Akatsuki Journey

.

.

.

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Adventure, Romance, Mystery, and little bit Humor

Pair : [Akatsuki X OC][Pain X Konan] [Sasuke X Sakura][Naruto X Hinata]

Warning : Gajelas, AU, maybe OOC, misstypo, dan segala kekurangan lainnya !

Don't Like Don't Read

Happy Reading !

.

Akatsuki Journey :

Chapter 4 : This Is Betrayal ?

.

.

.

"GROAAAR !"

BRAAAK !

Langkah mereka semua terhenti dan mereka pelan-pelan menoleh ke belakang, tak ada apa pun, tapi tanah mulai bergetar dan disusul dengan raungan mengerikan lagi. Yuiko mendadak pucat.

"Sial ! Aku lupa kalau masih ada dia ! Sial ! Berhati-hatilah manusia ! Dia itu sangat berbahaya !" seru Yuiko, ia menoleh sekeliling dengan was-was sambil mengangkat pedangnya. Tiba-tiba Konan memejamkan matanya, ia terlihat berkonsentrasi.

BRUK !

Sebuah getaran keras, seperti ada yang terjatuh di bawah sana. Dan gempa perlahan berhenti. "Sudah, un ? Hanya ini sajakah, un ?" tanya Deidara dengan nada meremehkan. Yuiko mendelik tajam padanya.

"Jangan salah manusia ! Kau tidak tahu betapa mengerikannya makhluk itu ! Dia adalah-"

BRAAAK !

"GRAAAAA !"

Suara itu terdengar lagi, sepertinya berasal dari perut bumi. Getaran kali ini terasa lebih kencang. Mereka semua mundur ke arah mobil dengan pandangan cemas ketika melihat retakan-retakan muncul di tanah.

Getaran makin menguat, dan retakan itu membuat sebuah rekahan di tanah yang makin lama makin besar.

Pain terlihat lebih panik lagi saat mengetahui Konan masih berdiri di sisi yang lain dengan mata terpejam. Pemuda itu menyerahkan Hidan yang masih pingsan pada Kisame yang ada di sebelahnya lalu berlari melompati rekahan tersebut.

Konan masih memejamkan mata, sebuah kernyitan muncul di wajahnya. Sementara itu Pain melongok ke bawah rekahan tersebut sambil tetap menjaga keseimbangan tubuhnya akibat guncangan ini. Uap panas muncul dari sana.

Getaran berhenti.

"Minggir ! Menyingkirlah dari sana Pain ! Ada sesuatu yang akan keluar dari situ !" teriak Konan, gadis itu berlari menuju Pain yang belum sepenuhnya mengerti apa yang ia teriakkan. Konan menarik Pain mundur tepat waktu.

ZUOOORR !

Semburan lava keluar dari rekahan tersebut dan memancar ke atas. Pain memandangnya tak percaya, ia merasa Konan mencengkeram erat lengannya.

Semburan lava berhenti, tapi getaran semakin menguat. Dan puncaknya, ia melihat sebuah tangan raksasa berbulu merah memanjat keluar dari rekahan tersebut. Lalu disusul dengan tangan lainnya sebelum makhluk itu meloncat ke atas.

Makhluk raksasa itu mendarat dengan suara berdebum yang keras, membuat debu dan pasir mengepul, menyamarkan sosok makhluk tersebut. Beberapa saat kemudian, debu menipis. Dan Pain menganga saking kagetnya.

Itu kera. Kera raksasa berbulu merah. Kera bertubuh sangat besar dengan empat ekor. Monster itu meraung lagi dan memukulkan kepalan tangannya ke tanah, membuat sebuah gempa lagi.

Pain dan Konan mundur perlahan-lahan. Pemuda bertindik itu merasa Konan merintih-rintih ketakutan. Dan sialnya, kera itu melihat mereka dan mulai berjalan mendekati kedua orang itu. Pain dan Konan mundur semakin cepat.

DUK !

Punggung Pain membentur sesuatu. Ada sebuah batu besar menghalangi jalan mereka.

Pain berdiri di depan Konan dan merentangkan tangannya, mencoba melindungi gadis yang disayanginya. Tapi Pain tahu ini sia-sia. Monster itu bisa membunuhnya sekali tebas. Pain menelan ludah dan memejamkan mata ketika si kera makin mendekati mereka berdua.

SYAT !

SYAT !

SYAT !

"Hei, monyet jelek !"

Tak ada yang terjadi, malah terdengar suara Yuiko yang berteriak mengejek si kera. Pain memberanikan diri membuka mata. Kera itu tampak terganggu dengan pusaran angin kecil yang terus menghantam kepalanya.

Si kera mengangkat tangannya dan mengibaskannya, mencoba mengenyahkan pusaran angin tersebut. Pain menoleh ke arah teman-temannya, terlihat Yuiko yang berdiri di atas sebuah batu besar.

Tangan kirinya teracung ke depan, dan mini tornado tak henti-hentinya keluar dari situ dan dengan tepat mengenai sasarannya.

DOR !

DOR !

"Lawanmu aku !" seru Sasori yang ikut-ikutan memprovokasi sang kera. Ia menembakkan pelurunya ke tubuh si kera. Tak ada hasilnya. Tapi toh si kera mendengar suara tembakan Sasori dan berlari kencang ke arah mereka.

Si kera membuka mulutnya dan menyemburkan lava ke arah para anggota Akatsuki. Yuiko segera melompat ke depan mereka dan mengacungkan pedangnya ke atas, "Wind Shield !" serunya.

Segera muncul perisai angin yang berputar-putar mengelilingi mereka, melindungi kedelapan anggota tersebut dari lava panas yang bisa melelehkan mereka semua.

Meski tidak enak juga sih, berada dalam pusaran angin kencang yang mengibarkan rambut masing-masing dan membuat pasir masuk ke mata mereka.

"Ugh..." Yuiko mengeluh ketika semburan lava semakin kuat, ia merasa perisainya mulai goyah. Tapi gadis itu segera menambah kekuatannya lagi, hingga semburan lava perlahan semakin lemah hingga akhirnya berhenti. Yuiko melepaskan perisai anginnya.

Gadis itu menatap bingung si kera yang terdiam, dan hanya memandang marah mereka. Tapi kemudian Yuiko paham bahwa kera tersebut butuh jeda waktu untuk melancarkan serangan berikutnya.

"Kamaitachi !" seru Yuiko sambil menyabetkan pedangnya.

Kera yang berada beberapa meter di depannya hanya menyernyit saat serangan tak kasat mata Yuiko tidak berhasil melukainya.

"Kamaitachi !" seru Yuiko lagi sambil terus mengerahkan kekuatannya. Serangan ini berupa tebasan-tebasan pedang tak kasat mata yang melukai musuh di depannya. Ia berhasil, serangannya membuat torehan-torehan dalam pada tubuh si kera yang sekarang menggerung kesakitan.

Dan Itachi yang merasa dipanggil-panggil hanya menatap bingung Yuiko (?)

"KIIK ! KIIIK !"

Kera tersebut kembali memukulkan kedua kepalan tangannya ke tanah. Dan kali ini muncul stalagmit-stalagmit yang tumbuh di bawah kaki mereka. Tapi untunglah, Yuiko dan para anggota Akatsuki berhasil menghindarinya.

"KIIIK ! KIIIK ! KIIK !"

Si kera membuka mulutnya lagi dan melepaskan bola api ke arah mereka. Yuiko yang sedikit lengah buru-buru melancarkan serangan lagi. Sayang, ia melancarkan serangan yang salah.

"Tornado !" seru gadis pirang itu. Lalu terbentuk sebuah pusaran angin yang menabrak bola api di depannya. Tetapi, pusaran angin tersebut malah membuat api menyebar ke mana-mana. Dan salah satu lidah api mengenai tangan kiri Yuiko.

"KYAAA !" gadis itu menjatuhkan pedangnya lalu tersungkur ke bawah. Sementara bola api itu masih tetap terbang ke arah kedelapan anggota Akatsuki yang lain. Si kera membuka mulutnya lagi dan mengeluarkan lebih banyak bola api.

"Tidaaak !" seru Pain ngeri melihat teman-temannya dalam keadaan bahaya.

"Tsunami !" tiba-tiba terdengar suara seseorang yang rasanya familiar bagi pemuda berambut oranye tersebut. Dan dari arah kanan muncul bergalon-galon air yang memadamkan bola api tersebut.

Air itu semakin banyak dan mengarah pada si kera. Air tersebut juga memadamkan bola api lainnya.

ZRAAAASH !

Air itu menerjang si kera dengan suara keras. Tapi serangan ini tak berhenti begitu saja."Spiral Wave !" seseorang itu berteriak lagi. Dan kali ini air tersebut berputar mengelilingi si kera. Makin lama makin kencang, hingga membentuk suatu kurungan dari air.

Kera tersebut terperangkap dan tak bisa bergerak. Tapi semuanya tersentak kaget ketika sosok kera tersebut mendadak lenyap. Kurungan air tersebut hancur. Sebagian air yang tersisa masuk ke dalam rekahan, dan sebagian yang lain menggenangi tempat tersebut.

Pain menengok ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari orang yang menyelamatkan mereka. Mata pemuda itu membulat ketika menemukannya. Ia sangat mengenal orang tersebut.

"Jiraiya-sensei !" seru Pain yang telah berlari menuju pria berambut putih tersebut. Konan berlari kecil di belakangnya. Jiraiya tersenyum melihat keduanya.

"Pain, Konan," ucap Jiraiya pelan, "Kalian baik-baik saja ?" tanyanya. Pain menjawabnya dengan cepat, "Kami tak apa. Jiraiya-sensei, apa yang sensei lakukan di sini ?"

"Raungan makhluk tersebut terdengar sampai beberapa kilometer dari sini. Dan gempa-gempa yang terjadi juga tidak pelan," jelas Jiraiya, ia berpikir sebentar. "Warga Iwagakure ketakutan dan segera berdoa di kuil bersama-sama." lanjutnya sambil terkekeh.

"Jiraiya-sensei..." panggil Konan. Gadis itu terlihat ragu-ragu untuk menyanyakan sesuatu, Jiraiya menoleh kepadanya. "Kau tumbuh menjadi wanita yang cantik Konan." puji Jiraiya, membuat semburat merah muncul di pipi gadis itu.

"Terima kasih, sensei." ujar Konan, ia menarik napas. "Bagaimana sensei... Bisa melakukan..." Konan tak melanjutkan pertanyaannya, dan malah menatap genangan air tersebut. Jiraiya mendadak tersenyum.

"Aku telah berkelana cukup lama." katanya singkat. Namun gadis berambut biru itu tidak puas dengan jawaban tersebut. "Tapi kalau begitu sensei bisa dengan mudah mencari kuil yang lain ! Sensei juga bisa menyatukan potongan mahkota tersebut !" seru Konan tajam.

"Sudah waktunya pria tua ini pensiun," ucap Jiraiya, "Dan kali ini panggung harus diisi oleh aktor-aktor lain yang lebih berbakat." lanjutnya sambil menyapukan pandangannya pada anggota Akatsuki lain yang hanya bisa melongo melihat reuni singkat mereka bertiga.

"Sepertinya teman-temanmu butuh penjelasan secepatnya." kata Jiraiya yang masih menatap anggota Akatsuki lainnya. Pain dan Konan ikut menengok, lalu mereka bertiga menghampiri delapan anggota yang lain.

Ketiga orang tersebut melompati rekahan dengan mudah, tapi tiba-tiba Konan berhenti. Ia menatap suatu benda yang berada di genangan air tersebut. "Apa ini ?" tanya Konan sambil memungut benda tersebut, yang lain segera menghampirinya.

Itu sebuah replika kera merah berekor empat dengan ukuran sebesar kepalan tangan anak kecil. Konan mengangkatnya agar yang lain bisa melihat lebih jelas.

"Bukankah ini gantungan kunci, un ?" ucap Deidara asal saat melihatnya. Sementara yang lain menyernyit bingung. Tapi untunglah, Jiraiya tahu dan segera menjelaskannya pada mereka.

"Kalian sudah mengalahkan kera tersebut." kata Jiraiya, tapi Sasori segera menyelanya. "Jelas-jelas anda yang mengalahkan monster tersebut. " pemuda berambut merah itu mengangkat sebelah alisnya.

"Tapi aku tidak mau mengakuinya, anak muda," pria tersebut tersenyum menatap Sasori sebelum melanjutkan. "Ini milik kalian."

"Dan apa untungnya kami memiliki benda ini ?" tanya Kakuzu. Dan Jiraiya menjelaskan lagi, "Kera itu memihak kalian, karena kalian yang mengalahkannya. Mulai sekarang, kera itu bertarung untuk kalian. Dan bisa kallian panggill sesuka hati."

"Bagaimana cara memanggilnya ?" tanya Konan sambil mendekatkan replika tersebut pada wajahnya untuk melihat detailnya lebih jelas. "Panggil saja namanya." jawab Jiraiya. Mendengar itu, Sasori mendengus.

"Monster itu punya nama ?" ucapnya tak percaya. Jiraiya tersenyum lagi, "Tentu. Warga Iwagakure menyebut makhluk itu dengan-"

"Son Goku atau Yonbi." seseorang menjawab dari belakang mereka. Yang lain menoleh dan melihat Yuiko bersandar pada sebuah batu sambil mencengkeram tangan kanannya yang melepuh. Dari pergelangan tangan sampai siku gadis itu sekarang terlihat luka bakar yang menyeramkan.

"Kau tak apa ?" tanya Konan khawatir sambil mendekati gadis itu. Yuiko memandang Konan dengan masam, "Aku tak apa–apa. Aku kuat, tidak seperti kalian para manusia." ucapnya sedikit kasar.

"Tunggu." Kata Jiraiya secara tiba-tiba. Ia menatap tajam mereka semua. "Di mana Sakura Haruno ? Bukankah tujuan kalian kemari itu untuk gadis itu ?" tanyanya.

Sesaat hening, sebelum Pain lah yang menjawabnya, "Ia diculik." ujarnya singkat. Jiraiya berdecak.

"Ini buruk. Apakah kalian akan mencarinya kembali ?" tanya Jiraiya lagi. Kali ini Pain dan Konan berpandangan dengan sorot mata ragu-ragu. "Iya. Kami harus mencarinya kembali." jawab Pain.

Jiraiya menyernyit lalu bertanya dengan heran, "Haruskah ?" mendengar ini, Konan menghela napas. "Soalnya aku berjanji padanya untuk melenyapkan kutukannya dan juga saudari-saudarinya." jelas gadis tersebut.

Pria berambut putih itu terdiam. "Aku tak berhak mengatur kalian lagi. Dan aku tak mau memutuskan perbuatan kalian ini benar atau salah. Tapi yang jelas, sekarang kalian mempunyai tugas yang berat." ucap Jiraiya kemudian.

Konan tertunduk, "Memang benar. Dan kami masih bingung dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba saja muncul zombie, kekuatan kami meningkat. Aku bisa melihat makhluk-makhluk mengerikan, lalu Sasori dan Hidan membawa dua gadis dari bawah tanah, dan muncul kera raksasa..."

Suara Konan mengecil menjadi gumaman sebelum akhirnya terdiam. "Dunia menyimpan banyak misteri. Dan ini salah satu dari sekian banyak misteri yang lain." kata Jiraiya bijak.

"Haha, Jiraiya-sensei makin tua ya. Dulu cuma bisa mikir hal mesum melulu." ledek Pain sambil menyeringai. Jiraiya melotot pada salah satu muridnya itu dan akan membalas. Tapi sudah keburu disela oleh Yuiko.

"Ehem !" gadis itu berdeham. Membuat yang lain langsung menoleh padanya, "Bukankah kita harus bergerak cepat ?" ia mengingatkan mereka semua sambil memasang tampang sebal. Konan menoleh ke arah Jiraiya.

"Apakah sensei ikut dengan kami ?" tanya gadis itu dengan berharap-harap dalam hati sementara sang sensei berpikir.

"Baiklah. Aku ikut. Kalian akan mencari Sakura kembali kan ?" tanya Jiraiya.

"Tidak juga," akhirnya Kisame angkat bicara, "Kami berpencar. Pain, Deidara, Tobi, Zetsu dan Itachi memang mencari Sakura," ia berkata. "Tapi yang lainnya pergi ke kuil Kumogakure." lanjut Kisame. Jiraiya kembali berpikir.

"Aku ikut mencari Sakura," ucap Jiraiya pada akhirnya. "Agar jumlahnya tidak ganjil." lanjutnya sambil terkekeh. Dari sudut matanya, Pain melihat Itachi membuang muka kesal.

"Nah, kalau begitu, ayo."

.

.

.

Beberapa jam kemudian...

.

"Benarkah kau tak tahu di mana letak kuil Kumogakure ?" tanya Konan pada Yuiko yang sedang asyik melihat barang-barang di pasar tersebut. Masih dengan wajah tertarik, ia menoleh pada Konan.

"Aku tak tahu," ucapnya sambil berjinjit untuk melihat sesuatu di belakang Konan, "Mungkin dekat dengan dewa desa ini. Seperti tadi." lanjut Yuiko.

Konan, Hidan, Kisame, Kakuzu, Sasori berjalan di pasar kota Kumogakure yang ramai dan bising karena para pedagang yang terus menjajakan barang dagangannya, mereka mencoba mencari informasi tentang letak kuil Kumogakure.

Hidan sudah merasa sehat, ia berjalan dengan dua kaki yang utuh. Buah ajaib yang diberikan Yuiko berhasil menumbuhkan kakinya dan melenyapkan semua lukanya.

Sasori merasa risih. Banyak warga yang memperhatikan mereka, bahkan ada yang terang-terangan menunjuk mereka sambil tertawa-tawa. Itu karena pakaian mereka yang terlalu mencolok, terutama pakaian Yuiko.

Gadis itu memang memakai pakaian yang unik. Bajunya coklat dengan bagian perut terbuka. Baju lengan kirinya panjang dan melebar dari siku hingga pergelangan tangan, sedangkan baju bagian kirinya malah tidak berlengan.

Ada sebuah kain berwarna merah bata yang terikat di pinggangnya, begitu juga dengan sebuah tas hitam kecil. Lalu ia memakain celana ketat berwarna hitam hingga menutupi mata kaki. Yuiko memakai sepatu dengaan model ankle boot. Dan pedang yang ia bawa juga membuat ngeri sebagian orang.

Yuiko juga terus-terusan berseru kaget karena melihat benda-benda yang tidak bisa ia jumpai di zamannya.

"Ada yang mengikuti kita," ucap Kakuzu pelan. Tapi anggota yang lain masih bisa mendengarnya, kecuali Yuiko yang asyik sendiri. "Beberapa meter dari sini, di dekat toko daging." lanjut pemuda berkulit gelap tersebut.

Sasori segera menoleh ke belakang. Tapi segera dicegah oleh Kisame. "Jangan langsung menengok secara terang-terangan begitu !" serunya pada Sasori yang berdecak kesal.

"Kita masuk ke situ." ucap Konan sambil berjalan menuju sebuah toko buah dan memasukinya. Berpura-pura menjadi pembeli biasa. Gadis itu bersama Hidan, Kisame, dan Sasori memang berhasil berakting dengan baik. Namun tidak dengan Kakuzu dan Yuiko.

Kakuzu terlihat sedang protes dengan salah satu pegawai di situ. Protes akan harga buah yang terlalu mahal baginya. Dan sebagai tambahan, pemuda itu tidak berpura-pura.

Sementara Yuiko berserukencang hanya karena melihat buah anggur. Ia lalu mengoceh tak jelas. Kelakuan dua orang ini membuat sebagian besar warga memandangi mereka dengan tertarik.

"Ck, apa yang mereka lakukan sih !?" bisik Sasori pelan, ia melihat orang bertudung abu-abu itu semakin mendekati mereka.

Hidan menyeringai, ia juga ikut menatap orang yang mengikuti mereka. "Kalau begitu kita jebak orang itu." ucapnya. Yang lain mengangguk setuju. "Kakuzu !" ia memanggil partnernya lalu menunjuk ke arah luar. Pemuda beriris emerald itu mengangguk paham.

"Ayo !" seru Hidan, lalu mereka semua keluar dari toko tersebut. Sasori menarik Yuiko yang tidak tahu apa-apa, "E-eh, Sasori-kun..." ucap gadis itu sambil menunduk malu. Sasori hanya bisa sweatdrop mendengar perkataan Yuiko yang tak terduga.

Mereka berlari menuju ke hutan yang rimbun, sampai akhirnya mereka berpencar. Hidan, Konan, dan Kisame ke kiri. Sementara tiga orang lainnya ke kanan.

Orang bertudung itu berbelok ke kanan. Tapi langkahnya mendadak berhenti, orang itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia mencari tiga orang yang mendadak hilang.

"Jangan bergerak." terdengar suara di belakangnya. Tetapi ia tetap berbalik dan menemukan Kisame menodongkan pistol ke arahnya. Di belakangnya ada Konan. Orang itu memasukkan tangan ke sakunya. Tidak salah lagi, ia akan mengambil senjata.

"Dia bilang jangan bergerak!" tiba-tiba saja Hidan muncul di arah kanan dan juga ikut menodongkan pistolnya. Mendadak orang itu menghentikan gerakanya dan berjalan mundur dengan perlahan, lalu ia berbalik.

"Apa maumu ?" gerakannya berhenti lagi, melihat Kakuzu yang ikut menodongkan pistol ke kepalanya. Di belakang pemuda itu ada Yuiko yang berwajah cemas.

Sejenak hening, sebelum orang itu membuka tudung jubahnya dan berkata. "Aku Kabuto Yakushi." ucap pemuda berkacamata tersebut.

"Aku ingin membantu kalian." lanjutnya Kabuto sambil menyeringai. Konan menyipit padanya.

"Kau tahu tentang ini ?" tanya Sasori yang terkejut, tapi pemuda berambut merah itu tidak menurunkan pistolnya. Kabuto mengangguk, "Tentu, dia adalah pengawal Sakura Haruno, reinkarnasi dari Dewi Artemis atau Diana." jelas Kabuto.

"Tapi aku tak melihat di mana dia sekarang." lanjut Kabuto dengan nada bertanya-tanya. "Kau tak perlu tahu." sambar Konan cepat. "Pergilah."

Kabuto kembali menyeringai, ia membetulkan letak kacamatanya, "Tapi aku bisa membantu kalian."

.

.

.

Deidara melepaskan jubah Akatsukinya, tangannya bergerak untuk membuka kaca jendela mobil merah tersebut. Tapi keburu dicegah oleh pemiliknya, "Jangan, nanti pasirnya masuk ke mobil." sahut Pain singkat sambil melirik Deidara yang berada di sebelahnya.

Pemuda pirang itu mendecih, dan terus mengipasi dirinya. Ia merutuk dalam hati mengapa padang pasir Sunagakure bisa sepanas ini.

"Tobi kepanasan~" Tobi yang tidur-tiduran di jok belakang juga ikut mengeluh. Membuat Pain tambah pusing saja, "Bukan hanya kau yang kepanasan di sini." ucapnya sebal. Ia juga meniru Deidara melepaskan jubahnya.

"Berapa lama lagi senpai ?" tanya Tobi. Pain melirik petanya, lalu menjawab, "Sekitar satu jam lagi."

"Aaahh... Di sini panas, senpai..." keluh Tobi lagi, ia bergerak-gerak untuk mencari posisi yang lebih nyaman.

"Diam, un ! Kau membuat keadaan menjadi lebih panas, un !" bentak Deidara. Sementara itu Pain menoleh ke kaca spion. Di belakangnya ada mobil Itachi yang bersama Zetsu dan Jiraiya.

"Tapi Tobi nggak kuat lagi, Deidara-senpai..." balas Tobi, membuat Deidara berseru lagi. "Sudah kubilang diam, un !"

Pain hanya bisa mengeluh dalam hati, menyesali keputusannya untuk menggabungkan Deidara dan Tobi dalam satu mobil.

.

.

.

"Makanya kutanya, apa yang kau inginkan ?" tanya Konan tajam.

"Aku...," ucap Kabuto, ia terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan kata-katanya, "Menginginkan potongan mahkota dari kuil di Iwagakure."

Yuiko tersentak, "Tidak." jawabnya cepat. Kabuto langsung menoleh padanya. "Tidak ada informasi kalau begitu," ia menyeringai, "Lebih baik aku pulang saja." ia berbalik.

"Tunggu !" seru Konan. Dan Kabuto berhenti melangkah, ia menengok ke arah yang lain sambil tetap menyeringai.

"Kami akan memberimu potongan mahkota tersebut, tapi setelah kau membantu kami di dalam kuil Kumogakure tersebut." lanjut Konan sambil melirik Kakuzu dan Kisame.

Dan ketika kedua pemuda itu mengangguk, Konan kembali menatap Kabuto, "Bagaimana ?" tanya gadis itu.

"Baiklah. Tapi berarti potongan mahkota di Kumogakure juga akan kuambil." ucap Kabuto. Konan terbelalak.

"Tidak bisa begitu..." desis Yuiko.

"Boleh saja." tiba-tiba Sasori berkata, ia menyeringai. "Deal." Kabuto menyetujuinya. "Nah, lewat sini." lanjut pemuda itu. Ia berbalik dan berjalan mendahului mereka.

"Apa-apaan kau ?" bisik Kakuzu pada Sasori, ia terlihat tak terima. "Tidak apa-apa," Sasori balas berbisik, sementara mereka mengikuti Kabuto ke arah pasar, "Toh kalau ada apa-apa, kita yang menang." lanjutnya.

"Tapi tetap saja, kita harus hati-hati." sambung Kisame. Yang lain mengangguk setuju.

"Kuil itu hanya bisa terlihat jika ada petir menyambar," ucap Kabuto sambil menatap sebuah gunung, "Artinya ketika ada badai." lanjutnya. Ia berbalik dan memandang mereka.

"Maaf, tapi langit hari ini sangat cerah !" kata Hidan keras. Kabuto memandanganya dengan datar, "Kalau begitu kita tunggu sampai ada badai, lebih baik kita menginap dulu di sini." pemuda itu berjalan menjauhi pasar menuju pusat kota.

Kabuto dan yang lain memasuki sebuah hotel. "Tiga kamar." ucap Kakuzu pada seseorang yang berjaga di lobi. Hidan melotot padanya. "Hanya tiga ?" tanyanya dengan nada tidak percaya.

Kakuzu menerima tiga kunci dariorang tersebut, lalu menoleh pada Hidan, "Kau harus belajar berhemat, Hidan." pemuda beriris amethyst itu terdiam sejenak, "Kau brengsek." umpatnya kemudian.

Mereka naik ke lantai atas di mana kamar mereka berada, "Nah," Kakuzu memberikan sebuah kunci pada Konan. "Kau di situ dengan Yuiko." ia menunjuk sebuah kamar. Gadis itu mengangguk.

"Hidan, kau bersama Kabuto." ia melemparkan salah satu kunci pada partnernya. "Sisanya di sini." pemuda itu menunjuk salah satu pintu dan masuk ke dalamnya, diikuti Sasori dan Kisame.

Hidan memasang wajah tidak percaya lagi, dan masuk dengan mengumpat-umpat. Yuiko memang terlihat enggan dengan Konan, tapi ia diam saja. Hanya tiga orang lainnya yang terlihat baik-baik saja.

.

.

.

Kedua mobil itu akhirnya telah memasuki kota Sunagakure, mereka menuju pom bensin terdekat di situ. Selain untuk mengisi bahan bakar mereka yang tinggal sedikit, di situ mereka juga beristirahat sebelum melanjutkan pencarian.

"Ah, un. Capek juga duduk di mobil berjam-jam, un." Deidara keluar dari mobil dan meregangkan kedua tangannya.

"Aku ingin membeli sesuatu. Ada yang mau ikut ?" tanya Pain sambil mengedikkan kepalanya ke arah supermarket di sebelah pom bensin.

"Aku ikut." ucap Jiraiya. Pria berambut putih itu mengikuti Pain, sementara yang lain menunggu mobil mereka selesai diisi bensinnya.

Terlihat Tobi yang akhirnya beranjak turun dari mobil, Deidara yang melihat-lihat jalanan dengan wajah bosan, dan Zetsu yang bersandar pada mobil Itachi. Sementara Itachi sendiri berjalan menuju Deidara dan Tobi dengan ekspresi aneh.

"Eh, ada apa Itachi, un ?" tanya Deidara ketika melihat Itachi yang berjalan ke arahnya, "Jangan dekat-dekat, Ita-"

DUK !

Tobi dan Zetsu menoleh, mereka terkejut ketika mendapati Deidara terjatuh karena pukulan Itachi pada tengkuknya. Kini, Itachi berjalan menuju Zetsu.

"Waaa ! Deidara-senpai !"

DUK !

Tobi yang awalnya berlari menuju Deidara ikut terjatuh karena juga dipukul pemuda Uchiha tersebut. "Apa yang kau lakukan, Itachi !?" bentak Zetsu sambil memasang kuda-kuda, ia memandang Itachi yang makin dekat dengan dirinya.

"Aku tak mau bertarung dengan adikku sendiri." ucap Itachi pelan. Sementara itu Zetsu menoleh, mencari seseorang yang mau menolongnya dalam keadaan ini. Tapi pemuda itu tak menemukan siapa pun.

Zetsu kembali menatap Itachi, ekspresinya keras. "Jadi kau berkhianat ?" tanyanya tajam.

"Percayalah, aku sebenarnya tak mau melakukan ini. Tapi aku lebih mengkhawatirkan Sasuke." lanjut Itachi, ia maju selangkah.

"Tapi tetap saja-"

BUGH !

Dengan cepat Itachi berlari ke arah Zetsu dan memukul perutnya, membuat pemuda berambut hijau tersebut tersungkur ke tanah. Itachi memandang ketiga temannya dengan pandangan menyesal, lalu ia masuk dan mengendarai mobilnya ke tempat Sasuke.

.

.

.

"Hei, apa yang terjadi !?" Pain menampar-nampar pipi Zetsu, mencoba membangunkan pemuda tersebut. Sementara Jiraiya berusaha membangunkan Deidara.

"Apa yang terjadi Zetsu ?" ia bertanya lagi ketika Zetsu membuka matanya.

"Ugh..." pemuda dengan iris kuning itu duduk dan memegangi perutnya yang terasa sakit akibat pukulan Itachi. "Kau tak apa-apa ?" Pain bertanya lagi, ia mengulurkan sebotol air mineral pada Zetsu yang langsung meminumnya.

"Ahh...," Zetsu menyeka mulutnya dengan punggung tangannya. Akhirnya ia menjawab pertanyaan Pain, "Itachi berkhianat." ucapnya pelan.

"Apa !?" Pain terkejut. Awalnya ia kira ada penculikan, dengan hilangnya Itachi dan mobil hitamnya. Tapi perkiraan Pain salah.

"Kau mendengarku, Pain. Itachi berkhianat, ia pergi. Itachi lebih mengkhawatirkan adiknya." ulang Zetsu dengan kesal. Ia terhuyung ketika akan berdiri.

"Kenapa ?" pandangan pemuda berambut oranye itu menerawang ketika bibirnya melontarkan sebuah pertanyaan lagi.

Zetsu mengangkat bahunya, "Entah. Mungkin ia mengidap brother-complex." jawabnya asal. Ia berjalan ke arah Tobi dengan tertatih-tatih dan menendang-nendang kakinya dengan kesengitan yang luar biasa. Ia mencoba membangunkan Tobi, atau mungkin hanya pelampiasan kekesalan semata.

Pain menaruh barang belanjaannya -yang sebagian besar isinya adalah makanan ringan- ke dalam bagasi. Lalu bersandar pada Ferrarinya, memikirkan apa yang dilakukan Itachi pada tiga orang temannya.

"Ck, Itachi sialan, un." ucap Deidara yang baru sadar. Ia melirik ke arah Tobi yang masih pingsan. Jiraiya mendekati Pain, "Apa yang akan kita lakukan sekarang ?" tanya Jiraiya.

Pain tersentak dari lamunannya, lalu memandang Jiraiya, "Kita kejar Itachi." ucapnya penuh tekad. Jiraiya tersenyum dan mengangguk, "Ayo." kata Jiraiya bersamaan dengan sadarnya Tobi.

Tobi menggaruk belakang kepalanya, "Di mana Itachi-senpai ?" tanya pemuda itu sambil celingukan. "Itachi pergi." jawab Zetsu singkat.

"Dan kita akan mengejarnya." sambung Pain. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan kunci mobilnya. "Sekarang senpai ?" tanya Tobi lagi.

"Iya, un. Kurasa dia belum pergi terlalu jauh, un." kata Deidara.

"Tapi Tobi lapar ! Tobi belum makan sejak kemarin sore !" seru pemuda bertopeng tersebut. Pain berpikir sebentar. "Baiklah, kita ke restoran. Tapi cepat." ucapnya.

"Ck, kenapa harus cepat-cepat ? Memangnya kau tahu di mana Itachi ?" sindir Zetsu pada Pain yang sekarang menyernyit padanya.

"Kukira ia sedang dalam perjalanan mencari Sasuke." jawab Pain tenang. Zetsu menaikkan sebelah alisnya, "Dan kau tahu di mana Sasuke berada ?" tanya Zetsu sarkastik. Sementara itu Pain tidak menjawab, ia terlihat kesal pada Zetsu.

"Sudah, sudah," lerai Jiraiya, "Kita makan dulu saja. Kita pikirkan ini setelah perut kenyang." lanjutnya. Yang lain mengangguk setuju. "Tobi mau makan pasta !" seru Tobi.

Pain sudah membuka mulut untuk protes tapi Deidara menyelanya."Tunggu dulu, un." perkataan pemuda pirang itu membuat empat kepala menoleh padanya, "Kita berlima dalam satu mobil, un ?" ia bertanya dengan agak histeris.

Semua terdiam, sebelum Pain menjawabnya, "Well, itu bukan masalah besar." ketua Akatsuki itu mengangkat bahunya. Deidara menoleh pada Tobi dengan malas, ia menggerutu pelan.

Setelah ini, mereka mencari restoran di kota tersebut, dengan Deidara Tobi, dan Zetsu berdesak-desakan di jok belakang. "Bagaimana kalau di sini ?" tanya Pain yang memberhentikan mobilnya di depan restoran bertuliskan 'Ichiraku Ramen'.

"Ramen ?" tanya Deidara ragu sambil menatap restoran tersebut.

"Yay, Tobi suka ramen !" seru Tobi, sementara Zetsu membuka pintu mobil dan turun, "Yah, asal bisa dimakan sih nggak apa..." ucapnya.

TENG ! TENG !

Pain yang paling depan membuka pintu restoran tersebut. Bel otomatis yang dipasang di atas pintu tersebut berbunyi.

Sekilas Pain melihat tiga pemuda di depan konter. Tetapi pandangannya langsung teralihkan oleh pria di belakang konter yang berseru padanya.

"Selamat datang !" seru pria pemilik restoran tersebut. Sontak ketiga pemuda itu menatap ke arah pintu, di mana Pain dan empat orang yang lainnya masih berada di situ.

"Kau !" Pain berseru dengan mata terbelalak. Sementara pemuda berambut raven yang baru menghabisakan setengah porsi ramennya itu berdiri dengan kasar hingga kursinya terguling. Pemuda itu, yang kita tahu bernama Uchiha Sasuke, menatap tajam Pain.

Pemuda bertato yang duduk di sebelahnya berdiri sambi menggebrak meja, mangkok ramennya terjatuh, menciprati pemuda berambut pirang di sebelahnya. "Hei, hati-hati dong Kiba !" protesnya kesal.

Teuchi, pemilik restoran tersebut menatap khawatir mereka, apalagi Pain dan Sasuke telah mengeluarkan pistol mereka. Seorang gadis berambut coklat di sebelah Teuchi terlihat ketakutan.

"Lima lawan tiga," Zetsu menyeringai, "Kami menang." ucapnya. Ia juga ikut mengeluarkan pistolnya.

"Belum tentu." balas pemuda yang mempunyai tato segitiga merah terbalik di pipinya. Pemuda bernama Inuzuka Kiba itu menyeringai.

"Di mana Itachi ?" tanya Sasuke, iris onyxnya mencari-cari sosok kakaknya. "Kukira ia bersamamu," jawab Pain yang sedikit terkejut, "Ia mencarimu, tahu." lanjutnya. Sasuke menyipit.

"Sekarang aku tanya, di mana Sakura ?" tanya Pain. Ia menyernyit saat ketiga pemuda itu saling berpandangan dan tak menjawab. Tiba-tiba terdengar suara dari luar.

"Hei, un ! Sakura di sini, un !" Deidara yang tahu-tahu sudah berada di luar berseru di depan mobil BMW biru milik pemuda berambut pirang bernama Uzumaki Naruto. Deidara mengetuk-ngetukkan buku-buku jarinya ke kaca mobil.

Terlihat Sakura yang terikat dengan tali tambang. Mulutnya disumpal kain, gadis itu menangis ketakutan. Pain, Zetsu, Jiraiya, dan Tobi melihat itu dari jendela restoran. Mereka menghembuskan napas lega.

"Hah, syukurlah." ucap Jiraiya. Tapi Pain menyernyit, ia sepertinya mengingat sesuatu. Pain melirik ketiga pemuda di depanya. Bukankah seharusnya ada empat... ?

TENG ! TENG !

"Buang senjata kalian."

Pintu terbuka, semuanya menoleh ke pintu itu dan terkejut. Terlihat pemuda berambut coklat panjang memegangi Deidara. Pistol yang dibawanya diarahkan ke arah pemuda berambut pirang tersebut. Sementara itu Naruto dan Kiba tersenyum puas.

Deidara meronta-ronta, tapi cengkeraman pemuda bernama Hyuuga Neji terlalu kuat. "Buang senjata kalian !" ulangnya lagi sambil menembakkan pelurunya ke langit-langit.

DOR !

"Kyaaa !" gadis berambut coklat yang bernama Ayame itu memekik dan memeluk lengan ayahnya, Teuchi. Pain dan yang lainnya segera menjatuhkan senjata mereka. Lalu Neji mendorong Deidara hingga tersungkur dan berjalan ke sebelah Sasuke.

Kiba bersiul pelan, "Kami yang menang." ucapnya sambil menoleh ke arah Zetsu yang menggeram marah.

Pain berbisik pada Jiraiya, "Apa yang akan kita lakukan ?" tapi Jiraiya hanya tersenyum menenangkan. "Water-"

Tap !

Dengan cepat Neji berlari ke arah Jiraiya dan mencengkeram tangannya. Pria berambut putih tersebut tampak kaget, "Kenapa kau bisa... ?" ia menatap Neji tak percaya.

"Aku bisa menetralisir kekuatan seperti ini dengan menyentuh penggunanya," jelas pemuda tersebut,

"Aku juga bisa menetralisir kekuatan Haruno Sakura. Tapi beberapa jam belakangan ini sudah tak perlu lagi. Kekuatan gadis itu melemah dan tak bisa kabur dari kami." Neji menyeringai.

"Sial !" Pain menerjang Neji hingga terjatuh. Mereka menabrak salah satu meja di situ hingga terbelah dua. Jiraiya yang telah bebas segera melancarkan serangan.

"Water Ball !" ia memposisikan kedua telapak tangannya hingga menghadap Sasuke. Bola air yang lumayan besar muncul dengan bunyi keras. Pemuda itu panik dan segera menembak kaki Jiraiya.

"Ugh !" Jiraiya terjatuh dan menabrak dinding. Bola air itu meleset dari sasarannya dan malah menghantam Kiba yang langsung terjengkang ke belakang konter. Ia pingsan.

Zetsu dan Tobi segera mengambil senjata mereka di lantai dan menodongkannya ke arah Neji.

Neji berhasil mendorong Pain yang sekarang menabrak kursi-kursi di situ. Neji berdiri dan menendang pistol yang dipegang Tobi dan berusaha memukul pemuda Uchiha tersebut. Tapi segera terhenti ketika Zetsu mengarahkan moncong pistol padanya.

Naruto mencoba menembak Pain yang berusaha menjatuhkan Neji dari belakang. Tapi Pain telah merunduk, dan tembakan Naruto malah mengenai kaca jendela di situ. Membuat serpihan kaca bertebaran di trotoar.

DOR !

Kini Sasuke yang menembak, pelurunya melesat beberapa senti dari wajah Pain dan membuat kaca jendela yang lain pecah.

Pain berhenti dengan wajah pucat. Ia menatap tajam Sasuke yang sedang membidiknya.

"Auk ! Auk !"

Grauk !

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada seekor anjing yang lumayan besar datang dan menggigigit kaki kiri Pain yang langsung melonjak kaget.

"Aaaw !" Pain mengibaskan kakinya berkali-kali hingga anjing kecil putih milik Kiba itu terlempar dan menabrak dinding.

BUAGH !

Deidara yang diam-diam menyelinap ke belakang konter berhasil memukul Sasuke dari belakang hingga pistolnya terlempar.

Sasuke terjerembab, ia berguling hingga terlentang. Tangannya meraih pistolnya, tapi keburu ditendang oleh Deidara. Pain memungut pistol Sasuke yang meluncur ke arahnya.

DOR !

"Aaarghh !" Zetsu tertembak oleh Naruto yang sekarang berdiri di atas konter. Zetsu memegangi pundaknya yang berdarah. Pemuda berambut hijau itu merosot ke lantai. Sementara Neji bergulat dengan Tobi.

BRUKH !

Sasuke yang masih terlentang di lantai memegang kaki Deidara dan menariknya. Pemuda berambut pirang itu langsung terjatuh mencium lantai.

Sasuke bangkit dan menyambar pisau dari konter dan melangkah ke arah Deidara dan mencoba menusuk punggungnya.

DOR !

"Ugh !" Sasuke meringis, punggung tangannya terserempet peluru panas dari Pain, sementara pisaunya berputar cepat di lantai sebelum menabrak dinding.

Lalu dua orang yang sempat terlupakan, Teuchi dan Ayame, semakin beringsut menuju pintu belakang mereka dengan wajah yang pucat. Ingin secepatnya keluar dari kekacauan di restoran mereka.

"Water Bullets !" seru Jiraiya yang memposisikan tangan kirinya ke arah Naruto. Pemuda berambut pirang yang terkejut karena diincar Jiraiya langsung berlari sepanjang konter.

Sementara berpuluh-puluh peluru air melesat dari tangan Jiraiya, membuat banyak bekas peluru membujur di dinding.

"Kyaaa !" Ayame berteriak lagi. Untung ia dan ayahnya telah merunduk, sebelum peluru air itu melubangi kepala mereka.

Naruto meloncat turun dari konter, dan beberapa peluru air berhasil mengenai punggungnya hingga ia kehilangan keseimbangan dan menabrak salah satu meja di situ.

Jiraya terkesiap dan menurunkan tangannya. Ia memandang pemuda itu dengan khawatir. Pemuda beriris sapphire itu berpegangan pada salah satu meja dan mencoba berdiri.

Sementara itu Neji telah berhasil merebut pistol Tobi dan mengarahkannya pada topengnya. Jarinya bergerak untuk menarik pelatuk, tapi...

TENG ! TENG !

"Berhenti. Jangan bergerak. Atau kubunuh gadis ini." pintu terbuka dan seorang pemuda beriris onyx masuk di tengah ingar bingar tersebut. Ia mencengkeram gadis berambut pink yang sudah tak terikat lagi. Moncong pistolnya terarah pada kepala gadis itu.

"Itachi ?"

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

A/N : Ada adegan pertarungan di sini, moga-moga nggak gaje ya ._. Sebisa mungkin author nggak akan mematikan chara di sini. Tapi entahlah...

Sebenarnya author udah ngetik sampai chapter 9, tapi author males update*author dibakar*

Mungkin fic ini melenceng dari ide awal. Dan agak berbeda dengan prolognya. Soalnya author masih ragu dengan jalan ceritanya.

Apakah alur cerita ini terlalu lambat ? Dan apakah cerita ini terlalu panjang ? Atau malah terlalu pendek ? ._.

Jika ada yang kurang atau salah, mohon maafkan author. Butuh kritik dan saran, tapi sebisa mungkin jangan flame.

Review please. Arigatou minna ^^