Chapter 11
Anata o aishite, Kushina...?
Part 1
Disclaimer : Shisui-Namikaze *plak*... iya-iya...gomen akang Masashi T.T
Rate : T
Genre : Romance, Friendly, Family, Angst etc
Pairing : Minato Namikaze x Kushina Uzumaki
Warning ! : EYD abal-abal, OOC, Gaje, alur cepat, tetek bengek semuanya ada !
Arigatou already read my fic:
U. Icha-chan
Rencaggie
Guest
Uzumaki Kuchiki
Red-Hot Habanero
Namikaze immah-chan sapphire
Namikaze Mutiara Hana
Fran Fryn Kun
Puthry Azzahra
Rimadhani Hime
And for all silent readers... :)
If you don't like this story, don't read !
Enjoy It !
"Kushina..., will you be my friend?" tanya Minato sambil menjulurkan tangan kanannya kearahnya bermaksud ingin berjabat tangan.
Kushina menatapnya sebentar lalu tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya dan dia menjabat tangannya Minato.
"Friend-ttebane!"
"Friend"
Chapter 11
Kushina berdiri didepan gerbang rumahnya dengan sangat resah, biola Stradivarius yang dulunya adalah milik Minato sekarang sudah menjadi miliknya, Minato memberikannya tepat disaat show pertama Kushina.
Dia mendesah tidak sabar dan sekali-kali menatap jam tangan berwarna orange di pergelangan tangan mungil-nya.
Dua menit kemudian mobil porsche berwarna merah muncul di arah barat tempat Kushina berdiri, mobil tersebut berlaju dengan cepatnya kearah tersebut. Ketikanya mobil itu sudah tepat berada disebelah Kushina, mesin mobil tersebut mati dan keluarlah seorang pria berambut kuning jabrik yang sangat menawan dari mobil. Kushina menatap pria itu dengan tatapan tajam dan menusuk ketikanya pria itu sudah tepat berada di depannya.
"Maaf Kushu-chan aku telat, tadi aku ada sedikit halangan ditengah jalan"
"Halangan apa? Perempuan?"
"Bukan..., macet maksudku" sahut Minato dengan ekspresi wajah puppy eyes mencoba untuk meyakini Kushina agar memepercayainya.
Kushina menghela nafasnya tepat berada didepan Minato lalu dia melewati Minato dan berjalan kearah pintu mobil
"Begini nih kalau punya kekasih mantan playboy, selalu saja beralasan" Gerutu Kushina dan mulai memasukki mobil Minato.
Disaat Kushina menghembuskan nafasnya diwajah Minato, Minato memejamkan matanya dan menikmati hembusan aroma nafas Kushina yang harum, dia tersenyum lembut lalu memasukki mobilnya. Kushina dan Minato sudah sangat akrab sekali, selama setahun mereka berdua berteman akhirnya telah mulai menjalin hubungan lebih dari teman yaitu, berpacaran. Banyak kejadian-kejadian menarik dan sedih telah mereka lewati bersama, dan sekarang Minato bukanlah guru-nya lagi karena Kushina sudah ahli dalam bermain biola sepenuhnya sejak pertunjukkan pertama permainan biola-nya, semua ilmu musik yang Minato ajarkan sudah dia kuasai sepenuhnya, bahkan sekarang permainan biola Kushina lebih bagus dan lebih indah daripada permainan Minato, sekarang Kushina menjadi sukses berkat usaha Minato dan Mikoto, dia sering dipanggil dan dikontrak oleh berbagai macam peminat musik di seluruh kota Konoha bahkan belahan dunia sehingga terkadang dia dibuat sibuk demi mempersiapkan semua show. Dihari pertama Kushina show, Minato selalu bersamanya, menyemangatinya agar jangan terlalu canggung, Minato selalu memenuhi seluruh kebutuhannya saat itu, dan pada saat itu tanpa diduga-duga oleh Kushina, Minato menyatakan cinta-nya ke Kushina.
-Flashback-
Musim dingin tiba, salju sudah memenuhi kota Konoha, seluruh penduduk konoha sibuk membersihkan jalanan depan rumahnya memakai sekop, pakaian-pakaian tebal telah membelit di seluruh tubuh mereka dan begitupula Kushina, gadis berumur 21 tahun berambut merah sedang sibuk-sibuknya menyekop salju kesana dan kesini untuk membantu Arashi, Minato, Mikoto dan Fugaku.
Arashi saat ini sedang tidak bekerja karena jalanan dipenuhi banyak salju dan tentu saja bandara sedang off lepas landas saat itu sehingga dia sulit pergi bekerja, Arashi sudah meyuruh wakil direktur-nya yaitu Obito untuk menangani perusahaannya itu, dan Hashirama..., saat ini dia habis diomeli oleh Kushina agar tidak usah membantu membersihkan jalanan karena kata Kushina dia takut kalau nanti penyakit jantung-nya kambuh lagi gara-gara kelelahan, Hashirama menurut saja jadi dia hanya memeriksa perkembangan cabang perusahaannya di ruangan kerja-nya.
Setengah jam kemudian mereka selesai membersihkan salju di depan rumah Kushina, mereka menghembuskan nafas mereka secara kompak lalu meregangkan tubuh mencoba menghilangkan rasa pegal-pegal yang melanda tubuh mereka karena kebanyakan membungkukkan badan dan mengangkat tebalnya salju dari jalanan.
"Hufft..., akhirnya selesai juga-ttebane!, nah begini kan lebih baik" tanya Kushina sambil mengamati jalanan depan rumahnya dengan senyuman.
Minato dan yang lainnya hanya menganggukkan kepala setuju dengan apa yang dikatakan Kushina, lalu tidak lama kemudian dia mendengar suara anak kecil menggigil di belakangnya Kushina sambil memanggil Mikoto.
"Brrr..., kaa-san. Ayo masuk, aku kedinginan nih...brrr"
Lima orang yang berada disana langsung refleks memandang anak kecil berumuran tiga tahun itu, rambutnya hitam panjang hampir sebahu dan diikat sedikit diujung rambutnya, dia menggigil kedinginan dan terkadang tubuhnya bergetar tidak karuan, dia bertingkah seperti itu karena pakaian yang dipakaianya tidak terlalu tebal. Dia adalah Itachi anak dari hasil cinta Fugaku dan Mikoto.
Mereka semua menatap Itachi penuh kekhawatiran terutama Mikoto yang jelas-jelas ibunya.
"Ya ampun Itachi-chan...!, kenapa kamu keluar dari rumah? dan kemana pakaian tebalmu?" tanya Mikoto khawatir.
"A-a-ak-aku..., brrr..., me-l-l-epask-kannya kaa-san" jawab Itachi terbata-bata, gempulan nafasnya terlihat jelas dimata Mikoto, Itachi benar-benar kedinginan!
Mikoto memeluk Itachi lalu menghusapkan punggungnya bermaksud ingin mencoba menghangatkan tubuhnya dan kemudian dia menggendongnya.
"Kenapa kamu lepas, sudah tahu dingin?"
"A-aa-aaku tidak n-n-nyaman m-mem-mema-kai-inya kaa-san?"
Dan seketikanya Mikoto membuka mulutnya untuk mengomeli Itachi lagi, Fugaku menyentuh bahu Mikoto dengan sangat lembut.
"Sudah Mikoto, lebih baik kita masuk saja. Lihatlah Itachi sudah sangat kedinginan" bisik Fugaku disebelah Mikoto.
Mikoto menganggukkan kepalanya lalu mulai berjalan memasukki rumah Kushina bersama Fugaku, Kushina tersenyum kagum melihat keluarga Uchiha yang saat itu berjalan memasukki rumahnya, mereka sangat mesra dan akrab sekali padahal mereka berdua mempunyai sifat yang sangat berbeda, Fugaku pendiam dan dingin sedangkan Mikoto lemah lembut. Entah apa yang ada difikirkan mereka saat berpacaran, cinta memang buta. Batin Kushina.
"Hah?..., kapan yah aku bisa berkeluarga seperti mereka. Bisa merasakan hangatnya berkeluarga dan mempunyai anak?" ucap Minato disaat Arashi berjalan menjauhi Kushina dan Minato memasukki rumah.
Kushina menoleh kearah Minato dengan alis berkerut sedangkan Minato tersenyum manis dengan mata safir yang genit menatap Kushina.
"Itu kan yang ada difikiranmu?"
"Tidak tuh, difikiranku tidak seperti itu-ttebane!"
Minato terkekeh kecil lalu mendekati Kushina dan mulai merangkul bahu kanannya, Kushina tersontak terkejut dengan tingkah Minato saat ini, rasa hangat menjuluri tubuhnya saat Minato merangkulnya bahkan rasa hangat ini melebihi hangat jaket tebal yang dipakainya, dan wajah Kushina memerah semerah tomat.
"Tapi perasaanku mengatakan begitu. Tenang, disini ada aku? Seorang teman yang bisa diandalkan" bisik Minato sambil menyengir tidak jelas.
Kushina mengerti dengan ucapan Minato, dia menyikut perut Minato sekuat tenaga sehingga dia dengan refleks melepaskan rangkulannya di bahu Kushina untuk memegang perutnya sambil meringis.
"Kau masih belum berubah playboy!, jika kau selalu seperti itu terus hubungan teman kita putus!" ancamnya dan mulai berjalan menjauhi Minato yang masih meringis kesakitan.
Setelahnya rasa sakit Minato sudah mulai menghilang dia berlari mengejar Kushina sambil memohon 'Jangan dong Kushu-chan..., aku kan hanya bercanda' dengan nada bicara yang sangat manja.
-x-x-x-x-
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.00 malam, Minato pamit untuk pulang ketikanya radio memberitakan kalau jalan raya sudah dibereskan dari salju. Mikoto dan Fugaku-pun pamit pulang karena Itachi terkena demam gara-gara kedinginan.
Saat ini Kushina berada di balkon kamarnya, dia sedang memainkan biola-nya dengan sangat lembut, dia memejamkan matanya mencoba menikmati alunan-alunan lagu yang dimainkannya. Jemari-jemari lentiknya menekan senar biola dengan lincahnya dan tangan kanan yang memegang tongkat biola sedang menggesek senar biola penuh kelembutan, alunan lagu yang dimainkan Kushina membuat suasana malam bersalju yang mencekam dan dingin ini penuh kehangatan dan ketentraman bahkan terkadang ada beberapa orang berhenti sebentar di depan rumahnya ketika mereka mendengar alunan nada biola yang dimainkan Kushina.
Kushina menghembuskan nafasnya dengan lembut disaat dia menyelesaikan permainan biola-nya, hatinya merasa lebih tenang setelah memainkan biola Stradivarius tersebut, entah kenapa ketika Kushina memegang biola Minato itu..., dia merubah profesi-nya yang dulunya ingin menjadi pendekar karate berubah menjadi ke pemain biola. Bahkan hobi-hobinya yang berbau adrenalin sudah hampir semua dia lupakan demi menyingsing kemampuan biola-nya agar lebih ahli.
-Dirumah Mikoto-
Mikoto meletakkan Itachi ditempat tidur-nya dengan perlahan-lahan, Mikoto mencium kening Itachi penuh kasih sayang lalu berbisik 'oyasumi' dengan sangat pelan sekali, Mikoto melesat menuju pintu kamar Itachi untuk keluar dari kamar Itachi lalu dia menutupnya.
"Apa kamu yakin atas rencanamu Miko-chan?" tanya Fugaku disebelah kanan Mikoto tepat disaat Mikoto menutup pintu kamar Itachi.
Mikoto menganggukkan kepalanya dengan mantap
"Iya, aku sangat yakin. Kushina pasti bisa melakukannya"
"Tapi kan..."
"Kamu kan dengar sendiri saat Kushina memainkan biola-nya, permainannya sangat indah sekali. Permainannya seperti orang yang professional. Aku yakin dia pasti bisa!"
"Ya aku tahu, tapi kan..., itu kepada kita. Dia menganggap itu hal yang biasa saja karena kita yang mendengar dan menonton permainan biolanya, tapi bagaimana kalau dengan orang yang tidak dikenal? Dengan jumlah yang lebih dari lima puluh orang? Apa dia akan tenang seperti kita yang sedang menontonnya?"
Mikoto tersenyum lembut dan manis ketikanya Fugaku berkata demikian, dia membelai pipi sang suami dengan lembut sekali lalu mulai berkata
"Kamu tenang saja, aku dan Minato sudah merencanakan semuanya"
Fugaku mendengus kesal disaat Mikoto membisikkan kata Minato tepat didepan wajahnya, kupingnya terasa panas karena tiap hari dia selalu mendengar kata Minato terus-menerus dari mulut Mikoto, dia cemburu? Ya jelaslah, masa istri yang sangat disayanginya harus menyebut nama orang lain selain dia, itu pastinya membuat Fugaku cemburu tentunya.
"Kenapa sih kamu selalu membicarakan Minato terus-Minato terus, memangnya aku kurang apa?" dengus Fugaku dengan ekspresi wajah cemberut.
Mikoto tertawa kecil mendengar ucapan suami tercinta yang berada didepannya itu, dia menyentuh pipi sang suami lalu menggerakkan wajah sang suami kearah wajahnya agar Fugaku bisa menatap wajahnya, Fugaku masih cemberut kesal dengan ekspresi wajah yang lucu, terkadang Mikoto tertawa kecil melihat suaminya yang saat ini cemberut.
"Kamu cemburu Fugaku-kun?"
Fugaku menggelengkan kepala dengan cepat ketika Mikoto berkata demikian, wajahnya memerah merasa malu dengan tingkahnya tadi yang sudah terlihat jelas kalau Fugaku cemburu pada Minato, tanpa seizin Fugaku... Mikoto mencium bibir Fugaku dengan sangat lembut, memberikan rasa cinta dan sayang ke bibir ranum-nya Fugaku, awalnya Fugaku tidak membalas tapi lama-kelamaan dia sudah tidak tahan dan mulai membalas ciuman lembutnya Mikoto sehingga menciptakan desahan kenikmatan dari kedua insan itu.
-x-x-x-x-
Hari pertama musim semi tiba, burung-burung dan para hewan-hewan kecil mulai berani keluar dari rumahnya, mulai melayang-layang bebas mengitari langit biru yang cerah kebiruan, matahari pagi mencairkan lapisan-lapisan salju yang masih tersedia dijalanan, boneka-boneka salju mulai mencair secara perlahan-lahan sampai hanya tertinggal sebuah topi dan syal berwarna hitam yang basah.
Burung-burung kecil mulai bercicit di atap rumah besar berdesain klasik, lalu tidak lama burung-burung kecil mulai bertebaran bagaikan lalat ketika mendengar suara teriakkan histeris sang empunya rumah.
"APA! PERTUNJUKKAN?!" teriak Kushina tepat diruang tamu. Untung saja dirumah tidak ada Hashirama, karena Hashirama sedang ke Ame bersama Arashi selama 7 bulan untuk mengecek cabang perusahaan mereka dengan menaiki kereta, jika saja Hashirama disana..., mungkin dia akan mati konyol gara-gara terkejut mendengar teriakkan histeris Kushina yang membelah langit.
Dua 'makhluk hidup' yang berada didepannya meringis kesakitan sambil menutup kedua telinga mereka disaat Kushina berteriak tepat didepannya.
"Iya, ini untuk membuktikan pada semua orang kalau kamu mempunyai bakat menjadi pemain biola, Kushi-chan" jelas Mikoto sambil menutup kedua telinganya yang berdengung terus-menerus.
"Bakat apanya?!, aku masih dalam tahap belajar."
"Dalam tahap belajar? Kamu sudah menguasai semuanya Kushina. Apa salahnya kalau mencobanya?" bisik Minato yang sekarang sudah mulai tenang tidak menutupi telinga-nya.
Kushina menatapnya sangat tajam kearah Minato seolah-olah berkata 'Aku akan memakanmu hidup-hidup' sehingga membuat Minato sweatdrop.
"Aku setuju dengan apa yang diucapkan Minato-kun, kamu sudah tidak dalam tahap belajar lagi Kushi-chan, lusa kemarin kan Minato sudah memberikan semua ilmu yang dia ketahui kepadamu dan kamu bisa memberikan hasil yang menakjubkan saat itu. Itu menandakan kamu sudah sangat ahli dalam permainan biola, bahkan ada suatu bukti kalau kamu selalu mementingkan bermain biola dari pada yang lainnya, itu membuat bukti semakin kuat kalau kamu bisa bermain biola dengan bagus"
Kushina terkesiap mendengar penjelasan Mikoto, rasa gugup dan bingung mulai melandanya, 'bagaimana dia bisa tahu?' batin Kushina heran
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku..."
"Arashi-san yang memberitahuku, katanya kamu selalu mementingkan biola itu daripada yang lainnya"
"Tapi Miko-chan... aku masih belum siap melakukan sebuah kontes, aku takut tidak akan bisa menjalankannya dengan normal"
"Tidak ada yang tidak bisa kalau kamu mau berusaha" gabung Minato ikut berbicara kembali setelah sekian lama dia menutup mulutnya.
Kushina menoleh kearahnya, Minato tersenyum lembut lalu menganggukkan kepalanya dengan ekspresi yang memberitahukan 'Kamu pasti bisa'. Wajahnya yang menawan menatap Kushina penuh keyakinan. Kushina menundukkan wajahnya merasa bimbang dan canggung, rasa bimbang itu semakin membesar ketika Kushina membayangkan banyak orang yang sedang menontonnya dengan senyuman berubah menjadi kecewa disaat mendengar permainan biola aneh-nya Kushina lalu melesat pergi diikuti cacian pedas terlontar dari mulut mereka.
Itu baru bayangannya? Bagaimana kalau itu kenyataan? Pasti Kushina malu seumur hidup dan malas untuk menjalani hidupnya lagi. Dia bisa memainkan biola dengan tenang kalau yang menontonnya ialah orang terdekatnya, tapi kalau yang menontonnya orang asing... ia tidak yakin bisa melakukannya dengan tenang.
"Aku tidak yakin kalau aku bisa Miko-chan, Minato-kun?"
"Kenapa?" tanya mereka bersamaan
Kushina mendongahkan kepalanya lalu memandang dua sahabat yang berada didepannya.
"Itu karena aku merasa tidak akan bisa tenang, memang aku bisa tapi itu hanya jika kalian yang menontonnya... aku tidak bisa tenang jika orang yang menontonku adalah orang asing"
Mikoto dan Minato terdiam setelah itu, 'persis seperti yang dikatakan Fugaku-kun' batin Mikoto, lalu ketika Mikoto ingin membalas ucapan Kushina... Minato sudah membalasnya terlebih dahulu.
"Apa kamu lupa apa yang kukatakan sebelumnya padamu di taman Konoha pada hari pertama kita resmi menjadi guru-murid?"
Mikoto dan Kushina memandanginya dengan alis berkerut, Kushina mencoba mengingat-ingat kejadian pada hari pertama mereka resmi menjadi guru-murid, dia ingat pada saat itu dia dan Minato berjalan ke pohon sakura dan duduk disana sambil memainkan biola di taman Konoha tersebut, Kushina memejamkan matanya mencoba untuk mengingat semua yang dikatakan Minato saat itu. awalnya samar-samar lalu bayangan wajah Minato muncul di kegelapan sambil berkata
inilah pembelajaran pertamamu Kushu-chan, mengenal dunia luar. Kamu harus membiasakan dirimu bermain biola dimuka umum agar kamu tidak merasa gugup disaat ada kontes atau semacamnya yang akan kamu ikuti. Bermain biola itu bukan untuk disembunyikan tapi untuk dikeluarkan, biarkan dunia tahu cara bermain biolamu. Itulah kunci sukses agar kamu bisa bermain biola dengan semangat tanpa rasa gugup di suatu hari nanti.
Kata-kata lembut itu selalu terbayang-bayang saat itu, terutama kata 'Membiasakan diri bermain biola dimuka umum' yang menandakan kalau dia memang sudah dilatih oleh Minato agar tidak gugup sejak dulu, apalagi mereka selalu belajar dimuka umum, tidak pernah sekalipun ditempat sembunyi-sembunyi seperti gedung yang sepi atau gedung musik milik ayahnya.
"Kamu sudah mengingatnya?" tanya Minato pada Kushina sehingga membuyarkan lamunan Kushina atas kata-kata itu.
Kushina membuka matanya secara perlahan-lahan, mata violetnya yang cerah menatap Minato dan Mikoto yang saat itu menatapnya dengan serius tanpa berkedip sama sekali, Kushina menghembuskan nafasnya secara perlahan-lahan dari rongga hidungnya lalu menganggukkan kepalanya.
"Ya, aku mengingatnya"
"Lalu apa?" tanya Minato lagi yang sekarang merendahkan tubuhnya sehingga kedua tangannya menopang di lututnya dan mata safir-nya menatap Kushina sangat lekat.
Mikoto menatap mereka berdua secara bergantian merasa bingung sekaligus tidak mengerti atas ucapan mereka masing-masing, 'apa sih yang dikatakan Minato-kun pada Kushi-chan saat itu?' tanya Mikoto dalam hati penasaran.
"Baiklah... aku akan mencobanya" sahut Kushina pelan.
Mendengar ucapan Kushina..., Mikoto dan Minato tersenyum kesenangan lalu mereka berdua saling bertepukkan tangan.
"Ini akan bagus sekali..."
"Tapi sebelumnya? Dimana aku akan kontes?"
Minato dan Mikoto menoleh kearah Kushina kembali dan mulai menjawab
"Di panggung musik Hashirama-sama"
"Kita akan mengatur jadwal pertunjukkanmu Kushu-chan?"
"Kalian berdua terlihat sangat semangat sekali sih? Aku saja yang menjadi korban tidak semangat seperti itu..., kenapa sih Miko-chan memilihku? Kenapa bukan orang yang disebelahmu saja sih?" ketus Kushina tidak suka melihat mereka bahagia sedangkan dia tidak.
Mikoto menolehkan kepalanya kearah Minato yang masih tersenyum
"Ini bukanlah soal memilihku atau kamu Kushu-chan..., nanti kamu juga akan mengerti" sahut Minato.
Kushina mendengus kesal sambil melipatkan kedua tangannya didada, dia menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa sambil menggerutu tidak jelas merasa protes dengan jawabannya Minato.
Minato dan Mikoto tertawa melihat ekspresi cemberut Kushina yang lucu itu.
-x-x-x-x-
-Seminggu Kemudian-
"Aku sudah menentukkan jadwal pertunjukkanmu Kushi-chan?" kata Mikoto sambil berlari keruang tamu dan membawakan kalender.
"Hmm?" singkat Kushina di sofa sambil menoleh kearah Mikoto.
Kushina merasa terganggu atas teriakkannya Mikoto, gara-gara teriakkannya itu, Kushina jadi tidak bisa berkonsentrasi ke buku novel yang dibaca-nya, dia mendudukkan dirinya disofa ketika Mikoto sudah berada disebelahnya.
"Bagaimana kalau kontes-nya kita lakukan tepat pada hari ulang tahunmu?"
Kushina terkesiap dan dengan spontan menutup buku novelnya sangat kuat sekali, Kushina menoleh kearah Mikoto dan menatapnya tidak percaya, mulutnya melebar dan iris mata violetnya tidak berkedip sekalipun.
"Apa kamu gila Miko-chan?! Itu kan empat hari lagi?"
"Iya aku tahu, tapi kurasa itu jadwal yang tepat"
Kushina menggelengkan kepalanya tidak setuju lalu meletakkan buku novelnya ke meja kecil yang berada disebelah kanannya
"Tidak...tidak, aku tidak mau. Itu terlalu cepat, aku tidak akan bisa"
"Sepertinya perkataanku seminggu yang lalu masih belum cukup yah?" sambut seorang pria jabrik berambut kuning tepat berada di sebelah kanan mereka.
Kushina dan Mikoto menolehkan kepalanya kearah suara itu berasal, Kushina mendelikkan matanya tidak senang lalu melesat berdiri dan berjalan mendekatinya.
"Dasar, tidak bisakah kamu mengetuk pintu dulu sebelum memasukki rumah orang?!" protes Kushina sambil mengangkat kerah jaket kulit Minato dengan habanero mode.
Minato sweatdrop dengan ekspresi wajah yang aneh, dia menatap Kushina penuh ketakutan lalu melayangkan kedua tangannya kekanan dan kekiri.
"Mm-maafkan aku Kushu-chan, tidak akan kuulangi lagi" rintih Minato ditengah-tengah geraman Kushina.
Kushina melepaskan kerah Minato sangat kasar, Kushina sudah tidak menjadi habanero mode lagi ketika dia melepaskan kerahnya Minato sehingga membuat Minato menghembuskan nafas lega merasa kalau dirinya telah selamat.
"Aku tidak akan bisa kalau waktu-nya sesingkat itu" kata Kushina seraya memunggungi Minato dengan melipat kedua tangannya didada.
Minato dan Mikoto saling bertatapan satu sama lain, Mikoto mengerutkan keningnya ketika dia menatap Minato dengan tampang memelas seolah-olah mengatakan 'Bujuk dia'. Merasa mengerti atas tampang Mikoto, Minato mendekati Kushina lalu memutar tubuh Kushina agar bisa memandanginya.
"Aku akan membantumu, apa gunanya seorang teman kalau tidak bisa melakukan apapun pada temannya? Aku akan menambahkan pelatihannya"
"Tapi itu terlalu singkat baka!, aku tidak akan bisa. Dan dengan berlatih dalam waktu sesingkat itu..., itu tidak mungkin. Seharusnya kamu memakai logika-ttebane!"
Minato tersenyum kecil
"Logika-ku mengatakan kamu bisa melakukannya"
Deg...
Kushina terkesiap ketika Minato berkata demikian, entah kenapa tiap Minato mengatakan suatu hal, pasti selalu memojokkannya dan tidak bisa membalasnya seolah-olah mulutnya itu terkunci rapat dan kuncinya itu dipegang oleh Minato. Minato tersenyum lembut lalu memegang pergelangan tangan Kushina sangat lembut.
"Atas nama teman, aku akan membantumu agar bisa melewati semuanya, dan latihan yang kuberikan berbeda dari latihan sebelumnya"
Violet dan Sapphire berpandangan sangat lama sekali, mereka berpandangan dalam diam. Kushina yang paling pertama mengalihkan tatapan mereka, Kushina menundukkan kepalanya menghindar dari mata sapphire tersebut lalu bergumam
"Aku tidak akan bisa?"
"Dimana biola-ku?" bisik Minato
"Ada dikamar"
"Ambil, cepat..."
Kushina mendongahkan kepalanya lalu menatap Minato dengan alis berkerut dengan ekspresi bingung
"Untuk apa? Berlatih?"
"Ambil saja"
Kali ini ekspresi Kushina berubah menjadi ketakutan, dia merasa kalau Minato akan mengambil biola tersebut, biola yang sangat disukainya itu.
"Apa kamu akan mengambil biola-nya?"
Minato tertawa pelan lalu menggelengkan kepalanya
"Tidak, cepat ambil biolanya"
Kushina menganggukkan kepalanya lalu mulai memunggungi Minato dan berjalan menuju kamarnya, beberapa menit kemudian Kushina menuruni tangga dan berjalan mendekati Minato lagi dengan tas biola terangkul di bahunya.
"Untuk ap...eh?"
Kushina tidak melanjutkan ucapannya karena dia ditarik Minato dengan paksa kearah pintu keluar
"Mau kemana kita?"
"Sudah kamu ikuti aku saja"
"Miko-chan tolong jaga rumahku yah?" kata Kushina setengah teriak kearah Mikoto, Mikoto menganggukkan kepalanya lalu mengacungkan jempol kearah Kushina yang saat itu semakin menjauh.
"Iya, hati-hati Kushi-chan"
-x-x-x-x-
Mobil Minato berhenti di sudut jalanan, dia memarkirkan mobilnya tepat di sebelah restoran makanan cepat saji. Kushina menatap Minato dengan tatapan bingung, 'Apa dia mengajakku hanya untuk makan?' batin Kushina sambil menatap Minato yang sedang sibuk menekan perseling mobil dan membuka pintunya, lalu Minato membukakan pintu untuk Kushina yang berada dibangku penumpang, tingkah Minato mirip sekali dengan tingkah orang yang sedang membukakan pintu untuk pacarnya.
"Apa tadi kamu mengajakku hanya untuk makan siang? Jika iya maaf yah, aku sudah kenyang. Aku sudah makan dirumah bersama Miko-chan" kata Kushina seraya keluar dari mobil
"Baguslah kalau kamu sudah makan Kushu-chan, jadi aku sudah tidak perlu mengeluarkan uang, hehehe"
Kushina mendengus kesal
"Kau menyebalkan Minato-kun"
Minato tertawa lalu mengajak Kushina masuk ke restoran makanan cepat saji
"Jadi kamu mengajakku kemari hanya untuk menemanimu makan?"
"Tidak, aku sudah makan"
Kushina mengerutkan keningnya mulai bingung, 'Tadi dia bilang sudah makan? Lalu untuk apa dia kesini? Latihan? Tidak mungkin' batin Kushina bingung, dia semakin bingung disaat Minato memberitahunya untuk tetap disini lalu dia berjalan ke counter pelayan makanan lalu tidak lama kemudian memasukki ruangan yang bertulis 'Boss Room' yang tidak jauh dari counter pelayan makanan tersebut. Kushina hanya berdiri mematung di dekat pintu melihat tingkah anehnya Minato disana. Tidak lama kemudian dia keluar dari ruangan itu bersama pria berbadan gemuk yang mempunyai rambut panjang berwarna merah, mereka berdua berjalan mendekati Kushina yang saat itu mematung.
"Ini dia gadisnya pak, bolehkan?" bisik Minato sangat sopan ke pria gemuk tersebut.
Pria gemuk itu mengamati Kushina yang saat itu memakai baju dan jaket tanpa lengan, bajunya berwarna kuning dan jaketnya berwarna biru laut dilengkapi kancing tali di tengah-tengah jaket tersebut, Kushina memakai celana katun berwarna biru dengan ujung mata kaki yang ketat karena didalamnya terikat karet bahan. Pria gemuk itu mengamatinya sangat lama sekali sambil menghusap-husap dagunya dan tidak lama kemudian dia mendongahkan kepalanya dengan cepat menatap Kushina sehingga membuat Kushina tersontak kaget.
"Siapa namamu?"
Kushina mengerutkan keningnya ketika pria gemuk itu berkata demikian, dia mengekorkan matanya kearah Minato yang berada disebelah kirinya dengan tatapan tajam, 'Apa dia mengajakku kemari karena ingin menyuruhku bekerja?' dengus Kushina dalam hati. Kushina tersadar dari lamunannya ketika si pria gemuk menegurnya dengan kata 'Gadis merah' berkali-kali.
"Iya pak?"
"Aku menanyakan siapa namamu?"
"Namaku Kushina Uzumaki pak"
Pria gemuk itu menganggukkan kepala sambil bergumam mengerti
"Hemm, kamu boleh memainkan musik direstoranku Kushina-san. Aku tidak akan keberatan kalau hanya sehari saja dan lagipula kurasa para pelangganku butuh hiburan sedikit"
"Hah?"
Hanya kata-kata itu yang terlontar dari mulutnya, Kushina sudah terlanjut terkejut saat dia berkata demikian, dia sudah mengerti kenapa Minato mengajaknya kemari dan kenapa dia beranjak masuk keruangan boss, itu pastinya dia ingin meminta izin pada boss disini agar mengijinkannya memainkan musik di restorannya, Gila!, yah Minato memang gila. Tapi dia melakukan itu demi Kushina.
Pria gemuk itu tersenyum ke Kushina lalu dia memutarkan tubuhnya kearah Minato. Minato menjabat tangannya lalu berkata 'Arigatou, Chouza-sama' terus-menerus sampai mereka berdua melepaskan jabatan tangannya. Tidak lama setelah itu, pria gemuk yang dipanggil Chouza itu berjalan menjauhi mereka berdua meminta izin untuk kembali keruangannya kembali. Minato tersenyum kearah Kushina lalu berjalan mendekatinya setelah Chouza sudah memasukki ruangan pribadi-nya kembali.
"Kamu gila!, kenapa kamu menyuruhku bermain musik di tempat seperti ini?" bisik Kushina saat Minato tepat berada didepannya.
"Kamu lihatlah sekitar restoran ini?" kata Minato seraya melayangkan tangan kanannya kesegala arah.
Kushina mengerutkan keningnya lalu mengikuti arah tangan Minato berarah. Setelahnya selesai Kushina menggelengkan kepalanya tidak mengerti.
"Apa maksudmu?" tanya Kushina dan Minato hanya tertawa kecil.
"Kamu masih tidak mengerti, disini banyak sekali orang asing yang tidak kamu kenali, kamu akan memainkan biola-mu ditengah-tengah mereka yang sedang makan, anggaplah hari ini kamu sedang melakukan pementasan dan orang-orang yang berada disini adalah para tamu yang datang melihat pementasanmu. Ini yang kumaksud sebelumnya, aku akan melatih rasa canggungmu, direstoran ini adalah hari pertamamu latihan mengendalikan rasa gugupmu sebelum kontes itu tiba. Dan jika disaat kamu memainkan biola disini banyak orang yang tertarik untuk mendengarkan alunan musikmu..., itu berarti mereka menyukai alunan musikmu. Dan jika itu terjadi maka aku yakin rasa gugup yang kamu rasakan semakin menurun."
Kushina menelan ludahnya merasa takut sekaligus gugup, dia merasa rencana Minato untuk melatihnya itu sangatlah gila dan tidak masuk akal, bagaimana bisa orang yang sedang menikmati makanannya harus mengalihkan perhatiannya kearah orang yang pasti sudah dibilang gila. Kushina tidak setuju dengan rencana Minato, dengan kasar dia memberikan tas biola ke Minato
"Coba kalau kamu duluan!, kamu kalau ngomong enak banget, coba kamu lakukan sebelum aku melakukannya, apa akan sama seperti yang kamu katakan?" protes Kushina dengan berbisik. Minato menerima biola tersebut lalu membuka resleting tasnya dan mengambil biola yang berada didalamnya, Kushina merasa sweatdrop melihat dia yang sudah berada ditengah-tengah restoran dan bersiaga memainkan biola-nya, 'dia benar-benar melakukannya?' batin Kushina sweatdrop. Tidak lama kemudian terdengarlah suara alunan musik lembut dan menyentuh hati keluar dari senar biola itu, dan tidak lama kemudian alunan nada itu menjadi alunan instrumen 'Kokoro No Wakusei'. Kushina tertegun mendengar alunan instrumen tersebut, dia pernah mendengar instrumen lagu ini di paris tepat ketika dia sedang membeli roti dan snack di toko makanan.
"Apa dia yang memainkan alunan itu saat di toko makanan?" bisik Kushina pada dirinya sendiri sambil menatap Minato dengan mata membelalak. Belum lima menit Minato memainkan biolanya, para penikmat makanan disini menatap Minato penuh kekagumam lalu menepuk-nepuk tangan mereka. Kushina menatap seluruh restoran yang sudah hampir semua pengunjung restoran itu menepukkan tangan mereka, hebat? Yah Minato sangat hebat sekali. Minato berhenti memainkan biolanya lalu berkata 'Terima kasih' kesemua orang yang berada di restoran tersebut dengan membungkukkan badannya, para pengunjung makanan disini berteriak 'Lagi' secara kompak, mereka meminta Minato memainkannya lagi, itu sungguh luar biasa, pikir Kushina.
"Baiklah aku akan memainkannya lagi..."
"Horeee" sorakkan demi sorakkan menggema seluruh ruangan restoran itu, para pengunjung sudah melupakan makanan mereka, mata mereka hanya terfokus pada Minato.
"Tapi bukan aku yang memainkannya melainkan gadis yang berada didepanku" kata Minato seraya mengacungkan tangan kanannya kearah Kushina, Kushina tersentak kaget lalu menggelengkan kepalanya, Minato menganggukkan kepalanya mencoba menyemangatinya. Denga berat hati Kushina berjalan kecil kearahnya, para pengunjung di resoran ini saling berbisik satu sama lain ditiap Kushina berjalan mendekati Minato. Kushina mengambil biola yang berada ditangan Minato dengan kepala menunduk, wajahnya sangat memerah saat ini karena malu, jantungnya berdebar kencang dan cepat sekali.
"Tenang saja, kunci utamamu saat ini adalah tenang dan rileks. Anggap saja semua orang disekitarmu adalah sebuah sampah yang tak berguna, mengerti" bisik Minato di telinga Kushina lalu berjalan menjauhi Kushina.
Nafas Kushina terasa sangat berat sekali ketika mata para pengunjung sudah terfokus kepadanya, sunyi..., hanya ada suara minyak goreng yang terdengar seperti mendidih karena sudah sangat panas di belakangnya. Kushina menarik nafasnya sangat panjang lalu menghembuskan nafasnya mencoba untuk rileks, matanya terpejam lalu dia bersiaga memainkan biolanya dengan kata-kata Minato masih terbayang difikirannya 'Tenang saja, Kunci utamamu saat ini adalah tenang dan rileks. Anggap saja semua orang disekitarmu adalah sebuah sampah yang tak berguna'.
TBC
A/N : Finish, oke Shisui udah gak bisa ngomong banyak lagi, yang Shisui ingin bilang sekarang adalah Gomen karena lama update yah, si ilham baru dateng sekarang. Gomen yah kalau fic ini terlalu gaje, Tunggu chap selanjutnya yah Minna.
Jaa Minna-san
Dibawah ini balasan reviews Minna
uzumaki. kuchiki : Gomen yah updae-nya telat, si ilham memang jarang muncul. Yah soalnya Shisui sama si ilham habis berantem jadi jarang bertemu deh, hehehe. :). Makasih atas review-nya yah.
Fran Fryn Kun : Ah? Fran-kun jadi suka sama Avenged yah?, Shisui juga suka sama Avenged, lagu-lagunya menyemangati hati yang sedang galau, hahaha. Iya sama-sama Fran-kun :). Makasih yah atas review-nya.
CindyAra : Iya ini sudah lanjut, makasih yah atas review-nya :)
Puthry Azzahra : Hehehe iya nih, tinggal menunggu pengumuman kelulusan doang, aduh kasihan Puthry-chan :(, yang sabar yah..., emang tuh pemerintah maunya duit doang kalau kerja aja..., lelet. Semoga lulus yah Puthry-chan :). Oh iya..., kapan nih epotoransu! Kushina update?, Shisui udah gak sabar nih. Hehehe :), makasih yah review-nya.
Aika Licht Youichi : Iya, gomen yah Aika-san kalau masih ada yang salah, Shisui harap di chap yang satu ini tidak ada kesalahan. Makasih yah review-nya.
Naru-chan : Makasih yah pujiannya :), iya ini sudah update.
U. Icha-chan : Hehehe #menggaruk-garuk belakang kepala, makasih yah atas pujiannya. Hem..., ya udah deh terserah Icha-chan aja dah mau panggil Shisui apa aja asal jangan panggil Shisui baa-san atau apapun yang terlihat tua, soalnya Shisui masih berumur 18 belas tahun, iya ini sudah lanjut..., yah bagaimana lagi yah (-_-)?, Shisui juga kasihan melihat Kushina yang hampir diperkosa, bahkan Shisui pengen nangis saat membuat Kushina terkena sial begitu, tapi mau bagaimana lagi..., si ilham memaksa Shisui untuk buat yang begitu, yah jadinya Shisui pasrah aja deh, makasih yah review-nya. :)
Crizky UzuNami : Gomen yah kalau FugaMiko tidak terlalu banyak muncul di fic ini, yah memang FugaMiko hanya sebagai tambahan di fic ini jadi fic FugaMiko masih jarang disini. Sekali lagi Gomen yah. Makasih review-nya :)
