Persona : Reflection

Dislaimer : P3 & P4 © Atlus

Me : Terima kasih buat para reviewers atas review-reviewnya! Tadinya saya tidak yakin karakter Naoki bakal diterima karena sifatnya menyimpang.

Naoki : Menyimpang? Kan lo yang bikin gue jadi gini. Trus kok bahasa lo sopan gitu?

Me : Hmm, kalau pakai bahasa baku, makin sulit ditebak saya ini laki-laki atau perempuan kan! Lagipula… yang kemarinkan gaya bicara saya begitu gara – gara lo ups maksud saya kamu hehe

Souji : Selama ini aku selalu heran kenapa Naoki bisa bilang kalau aku adalah gay, ternyata ini kerjaan author sinting ya!

Me : Sinting??!! Saya dibilang sinting…, sinting…, sinting…. * mojok di pojokan *

Awas kau Souji!! Di chapter ini akan kusiksa habis-habisan!!! Enjoy this chapter!


Ch 2 : A Missing Girl

03 April 2006

"Kami melaporkan kejadian, bahwa seorang anak perempuan bernama Miori Shirakata menghilang pada saat ia berlibur di Inaba. Menurut laporan pihak penginapan, gadis itu terlihat jam 11 malam memasuki kamarnya. Kemanakah gadis itu pergi? Polisi sedang menyelidikinya."

Di suatu ruangan yang rapi, terlihat seorang laki-laki yang sedang berbicara di telepon. Lelaki berambut abu-abu itu berbicara dengan serius kepada lawan bicaranya. Tanpa ia sadari seorang wanita masuk ke dalam ruang kerjanya.

"Iya, Naoto. Aku yakin dia sudah sampai dengan selamat di Inaba." Souji berbicara kepada istrinya.

"Begitu ya? Baguslah . Jujur aku heran, kenapa Naoki bersikap seperti itu. Banyak saudara kita yang mengatakan kalau mereka pasti sudah meragukan Naoki adalah anak kita, kalau mereka tidak melihat kemiripan antara Naoki dengan kita." Jawab istri Souji yaitu Naoto yang terkenal dengan kepintarannya sebagai detektif.

"Aku juga heran, apakah kita salah mendidiknya?" Tanya Souji kepada wanita di seberang telpon.

"Kurasa dia hanya terpengaruh pergaulan. Kau tahu ada anak perempuan yang menghilang di Inaba, kurasa aku akan pergi ke Inaba besok." Naoto menjawab pertanyaan yang diberikan suaminya.

Dan tanpa Souji sadari, wanita yang memasuki ruangannya mendengarkan apa yang dibicarakan Souji.

"Waah, Aku pikir kita bisa menikmati waktu berduaan tanpa dia dirumah." Souji berkata dengan senyum jahil diwajahnya.

"Dasar! Kan ada malam ini. Baiklah aku akan bersiap-siap dahulu , sampai nanti Souji." Naoto hanya bisa tersenyum malu mendengar apa yang dikatakan Souji.

"Iya, sampai nanti. My Beloved Detective Prince , Naoto." Souji mematikan teleponnya.

Ia lalu menengok kearah wanita yang berdiri di depannya. Terlihat wajah wanita itu sedikit pucat dengan bibir yag terbuka karena kaget. Souji hanya bisa menghela nafas. "Pasti itu" pikirnya dan ia berkata pada wanita yang baru saja menjadi sekretarisnya.

"Dia istriku" Souji berkata pendek.

Dan itu bukanlah penjelasan yang cukup. Sekretarisnya malah terlihat semakin kaget.

"Dia Perempuan , hanya sedikit tampan untuk ukuran perempuan." Souji berusaha memberikan penjelasan yang lebih panjang kepada wanita didepannya , dan itu berhasil.

"Oh…., maaf pak. Saya mengira anda berbicara dengan laki-laki… Karena ada kata 'Prince' dan namanya 'Naoto' jadi saya…" Sekretarisnya berbicara dengan terbata-bata.

"Mengira saya gay? " Tebak Souji karena ia sudah terbiasa dengan hal ini.

"Iya! Eh!! Bukan , bukan kok pak!" Sekretarisnya berusaha membantah.

"Sudahlah Miyu, Aku sudah terbiasa. Hampir setiap orang yang baru mengenalku berpikir seperti itu. Apalagi , terkadang putraku sendiri saja begitu." Souji hanya bisa menghela nafas memikirkan putranya yang terkadang suka mengatakan dirinya gay.

"Memangnya, putra anda tidak tahu kalau ibunya perempuan?" Tanya Miyu heran.

"Tidak, Ia hanya iseng. Itu saja." Jawab Souji dengan senyum kesal.


FLASHBACK

"Ayah! Aku ingin menanyakan sesuatu pada ayah" Naoki bertanya dengan senyum diwajahnya.

"Apa yang ingin kau tanyakan Naoki?" Souji berkata dengan senyum pada putranya yang baru 13 tahun.

"Ayah itu…" Naoki berkata dengan pelan.

"Ayah kenapa?" Souji mulai penasaran.

"Dulunya gay ya?"Tanya Naoki dengan polosnya.

Souji hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan anaknya. Dulunya gay? Kenapa putranya bisa berpikir seperti itu. Memang berberapa orang mengira dirinya gay ketika mendengar nama istrinya, Naoto. Tapi begitu mereka bertemu Naoto, mereka tahu itu hanyalah salah paham.

"Kenapa kau berpikir seperti itu?"Souji memutuskan mencari tahu kenapa putranya sendiri bisa berpikir seperti itu. Padahal ia tahu benar kalau ibunya perempuan.

"Karena ibu tampan." Jawab putranya pendek.

"Maksudmu?" Souji semakin tidak mengerti.

"Temanku bilang, Ayah pasti dulunya gay, trus karena tidak diijinkan menikah dengan lelaki , ayah jadi mencari wanita tampan seperti ibu." Jawab putranya dengan lebih panjang.

Dan Souji bisa mendengar suara tawa yang ditahan dari belakang. Ia tahu Naoto mendengar apa yang dibicarakan putranya. Yang Souji lakukan berikutnya adalah mati-matian menjelaskan bahwa ia bukan gay kepada anaknya.

End of Flashback


" Maaf Souji-san, ada surat kontrak yang harus anda tanda-tangani." Suara Miyu menyadarkan atasannya.

"Hah? Eh ? Kontrak ? Kontrak apa?" Tanya Souji yang tersadar dari lamunannya.

"Ada klien yang meminta anda mendesign sebuah villa di Inaba. Apa… Anda ingin menolak permintaan ini? "Tanya Miyu

"Tidak , Aku akan menerimanya " Jawab Souji dengan senyum.

'Anggaplah jalan-jalan sekeluarga' Pikir Souji.


Naoki's POV

Yang.. bener.. AJA!! Gue teriak di atap sekolah tempat bokap dan nyokap memadu cinta dulu dan buat gue. Bercanda , mereka bukan orang nekat gitu. Gue dah nanya bibi Nanako, nanya temen-temen baru gue soal kaca aneh itu, yang mereka bilang " Ya ampun. Umur berapa sih lo? Semua orang juga tau kalo yang dibalik kaca itu dinding! "

Malem ini gue bakal coba pegang tuh kaca lagi! Tadi pagi gue dah nyoba tapi tetep kaca biasa. Mungkin Cuma ada pas malem aja kali. Masalah itu pikirin nanti deh. Gue mesti cari cara supaya bisa bertahan di sekolah ini. Masa wali kelas gue julukannya "Miss Moron" Katanya dia anak guru legendaris yaitu "King Moron" Memang buah ga jatuh jauh dari pohonnya.

Sekilas tentang Miss Moron. Usia 23 tahun. Tampang? Klo King Moron kayak kuda kurang gizi, maka Miss Moron dah kayak kuda nil. Percaya deh! Gue denger dari Bibi kalo King Moron wali kelas tou-san waktu ia pindah ke Inaba. Jangan-jangan kesialan bokap nurun ke gue?


Di sebuah penginapan yang ramai dengan mobil polisi. Pernginapan Amagi yang terkenal selama puluhan tahun itu kembali mengundang perhatian media massa. Jika 24 tahun yang lalu penginapan ini terkenal dengan kasus pembunuhan seorang reporter, maka kali ini penginapan ini kembali terkenal karena hilangnya putri dari seorang dokter yang terkenal .

Seorang wanita berambut coklat susu terlihat lemas. Matanya terlihat bengkak karena kurang tidur dan tangisan yang tiada hentinya. Seorang pria yang memakai jas hitam mendekatinya. Lelaki itu mengelus punggung wanita itu , bermaksud agar wanita itu bisa sedikit lebih tenang.

"Yukari, Tenanglah. Polisi sedang berusaha mencari Miori. Miori itu anak yang kuat. Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa dengannya." Lelaki itu berusaha menenangkan istrinya itu.

"Tapi Eiji, Ini salahku, andai aku sebagai ibu tidak sibuk berkerja dan membiarkan Miori sendirian berlibur ke Inaba maka Miori tidak akan menghilang." Yukari berkata dengan pelan. Air matanya terus mengalir di matanya.

"Pokoknya saat ini kita hanya bisa berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa pada Miori." Eiji menghapus air mata Yukari dengan jemarinya.


Naoki's POV

Oke!! Malam telah tiba!!! Mari kita lihat apakah kacanya berubah apa enggak! Lho…, kacanya ga ada beda? Gue liatin tuh kaca seolah tuh kaca ialah gadis cantik yang gimana gitu, tapi kaca itu ga berkabut seperti kemaren. Jangan – jangan yang kemaren gara-gara capek beresin barang? Tapi itu bukan ilusi, gue beneran ngerasa ada yang menarik gue. Mungkin kabut itu dari penguapan kamar mandi …

Gue liat jam, baru jam 11, besok katanya ka-san bakal kemari , karena ada anak yang menghilang. Siapa ya namanya…., Mi…Miori shirako kalau ga salah…, dah itu tou-san juga bakal datang minggu depan gara-gara proyek. Gue pikir bisa bebas tapi ternyata enggak, ini sih ga ada bedanya dengan pindah sekeluarga.

Gue liat lagi ke jam, dah jam11:56, besok hari minggu sih, tapi daripada ga ada kerjaan, mending tidur aja deh. Seperti yang kalian tau, gue langsung mendarat ke kasur, tapi ada yang aneh…, beberapa menit setelah gue menutup mata, gue ngedenger suara tangisan.

"Ibu tolong aku…"Terdengar suara isak tangis anak cewe, mati gue, jangan-jangan apartemen ini berhantu.

"Siapapun, Tolong jawab aku" Duh, gue jawab ga ya? Mending gue coba cari asal suaranya deh.

Gue coba keliling kamar, dan gue ngerasa ngedenger tuh suara dari belakang gue, dengan pelan gue berbalik dan tadaa~! Ga ada apa-apa! APARTEMEN INI MEMANG BERHANTU!!!!!

Tapi gue menyadari satu hal, kaca kecil yang biasa gue pake buat nyisir, maksud gue nyisir sambil liat kaca itu. Berkabut, sama seperti yang gue liat kemarin, gue ngedeketin tuh kaca dan mendengar suara tangisan dari sana, ternyata memang ada sesuatu di balik kaca itu! Gue coba deh ngejawab suara itu.

"Halo disini Naoki Seta , lo siapa?" gue coba memperkenalkan diri.

"Aku.. Miori Shirakata " Jawab anak cewe itu

"Miori ? Anaknya Eiji Shirakata yang sedang menghilang itu??" Hah? Berarti orang yang dicari ka-san ada disini!

"Hilang? Tapi aku memang anak dari Eiji Shirakata." Jawab Miori dari dalam cermin

"Miori , kau bisa lihat jariku?" gue coba masukin jari telunjuk gue ke kaca dan jari gue bisa masuk!

"Iya…" Jawab Miori pendek.

Gue mesti selametin cewek ini, tapi gimana? Ga ada kaca yang lebih besar, yang bisa memuat tubuh gue…, ADA! Kaca meja rias di kamar utama! Gue bergegas ke kamar utama, trus gue liat kacanya juga berkabut. Gue coba teriak lagi, untuk memastikan Miori bisa ngedenger gue.

"Miori, lo denger gue gak?" Tanya gue.

"Iya, Aku bisa mendengarmu." Jawab Miori. Bagus klo gini gue bisa nyelametin dia!

"Gue masuk ya!" Teriak gue ke Miori.

Dan begitu gue buka mata…, yang gue liat adalah sebuah tempat yang amat berkabut. Dan gue bisa liat anak cewe yang berambut coklat susu sedang ketakutan. Gue hampirin dia.

"Gue, Naoki Seta, Datang untuk bawa lo pulang." Gue ngulurin tangan ke Miori, tak lupa pasang senyum pahlawan .

"Tapi…, bagaimana caranya?" Tanya cewe di depan gue.

"Gampang tinggal balik ke kaca" Gue ngebalikin badan gue dan cuma ngeliat kabut, ga ada kaca/pintu keluar satupun.

Intinya…, gue dan Miori terperangkap disini.

To be Continued

Me : Akhirnya selesai juga chapter 2!!! Yaay!!! Alasan gue suka ngatain Souji gay, karena waktu gue liat gambar Souji ma Naoto, gue kira Naoto tuh cowo. Abisnya banyak yang suka SoujiXNaoto, jadi gue kira mereka gay… hehe –dibunuh fans SouNao-

Naoki : Tuh bahasa sopannya ilang, Kumat deh dia.

Me : Berisik!! Trus untuk kuis di chapter lalu jawabannya adalah…., bener kata Mihane , Lagu yang dinyanyiin Naoki emang Memories of You. Trus Aineko-chan juga bener, Miori emang dari Minato dan Yukari, Tapi mereka ga kawin, kan Minatonya dah koit…, Alasanny bakal diceritain nanti knapa Yukari ngasih nama Miori.

Bagi gue, sejak gue digampar di hotel laknat itu –bukan gue sih, tapi Minato, tapikan gue maeninnya jadi Minato! Secara ga langsung gue yang digampar-, Pandangan gue ke Yukari menurun drastic, jutek bener tuh cewek, heran gue…

Trus 2 orang yg nebaknya bener, mo dikasih hadiah apa? Seperti yang saya bilang, saya ga bisa ngasih sesuatu yang berharga lho.

Kritik,Saran,Pujian diterima dengan senang hati! Apalagi duit! Lagi sedih gara2 ga bisa maen Devil Survivor pake emulator huhuhu, bye, reviewnya ditunggu ya!

Next Chapter : Welcome to Mirror World!