Akatsuki Journey
.
.
.
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Adventure, Romance, Mystery, and little bit Humor
Warning : Gajelas, maybe OOC, misstypo, dan segala kekurangan lainnya !
Don't Like Don't Read
Happy Reading !
.
Akatsuki Journey :
Chapter 3 : Iwagakure Temple
.
.
.
Dua minggu kemudian…
Keenam mobil tersebut menembus rimbunnya hutan Amegakure menuju ke Iwagakure. Saat itu sudah lewat tengah malam. Wajar, mengingat mereka berangkat dari Konoha sore hari.
Mereka melewati jalan yang tidak rata, dan pemilik mobil warna silver terus menerus mengeluarkan sumpah serapah ketika dahan pohon menggores bodi mobilnya.
Seolah tak peduli pada keadaan mobil mewahnya, Pain yang memimpin paling depan bersama dengan Kisame keluar jalur dan sekarang melaju pada jalan yang lebih sempit dan berlumpur. Gelapnya jalanan membuat ia semakin was -was.
Di belakangnya ada Jeep hitam milik Kakuzu, lalu diikuti mobil silver milik Hidan yang bersama Tobi dan menjadi mobil paling berisik. Di belakangnya ada Konan, Sasori dan Deidara, lalu yang terakhir Lamborghini hitam millik Itachi yang bersama Zetsu.
Setelah beberapa saat, pepohonan mulai jarang dan digantikan oleh jalan berbatu yang mulai menanjak. Kemudian jalan kembali datar dan terlihat tugu setinggi kira-kira 2 meter.
Mereka semua berhenti dan keluar dari mobil, lalu menghampiri tugu tersebut. "Hanya ini !?" Hidan memandang tak percaya tugu tersebut.
Tugu tersebut mempunyai lubang di tengahnya, lubang tersebut diisi oleh patung perempuan kecil yang duduk bersimpuh. Di dahinya ada mata tambahan yang menutup.
"Hei, ada tulisan di sini !" ucap Pain, ia berjalan maju mendekati tugu tersebut dan menyipitkan matanya, "Bahasa apa ini ?" ia bergumam bingung.
"Ini bahasa kuno di Iwagakure, un !" seru Deidara tiba-tiba, ia mendongakkan kepalanya sok penting. "Artinya, un… Hancurkan desa yang sangat jauh dari dewa kami, buka telinga-"
"Salah," potong Itachi singkat, "Itu berarti 'Kuil kami berada sangat dekat dengan dewa kami. Buka mata dan kuatkan tekad untuk menemukan tempatnya.'" lanjutnya sambil mengitari tugu untuk membaca lebih jelas. Tobi terkikik.
"Ahaha… Deidara-senpai salah ! Hahahahaha…" Tobi tertawa kencang, Deidara menatapnya marah, "Diam kau, un !" serunya tak kalah kencang.
"Deidara, Tobi, diam dulu !" bentak Konan, "Bekerjasamalah untuk memecahkan petunjuk ini !"
"Kuil kami berada sangat dengan dewa kami… Hmm… Apa dewa kepercayaan warga Iwagakure ?" tanya Kisame bertanya pada entah siapa, tapi Deidara yang menjawabnya. "Mereka percaya dewa mereka ada di dalam tanah, un." kata Deidara singkat.
"Berarti kuilnya di dalam tanah ? Kita harus menggalinya mungkin." sahut Sasori, tapi Pain menyelanya, "Tidak, tulisan selanjutnya adalah petunjuk untuk menemukan kuil tersebut."
Sementara itu Itachi mundur menjauh, ia merasa aneh pada tanah tempat mereka berpijak sekarang. Ada garis melingkar samar di depan tugu tersebut.
"Mungkin kita harus membuka mata patung ini !" seru Tobi yang menunjuk mata tambahan si patung yang menutup. Pain mendekatinya, "Baiklah, akan kubuka."
Itachi berjongkok, menyibakkan rumput unuk melihat lebih jelas. Kesepuluh anggota Akatsuki itu berdiri tepat berada di tengah lingkaran itu. Dan ketika Itachi menyadari sesuatu, ia berseru keras pada sang ketua Akatsuki.
"Pain, jangan !" serunya.
KLIK !
BRAK !
Terlambat, Pain telah membuka mata patung tersebut. Lalu sedetik kemudan tanah di bawah mereka bergetar dan terbuka. Benar dugaan Itachi, lingkaran tersebut adalah jalan untuk memasuki kuil Iwagakure.
"GYAAAAAAA !" mereka semua yang sekarang sedang meluncur di batu yang licin berteriak panik. Mereka meluncur semakin dalam. Sementara di luar pintu rahasia itu tertutup lagi.
BRUK !
Mereka terjatuh ke lantai batu yang licin dan berlumut dalam keadaan bertumpuk – tumpukan. "Kakuzu, un ! Minggir, un !" seru Deidara yang berusaha mengenyahkan Kakuzu yang jatuh menimpa dirinya.
"Tidak bisa pirang, Kisame di atasku." ujar Kakuzu kesal. "Bisakah kalian turunkan ikan sialan itu dari sana ?" geram Hidan. Dan beberapa menit yang kacau sebelum mereka meneruskan perjalanan lagi. Karena di tempat itu gelap sekali, mereka menyalakan senter.
"Di mana akhir lorong ini ?" Konan bertanya cemas dan mengeratkan genggamannya pada tangan Pain, "Aku merasa aneh." lanjutnya. "Bukan kau saja yang merasa begitu." sahut Zetsu yang berjalan di belakangnya.
"Lihat, senpai ! Ada cahaya !" seru Tobi yang menunjuk cahaya putih kebiruan. Yang lain menyipitkan mata dan mempercepat langkah. Cahaya tersebut ternyata berasal dari sebuah portal.
"Apa ini ?" gumam Pain sambil mendekatkan diri ke portal tersebut, ia tak bisa melihat apa-apa di baliknya. Pain mengangkat tangannya mencoba menyentuh portal itu. "Jangan !" Konan berseru, dan Pain langsung menghentikan gerakannya.
"Kita belum tahu apakah itu berbahaya atau tidak !" serunya lagi. Di sebelahnya, Hidan memungut sebuah batu, "Kita akan mencobanya sekarang kan ?" ucapnya. Lalu pemuda klimis itu melempar batu tersebut menembus portal.
Semua bisa melihat bahwa batu itu bercahaya sebentar, sebelum cahayanya mati dan mereka tak bisa melihat batu itu karena gelap. Pain mengangkat bahunya, "Aku tak melihat ada bahaya." ia berkata lalu menjulurkan tangannya menembus portal tersebut.
Pain menyernyit, rasanya seperti menembus air, hanya saja tangannya tidak basah. Pelan-pelan ia melangkah melewatinya, tubuhnya bercahaya seperti batu tersebut.
"Pain ?" Konan memanggil dirinya, "Masuklah, tidak ada apa-apa !" balasnya, kemudian ia melihat kepala Deidara muncul dari situ, "Aw, perasaanku jadi nggak enak, un." keluhnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Di belakangnya muncul Sasori yang menyernyit seperti dirinya. "Ini hanya semacam pintu masuk." dengusnya.
Konan yang masuk paling terakhir berjalan menembus cahaya tersebut dengan ragu-ragu. Kemudian, ia terjatuh, wajahnya pucat. "Di sini ada sesuatu, Pain !" ia berseru kalut, "Aku bisa merasakannya setelah melewati gerbang itu ! Aku takut !"
"Tidak ada apa – apa. Itu hanya-"
"Mungkin dia benar, aku juga merasakan sesuatu, un. " ucap Deidara. Sesaat hening, sebelum Pain mengatakan sesuatu, "Kita lanjut," tapi Konan terlihat akan protes lagi. Dan Pain berusaha membujuknya.
"Aku akan melindungimu. Ayo." kata Pain. Mereka kembali meneruskan perjalanan, tapi berhenti lagi karena menemukan sebuah patung di tengah lorong.
"Apa itu ?" tanya Sasori yang menyernyit menatap patung setinggi dua meter itu. Patung itu patung perempuan yang membawa panah dan busur emas. Di sebelahnya ada patung seekor anjing pemburu.
"Ini Artemis," jawab Itachi, "Atau dalam mitologi Romawi disebut Diana."
"Tapi kenapa ada di sini ?" tanya Kakuzu, ia mendekat pada patung tersebut. "Mungkin untuk pajangan saja." ucap Hidan asal. Sementara Sasori terlihat kagum, "Bukankah ini menkjubkan ? Inilah seni yang sesungguhnya." ujarnya. Deidara berdecak mendengarnya.
"Itu bukan seni, un ! Seni itu adalah-"
"Diamlah," kata Pain pendek, ia sudah bosan mendengar perdebatan Sasori dan Deidara tentang seni yang menurutnya hanya sebuah hal konyol.
"Ayo, kita terus." lanjutnya lagi, dan ia kembali melangkah hingga sampai pada sebuah ruangan yang tak terlihat dindingnya karena gelap.
"Halo ?" Pain berseru, dan suaranya bergaung. Ruangan tersebut pasti sangat luas. Pain menyorotkan senternya ke tengah, dan terlihat ada sebuah lubang dan juga 4 pilar yang melingkari lubang tersebut. Mereka semua melangkah menuju lubang tersebut
"Apa yang ada di bawah sana ?" tanya Konan, ia meraba pinggiran lubang tersebut dan menemukan huruf asing yang terukir di situ, "Ada tulisan lagi !" ia berseru.
Itachi berjongkok di sebelah lubang tersebut, "Jangan mengganggunya, kau akan mendatap karma." ia menerjemahkan tulisan tersebut. Sementara Hidan tersenyum puas, "Sepertinya legenda itu benar, aku akan turun-"
"KYAAA !" Konan berteriak histeris, ia menatap sekeliling dengan pandangan takut. "Ada yang datang… Mereka berbahaya… Mereka akan membunuh kita !"
"Tenang !" seru Pain, ia berdiri tepat di depan Konan, "Apa yang terjadi ?" ia bertanya dengan khawatir. "Ada yang datang, semakin dekat…" gadis itu bergumam tidak jelas. Tapi sejurus kemudian ada geraman dari kegelapan di sekeliling mereka.
"Ojii-san ! Apakah jii-san tersesat ? Tobi akan membantu jii-san !" terdengar seruan Tobi. Mereka berbalik dan melihat Tobi sedang mendekati kakek-kakek dengan mata dan mulut mengeluarkan darah.
Semua membatu menatap Tobi, sebelum Konan menjeritkan sesuatu, "Minggir Tobi ! Ia bukan manusia !"
"Eh !?" Tobi menoleh menatap Konan, tepat di saat kakek itu mengambil pisau berkarat dari sakunya dan mengacungkannya ke arah Tobi.
DOR !
Yang lain terkesiap mendengar suara tembakan yang berasal dari Sasori yang masih mengacungkan pistolnya. Tapi semakin banyak makhluk seperti itu yang muncul dari ruangan yang gelap.
"Makhluk apa ini ?" Kisame bertanya sambil menembak dua makhluk berlumuran darah tersebut. "Sepertinya mereka zombie ! Hahahaha !" seru Hidan yang sepertinya tidak melakukan apa – apa, ia mundur teratur ke arah lubang di tengah.
"Diamlah dan lawan mereka !" seru Pain kesal. Ia baru saja menghadapi dua zombie. Ia menoleh ke arah kiri dan terkejut, pemuda itu melihat tiga orang yang pernah mereka temui. Iruka, Kurenai, dan Yamato. Hidan yang juga melihatnya menyeringai.
"Mereka yang gagal akan berada terus disini selamanya," ucap Hidan, "Tapi kita akan berhasil dan aku akan menemukannya !" setelah ia mengatakan itu, Hdan menjatuhkan diri ke belakang dan masuk ke dalam lubang tersebut.
"Hidan !" seru Pain. "Seseorang cepat susul dia !" lanjutnya, dia khawatir pemuda itu akan bertindak sembrono. "Baik !" Sasori berniat menyusul Hidan. Pemuda Akasuna itu menggigit pistolnya dan membuka tas ranselnya.
Sasori mengeluarkan tali tambang dan mengikatkannya pada salah satu pilar di situ. Lalu ia mengikat dirinya sendiri dan melompat ke dalam lubang.
DOR ! DOR !
Deidara yang pucat ketakutan menembak dada salah satu zombie. Tapi tak ada perubahan apa pun, zombie itu tetap berjalan terseret – seret menuju Deidara, "Hiii, un !" pemuda pirang itu terjatuh.
DOR !
Zombie di depannya terjengkang, Deidara menoleh ke belakang dan melihat Kakuzu berdiri di sana, memegang senapan besar. "Kita harus menembak kepalanya." ucap Kakuzu tenang. Deidara merengut kesal, "Aku tahu, aku tahu, un !"
.
.
.
Di dalam lubang…
.
.
.
Sasori menapakkan kakinya, ia mendongak ke atas. Masih terlihat cahaya, tapi ia tak bisa mendengar suara keributan di atas. Sasori menghela nafas, ia melepas talinya. Dan sekarang ia harus mencari Hidan.
"Hidan ?" pemuda berambut merah itu berteriak, suaranya bergaung. Ia menyadari ada sebuah gerakan di belakangnya dan tersentak. Sekarang ia menyesali pilihannya untuk mengikuti Hidan, Sasori merasa seperti sedang diawasi.
Ia berada di sebuah koridor berliku-liku yang penuh dengan pintu di kanan kirinya. Sasori membuka salah satunya dan menemukan ruangan kosong dengan tiga pintu lainnya. Ia mendengus sebal.
SET !
Sasori berbalik, barusan ia merasa ada yang bergerak di belakangnya. Terdengar suara langkah yang semakin samar. Ia lalu melangkah dan membuka pintu yang ada di ujung. Ruangan di dalamnya kosong, ada dua pintu di sana. Sasori membuka pintu yang ada di kanannya.
Jantungnya mencelos, di tengah ruangan ada sebuah kursi berlengan yang membelakanginya. Tapi ia terkejut karena ada yang duduk di baliknya.
Sasori tidak takut pada hantu atau apa pun, maka ia memutari kursi itu dan mendapati seorang gadis duduk di situ, matanya terpejam. Pemuda itu sedikit merinding, apakah gadis itu masih hidup atau sudah menjadi mayat ?
Ia mengangkat tangannya dan mengelus pipi gadis itu, dingin. Tapi perbuatannya itu membuat mata gadis bersurai pink itu terbuka, Sasori mundur selangkah.
"Apa yang kau lakukan di sini ?" iris emerald gadis itu berkilat-kilat. Dan Sasori sadar bahwa gadis bersurai pink itu bukan manusia.
"Kau tidak boleh mendatangi tempat ini !" gadis itu menjerit dan seketika tempat itu bergetar. Gadis itu memakai dress pink sepaha dengan pita coklat di pinggangnya. Ia memakai celana berjaring semata kaki.
Sasori mundur ketika sosok itu mengeluarkan panah dan busur dari udara kosong. Ia lalu berlari ke ruangan kosong tadi dan menuju pintu keluar, tapi dengan cepat gadis itu menghadangnya sambil berdesis mengerikan, Sasori melompat mundur mengeluarkan pistolnya.
DOR !
Ia berniat menembak pundak gadis di depannya, tapi sudah gadis itu merunduk dan menyerang Sasori dari bawah, ia menarik busurnya. Sasori bergerak ke kanan, dan merasakan sesuatu menggores tulang pipinya. Ia meringis, sementara gadis itu bersiap melesatkan anak panah lagi.
Mendadak pintu menjeblak terbuka dan Hidan masuk. Sebelum gadis itu sempat menyadarinya, Hidan telah memasangkan kalung dengan lonceng kecil sebagai liontinnya.
Gadis itu terjatuh, Hidan menangkapnya dan membawanya dengan bridal style. "Kemana saja kau ini ?" ucap Sasori kesal, sementara Hidan masih menatap gadis itu. Lalu ia mendongak, "Lihat apa yang kutemukan." ia menyeringai dan menunjukkan sebuah potongan aneh.
"Ini potongan mahkota ?" sahut Sasori bingung. "Darimana kau mendapatkannya ?" ia terdiam sebentar lalu bertanya lagi, "Dan apa yang kau lakukan pada dia ?" Sasori menunjuk gadis yang sepertinya pingsan tersebut.
"Sepertinya itu kelemahannya." jawab Hidan ragu-ragu. "Ayo kita kembali." ajaknya, ia melangkah keluar, tapi Sasori tetap di tempatnya. "Kau tak berniat membawanya kan ?" Ia melotot ke arah Hidan.
"Tentu saja. Ayo cepat-"
"Lepaskan Sakura-hime." mereka menoleh dan mendapati ada seorang gadis berambut pirang menghalangi jalan mereka menuju koridor.
"Siapa kau ? Minggir !" seru Hidan kasar. Tapi gadis yang membawa pedang itu tetap di tepatnya, iris sapphire miliknya menatap Hidan tajam, "Jangan sentuh Sakura-hime dengan tangan kotormu !" jerit gadis itu.
"Sasori, bawa dia !" HIdan melemparkan gadis yang digendongnya pada Sasori, sementara gadis dengan pakaian coklat itu menggeram marah. Ia melangkah ke arah Sasori, tapi dihalangi oleh Hidan. "Sasori, pergilah !" seru Hidan lagi, Sasori mengangguk dan berlari pergi
Gadis itu sepertinya murka, rambut pirangnya yang diikat tinggi berkibar-kibar. Dan Hidan mulai merasakan angin di sekitarnya. "Kamaitachi !" seru gadis itu sambil mengayunkan pedangnya. Hidan tak bisa melihat apa-apa, tapi ia merasakan sesuatu yang buruk dan menunduk
"Damn !" ia mengerang karena sesuatu yang tajam mengiris pundaknya. Ia bangkit lagi dan dengan cepat berlari menuju gadis itu. Karena terkejut, gadis itu tak sempat melakukan apa-apa, ia menerima pukulan Hidan, dan menabrak dinding, lalu pingsan.
Sementara Hidan melongo, tak percaya karena pukulannya bisa menyebabkan dampak seperti itu. Ia mengangkat bahu, menghampiri gadis itu dan membawanya. Tapi ia berhenti ketika tanah di bawahnya bergetar keras.
"Kuil ini akan runtuh… Cepat keluar… Sakura-hime…" gadis itu bergumam dengan suara pelan, Hidan mendecih dan mulai berlari lagi.
.
.
.
Di tempat Pain dkk…
.
.
.
Konan yang selama ini hanya terduduk mengawasi dengan ngeri ketika teman – temannya bertarung dengan zombie itu mendengar suara Sasori. Ia segera menoleh dan mendapati pemuda berambut merah itu memanjat lubang dengan susah payah.
"Sasori, siapa dia ?" tanya Konan sambil membantu Sasori. "Nanti saja kuceritakan." Sasori melepas tali yan mengikatnya dan melemparkannya kembali ke bawah, "Semoga Hidan selamat." ucapnya pelan.
"Tunggu, di mana Hidan !?" tanya Konan lagi, Sasori menjawabnya dengan berat, "Dia bertarung dengan seorang gadis."
"Seorang gadis ? Maksudmu ada yang tinggal di bawah sana ?" Sasori tak menjawabnya, ia segera menembak zombie yang menuju ke arah mereka. Konan menatap gadis berambut pink tersebut, ia merasa ada aneh pada gadis itu. Nalurinya mengatakan bahwa gadis itu berbahaya.
DOR !
Sebuah peluru melesat beberapa senti dari wajah Itachi, ia menoleh dengan wajah pucat dan mendapati Tobi membawa sebuah pistol, "Wah, ini berat !" seru Tobi entah kepada siapa, ia mengacungkan mulut pistol ke langit – langit dan menarik pelatuknya, "Tobi suka ini !" ia berseru lagi.
Itachi memandangnya datar dan merebut pistolnya, "Tunggulah di sana bersama Konan." jelas ia tak mau mati hanya karena hal konyol seperti ini. "Baik, senpai !" ucap Tobi dan segera berjalan santai ke arah Konan.
Itachi menghela nafas dan kembali menembak.
"Cih !" Pain berseru kesal, pelurunya habis, sementara zombie-zombie tersebut semakin bertambah banyak. Tak ada waktu lagi untuk mengisi pelurunya, maka ia menendang salah satu zombie. Membuat zombie itu terjerembab ke tanah yang langsung retak dengan bunyi mengerikan, semua terpana.
"Bagaimana kau bisa sekuat itu Pain ?" tanya Zetsu yang berhenti sebentar dari kegiatan menembaknya. "Entah, setelah melewati portal itu, aku…" kata Pain ragu-ragu.
"Berarti kau sama denganku !" seru Kisame, ia membuang pistolnya yang kosong dan menendang zombie lain hingga kepalanya hancur. Tapi saat itu tanah mulai bergetar, dan langit – langit mulai runtuh.
"Kita harus pergi, un !" ujar Deidara sambil melindungi kepalanya. "Tapi Hidan masih di dalam !" seru Konan, semuanya berpandangan panik. Tapi sesaat kemudian mereka mendengar suara Hidan dari lubang, partnernya menghampiri lubang tersebut.
"Oi, Kakuzu !" seru Hidan dari bawah sana, tinggal beberapa meter sebelum ia mencapai teman-temannya. "Bawa dia !" lanjutnya lagi, ia mencoba melempar gadis itu ke atas. Kakuzu membungkuk dan menangkapnya, ia menyernyit pada gadis pirang itu.
"Hidan, cepatlah !" teriak Pain sambil menoleh ke sekeliling dengan cemas. Banyak zombie yang tertimpa batu-batu besar yang runtuh.
Ia menjulurkan tangannya untuk membantu Hidan, tapi tidak jadi, ada sebuah batu yang runtuh dan tepat masuk ke dalam lubang. Dan mereka mendengar dengan jelas umpatan pemuda bermata amethyst tersebut.
"Pintu keluarnya…" bisik Itachi.
Semua menoleh, ada batu besar yang nyaris menghalangi jalan menuju lorong tersebut. Pain menoleh lagi pada Hidan, "Cepat !" serunya. Hidan mengumpat lagi lalu berseru keras pada Pain, "Kalian pergilah ! Nanti kususul !"
Yang lain berpandangan sekali lagi, lalu berlari menuju lorong sambil menembaki zombie yang menghalangi jalan mereka. Sementara Sasori menyambar tubuh gadis berambut pink tersebut dan mengikuti mereka.
Kesembilan anggota Akatsui terus berlari sepanjang lorong. Di situ malah lebih parah, banyak dinding yang sudah runtuh, dan menampilkan ruangan rahasia di baliknya.
Salah satu ruangan berisi banyak harta yang berserakan. Kakuzu melihatnya dan memandang harta itu dengan tajam seolah tak rela jika harta itu terkubur bersama reruntuhan kuil ini.
Tapi toh ia terus berlari, meski sambil menggerutu kesal. Tiba-tiba Pain yang memimpin di depan berhenti, membuat Tobi menabrak pemuda berambut oranye tersebut. Yang lain menampilkan wajah bingung, tapi langsung bergenti ngeri ketika melihat apa yang ada di depan mereka.
Lorong tersebut runtuh, menutupi jalan keluarnya. Mereka berbalik, tepat ketika Hidan berlari ke arah mereka.
"Hei !"seru Hidan, kepalanya mengeluarkan darah. "Hidan, awas !" seru Zetsu yang mendongak ke atas. Ada sebuah batu besar yang akan menimpa Hidan. Pemuda itu menyadarinya dan menghindar ke kiri.
BRAK !
"Aaaarrghh !" Hidan berteriak kesakitan, kaki kanannya tertimpa batu tersebut.
Yang lain segera menghampirinya dan mencoba menyingkirkan batu tersebut. Setelah beberapa saat, mereka berhasil. Tapi kaki kanan Hidan dari lutut ke bawah telah hancur. Ia mengerang lagi.
Pain mengangkat pemuda itu dan memapahnya. Mereka kembali lagi, mencoba mencari jalan keluar yang lain. Tapi sayang, lorong menuju ruangan penuh zombie tersebut juga tertutup. Dengan kata lain, mereka terperangkap.
"Bagaimana ini, un ?" tanya Deidara panik, sementara makin banyak batu yang menghujani kepala mereka. Entah karena apa Hidan tertawa keras "Bertobatlah kepada Jashin ! Hahaha !"
Pain menatapnya tajam, lalu berkata, "Kita tidak akan mati hari ini. Tidak karena tertimpa batu-batu ini."
"Tapi lihat kenyataannya !" seru Hidan lagi sementara yang lain terdiam. Getaran semakin keras dan ada suara mengerikan dari atas. Tanah di atas amblas dan menyebabkan longsoran. Dan ketika tanah bergetar lebih keras lagi, semua menutup mata dan pasrah.
Kakuzu merasa gadis yang digendongnya melompat turun, lalu ia mendengar sesuatu. "Wind Shield !" seru gadis berambut pirang tersebut. Kemudian terdengar suara hembusan angin dan tak ada lagi batu yang menghujani mereka.
Hening, Pain membuka matanya. Getaran sudah berhenti, tapi mereka terkurung, tak ada jalan keluar. ia menoleh pada gadis di depannya yang masih membawa pedang dan terengah.
"Siapa kau ?" tanya gadis itu, sementara yang lain menatap gadis itu dengan penuh tanda tanya. Pain menyernyit, "Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu. Siapa kau ?" balasnya. Sementara gadis itu berdecak sebal.
"Aku Yuiko Aihara," gadis itu memperkenalkan dirinya, "Pengawal Sakura-hime." sesaat ia menoleh mencari-cari sosok gadis berambut pink tersebut dan terkejut ketika melihat gadis yang ia sebut Sakura itu bersama Sasori.
"Lepaskan dia manusia !" ia berlari ke arah Sasori, melakukan gerakan aneh terlebih dahulu sebelum menyambar Sakura.
"Manusia jahat ! Kalung ini bisa membunuhnya !" ia lalu melepaskan kalung yang melingkari leher Sakura dan menyimpannya di tas kecil yang terikat di ikat pinggangnya.
Pelan-pelan gadis bernama Sakura itu membuka matanya. Yuiko segera berlutut di hadapannya, "Sakura-hime, mohon pinjamkan kekuatanmu agar kita dan… manusia-manusia ini bisa keluar." Yuiko menatap sebal para anggota Akatsuki.
"Apa tujuan kalian membawaku keluar ?" tanya Sakura, ia memandang angkuh para anggota Akatsuki. Deidara segera menjawab, "Kami ingin menggunakan kekuatanmu-"
"Tidak ! Kami ingin… Kami ingin membebaskanmu dari kutukan itu !" seru Konan memotong perkataan Deidara. Yuiko menyipit memandangnya, tapi sepertinya Sakura percaya pada jawaban Konan, "Benarkah ?" ia terlihat berseri-seri.
"Tentu, sekarang keluarkan kami dari sini !" teriak Hidan, kondisinya semakin parah. Sakura kaget mendengarnya, ia menoleh pada Yuiko.
"Buat jalan keluar dari atas." perintahnya pada perempuan pirang tersebut. Yuiko mengangguk patuh, ia berjalan ke tengah, mengangkat pedangnya, dan memejamkan mata.
"Tornado !" serunya. Muncul pusaran angin mengelilingi dirinya, semakin lama semakin besar dan tinggi, mengangkat batu-batu dan tanah di atas mereka. Hingga akhirnya ada cahaya menelusup masuk.
"Kau tak menyuruh kami memanjat ke atas kan ?" Sasori menyernyit, memandang jalan keluar yang kira-kira setinggi 10 meter dari mereka. Yuiko menjawab dengan judes, "Tentu tidak baka ! Sakura-hime yang akan mengeluarkan kita !"
"Stone pillar !" ucap Sakura, dan tiba – tiba, tanah di bawah terangkat naik, mengangkut mereka ke atas, seperti lift. Setelah sampai mereka mengerjap-kerjapkan mata yang terlalu lama berada dalam gelap.
Keadaan di situ sangat berantakan, tanah turun sekitar 5 meter, dan penuh dengan batu-batu hasil kekuatan Yuiko tadi.
Matahari sudah terbit, mereka di dalam sana cukup lama. Pain menoleh, sepertinya tempat mereka cukup jauh dari tempat mereka memarkir mobil tadi. Ia berharap mobilnya masih dalam keadaan utuh. Pain melirik Hidan yang masih mengerang kesakitan, "Ayo kita pergi ke-"
"Jangan bergerak." mereka berbalik dan kaget ketika melihat empat orang menodong mereka dengan pistol.
Empat orang itu yang Pain lihat di televisi dua minggu yang lalu. Salah satunya sudah mereka kenal, dan itu membuat Itachi membelalak menatap orang tersebut, "Berikan gadis itu." ucapnya lagi sambil menunjuk Sakura.
Sepertinya mereka tidak menyadari kehadiran Yuiko. Dan Pain membuat tanda isyarat agar Yuiko bersembunyi di balik batu besar di dekat mereka. "Berikan gadis itu atau kubunuh orang ini." tambahnya lagi ketika seorang pemuda pirang menyeret seseorang bertopeng.
"Senpai ! Tolong Tobi senpai !" serunya. Sementara kesembilan anggota yang lain sweatdrop. "Ayo cepat." ucapnya lagi dengan tidak sabar.
"Sasuke ? Kenapa ?" tanya Itachi yang masih memandang Sasuke tak percaya. Adiknya itu sekarang sedang menyandera salah satu temannya, bukan, Sasuke sedang menyandera saudaranya sendiri.
"Cepat, berikan gadis itu." ucap Sasuke lagi. Tetapi Sakura tetap di tempatnya, dengan ekspresi ragu-ragu.
"Sakura-hime…" bisik Yuiko khawatir. Merasa tak ada pergerakan apa pun, Sasuke menembak kaki Tobi.
DOR !
"Gyaaaaa ! Tolong Tobi ! Deidara-senpai tolong Tobi !" Tobi berteriak semakin histeris, sementara dengan perlahan, Sakura berjalan ke arah Sasuke dan melewatinya. Tangannya mengepal.
"EARTH-"
"Stop." tiba-tiba seorang pemuda berambut coklat panjang telah berada di sebelahnya dan mencengkeram tangannya. Sakura terkejut dan menoba menepis tangan pemuda itu, tapi sia – sia.
"Kenapa pemuda Hyuuga itu bisa menahan kekuatan Sakura ?" bisik Sasori kepada Kisame yang berada di sebelahnya, Kisame yang tidak tahu hanya mengangkat bahunya.
Sasuke mendorong Tobi ke arah Konan yang sudah hampir menangis. Keempat orang itu mulai berjalan mundur, lalu tiba-tiba Sakura berseru, "Aku memegang janji kalian yang akan melepaskan kutukanku !" ia berucap begitu tanpa melihat para anggota Akatsuki.
Yuiko terlihat sangat marah dan ingin menyerang keempat pemuda itu, tapi dihalangi oleh Pain, "Jangan sampai mereka menangkapmu juga." ucap Pain. Dan Yuiko membuang muka kesal.
Set !
"Diam di situ Akasuna, atau mau kubuat lubang di kepala gadis ini ?" ancam Sasuke. Dan Sasori pun menurunkan pistolnya.
"Kenapa kau melakukan ini Sasuke ?" tanya Itachi yang sekarang menatap tajam Sasuke, "Bukan kalian saja yang menginginkan ini..." balas Sasuke sambil menyeringai. Sementara yang lain menatap kakak beradik itu dengan penuh minat.
Sasuke memejamkan mata, lalu berkata, "Dan yang terpenting..." Sasuke membuka matanya lagi, "...Aku ingin lepas dari bayang – bayangmu…" Sasuke semakin mundur hingga sampai pada mobil hitam, sementara Neji memasukkan Sakura dengan kasar pada mobil biru.
Sasuke dan Naruto masuk pada mobil hitam, sementara Neji dan Kiba pada mobil biru. Mereka segera melaju meningalkan Akatsuki dan kekacauan di sini. Pain mengacak rambutnya kesal. Yuiko bangkit dan memandang Hidan dengan kasihan, sebelum membuka tas dipinggangnya.
"Makan ini." ucapnya pada Hidan, ia mengulurkan buah bundar kecil berwarna merah. Hidan memandangnya curiga, "Apa itu ?" Yuiko yang mendengar itu langsung meledak marah, "Ini buah untuk menyembuhkan segala penyakit, baka !"
HIdan hanya bergumam tak jelas, ia mengambil buah itu, mengamatinya sebelum memakannya, "Manis." komentarnya beberapa saat kemudian. "Tentu saja ! Itu buah yang hanya tumbuh seratus tahun sekali ! Buah yang juga bisa membangkitkan orang mati !" seru Yuiko dengan bangga.
Hidan nyaris tersedak, sementara yang lain terbelalak menatap Yuiko, "Benarkah itu, un ?" tanya Deidara. "Iya, dulu banyak tanaman seperti ini. Tapi sekarang langka, itu pun hanya menghasilkan tujuh buah setiap satu abad." jelas Yuiko lagi.
Hening, tak ada yang bersuara sebelum Konan bertanya dengn ragu – ragu, ia memandang Yuiko dengan berharap, "Bisakah kau ceritakan tentang semua ini ?"
Yuiko duduk di salah satu batu di situ, ia pun menjelaskan, "Dulu di sini ada kerajaan," ia memandang sekeliling dengan sedih, "Kerajaan dengan kekuatan besar, karena mereka bukan manusia-termasuk Sakura-hime dan aku."
"Sakura-hime punya lima saudari. Dan mereka diagungkan, karena kekuatan mereka. Dan ditakuti, juga karena kekuatan mereka. Mereka dianggap reinkarnasi keenam dewi."
Yuiko melamun sebentar, lalu menunjuk hutan lebat, "Dulu di sana ada taman, aku sering ke sana bersama Haruka-hime…" suaranya semakin mengecil lalu hilang. Yuiko kembali melamun.
"Tapi di mana kerajaannya ?" tanya Pain. Yuiko tersentak, tapi matanya tetap tidak fokus, ia melanjutkan, "Ada satu dari sekian banyak peraturan yang tidak boleh kami langgar. Dan sayangnya, Ino-hime melanggarnya."
"Apa peraturannya ?" tanya Konan pelan. Yuiko menarik napas, "Kami tidak boleh jatuh cinta pada manusia…" tuturnya.
Tapi ia menambahkan dalam hati, '…Pada manusia yang kotor dan menjijikkan…"
"Akhirnya mereka berenamdikutuk. Kerajaan terkubur ke dalam tanah, banyak orang yang mati. Dan anggota kerajaan yang selamat akan terus hidup abadi." lanjut Yuiko.
"Berarti kau abadi ?" celetuk Zetsu. Yuiko menoleh padanya. "Ya, kami terkunci di usia kami," ia mengibaskan tangannya.
"Yah, tapi tetap saja aku bisa diserang dan mati. Kami bisa hidup normal jika kutukannya lenyap." lanjutnya.
"Sebenarnya masih ada orang-orang lainnya di bawah sana." gadis itu memandang tanah, ia menghapus air mata yang mengenang di pelupuk matanya.
"Beberapa orang pengkhianat keluar dari kuil dan membaur dengan zaman ini." ucap Yuiko setelah beberapa saat hening.
"Yuiko-san, kalau begitu di mana reinkarnasi dewi yang lain ?" tanya Kisame pada Yuiko yang langsung tersentak, ia lupa menjelaskan.
"Ehem, setelah kutukan itu berjalan, ada banyak orang yang menghilang. Kurasa mereka tidak mati, hanya dipindah ke kuil-kuil lainnya." jelasnya.
"Begitu juga dengan para reinkarnasi dewi itu. Yang lain terpisah, kecuali Sakura-hime yang dihukum untuk tetap menjaga kerajaan ini." lanjut Yuiko.
"Tunggu, berarti kelima orang yang lain berada di tempat yang terpisah ?" sahut Kakuzu, dan Yuiko mengangguk,"Sampai sekarang aku sulit untuk memaafkan perbuatan Ino-hime." tambahnya, ekspresinya mengeras.
"Dan satu-satunya cara untuk melepaskan kutukannya hanya dengan menyatukan mahkota ini," Yuiko mengacungkan sebuah potongan mahkota, sementara Sasori terkesiap dan memeriksa sakunya. "Hei, sejak kapan kau mengambilnya !?" seru Sasori.
Yuiko mengedip pada Sasori lalu menjelaskan lagi, "Setelah ada yang menyatukan mahkota ini, orang itu mengucapkan satu permintaan," Yuiko terlihat ragu – ragu untuk melanjutkan, "Tapi harus ada bayarannya."
"Apa bayarannya, un ?" Deidara kini yang bertanya, tapi Yuiko hanya mengangkat bahu, "Aku tidak tahu." ucapnya singkat, ia menatap sekeliling lagi.
Atensinya tertuju pada Tobi yang santai dan terlihat sangat menikmati ceritanya. "Hei kau manusia bertopeng ! Bukankah kakimu terluka ?" ia berseru pada Tobi.
Tobi mengangkat tangannya kaget. "Gyaaaa ! Tobi terlukaaa ! Tobi berdarah ! Tolong Tobi ! Gyaaaa ! Tobi akan mati !" ia berteriak histeris. Yang lain sweatdroplagi saat melihatnya, Yuiko mengambil buah merah itu dan melemparkan pada Tobi yang langsung menangkapnya.
Tobi membuka topengnya sedikit dan memakan buah itu, "Terima kasih Yuiko-chan !" serunya lagi. Yuiko tersenyum setengah hati, "Kita harus mencari Sakura-hime." ia bangkit berdiri.
"Tapi kita juga harus mencari kuil selanjutnya agar tidak didahului mereka." ucap Kisame. Semuanya berpandangan, menimbang-nimbang kedua pilihan itu. Sampai akhirnya Pain menghela napas dan berkata, "Kita bagi dua saja, siapa yang ikut mencari gadis itu ?"
Itachi, Zetsu, Tobi, Deidara, dan ia sendiri mengangkat tangan. Pain mengangguk, "Jadi sisanya mencari kuil-"
Bruk !
Mereka menoleh, Hidan yang masih berlumuran darah terjatuh, ia pingsan. "Kenapa dia ?" tanya Sasori yang paling dekat dengan Hidan, ia berjongkok di sebelahnya. "Khasiat buah itu sudah bekerja." kata Yuiko singkat.
Tiba-tiba Zetsu teringat sesuatu, "Bisakah kau jelaskan mengapa kekuatan kami meningkat ?" tanyanya pada Yuiko, tapi gadis yang memakai legging hitam itu balas memandang Zetsu dengan bingung. "Aku tidak tahu..." ia menjawab pelan. Sesaat hening.
"Baiklah. Ayo." ajak Pain, mereka semua beranjak dan berjalan ke tugu, tempat mobil mereka diparkirkan di dekat situ. Yuiko menatap tak percaya keenam mobil tersebut.
"Kira-kira ke mana Sasuke dan yang lain pergi ?" tanya Konan. Semua tampak berpikir, sampai Tobi menjawab, "Mungkin mereka kembali ke kota senpai ?" Pain menyernyit mendengar jawaban tersebut. "Dari mana kau tahu ?" ia balik bertanya pada Tobi.
"Tobi tebak Sasuke-senpai dan temannya mengikuti kita semalaman ini. Sekarang mereka kembali ke kota untuk makan ! Soalnya mereka kelaparan, sama seperti Tobi !" serunya, dan tepat pada saat itu, mereka semua mendengar perut Tobi berbunyi.
Deidara mengibaskan tangannya, "Jawaban konyol, un." ucapnya meremehkan. "Mereka pasti berada-"
"Tidak, Tobi benar." potong Itachi, membuat Deidara menyernyitkan alisnya. Pemuda Uchiha itu memegang gadget canggihnya, "Mereka berada di kota." lanjunya lagi sambil menunjukkan layargadgetnya pada yang lain.
"Sunagakure ?" bisik Konan pelan saat melihat peta yang ada di layar gadget Itachi. "Tapi bagaimana kau-"
"Aku memasang GPS pada handphone Sasuke," jelas Itachi. "Ia masih saja lengah." ia berkata dengan pelan. Sejenak hening, sebelum Kisame bertanya, "Kita pergi ke kuil yang mana ?"
"Mungkin ke Sunagakure saja, agar bisa bersama." jawab Pain, tapi Yuiko menggeleng kuat-kuat, "Jangan." cegahnya.
"Kita butuh strategi untuk menghadapi musuh-musuh lain jika ada," ucapnya. "Aku ingin kita ke Kumogakure, menemui Saori-hime yang pintar. Ia bisa membuat strategi dengan cepat." ucap Yuiko lagi.
"Jadi kita berpencar, begitu." Itachi menyimpulkan. Pain menghela napas, "Ya, kita berpencar. Yang lain ke Kumogakure."
"Tidak," ucap Itachi lagi dengan tajam. "Yuiko-san, kau ikut dengan mereka." lanjutnya. Yuiko memandangnya heran sekaligus kesal, "Kau tak berhak memerintahku manusia ! Aku harus menyelamatkan-"
"Kubilang tidak. Kami baru lolos dari bahaya di kuil ini. Mungkin di kuil Kumogakure ada lebih banyak rintangan lagi, mengingat pintarnya Saori yang tadi kau ceritakan. Kau lebih tau kuil-kuil ini dibandingkan kami." ucap Itachi panjang lebar.
"Sementara kami pasti bisa mengatasi empat orang remaja yang hanya membawa pistol." lanjut Itachi yang tidak seperti biasanya. Alasannya memang logis, tapi ia terlihat terlalu memaksakan kehendaknya. Sementara itu, Yuiko berpikir keras sambil menggiggit bibir bawahnya
"Mungkin kau benar," Yuiko menghela napas, "Tapi pastikan Sakura-hime selamat ya." tambahnya sambil mengedip pada pemuda Uchiha tersebut. Itachi hanya mengangguk.
"Baiklah. Kita pergi sekarang." komando Pain, ia memapah tubuh Hidan menuju tempat mobil-mobil mereka terparkir.
.
.
.
Bagaimanakah perjalanan mereka mencari kuil selanjutnya ?
Dan apakah mereka berhasil mengejar Sasuke dkk ?
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
A/N : Hai, minna ! Author mau ngasih tau dulu kalau OC nya dimunculkan secara bertahap ya. Sesuai dengan para Akatsuki yang menemukan kuil-kuil berikutnya ^^ Tapi pasti semuanya muncul kok.
Dan silahkan, untuk yang mau daftar OC lagi. Dan untuk OC yang pairing sama anggota Akatsuki akan author pilih yang lebih dulu review.
Semoga author nggak bikin kecewa ya^^ Kan masih ada anggota Akatsuki lainnya yang jomblo *nunjuk KisaKakuHidZet* Tapi Kakuzu-kun tetep punya saya ! *peluk Kakuzu**ditimpuk*
Review please. Arigatou minna ^^
