Chapter 6

Welcome Kushina, Goodbye Playboy

Disclaimer : I do not own Naruto

Rate : M *Plak ( Just Kidding :D ) still safe* T

Genre : Romance, Friendly, Family, Angst etc

Pairing : Minato Namikaze x Kushina Uzumaki

Warning ! : EYD abal-abal, OOC, Gaje, alur cepat, tetek bengek semuanya ada !

For anzu qyuji : yep, kamu betul sekali anzu qyuji :D, hehehe..., iya Shisui juga suka sama lagu itu, yah soalnya lagunya membuat hati tenang n damai ditambah lagi lagu kokoro no wakusei itu lagu favorit Shisui n_n. Makasih yah buat review-nya !

For Puthry Azzahra : makasih puthry-chan atas pujiannya ! wah jadi geer nih Shisui *plak*, iya puthry-chan soalnya Shisui lagi libur sekolah jadi Shisui bisa menghabiskan waktu untuk membuat fic. Hehehe :D makasih yah buat review-nya !

Oke deh nih chapter 6-nya

If you don't like this story, don't read !

Enjoy It !

Si pramugari melesat pergi setelah Kushina mengucapkan kata terima kasih padanya, Kushina mendengus kesal dengan apa yang terjadi saat itu, dan Minato hanya menyengir kesenangan sendiri.

"ternyata bahan-bahan penyamaran ini sangat manjur yah, aturan tadi aku tidak memberitahumu saja"

"berisik-ttebane !" bentak Kushina pada Minato berharap Minato diam tetapi bukannya diam Minato malah tertawa kesenangan.

Kushina mendengus kesal saat itu tetapi sekaligus senang karena Minato ada disebelahnya.

Chapter 6

-Minato POV-

Aku berjalan di jalanan yang dipenuhi pohon sakura, aku berjalan sambil menundukkan kepalaku, daun-daun bunga sakura beterbangan kearahku seolah-olah bunga itu mengikutiku berjalan bagaikan hewan peliharaanku, suara hembusan angin yang lembut mengibaskan rambut jabrikku yang sangat kukagumi.

Sesekali aku mendongahkan kepalaku untuk memandang langit yang cerah dan biru yang saat ini dicampuri dengan daun-daun bunga sakura yang berguguran, aku tersenyum melihat keindahan alami ini, baru kali ini aku merasakan hal yang sangat menyenangkan.

Aku duduk di sebuah bangku taman yang terbuat dari semen, ketikanya aku terduduk di bangku itu..., aku mengambil udara yang sejuk disekitarku ini dengan penuh kenikmatan, aku mulai membaringkan tubuhku di bangku taman ini untuk bersantai sebentar. Seketikanya aku memejamkan mataku..., aku mendengar suara seorang wanita bersenandung lembut di suatu tempat.

Karena saking penasarannya aku melesat bangun dari tiduranku lalu menggerakkan kepalaku kekanan dan kekiri mencari suara yang menciptakan senandung indah itu. Ketika aku menggerakkan kepalaku kesebelah pohon sakura belakang bangku taman tempat yang kududuki..., aku melihat sosok wanita berambut merah darah yang sedang berlarian kecil datang mendekatiku, wajahnya tidak terlalu jelas karena jaraknya masih terlalu jauh ditambah lagi wajahnya ditutupi dengan dedaunan bunga sakura yang melayang-layang kearahnya, wanita berambut merah itu memakai pakaian kimono berwarna biru langit yaitu warna kesukaanku.

Aku tersenyum terpesona memandangi sang gadis itu dari tempatku berada, semakin lama dia semakin dekat dan terlihatlah jepitan rambut berwarna keemasan yang terlihat familiar dimataku lalu terlihatlah mata berwarna violet yang sangat cerah dan menawan, mata itupun juga sangat familiar di mataku.

Ketika semakin dekat kearahku..., aku baru mengenali siapa gadis itu. Gadis itu bernama Kushina Uzumaki, seorang gadis tomboy yang kutemui di Paris, gadis yang membuatku melupakan jati diriku sebagai pencinta wanita, gadis yang menyadarkanku bahwa wanita itu juga mempunyai perasaan, gadis yang sepertinya sudah membuatku jatuh cinta padanya.

Aku juga tidak mengerti kenapa aku jatuh cinta padanya..., padahal dia adalah gadis yang kasar dan terlalu kelaki-lakian tetapi kenapa aku bisa luluh dengannya, memang kuakui dia itu sangat cantik, tetapi kenapa aku merasa bukan kecantikannya yang istimewa, sepertinya ada yang lebih cantik dan indah selain wajahnya hanya saja aku tidak tahu apa itu?.

Kushina tersenyum kearahku masih bersenandung dengan suara yang sangat indah sekali, kedua tangannya dia sembunyikan dibelakang pinggangnya yang ramping.

Kushina berhenti ketika jaraknya dan jarakku sekitar 1 meter, lagi-lagi dia tersenyum manis padaku. Ingin sekali aku mendekatinya dan menyentuhnya meskipun itu akan membunuhku karena dia akan memukulku.

"aku tidak akan memukulmu Minato-kun?" sahutnya sangat lembut padaku.

Aku melebarkan mataku terkejut dengan apa yang dia katakan, dia bisa membaca fikiranku? Dia bisa tahu apa yang kufikirkan?

"tentu saja aku tahu apa yang kau fikirkan? Terlihat jelas diwajahmu yang tampan itu" katanya lagi sangat lembut tetapi sekarang dia tambahi dengan senyuman manis, Kushina memujiku dengan kata 'tampan' baru kali ini aku mendengar kata pujian yang keluar dari mulutnya itu, aku merasa sepertinya wajahku mulai memerah saat dia memujiku.

Kushina melangkahkan kakinya kembali mendekatiku lalu dia duduk di kursi taman tepat disebelahku, baju kimono yang dia pakai sangat indah dan pas sekali untuk dipakainya..., ya ampun Kushina kau sangat manis sekali kalau memakai kimono itu.

"Minato-kun..., ada yang ingin kubicarakan?"

Eh? Kushina ingin membicarakan sesuatu padaku?

"a...app...apa itu Kushu-chan?"

"mau tidak kamu jadi pacarku?"

Aku tersontak kaget dengan pertanyaannya..., Kushina menyatakan cintanya?, belum sempat aku menjawab..., tiba-tiba dia mendekatiku. Wajahnya yang manis dia sodorkan kearahku, matanya yang berwarna violet yang memantulkan wajahku bergetar hebat sekali, tangan Kushina memegang pipiku dengan mesra-nya diikuti nafas yang berburu yang saat itu mengeluarkan gumpalan asap di setiap dia bernafas

"aku mencintaimu Minato...maukah kau menjadi pacarku?"

Aroma nafasnya sangat wangi sekali, aroma nafasnya sangat mistik saat kuhirup berbeda dengan gadis-gadis lain yang menyemprotkan nafasnya dengan pewangian mulut yang membuatku pusing, aroma nafasnya sangat nikmat sekali untuk kuhirup sama seperti aroma tubuh dan rambutnya.

Kushina menyodorkan wajahnya semakin dekat dan ketika jarak hidungku dan hidungnya sudah hampir menempel..., dia memiringkan kepalanya kekiri lalu dia...

KRIIINGG...

Loh kok aku mendengar suara jam weaker sih dan kenapa aku merasa bibir Kushina kasar yah seperti bantal saja.

KRIIING...

Untuk kedua kalinya suara itu menggangguku dan kenapa aku merasa aku berada di sebuah tempat tidur, apa aku dan Kushina berbuat...,

BRAK !

"aduduh ! itai..loh ?"

Aku membuka mataku sangat lebar karena terkejut dengan apa yang kulihat, aku berada di kamarku? Bukannya tadi aku..., ternyata tadi itu hanya mimpi?...ya ampun tadi hanya mimpi saja? Padahal sudah romantis-romantisnya tadi, haaah ! sial.

Baru kali ini aku memimpikan seorang wanita, dan wanita itu adalah Kushina. Sepertinya aku memang benar-benar jatuh cinta padanya, bukan ! tidak memakai 'sepertinya'..., aku memang benar-benar jatuh cinta padanya !, benar-benar jatuh cinta padanya !.

Dengan semangat aku melesat berdiri lalu aku berlari membuka pintu kamarku dengan semangatnya sambil tertawa tidak perduli kalau aku belum memakai pakaian yang layak, coba apanya yang layak kalau aku cuma memakai kaus oblong dan celana kolor.

Aku memegang kenop pintu dan mulai membukanya sambil berlari kebawah tangga sambil berteriak

"Kushina-chan ! aku menicntaimu !"

Para maid perempuan yang bekerja dirumahku berteriak histeris ketika aku melewatinya dengan pakaian yang tidak layak, ah lupakan saja mereka, aku tidak perduli...!, setibanya aku di tempat makan, aku langsung menggebrak meja makan yang disana ada tou-chan-ku yang sedang sarapan.

Tou-chan-ku tersontak terkejut sampai-sampai dia memuntahkan roti isinya yang tadi dia kunyah dengan nikmatnya *jorok !*.

Tou-chan memukulku dengan serbet yang berada disebelahnya sambil mendengus kesal karena telah mengganggu makan siangnya, aku tertawa riang saat dia memukulku dengan serbet itu lalu aku melesat memeluknya masih dengan tertawa riang.

"ada apa denganmu Minato? Kenapa kau terlihat senang sekali hari ini?"

"aku jatuh cinta tou-chan...aku jatuh cinta"

"eh? Kau apa?"

Aku melepaskan pelukanku lalu menyengir kearah tou-chan

"aku jatuh cinta tou-chan, aku jatuh cinta !"

Tou-chan mengerutkan keningnya yang sepertinya menandakan kalau dia masih tidak mengerti dengan apa yang kukatakan, sepertinya aku akan menceritakan semuanya soal Kushina dan semua yang terjadi padaku akhir-akhir ini yang menyangkut soal Kushina, aku duduk di sebelah tou-chan lalu mulai menceritakan semuanya pada tou-chan.

"jadi begitu?"

"ya, dia gadis yang kucintai tou-chan?"

"dimana rumah gadis itu?"

Aku berhenti menyengir lalu menundukkan kepalaku, itulah halangannya yang membuatku tidak bisa menemuinya. Aku tidak tahu rumahnya, dan aku juga tidak tahu nomor teleponnya. Aku menggelengkan kepalaku yang berarti aku tidak tahu rumahnya.

"hem.., jadi kau tidak tahu rumahnya? Kalau kau tidak tahu rumahnya bagaimana kau bisa menemuinya?"

"aku juga tidak tahu tou-chan, tapi aku akan berusaha mencari rumahnya ! aku tidak akan menyerah begitu saja, dia yang membuat hatiku luluh tou-chan ! dia berbeda dengan para gadis yang kutemui"

"ya ampun Minato, kau benar-benar mencintai gadis itu yah?"

"iya, sangat...sangat kucintai !"

"tetapi apa dia juga mencintaimu?"

Lagi-lagi aku menundukkan kepalaku saat tou-chan berkata seperti itu, yah memang aku mencintainya tetapi dia? Apa dia mencintaiku? Aku kan tidak tahu. Aku menggelengkan kepalaku lagi menandakan aku tidak tahu.

Ketika aku selesai menggelengkan kepalaku..., tou-chan tertawa kecil lalu memegang bahuku dan menghusap-husapnya.

"kalau begitu kau harus berusaha Minato"

Aku mendongahkan kepalaku menatapnya dengan mata melebar, lalu aku tersenyum kearahnya karena mengerti dengan apa yang dikatakannya.

"dapatkan dia sebelum dia diambil orang"

Aku melesat berdiri dari kursi meja makan yang kududuki sambil berteriak "Welcome Kushina !, Goodbye Playboy !" lalu berlari menuju kamarku untuk bersiap-siap mencari rumah Kushina.

-Kushina POV-

Aku berjalan kearah ruangan kerja tou-chan sambil membawa obat dan air putih, setibanya disana aku membuka pintu ruangan kerja tou-chan-ku, tou-chan sudah memakai jas dan dasi berwarna merah, dia sepertinya akan berangkat bekerja dan aku akan sendirian dirumah. Aku meletakkan obat dan air putih di meja. Sepertinya ini adalah kesempatanku untuk berbicara padanya soal guru biolaku.

"Kushina..., kenapa kau repot-repot sih membawakan tou-chan obat kan ada maid"

"tidak apa-apa tou-chan, aku yang memintanya kok, kan biasanya aku hanya marah-marah saja menyuruh tou-chan untuk meminum obat, jadi sekali-kali boleh kan kalau aku mengubah profesi-ku yang selalu marah-marah pada tou-chan menjadi baik hati dan membawakan obat untuk tou-chan"

Tou-chan tertawa geli sekali saat aku mengatakannya, lalu dia menatapku dengan tatapan bertanya seolah-olah dia tahu kalau aku ingin menanyakan sesuatu.

"hehehe, begini tou-chan..., boleh tidak tou-chan mengganti guru yang lain, guru yang saat ini mengajariku terlalu dingin-ttebane"

Tou-chan mengerutkan keningnya menandakan kalau dia sedang bingung

"apa maksudmu sayang?"

Aku harus mencari kata-kata yang tepat agar tou-chan tidak marah-marah padaku dan agar tidak membuat penyakit jantungnya kambuh lagi

"maksudku begini..., guru yang saat ini sangat kejam padaku. Aku selalu dimarah-marahi olehnya, dia tidak menghargai cara bermain biola-ku sama sekali tou-chan, dia menganggap permainan biola yang kumainkan sangat jelek dan hancur, jadi aku merasa tidak nyaman kalau dia yang mengajariku ditambah lagi dia selalu bertingkah kasar padaku tou-chan"

Tou-chan mengerutkan keningnya semakin dalam

"benarkah itu?"

"iya tou-chan"

Aku dan tou-chan saling berpandangan sangat lama sekali lalu sekitar tiga menit kemudian dia tertawa keras sekali sampai-sampai dia terbatuk-batuk, aku mengambil air yang berada di meja kantornya lalu memberikannya pada tou-chan

"Kushina..., aku kenal guru yang mengajarimu. Dia guru yang sangat berbakat dan terkenal dengan kebaikan hatinya. Mana mungkin dia melakukan sesuatu yang kejam, lagipula guru seperti dia sangat langka Kushina jangan disia-siakan"

"ta...tapi tou-chan..."

"em sudah yah Kushina, nanti kita bicarakan lagi. Tou-chan sudah terlambat meeting ke kantor cabang tou-chan yang baru. Oke?...er perginya kamu mau bareng tou-chan tidak?"

"iya, tunggu sebentar yah aku mengganti baju dulu"

"ya sudah jangan lama-lama yah, tou-chan tunggu di mobil"

-x-x-x-x-

Saat di perjalan menuju gedung musik

"tou-chan?"

"hem?"

"semua perkataanku tadi itu benar tou-chan?"

Tou-chan menghela nafas panjang ketika aku berkata seperti itu

"ya sudah...ya sudah nanti tou-chan temui dia"

Aku tersenyum senang

"tetapi bukan untuk memecatnya tetapi untuk menasihatinya agar jangan keras-keras mengajarimu"

Wajahku yang tadinya cerah kembali murung saat dia bicara seperti itu, lalu ketika dia menyadari aku cemberut..., dia tertawa pelan lalu mengacak-ngacak rambutku.

"Kushina sayang..., dia guru yang sangat langka...dia terkenal karena bisa mengajari semua pemain musik di bidang musik sampai mereka terkenal contohnya...er, kamu tahu Sungha Jung pria pemain gitar terpandai yang terkenal di korea?"

"tidak...aku tidak kenal" kataku ketus

Tou-chan tertawa pelan

"Sungha Jung itu adalah murid pertamanya dan sekarang dia terkenal menjadi pemain gitar terpandai dan terpintar di Korea"

"ya sudah terserah tou-chan" kataku ketus kembali, aku tidak bisa berteriak apalagi melawan tou-chan, aku harus menjaga emosiku didepan tou-chan karena tou-chan terkena penyakit jantung. Aku tidak mau penyakitnya kambuh lagi jadi lebih baik aku mengalah saja meskipun aku merasa kesal padanya.

Beberapa jam kemudian kami tiba di gedung musik, aku turun bersama tou-chan lalu menuju gedung musik, seketikanya aku membuka pintu gedung..., sang maestro berambut panjang jabrik berwarna hitam duduk dipanggung sambil memainkan gitar dengan gerakkan sangat cepat sekali.

"Madara !" sapa tou-chan disaat kami tinggal beberapa jarak lagi mendekatinya.

Sang maestro itu tersenyum ke tou-chan tetapi menurutku dia itu bukannya tersenyum tetapi menyeringai kejam.

"hai Hashirama !, tumben sekali kau datang...ingin melihat putrimu memainkan biolanya"

"suka-suka aku dong Madara..., ini kan gedung musikku jadi bebas dong aku datang atau tidaknya?"

"ya...ya, oke"

"ee, ngomong-ngomong aku kemari bukan untuk melihat Kushina bermain musik..., tetapi aku ingin berbicara denganmu?"

"berbicara apa?"

"begini..., apa benar kau telah melatih Kushina dengan kasar?"

Ketika tou-chan bertanya seperti itu padanya, guru maestroku yaitu Madara menatapku secara sembunyi-sembunyi dengan tatapan membunuh, aku membalas menatapnya saat itu, aku tidak takut dengan tatapannya lagipula aku kan punya karate dan ditambah lagi disini ada tou-chan jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa padaku.

"tidak...itu tidak benar, aku melatihnya dengan lembut kok..."

"bohong tou-chan...dia bohong !"

"Kushina...tenanglah yah. Begini saja Madara aku memintamu untuk jangan berlaku kasar lagi pada putri-ku, kau tahu kan Kushina adalah anak yang paling kusayangi. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa. Kau kan temanku jadi bersikaplah baik pada putri-ku oke?"

"baiklah"

"ya sudah, Kushina tou-chan pergi kekantor dulu yah. Selamat belajar"

"tou chan !"

Tou-chan menutup pintu gedung musik, sepertinya tou-chan tidak mempercayaiku, dia lebih mempercayainya daripada mempercayaiku. Aku akan berakhir disini..., Madara pasti akan memarahiku habis-habisan, tidak...jangan takut Kushina ! kau punya teknik bela diri karate, kau jangan takut !. kau pasti bisa Kushina !.

Madara memutarkan tubuhnya kearahku dengan nafas berburu penuh emosi, dia mulai menarik nafasnya sangat panjang saat itu, jantungku berdetak keras ketakutan..., dia menggenggam pergelangan tangan kananku dengan sangat kuatnya sampai-sampai aku kesakitan.

"aduduh..., ittai-ttebane !"

"sakit yah? Hah sakit..., siapa yang lebih sakit hah?! Kamu atau aku ! berani-beraninya kamu mengadu pada tou-chanmu. Kamu mencari mati hah !"

"ittai-ttebane !" teriakku semakin keras kesakitan.

Genggamannya semakin kuat di pergelangan tangan kananku, aku merasa sepertinya tulang pergelangan tanganku patah olehnya, aku mencoba melepaskan pergelangan tangan kananku darinya tetapi tiap kugoyangkan pergelangan tangan kananku untuk memberontak..., pergelangan tanganku semakin sakit dan sakit.

Aku mengambil jalan pintas agar dia melepaskan pergelangan tangan kananku dengan meninju wajahnya yang garang itu dengan kepalan tangan kiriku.

BRAKK

Dia mundur satu meter dariku dan tanganku pun sudah lepas darinya. Dia menatapku sangat garang sambil menunjukkan giginya yang lancip-lancip seperti kelelawar. Aku tidak takut ! aku tidak takut dengan expresinya, maju kamu kalau berani.

Aku mempersiapkan kuda-kudaku, disaat aku mengepalkan jemari tangan kananku..., aku merasa jemari tanganku sangat sakit sekali. Sepertinya pergelangan tangan kananku benar-benar patah, terpaksa aku hanya mengepal tangan kiriku saja.

"berani-beraninya kau memukulku ! gurumu sendiri !"

"aku tidak punya guru sejahat dirimu !"

"HEAH ! MATI KAU !"

Hah !, dia bilang mati ?! berarti dia akan membunuhku?, dia berlari kearahku dengan sangat cepat sekali, apa ancamannya tadi itu benar-benar dilakukannya, apa dia berani membunuhku? seorang perempuan ?.

Disaat dia semakin dekat aku melayangkan tangan kiri yang sudah kukepal kearahnya tetapi sayang tidak mengenainya, dia menghindar dengan mudahnya dari pukulanku lalu dia menendang perutku dengan lutut kaki kanannya sampai-sampai aku terbatuk-batuk dan memuntahi isi perutku. Akh...dia benar-benar akan membunuhku.

"jurus karate-mu sangat lemah gadis kecil" katanya meledekku lalu menendangku sampai-sampai aku terpental dan kepalaku menubruk biola-ku sendiri yang berada dibelakangku sehingga membuat kepalaku pusing lalu aku merasakan ada sesuatu yang basah dan berbau amis di kepalaku, apa ini darah ?!.

"MATI KAU !"

"Kushina... !"

TBC

A/N : Fiuhh !, selesai juga chapter 6 ini !..., disini Minato mulai melupakan jati dirinya yang menjadi playboy, dia sudah berubah disini. Hatinya sudah diluluhkan oleh Kushina. Dan sekarang hatinya Cuma untuk Kushina seorang :D, Shisui tunggu reviewnya Minna-san !.

JAA-MINNA~SAN