Chapter 10
Will you be my friend?
Disclaimer : Shisui-Namikaze *plak*... iya-iya...gomen akang Masashi T.T
Rate : T semi M
Genre : Romance, Friendly, Family, Angst etc
Pairing : Minato Namikaze x Kushina Uzumaki
Warning ! : EYD abal-abal, OOC, Gaje, alur cepat, tetek bengek semuanya ada !
Arigatou already read my fic:
U. Icha-chan
Rencaggie
Guest
Uzumaki Kuchiki
Red-Hot Habanero
Namikaze immah-chan sapphire
Namikaze Mutiara Hana
Fran Fryn Kun
Puthry Azzahra
Rimadhani Hime
And for all silent readers... :)
If you don't like this story, don't read !
Enjoy It !
Arashi mengerutkan keningnya karena merasa heran dengan tingkah laku Kushina yang berubah drastis itu, Kushina memutarkan tubuhnya memunggunginya dan pergi menuju tangga meninggalkan nii-sannya begitu saja. Disaat Kushina sudah menaiki tangga untuk menuju kamarnya..., Arashi menggelengkan kepalanya sambil mendecak
"dasar..., Kushina, Kushina"
Chapter 10
Minato menghentikan mobilnya tepat didepan rumahnya yang besar, dia turun dari mobil porsche-nya dan menuju gerbang rumahnya tersebut untuk membuka pagar rumahnya, biasanya penjaga yang berada disana yang membukakan pagarnya untuknya tetapi sekarang dia sedang 'good mood' jadi dia melarang penjaga itu untuk membukakan gerbang rumahnya.
Setelah gerbang rumahnya terbuka lebar..., dia kembali memasukki mobilnya lalu menjalankan mobilnya menuju garasi mobil yang berada dirumahnya. Setelah itu dia berjalan menuju rumahnya dengan masih memikirkan wajah Kushina yang tersenyum beberapa jam yang lalu, meskipun pada saat itu gadis itu tersenyum pada biolanya bukan padanya..., dia tetap merasa bahagia dan senang sekali karena dia bisa melihat senyuman indahnya Kushina secara langsung di sebelahnya.
"tadai... loh!"
Minato terkejut melihat pemandangan yang dilihatnya di ruang tamu, dia melihat ayahnya yaitu Jiraiya sedang merangkul dua wanita sekaligus. Jiraiya terlihat sangat menikmatinya pada saat itu karena terlihat jelas dari paras wajahnya yang tertawa kesenangan.
"oh, Minato..., selamat datang! Kemarilah kita bersenang-senang bersama-sama!"
Minato menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis dengan mata terpejam, dia melesat meninggalkan ayahnya yang masih merangkul dua wanita yang berada disisinya, Jiraiya berhenti tertawa dan mulai menatap anak semata wayangnya itu dengan expresi tidak percaya.
"ternyata dia serius dengan prinsipnya, sepertinya dia benar-benar jatuh cinta pada gadis itu"
Dua wanita yang berada disisinya mendengar bisikkan Jiraiya pada Minato sehingga mereka penasaran dengan ucapan Jiraiya.
"serius dengan apa?, dan sedang jatuh cinta dengan siapa?" tanya wanita yang berada di sebelah kanannya.
Jiraiya menoleh kearah wanita tersebut lalu tersenyum mesum pada wanita itu.
"tidak apa-apa, jangan hiraukan dia"
"tadi itu anak anda?" tanya wanita disebelah kirinya
Jiraiya menganggukkan kepalanya setelah itu dia berpaling dari wanita disebelah kanannya ke wanita disebelah kirinya
"kenapa dia tidak ikut bersenang-senang bersama kita?"
Jiraiya tertawa dan mulai mengeratkan rangkulannya
"itu karena dia itu pengecut, hahahaha!" teriaknya.
Minato membuka pintu kamarnya ketika setibanya di pintu kamarnya, dia bisa mendengar teriakkan tawa kerasnya Jiraiya di ruang utama dari kamarnya itu, Minato tersenyum miris
"aku bukanlah seperti yang dulu lagi tou-chan, aku sekarang bagaikan kepompong yang telah berubah menjadi kupu-kupu."
Setelah Minato berkata demikian..., dia membuka pintu kamarnya dan mulai melesat menuju tempat tidur setelah dia mengganti pakaiannya. Disaat dia memejamkan matanya, sebuah senyuman terlukis diwajahnya yang tampan, dia tidak sabar ingin bertemu Kushina kembali keesokan harinya.
-x-x-x-x-
-Kushina POV-
Cip... cip...cip
Suara kicauan burung membangunkanku dari tidur lelapku, aku meregangkan kedua tanganku untuk melenturkan seluruh tubuhku setelah itu aku melesat turun dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela kamarku untuk membuka jendela kamarku.
Hmmm..., pagi ini sangat cerah sekali, sinar matahari yang hangat menyinari kulitku sehingga membuatku merasa nyaman karena kehangatannya, suara kicauan burung-burung yang merdu membuatku tersenyum lebar, langit biru cerah dengan awan yang hanya sedikit menandakan kalau selama seharian ini tidak akan ada hujan.
Angin yang sepoi-sepoi menebarkan rambutku. Setelah dua menit aku menikmati keindahan pagi hari..., aku memutarkan tubuhku berencana ingin mandi, disaat mataku menatap kedepan..., aku melihat tas biola terpampang di meja belajarku dengan rapihnya, aku tersenyum melihat biola itu, biola yang sangat indah sekali, suaranya yang merdu tidak pernah membuatku bosan. Tapi sayangnya biola itu hanya terpampang untuk sementara di meja belajarku karena biola itu bukanlah milikku. Andai saja kalau biola itu milikku?..., tapi yah sudahlah mungkin bukan nasibku untuk memiliki biola itu.
Aku melesat berlari menuju kamar mandi dan mulai memanjakan tubuhku dengan air hangat di kamar mandi. Setelah aku selesai mandi..., aku menyelimuti tubuhku dengan handuk dan menggulung rambutku dengan handuk kecil, aku melesat keluar pintu kamar mandi dan mulai berjalan menuju lemari baju.
Aku memakai kaos 'Avenged Sevenfold' berwarna hitam dan celana berukuran ¾ berwarna hitam juga, setelah itu aku melesat ke cermin dan mulai menyisiri rambutku.
Setelah semuanya selesai aku melesat keluar dari kamarku, ketikanya aku sedang menutup pintu..., maid yang bekerja dirumahku memanggilku.
"Kushina-sama..., sarapan sudah siap" ucapnya sambil membungkukkan tubuhnya memberikan rasa hormat padaku.
aku merasa tidak enak dengan sikapnya ini, dia terlalu formal padaku padahal umurku dan umurnya tidak beda jauh, aku 21 tahun dan dia 23 tahun. Aku tertawa kecil lalu aku mengibaskan tanganku keatas dan kebawah dengan senyuman untuk memberitahukan kalau aku merasa tidak enak hati padanya.
"sudah...sudah, kan sudah kubilang jangan membungkukkan badanmu seperti itu padaku apalagi dengan suffix '-sama', aku seperti orang yang lebih tua darimu saja. Padahal kan kamu kan lebih tua dariku"
"tapi Kushina-sama, ini memang sudah kebiasaan"
Aku tersenyum mendengar jawabannya lalu aku mendekatinya dan menyentuh bahunya
"kebiasaan bisa dirubah jika kita berusaha untuk merubahnya Ichiko-san, jika kita tidak berusaha maka kebiasaan itu tetap menempel menjadi satu dengan kita"
Ichiko-san menatapku sebentar lalu menundukkan kepalanya, dia menganggukkan kepalanya dengan sangat pelan sekali.
"iya, aku akan berusaha tetapi mungkin akan sulit Kushina-sa..."
Aku mendesis memperingatkannya lagi karena dia ingin mengatakan suffix '-sama' lagi padaku.
"tadi apa yang barusan kukatakan?" sindirku sambil melipatkan tanganku ke dada
Dia menundukkan kepalanya semakin dalam lalu dia berbisik
"g...gomenasai, Kk...Kushina-san"
Mendengar ucapannya aku langsung tersenyum, aku menyodorkan tangan kananku kearahnya dengan cepat sehingga membuat dia terkejut dan melebarkan mulut dan kedua matanya saat menatapku dengan tatapan yang mungkin menandakan kalau dia merasa bingung
"berteman?" sahutku sambil tersenyum
Ichiko-san menatapku dengan tatapan aneh seolah-olah dia merasa tidak percaya dengan apa yang kuucapkan, tidak lama setelah itu dia tersenyum dan mulai membalas menyodorkan tangannya dan kami mulai berjabat tangan.
"iya"
Disaat kami sama-sama tersenyum tiba-tiba tou-chan memanggilku di lantai satu dengan teriakkan yang bisa dibilang sangat keras. Aku berlari menuju tangga setelah berkata 'sampai jumpa' pada Ichiko-san.
Beberapa menit kemudian aku tiba diruang makan, disana ada tou-chan dan nii-san yang sedang makan, tou-chan memberikan bahasa tubuh padaku dengan menggerakkan tangan kanannya ke kursi makan tepat disebelahnya yang menandakan kalau dia ingin aku duduk disebelahnya.
"ohayou nii-san, tou-chan" sapaku pada nii-san tersayangku yang berada didepanku saat aku sudah duduk disebelah tou-chan.
"ohayou, Kushina"
"ohayou, baka imouto"
Aku mendengus kesal dengan tangan melipat didada saat nii-san berkata demikian
"bisakah nii-san tidak berkata seperti itu, aku benci kata itu-ttebane!"
Nii-san tertawa disaat aku berkata seperti itu, kenapa dia malah tertawa bukannya berfikir?!
"baiklah kalau kamu tidak mau kata itu, lagipula aku juga merasa bosan dengan kata itu. Bagaimana kalau aku memanggilmu..., Kushina-kun"
Aku melebarkan mataku dengan mulut ternganga, kenapa dia memanggilku dengan nama Kushina-kun..., kata-kata itu lebih menjijikkan daripada sebelumnya. Dan lagipula memangnya aku ini pria apa?!, aku kan perempuan?!. Nii-san tertawa sangat keras dan tou-chan pun begitu, dasar!.
"nii-san!" kataku mulai kesal
Aku mengepalkan tangan kananku sudah tidak bisa mengontrolkan diri lagi, ingin sekali aku memukulnya saat ini. Mataku berapi-api saat memandangi nii-san. dia sweatdrop disaat aku merasa kalau rambutku mulai terangkat. Sepertinya aku mulai mengeluarkan habanero-ku? Tapi ini memang waktu yang tepat, aku akan memukul mulutnya sampai mengembung sangat besar agar dia tidak bisa mengejekku lagi, entah mengapa habanero-ku ini akhir-akhir ini sering muncul sejak pertemuanku dengan Minato?.
"Kushi-chan, sudahlah aku kan hanya bercanda. Masa kamu tega sih menyerangku, bukannya kamu yang bilang sendiri kalau kamu menyayangiku"
Aku tersenyum sinis
"inilah yang biasanya kuberikan pada orang yang kusayang-ttebane!"
Saat aku berkata seperti itu, aku melihat keringat bercucuran di seluruh wajahnya menandakan kalau dia mulai takut padaku.
"sudah...sudah, kalian kan kakak-beradik, tidak baik kalau bertengkar" sahut tou-chan disebelah kiriku.
Aku menoleh kearahnya dan habanero-ku tiba-tiba menghilang saat tou-chan tersenyum padaku. Yah, tou-chanlah yang bisa mengendalikan habanero-ku.
-Normal POV-
Keluarga Uzumaki itu memakan sarapannya dengan sangat ceria sekali, terkadang mereka saling bercengkrama satu sama lain dipenuhi canda dan tawa. Sepuluh menit kemudian mereka selesai memakan sarapannya dan tidak lama setelah itu para maid datang mendekati mereka bertiga dan mulai membereskan semua piring di meja untuk dicuci.
"nah, sekarang ayo kita pergi membeli biola untukmu Kushina" seru Hashirama seraya berdiri dari tempat duduknya di kursi meja makan.
Kushina menoleh kearah ayahnya dengan cepat saat ayahnya berkata demikian lalu dia menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.
"aku rasa tidak usah tou-chan"
Hashirama mengerutkan keningnya merasa heran
"kan masih ada biola-nya Minato" lanjutnya
"oh jadi Minato...," sindir Arashi sambil menganggukkan kepalanya lalu dia menyengir secara sembunyi-sembunyi kearah Kushina.
Kushina melihat cengirannya Arashi, dia bisa melihat kalau cengirannya itu cengiran jahil, Kushina mendeathglare Arashi secara sembunyi-sembunyi juga tetapi itu tidak lama karena tou-channya sudah membalas perkataannya.
"tapi kan itu punya orang Kushina..., kamu tidak bisa memilikinya selamanya"
"yah, aku tahu. Aku juga berfikir begitu juga tetapi aku merasa nyaman dengan biola itu tou-chan"
"nyaman?" ulang Hashirama bingung
"iya, nyaman. Biola itu berbeda dengan biola lainnya tou-chan"
Saat Kushina berkata demikian..., Hashirama menatapnya sangat tajam sekali sehingga membuat Arashi yang berada diseberang mereka berdua merasakan hal yang tidak enak pada pandangan ayahnya itu pada Kushina.
Hashirama tersenyum lembut lalu mulai duduk kembali ke kursi dan membelai rambut Kushina dengan lembut.
"ya sudah, jika kamu berkata seperti itu, tou-chan tidak bisa menolaknya asal kamu bahagia sayang"
Kushina tersenyum pada tou-channya. Arashi-pun tersenyum pada mereka berdua tetapi tatapannya lebih terkunci pada ayahnya. 'sepertinya perkiraanku salah' batin Arashi sambil tersenyum.
-x-x-x-x-
Disaat Kushina sedang asyik membaca novel 'i always beside you' di sofa sambil berbaring, tiba-tiba suara denting lirihan bel berbunyi dirumahnya.
Arashi menyuruh Kushina membuka pintu rumah di tempat penyantai sambil bermain catur dengan Hashirama. Dia melesat bangun dari baringannya lalu melesat berdiri dan mulai berjalan mendekati pintu tersebut.
Disaat dia membuka pintu..., dia menangkap pria berambut jabrik berwarna kuning yang memakai baju sederhana berlengan panjang berwarna abu-abu yang bergambar grup band 'Aqua Timez' dan celana jeans berwarna putih tulang yang lengkap dengan rantai menggantung disisi paha kanannya, meskipun pakaiannya sederhana..., dia tetap mempesona dikalangan wanita.
"Konichiwa, Kushu-chan" sapa Minato sambil tersenyum manis pada Kushina.
Kushina mendengus padanya dan mulai membuang muka dengan dinginnya.
"sudah kubilang jangan panggil aku dengan panggilan itu, aku benci panggilan itu-ttebane!"
Minato tertawa kecil, dia mulai tahu sedikit demi sedikit sifat Kushina sejak mengajarinya bermain biola. Terutama yang satu ini, yaitu berani blak-blakkan dengan hal yang dibencinya.
"hehehe, gomen, habis aku sudah terbiasa dengan sebutan itu"
Ketika Kushina melihat jam di tangannya, dia menatap Minato lagi dengan tatapan bingung
"kenapa kamu datang pada jam segini? Ini kan baru jam 12.00. masih ada satu jam lagi"
Minato tersenyum saat mendengar jawabannya Kushina
"iya aku tahu, tapi menurutku 'lebih baik menunggu 1 jam daripada telat 1 menit'"
Kushina mendengus
"heh!, copas kata-kata slogan anak sekolahan, dasar playboy tidak kreatif!"
Deg...
Minato terkejut mendengar ucapannya Kushina padanya, dia masih menganggapnya seorang playboy, berarti dia masih benci padanya. Minato merasa hatinya sakit saat Kushina mengucapkannya tetapi bukan Minato kalau dia tidak bisa menyembunyikan rasa sakit hatinya itu.
Minato menyengir pada Kushina lalu menggarukkan belakang kepalanya yang tidak gatal
"hehehe, ketahuan yah. Masih ingat saja"
Minato menatap pakaiannya Kushina, dia sweatdrop melihat baju yang dipakai Kushina, band yang bertema rock itu terlihat sangat mengerikan sekali apalagi ditambah dengan gambar tengkorak bersayap itu. 'apa dia menyukai band semacam ini?' batinnya sweatdrop, setelah dia membatin..., dia tertawa tidak jelas
"he...hehehe, jadi kamu anak Avenged, huh?"
Kushina tidak menggubris pertanyaannya, dia memutarkan tubuhnya memunggungi Minato dan mulai berjalan kecil menjauhi Minato, Minato terdiam kaku di depan pintu, dia tidak disuruh masuk kerumahnya atau apapun. 'apa Kushina mengusirku?' tanya Minato dalam hati.
Dan pada waktu yang sama..., Kushina berhenti berjalan dan memutarkan tubuhnya sedikit untuk menatap Minato yang masih terdiam kaku di depan pintu.
"kenapa diam saja disitu? Ayo masuk-ttebane!" katanya dan mulai memunggunginya kembali dan berjalan lagi.
Minato tersenyum sambil berfikir 'dia masih memperdulikanku' dan mulai berjalan memasukki rumahnya Kushina.
-x-x-x-x-
Mobil porsche berjalan menuju taman konoha dengan kecepatan dibawah 40km/s, didalam mobil mewah itu ada dua orang insan atau bisa dibilang dua orang yang tidak terlalu akrab.
Kesunyian di mobilnya itu membuat Minato merasa bosan, meskipun radio sudah dihidupkan, dia tetap saja merasa kesunyian. Rasa kesunyiannya yang melandanya itu bukannya bosan biasa saja?, tetapi kesunyian karena merindukan suara lembutnya Kushina.
Minato berdehem dan mulai berbicara pada Kushina sambil berharap Kushina menjawabnya.
"er..., Kushu-chan?"
"apa?" tanya Kushina datar, Kushina tidak merubah gerakkannya, dia masih tetap memandang kedepan jalanan tetapi Minato senang bukan main, hatinya merasa melompat-lompat saat mendengar suara gadis yang disukainya itu menjawab sapaannya.
"er..., apa kabar?"
Sunyi kembali..., tidak ada jawaban. Minato memandangi jalanan dengan tatapan sedih, lagi-lagi mereka tiba di tempat tujuan dengan irit ucapan. Mereka berdua turun dari mobil dan mulai menuju 'base camp' tempat biasa mereka belajar.
-x-x-x-x-
Sudah enam bulan Minato dan Kushina saling bertemu tetapi pertemuan itu tidak lebih dari seorang 'guru dan murid', saat ini mereka bermain biola di danau, danau itu bernama danau Akatsuki. Danau yang sangat jernih dan bersih itu bertetanggaan dengan taman Konoha, mungkin jarak diantaranya sekitar tujuh kilometer.
Sekarang pembelajarannya sudah sangat jauh sekali, Kushina sudah pintar memainkan ketukkan nada do,re,mi,fa,so,la,si,do, dan dia juga sudah mahir memainkan balok-balok yang sulit dimainkannya disaat masa pembelajarannya oleh Madara.
Minato menepuk-nepukkan tangannya sambil menyengir sangat lebar ketika Kushina selesai memainkan nada ketukkan paling sulit, nafas Kushina terengah-engah karena merasa kelelahan, dia menghabiskan seluruh tenaganya karena dia terus-menerus meminta mengulang pembelajarannya dari awal sampai akhir, Kushina sangat semangat sekali dalam memainkan biola Stradivarius itu.
Dia sangat akrab pada biola itu bahkan sampai-sampai biola itu bisa menyentuhnya terutama dagu-nya, tetapi dia tidak terlalu akrab pada sang pemiliknya, yaitu Minato. Menyentuhnya pun tidak, Minato hanya menyentuhnya atau memegang tangannya jika sedang tidak disengaja saja. Kushina hanya menganggap Minato sebagai gurunya saja tidak lebih dari itu.
"bagus sekali, Kushu-chan!"
"terima kasih Minato" balas Kushina sambil tersenyum manis pada Minato.
Pada waktu yang sama, wajah Minato memunculkan semburat merah di pipinya karena terpesona dengan senyumannya Kushina. Kushina menatap wajahnya Minato lalu dia mengerutkan keningnya menandakan kalau dia bingung dengan apa yang dilihatnya. Dengan wajah yang polos dia memberanikan diri untuk bertanya.
"kenapa wajahmu memerah seperti itu-ttebane?"
Minato tersontak terkejut lalu dia memalingkan wajahnya dari Kushina.
"efek matahari sore"
"oh" jawab Kushina singkat
Minato berdeham
"ehem! Lebih baik kita pulang sekarang, yuk!" ajak Minato sambil melesat berdiri.
Kushina ikut berdiri setelah merangkulkan tas biolanya di bahunya. Setelah mereka berjalan hampir sampai ke mobil..., Minato berhenti sejenak. Ponsel-nya tertinggal di danau, dia meminta Kushina untuk menunggu di mobil saja sedangkan dia melesat berlari menuju danau kembali setelah Kushina menganggukkan sedikit kepalanya.
Kushina melesat berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh lagi darinya sambil bersenandung, dan ketikanya Kushina tiba disana..., tiga pria mengepungnya sehingga membuatnya tersontak terkejut. mereka bertiga menyengir penuh nafsu pada Kushina lalu mulai berani menyentuhnya, Kushina tidak terima disentuh oleh orang yang tidak dikenal..., 'awas kau-ttebane!" batin Kushina kesal lalu mulai meletakkan tas biolanya ke tanah lalu dia mulai melayangkan tangan kanan yang sudah dikepalnya ke salah satu pria yang mengelilinginya.
BRUUKK...
Tepat sasaran, pria yang dipukulinya itu terpental satu meter darinya. Kushina menyengir sinis sambil mempersiapkan kuda-kudanya dan mulai menyerang lagi tetapi sayang serangannya itu dihindari oleh mereka berdua, dengan cepat dua pria yang tadi menghindari serangannya Kushina, langsung memegang tangannya Kushina dengan sangat kuat sekali.
Kushina mencoba memberontak mencoba melepaskan diri tetapi gagal, pria yang tadi dipukul oleh Kushina sudah berdiri dan sekarang dia berada tepat dihadapannya Kushina. Dia menampar Kushina dengan sekuat tenaga sampai-sampai membuat bibirnya berdarah.
"berani-berani-nya kau memukulku, b****!"
Setelah pria itu berkata demikian..., dia langsung memegang dagunya Kushina dengan sangat kuat sekali, ketika Kushina mencoba menendangnya..., tiba-tiba dia dibawa masuk kedalam semak-semak terdekat dan ditiduri dengan paksa oleh kedua pria disisinya, mereka mengunci tangan dan kakinya dengan sangat kuat sekali dan ditambah lagi mulutnya disumpel oleh sedikit bahan baju Kushina yang dirobek oleh pria yang memukulnya sebelumnya. 'apa yang akan mereka lakukan padaku!' batin Kushina ketakutan.
"hmm...hmmm...hmmmm!" hanya gumaman yang keluar dari mulutnya, dia tidak bisa berteriak sama sekali.
Dia melebarkan matanya ketika melihat pria yang memukulnya tadi membuka celana ¾ -nya, dan sekarang tinggalah sebuah kolor. Kushina sudah mengetahui apa yang akan terjadi padanya saat itu. dia mencoba memberontakkan tubuhnya sekuat tenaga berharap bisa melepaskan diri, tetapi usahanya gagal. Pria itu sudah menindihnya dan mulai menciumi lehernya dengan penuh nafsu sambil meraba-raba seluruh tubuh Kushina mencoba untuk membuka pakaiannya.
Kushina menangis saat lehernya diciuminya penuh nafsu, rasa sakit dilehernya karena digigit olehnya membuatnya air matanya keluar lebih banyak dari pelupuk matanya, ketika pria itu baru membuka setengah pakaiannya..., tibalah pria berambut jabrik berwarna kuning, dia menarik pria yang menindihkan Kushina menjauhi Kushina dengan tarikkan yang sangat kasar lalu dia mulai memukulnya tanpa belas kasihan-pun, Minato tidak memberi kesempatan pria itu untuk memukulnya, Minato terus menyerangnya bertubi-tubi sampai-sampai dia terjatuh pingsan.
Dua pria itu berlari menyerangnya tetapi mereka juga bernasib sama dengan pria tadi, yaitu terjatuh pingsan dengan muka hancur dan gigi yang ompong. Nafas Minato yang berburu masih menatap tiga pria yang pingsan itu penuh kemarahan dan tidak lama kemudian dia berpaling pada Kushina yang memeluk tubuhnya di pojokkan semak-semak dengan expresi sangat ketakutan, keringat bercucuran di wajahnya, lehernya sedikit berdarah karena gigitan pria tadi.
Minato berjongkok ketika dia tiba disana, Kushina menjauhkan dirinya dari Minato, tiap Minato mendekatinya pasti Kushina menjauhinya *ya iyalah, namanya juga orang yang ketakutan*.
"Kushu-chan, ini aku Minato" bisik Minato ditengah-tengah lirihan ketakutannya Kushina.
Kushina menatapnya dengan nafas terengah-engah
"Kush..."
Kushina memeluknya tanpa izin dari Minato, dia memeluknya penuh ketakutan karena terasa jelas dari getarannya saat memeluk Minato. Minato membalas memeluknya sambil membelai rambut merahnya.
"aku...hiks...aku takut...hiks...Minato"
"tenang saja, aku bersamamu. Kamu bisa berdiri?"
Kushina menggeleng, sepertinya dia tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya. Seluruh tubuhnya masih bergetar hebat karena masih ketakutan. Minato mengerti dengan keadaannya Kushina, jadi dia menggendong Kushina ala bridal style dan mulai membawanya kedalam mobil. Dan mereka berjalan menuju pulang dengan kesunyian.
-x-x-x-x-
"ya kami-sama!, putriku!"
"Kushina!"
Teriak Hashirama dan Arashi secara bersamaan ketika melihat pakaian Kushina yang kotor dan saat ini digendong ala bridal style oleh Minato, expresi wajah Kushina masih terlihat ketakutan meskipun dia sudah tiba di rumahnya, tangan kanannya meremas kerah Minato dengan sangat kuat sekali. Para maid yang berada disana melihat insiden tersebut dengan sembunyi-sembunyi.
"apa yang terjadi padanya Minato?" tanya Hashirama
"Kushina hampir diperkosa Hashirama-sama"
Hashirama dan Arashi menarik nafas mereka setelah mendengar perkataannya, begitupula para maid yang sedang melihatnya secara sembunyi-sembunyi. Hashirama menangis dan mulai membawa Kushina menuju kamarnya dengan ala bridal style setelah dia meminta Minato untuk menyerahkan Kushina padanya.
"maafkan aku Arashi-sama, aku tidak becus menjaganya, seharusnya aku tidak memperdulikan ponsel-ku" bisiknya sambil menundukkan kepalanya.
Arashi tersenyum lalu menyentuh bahunya Minato
"kenapa kamu harus meminta maaf, untung saja ada kamu. Jika tidak ada kamu pasti adikku sudah..., aku tidak bisa membayangkannya. Terima kasih"
Minato masih menundukkan kepalanya lebih dalam, meskipun Arashi berkata demikian, dia tetap saja merasa bersalah. Apalagi pasti ayahnya Kushina akan marah besar padanya karena tidak becus menjaga Kushina.
"Minato!" teriak Hashirama ditangga
Minato menoleh kearahnya dengan tatapan ketakutan. Dia pasti akan terkena cacian oleh ayahnya Kushina apalagi saat ini tatapannya pada Minato sangat dingin melebihi tatapan dingin Kushina. Seluruh tubuh Minato bergetar hebat saat Hashirama berjalan mendekatinya, dia memejamkan matanya ketika Hashirama tiba tepat didepannya yang saat ini mulai melayangkan tangannya keudara.
Tidak ada rasa sakit atau panas sedikitpun? Dia membuka matanya perlahan-lahan, dia tidak mendapatkan rasa sakit tapi dia mendapatkan tepukkan hangat di bahunya, Minato menatap Hashirama keheranan.
"terima kasih Minato"
-x-x-x-x-
Keesokan harinya Minato berjalan menuju rumahnya Kushina, dia kesana bukan untuk mengajarkan bermain biola, untuk seminggu Kushina disuruh libur belajar bermain biola oleh Hashirama karena katanya dia butuh menyegarkan diri atau bisa dibilang agar Kushina bisa melupakan kejadian sebelumnya yang menimpanya. Minato kerumahnya Kushina karena Kushina yang menelponnya agar datang kerumah, setibanya disana..., Kushina menunggunya digerbang depan rumahnya dan ketika Kushina menyadari kalau Minato tiba, dia langsung berjalan mendekati Minato sambil tersenyum. Itu adalah hari pertama kalinya Minato melihat Kushina tersenyum saat dia datang kerumahnya.
"ohayou, Minato-kun!"
Minato tersontak terkejut ketika Kushina menambahi nama suffix '-kun' di namanya
"Minato-kun?" ulang Minato tidak percaya
Kushina mengangkat sebelah alisnya heran dengan expresi Minato
"kenapa? Tidak boleh yah kalau aku memanggilmu Minato-kun?" goda Kushina
Dan itu pertama kalinya Kushina menggoda Minato
"tidak...bukan begitu, boleh-boleh saja kamu memanggilku begitu. Aku hanya...hanya heran saja kenapa kamu memanggilku Minato-kun, tidak biasanya kamu begitu"
Kushina tertawa kecil
"ada yang ingin kukatakan padamu?"
"apa itu?"
"tapi tidak disini, boleh aku memasukki mobilmu?"
"yah tentu saja"
Kushina membuka pintu mobil lalu duduk di bangku penumpang dan mulai menutupnya kembali
"ayo kita pergi ke taman Konoha, aku akan mengatakannya disana" kata Kushina sambil tersenyum manis.
Lagi-lagi Minato terpesona dengan senyumannya dan semburat merah menjalari wajahnya, dia menganggukkan kepalanya dengan kaku lalu mulai menjalankan mobilnya.
Beberapa jam kemudian mereka tiba di taman Konoha
"begini Minato..., kemarin aku belum sempat mengucapkan kata 'terima kasih' padamu, terima kasih yah kamu sudah menolongku kemarin" kata Kushina di kursi panjang yang berada di taman bersama Minato.
Minato menggarukkan belakang kepalanya
"yah, sama-sama Kushina"
"dan satu lagi yang ingin kutanyakan?"
"yah, apa itu?"
"will you be my friend?"
Minato tersontak terkejut, seharusnya dia yang berkata seperti itu
"aku sudah memaafkan semua kesalahanmu padaku Minato-kun, termasuk kejadian di lift itu. Dan aku juga meminta maaf padamu karena bersikap dingin padamu. Kamu tahu kan aku hanya mencoba menjaga diriku saja, kamu mau memaafkanku?"
Minato tersenyum manis
"yah, aku memaafkanmu. Dan seharusnya pertanyaanmu yang sebelumnya bukanlah kamu yang memintanya Kushu-chan, seharusnya aku yang mengucapkannya"
Kushina mengerutkan keningnya
"eh? Yang mana-ttebane?" tanya Kushina polos
Minato tertawa pelan
"Kushina..., will you be my friend?" tanya Minato sambil menjulurkan tangan kanannya kearahnya bermaksud ingin berjabat tangan.
Kushina menatapnya sebentar lalu tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya dan dia menjabat tangannya Minato.
"Friend-ttebane!"
"Friend"
TBC
A/N : hufft, akhirnya selesai juga. Gomen yah Minna kalau Shisui update-nya lama, yah, habis sedang UN sih jadi Shisui gak bisa muncul dulu di fanfic selama seminggu. Dan yey! Hari ini UN berakhir-ttebane. Tinggal menunggu pengumuman kelulusan saja deh..., semoga Shisui lulus! Amiin. Eh kok malah curhat sih!...hehehe, gomen yah Minna kalau kelamaan. m(_ _)m
Dibawah ini Shisui akan membalas Reviews Minna!
: Gomen yah kuchiki-san kalau masih ada yang salah, semoga di chap yang satu ini gak ada yang salah ketik yah :), iya Shisui juga sedih melihat mereka di anime, mati saat melawan kyuubi demi melindungi anak dan desanya...hiks ;(. Jika Shisui ada disitu pasti mereka Shisui tolongin dari terkaman kyuubi yang kejam-ttebane. Makasih atas review-nya
AAind88 : Arigatou gozaimasu!, makasih atas review-nya.
anzu qyuji : hahaha, makasih buat review-nya.
Namikaze immah-chan sapphire : 15 deh kayanya, itu juga Shisui belum terlalu yakin. Hehehe. Makasih atas review-nya
Fran Fryn Kun : makasih atas pujiannya, gomen yah kalo kelamaan Fran-kun. Nih fic 10 dah update, makasih reviewnya yah ;)
Crizky Uzunami : hehehe, gomen yah kalo kelamaan update, soalnya Shisui banyak kerjaan jadi waktu Shisui sempit buat bikin fic, hehehe..., makasih atas pujian and review-nya Crizky-san.
Red-Hot Habanero : arigatou gozaimashita atas pujian and review-nya.
U. Icha-chan : iya ini sudah update kok, er..., ngomong-ngomong jangan panggil Shisui senpai dong, kayaknya gimana gitu. Hehehe, cukup panggil Shisui aja yah. :).
velisia : kalo disini Minato sama Kushina berumur 21 tahun Velisia-chan, tapi kalau umur aslinya mungkin sudah 38 atau 40 tahunan, yah soalnya kan ulang tahun Naruto udah 17 tahun. Itu setahuku sih ;), hehehe. Makasih yah atas pujiannya and review-nya.
