Chapter 8

The Freedom

Disclaimer : Masashi aku beli deh si Naruto, Boleh kan?, 'di rasen shuriken Masashi' *batu banget sih lu ! gogah !* :nangis gaje di pojokkan:

Rate : Don't worry still safe ;) 'T'

Genre : Romance, Friendly, Family, Angst etc

Pairing : Minato Namikaze x Kushina Uzumaki

Warning ! : EYD abal-abal, OOC, Gaje, alur cepat, tetek bengek semuanya ada !

If you don't like this story, don't read !

Enjoy It !

"aku tahu kau butuh sandaran untuk meluapkan isi hatimu Kushina-chan..., aku tahu kau butuh pelukan. Aku tahu saat ini kamu ingin sekali bersedih hanya saja kau tidak mau mengeluarkannya karena kau tidak mau dibilang gadis lemah. Tetapi cara fikirmu yang saat ini yaitu tidak mau menangis itu adalah salah Kushina-chan, caramu ini bisa membuatmu makin tersiksa. Menangislah...menangislah dipelukanku Kushina-chan, keluarkan isi hatimu, menangislah sekencang-kencangnya" bisik Minato.

Kushina mulai mengeluarkan air matanya sedikit demi sedikit ketika Minato berkata seperti itu lalu tidak lama kemudian Kushina mulai menangis sekencang-kencangnya dan mulai membalas pelukannya Minato.

"menangislah Kushu-chan...menangislah"

Chapter 8

-Kushina POV-

Entah kenapa aku merasa jantungku berdebar kencang saat Minato memelukku, aku tidak bisa memukul atau sekedar melepaskan diri dari pelukannya, aku merasa ada yang aneh dengan perasaan yang berada dihatiku, aku tidak bisa mengartikan apa perasaan ini?, biasanya aku bisa melepaskan diri darinya dengan mudah tetapi yang satu ini..., entah kenapa aku merasa butuh pelukannya dan entah kenapa aku merasa nyaman disaat dia memelukku. Disaat fikiranku sudah melayang..., tiba-tiba dia mengeratkan pelukannya lalu dia berbisik ditelingaku dengan sangat lembutnya

"aku tahu kau butuh sandaran untuk meluapkan isi hatimu Kushina-chan..., aku tahu kau butuh pelukan. Aku tahu saat ini kamu ingin sekali bersedih hanya saja kau tidak mau mengeluarkannya karena kau tidak mau dibilang gadis lemah. Tetapi cara fikirmu yang saat ini yaitu tidak mau menangis itu adalah salah Kushina-chan, caramu ini bisa membuatmu makin tersiksa. Menangislah...menangislah dipelukanku Kushina-chan, keluarkan isi hatimu, menangislah sekencang-kencangnya"

Dia bisa membaca fikiranku? Bagaimana bisa?, tanpa kusadari air mataku mengalir sedikit demi sedikit dari kantung air mataku, aku mencoba menahan tangisanku tetapi tidak bisa..., aku tidak bisa menahannya lagi. Air mataku keluar dengan derasnya dari kantung air mataku dan membasahi jaket kulit hitamnya. Aku memang butuh sandaran untuk menangis, sangat butuh...!.

Aku memeluknya sama eratnya saat dia memelukku, dan dia berbisik lagi

"menangislah Kushu-chan...menangislah"

Ketika dua menit aku memeluk Minato..., Mikoto muncul di koridor rumah sakit dengan berjalan mendekatiku dan Minato, dengan refleks aku melepaskan pelukanku pada Minato dan berlari kearahnya lalu mulai memeluk Mikoto saat aku tiba di didepannya.

"Mikoto-chan...hiks...tou-chan?"

"Kushina-chan, tenang yah..., ada aku disini. Aku yakin Hashirama-sama tidak akan apa-apa" bisiknya lembut sambil menghusap-husap pundakku dengan lembut

Aku melepaskan pelukanku

"tapi..., tou-chan..."

"ssst..., lihatlah matamu Kushi-chan, matamu sudah sangat merah dan kantung matamu mulai mengembung, dengan parasmu yang seperti ini kau tidak seperti Kushina-chan yang kukenal deh?" godanya padaku yang sepertinya mencoba untuk menyemangatiku.

Aku menundukkan kepalaku

"aku tidak mau kehilangan tou-chan, Miko-chan. Aku takut tou-chan..."

"eh, jangan berkata yang tidak-tidak..., Hashirama-sama itu orang yang sangat kuat sama sepertimu..., dia pasti bisa melampaui semua ini. Aku yakin itu" sahut Mikoto dengan tersenyum lembut. Aku membalas senyumannya lalu mulai memeluknya kembali.

-Normal POV-

Mikoto membelai rambut merah Kushina dengan lembutnya saat itu, Minato menatap dua sahabat itu dengan tatapan kagum, dia tersenyum melihat mereka. Tidak lama kemudian suara pintu UGD terbuka lebar sehingga mengundang tiga remaja yang berada disana menoleh kearah pintu tersebut.

Kushina, Mikoto dan Minato berjalan mendekati dokter berambut pirang tersebut.

"bagaimana keadaan tou-chan Tsunade-sama?" tanya Kushina dengan expresi khawatir.

"dia tidak apa-apa, dia sudah melewati masa kritisnya. Hashirama-sama memang orang yang sangat kuat sekali, meskipun dalam keadaan yang kritis dia masih bisa bertahan. Tou-chanmu sangat hebat Kushina"

Tiga remaja disana menghembuskan nafas lega

"saat ini biarkan dia istirahat yah, soalnya keadaannya saat ini sangat lemah"

"Hai, arigatou gozaimasu Tsunade-sama" kata Kushina sambil membungkukkan badannya kearahnya.

"yah" singkat Tsunade lalu mulai menjauhi Kushina, Mikoto dan Minato.

"sudah kubilang kan, Hashirama-sama orang yang sangat kuat, kamu jangan khawatir"

"tapi aku kan tetap saja khawatir Miko-chan, dia kan satu-satunya keluarga yang kupunya"

Mikoto melebarkan kedua matanya merasa terkejut dengan apa yang dikatakannya

"lalu nii-sanmu?"

Kushina tersontak terkejut lalu memandang Mikoto dengan menggarukkan belakang kepalanya yang tidak gatal sambil menyengir tidak jelas

"hehehe, oh iya ya aku lupa"

"huh? Dasar..., kalau nii-sanmu berada disini dan mendengarmu bicara begitu dia pasti akan sangat tersinggung dengan ucapanmu Kushi-chan"

"lagian dia tidak pernah bersamaku lagi sih jadi aku sampai lupa deh sama dia"

Disaat mereka sedang berbincang ria di kursi penunggu di rumah sakit..., tiba-tiba minato bergabung diantara pembicaraan mereka

"emm, aku lebih baik pulang yah, sepertinya hari sudah mulai sore nih"

Kushina menoleh kearah Minato, dia lupa kalau disini juga ada Minato. Karena saking hanyutnya dalam pembicaraannya bersama Mikoto dia sampai-sampai lupa kalau ada Minato.

"kenapa kamu sudah ingin pergi Minato? Baru jam berapa?" goda Mikoto

Minato menggaruk-garukkan belakang kepalanya yang tidak gatal berkali-kali lalu dia menyengir pada Mikoto, Kushina menatap Minato tanpa berkedip lalu dia bertanya

"Minato..., boleh aku bertanya?"

Minato berhenti menyengir lalu dia menatap Kushina dengan tatapan serius lalu dia menganggukkan kepalanya, Mikoto memandangi mereka secara bergantian lalu dia melesat berdiri dari tempat duduknya sambil berdeham lalu berkata

"aku pergi sebentar yah, aku ingin menelpon Fugaku-kun sebentar yah, bye?"

Kushina dan Minato tidak menjawab perkataannya Mikoto, mereka berdua masih saling bertatapan muka dengan tatapan yang sama-sama serius. Mikoto mengangkat kedua bahunya lalu melesat pergi meninggalkan mereka berdua

Setelah suara tepakkan sendal Mikoto sudah tidak terdengar lagi, Minato berjalan mendekati Kushina lalu disaat dia ingin duduk disebelahnya..., Kushina mencegahnya dengan memegang lengannya.

Minato mengerutkan keningnya keheranan dengan sikapnya Kushina, tidak lama kemudian Kushina melayangkan tangan kanannya ke kursi penunggu yang berada didepannya yang kira-kira berjarak satu meter

"kamu duduk disana..., bukan disini"

"tapi Kushu-chan, disana terlalu jauh nanti bisa-bisa aku tidak bisa mendeng..."

"sudah jangan melawan..., kamu duduk disana"

"baiklah" sahut Minato menyerah, dia tidak mau ada pertengkaran dengan Kushina, dia baru bertemu dengannya dia tidak mau menghancurkan hari pertamanya bersama Kushina.

Minato melesat mundur beberapa langkah lalu duduk di kursi tepat dimana Kushina mengarahkan tangannya.

"aku ingin bertanya padamu Minato..., kenapa kamu disini?"

"aku..., aku hanya merasa khawatir padamu Kushina"

"khawatir?"

"yah"

"lalu..., apa yang akan kamu perbuat setelah itu padaku?" tanya Kushina dingin

"maksudmu?" tanya Minato tidak mengerti

"tadi kamu memelukku ya kan? Kamu pasti ada maunya saat memelukku. Kau mencari kesempatan kan?"

Minato melesat berdiri dari kursinya dengan expresi tidak terima dengan ucapannya Kushina

"kesempatan? Aku memelukmu hanya mencoba untuk menenangkanmu Kushina, tidak lebih..."

Kushina ikut berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekatinya dengan tatapan sangat dingin pada Minato

"aku tahu siapa dirimu..., aku tahu semuanya tentang dirimu, kamu itu playboy !, dan playboy itu orang kotor !" bentak Kushina sambil menyentuh dadanya Minato dengan telunjuknya dengan dorongan kasar, Kushina tahu kalau hatinya tidak menerima kata-kata dingin ini padanya tetapi dia butuh tahu kenapa Minato memeluknya tadi, dia masih merasa benci padanya apalagi saat dia mengingat hal yang terjadi di lift museum saat itu.

Minato mengerutkan keningnya merasa tidak terima dengan ucapannya Kushina, kata-kata yang keluar dari mulutnya Kushina membuat hatinya sakit bagaikan teriris-iris, dia merasa direndahkan olehnya padahal dia datang kesini dengan susah payah tetapi kenapa Kushina malah membuat Minato sakit. Apakah perjuangan cintanya sesulit ini?

"kenapa kamu berkata seperti itu Kushina...?" tanya Minato mencoba mengontrolkan dirinya agar tidak emosi pada Kushina

"kau berpura-pura tidak tahu, oke terserah. Tapi ingatlah satu hal Minato, jangan harap aku bisa berubah baik padamu..., dari kejadian yang beberapa saat yang lalu itu tidak akan membuatku luluh padamu. Aku bukanlah gadis yang mudah kamu taklukki seperti gadis-gadis lainnya yang sudah kamu taklukki"

"Kushina...,aku..."

"sudah cukup, sekarang kamu boleh pergi" potong Kushina

"kamu...kkamu mengusirku?"

"aku tidak mengusirmu..., kamu sendiri kan yang bilang kalau kamu ingin pergi, sekarang pergilah"

"itu namanya kamu mengusirku Kushina"

Kushina menggertakkan giginya lalu berteriak pada Minato

"AKU TIDAK MENGUSIRMU !" teriak Kushina dengan mata yang memerah seperti ingin mengeluarkan air mata

"jangan berteriak sekeras itu Kushina..., baiklah aku akan pergi, bye" kata Minato lalu berjalan menjauhi Kushina dengan kepala menunduk.

Ketikanya Minato ingin berbelok ke koridor kanan rumah sakit dia bertemu dengan Mikoto yang saat itu bersama dengan Fugaku dan Itachi. Mikoto menatap Minato dengan mulut sedikit melebar merasa bingung dengan Minato yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.

"Minato? Kau kenapa?" tanya Mikoto

Minato tidak menjawab pertanyaannya Mikoto, dia terus berjalan dengan kepala menunduk dan saat itu Minato menabrak pundaknya Fugaku tanpa meminta maaf padanya. Fugaku ingin membentaknya tetapi dicegah oleh Mikoto sehingga dia tidak jadi membentak Minato.

-x-x-x-x-

-Minato POV-

Tega sekali kamu padaku Kushina, kenapa kamu membentakku dengan sangat dinginnya, kau sangat egois !, padahal aku sudah berjuang untuk mencarimu, kamu adalah gadis yang kucintai. Kamu adalah gadis satu-satunya yang mencuri hatiku. Kamu salah kalau kamu bilang aku akan menaklukkimu. Aku bukan ingin menaklukkimu Kushina..., tetapi aku ingin kamu mencintaiku. Ya kami-sama apakah kamu telah menghukumku karena perbuatanku sebelumnya, kamu marah padaku karena telah mempermainkan wanita sehingga membuatku tersiksa dengan cinta pertamaku. Ya kami-sama tolong maafkanlah perbuatanku ini, aku...aku ingin kamu memaafkan perbuatanku sebelumnya, tolong bantu aku mendapatkan cintanya Kushina kami-sama. Tolong aku

DUK...DUK...DUK

Suara ketokkan pintu terdengar di pintu kamarku

"siapa?"

"Minato-sama, apakah anda sudah mau makan?"

Cih, si maid lagi. Kenapa sih dia selalu menggangguku, aku kan sudah bilang kalau aku tidak mau makan

"sudah kubilang kalau aku sedang tidak mau makan !, aku tidak lapar !"

"tapi Minato-sama, Jiraiya-sama menyuruh anda untuk makan"

"aku tidak mau !, pergi sana !" bentakku lalu mengubah posisi tidurku yang tadinya berbaring sekarang tengkurap.

Suara maid itu sudah tidak terdengar lagi di telingaku, sepertinya dia sudah pergi. Memangnya tou-chan tahu apa soal diriku, dia tidak mengerti soal cinta. Dia hanya mengerti soal bagaimana cara mendekati gadis cantik sehingga dia itu bisa makan tanpa ada beban sama sekali, dasar orang tua !

Aku memejamkan kedua mataku secara perlahan-lahan lalu disaat kegelapan sudah mengelilingi mataku..., wajah Kushina muncul lagi di kepalaku sehingga membuat bayangan wajah Kushina muncul di kegelapan saat mataku kupejamkan.

Dia tersenyum manis padaku, senyuman yang sangat indah sekali. Tetapi senyumannya itu hanya bayanganku saja bukanlah kenyataan. Ingin sekali aku melihat senyuman nyatanya Kushina. Aku ingin sekali dia memperlihatkan keceriaannya padaku, aku mengingat-ingat perkataannya Kushina tadi siang yang berkata

"aku tahu siapa dirimu..., aku tahu semuanya tentang dirimu, kamu itu playboy !, dan playboy itu orang kotor !"

Dengan senyuman aku mengingat perkataannya itu, aku yakin dia tidak akan semudah itu memberikan keceriaannya padaku itu karena dia membenciku. Kamu tidak semuanya tahu tentang diriku Kushina, ada dua hal yang tidak kamu ketahui tentang diriku, ketidaktahuanmu yang pertama adalah sekarang aku bukanlah playboy lagi Kushina, dan ketidaktahuanmu yang kedua adalah kamu tidak tahu kalau aku sangat mencintaimu.

-x-x-x-x-

-Normal POV-

Musim gugur telah tiba, hari itu Minato duduk di sebuah taman Konoha sendirian, dia menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri seperti sedang menunggu seseorang, dia melipat kedua tangannya yang kekar di dadanya, dia bersandar di tempat duduk taman Konoha dengan santainya, pandangannya lurus sebentar kearah pohon bunga sakura yang sedang berguguran, saat itu Minato memakai kaos berwarna merah berlambang pusaran angin ( clan uzumaki ), celana yang dia pakai saat ini adalah celana pendek berukuran ¾ , rambut kuningnya yang jabrik dia tutupi dengan topi berwarna biru berlambang daun ( lambang konoha ).

Tidak lama kemudian suara sapaan seorang wanita terdengar di arah jam dua, dia menoleh kearah jam dua dan terlihatlah seorang wanita berambut raven panjang yang berlari kearahnya bersama dengan anak kecil berumuran tiga tahun yang rambutnya diikat.

"maaf aku telat, apa kamu sudah lama disini Minato-kun?"

"tidak terlalu lama kok. Ee, ngomong-ngomong ini anakmu?"

"yah, namanya Itachi"

"Oh, hai Itachi apa kabar?" tanya Minato sambil tersenyum pada Itachi tetapi Itachi tidak memperdulikannya, dia memalingkan wajahnya dari Minato dengan dinginnya.

Minato tertawa pelan melihat tingkah Itachi yang dingin padanya

"maaf Minato, dia memang seperti itu kalau dengan orang yang baru pertama kali dia temui"

"oh tidak apa-apa"

"oh ya, kenapa kau menyuruhku kesini?" tanya Mikoto lalu duduk disebelahnya dengan Itachi dipangkuannya

"er, begini...aku ingin meminta nomor ponselnya Kushina-chan"

"er..., bagaimana yah. Emm?" kata Mikoto ragu-ragu sambil menggarukkan belakang kepalanya yang tidak gatal.

"kenapa Mikoto-chan?" tanya Minato

"begini, sepertinya aku tidak bisa memberikanmu nomor ponselnya deh"

"heh? Kenapa?"

"soalnya Kushina-chan pernah mengancamku kalau nomor ponselnya disebar-sebar maka dia akan membunuhku"

Minato terkesiap mendengar ucapannya Mikoto lalu dia tertawa

"hahaha, itu tidak mungkin, mana mungkin Kushina-chan berani membunuhmu, kamu kan sahabatnya"

"itulah masalahnya, dia percaya sepenuhnya padaku karena aku sahabatnya. Kushina tidak pernah memberikan nomor pribadinya kepada siapapun, yang mengetahui nomor ponsel pribadinya itu cuma aku, Hashirama-sama dan nii-sannya. Dia sangat menjaga nomor ponselnya"

"kenapa Kushina sampai sebegitunya menjaga nomor ponselnya?"

"yah, mungkin karena dia tidak suka kalau dia diganggu-ganggu"

Minato menganggukkan kepalanya merasa mengerti dengan ucapannya Mikoto lalu dia ber-oh ria. Disaat dia ber-oh ria Mikoto berkata

"jika kau ingin nomor ponselnya Kushina-chan, lebih baik kau minta sendiri saja padanya"

Minato tersontak ngeri saat Mikoto berkata seperti itu, dia sweatdrop tidak karuan lalu dia membayangkan apa yang terjadi padanya kalau dia meminta nomor ponsel Kushina, 'pasti aku kan mati' batin Minato takut.

"kenapa? Kau tahu kan kalau dia sangat membenciku, dia pasti akan memukuliku habis-habisan kalau aku bilang ingin meminta nomor ponselnya"

"yah bagaimana lagi dong, soalnya aku juga tidak mau dipukul olehnya."

Mereka berdua diam sejenak sampai-sampai Itachi yang duduk dipangkuan Mikoto merasa bosan karena ibunya dan orang asing disebelahnya itu diam tanpa kata. tidak lama kemudian Mikoto berteriak 'oh iya !' dengan mata melebar seolah-olah dia seperti melupakan sesuatu, Minato menghusap-husap jantungnya yang berdetak kencang gara-gara perbuatan Mikoto itu, Itachi-pun bertingkah sama dengan Minato.

"kaa-san !, kaa-san mau membunuhku ya?"

"ee, maafkan kaa-san yah Itachi-chan. Kaa-san tidak sengaja" kata Mikoto lembut sambil menghusap-husap dadanya Itachi dengan perlahan-lahan.

Beberapa menit kemudian dia selesai menghusap-husap dadanya Itachi lalu menoleh kembali kearah Minato

"begini..., aku baru ingat kalau saat ini Hashirama-sama sedang mencari guru baru untuk Kushina-chan"

"guru baru?" ulang Minato bingung

"iya, guru baru untuk mengajarinya bermain biola, kau bisa mendaftarkan diri menjadi guru barunya. Kau bisa bermain biola kan?"

"bisa sih..., memangnya guru biolanya yang dulu kemana?"

"kan gurunya yang dulu itu masuk penjara karena telah menyiksa Kushina-chan masa kau lupa sih?"

Minato melebarkan mulutnya merasa bingung

"yang mana sih?!"

"itu..., kau masih ingat perkataan orang yang kita tanyakan dua minggu yang lalu?"

"iya"

"orang itu bilang kalau ada tiga orang didalam gedung itu, ada gadis berambut merah yang pastinya itu Kushina, dan rambut hitam lurus yang pastinya itu Hashirama-sama, dan satu lagi..."

Minato memotong perkataannya Mikoto

"berambut jabrik berwarna hitam dan panjang, diakah gurunya?"

Mikoto menganggukkan kepalanya

"iya, kau tepat sekali Minato-kun"

"baiklah aku akan mendaftarkan diri menjadi gurunya Kushina-chan"

-x-x-x-x-

Keesokan harinya Kushina keluar dari gedung pelatihan karate, dia merasa sangat senang sekali saat itu karena akhir-akhir ini dia merasa bebas, dengan senyuman lega dia meregangkan tangannya untuk melenturkan tubuhnya.

"hemm..., tidak ada musik lagi...tidak ada guru jahat lagi, aku merasa lega. Ini baru surga dunia"

"hai, Kushina-chan?" sapa Mikoto disebelahnya sambil tersenyum manis

"oh hai Mikoto-chan, kamu darimana?"

"aku habis belanja, kamu habis latihan yah?"

"iya, aku merasa sangat bebas sekali Mikoto..., inilah hidupku yang sesungguhnya"

"ya ampun Kushi-chan kau jangan terlalu senang deh, lebay tahu"

"biarin, oh iya kamu mau bareng?"

"boleh, ayo"

-didepan gerbang rumah Kushina-

Minato tiba di gerbang rumah Kushina, dia melesat turun dari mobilnya lalu berjalan sedikit menuju gerbang rumahnya Kushina, di tangan kanannya terangkul tas biola, dia menekan bel rumah sebanyak dua kali. Tidak lama kemudian keluarlah pria muda berambut jabrik berwarna merah darah sama dengan warna rambutnya Kushina, parasnya kelihatan sangat berkarisma dan berwibawa, Minato mengangkat sebelah alisnya, 'siapa dia? Apakah dia kakaknya Kushina?' batin Minato.

"ya, siapa yah?"

"er, saya Minato..., saya kesini ingin mendaftarkan diri jadi gurunya Kushina"

"oh jadi kau Minato...?"

Minato mengerutkan keningnya heran sambil menatap pria muda yang mungkin seumuran dengannya dengan tatapan 'bagaimana dia tahu namaku?'

"bagaimana anda tahu namaku?"

Pria berambut merah itu tertawa geli

"hahaha, yah tentu saja aku mengenalmu. Adik kecilku selalu bercerita soal dirimu. Dia selalu bercerita soal kejelekkanmu bahkan dia bercerita saat kau mencoba memperkosanya"

Minato sweatdrop dengan mulut bergetar tidak karuan saat pria berambut merah itu berkata demikian

"er..., pada saat itu aa...aakku..."

"sudahlah tidak apa-apa, dari wajahmu tertulis kalau kamu tidak akan berbuat seperti itu, kamu terlihat seperti orang baik-baik. Adikku itu memang selalu berfikir negatif pada setiap orang entah kapan dia bisa berubah? Lagipula orang yang mencoba memperkosanya mana mungkin berani datang kerumahnya ya kan?, Oh ya aku Arashi Uzumaki..., kakaknya Kushina, jadi kamu ingin mendaftarkan diri menjadi guru biolanya Kushina?"

"iya" 'hemm jadi dia kakaknya Kushina?' batin Minato

"yah baguslah kau diterima"

"hah! Aku tidak dites atau di..."

"tidak usah, soalnya aku yakin kamu orang yang tepat buat mengajarkan Kushina bermain biola"

"huh?"

"tidak usah bingung seperti itu ayo masuk, tou-chan akan memberimu syarat sebelum mengajari Kushina-chan"

-x-x-x-x

Kushina menghentikan mobilnya sekitar sepuluh meter dari rumahnya, dia melepaskan seluruh baju karate-nya dengan terburu-buru, bajunya yang tadi adalah baju karate sekarang adalah kaos putih bertulisan 'The Freedom' dan celana pendek. Kushina memasukkan baju karatenya ke tas belanja yang sudah dia siapkan dari awal, saat semuanya selesai..., dia menjalankan mobilnya kembali dengan lajuan pelan.

Kushina mengerutkan keningnya ketika melihat mobil Porsche asing berhenti di gerbangnya dengan seenaknya.

"mobil siapa sih nih?" dengus Kushina kesal lalu dia mulai menekan klaksonnya berkali-kali

TIINN... (tidak ada jawaban)

TIIIIINNNN...

Arashi melesat keluar dengan membawa kunci mobilnya Minato, dia memberi bahasa tubuh pada adiknya untuk sabar disebelah mobil Porsche didepannya. Kushina melebarkan mulutnya sangat lebar sekali ketika melihat kakaknya memasukki mobil itu dan mulai memajukan mobil tersebut sedikit kedepan agar Kushina bisa memasukki mobilnya kedalam garasi rumahnya.

"mobil siapa itu nii-san? apa itu mobil nii-san?" tanya Kushina heran ketika sudah keluar dari mobilnya dan menunggu nii-sannya di gerbang rumahnya.

"huh? Bukan"

"lalu mobil siapa?"

"kamu akan tahu, lebih baik kamu masuk saja dulu, yuk" kata Arashi sambil merangkul bahunya Kushina untuk menyuruhnya masuk bersamanya, Kushina mendelik curiga pada kakaknya, dia merasa ada yang aneh.

"hei..., kenapa kau menatapku seperti itu?" bisik Arashi telah menyadari kalau dia ditatapi oleh Kushina

"karena nii-san mencurigakan"

"mencurigakan apanya? Eh ngomong-ngomong kamu darimana?"

Kushina tersontak langsung salting lalu dia menggarukkan belakang kepalanya sambil bergumam tidak jelas mencari jawaban yang bagus agar kakaknya percaya

"er..., abis belanja..."

"baju karate?" potong Arashi

Kushina melebarkan matanya terkejut

"ah !...tidak...! aku tidak..."

"tidak apa-apa tenang saja aku tidak akan memberitahukanmu kok, rahasiamu terjamin olehku" bisik Arashi dengan senyuman, Kushina membalas senyumannya lalu disaat Arashi berbisik 'tapi ada syaratnya?' senyumannya Kushina tiba-tiba menghilang seolah-olah senyumannya itu sudah diambil orang

"apa itu?"

"kau harus mentraktirku untuk makan ramen selama setahun"

Kushina mendengus kesal mendengar syarat kakaknya itu karena syaratnya itu bisa menghabiskan uang jajannya. Mereka berdua tiba diruang tamu dengan wajah Kushina masih cemberut dan Arashi yang sedang tertawa. Kushina berhenti melangkahkan kakinya disaat dia mendengar suara tawaan tou-channya yang menggelegar, dia menoleh kearah Arashi yang masih tertawa kecil

"kami sudah menemukan guru biola baru untukmu Kushina-chan?" sahut Arashi sambil tersenyum

Kushina melebarkan kedua matanya karena terkejut, baru dua minggu dia merasakan kebebasan sudah diambil lagi kebebasannya oleh guru yang sedang mengobrol dengan tou-channya, dia berjalan kearah ruang tamu dengan malasnya lalu setibanya disana..., expresi kesal sekaligus benci menjalarinya ketika melihat siapa guru barunya.

"Minato...!"

TBC

A/N : Chapter 8 update ! hihihi ;D maaf yah Minna kalau Shisui update-nya lama yah soalnya Shisui sedang ada ujian bahkan besok Shisui bakal ujian lagi nih, nekat yah Shisui hehehe. :D

JAA-MINNA~SAN