Akatsuki Journey
.
.
.
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Adventure, Romance, Mystery, and little bit Humor
Pair : [Akatsuki X OC] [Pain X Konan] [Sasuke X Sakura] [Naruto X Hinata]
Warning : AU, Ada OC, gajelas, maybe OOC, misstypo, dan segala kekurangan lainnya !
Don't Like Don't Read
Happy Reading !
.
Akatsuki Journey :
Chapter 5 : Curse Arrow
.
.
.
"Itachi ?" Pain yang sedang memegang pistol Sasuke berbalik ke belakang dan terkejut melihat Itachi berdiri di depannya. Tapi mengapa ia terlihat seperti sedang menyandera Sakura ?
"Letakkan senjata kalian." ulang Itachi. Pain bertukar pandang dengan Jiraiya, lalu menjatuhkan pistolnya. Yang lain mengikutinya.
"Letakkan pistolmu, Uzumaki Naruto." kata Itachi lagi. Sementara itu Naruto mendecih dan meletakkan pistolnya di meja di sebelahnya. Ia meringis, punggungnya terus mengeluarkan darah.
"Itachi, apa yang kau lakukan, un !?" Deidara bangkit berdiri dan berpegangan pada konter. Itachi menatapnya. "Jangan bergerak Deidara." ucapnya tajam. Sama seperti Naruto, ia mendecih.
"Kalian berdua pergilah." Itachi mengedikkan kepalanya ke arah Teuchi dan Ayame yang terduduk di lantai dengan wajah ketakutan. Mereka berdiri dan berjalan keluar lewat pintu belakang.
"Itachi-nii," panggil Sasuke yang berada di sebelah Deidara, "Kau berpihak pada siapa ?" tanya Sasuke sembari menatap Itachi yang masih mencengkeram Sakura. Gadis itu pucat, sepertinya ia akan pingsan.
Itachi tidak menjawab, ia menunduk. Cengkeramannya pada Sakura mengendur. Sesaat hening, Itachi mendongak menatap Pain. "Pain... Aku-"
Set !
Tanpa diduga Sakura melepaskan diri, meski terlihat lemah dan terhuyung-huyung, Sakura menatap Itachi dengan marah. Di tangannya tiba-tiba muncul busur dan anak panah.
"Dancing Earth !" serunya. Mendadak muncul retakan berbentuk kotak-kotak di lantai. Yang lain menatap ke bawah dengan khawatir. Dan sejurus kemudian retakan itu bergerak. Tanah di bawah mereka bergerak naik turun dengan cepat. Ini lebih buruk daripada gempa.
"Apa yang kau perbuat !? Aw !" protes Naruto yang tak bisa mempertahankan keseimbangannya. Barang-barang di situ berjatuhan dan bisa saja menimpa mereka.
Deidara terlihat pucat, ia melirik ke arah Jiraiya yang tengah berdiri dengan susah payah. Pemuda beriris sapphire itu segera berlari ke arah Jiraiya dan membantunya berdiri.
Tetapi satu-satunya gadis di situ tidak goyah. Ia bersiap menembakkan anak panah yang anehnya dikelilingi aura gelap ke arah Itachi.
"Tidak !"
Syat !
Pain menerjang Sakura dari belakang, mencegah gadis itu melukai temannya. Tapi Sakura telah meluncurkan panahnya. Beruntung, Itachi sempat menghindar, panah itu terus melesat hingga...
JLEB !
"Aaargh !"
"Teme ! Kau tak apa !?" seru Naruto panik, ia berlari menuju partnernya. Itu pun dengan susah payah, berkali-kali ia terantuk tanah yang masih saja terus naik turun dengan cepat.
"Ugh..." Sasuke terduduk, ia berpegangan pada konter, panah itu menusuk dada kanannya. Kini, aura hitam itu juga melingkari Sasuke. Itachi yang melihat itu langsung berlari pada Sakura. Tangan Sasuke bergetar ketika akan mencabut panah itu. Ia berhasil, dan melemparkan panah itu ke depan.
BUGH !
Neji mendorong Tobi hingga punggungnya menabrak dinding, ia lalu segera menghampiri Sasuke. Wajahnya yang biasanya datar kini terlihat agak cemas.
"Apa yang kau lakukan !?" seru Itachi yang masih berlari menuju Sakura, tapi sama seperti Naruto, ia juga berkali-kali terantuk tanah dan sempat terjengkang beberapa kali.
Set !
Tanah berhenti menari, karena Sakura sudah menghentikan jurusnya. Meski masih ada retakan-retakan di lantai.
Sakura terpaku menatap Sasuke, sorot matanya terlihat ketakutan. Ia terlihat sangat bersalah pada pemuda itu. Ia melirik ke kiri, ke arah Itachi yang akhirnya berhasil mendekatinya.
"Apa yang kau lakukan padanya !?" seru Itachi sambil mengguncang-guncangkan bahu Sakura. Membuat gadis itu melangkah mundur dengan panik.
SREK !
Naruto menyobek baju Sasuke, pemuda berambut pirang itu terkejut ketika melihat luka Sasuke. Luka itu memang mengeluarkan darah, tetapi kulit Sasuke di sekitar luka itu berubah hitam. "Apa ini ?" gumam Naruto tak percaya.
"Ck, sial..." Kiba telah sadar, dan berdiri dengan konter sebagai tumpuannya, satu tangannya memegang rusuknya yang sepertinya patah, sementara kepalanya mengeluarkan darah.
Matanya melebar ketika melihat anjing putihnya tergeletak lemas di lantai. "Akamaru !" serunya sambil berlari menuju anjingnya. Pemuda itu mengelus-ngelus kepala Akamaru dan berusaha menyadarkannya.
Kiba berbalik dan terkejut ketika melihat Sasuke yang terluka, wajah pemuda Uchiha itu perlahan-lahan memucat.
"Panah apa yang kau gunakan... ?" Sasuke bertanya dengan suara pelan, ia melirik anak panah tersebut sebelum menoleh pada Sakura. Menunggu jawaban dari gadis itu.
"Aku memasangkan kutukan pada panah itu." jawab Sakura dengan nada aneh. Matanya menerawang. Sementara itu Tobi membantu Zetsu berdiri.
"Bagaimana cara melenyapkan kutukan ini !?" bentak Kiba pada Sakura, membuat gadis itu mundur lagi, ia terlihat semakin panik. "Aku bertanya padamu, hei !" seru Kiba lagi.
Sakura tersentak, ia kini memandang Kiba dengan tajam. Dan Kiba juga membalas tatapan tajam Sakura, membuat yang lain bisa merasakan percikan listrik dari sorot mata mereka berdua (?)
Akhirnya tatapan Sakura beralih pada Sasuke, "Beruntung aku hanya memasang kutukan kecil di panah itu," jawabnya angkuh, "Kutukan itu akan punah saat aku dan salah satu saudariku mengobatimu."
"Jadi harus ada satu reinkarnasi dewi lagi ?" tanya Neji. Sakura mengangguk pelan. "Itulah masalahnya...," kata Neji, "Baru kau, sebagai reinkarnasi Artemis, yang ditemukan." lanjutnya.
Pemuda itu mengerang. "Berapa lama lagi aku bisa bertahan... ?" Sakura tersentak karena pertanyaan Sasuke, sorot mata bersalah mulai ditampakkan lagi oleh gadis itu.
"Kau akan mati ketika luka itu mencapai jantungmu... " jawab Sakura.
"Sekitar 72 jam dari sekarang. Singkatnya, tiga hari lagi...," lanjutnya, gadis itu terdiam sebelum melanjutkan, "Maafkan aku." ucapnya sambil membungkuk singkat.
"Hn." Sasuke mencoba bangkit tanpa menoleh ke arah Sakura, tapi sepertinya pemuda itu tidak kuat meski hanya untuk berdiri.
"Jangan banyak bergerak dulu, teme !" ucap Naruto, ia bergerak untuk memapah Sasuke yang kini menatap Itachi.
"Hanya untuk kali ini aku mau bekerja sama denganmu, Itachi." ucapnya. Ia melepaskan tangan Naruto yang berusaha membantunya.
"Tunggu... Kau ? Bekerja sama dengan kami ?" tanya Pain dengan nada tak percaya. Ia menoleh bergantian dari Sasuke dan Itachi.
"Ya. Lebih tepatnya, kami meminta bantuan pada kalian semua." jelas Sasuke.
Pain kini menatap datar padannya, "Dan kenapa kami harus membantumu ?" tanya pemuda berambut oranye tersebut.
Sasuke terdiam, sebelum menjawab, "Separuh anggota kalian yang lain tidak berada di sini. Kuyakin kalian berpencar. Kelompok yang satu lagi pasti mencari kuil yang lain. Kami bisa membantu."
Pain tidak menjawab, ia mengangkat sebelah alisnya, sementara itu Naruto akhirnya berseru, "Di sini ada orang yang terluka ! Apa kalian tidak iba melihatnya !?" bentak Naruto.
Pain mendengus, "Di sini ada juga ada yang terluka." ia mengerling ke arah Jiraiya dan Zetsu.
"Tapi luka Sasuke lebih parah !" seru Naruto keras kepala.
Tba-tiba Sasuke menepuk pundak partnernya itu. "Sudahlah, dobe." kata Sasuke, ia maju selangkah dan membungkuk. Yang lain terkejut melihat kelakuan pemuda tersebut.
"Kumohon, bantulah kami." ucap Sasuke.
Sementara itu Sakura berlari kecil menyeberangi ruangan dan menuju ke arah Jiraiya.
"Baiklah, baiklah." kata Pain, ia akhirnya bersedia membantu. Sepertinya keadaan Sasuke lebih gawat daripada dugaannya. Setelah itu Sasuke hanya terdiam dan bersandar pada dinding.
"Terima kasih." ucap Jiraiya pada Sakura. Dan yang lain langsung menoleh padanya. Sakura kini mendekati Zetsu dan meletakkan tangannya di pundak Zetsu yang terluka.
Sinar hijau kebiruan muncul dari tangan Sakura dan menyembuhkan luka Zetsu.
"Terima kasih, Sakura." gumam Zetsu, dan Sakura mengangguk. Ia menatap yang lainnya, mencoba mencari siapa yang terluka. Kini ia berjalan ke arah Naruto.
"Wow, lukaku lenyap !" seru Naruto ketika Sakura menyembuhkan luka di punggungnya. Gadis itu tersenyum. "Ya, aku bisa mengambil energi dari tanah untuk penyembuhan. Tapi ini juga mengurangi energiku." jelas Sakura.
"Kau tidak bisa menyembuhkan Sasuke tanpa saudarimu ?" tanya Kiba setengah kesal dan setengah tak percaya ketika Sakura mulai mengobati rusuknya yang patah.
Sakura menggeleng, "Tidak, itu kutukan, beda dengan luka kecil seperti ini." jawabnya. Tangannya beralih ke kepala Kiba yang berdarah.
"Baiklah. Ayo kita pergi." ucap Sasuke yang suaranya terdengar semakin melemah. Ia membiarkan anggota Akatsuki yang lain keluar lebih dahulu.
"Senpai !" Tobi berseru, membuat semua menatapnya. "Kita akan membiarkan restoran ini dalam keadaan berantakan, senpai ?" tanya Tobi.
Ia menunjuk-nunjuk konter, di mana peralatan makan pecah dan berserakan. Kursi dan meja terguling, dan yang paling parah adalah lantai yang telah retak.
Sasuke menghela napas, "Paling tidak kita membayar ganti ruginya." ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan menaruhnya di atas konter.
"Sekarang kita ke mana ?" tanya Naruto.
"Ke Kumogakure." jawab Pain singkat.
"Bukankah itu terlalu jauh ? Bisa sehari kita sampai di sana !" seru Naruto lagi. Kali ini Deidara yang menjawab, "Kalau kau tak mau ikut ya sudah, un."
Naruto mendecih, lalu berjalan keluar. "Hei, kenapa mobilku bisa seperti ini !?" protes Naruto yang melihat kaca belakang mobil birunya pecah. Dan serpihan kaca itu bertebaran di jok belakang.
"Tak ada jalan lain untuk mengeluarkan Sakura selain dari situ." jawab Itachi singkat, dan Naruto berani bersumpah jika ia baru saja melihat Itachi tersenyum jail sebelum ia berbalik menuju mobilnya yang terparkir agak jauh di situ.
"Aku ikut Itachi saja." jawab Zetsu dengan tampang kecapekan, ia mengekori Itachi. Deidara melihatnya, ia lalu menoleh ke arah Tobi yang mengoceh tidak jelas pada Jiraiya. Deidara bergidik dan mengejar Zetsu, "Tunggu aku, un !" serunya sambil berlari.
Sementara Pain mengeluarkan makanan ringannya dari bagasi dan membagi-bagikannya pada yang lain. Sakura yang sedari tadi terdiam akhirnya memilih mobil Pain, ia membuka pintunya dan duduk di sebelah Tobi.
Terlihat Neji menuju mobil hitam Sasuke dan duduk di kursi penumpang, membuat Kiba menyernyit melihatnya.
Neji menatap Kiba dengan datar seperti biasa, lalu menjawab seolah ia tahu apa yang dipikirkan pemuda itu, "Kau yang menyetir." ujarnya singkat. Kiba hanya mendecih, ia menaruh Akamaru di kursi belakang dan duduk di kursi pengemudi sesuai ucapan Neji.
"Kau saja yang menyetir, dobe." kata Sasuke singkat. Naruto menoleh padanya meski wajahnya masih terlihat kesal karena ulah kakak pemuda di depannya.
"Aku akan jadi penjahat jika menyuruh orang sakit sepertimu menyetir, teme." Naruto terkekeh, ia menyalakan mobilnya. Mobil biru itu melaju duluan, diikuti tiga mobil mewah lainnya.
"Kau tidak menghubungi teman-temanmu di Kumogakure ? Katakan kalau kau dan yang lain akan ke situ." ucap Jiraiya yang kini menyetir.
"Ogh, akhu ghamvir hupa." ucap Pain dengan mulut penuh keripik kentang, tapi sebelum ia mengambil handphonenya dari tas ranselnya, handphone itu telah berbunyi duluan.
Ia buru-buru menelan semua makanan yang ada di mulutnya dan membersihkan mulutnya dari remah-remah begitu tahu yang meneleponnya adalah Konan.
'I realize that screaming pain. Hearing loud in my-'
"Konan ?" tanya Pain setelah menelan makanan di mulutnya.
"Pain, Sakura sudah kau temukan ?" tanya Konan di seberang sana.
"Sudah. Tapi kami bersama empat orang tambahan. Kau sekarang di mana ? Kami akan ke tempatmu."
"Empat orang ? Siapa ? Aku dan yang lain di hotel, kata Kabuto kita tidak masuk kuil sekarang."
"Nanti akan kuceritakan. Siapa Kabuto ?"
"Nanti akan kuceritakan." ulang Konan, membuat Pain memutar bola matanya. Diseberang sana Konan terkikik geli.
"Ck, ya sudahlah. Kau ada di hotel mana ?"
"Ngg... Sebentar." ucap Konan yang saat itu sedang duduk di ranjangnya, ia menoleh pada Yuiko yang sedang membaca brosur sambil tengkurap di atas tempat tidurnya yang terletak di dekat jendela.
"Eh, Yuiko..." panggil Konan ragu-ragu.
Yuiko dengan enggan mendongak menatap Konan, "Ya ?" gadis berambut pirang itu mengangkat sebelah alisnya. "Apa nama hotel ini ?" tanya Konan.
Ketika Yuiko tetap menatap Konan, gadis berambut biru itu menjadi salah tingkah, "Ano... Masudku waktu kita masuk hotel ini... Apakah kau melihat papan namanya atau-"
Yuiko hanya terdiam dan mengangkat brosur yang baru saja ia baca, tertulis di brosur itu : 'Hotel Kumoru'.
Konan sweatdop, "Oh, baiklah." ia tersenyum salah tingkah. Konan melirik meja di sebelanya,di situ juga ada brosur yang sama. Ia merutuki kebodohannya sendiri.
"Konan ?" sementara itu Pain terlihat tak sabar, ia mengetuk-ketukkan buku-buku jarinya pada dasbor mobil.
"Oh, Pain, aku di hotel 'Kumoru'"
"Baiklah, mungkin besok aku baru sampai." ucap Pain, ia sudah akan memutuskan sambungannya, tapi Konan mencegahnya.
"Tunggu ! Benarkah kau sudah menemukan Sakura ?"
"Tentu saja. Mau berbicara dengannya ?" tanya Pain.
"Oh, bolehkah ?" Konan terdengar ragu-ragu.
"Tentu." ucap Pain singkat. Ia menoleh ke belakang. "Konan ingin berbicara padamu." ia berkata pada Sakura yang terlihat bingung saat menerima handphone milik Pain.
Sakura mengamati handphone itu, lalu terkejut saat suara Konan terdengar. Terkejut mengira Konan berada di dalam benda itu.
"Halo ?"
"KYAAA !" Sakura memekik dan melemparkan handphone itu ke arah Tobi. Tepat mengenai topengnya. Sementara itu Yuiko yang mendengar pekikan Sakura dari handphone Konan segera berlari menuju gadis itu.
"Apa ? Apa yang terjadi pada Sakura-hime !?" tanya Yuiko dengan nada mendesak. Ia mendadak pucat saat melihat handphone yang dipegang Konan masih mengeluarkan suara Sakura.
Gadis itu langsung menyambar handphone Konan. "Sakura-hime !" Yuiko berteriak pada benda itu. Konan hanya melongo menatapnya.
Sementara itu di mobil Pain terjadi keributan, Tobi yang saat itu memegang handphone Pain harus pasrah diteriaki oleh Sakura yang semakin panik karena mendengar suara Yuiko.
Pain berdecak, lalu menyambar handphonenya. Sakura berhenti berteriak, ia masih memandang takut-takut handphone milik Pain. Pemuda itu mendesah, lalu menjelaskan pada Sakura.
Di sisi lain Konan juga melakukan hal yang sama, dan membiarkan Yuiko berteriak-teriak sendiri sebelum ia menjelaskan tentang handphone padanya.
.
.
.
"Ano, Jiraiya-san ?" tanya Sakura tiba-tiba. Jiraiya yang sedang menyetir menengok singkat ke belakang. "Ada apa?"
"Kenapa Jiraiya-san bisa mempunyai kekuatan seperti kami ?" tanya Sakura.
Jiraiya terdiam sebentar, sementara mobil mereka berbelok ke kiri. "Kau tahu kan ada beberapa orang yang keluar dari kuil ?" tanya Jiraiya.
Pria itu melanjutkan perkataannya ketika melihat Sakura mengangguk dari kaca spion. "Mereka yang keluar itu semuanya bukan pengkhianat. Ada yang keluar untuk mencari hidup baru." kata Jiraiya.
"Dulu aku bersama rekan-rekanku bertemu dengan mereka. Kami belajar melatih kekuatan kami, orang-orang itu yang mengajarinya." lanjutnya.
"Tapi kenapa mereka mau ?" tanya Sakura lagi.
"Mungkin mereka berharap kami bisa melepaskan kutukan itu. Tapi sayangnya kami gagal." ucap Jiraiya sambil mengerling ke arah Sakura yang hanya terdiam.
.
.
.
Pasar Kumogakure...
Kakuzu, Hidan, Konan, dan Sasori berjalan ke tempat mobil mereka diparkirkan sebelum mencari informasi di pasar Kumogakure tadi siang. Sementara itu Kisame tengah bersantai di dalam hotel.
"Hei, bukankah mereka mencurigakan ?" tanya Sasori. Atensinya tertuju pada dua orang yang sedang berbincang di depan sebuah kios.
"Mereka... Mengikuti kita." ucap Konan. Meski terlihat sedang asyik berbincang, kedua orang itu sering mencuri-curi pandang ke arah mereka berempat.
"Apa yang kita lakukan ? Menghabisi mereka ?" ucap Hidan asal. Konan segera berseru padanya.
"Kau tidak lihat salah satunya itu anak kecil !?" bentaknya pada pemuda itu yang hanya mendecih kesal.
Memang, salah satu dari mereka adalah seorang gadis kecil yang memakai dress putih dan memakai bando. Di depannya ada seorang pemuda berambut hijau yang memakai topi hitam.
Tiba-tiba, pemuda itu memandang ke arah mereka dan melemparkan senyum mengerikan, membuat mereka bergidik.
"Apa-apaan dia ?" tanya Hidan yang memasang tampang kesal.
"Sudahlah, Biarkan saja mereka." sahut Kakuzu acuh tak acuh.
"Ayo cepat." dukung Konan yang ingin sekali mengganti bajunya yang lengket karena keringat. Sayang, baju ganti dan barang-barang lainnya berada di koper birunya yang terletak di bagasi mobilnya.
Akhirnya mereka pun kembali berjalan ke tempat mobil mereka diparkirkan.
.
.
.
Tengah malam...
Hidan keluar dari pemandian air panas yang ada di hotel tersebut. Ia baru saja tiba di hotel karena berjalan-jalan dahulu di kota itu sampai malam.
Tanpa sengaja ia melihat lobi hotel yang entah kenapa pintunya terbuka sedikit, terlihat Kabuto berdiri di ambang pintu.
Pemdua berambut klimis itu menyernyit bingung, melihat teman sekamarnya berada di situ, sedang berbicara kepada seseorang.
Hidan menyipitkan matanya, mencoba menerka siapa sosok yang sedang berbicara dengan Kabuto. Tapi sayangnya, terhalang pintu lobi.
Ia memutuskan untuk menguping, sejak awal ia memang tak percaya begitu saja dengan Kabuto. Hidan melangkah mendekat, bersembunyi di balik rak-rak penuh hiasan kaca.
"...Mereka mempercayaiku." ucap Kabuto pada orang itu.
"Bagus. Jangan lupa ketika yang lain telah berkumpul." orang itu menjawab dengan suara yang terasa familiar bagi Hidan.
"Ya, dan dilihat dari pembicaraan orang itu tadi siang. Akan ada empat orang yang lain." ucap Kabuto lagi.
"Siapa ?"
"Aku menduga Sasuke dan teman-temannya." Hidan terkejut. Ada apa dengan Sasuke ? Pembicaraan siapa yang Kabuto dengar ? Ia sendiri malah tidak tahu.
"Bagus, kita tidak perlu susah-susah memancingnya."
"Baiklah. Aku akan tetap mengabari anda."
Sesaat hening, sebelum orang itu berkata dengan suara yang sengaja dikeraskan.
"Sepertinya ada tikus di situ. Bersembunyi di balik bayang-bayang rak." Jantung Hidan mencelos, ia beringsut menjauh, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara.
"Tapi tikus tetaplah tikus, Orochimaru-sama," kata Kabuto. Dan kini seakan ada bohlam muncul di atas kepada Hidan. Suara mendesis aneh itu milik Orochimaru, orang yang pernah mengkhianati Akatsuki.
"Mereka hanya binatang menjijikkan." lanjut Kabuto. Sementara itu Hidan yang sekarang menaiki tangga masih bisa mendengarnya. Ia marah, tapi tak berbuat apa-apa.
Hidan masuk ke dalam kamarnya dan pura-pura tidur, tapi kelopak matanya tak mau menutup, ia masih memikirkan kejadian barusan. Dari pembicaraan itu, Hidan menyimpulkan bahwa Kabuto adalah mata-mata dan anak buah Orochimaru.
Ia menggeram tertahan. Bersamaan dengan pintu kamarnya yang terbuka. Hidan buru-buru menutup matanya. Sesaat ia merasa dirinya ketahuan.
Tapi Kabuto mengacuhkannya. Pemuda berkacamata itu melangkah menuju tempat tidurnya yang berada di dekat pintu. Hidan menghela napas lega dan mulai tertidur.
.
.
.
Beberapa jam kemudian...
Hidan membuka matanya. Ia duduk, pemuda itu terbangun entah karena apa. Ia melirik jam, pukul tiga pagi, langit masih gelap. Ia menoleh ke samping dan menyadari bahwa Kabuto tak ada di tempat tidurnya.
Pemuda itu bangkit dan memakai jubah Akatsukinya. Hidan turun ke bawah. Ia melihat pintu hotel itu terbuka seperti tadi malam.
Hidan berjalan menuju pintu dan mengintip keluar sedikit. Terlihat Kabuto yang sedang berjalan, lalu sosoknya berbelok dan tak terlihat lagi. Buru-buru Hidan mengikutinya tanpa suara.
Kabuto yang memakai jubah abu-abunya itu ternyata menuju ke arah hutan. Ia melewati jalan yang masih sepi. Sementara Hidan bergidik, udara di Kumogakure sangat dingin.
Hutan itu menanjak, sepertinya mengarah ke gunung. Setelah beberapa saat, Hidan mengumpat dalam hati, ia bisa-bisa kehilangan jejak Kabuto yang berjalan sangat cepat.
Sampai akhirnya pemuda itu kecapekan dan bersandar pada salah satu pohon. Kabuto sudah menghilang, ia tak bisa mengejarnya.
"Mencari sesuatu ?" terdengar suara di belakangnya. Hidan berbalik dan segera memasang kuda-kuda, ia terkejut ketika mengatahui sosok di depannya.
"Atau lebih tepatnya 'seseorang' ?" ulang sosok tersebut sambil menyeringai.
"Apa maumu Orochimaru ?" tanya Hidan was-was. Angin berhembus, ikut mengibarkan rambut hitam panjang Orochimaru.
"Kau mendengar pembicaraanku dengan Kabuto semalam. Kau pantas untuk dibunuh." jawab pria itu. Hidan yang mendengarnya langsung mundur selangkah.
"Apa yang kau rencanakan ?" Hidan menggeram. Ia sekarang menyesal telah mengikuti Kabuto sampai di sini. Ia pasti diperintah Orochimaru untuk memancingnya. Dan berhasil, sekarang ia terperangkap.
"Sudah tentu itu rahasia." jawab Orochimaru yang sekarang menatap sesuatu di belakang Hidan. Pemuda berambut perak itu sudah akan menoleh, tapi pukulan di tengkuknya membuat ia terjatuh ke tanah.
.
.
.
"Hoaahm..." Pain menguap, kini mobil merahnya telah memasuki perbatasan Kumogakure. Sudah semalaman ia tidak tidur, ia bertukar tempat dengan Jiraiya tadi malam.
Sementara tiga orang lainnya tertidur nyenyak. Pain melirik jam tangannya, sudah pukul setengah empat lebih, dan ia sangat mengantuk.
Ia mengangkat alisnya ketika dua mobil di depannya berhenti di tengah jalan. Toh tak ada kendaraan lain yang lewat sepagi ini. Pain mengerem mobilnya, membuat mobil hitam Itachi di belakang juga ikut berhenti.
"Ada apa ?" tanya Pain sembari menurunkan kaca mobilnya, sekarang ia bertatapan dengan Naruto yang bertampang kacau.
"Kita ke mana sekarang ?" tanya Naruto. Terdapat lingkaran hitam di bawah matanya. Pain segera menjawab, "Di hotel Kumoru. Kau tahu ?"
"Tidak," Naruto terdiam sebentar, sementara itu terlihat orang bertudung abu-abu yang berjalan di trotoar, "Mungkin kita bisa bertanya pada seseorang." lanjut Naruto, tepat ketika orang bertudung tersebut berbelok ke kanan.
Pain mendengus. Ia membuka mulutnya untuk menjawab, tapi gerakannya terhenti ketika terdengar suara pagar yang berderit. Ada seorang ibu-ibu yang akan membuka kiosnya.
"Tanyakanlah." ucap Pain pada Naruto yang tak menjawab. Pemuda berambut pirang itu turun dari mobilnya sambil meregangkan tangannya yang kaku. Lalu menghampiri ibu-ibu tersebut.
Setelah beberapa menit, Naruto kembali ke mobilnya, "Bagaimana ?" tanya Pain lagi.
"Kita sepertinya salah jalan," jawab Naruto, "Tapi sekarang aku tahu di mana hotel Kumoru. Ikuti aku." lanjutnya sambil menjalankan mobilnya lagi dengan pelan.
Sekitar dua puluh menit mereka berputar-putar, akhirnya hotel tersebut telah ditemukan. Pain dan yang lain memakirkan mobil di tempat parkir yang disediakan, mengambil barang-barang dari bagasi, dan masuk ke dalam hotel Kumoru lalu berjalan ke lobinya.
.
.
.
TOK ! TOK ! TOK !
TOK ! TOK ! TOK !
Kabuto mengetuk pintu kamar Kakuzu, Sasori, dan Kisame dengan keras. Membuat keributan di pagi hari itu. Tapi Kabuto harus berakting sekarang juga.
"Ada apa, Kabuto-san ?" akhirnya Kisame yang membuka pintu, terlihat di dalam Kakuzu dan Sasori yang baru bangun dengan wajah kusam.
Sebenarnya Kabuto agak kaget dengan penampilan Kakuzu yang tanpa cadar dan kerudung yang memang ia lepas saat akan tidur. Kabuto merasa agak risih dengan jahitan melintang di kanan kiri mulut pemuda itu.
"Ah...," Kabuto tersentak dan memandang Kisame lagi, "Hidan menghilang !" serunya dengan wajah meyakinkan.
Kisame yang sedang mengusap-usap matanya langsung membelalak menatap Kabuto, "Apa ? Bagaimana ?" tanya Kisame tak percaya.
"Sewaktu aku bangun, Hidan-san sudah tidak ada di tempat tidurnya !" seru Kabuto lagi. Tiba-tiba pintu di belakang mereka terbuka, dan menampakkan Konan yang memakai gaun tidur berwarna biru.
"Kok ribut sekali sih ?" tanya gadis itu dengan wajah mengantuk.
Kabuto segera mendekat padanya, "Hidan-san menghilang." ucapnya panik.
"Apa !?" seru Konan kaget, bertepatan dengan munculnya beberapa orang di tangga. Sejenak, mereka bertatapan.
Pemuda yang berada di undakan tangga paling atas adalah Pain, ia memadang Konan dengan raut wajah bingung.
"Ada apa ini ?" tanya Pain sambil menyeret sebuah koper merah yang berisi barang-barangnya yang disiapkannya sebelum perjalanan. Sementara Kakuzu dan Sasori telah keluar dari kamar dengan pakaian lengkap.
"Oh, Pain !" Konan berlari ke arah pemuda itu, "Kau baik-baik saja ?" tanya gadis itu dengan nada panik karena salah satu teman mereka menghilang.
Pain yang menyadari nada panik dalam suara Konan langsung bertanya, "Ada apa, Konan ?" ia melirik ke arah Kisame yang masih berada di depan pintu dan seorang pemuda asing berkacamata yang tidak ia kenal.
"Oh... Kata Kabuto, Hidan menghilang !" jelas Konan. Sementara anggota yang lain juga mulai muncul dari bawah.
Pain menyernyit dan melangkah maju ke depan, "Siapa Kabuto ? Kenapa Hidan bisa menghilang ?" tanyanya. Akhirnya Konan menjelaskan tentang Kabuto, tapi Pain tidak bisa mempercayai pemuda itu.
"Begitu aku bangun, Hidan-san sudah tak ada di tempat tidurnya lagi." ulang Kabuto, dan Pain langsung menatap pemuda tersebut. Ia mengingatnya, bukankah itu pemuda yang berjalan di trotoar tadi ? Dan jubah yang ia pakai sama persis.
Pain melangkah ke arah Kabuto, "Apakah kau melakukan sesuatu terhadap Hidan ?" ia bertanya, nadanya penuh dengan kecurigaan.
"Tidak." ucap Kabuto singkat.
Pain terdiam sejenak, "Kalau begitu, kenapa kau keluar pagi-pagi seperti tadi ?" tanya Pain pada akhirnya. Ia tak bisa menahan diri untuk menyeringai.
Sementara itu anggota yang lain bersama dengan Jiraiya, Sasuke, Naruto, Kiba, dan Neji telah memenuhi koridor itu dan mendengarkan dengan penuh minat. Terlihat Sakura diam-diam menyelinap ke kamar Konan untuk membangunkan Yuiko.
"Aku tidak keluar pagi ini kok." dusta Kabuto, meski dalam hatinya ia agak panik. Pain terus menatapnya, terus mencari-cari kebohongan dalam sorot matanya.
Terlihat Naruto memapah Sasuke dan membuka pintu kamar di dekat tangga. Lalu Neji dan Kiba mengikuti mereka. Tapi selang beberapa saat, Naruto, Kiba, dan Neji keluar lagi.
"Apakah kita akan mencarinya ?" pertanyaan Konan membuat Pain menoleh pada gadis itu. Kabuto menghembuskan napas lega.
Pain mengangguk cepat, "Tentu saja," jawab Pain, lalu berkata lagi dengan suara keras. "Semuanya bersiap. Kita berkumpul di lobi sepuluh menit lagi."
Setelah mengatakan itu, ia mendekat pada Jiraiya. Sementara Itachi, Deidara, Zetsu, dan Tobi naik ke kamar mereka yang terletak di lantai atas.
"Jiraiya-sensei tak usah ikut mencari Hidan. Ini masalah kami." ujarnya pada Jiraiya yang berpikir sebentar sebelum berkata, "Baiklah. Toh aku masih capek." Jiraiya meninggalkan Pain dan membuka kamar di ujung koridor.
Kini Pain menoleh pada tiga orang pemuda yang baru ditemuinya kemarin. "Bagaimana keadaan Sasuke ?" tanya Pain kepada mereka. Tetapi Naruto lah yang menjawab.
"Kutukan itu pelan-pelan merambat ke jantungnya," jawab Naruto dengan wajah prihatin. "Bisa gawat kalau tidak..." ia tak melanjutkan perkataannya.
"Aku tahu," ujar Pain, "Setelah menemukan Hidan, kita pergi ke kuil Kumogakure." lanjutnya sementara Naruto mengangguk pelan.
"Kalian tinggal di sini saja," ucap Pain sebelum turun ke bawah, "Siapa tahu Hidan kembali ke sini." setelah mengucapkan itu, Pain langsung menuruni tangga.
Tapi mendadak ia berhenti dan kembali ke atas, menuju kamar Konan. Pain membuka pintunya, "Hei, kau-"
"KYAAA !"
"Eh ?"
"Tutup pintunya ! Tutup pintunya, Pain !" seru Konan yang baru saja akan berganti baju. Dengan wajah merah padam, Pain keluar dan menutup pintunya. Lalu ia bersandar di pintu itu.
"Mesum." saat itu Sasori lewat dan berbisik padanya. Pain yang tidak terima langsung berteriak kepadanya.
"HOI SASORI ! AKU TIDAK SENGAJA TAHU ! KEMARI KAU BONSAI MERAH BRENGSEK ! DASAR-"
"Nah, ada apa ?" tiba-tiba pintu di belakangnya terbuka, menampakkan Konan yang memakai jubah Akatsuki lengkap. Ia cemberut sambil menatap Pain.
"Sebaiknya kau menunggu di sini saja." kata Pain pada Konan.
Tapi gadis itu segera menggeleng. "Tidak, aku mau ikut mencari Hidan."
"Terserah kau sajalah." Pain mengangkat bahunya dan berbalik, tapi sedetik kemudian ia kembali berbalik menghadap Konan, "Bilang pada dua orang itu," Pain menunjuk ke dalam kamar di belakang Konan dengan ibu jarinya.
"Mereka tidak usah ikut." lanjutnya. Konan mengangguk dan kembali ke dalam, sementara Pain turun ke bawah, bersamaan dengan Kakuzu.
"Apakah kau mempercayainya ?" pertanyaan tiba-tiba Kakuzu membuat Pain menyernyit padanya. "Pemuda itu, Kabuto." lanjut Kakuzu sambil merendahkan suaranya.
Pain mengangguk paham, "Tidak..." jawabnya ragu-ragu.
"Aku juga tidak," balas Kakuzu sementara mereka tetap berjalan pelan menuruni tangga. "Apakah menurutmu hilangnya Hidan juga ada hubungannya dengan Kabuto ?" tanya Kakuzu.
Pain terdiam sebentar, "Mungkin, soalnya aku melihat Kabuto keluar dari hotel pagi-pagi sekali." jawab Pain. Sesaat hanya ada keheningan.
"Kau tahu ? Sasori membuat perjanjian dengannya tanpa berdiskusi dengan kita." sahut Kakuzu.
Pain terbelalak, "Apa !? Kenapa Sasori-"
"Aku tidak tahu." tukas Kakuzu gusar. Mereka terdiam sebentar ketika ada wanita paruh baya melewati mereka.
"Apa yang Sasori katakan ?" tanya Pain dengan ketus.
"Awalnya, Kabuto menawarkan informasi dengan imbalan potongan mahkota yang kita bawa dari kuil di Iwagakure." jelas Kakuzu sementara Pain hanya mengangguk-angguk.
"Tapi Konan mengatakan akan memberinya potongan mahkota itu kalau Kabuto mau membantu kita di kuil Kumogakure." lanjut pemuda bercadar tersebut.
"Kabuto setuju, tapi potongan mahkota di kuil Kumogakure juga akan ia ambil. Kami ingin menolak, tapi...," Kakuzu mengambil napas panjang.
"Sasori terlanjur setuju dengan Kabuto," ucap Kakuzu, "Yah, kami tidak bisa apa-apa. Toh sepertinya Kabuto memang mempunyai informasi.
Keduanya terdiam, tinggal satu lantai lagi sebelum mereka mencapai lobi. Pain mendadak berkata dengan geram, "Bolehkah aku menghajar bonsai merah itu sekarang ?"
"Jangan. Biaya pengobatan mahal tahu." balas Kakuzu cuek. Membuat Pain ber-'ck ck' ria sepanjang perjalanan mereka menuruni tangga.
.
.
.
"Konan masih di atas ?" tanya Kisame begitu Pain dan Kakuzu tiba di lobi. Pain mengedikkan bahunya, "Sepertinya begitu." jawabnya.
Ia terlihat kaget dengan kehadiran Kabuto di situ. Pemuda berkacamata itu bersandar di dekat pintu lobi.
"Itachi juga masih di atas ?" sahut Sasori yang duduk di salah satu kursi di situ. Zetsu yang duduk di sebelahnya hanya memandang jalanan di luar jendela dengan mata mengantuk.
Pain menatap Sasori dengan sengit, membuat pemuda berambut merah itu berseru, "Hei, aku hanya bertanya !" dan Pain langsung membuang muka.
Saat itu terlihat Itachi yang tengah menuruni tangga, sepertinya ia sedang banyak pikiran. Beberapa menit kemudian Konan keluar melalui lift di situ.
"Kenapa kalian lebih suka menggunakan tangga sih ?" tanya Konan sambil berjalan ke arah anggota lainnya yang terlihat sweatdrop karena kebodohan mereka sendiri.
"Sudah siap ?" tanya Pain. Yang lainnya mengangguk, sementara Pain berjalan menuju keluar. "Nah, ayo."
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
A/N : Hai minna ! Di sini, Itachi memang sempat berkhianat, tapi udah dimaafin sama yang lainnya, dan udah gak jadi soal buat yang lainnya.
Gomen kalau adegan pertarungannya gak seru T_T Dan sepertinya author emang nggak bisa update kilat, tapi akan author usahain.
Jika ada yang kurang atau salah, mohon maafkan author. Butuh kritik dan saran, tapi sebisa mungkin jangan flame.
Review please. Arigatou minna ^^
