Chapter 7

I Found You

Disclaimer : Masashi Kismismoto *dirasengan Masashi* ugh ittai...mangap salah ketik akang Masashi T_T...hiks, yang bener...hiks...Masashi Kishimoto

Rate : Still safe 'T'

Genre : Romance, Friendly, Family, Angst etc

Pairing : Minato Namikaze x Kushina Uzumaki

Warning ! : EYD abal-abal, OOC, Gaje, alur cepat, tetek bengek semuanya ada !

If you don't like this story, don't read !

Enjoy It !

Disaat dia semakin dekat aku melayangkan tangan kiri yang sudah kukepal kearahnya tetapi sayang tidak mengenainya, dia menghindar dengan mudahnya dari pukulanku lalu dia menendang perutku dengan lutut kaki kanannya sampai-sampai aku terbatuk-batuk dan memuntahi isi perutku. Akh...dia benar-benar akan membunuhku.

"jurus karate-mu sangat lemah gadis kecil" katanya meledekku lalu menendangku sampai-sampai aku terpental dan kepalaku menubruk biola-ku sendiri yang berada dibelakangku sehingga membuat kepalaku pusing lalu aku merasakan ada sesuatu yang basah dan berbau amis di kepalaku, apa ini darah ?!.

"MATI KAU !"

"Kushina... !"

Chapter 7

-Hashirama POV-

Aku menutup pintu gedung musikku tanpa menoleh lagi ke Kushina yang sedang berteriak memanggilku, memang dari expresi wajahnya itu dia sangat serius sekali, tidak terlihat ada kebohongan sama sekali dari tatapannya padaku hanya saja aku masih tidak terlalu percaya dengan apa yang dia ucapkan soal Madara, kenapa aku berkata seperti itu? itu karena aku sangat mengenali Madara..., dia orang yang baik dan berwibawa ditambah lagi dia itu murah senyum apalagi padaku, bagaimana bisa dia berani berbuat kasar apalagi kalau anak yang diajarinya adalah anakku. Menurutku Kushina hanya mencari alasan agar Madara kupecat menjadi gurunya dan dia akan kembali ke hobinya yang dulu.

Hemm..., memang sih saat itu dia berjanji tidak akan kembali ke hobi super boy-nya itu tapi kalau sedang tidak ada kerjaan mungkin saja hal itu terjadi kan ! tidak ada yang tidak bisa terjadi kalau kita sedang bosan apalagi Kushina..., dia itu mudah sekali bosan dengan sesuatu hal kecuali jika hal itu membuatnya sangat nyaman.

Aku bingung dengan anak perempuan-ku ini..., entah apa yang Mito makan saat mengidami Kushina, dia jadi seperti laki-laki dan terlalu keras kepala, bahkan saat masih bayi-pun dia itu sulit sekali untuk disuruh diam..., ya ampun hari itu adalah hari yang sangat melelahkan bagiku dan Mito.

Mito...?, sifatnya itu sangat bertabrakkan denganmu yang pendiam dan lemah lembut. Tetapi wajahnya dan wajahmu tidak berbeda sama sekali, kalian berdua sama-sama cantik dan manis.

Aku tersenyum sendiri saat mengingat istriku, dan tanpa kusadari air mata mulai menetes dan mengalir dipipiku.

Mito...?, aku merindukanmu.

Disaat aku membuka pintu mobilku..., tiba-tiba aku mendengar suara samar-samar seperti teriakkan kesakitan dan teriakkan kasar disuatu tempat, aku menajamkan pendengaranku dan seketikanya aku menajamkan pendengaranku..., aku merasa suara itu berasal di dalam gedung musikku, aku mengerutkan keningku tidak percaya dengan apa yang kudengar?, karena saking penasarannya aku menutup pintu mobilku kembali lalu berjalan kearah gedung musik untuk memeriksa apakah suara itu memang benar-benar berasal dari gedung musikku?

Disaat aku tiba di pintu gedung musik, aku berhenti sebentar untuk menajamkan pendengaranku kembali dengan tangan sudah memegang kenop pintu, tidak lama kemudian aku mendengar teriakkan 'MATI KAU !' didalam gedung musik dengan sangat kerasnya lalu aku mendengar suara seperti ada barang terjatuh hanya saja terdengar sangat kasar dan keras seperti dibanting.

Apa yang terjadi didalam? Kenapa suara didalam seperti ada seseorang yang sedang bertengkar?, aku membungkukkan tubuhku kearah lubang pintu dan mulai mengintip di lubang pintu tersebut untuk memeriksa apa yang terjadi.

Aku melebarkan mataku ketika melihat Kushina dipukuli oleh Madara sampai-sampai Kushina memuntahkan semua isi perutnya

"brengsek kau Madara !" teriakku lalu mulai mendobrak pintu gedung musik dengan kuatnya.

"Kushina...!"

Disaat aku berteriak memanggil Kushina..., aku melihat darah segar bercucuran di kepalanya. Emosiku semakin meluap-luap melihat anakku dibuat sampai segitunya oleh Madara !. seharusnya aku lebih percaya pada anakku daripada si berengsek itu.

Si brengsek itu menoleh kearahku dengan expresi terkejut. Yah, memang itu yang kuinginkan, aku ingin dia terkejut melihat emosiku yang meluap-luap, aku ingin dia terkejut melihatku yang akan menghabisi nyawanya ! dasar kau...! pengkhianat !.

Aku berlari mendekatinya dengan sangat cepat sekali, dia memutarkan tubuhnya kearahku yang sedang berlari mendekatinya..

"Hashi..."

BRUKK

Aku memukulnya sekuat tenaga, aku mengeluarkan seluruh kebencianku padanya, jantungku berdetak sangat cepat dan cepat sekali, jantungku bagaikan pemompa yang dipompa terlalu cepat saat aku memukulnya lalu aku merasakan rasa sakit didadaku, oh tidak...! jangan sekarang jantung sialan...!

Rasa sakit didadaku semakin menjadi-jadi ketika aku meremas dadaku, aku harus bertahan..., aku harus bertahan !. tahanlah sedikit...ayo kau pasti bisa Hashirama ! penyakit ini tidak akan membuatmu lemah.

Dengan sekuat tenaga dan menahan rasa sakit di jantungku, aku berlari kearah Madara lagi dengan kedua tanganku sudah dikepal sangat kuat, setibanya disana aku melayangkan tangan kiriku tetapi bisa dia hindari dengan mudahnya.

Dia tersenyum licik padaku sehingga membuatku semakin bertambah marah dan benci padanya, ternyata benar dengan apa yang dikatakan Kushina padaku..., dia memang orang jahat.

"jadi kau ingin bertarung denganku Hashirama !" bisiknya sambil menyeringai padaku.

Aku menggertakkan gigiku dan mulai melayangkan pukulanku kembali kearahnya, tetapi setiap pukulanku yang melayang kearahnya..., dia bisa menghindarinya dengan mudah sekali. Ternyata Madara telah menguasai teknik bela diri? Heh..., aku tidak bisa meremehkannya.

Dipukulanku yang keempat kalinya, dia menundukkan kepalanya kebawah..., aku tersenyum melihat arah hindarannya yang bisa mengundang kesempatanku agar menendangnya. Heh, ternyata dia ceroboh juga. Aku melayangkan lutut kaki kiriku ke perutnya dengan kedua tanganku memegang punggungnya.

"kau ceroboh Madara"

"apa !"

BRUKK

Aku menendang perutnya dengan sekuat tenaga secara berturut-turut sampai-sampai dia terbatuk. Yah, memang ini yang kuinginkan ! dia harus membayar perbuatannya pada putriku.

"bagaimana rasanya Madara ?!, apa rasanya sakit hah !" kataku mengejek disaat aku mengangkat tubuhnya keatas agar menatapku, matanya sayu dan wajahnya memperlihatkan expresi kesakitan.

"brengsek kau Hashi...ugh !"

"bagaimana kalau ini hah !" teriakku sambil memukul perutnya

"atau ini !" teriakku kembali sambil memukul bagian pipinya dengan kerasnya.

Aku melihat bibirnya mulai berdarah, aku menyeringai senang melihat dia berdarah-darah. Memang itu yang kuinginkan..., tetapi darah yang keluar dari mulutnya itu belum cukup sama sekali. Darah yang keluar dari kepala putriku lebih banyak daripada darahnya, aku masih belum puas !

Aku melompatkan sedikit tubuhku dengan siku tangan melayang keatas dan lalu aku mulai menyikut ujung kepala Madara dengan sangat kuatnya sampai-sampai dia meringis kesakitan, darah segarnya yang basah dan berbau amis telah menempel di jas coklat-ku, dia meringis kesakitan dengan tangan memegang kepalanya yang mulai mengeluarkan darah.

"breng...sss...ssssekk...huh?" bisiknya pelan lalu dia mulai tepar di lantai gedung musikku dengan suara benturan keras menandakan dia sudah tidak berdaya.

"Hashi...hosh...awas...hosh...kau..."

Saat dia selesai mengancamku..., suaranya sudah tidak terdengar lagi ditelingaku. Lalu ketika aku sedang menatapnya dengan nafas terengah-engah, aku mendengar suara pelannya Kushina dibelakangku. Aku memutarkan tubuhku kearahnya dengan nafas masih terengah-engah.

"Kushina...kau...ukh !"

Rasa sakit didadaku mulai kembali lagi, jantungku berdetak semakin cepat melebihi beberapa saat yang lalu. Sial ! jantung sialan !, aku memukul-mukuli dadaku dengan sangat kerasnya sampai-sampai rasa sakit didadaku ini tidak bisa tertahan lagi.

"tou-chan !"

Aku mendengar teriakkan Kushina yang samar-samar memanggilku, aku harus kuat..., aku tidak boleh kalah dengan penyakit ini. Aku berusaha menegakkan tubuhku kembali tetapi gagal..., aku malah semakin terperungkup kelantai gedung musik yang dingin sambil memegang dadaku dengan tubuh tengkurap.

"ukh !...jantung sialan !" teriakku melawan rasa sakit di jantungku.

Beberapa menit kemudian aku merasakan ada seseorang yang memutarkan tubuhku, aku tidak bisa melihatnya karena mataku semakin lama semakin buram dan gelap, yang bisa kudengar hanyalah suara kekhawatiran yang samar-samar. Awalnya aku tidak mengenali suara itu tetapi ketika aku mendengar suara samar-samar itu memanggil kata 'tou-chan'..., aku baru sadar kalau yang memanggilku itu adalah putriku. Kushina.

-Normal POV-

Minato berada di halte bus sendirian, dari tadi perasaannya selalu tidak enak. Biasanya kalau perasaan tidak enak itu berarti kan ada suatu hal yang buruk telah terjadi kan?, karena saking takutnya dengan perasaannya itu..., sampai-sampai dia menelpon ayahnya karena takut ayahnya kenapa-kenapa?.

Tetapi ketika dia menelpon ayahnya..., ayahnya baik-baik saja. Saat Minato menelponnya..., Minato mendengar suara-suara perempuan di ponselnya. Pada saat itu Minato menyengir lalu dia mulai tertawa dengan menggeleng-gelengkan kepala.

Minato berjalan-jalan kecil menjauhi motor Harley Davidson-nya di halte dengan tangan dimasukkan ke saku celana jeans-nya, saat ini Minato memakai jaket kulit berwarna hitam gelap, celana Jeans yang juga hitam gelap bagaikan benar-benar pengendara harley davidson. Dan dia juga tidak lupa memakai kacamata hitamnya.

Para gadis yang dilewatinya melihatnya sangat terpesona sekali, mungkin jika Minato belum merubah jati dirinya, pasti mereka sudah didekati Minato. Dengan cuek Minato terus berjalan kedepan sambil menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri.

"bagaimana aku bisa menemukan rumah Kushina yah? Aku baru sadar kalau jepang itu luas yah?" bisik Minato sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal karena merasa heran.

Minato baru sadar kalau jepang itu luas, bahkan sangat luas sampai-sampai dia bingung harus berjalan kemana lagi, dia berhenti melangkahkan kakinya lalu menghembuskan nafas sangat panjang karena merasa sangat kelelahan. 'hufft...tou-chan benar. Mana mungkin aku bisa menemuinya kalau aku tidak mempunyai alamat rumahnya. Kukira aku bisa menemukannya dengan mudah dengan cara bertanya pada seseorang tetapi mereka semua yang kutanya tidak ada yang tahu itu karena aku bertanya pada seseorang dengan memberitahu ciri-ciri tubuh Kushina saja, yah soalnya aku tidak mempunyai foto Kushina sama sekali. Apa perjuangan cinta itu seberat ini yah? Ya kami-sama bantu aku menemukan Kushina !'

Minato beruntung saat itu..., ketika dia berdo'a dalam hati, dia melihat sahabatnya Kushina yaitu Mikoto sedang memasukki kotak telepon umum yang berjarak tujuh meter dari tempat dia berada, Minato menyeringai senang lalu berlari kearahnya dengan sangat cepat sekali. Waktu masih di universitas..., Minato terkenal dengan kecepatan larinya sehingga dia dipanggil kiiroi senkou oleh semua pelajar yang berada disana dulu.

"Mikoto-chan !" sapa Minato di kaca kotak telepon sambil tersenyum, wajahnya dia tempelkan ke kaca sehingga wajahnya telihat lucu sekali dikaca.

Mikoto tersontak terkejut ketika Minato berteriak memanggil namanya, lalu tertawa melihat wajah Minato yang tertempel di kaca kotak telepon.

"hahaha...Minato-kun, tunggu sebentar yah aku ingin menelpon dulu" balas sapa Mikoto dengan isyarat tubuh.

Minato hanya mengangguk kecil dan mulai menunggunya di sebelah kotak telepon umum sambil bersenandung. Beberapa menit kemudian Mikoto keluar dari kotak telepon umum dan mulai berjalan mendekati Minato.

"tumben sekali kita bertemu..., ada apa?"

"begini Mikoto-chan, er..., aku ingin menanyakanmu sesuatu"

"apa itu?"

"begini..., apa kau tahu alamat rumahnya Kushina-chan?"

"hah?, memang kau ingin apa kesana?"

"aku hanya...hanya ingin bertemu dengannya. Hehehe"

"ingin bertemu atau ingin banget bertemu"

"sudahlah Mikoto-chan aku sedang tidak mau bercanda, please"

"emm..., pada jam segini Kushina-chan sedang latihan bermain biola" kata Mikoto seraya melihat jam tangan di pergelangan tangannya

Minato mengerutkan keningnya tidak percaya, 'apa...!, Kushina-chan latihan bermain biola? Tidak bisa dipercaya' batin Minato tidak percaya.

"lebih baik kita ke gedung musiknya saja, jam segini dia masih berada disana kok. Yuk !" ajak Mikoto lalu memutarkan tubuhnya memunggungi Minato untuk berjalan.

Ketika Mikoto melangkahkan kaki kirinya..., Minato memegang pergelangan tangannya

"aku membawa motor, jadi kita pergi naik motor saja"

"eh?, tapi aku tidak melihat motormu Minato-kun?" kata Mikoto sambil menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri dengan expresi kebingungan.

"motorku kutinggal di halte, aku mulai bosan menaiki motorku karena dari tadi aku cuma bolak-balik saja jadi aku tinggal saja deh di halte. Hehehe"

"dasar..., nanti kalau motormu hilang bagaimana?"

"aku bisa membelinya lagi, hehehe" sahut Minato sambil menyengir lebar dan menggarukkan kepalanya yang tidak gatal.

Mikoto mengangkat kedua alisnya ketika Minato berkata seperti itu, 'ternyata Minato itu orang yang sangat boros? Masa motor ditinggal-tinggal seenaknya saja dan dia dengan mudahnya menjawab akan membelinya lagi. Dasar..., Minato, Minato' batin Mikoto.

"ya sudah ayo"

-x-x-x-x-

Minato memberhentikan motornya ketika dia melihat banyak orang beramai-ramai di depan gedung musik yang tinggal berjarak sepuluh meter itu, disana ada ambulance dan beberapa oknum polisi, perasaan tidak enaknya mulai muncul kembali disaat melihat pemandangan didepannya itu.

"kenapa kau berhenti Minato-kun?"

"itu..., apa itu gedung musik yang Kushina...Kushina-chan datangi untuk belajar bermain biola?" kata Minato dengan suara putus-putus mulai merasa khawatir, dia khawatir Kushina kenapa-kenapa.

"Minato-kun kenapa kau terlihat seperti orang yang...hah !" Mikoto terkejut ketika melihat gedung musik tempat latihan Kushina dikerumuni banyak orang, dan ditambah lagi ada ambulance dan oknum polisi lengkap dengan mobilnya sehingga membuat Mikoto berteriak terkejut sampai-sampai telinga Minato yang berada didepannya berdengung.

"Kushina-chan ! cepat kita kesana Minato" kata Mikoto seraya mengoyak-oyak tubuh Minato dengan sangat kuatnya

"tu...tunggu dulu..., ceritakan dulu padaku ada apa?"

"mana kutahu, kan kita baru tiba disini ! cepat jalankan motormu !" teriak Mikoto lagi tidak sabar.

Minato menganggukkan kepalanya lalu mulai menjalankan motornya kembali, ketika setibanya disana..., Minato dan Mikoto melesat turun dari motor dan mulai berlari menuju kerumunan orang-orang. Mereka sudah telat, ketika mereka sudah tiba disana mobil ambulance dan oknum polisi yang berada disana sudah menjalankan mobil mereka menjauhi gedung. Mikoto melewati kerumunan-kerumunan orang-orang disana dengan gerakkan sangat capat karena saking khawatirnya begitupula Minato..., dia main serobot di antara banyaknya orang karena perasaan panik-nya mulai muncul disaat melihat wajah Mikoto yang terlihat panik.

Mereka berdua memasukki gedung musik dengan berlari lalu ketikanya mereka berdua masuk..., tidak ada orang sama sekali, yang mereka lihat hanya barang-barang yang berantakan dan melihat biola yang biasanya dimainkan Kushina telah hancur di panggung. Mikoto dan Minato saling berpandangan.

"ada apa ini?!" tanya Minato dengan nada sangat panik melihat seluruh barang-barang di panggung gedung musik itu hancur berantakan.

"Kushina-chan?!" bisik Mikoto dengan mata bergetar.

Mikoto memutarkan tubuhnya dan mulai berlari keluar gedung musik meninggalkan Minato yang masih menatap gedung musik tersebut dengan mata melebar lalu ketikanya dia tersadar kalau dia ditinggal Mikoto..., dia langsung melesat keluar.

"permisi...?, boleh aku bertanya?" tanya Mikoto pada seorang pria yang sedang ingin memutarkan tubuhnya untuk menjauhi gedung musik.

"yah ada apa?"

"kenapa tadi ada ambulance dan polisi disini?"

"katanya sih ada tiga orang yang terluka di dalam gedung"

"tiga orang yang terluka?"

"iya, katanya pada saat itu ada seorang gadis keluar dari gedung musik itu dengan berteriak minta tolong lalu ada beberapa orang yang mendengarnya sehingga membantunya"

"lalu kalau cuma hanya terluka kenapa harus ada polisi"

"katanya disalah satu antara mereka itu adalah penjahat"

Mikoto melebarkan matanya terkejut dengan apa yang dikatakan orang itu.

"penjahat !" sambung Minato ketika dia tepat berada di belakangnya Mikoto.

"iya, jadi para polisi menangkap penjahat itu"

"apa anda tahu bagaimana ciri-ciri mereka bertiga?" tanya Mikoto kembali

"kalau tidak salah..., ada satu gadis yang mungkin berumuran dua puluhan yang mempunyai rambut merah terang lalu ada juga dua orang pria. Yang satu berambut panjang lurus dan satu lagi berambut panjang jabrik yang mungkin keduanya berumuran empat puluhan, dan berambut panjang jabrik itulah penjahatnya"

"Kushina ! Hashirama-sama !" teriak Mikoto terkejut.

"Kushina !" teriak Minato setelahnya dengan terkejut juga.

"kalian mengenali mereka?"

"iya, er, ngomong-ngomong dimana mereka akan dirawat?"

"kalau tidak salah di rumah sakit konoha"

"baiklah, arigatou" kata Mikoto mulai menjauhi orang itu diikuti Minato yang juga berkata 'arigatou' setelahnya..

"kita harus pergi ke rumah sakit konoha"

"iya..., ayo !"

Minato dan Mikoto menaiki motor dan mulai melesat pergi menjauhi gedung musik. Mereka tiba sekitar dua puluh menit kemudian, Minato dan Mikoto melesat memasukki rumah sakit dengan expresi panik.

"maaf suster mengganggu...! suster tolong beritahu kami dimana kamar Kushina Uzumaki dan Hashirama Senju?"

"er, tunggu sebentar yah..., Kushina Uzumaki tidak ada disini tetapi kalau Hashirama Senju dia berada di ruangan UGD"

"arigatou ! suster"

-x-x-x-x-

Minato dan Mikoto tiba di ruangan UGD dengan nafas terengah-engah, disana mereka melihat Kushina sedang duduk lemas di ruang tunggu dengan kepala dilapisi perban.

"Kushina !" teriak Minato mulai berlari mendekati Kushina.

Kushina menoleh kearah Minato memanggilnya, lalu ketikanya dia tahu kalau yang memanggilnya itu adalah Minato..., matanya melebar terkejut. dia melesat berdiri sambil menatap Minato yang berlari kearahnya tanpa berkedip sama sekali.

"kau...?"

"yah...hosh...hosh..., ini aku Kushu-chan" sahut Minato dengan nafas terengah-engah ketika dia tiba tepat berada didepannya.

"bagaimana kau..."

"aku datang bersama Mikoto-chan, kau baik-baik saja?"

Kushina menundukkan kepalanya ketika Minato bertanya seperti itu, yah dia memang baik-baik saja..., kepalanya hanya terbentur biola saja dan hanya mendapatkan luka ringan. Tetapi kalau ayahnya? penyakit jantungnya kambuh dan sekarang sedang berada di UGD yang sedang berjuang untuk bisa bertahan hidup.

"Kushina-chan...?"

"aku baik-baik saja, tou-chanlah yang tidak baik-baik saja. Penyakit jantungnya kambuh saat melawan guru berengsek itu, gara-gara dia...gara-gara dia tou-chan...huh?"

Minato memeluk Kushina dengan sangat eratnya saat itu, Kushina melebarkan matanya terkejut saat Minato memeluknya sehingga dia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya saat itu.

"aku tahu kau butuh sandaran untuk meluapkan isi hatimu Kushina-chan..., aku tahu kau butuh pelukan. Aku tahu saat ini kamu ingin sekali bersedih hanya saja kau tidak mau mengeluarkannya karena kau tidak mau dibilang gadis lemah. Tetapi cara fikirmu yang saat ini yaitu tidak mau menangis itu adalah salah Kushina-chan, caramu ini bisa membuatmu makin tersiksa. Menangislah...menangislah dipelukanku Kushina-chan, keluarkan isi hatimu, menangislah sekencang-kencangnya" bisik Minato.

Kushina mulai mengeluarkan air matanya sedikit demi sedikit ketika Minato berkata seperti itu lalu tidak lama kemudian Kushina mulai menangis sekencang-kencangnya dan mulai membalas pelukannya Minato.

"menangislah Kushu-chan...menangislah"

TBC

A/N : Chapter 7 update ! \('_')/ yey !, oh ya Minna-san. Mungkin chapter selanjutnya akan Shisui update minggu depan dikarenakan Shisui minggu-minggu ini akan sibuk banget mempersiapkan ujian-ujian sekolah. Shisui mohon Do'a semua-nya yah agar Shisui lulus dengan nilai yang memuaskan n_n. AMIIN !

JAA-MINNA~SAN