

Aku mengambil dua panahku dan busurku, aku berdiri sedikit supaya bisa melihat sasaranku. Aku segera melepaskan panah pertamaku, lalu kedua. Mereka menancap kesalah satu titik kematian. Bagus, sekarang tinggal dobrak.

"Fong! Diatas!" ucap Da Qiao.

Aku menarik tali kudaku, langsung menongah keatas. Beribu ribu panah mendarat kedaratan ini, aku hanya bisa kaget, mau lari pun sepertinya tak bisa!

"Fong!" teriak Da Qiao segera mengipas kipasnya keatas.

Karena kipasnya Da Qiao, aku selamat. Da Qiao... Andai aku, andai aku bisa lebih baik lagi...

"Fong, selesaikan masalahmu! Ini akan ku urusi!" ucap Da Qiao, akupun mengangguk.

Aku menyibak tali kudaku dan menorobos masuk gerbang. Ri-chan... Maafkan aku, tapi aku harus bertarung denganmu!

.

"Hah, hah, hah..." dimana dia. Aku jadi capek sendiri, padahal aku cuma duduk.

"Ada apa yang membuatmu menjadi keramaian seperti ini?" tanya seseorang, aku segera menoleh.

"Ri-chan!" teriakku, segera turun dari kuda.

"Khusina... Apa yang membawamu kemari!?"

Aku menyondorkan busurku dan menatap kejam.

"Aku menantangmu, disini dan sekarang juga... AKU AKAN MEMBUNUHMU!" bentakku.

"..."

Ri-chan menatap tak senang, sorot matanya jadi mengerikan, dia segera mengambil pedangnya yang panjang dari sabuk yang diikat dipinggangnya, sambil sudah siap untuk bertarung.

"Apa kau kira Replika sepertimu bisa membunuh Original sepertiku? Kekuatanmu itu cuma setengah dari kekuatanku!" bentak Ri-chan.

"Aku bisa, dan selama aku masih hidup, nyawamu itu harus musnah!"

Aku berlari kearahnya, mengayun busurku membuatnya salto kebelakangku dan mengambil tiket emas dengan menusuk dari belakang. Serangan itu kutangkis dan sarung panahku dan aku segera berlari ketembok. Begitu juga dia mengejarku.

Aku memanjat tempok dengan kedua kakiku, karena gravitasi bumi, aku terjatuh. Aku mengambil panahku dan kuarahkan kearahnya. Berhasil ia tangkisi, tapi memang agak membinggungkan taktik-ku.

Aku kembali mengambil panahku, dan menembaknya. Bagus, panahku mengoresi pundaknya. Benar benar tiket emas!*Karena kesempatan emas sudah mainstream*

"Replika..." ucap Ri-chan dengan sorot mata membunuh.

"Gluk..." aku menelan ludahku, kurasa dia juga ingin membunuhku...

"Sejak kapan kau menjadi kuat!?"

"... Sejak... Kau memberiku apple tea, itu kenangan yang tak bisa kulupakan. Saat kecil, kau selalu melindungiku dari anak anak nakal, dan mencuri apple tea dari toko keluargamu..." ucapku memasang wajah kosong. "Rasanya... Rasanya damai"

Ri-chan menatap kosong diriku. Apa dia baru menyadarinya? Apa benar begitu.

"Aku benar benar lupa... Sekaranglah akhirnya aku ingat kembali..." ucap Ri-chan memasuki pedangnya disarung. "Saat aku melihat copy-an dariku, aku selalu berpikir ingin membunuhmu, separuh dariku... Tapi, aku tak menyangka. Ternyata... Aku benar benar pernah membuatmu merasakan damai"

"Memang kau ingin aku merasakan apa?"

"Kesedihan dan kebencian yang kualami. Ingin ku berikan padamu, aku benci dirimu yang sekarang jadi mirip denganku... Tapi, ternyata... Semua itu hanya kenangan lama yang sudah basi... Mungkin, ini tidak akan terjadi, jika aku menanyakan 'sejak kapan kau menjadi kuat'" ucap Ri-chan tersenyum simpul.

"..."

"Sebaiknya kita kembali ke dunia kita, tapi lain kali... Aku ingin mengatakan sejujur jujur mungkin kepadamu disini..."

Mataku membesar melihatnya. Dan akupun mulai mengangguk sambil memejamkan mata.

"Walau aku masih tetap saja menganggapmu... Ya... Replika. Tapi itu tak akan berlangsung lama"

"Ya ya ya, banyak sekali ucapanmu, ayo. Aku ingin pulang"

"Ung"

Ri-chan mengangguk. Dia segera melepaskan kalungnya yang berbentuk permata itu, dan membuangnya kelantai sampai pecah. Disana muncul suatu cahaya. Dengan begini... Semua ini... Hanya mimpi... Ya, mimpi yang tak akan terulang kembali... Bye, Da Qiao...

.

.

.

"Ehm..." aku membuka sedikit mataku, melihat suasana putih yang menenagkan. Dima ini...

"KYAA! DOK, DOKTER! PASIEN YANG TERTIDUR SELAMA 5 BULAN SUDAH BANGUN!" teriak seseorang.

"Benarkah?" tanya lawan bicaranya itu.

"Benar Dok, dikamar 503!"

.

Akhirnya kehidupanku kembali normal, sangat normal. Yaaaah, sekolah yang tidak memuaskan, pelajaran sialan, dan guru yang selalu memberikan soal dan catatan yang bikin tanganku terikat.

Sampai suatu hari, aku berjalan pulang sekolah, dan melihat kesamping saat ada yang memanggil namaku.

"Hina!" teriak seseorang, aku segera menoleh, mataku terbelalak kaget.

"Ma... Masya...?" tanyaku krenjep krenjep.

"Iya, ini aku, kaget yah?" tanya Masya menghampiriku.

"Masya... Ukh, uhuhuhuhu..."

"Idih, udah gede masa nangis sih, hahahaha"

"Ini, ini tangis bahagia tahu!"

Aku mengelap air mataku yang sudah jatuh jatuh.

"Hei, Hina..."

"Jangan panggil aku Hina, memang aku pernah meng-hina-mu?"

"Maaf, maksudku Sina, hari ini Rio Kousuke teman kecilmu datang ke Indonesia, jemput yuk?"

"Benarkah?"

"Yups"

"Kalau begitu, what are you waiting for? Ayo!"

Kehidupanku memang berjalan biasa kembali, tapi. Aku tetap suka 'Original'ku, apa adanya! Ri-chan!

.

.

.


Huwaaaa, TAMAT? NO WAY! REVIEW PLEASE!