Hemmm..., gak kerasa yah sudah 12 chappie?

Fic ini sedikit lagi tamat...hiks...hiks :'( #cengeng

Chapter 12

Anata o aishite, Kushina...?

Part 2

Disclaimer : Shisui-Namikaze *plak*... iya-iya...gomen akang Masashi T.T

Rate : T

Genre : Romance, Friendly, Family, Angst etc

Pairing : Minato Namikaze x Kushina Uzumaki

Warning ! : EYD abal-abal, OOC, Gaje, alur cepat, tetek bengek semuanya ada !

Thanks already read my fic:

U. Icha-chan

Rencaggie

Guest

Uzumaki Kuchiki

Red-Hot Habanero

Namikaze immah-chan sapphire

Namikaze Mutiara Hana

Aika Licht Youichi

Fran Fryn Kun

Puthry Azzahra

Rimadhani Hime

And for all silent readers, of course... :)

Warning 2 : Disini masih Flashback...

If you don't like this story, don't read !

Enjoy It !

"Tenang saja, kunci utamamu saat ini adalah tenang dan rileks. Anggap saja semua orang disekitarmu adalah sebuah sampah yang tak berguna, mengerti" bisik Minato di telinga Kushina lalu berjalan menjauhi Kushina.

Nafas Kushina terasa sangat berat sekali ketika mata para pengunjung sudah terfokus kepadanya, sunyi..., hanya ada suara minyak goreng yang terdengar seperti mendidih karena sudah sangat panas di belakangnya. Kushina menarik nafasnya sangat panjang lalu menghembuskan nafasnya mencoba untuk rileks, matanya terpejam lalu dia bersiaga memainkan biolanya dengan kata-kata Minato masih terbayang difikirannya 'Tenang saja, Kunci utamamu saat ini adalah tenang dan rileks. Anggap saja semua orang disekitarmu adalah sebuah sampah yang tak berguna'.

Chapter 12

Kushina memandangi Minato yang berada didepannya dengan ekspresi tidak percaya diri, peluh sebesar biji jagung mulai bermunculan di pelipisnya. Sesekali Kushina menggelengkan kepalanya merasa dia tidak akan bisa melakukannya, dia bukan Minato yang bisa disimpulkan rasa malu-nya itu kurang dari 12%, dia adalah dia. Dia adalah seorang gadis yang sulit melakukan hal gila seperti ini, memang sih dia suka melakukan sesuatu yang extrim dan itu disimpulkan sesuatu yang gila? Tapi hal extrim itu tidak dipandangi seperti sekarang ini, apalagi berada di tengah-tengah restoran.

Kushina menarik nafas dan menghembuskannya lagi, entah sudah keberapa kalinya dia menghela nafas? Sulit dihitung jika dalam keadaan setengah panik ini. Selang beberapa menit..., tiba-tiba ada seseorang yang berdeham, menandakan kalau mereka sudah tidak sabar lagi ingin mendengarkan permainan musik Kushina.

Dengan alis berkerut, Kushina memandangi sekeliling restoran yang sudah dipenuhi orang-orang yang sekarang sudah mulai memberikan ekspresi suntuk, bahkan ada beberapa orang yang mulai melanjutkan makanannya. Kushina mulai mengangkat biola-nya dan mulai meletakkan sudut biola ke dagu-nya. Mata violet-nya telah dia sembunyikan dibalik kelopak matanya, selang beberapa saat ketika dia bersiaga memainkan biola..., jemari-nya terasa kaku, tangannya terasa berat sekali seolah-olah tidak mau menuruti perintah Kushina, tangannya bergetar tapi tidak terlalu bergetar. Masih ragu? Yah Kushina masih ragu dan gugup, apa yang membuatnya ragu? Dia berfikir dia akan gagal dan pada akhirnya dia akan dipermalukan diantara tengah-tengah para pengunjung makanan. Kushina menjauhkan biola-nya dari dagu-nya, Minato yang melihatnya langsung melebarkan matanya dengan ekspresi penuh tanya. Kushina menundukkan kepalanya dan mulai berjalan mendekati Minato, Minato hanya tertegun ditempat ketika Kushina berjalan mendekatinya..

"Ini, aku tidak akan bisa. Lebih baik aku keluar sebelum aku disoraki dan dipermalukan" bisik Kushina setelah tepat berada didepannya Minato, Kushina memberikan biola Stradivarius tersebut kearah Minato.

"Kush..." Minato tidak menyelesaikan ucapannya ketika dia mendengar suara isakkan didepannya.

Kushina menangis, dia menangis tepat didepan Minato. Disaat Minato ingin menyentuh bahu Kushina..., Kushina menepisnya lalu pergi melewati Minato dan keluar dari restoran. Minato merasa menyesal atas perbuatannya, dia telah membuat Kushina menangis, yah dialah yang telah membuat Kushina menangis. Sebab dia telah memaksa Kushina untuk memainkan biola ditengah-tengah banyaknya orang, Kushina bukanlah dirinya yang bisa mencuekki setiap orang yang berada disekitarnya, Kushina adalah gadis yang hyperaktif dan suka tidak nyaman jika dilihat-lihat oleh orang, apalagi oleh orang yang dikenal.

Minato mendengar bisikkan-bisikkan para pengunjung restoran ini, entah apa yang mereka bisikkan, Minato tidak tahu? tapi ditengah-tengah bisikkan itu, ada yang menghela nafas merasa kecewa kalau Kushina tidak memainkan biola-nya. Minato menundukkan kepalanya dan mulai berjalan keluar restoran.

Minato melihat Kushina sudah berada di tempat duduk penumpang di mobilnya, dia masih menangis, melihat Kushina yang tidak berhenti menangis membuat Minato merasa lebih bersalah, dengan kepala menunduk dia berjalan ke mobil Ferarri-nya.

"Kita akan cancel semua-nya?" lirih Minato setelah dia sudah didalam mobil, tepatnya di tempat pengemudi.

Kushina yang mendengar lirihannya Minato langsung berhenti menangis, dia menoleh kearah Minato yang saat itu menundukkan kepalanya dengan ekspresi menyesal. Minato menghembuskan nafasnya dengan sekuat tenaga, entah kenapa nafasnya terasa sangat berat sekali saat ini.

"Aku dan Mikoto akan meng-cancel seluruh jadwalmu, aku akan membatalkan tiket-nya, aku akan membatalkan pertunjukkanmu di media, aku akan melepaskan poster-poster jadwalmu diseluruh jalanan"

"..."

"Maaf, maafkan aku. Aku telah ceroboh."

"..."

Minato tersenyum ke Kushina, senyuman yang bukan seperti senyuman biasa melainkan senyuman penuh penyesalan.

"Sekarang ayo pulang, lupakan semuanya. Kushu-chan" bisik Minato masih berusaha tersenyum, dia memasukkan persneling dan mulai menjalankan mobilnya.

-x-x-x-x-

-Kushina POV-

Aku membuka pintu kamarku setelah kedua sahabat-ku telah pulang, saat itu Mikoto tidak seriang sebelumnya disaat Minato memberitahukannya kalau pertunjukkanku akan dicancel olehnya, aku merasa bersalah atas tindakanku. Aku merasa telah mengecewakan kedua temanku, tapi mau diapakan lagi? Aku tidak bisa berbuat apapun? Aku malu, aku tidak bisa percaya diri jika dilihat banyak orang, apalagi jika orang itu tidak kukenal.

Memang aku dan Minato sering berlatih didepan umum tapi saat itu aku dan Minato tidak terlalu diperhatikan oleh kalangan publik, tapi tadi siang..., mereka semua memperhatikanku, menungguku memainkan musik, aku merasa gugup, aneh, tidak percaya diri, dan takut kalau mereka menyorakkiku 'tidak bisa memainkan biola', dan itu pastinya akan membuatku malu seumur hidup.

Dengan kaki lemas aku berjalan menuju tempat tidurku tanpa mengganti baju terlebih dahulu, biola Minato kuletakkan tepat disebelahku ketika aku sudah berbaring ditempat tidur. Kutatapi biola Minato lama sekali, biola terindah yang pernah kulihat, biola yang memberikan suara terindah dan terlembut, biola yang selalu membuatku tenang. tapi kenapa? Kenapa pada saat yang kuperlukan biola ini tidak bisa membuatku tenang?.

Aku memiringkan tubuhku kekanan kearah biola tersebut, aku membelai senar-senar tipis yang membalut di tiang biola. Lembut? Aku sangat suka. Tapi kenapa tadi siang aku sulit sekali memainkan biola ini?.

Drrt...drrt

Suara smartphone-ku bergetar, aku mengambil smartphone-ku di saku lalu membuka SMS yang baru saja masuk.

From : Kepala Duren

Kushu-chan, maafkan aku karena telah memaksamu. Maafkan aku telah membuatmu menderita karena ulahku. Maafkanlah tingkahku, aku berjanji aku akan menyelesaikan semua-nya...

Aku akan memberitahukan para media agar menghapus jadwalmu besok bersama Mikoto-chan, sekali lagi maafkan aku.

Minato.

Entah kenapa saat aku membaca SMS dari Minato, air mataku mulai bercucuran di pipi-ku, aku yang salah Minato, seharusnya aku yang meminta maaf, bukannya kau Minato. Akulah yang salah!.

Memang ini semua ide-mu dan Mikoto, tapi aku tahu dari semua yang kau lakukan ini adalah demi aku agar aku bisa lebih mendirikan permainan-ku, agar aku bisa lebih mendapatkan kehormatan bagi para pendengar. Agar aku bisa mendapatkan kekaguman. Ide-mu ini sangat berarti buatku, kau, dan Mikoto. Hiks... maafkan aku...maafkan aku.

Aku menutupi wajahku dengan bantal sambil merintih-rintih dibelakang bantal yang menyembunyikan wajahku, aku benar-benar menyesal telah membuat kedua temanku kecewa. Seharusnya tadi kumainkan saja biola-nya di restoran! Masalah jelek atau bagusnya itu belakangan...hiks...bodoh! Kushina bodoh!.

Berhentilah menangis Kushina, menangis tidak akan menghentikan apapun, menangis hanya bisa membuatmu semakin lemah, berfikirlah Kushina!, berfikirlah bagaimana caranya agar kamu bisa berani dan percaya diri dalam memainkan biolamu, buatlah tou-san, kaa-san, nii-san, Minato dan Mikoto bangga padamu. Lakukanlah sesuatu!.

Kamu tidak mau kan usaha teman-temanmu akan sia-sia, kamu tidak mau kan Minato dicaci oleh beberapa media karena dituduh telah mempermainkan mereka. Ayo Kushina! Empat hari, empat hari ini kamu harus belajar mengendalikan rasa gugupmu. Lakukan yang terbaik, bangkit! Ayo bangkit!. Kataku dalam hati.

Aku bangun dari tempat tidurku, aku menghusap air mata yang berada di pipiku dengan lengan kananku, aku menoleh kearah biola Stradivarius yang berada disebelahku, dengan sigap aku turun dari tempat tidur lalu mandi dan setelah itu mengganti bajuku, masih sore!, aku masih punya banyak waktu.

Setelah selesai mengganti baju, aku langsung mengambil biola yang berada ditempat tidur lalu keluar dari kamarku.

-Normal POV-

Keesokan harinya tepatnya pagi hari, Minato keluar dari rumahnya. Dia menghidupkan motor Harley-nya lalu berjalan keluar rumahnya menuju rumahnya Mikoto, setibanya disana..., Minato menitipkan motornya di rumah Mikoto lalu mulai berjalan keluar bersama Mikoto, dia menitipkan motornya karena hari ini dia dan Mikoto akan melepaskan poster-poster jadwal pertunjukkan Kushina yang ditempelkan di seluruh gedung-gedung di pinggir jalanan, mereka berdua lebih memilih berjalan kaki daripada menaiki motor karena poster-poster yang di tempelkan tidak terlalu banyak dan tidak terlalu jauh..

Ketika-nya mereka selesai mencabut poster-poster-nya, mereka beristirahat di halte, keringat bercucuran di seluruh wajah mereka karena terik matahari.

"Kau haus?"

"Iya"

"Tunggu sebentar yah, aku akan membeli minuman ringan diseberang jalan"

"Hem, Makasih Minato-kun"

Minato menganggukkan kepalanya setelah Mikoto berkata demikian, Minato menyebrangi jalanan, dia berhenti di depan mesin minuman lalu membeli dua botol kaleng 'Coke' untuknya dan untuk Mikoto.

Minato berjalan menyebrang menuju halte kembali dengan membawa dua botol kaleng 'Coke', setibanya disana..., dia memberikan satu botol kaleng pada Mikoto.

"Makasih"

"Iya"

Ketika Mikoto membuka botol kaleng minuman ringannya dan ingin meminumnya, tiba-tiba bus berhenti didepannya. Awalnya Mikoto cuek saja dengan bus yang berhenti tepat didepannya dan Minato, tapi ketika pintu bus terbuka untuk menuruni penumpang sebelumnya dan menaiki penumpang disini... dia mendengar suara yang tidak asing ditelinga-nya, suara yang cempreng tapi terdengar lembut di telinga-nya.

Karena penasaran Mikoto menolehkan kepalanya kearah sumber suara, matanya melebar ketika melihat gadis berambut merah sedang tersenyum pada para penumpang yang baru menaiki bus umum tersebut.

"Kushina..." bisik Mikoto

Minato yang sedang asyik-asyiknya meminum minuman ringannya jadi menoleh kearah Mikoto sambil bergumam menanyakan ada apa.

"Lihat di bus itu Minato-kun... itu Kushi-chan! Dia-dia..." bisik Mikoto sambil menunjuk-nunjuk kearah bus, Mikoto tidak melanjutkan kata-katanya saat itu karena dia merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Minato mengarahkan bola mata safir-nya kearah bus dimana Mikoto menunjukkan jari telunjuknya, dia tersedak minumannya sendiri ketika melihat Kushina dikerumuni orang-orang yang sedang merapat menaiki bus, Kushina tersenyum sambil berbicara entah apa didalam bus tersebut.

Deg...

Minato dan Mikoto terkejut melihat Kushina yang saat itu mengangkat biola dan meletakkan sudut biola di dagu-nya.

"Minato...Kushi-Kushi-chan..." kata Mikoto terbata-bata sambil menoleh kearah Minato yang saat itu menatap Kushina tidak percaya.

"Yah, kurasa dia akan memainkan biola di kerumunan orang-orang di bus" sahut Minato juga merasa tidak percaya.

Tatapan Minato menjadi tajam ketika melihat seorang pemuda didalam bus memandangi Kushina dengan tatapan mesum, dia menggeram terbakar api cemburu saat melihat pria itu semakin mendekat pada Kushina, Minato beranjak berdiri dari tempat duduk dan mulai berjalan menuju bus yang saat itu masih sibuk mengangkut penumpang.

Mikoto yang menyadari kalau Minato sudah berada didepannya langsung beranjak dari tempat duduknya dan mulai menyusul Minato.

Mereka berdua menaiki bus tanpa sepengetahuan Kushina, Minato memandangi Kushina, tidak!... memandangi pemuda yang sudah berada disebelah Kushina dengan tatapan membunuh. Pemuda itu menyadari tatapan Minato, awalnya pemuda itu cuek-cuek saja tetapi ketika Minato menunjukkan kepalan tangannya, pemuda itu langsung mundur beberapa langkah dari Kushina, pintu bus tertutup dan bus-pun mulai berjalan.

Kushina masih tidak menyadari kalau ada Mikoto dan Minato. Saat ini dia sudah terhanyut dalam permainan biola-nya dengan menutup kedua matanya. Kushina menghembuskan nafasnya dan mulai memainkan biola-nya kembali tapi nada ini sedikit melow dan sedikit menyayat hati yang mendengarnya.

Lagu yang dibawakan Kushina adalah lagu instrument tersedih yang membuat hati para pendengarnya menangis ( Jika ada yang mengerti alunan lagu-nya?, kalau Shisui jujur yah. Shisui sering menangis kalau mendengar lagu ini ) 'Yiruma – Kiss The Rain', jemari lentiknya menyusuri senar-senar tipis biola dengan lihai-nya, meskipun dengan mata tertutup tapi suaranya sangat merdu sekali.

Minato yang mendengar permainannya langsung tersenyum sedangkan Mikoto..., dia sedang sibuk menyedot air lendir di hidungnya yang memaksa untuk keluar dari hidungnya dengan tissue, Mikoto menangis. Yah seperti inilah, Mikoto menangis mendengar alunan lagu yang dimainkan Kushina, dia ingin sekali menangis kencang mendengar nada yang dimainkan Kushina tapi dia tahu tempat apa ini, ini tempat umum. Mana mungkin dia harus menangis sepuasnya disini? Bisa-bisa dia dibilang tidak waras oleh para penumpang bus disini.

Ternyata yang menangis disini tidak hanya Mikoto saja, para pengunjung disini juga ada yang menangis tersedu-sedu. Suara isakkan para penaik mobil bus tidak mengganggu konsentrasi Kushina, dia terus memainkan biola-nya dengan lihainya sampai pada akhirnya dia menghentikan permainannya.

Suara tepukkan tangan terdengar bergemuruh didalam bus, bahkan pemuda yang tadi ditatap tajam oleh Minato juga bertepuk tangan. Kushina tersenyum lalu sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat untuk menyeimbangkan tubuhnya karena dia saat ini berada di bus yang sedang beroperasi, tidak mungkin Kushina membungkukkan badannya dengan leluasa, itu bisa membuatnnya terjatuh kebelakang pastinya. Dia masih tidak menyadari kalau disekitar penumpang bus ada kedua sahabatnya.

"Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian untuk mendengarkan permainan biola saya, sekali lagi saya umumkan tiga hari lagi saya akan membuat pertunjukkan bersama kedua sahabat saya di gedung musik di St. Saikuro, jika ibu dan bapak ada yang beminat silahkanlah datang ke gedung musik di St. Saikuro. Masalah tiket tadi sudah saya beritahukan kalau tiket-nya akan dijual di internet, ibu dan bapak bisa membelinya di minamikoshina .com. Terima kasih"

Lagi-lagi suara tepukkan tangan meramaikan suasana bus, Minato dan Mikoto berjalan mendekati Kushina yang saat itu sedang tersenyum. Kushina membelalakkan matanya ketika melihat Mikoto dan Minato sedang berjalan mendekatinya. Dia baru menyadari kalau Mikoto dan Minato juga berada di bus, 'Jika mereka berada di bus, berarti tadi mereka melihatku memainkan biola dong?' batin Kushina sambil menatap kedua sahabatnya dengan mata membelalak.

Onyx, safir dan violet saling berpandangan satu sama lain. Awalnya mereka saling senyam-senyum lalu...

Pletak!

"Aduduh...Ittai!"

Mikoto memukul kepala Kushina dengan kerasnya, para penumpang yang melihat tingkah konyol Mikoto dan Kushina langsung tertawa terbahak-bahak, sedangkan Minato sweatdrop dan menggaruk-garukkan belakang kepalanya sambil menyengir-nyengir nista. wajah Kushina sudah semerah tomat saat itu, dia menundukkan kepalanya dan diam saja mendengar omelan-omelan sahabatnya Mikoto.

"Berani sekali kau yah, kau sudah bilang akan keluar dari pertunjukkan, terus kau mau balik lagi minta dipertunjukkan kembali. Kau tahu kalau aku dan Minato habis melepaskan postermu yang memajangkan wajah anehmu itu?"

"Gomenasai Miko-chan" sahut Kushina pelan masih dengan menundukkan kepalanya seraya menghusap-husap kepala-nya.

Mikoto mendengus kesal sambil melipatkan kedua tangannya, dia masih merasa tidak terima atas kelakuan Kushina yang menurutnya telah mempermainkan dia dan Minato. Tapi dihati-nya yang terdalam dia merasa sangat senang karena Kushina sudah bisa mengendalikan rasa gugup-nya dan sudah ingin mengikutsertakan dalam pertunjukkan.

"Hehehe, sudah...sudah, jangan bertengkar malu dilihat orang." Ikut Minato mencoba menenangkan suasana hati Mikoto.

Mikoto hanya mendengus mendengar ucapannya Minato, tidak lama kemudian dia membuka matanya dan menatap Kushina dengan tatapan penuh tanya

"Tadi saat kau sedang mempromosikan pertunjukkan musikmu, kau bilang 'minamikoshina .com', bagaimana kau tahu website itu?, kan aku sama Minato belum memberitahumu?"

Minato yang mendengar ucapan Mikoto langsung menatap Kushina juga, Kushina yang ditatapi seperti itu oleh mereka jadi merasa sedikit risih, bagaimana tidak risih? Kushina ditatapi oleh Minato dan Mikoto dengan tatapan horror?. Kushina tertawa nista sambil menggaruk-garukkan belakang kepalanya yang dilapisi rambut merah panjang.

"Itu...itu, Fugaku-kun yang memberitahuku."

Mendengar kalimat yang diucapkan Kushina, Mikoto dan Minato langsung menganggukkan kepalanya sambil ber'oh' ria.

-x-x-x-x

"Jelaskan padaku, kenapa kau berani-berani-nya menaiki bus sendirian?" tanya Minato ketikanya turun dari bus bersama Mikoto dan Kushina

"Hah? Memangnya kenapa? Aku yang mau naik bus, kenapa kau yang marah. Apa urusanmu? Lagipula 'kan aku sekalian ingin belajar melatih rasa takutku" ketus Kushina

"Sejak kapan kau melakukan itu?"

"Sejak kemarin, disaat kau dan Mikoto pulang"

"Jadi kau merencanakan semua-nya?" tanya Mikoto

"Tidak, aku tidak merencanakan semuanya. Aku memang ingin melakukannya sendiri kok"

"Kalau begitu, apakah ada hasilnya?"

"Seperti yang kalian lihat tadi-ttebane"

"Hemm, yah dari pertunjukkanmu di bus tadi itu kau memang telah membuktikannya. Kurasa kau memang sudah bisa mengendalikan rasa gugupmu. Apa kau yakin ingin melanjutkan pertunjukkannya?" balas Minato masih tidak terlalu yakin

"Tentu saja-ttebane!, masa iya aku menelantarkan pertunjukkannya dan mengacuhkan usaha sahabat-sahabatku yang telah berusaha keras demi diriku. Cih, itu bukanlah diriku-ttebane" tegas Kushina

Mikoto dan Minato tersenyum sangat lebar mendengar ucapan Kushina, lalu Minato dan Mikoto secara tiba-tiba memeluk Kushina sambil tertawa riang. Pelukan Minato dan Mikoto terlalu erat sampai-sampai dia sulit bernafas. Untung saja pelukan itu hanya berlangsung dua puluh detik saja, jika tidak..., entah bagaimana nasib Kushina setelah itu?

"Baiklah, kalau begitu. Sekarang kita tinggal memberikan beberapa pernak-pernik untuk panggung gedung musiknya agar lebih menarik, pertunjukkan tinggal 3 hari lagi" kata Minato setelah melepaskan pelukannya.

"Lalu poster ini? Kita apakan?" tanya Mikoto seraya menyodorkan poster yang sudah kusut ke Minato.

"Sudah tidak diperlukan lagi, Kushina sudah mengundang banyak orang tadi di bus, lagipula poster itu sangat kusut sekali, tidak layak untuk ditempelkan lagi"

"Iya sih, tapi kalau mereka menganggap omongan Kushina Cuma angin lewat gimana dong?"

"Tidak akan, mana mungkin mereka tidak datang?. Mereka pasti datang demi Kushina" lanjut Minato sambil menyengir mesum kearah Kushina.

Kushina yang menyadari cengiran mesum-nya Minato langsung menyiku pinggang Minato pelan, meskipun sikutannya pelan, Minato masih bisa merasakan rasa sakit di pinggangnya. Wajahnya Kushina sempat memerah saat menyiku Minato, memerah bukan karena kesal tapi memerah karena sedikit malu dengan ucapan Minato.

"Sekali lagi aku mendengar godaan dan cengiran mesummu itu, aku tidak akan segan-segan merobek mulutmu itu-ttebane!" ancam Kushina dengan ekspresi menyeramkan

"Aduduh, hehehe. Gomenasai Kushu-chan"

Mikoto memutar bola mata onyx-nya ketika melihat tingkah kedua sahabat yang berada disebelah kanannya. Kushina dan Minato saling berdebat satu sama lain. Debatan yang menurut Mikoto konyol.

"Hah?, dasar anak muda" hela Mikoto, dia tidak sadar kalau dia juga adalah seorang anak muda. Tapi sayangnya dia adalah anak muda yang sudah mempunyai anak.

"Eh, kita pergi ke restoran yuk?" ajak Kushina setelah menyelesaikan perdebatan kekanak-kanakkannya bersama Minato.

Minato dan Mikoto menoleh kearahnya

"Wah, kau ingin mentraktir aku dan Minato-kun yah?. Tumben kau baik hati Kushi-chan?" goda Mikoto sambil tersenyum.

"Hehehe, yuk!" ajak Kushina seraya menggenggam tangan kedua sahabatnya dan mulai berjalan menuju restoran.

Kushina, Minato dan Mikoto berhenti di restoran cepat saji, restoran tempat Minato dan Kushina datangi kemarin. Kushina, Minato dan Mikoto duduk di meja paling sudut dekat pintu 'Boss Room'.

"Kalian ingin memesan apa? Nanti kuambilkan di counter" kata Kushina sambil tersenyum ramah.

"Emm, apa yah? aku kentang goreng saja deh" sahut Mikoto.

"Aku burger dengan daging ayam saja Kushu-chan" sahut Minato santai seraya membalas senyuman Kushina.

"Eh, tunggu dulu?, tanganmu kan cuma ada dua Kushu-chan? Buat kau mana?" lanjut Minato sambil mengerutkan keningnya.

"Aku tidak mau memesan, aku tidak lapar"

"Eh?" gumam Minato dan Mikoto bersamaan.

"Ke-"

Sebelum Mikoto menyelesaikan ucapannya..., Kushina sudah melangkahkan kakinya menuju counter untuk memesan makanan. Selang beberapa menit, Kushina kembali lagi ke meja tempat dimana Minato dan Mikoto berada

"Ini Minato-kun, Miko-chan" kata Kushina seraya meletakkan pesanan Minato dan Mikoto.

"Kenapa kau tidak mau makan Kushu-chan?"

"Kan tadi sudah kubilang kalau aku tidak lapar, lagipula aku datang disini bukan untuk makan tapi untuk menebus kesalahanku kemarin"

"E––Kushina?" gagap Minato

"Yah, meskipun orang yang berada disini bukanlah orang yang kemarin"

"..."

Kushina tersenyum kearah Minato lalu melesat berdiri kembali dan menuju 'Boss Room' yang tidak jauh dari meja-nya, Minato memandangi Kushina yang saat itu sedang berjalan menuju 'Boss Room', 'Jadi ini kenapa kau mengajakku kesini, kau hanya ingin menebus kelakuanmu kemarin. Kau gadis yang sangat berkarisma Kushina, aku jadi semakin menyukaimu' batin Minato sambil tersenyum kearah Kushina yang sudah memasukki pintu 'Boss Room'.

Mikoto memandangi Minato dengan sebelah alis terangkat, dia melihat senyuman tipis Minato yang mengarah ke Kushina. Melihat Minato seperti itu..., Mikoto menyengir jahil lalu pertanyaan iseng mulai melengkupi otaknya.

"Hei, Senyam-senyum aja. Kau suka yah sama Kushina?" goda Mikoto seraya tersenyum

Minato tersontak terkejut ketika Mikoto berkata demikian, dia menoleh kearah Mikoto dengan peluh sebesar biji jagung di pelipisnya. Minato menyengir atau lebih pantas kalau dikatakan dia 'menyeringai' aneh. Minato menggaruk-garukkan belakang kepalanya merasa salah tingkah dan wajahnya-pun memerah tidak karuan.

"E-e, ke-kena-kenapa kau berkata be-beb-begitu Mi-mik-mikoto-chan" gagap Minato

Melihat ekspresi Minato yang salah tingkah itu membuat Mikoto ingin menggoda-nya lagi. Dia menyengir mengejek lalu meminum minuman ringannya, tatapannya ke Minato membuat Minato semakin gelisah dan gugup tidak karuan.

"Lalu kenapa wajahmu memerah, 'haaah'?" goda Mikoto lagi seraya memutar-mutar sedotan yang berada di gelas plastik minumannya, dia memanjangkan nadanya di ucapan terakhirnya bermaksud mencoba membuatnya lebih salah tingkah.

"Eto, i-itu... karena ruangan disini sangat panas"

"Eh? Dengar, tidak mungkin karena ruangan panas wajahmu jadi memerah seperti itu, kau kalau mencari alasan yang masuk akal dong. Kalau panas itu biasanya dialiri keringat bukannya wajah memerah, baka!"

Minato merasa terpojok, dia mencoba menormalkan wajahnya kembali tetapi sulit sekali karena Mikoto terus saja menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan Kushina.

"Sudahlah jujur saja, Kushina juga tidak punya pacar kok."

"ee, hehehe"

"Kau suka-kan sama Kushina?"

"Eto, itu-i-i-itu anu..., i-iya" sahut Minato jujur seraya menggaruk-garuk pipi kiri-nya.

Mikoto tersenyum sangat manis sekali mendengar ucapannya Minato.

"Cepat katakan cintamu sebelum dia di ambil orang"

"E, ta-"

Minato menghentikan ucapannya ketika suara pintu 'Boss Room' terbuka, Kushina keluar dari pintu tersebut. Dia tersenyum kearah Minato dan Mikoto sejenak lalu berjalan ketengah-tengah restoran. Minato dan Mikoto memfokuskan mata mereka kearah Kushina, 'Dia akan melakukannya lagi' batin Minato. Mikoto menganga ketika melihat Kushina sudah bersiaga memainkan biola-nya ditengah-tengah kerumunan para pengunjung restoran siap saji. 'Kushina?' batin Mikoto tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.

Kushina menarik nafasnya sedalam-dalamnya lalu dia mulai mengeratkan stick biola yang berada di tangan kanannya. Jemari-jemari kiri lentiknya dia gerakkan secara teratur diatas senar tipis biola bermaksud mencoba untuk melenturkan jemari-nya itu.

"*#* *#* *%^%$...heh?" suara bising para pengunjung di restoran tiba-tiba berhenti begitu saja ketika menyadari Kushina berada ditengah-tengah mereka. Minato dan Mikoto memandangi Kushina penuh ketegangan.

"Ha-ah" hela Kushina dan mulai memainkan biola dengan lembut dan santai.

TBC

Gomenasai Minna update-nya lama, Shisui update-nya lama karena Shisui sedang sibuk mencari kerjaan minggu-minggu ini, Ijazah sih memang belum turun tapi kan ada SKHUN, jadi Ijazah bisa menyusul nanti, Minna tahu kan sekarang mencari kerja susah jadi mau gak mau harus bersiap-siap agar gak jadi sampah masyarakat, hehehe :). Karena itulah Shisui selalu pulang malam, dan sesampainya dirumah Shisui langsung tidur karena kelelahan. Itulah kenapa Shisui jadi sulit mengatur waktu untuk membuat fic.

Dan selama dua minggu Shisui berusaha, akhirnya Shisui mendapatkan kerjaan juga, Yey! \('_')/. Dan mulai besok Shisui udah mulai nyari duit sendiri deh ^^

Yah meskipun Shisui kerjanya jadi pelayan restoran. Tapi gak papalah, kan buat pengalaman, ya gak? ^^

Oh iya, Shisui akan membalas review Minna semua! Look at the below Minna!

uzumaki .kuchiki : Iya gak apa-apa kok. Iya, soalnya Shisui lagi sibuk banget akhir-akhir ini. Gomen yah Kuchiki-san m(_ _)m. Iya disini MinaKushi udah jadian, disini Shisui menceritakan flashback mereka sebelum pacaran. Dan di chapter diatas-pun masih menceritakan flashback mereka. Makasih review-nya :)

Namikaze Mutiara Hana : hehehe, ini sudah update kok. Makasih review-nya.

CindyAra : Makasih, iya ini sudah update. Makasih yah review-nya.

Red-Hot Habanero : gak bisa,yah kalo diajarin sih bisa,hehehe :). Mungkin Kushina masih empet sama Minato, hehehe. Film? Film apa? ('-')?, kunci-nya supaya terus ada ide buat bikin fic adalah dari otak sekaligus sang ilham yang agung. hehehe :). Makasih review-nya Red-chan.

U. Icha-chan : iya, ini udah lanjut kok. Iya, umur Shisui 18 tahun. Wah 12 tahun yah!, umurnya sama kayak adik Shisui dong ^.^, makasih yah atas pujiannya n makasih juga udah review.

Crizky Grean-terquoish : Ciee!, ganti penname nih ye#plak. Hehehe. Iya, makasih yah review-nya.

Nasyaangelicaa : hehehe, makasih. Iya ini udah lanjut kok.