A/N: Halooo! akhirnya aku bisa update chapter baru! dan ini final XD Gomenasai sepertinya aku tidak bisa bikin fanfic ini full M uwu tapi untuk next fanfic bakal M, malah aku sudah post fanfic baru yg rated M, RivaEre of course! cekidot ya setelah baca ini kalau mauu! XD
Dan mohon maaf sebesar - besarnya kalau aku kurang bisa menjelaskan karakter Rivaille ini kurang baik QwQ Seriously, its not easy X"D Hope you enjoy this!
Disclaimer : I do not own Shingeki No Kyojin, all characters belong to Hajime Isayama
Lagi – lagi daun jatuh berguguran.
Helaan nafas yang panjang terdengar dari mulutku sendiri, setiap melihat pemandangan musim gugur hanya membuat hati pilu.
Kenapa? Perpisahan itu wajar dalam kehidupan, tapi kenapa perpisahan waktu itu sangat menyesakkan, emosi sungguh mengganggu system kerja otak ku. menganggu pekerjaan.
Kututup laptopku yang berwarna abu – abu, dengan pelan, aku menaruhnya di tas berwarna hitam. "Wah wah, jam segini kau sudah balik! Biasanya kau lembur!" komentar Pria yang berambut pirang, bernama Irvin Smith.
"Aku memiliki yayasan yang harus kuurusi" ucap ku. "Kukira kau tahu" lanjut ku sambil memasang tampang bosan.
"Iya, tapi hari ini kan hari Senin, biasanya kau disini sampai diusir satpam" ujarnya sambil tertawa. Tanpa merensponsnya balik, aku berjalan menuju parkiran dan menyalakan mobilku, pergi ke yayasan sebelum balik kerumah.
Memang hari Senin adalah hari yang penuh dengan kepadatan, tapi, musim yang mulai bersuhu dingin ini malah membuatku kehilangan semangat bekerja. Semangat?. Sepertinya semangat hidupku menghilang ketika aku mendapatkan apa yang aku inginkan, seperti tidak mempunyai tujuan hidup.
Bekerja menjadi asisten direktur di perusahaan ternama bukanlah impian, tetapi pekerjaan dengan gaji yang cukup tinggi ini bisa membuatku mempunyai simpanan untuk masa depan, dan akhirnya aku bisa mendapatkan yayasan TK itu, yayasan TK itu hampir bubar, hanya karena pengurus lamanya tidak becus dan tidak sanggup lagi, akhirnya aku ambil ahli, aku tidak ingin tempat pelarianku satu – satunya menghilang.
Ah, aku jadi teringat diriku yang muda, begitu ambisius dan menyendiri, ketika masa kecil aku tidak memiliki orang yang bisa menuntunku ke jalan yang kucari, aku bertemu dengannya.
…..Petra.
Seorang guru TK yang berperan besar bagiku, waktu itu umurku masih 15 tahun, sekolahku cukup dekat dengan sekolah TK itu, ibunya pemilik yayasan tersebut, ia sering menyapaku dan membantuku, aku juga teringat ketika waktu SD aku sendiri tidak ada teman, Petra lah yang menemani ku ketika aku melarikan diri ke taman bermain itu, ia memberiku es krim dan menyambutku ketika aku sendirian lagi.
Di masa puber ini, aku bisa melihat Petra adalah gadis yang menarik, ia lebih tua 2 tahun dariku, tapi pembawaannya dewasa, dan ia orang yang ceria. Selain menghabiskan waktu belajar dan membaca, aku sering mengobrol dengan dirinya. Lama kelamaan kami menjadi teman yang saling berbagi.
"Aku menyukaimu…."
Kaget dengan pernyataan cintanya yang tiba – tiba, aku memutuskan untuk tidak menjawabnya dulu. Aku terheran, bagaimana ia bisa menyukai diriku yang begitu kasar dan dingin kepada orang? Kenapa ia malah memiliki perasaan lebih kepadaku? Aku tidak tahu apa yang kurasakan, aku merasa betul – betul frustasi, memikirkan segala cara bagaimana menjawabnya tanpa harus kehilangannya.
Karena kondisi orang tuaku yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, aku selalu menganggap Petra adalah figur ibuku, yang selalu memberi kasih sayang dan perhatian, tapi jika aku melihatnya sebagai wanita…. Sungguh aneh, aku tidak bisa berpikir jenih waktu itu.
Aku pergi ke sekolah TK itu, berharap aku bisa memberi jawabannya yang tepat, lalu tanpa sengaja aku mendengar percakapan yang akan merubah semua hal.
"Petra~ aku dengar kau menyukai bocah smp itu lho~" suara perempuan yang merupakan teman kerjanya membuatku jijik, aku tidak menyukai perempuan pada umumnya, mereka hanya manusia egois.
"Iyaa~ tapi aku heran lho kenapa kamu mau menjadi pacarnya?" tambah teman lainnya.
"A-abis aku kasian melihat dirinya tanpa teman, tanpa tahu rasanya persahabatan dan cinta" jawab Petra, jawabannya membuat badanku membeku. Seketika itu juga pikiran ku mengenai dirinya berubah. Ha-ah. Ya. Dia sama seperti wanita lainnya. Egois dan sok tahu.
"Oh! dia menyukaimu dulu? Aku tidak bisa menebak apa yang ia rasakan, mukanya datar begitu"
"Hahaha, sabar ya Petra, aku kasihan padamu~" dan lalu mereka tertawa.
Kepalan tanganku begitu keras, sampai aku bisa merasakan sakitnya, aku ingin lari dari tempat itu, tetapi aku terlanjur mendengarkan hal yang lebih buruk.
"Nee, setahuku Orang tua bocah itu kaya ya?"
"Iya! Aku pernah melihat orang tuanya, naik mobil yang mewah!"
"Jangan – jangan kau mengincar hartanya ya?"
"…Ya bagaimana lagi, yayasan ini miskin, aku harus memakmurkan sekolah ini" jawabnya sambil tersenyum
BRAK.
Emosiku tidak bisa kutahanku, aku melihat bagaimana mereka begitu terkejut dan ketakutan melihat ekspresiku, Petra menatapku horror, lalu ia langsung mengejarku ketika ku lari.
"R-Rivaille!"
Tidak, aku sudah cukup dengan dia dan semua ini.
"Rivaille tungguuu!"
Aku tidak akan berurusan dengan manusia lagi.
"Rivalleeeeee!"
Setelah aku menyebrangi jalan raya yang tidak begitu ramai, aku menengok sebentar untuk melihat keadaanya.
"Ri-"
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN!
BRAAAAK!
Sebuah mobil dengan laju kecepatan yang diatas normal memberhentikan mobilnya dengan paksa, tetapi remnya tidak bisa membuat mobilnya berhenti sepenuhnya, hasilnya Petra terkena tabrakan…. Didepan mataku, ia jatuh terguling sambil darahnya mengucur dimana – mana.
"PETRA!"
Badanku spontan menghampirinya, dengan pelan aku mengangkat kepalanya yang sudah bocor, menggegam tangannya yang terkulai lemas.
"R-Ri-v-vaille.."
"Shuuuush! Tenang! Ambulan akan datang!" ucapku dengan nada yang agak panic, semarah apapun aku, aku tidak pernah mengharapkan Petra mengalami kecelakaan seperti ini. Kalau saja aku tidak berlari meninggalkannya..
"M-Maafkan…A-aku…" ucapnya.
"Bukan Petra! Ini bukan salahmu!" ucapku, tanpa sadar air mata keluar dari mataku.
"A-aku memang…. K-keterlaluan.." ucapnya sambil terbatuk – batuk. "M-memanfaatkanmu u-untuk- Uhuk!" dan keluar sebersit darah dari mulutnya.
"Petra-"
Suaraku berhenti keluar ketika tangan nya menyentuh pipiku.
"K-Kau boleh membenciku…" ia mengedipkan mata dengan kerutan didahinya. "T-Tapi jangan benci "Little C-Corps""
"Aku tidak akan membencimu.." gumamku, kebaikannya selama ini tidak bisa dilupakan begitu saja hanya karena alasannya selama ini.
"T-Tolong…" ucapnya lagi. "Dengarkan pe-permintaanku… yang egois t-terakh-hir k-kali ini.." ia batuk mengeluarkan banyak darah. "T-Tolong jaga m-mereka.."
Aku mengerti apa yang ia maksud. Tanpa harus diminta pun, bukankah sudah menjadi tujuan ku untuk menjaga murid – murid dan ibu ketua, yang ia sangat sayangi. Biar bagai manapun, merekalah yang selama ini menjadi sandaran ku. Pelarian ku. Aku mengangguk pelan sambil menahan tangisku. Tak pernah aku semenyedihkan ini. Aku selalu berhasil menyembunyikan apapun di balik wajah datar ku. Tapi entahlah air mata ini mengucur begitu saja dan tak terkendali.
"T-Terima kasih" tanpa kusadari, itulah kalimat terakhir yang diucapkannya, ia penjamkan mata sambil tersenyum.
"Ayah! Kumohon bantu dia!"
Ucapku agak memohon ketika Ayahku sedang meminum Kopi hangat, suasana diluar berbanding terbalik dengan suasana didalam rumah ini.
"Untuk apa? Dia itu orang luar, bukan sama sekali saudaramu"
"Tapi ia akan mati sekarat Ayah, apa mengeluarkan biaya begitu sulit!?" ucapku agak ngotot, aku tahu kekayaanku melebihi orang biasa, tapi kenapa ia begitu pelit.
"Sudah kubilang ini bukan urusanku! Pergi sana!" ujar Ayah dengan nada yang keras, dengan jengkel, aku meninggalkannya.
Ketika aku bertemu Ibu di ruang tamu yang sedang menghitung aku mulai memohon kepadanya.
"Jangan sekarang, Rivaille, ibu lagi sibuk"
"Tapi, bu! Aku butuh pertolongan ibu sekarang!" ujarku, kenapa tidak ada yang mengerti?
"Kau ini, ia sakit bukan karenamu, tapi ia ditabrak kan? Sebaiknya kamu jangan ikut campur"
"Tapi dia sedang koma, bu! Kalau tidak dibayar-"
"Dengar ya Rivaille" ibu menatap dingin kepadaku. "Harusnya kamu bersyukur bukan kamu yang sekarat, orang seperti itu sudah tidak ada harapan lagi, lebih baik kita tidak ikut campur"
Jleb. Ribuan pedang tajam tiba-tiba meresak kejantung ku. Mengoyak setiap daging yang disentuhnya dan mencabik setiap organ di dalamnya. Hati ku sakit.
Kenapa aku memiliki orang tua yang setega ini? Tidak puas dengan ucapan mereka, aku melarikan diri dari rumah, yang kulakukan hanya menemani Petra yang koma di rumah sakit, aku sudah membayar sebagian biaya rumah sakit dengan uang tabunganku, tapi itu tidak cukup, dan lagi Petra tidak menunjukan kemajuan apapun.
"Sudahlah, Rivalle" ucap Ibu Petra sambil memegang bahuku, dari tangannya, aku tahu Ibu Petra menahan tangisnya, Akhirnya kurelakan Petra kepada Yang Maha Berkuasa, aku tidak ingin ia menderita lebih jauh lagi. Pemakaman Petra berlangsung setelah beberapa minggu ia dirawat, banyak yang datang, hanya aku yang tidak bisa meneteskan air mata.
Aku melewati kehidupan SMA ku yang begitu kelabu, tidak memiliki teman, orang tua juga tambah tidak peduli, dan Petra sudah tidak ada disini lagi. Tapi dengan janjiku, aku memutuskan untuk hidup sendiri sekaligus merawat sekolah TK itu, demi memenuhi janjiku.
Aku tidak peduli reaksi orang tua seperti apa, kutinggalkan semua asset dan harta dari mereka, ku mulai dari nol lagi, dari bekerja sambilan sambil menjadi mahasiswa yang teladan. Hasil kerja kerasku membuahkan hasil yang cukup baik, meski di awal sering kali aku di pekerjakan tapi tak di bayar. Sekian lama bekerja serabutan akhirnya seorang pengusaha yang melihat bakat ku mau merekrut ku, dan inilah aku sekarang.
Kini Aku tak perlu lagi repot-repot menggunakan kekuatanku untuk mencari uang. Kini aku lah yang membayar orang untuk menghasilkan uang. Yayasan yang dulu adalah tempat pelarian ku, kini akulah yang menjadi sandaran mereka.
Hijau
Lamunanku tentang masa lalu terhenti ketika melihat lampu hijau persimpangan lampu lalu lintas, aku langsung mengendarai mobilku menuju sekolah itu, setelah itu aku memakirkan mobilku yang tidak jauh dari bangunan TK itu.
Omong – omong soal hijau, aku ingat dengan anak yang bermata hijau terang itu, kalau tidak salah namanya…
Er-…Er- ah ya.. Eren.. Eren Jaeger.
Anak itu memiliki sifat periang dan penyayangnya Petra, walau sifat brutalnya sangat berbahaya kadang, tapi aku rasa anak itu unik sekali, dan aku bisa merasa ketertarikanku kepada anak itu…
Tertarik? Suka?
Gah, aku tidak ingin dijuluki 'Pedofil' ketika aku sudah susah payah mendapatkan tempat yang pantas, mengatasi beberapa anak bukanlah hal yang sulit, walau tidak ada yang percaya dengan mukaku yang seperti ini. Aku rindu suasana ketika aku masih mahasiswa, dan kehadiran bocah itu. Sekarang cuacanya sungguh mirip dimana aku berpisah dengannya. Sudah 10 tahun berlalu, bagaimana kabarnya?
Aku memandang kearah jalan. Beberapa orang lewat di depan mobil ku. Sekilas kulihat bayangan bocah itu. Aku mengerjap. Tunggu. Apa itu benar-benar bocah yang sedang ku lamunkan tadi? Ah tidak mungkin. Sepertinya aku salah lihat. Ku pacu lagi mobil ku setelah kumpulan orang-orang tadi lewat di depan ku.
Kupikir hari ini agak dingin,setelah keluar dari mobil yang ku parkir di depan sebuah mall, kukeluarkan sapu tanganku dan angin sialan itu membawa pandangan ku kearah seorang pemuda yang bersurai coklat, ketika kepalanya menengok ke arahku, aku merasa waktu terhenti seketika.
Eren.
Ia ada disini, didepanku.
Jadi yang tadi itu bukan hayalan semata?.
Dengan tinggi yang melebihiku dan mata hijaunya yang sama seperti waktu ia masih bocah, membuatku diam sejenak, aku merasa ada sesuatu yang menggetarkan didalam diriku. Dan reaksi Eren pun sama, ia terperangah, menatapku dengan mata yang membulat dan mulutnya yang terngangah.
"Kau….Eren kan?" bibirku bergerak sendiri, ingin memastikan identitas pemuda yang didepanku.
Dan serangan dadakan khas miliknya keluar.
"H-HEICHOUUUUUUU!"
Humph, lengannya yang lebar melingkari punggungku dengan erat, aku bisa merasakan Eren bergumam seperti 'Puji Tuhan! Terima kasih, terima kasih' tapi sungguh bocah ini berat, dan tinggi badannya membuatku agak kesal.
"Lepaskanku,bocah"
Ia segera melepaskanku, meminta maaf atas ketidak sopanannya sambil bersikap gugup didepanku, tapi senyum masih menghiasi wajahnya.
"Hehehe maaf Heichou, aku terbawa perasaan!"
Tch, nickname yang ia beri kepadaku begitu membuatku menjadi aneh.
"Dan jangan panggil aku "Heichou"!", " kau bukan muridku lagi, bodoh" kujitak kepalanya, untung ia tidak melihat bagaimana aku berusaha mencapai kepalanya.
"Ouch! Umm.. maaf, Sensei?" ucapnya sambil mengelus kepalanya yang sakit, ia sedikit memiringkan muka dengan muka yang bingung, imut….
"….Rivaille saja" ucap ku akhirnya.
Setelah itu, basa basi antara kami dimulai, ya, itu umum terjadi hal seperti ini, walau sebenarnya aku benci basa – basi, tapi ingin mengtahui keadaan bocah ini sekarang tidak salah kan?
"…Aku turut berduka untuk ibumu.." ucapku sambil memandang langit. Aku mengetahui makam ibunya ketika aku sedang berkunjung ke kuburan Petra, aku bisa melihat Eren menahan kesedihannya.
Setelah diam dan sampai dipertigaan, akhirnya kami berpisah, aku berjalan ke apartemenku yang tidak begitu jauh, ya, apartemen biasa ini tidak memiliki parkiran yang dekat, aku sudah nyaman ditempat sini dan daerah ini aman dari pencurian.
Sampai dirumah, seharusnya melanjutkan pekerjaannya yang ku bawa pulang, tapi pikiran ku tidak henti memikirkan pemuda yang bersurai coklat itu,aku ingin mengenalnya lebih jauh lagi….
Tch, sudah berhari – hari bahkan lebih dari seminggu aku tidak bisa kosentrasi dengan kerjaan yang numpuk ini, kecepatan dan ketelitianku berkurang, aku merasakan diriku ingin pergi ke sekolah TK itu, walau ada orang lain yang mengurusnya.
"Rivaille, kau tampaknya… seperti stress" ujar Irvin sambil memandangiku dengan prihatin, ia bisa merasakan aura yang menekan dan kerutanku bertambah.
"Jangan pikirkan" ujarku sambil melanjutkan kerjaanku, keinginanku ingin cepat selesai.
"Kau ini" Irvin menghela nafas panjang. "Kau butuh seseorang yang memperhatikanmu, kau tidak ingin hidup sendirian kan?"
"Sheesh, aku tidak butuh perempuan" jawabku tajam.
"Hahaha, ya at least ada keluarga atau-"
"Irvin" kalau saja kami tidak kenal lama, ia mungkin sudah memecatku karena sudah lancing berteriak padanya. "Ini urusanku dan kau tidak perlu ikut pusing"
"Hooooi~" tiba – tiba suara menjengkelkan terdengar diluar pintu, dan masuk tanpa ketuk pintu.
"Hanji" ucapku dengan nada tajam. "Apa urusanmu kesini?" Tanya ku ketus karena makhluk pengganggu itu selalu pintar membuat ku kesal.
"Hoho, jangan marah – marah dulu dong! Aku hari ini membawa laporan kepadamu karena kau jarang sekali datang ke yayasan lagi" ia meletakan dokumen diatas mejaku.
"Si Rivaille kenapa?" bisik Hanji kepada Irvin, bodohnya aku bisa mendengar itu.
"Lagi PMS" dan mereka berdua tertawa. Ingin sekali aku melemparkan panci kepada mereka- seeesh tapi di sini tak ada panci.
"Yo, aku tunggu kedatanganmu ~" ujarnya sebelum menghilang seperti ditelan bumi.
Hell,mentang – mentang ia ibu ketua sekarang, ia bisa menyuruhku seenak jidat lagi?
Hari sudah sore, dan untunglah pekerjaanku kelar, kulihat Irvin malah berkutat dengan handphone, "Oh, kau mau balik? Sampai nanti" ucapnya saat aku menuju pintu keluar.
Saat kusampai di sekolah TK itu, aku melihat Eren dengan pemuda lainnya, Oh! dia mirip dengan temannya Eren dulu. Kalau tak salah dari kecil Eren sudah punya komplotan sendiri. Yang seperti perempuan itu…Armin kah? .
"Oi.." suara beratku membuat aktivitas mereka berhenti.
"Rivaille-san!" Keduanya serentak memanggil namaku dengan kaget, berdiri dari tempatnya.
"Sedang apa kalian disini?" tanyaku biasa, tapi sepertinya nada dingin ku yang keluar membuat mereka sedikit gugup takut.
"Kami hanya ingin mengunjungi tempat ini, hehehe" ucap Eren sambil menggarukan pipinya. Dan si bocah pirang hanya mengangguk. "Kau Armin kan?" dan bocah itu kaget lagi.
"Tempat ini sudah sepi, pulang sana…" ucapku dengan nada agak memaksa, Eren mencoba memanggilku tapi ku tidak hiraukan ia. Kenapa? Kalau aku sudah bercakap dengannya, aku akan lupa dengan urusanku di yayasan ini….
Sejak aku sering keluar-masuk ke yayasan, ternyata bocah itu menunggu diriku di TK, kadang ada bocah pirangnya juga. Tapi sebagian aku tidak hiraukan ajakannya untuk ngobrol lebih dalam, aku tahu aku seperti menghindar darinya, tapi situasiku sedang genting dan aku tidak bisa melalaikan pekerjaanku.
Aku merebahkan diriku di kasur, akhirnya aku bisa menyelesaikan semua tugas yang tertinggal dan tugas dadakan dari Irvin, untuk sementara kerjaanku berkurang karena Irvin mengerti situasiku, ia juga menyarankanku untuk berlibur, Tapi hey, tidak ada kata berlibur dikamusku.
Setelah membeli beberapa stock makanan di minimarket, hujan melanda di kota hunian ku ini, aku mendecih kesal, untunglah bawaanku tidak banyak dan membawa payung, hanya butuh melewati pertigaan.
Aku terkejut melihat seseorang duduk sambil memeluk kakinya di pojok pertigaan ini, dan semakin malam hujannya semakin deras, aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menggigil apalagi ini musim gugur, tapi orang itu tidak bergeming, seperti orang sudah mati, badanku tidak mau bergerak meninggalkannya.
Dan sudah kuduga, pemuda itu adalah Eren. Warna mata hijaunya begitu redup, begitu kosong, aku kadang bingung dengan bocah ini, untuk apa dia ada di tempat seperti ini.
"….Ayo ikut aku" ucapku sambil menjulur tanganku kepadanya.
"R-Rivaille-san.." suaranya yang begitu memelas dan pelan itu membuatku bergidik aneh. Pada akhirnya aku membawanya kerumah.
Aku teringat dimana aku membawa Eren kecil ke apartemenku, ia mengotori lantai, mengacak – ngacak kamarku, mandi- ah entah kenapa aku tidak ingin ingat waktu itu, its so embrassing….
Pikiranku kembali ke masa kini, setelah aku membuka pintu dan masuk, aku terperangah melihat Eren yang basah kuyup, aku bisa melihat lekukan tubuhnya dan wajahnya yang sedang menggigil, pemandangan yang ia suguhkan membuatku….
"Oi, mandi sana.." kuberi handuk baru tanpa melihat matanya, aku tak ingin terlihat seperti om - om yang menyeret anak dibawah umur ke rumah, tapi situasi seperti ini membuat orang banyak salah paham.
"E-eh!? Tapi b-bajunya-" Tanpa banyak basa basi kudorong badannya yang basah ke dalam kamar mandi.
"Sudah, biar kuurus, kau mandi sana, bau sekali" ucapku dengan kerutan didahi, ia mengangguk dan akhirnya nurut, dari kejauhan aku bisa mendengarkan suara shower dinyalakan. Dan lagi – lagi pikiran ku kembali dimana aku memandikan bocah itu, aku masih terheran kenapa aku melakukan itu…
Konsentrasi ku kembalikan pada memasak masakan malamku ini, kukeluarkan sayuran yang barusan aku beli, memotongnya setelah dicuci. Sepertinya pisauku sudah mulai tumpul la-
"Rivaille-san, aku sudah selesai mandi" ucapnya setelah keluar dari kamar mandi.
'Holy…' Dan lagi – lagi aku melihat pemandangan yang membuatku berdesir aneh, melihat bocah remaja dengan kemejaku yang lengannya ngatung dan mengelap rambutnya yang agak basah, aku bisa mencium aroma shampoo dan sabunku dibadannya.
Tanpa merensponnya, aku berbalik badan, menyembunyikan semburat merahku yang muncul tiba – tiba, aku bisa merasakan bocah itu mengawasiku dan ia tertawa.
"Kenapa ketawa, bodoh?" tanyaku dengan nada jengkel.
"Tidak apa – apa, hanya saja tidak cocok dengan imej mu sebagai guru yang perkasa, hahaha" tawanya membuatku tambah jengkel, kutendang saja kakinya yang panjang itu.
Setelah selesai masak, kusuguhkan minuman hangat kepadanya, dan ia membantu menaruh piring dan alat makan.
"Itadakimasuuu~"
Ia memakan makananku dengan semangat dan terburu – buru. Hah, masih saja kebiasaannya yang dulu dipelihara, aku bisa melihat nasi yang menempel didekat mulutnya dan saosnya di sisi lain pipinya, ingin kujilat untuk membersihkan sekalian menghukumnya… okay, otakku sudah mulai tidak beres.
"Eren, makan yang benar" kuingatkan dia.
"Tafiii- iniii- Enaak-Sekaleehh" nada suaranya membuatku tertawa, kutendang kakinya lagi, dengan sukses, ia terbatuk dan buru – buru minum, kusembunyikan tawaku dengan minum kopi.
Eren menonton TV dengan riang, ia duduk cukup berdekatan, hanya saja ia tidak bersender kepundakku seperti dulu, Hey, mengapa aku mengharapkan ia akan bermanja kepadaku? Tawanya yang lepas dan riang itu memang kadang nyaring, tapi itulah yang selalu membuatku tersenyum dulu, dan sekarang tidak ada bedanya, aku hanya mengawasinya dan ikut tertawa menonton acara lawakan yang bodoh itu.
Begitu ingat aku harus tidur, aku memberitahukan dirinya tidur di kamar tamu, itu sudah sewajarnya kan? Tapi reaksinya malah membuatku bingung, kenapa ia… begitu kecewa? Tch, bocah kadang tidak bisa ditebak, aku diamkan dirinya dan membaring tubuhku untuk beristirahat.
Terbangun beberapa kali karena suara isakan dan gerumuh dari kamar sebelah membuatku kesal, aku bisa menebak bocah itu mengalami mimpi buruk ,tapi ia tidak ada hentinya merintih, karena tidak kuat mendengarnya, aku bangkit dan mengunjungi kamar tamu.
"AAAAH TIDAAAK!" Ia terbangun dengan nafas tersengal – sengal, badan penuh dengan keringat dan wajahnya yang horror. Lalu ia menyadari keberadaanku
"M-m-maaf!" Eren langsung membungkuk. "A-aku tidak bermaksud-"
"Oi, kau ini sama sekali tidak bisa tidur, aku jadi terganggu, bodoh" kupotong kalimatnya, sebenarnya bukan salahnya ia bermimpi, toh semua orang juga mengalami kan?
Kuputuskan memberinya obat tidur supaya pulas… hey obat ini bukan hal yang macam – macam, aku tidak selicik itu. "Ini" kusodorkan minuman dan pil ketika kami sedang ada di ruang tengah yang gelap.
Wajanya masih lemas dan lemah itu membuatku ingin berada disampingnya, aku memutuskan bertanya mengenai mimpi buruk dan masalahnya. Setelah mendengar ia mempunyai masalah dengan ayahnya, hatiku pilu, karena aku pernah mengalami apa yang ia alami.
"Eren…"Bisikku, aku bisa merasakan badannya terlonjak. "Tarik nafasmu, biarkan dirimu rileks, jangan terburu – buru" yang penting ia butuh ketenangan dulu, bercerita tentang hal yang mengerikan tentu membuat nervous bukan?
Setelah ia agak tenangan, aku memberi kata – kata dorongan, ia merensponku begitu cepat, ia memandangku dengan mata yang berbinar – binar, seperti dulu, dan aku tertegun melihatnya. Kuurungkan niatku yang ingin menyentuh wajahnya dan aku pergi meninggalkan dirinya, aku bisa merasakan matanya mengikutiku.
"Kau mau tidur denganku?" Rasanya ingin menonjok mukaku sendiri. Ada apa dengan diriku yang tiba – tiba mengajaknya tidur bersama? Dan hey, kata –kata itu begitu ambigu. Ia terperangah kaget, tapi ia membalas dengan anggukan pelannya, ia mengikutiku masuk kekamar, aku bisa merasakan dirinya begitu gugup, tidak tahu harus apa, ya begitu pula dengan diriku.
"Hoi, berbaring disini.." kutepuk sisi kananku yang kosong, tempat tidurku tidak begitu besar tapi cukup untuk dua orang, ia berbaring dengan pelan dan mengarah ke lain arah, ya, lebih baik daripada ia menghadap ke diriku, aku bisa terjaga sepanjang malam, lambat laun aku mendengarkan dirinya mendengkur pelan dan nafasnya sudah rileks, tak lama, aku menyusulnya tidur.
Di pagi hari yang cerah, biasanya aku selalu bangun, entah kenapa aku begitu malas bangun hari ini, selain tidurku lebih pulas dari yang biasa, hari ini libur kerja, walau aku harus mengunjungi yayasan lagi. Dan aku teringat aku tidak tidur sendiri hari ini, aku merasakan kehadiran orang lain, dan orang itu mendekapkan diriku.
DEG
Jantungku langsung berdebar keras ketika menyadari sepasang tangan telah menyelimutiku, kaki – kakinya saling bertautan dengan kakiku dan lagi nafasnya terasa jelas di leherku, yang membuatku agak geli, tapi tak hanya itu, bibirnya nempel dengan kulitku, aku bisa menebak bibirnya lembut-
'Oh Shit…'
Aku mulai merasakan tubuhku menjadi aneh, dan sepertinya aku tidak tahan lagi.
"Oi, minggir bocah"
Ia langsung terjaga dan melepaskan dekapannya dengan ber "Eeeeh" ria, aku bisa merasakan ia sungguh takut dengan apa yang ia lakukan dengan 'tanpa sengaja'. Hell, rasanya aku ingin menghukum bocah itu, tapi melihat mukanya yang ketakutan malah ingin membuatku menggodanya.
"M-maaf Rivaille-san, aku tidak bermaksud-"
"Heh, kamu dulu juga begini, pagi – pagi sudah menempel" ucapku dengan nada yang agak mengejek, yang diejek malah memerah seperti tomat, Gheez, aku harus buru – buru kekamar mandi sebelum lepas kendali.
"Sebagai gantinya, kamu membuat sarapan" ucapku sebelum menghilang kekamar mandi, aku terpikir ingin menyicipkan masakan remaja ini.
Lagi – lagi, aku memberikan bajuku kepadanya, ya, aku tidak tahan melihat orang yang jarang mandi, bagiku kumannya sudah lebih dari 1000 menempel dibadannya, dan bajunya belum kering. Ia hanya nurut saja, walau kelihatan ia tidak enak karena merasa merepotkanku, ya daripada itu, lebih baik bantu aku bersih – bersih, pikirku.
"…Tidak buruk" Ucapku ketika memakan masakannya, Eren yang memakai celemek ku sambil mengawasiku dengan matanya yang unik itu membuatku ingin memakannya- aah, lupakan. Ia tersenyum lebar karena komentarku.
Setelah diam sesaat sambil membantu mencuci piring, akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya tentang keluargaku. Kujawab sesingkat – singkatnya saja, sejujurnya aku tidak suka membahas hal seperti itu, tapi tak salahnya ia tahu, kan?
"Rivaille-san kemana?" tanyanya saat aku bersiap – siap pergi ke yayasan.
"Ke sini tentunya" jawabku tanpa banyak basa basi dan menunjukan jariku ke kantung yang memiliki tulisan "Little Corps Kindergarten".
"A-Aku ikut!" ucapnya, dengan cepat, Eren mengganti bajunya dengan baju yang baru bersih dari Dry Machine dan mengambil jaketnya yang sudah kering. Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkahnya.
Aku lupa hari ini ada amuba yang menyebalkan sejagat raya sedang bekerja, si kacamata langsung menyambut Eren dengan heboh, ia juga menanyakanku hal yang aneh – aneh, Shit, kenapa ia selalu ada ketika waktu tidak tepat? Untung Eren tidak membuka suara ia dari rumahku, bisa gawat ketahuan si manusia yang gendernya tidak jelas dengan tingkat kekepoan yang diatas rata – rata.
"Oooh! Kamu mau bekerja sambilan disini? Kami kekurangan sedikit orang lho~" tawar Hanji, dalam hati aku mengumpat pada dirinya yang seenaknya menawarkan pekerjaan, seharusnya ia menanyakan persetujuan dariku. Tapi saat kulihat mata Eren yang berbinar – binar itu membuatku terperangah lagi, aku ingin menyaksikan dirinya sebagai guru.
"Heh? Tentu!" ucap Eren dengan semangat membara.
"Pakai ini Eren!" Hanji menyerahkan apron pink khusus wanita. Dan sepertinya Hanji memang sengaja, membuat remaja itu menggunakan apron yang imut, Uh! Ia merencanakan ini dari semula.
Ku awasi Eren dari jauh, aku berpura – pura sibuk mengurusi surat dan dokumen bersama Mike, untung ia orang yang tidak banyak komentar, walau ia sering memergokiku sedang memandangnya. Kulihat Eren begitu semangat dan lengket dengan anak kecil, ia dapat membuat anak – anak tertawa dan percaya kepadanya sekaligus. Eren tidak berbakat dalam menggambar maupun melipat, tapi ia mudah membuat orang tertawa dan terbawa oleh permainan nya yang ia buat, aku tertegun dengan kemampuannya mengajar.
"Kau tahu? Kalau aku melihat cara Eren mengajar, itu persis sepertimu" komentar Hanji saat ia menghampiriku dan sama – sama mengawasi dirinya. Aku terdiam.
"Bedanya, dia itu murah senyum, gak kayak kamu, fufufu~" Ok, itu artinya mengajak berantem, tanpa ba bi bu, ku hantamkan sikuku ke perutnya, ia sampai terbatuk – batuk menahan kesakitan, tapi tawanya yang menyebalkan masih tidak menghilang dari mulutnya yang selebar mulut titan. Kuputuskan untuk kembali mengajar hari ini, kuganti baju formalku menjadi seragam guru dan mengajar dikelas lain.
Saat bel pulang berbunyi dan beberapa orang tua menjemput anaknya, kulihat Eren sedang berada didepan, aku teringat bagaimana kesepiannya Eren menunggu ibunya menjemput, Eren menemani murid – murid yang dijemput agak lama oleh orangtuanya, kuputuskan untuk menghampirinya.
"Lihat, itu Heichou~" hell, dia malah membawa nickname yang ia beri dulu.
"Jangan sembarang memberi nickname ke orang, bo-bocah" hampir kulontarkan kata – kata kasar didepan muridku, ia malah tertawa lebar, Tch, kutahan kejengkelanku.
Setelah diam beberapa saat, ia membuka suara. "Ternyata benar kata Hanji-san" kunaikkan alisku.
"Kau ini memang lembut saat mengajar" ucapnya, dengan melebarkan senyumannya, plus posisinya yang imut, ku tak bisa menahan semburat merah yang ada dimukaku, kutinggalkan dirinya, tak ingin ia melihatnya.
Setelah usai, aku mengantarkannya ke rumahnya, aku bisa merasakan ia agak nervous, takut Ayahnya bertemu denganku, tapi untunglah saat sampai, ia tidak ada di sana.
"Rivaille-san mau mampir untuk minum…?" tanyanya dengan penuh berharap.
"Tidak, aku masih ada kerjaan besok" ucapnku sambil mengangkat lenganku untuk melihat jamku.
"Oh…" suaranya penuh dengan kekecewaan.
Kupandang mukanya yang mendadak lesu, Gheez, kenapa dia ingin sekali menyimpan waktunya bersamaku?
"Hey" kuletakkan jari telunjukku di jidatnya, ia terlonjak kaget.
"Jangan pasang tampang gitu" ucapku, aku bisa melihat sebersik semburat merah di mukanya. "Mukamu akan berakhir seperti ku" tambahku, dan aku mendengarkan tawa lembutnya.
Tanpa kusadar, diriku tersenyum, dan ia menatapku, aku langsung menghapuskan senyumanku ini.
"Kalau kau ingin kabur lagi.." Matanya tertuju kepadaku.
"Kau boleh lari kerumahku.."
Seminggu setelah perkataanku, ia berhenti mengkontakku, yang membuatku menjadi panik sendiri, kadang kulihat ia kesekolah dengan temannya, dan melihatnya kerja dengan Hanji, tapi sebagian besar ia yang menghindariku, Tch, ada apa dengan bocah itu?
Irvin yang dari kemarin melihatku uring – uringan malah tersenyum dengan ciri khasnya.
"Humm~ kemarin sepertinya kamu berbunga – bunga sekarang mulai beraura gelap lagi" gumamnya. Aku tidak membalas perkataanya.
"Kamu sedang jatuh cinta ya?"
Jleb
Entah kenapa kata – katanya Irvin malah terasa benar, aku selalu uring – uringan ketika bocah itu membuat masalah, dan aku nyaman berada didekatnya, apakah ini yang disebut cinta? –ini membuatku gila sesaat.
Kugelengkan kepala. "Sembarangan kau, Irvin" ucapku. "Mana mungkin aku bisa tertarik dengan bocah yang labil itu" gumamku tak sengaja terdengar Irvin, dan ia menyeringai lebar, Ugh! Aku benci kalau ia sudah begitu.
"Oh~ jadi tipemu seperti itu?" ujarnya. "Pantas kau tak tertarik dengan wanita, apalagi rekan kerja, padahal banyak yang naksir kamu lho"
'Persetan dengan itu' umpat ku dalam hati . "Kenapa? Kau mau mencemoohku?"
"Wow, santai saja, Rivaille. Kau setipe dengan ku kok" ucapnya sambil membaca dokumen, aku menjadi jijik merasa sama dengannya, bagaimana disamakan dengan orang yang selalu senyum – senyum tidak jelas dan tidak tegas kepada pegawainya? Ia terlalu lunak menjadi orang.
"Heh, aku mana sudi dijuluki om pedofil yang sama denganmu" balasku.
Irvin adalah pria idaman semua wanita, wajar saja aku kaget melihat dia ternyata 'belok' dan ia malah pacaran ama anak bau kencur dan lagi sesama jenis? Hell, itu bukan urusanku. Dan yang diledek malah senyum – senyum tidak jelas sambil menatap layar handphone, what? Dia malah sibuk pacaran, Ugh! Aku semakin kesal dengannya.
"Pantesan Rivaille bisa belok, ternyata sumbernya Irvin toh" ucap suara yang tidak jelas gendernya.
Aku hanya mengangguk setuju. Tunggu, siapa yang bicara?
"Oi, disini bukan tempat mu…" ucapku dengan aura membunuh yang kuat.
"Tapi aku kesini karena urusan dengan Irvin" ucapnya sambil menjulurkan lidahnya dengan nakal. Oh ingin kutarik lidahnya dan kusemprot sambal pedas dilidahnya.
"Urusan apa main? Kalian ini kan teman, bukan rekan kerja" ucapku, aku tahu mereka bersahabat dari dulu, dan Irvin tidak memiliki hubungan bisnis dengan Hanji, jadi apa lagi selain datang hanya sekedar main – main?
"Santai saja Rivaille~ lagipula aku tidak menganggumu" Hell, keberadaan dia diruangan saja sudah membuatku eneg.
"Tidak apa – apa Rivaille, lagipula, aku yang mengajaknya kesini" ucap Irvin dengan senyum penuh makna. Ah, lebih baik aku minggat saja duluan.
Selagi, aku membereskan laptopku, aku melihat wallpaper handphonenya ketika aku melewati mejanya, seorang pemuda yang berambut pirang, sepertinya aku familiar dengannya, ah itu bukan urusanku.
Aku membuka handphone saat ia berjalan keparkiran, biasanya hari gini Eren sudah mengirim berbagai macam SMS sampai inbox penuh, tapi sekarang… hanya ada tulisan 0 di kotak masuknya, rasanya aku ingin banting handphone ini…
Beberapa hari berikutnya aku pergi keluar kota untuk urusan kerja, memang hari – hari itu sibuk, tapi pikiranku selalu melayang mengenai bocah itu, dan lagi aku selalu membuka inbox handphone tanpa sadar ketika sedang ada waktu luang, Tch! Kenapa diriku yang menjadi obsesif?.
Kuputuskan saat kupulang, akan ku ajak bocah itu makan bareng dan berbicara dengan eyes-to-eyes , Hell, kenapa aku masih saja ingin menghubungi bocah itu…
Kebetulan ketika aku kembali dari stasiun, aku menjumpai bocah itu saat ia keluar dari sekolah halamannya. 'Kesempatan' pikirku.
"Oi"
Bocah itu berhenti, seperti mendengar suara setan, badannya bergetar ketika melihat wajahku, Hell, aku menjadi kesal, apa aku seseram itu?
"R-Rivaille-san?" Aku bisa mendengarkan tenggorokannya meneguk ludahnya.
"Aku baru pulang dari kota sebelah" ucapku, mengucapkan hal yang tidak penting. "hum, karena masih sore, mau makan didekat sini?" ajakku mendadak, dan tanpa sadar jantungku berdetak cepat.
"Uhm.. Maaf! Aku banyak PR!"Ia membungkuk lalu berlari menjauh. "Sampai nanti, Rivaille-san!" teriaknya.
Entah kenapa aku merasa hal yang sesak didadaku, rasa ini sungguh menjengkelkan, rasanya ingin menonjok seseorang sekarang, kenapa aku kecewa? Lagipula itu bukan urusanku, ah, hal seperti ini sungguh membuat pusing.
Esoknya aku menganggap tidak terjadi apa – apa diantara kita, dan ketika aku mengirimkan pesan elektronik kepadanya, ia hanya menjawab singkat, Shit, Bocah ini membuatku semakin penasaran, Irvin yang melihat aku sibuk mengutak ngatik handphone hanya senyum, Ugh, bolehkah kulempar sepatu pada wajahnya yang mengejek itu?
Dan yang membuatku lebih kesal, aku melihat bocah itu selesai bekerja di yayasanku, Kalau ia punya banyak waktu bekerja, kenapa ia tidak menerima ajakanku? Oke, pikiranku semakin kacau.
"Oi Eren" Eren langsung mendongak dan mundur sedikit, tubuhnya masih agak kaku. "Ya-ya Rivaille-san?"
"Kenapa kamu disini? Kukira kamu masih sibuk mengerjakan PR" ucapku dengan nada dingin.
"Oh-ho oh! aku baru selesai tadi malam, hehe" Ucapan yang penuh dengan kebohongan, kutahan kemarahanku. Aku mengajaknya makan di restoran yang dekat, supaya ia tidak beralasan lagi.
Pada akhirnya ia menerima ajakanku, dengan pasrah, ia mengikuti dan menaikki mobil yang kukendarai, aku bisa liat dia memperhatikan mobilku sedaritadi, dan matanya sama sekali tidak melihatku ke arahku, ada apa dengannya?
Setelah itu ia mulai menanyakan hal personal kepadaku, ya, aku hanya menjawab sekedarnya saja, tapi aku merasa lega ia masih mau bicara denganku, kuurungkan niatku untuk bertanya ada apa dengannya sedari kemarin.
Kegugupannya semakin parah ketika aku membawanya masuk ke restoran yang kupilih, memang restoran itu biasanya untuk orang kerja ataupun keluarga yang mau makan bersama, ia memesan menu yang paling murah dan simple, begitu pula minumnya, kuputuskan untuk memberi makanan yang ia bisa bawa pulang.
Dan pada akhirnya, aku tidak menanyakan apa yang terjadi, aku terlalu sibuk memperhatikan dirinya yang sedang makan, ataupun sedang berbicara, aku bisa merasakan ada sesuatu yang ia sembunyikan, dari gerak geriknya pun ketahuan, dan kadang pipinya memerah sendiri. Heh, pemandangan ini sungguh membuatku geli, aku heran, kenapa bocah seperti ini bisa membuatku marah atau senang dalam sekejap?
Kuantarkan dirinya pulang kerumah, ia kembali ke dirinya yang periang, dan aku lega melihatnya, tunggu, jangan – jangan apa yang dikatakan Irvin memang betul, bahwa aku memang jatuh cinta kepadanya?
Ah, aku tidak suka cuaca hujan dihari Minggu, membuatku tidak bisa keluar rumah, tapi didalam rumah pun tidak buruk, aku bisa menonton film atau membaca buku selagi menghabiskan waktu, lagipula Hari Minggu memang hari bersantai kan?
Lalu tiba – tiba ada tamu yang diundang, tamu yang tidak pernah kuharapkan datang ke tempatku secepat ini. Eren, kondisinya hampir sama persis ketika aku menemukan dirinya di pertigaan, bisa kutebak ia habis menghadapi konflik dengan Ayahnya.
"Eren!" bocah itu tidak bergeming, badannya basah dimana – mana.
Kutuntun dirinya masuk ke ruang tengah, memberinya handuk baru. "Sudah kubilang, jangan bermain hujan-hujanan, bodoh" dan ia tetap diam.
"…Kau sedang ada masalah dengan Ayahmu?" kutebak, dan ia mengangguk, sesuai dugaanku.
"Sheesh.." Bisikku, dengan harapan dirinya yang labil akan tenang.
"….Ada apa lagi sekarang?" tanyaku ketika aku berjalan mengambil gelas untuk minuman.
Eren perlahan berdiri, aku bisa merasakan dirinya menatapku.
"Rivaille-san"
"Hum?"
"Selain masalah itu, aku mempunyai masalah lain.." Ia berjalan mendekatiku perlahan.
"Apa?"
Tiba – tiba sepasang tangan memelukku dari belakang, aku bisa merasakan nafasnya di leherku, badannya yang basah membuat suhu tubuhku tambah panas, dan gara – gara dia, aku menumpahkan gelas yang kupegang.
"Aku menyukaimu…"
DEG
Ada apa dengan bocah ini? Kenapa ia tiba – tiba mengucapkan kalimat yang tidak masuk akal? Apakah ini yang menjadikan alasan ia bersikap aneh kemarin hari? Kutepis semua pertanyaan dikepalaku dan berkonsen membersihkan pecahan gelas.
Eren tersontak kaget dan membantu membersihkan, dengan muka yang penuh rasa bersalah. Dan gara – gara pernyataanya, pikiranku tidak bisa normal, aku bisa merasakan hasrat yang terpendam didiriku ingin 'melahap' nya sekarang juga. Bagaimana tidak? Ia menyuguhkan pemandangan yang membuatku tergoda, ya, aku sadar sepertinya aku memang 'belok'. Karena aku sedang terganggu emosinya, kuputuskan mengusirnya sebelum diriku lepas kendali.
"…Pergi"
"Eh!?"
"Pergi dan jangan kembali kesini untuk sementara" ujarku dengan nada dingin, berharap ia segera pergi.
"M-Maaf, Rivalle-san…Aku" ia mencoba menjelaskan tapi, jika tidak cepat pergi….
"Hujan sudah berhenti, sebaiknya kau keluar" perintahku.
Aku bisa merasakan Eren kaget, ia berlari keluar dari rumahku dengan muka yang membuatku miris, aku tidak punya pilihan lain, aku tidak ingin membuat keputuskan hanya karena nafsu sesaat, aku ini orang dewasa, aku harus mempunyai pemikiran yang matang. Tapi, kulalui hari ini dengan mood yang down, rasa bersalah terus mengiang di kepalaku.
Pada akhirnya aku menceritakan kisahku kepada Irvin setelah berhari – hari aku mencari solusi, ternyata soal perasaan lebih sulit dari persoalan ekonomi manapun, dan lagi aku tidak bisa berkonsultasi soal seperti ke sembarangan orang, dan mau gak mau, aku menyerahkan kepada orang yang kupercaya.
"Aku tidak menyangka bocahmu begitu agresif" ucapnya sambil tertawa.
"Ia begitu karena sedang diliput emosi, ia tidak berpikiran jernih" ucapku.
"Tapi, tidak mungkin orang akan tiba – tiba mengucapkan 'suka' kepada orang yang belum dikenal, dan lagi kepada orang yang umurnya jauh" jawabannya bisa diterima.
"Tapi Irvin, yang namanya hubungan pasti beresiko dan lagi dia sedang masa labil, aku tidak bisa menerimanya hanya karena nafsu semata" protes diriku.
"Aku tahu Rivaille, tapi kalau ia memang hanya nafsu, kenapa ia datang ketempatmu? Ia betul – betul mempercayaimu, kau pernah bersamanya saat ia masih kecilkan?"
"Memang, tapi ia masih kecil, sekarang bisa saja ia berubah, Irvin, bisa saja aku tidak mengenalnya seperti yang aku pikirkan selama ini" ucapku, sambil memandang langit yang ada dijendela, pada akhirnya aku tidak konsen kepada kerjaan sama sekali.
Irvin menepuk pundakku, lalu berkata "Bagaimana hari ini kita mampir di bar sebentar? Sebagai hiburan semata, lagipula ini akan membantumu"
"Membantu apanya? Lagipula aku tidak minum alcohol" tolakku, kenapa ia malah mengajakku?
"Ayolah, hanya sekali ini saja, supaya membuat dirimu rileks" bujuknya, dasar mulut manis, aku terbawa lagi dengan kata – katanya.
Sampai disana yang kita jumpai malah si kacamata freak itu, sudah kuduga Irvin mengundangnya, dua bakteri ini memang suka menempel satu sama lainnya.
"Kejaam kau mengataiku bakteriii" keluh Hanji, sejak kapan ia membaca pikiranku.
"Nee nee, aku dengar ada yang terkena penyakit cinta nih~" ledeknya, kutendang tulang keringnya, aku bisa merasakan ia merintih kesakitan sambil memegang kakinya.
"Sudahlah, biar ia rileks, ia habis curhat soalnya" ujar Irvin sambil memesan minuman.
"Heee, cerita apa saja!?" aku hanya mendelik ke Irvin dan kembali minum Cappucino ku. Setelah mereka bercakap, Hanji menyenggol sikutnya ke lenganku.
"Menurutku ya, sebaiknya kau menjawabnya"
"Aku tidak butuh pendapatmu, bodoh"
"Hey, aku serius! Anak remaja seperti itu akan berubah pikiran kalau tidak cepat dijawab" bisa kurasakan ada kata – kata ancaman darinya, ah hanya perasaanku.
"Kalau begitu, kenapa aku harus menganggap serius?"
"Memang kau tidak merasakan apa – apa ke bocah itu?" Jackpot, Hanji tau aku memendam rasa kepadanya.
"Bagaimana…"
"Tentu saja aku tahu! Kaunya saja yang tidak bisa menjaga pandanganmu, Hahahaha-Uhuuk!" Seriously, kapan amouba ini bisa menahan ucapannya. Puas menyikutnya, aku melirik kearahnya.
"….Apakah Eren masih bekerja di sana?"
"Heh? Aku sudah tidak bertemu bocah itu semenjak hari Minggu" ucapnya sebelum minum bir.
"…." Aku terdiam, mungkin memang sebaiknya ia dijawab, aku tidak bisa membiarkan perasaannya tergantung, atau ia sudah merasa dirinya ditolak? Ah, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.
"Kalau kau mau menjawabnya, kusarankan kau mengatakannya dengan lembut" ujar Irvin.
"Hah? Kau tau kan itu bukan gayaku"
"Justru dengan gaya yang tidak biasanya, Bocah itu pasti percaya" tambah Hanji. "Lagipula, kau memang ingin bersamanyakan?"
Aku terdiam lagi, mencoba memikirkan alasan yang lebih rasional.
"Buatlah keputusan yang tidak akan kau sesali" saran Irvin, ia yang sudah berpengalaman pasti tau, Hey, ngapain dia menatap layar handphone dengan senyum mesem – mesem gak jelas? Mendadak aku menjadi jijik.
"Kusarankan kau menghampirinya setelah pulang sekolah" ucap Hanji, ia sudah menyelesaikan gelas pertamanya, hell, tidak heran ia bisa kuat dengan alcohol.
Untuk pertama kalinya, mungkin aku merasa mereka memang berguna kalau dijadikan teman, hanya saja aku harus menyiapkan metal ketika mereka akan meledekku di esok hari.
Irvin mengizinkanku keluar kantor lebih cepat darinya, tapi mendadak dijalan macet. Hell, sepertinya hari ini akan menjadi hari buruk, firasatku sudah berkata begitu. Dan ternyata benar, ketika aku sampai, yang kutemui adalah gadis yang berambut hitam sedang ngobrol dengan bocah itu, dan lagi ia terlalu dekat! Dan lagi matanya! Ugh! Belum pernah kurasakan rasa marah yang begitu kuat, apa ini cemburu?
Banyak murid – murid yang melihatku berjalan, mendekati mereka, aku tidak peduli, yang ingin sekarang ku ketahui adalah siapa gadis itu.
"Oi"
Bisa kulihat Eren panic yang dua kali lipat, ia sudah kelihatan gugup tambah gugup, seperti orang yang terjebak ditanyai hutang, hey aku bukan rentenir. Dan gadis itu memberi pandangan curiga kepadaku, Ugh, ia merusak moodku.
"Siapa kamu?" Tanyanya sinis.
"Kau juga siapa, nona kecil? Aku bukan berurusan denganmu" balasku tanpa basa basi.
Dan mulailah adu mulut, aku merasa gadis ini protektif ke Eren, aku tidak pernah melihat dirinya sebelumnya, Ugh, kenapa ada orang yang selalu menganggu hal penting.
"Ano… aku dan Eren ada tugas, jadi kami duluan ya" potong Armin, temannya, mau tidak mau aku hentikan pertarungan ini, dan Eren kabur dengan sukses, rasa ingin memilikinya bertambah, aku tidak bisa mendiamkannya lebih dari ini.
Berita tentang gadis itupun tersebar cepat ke Irvin dan Hanji, mereka malah mengunjungi rumahku, padahal moodku sedang berantakan.
"Tenang, kami kesini untuk membantumu!" ujar Hanji, ia membawa sekotak donut, kenapa malah memberiku makanan?
"Tidak kusangka masalahmu menjadi seperti ini" Irvin duduk di sofa sambil mengambil makanan.
"Apa mau kalian?" ucapku tanpa basa basi.
"Ingin main saja kesini" jawab Hanji sambil mengganti channel TV.
"Dan aku memberitahu mu kalau besok Eren akan pergi ke stasiun, sebaiknya kau cegat saja" Irvin menyeringai.
"…Tau dari mana kau-" dan sebelum aku menyelesaikan ucapanku, aku sadar siapa orang yang ada di wallpaper handphonenya. Irvin adalah orang yang romantis, tentu orang yang diwallpapernya pasti orang yang ia paling sayangi, berarti…
"Irvin.." ucapku dengan nada tajam, ia melihatku dengan wajah tanpa dosa.
"Jangan bilang kau…" aku menaikkan alisku. Ia mengerti maksudku, dan tertawa kecil.
"Sudah kubilangkan" ia kembali tersenyum. "Tipe kita sama"
"dia memang bukan muridku lagi, tapi.." aku memberinya peringatan. "Kalau kau mempermainkan anak itu.. kau akan menyesal"
Tawanya semakin keras, dan Hanji ikut – ikutan tertawa.
"Tenang saja, sudah kubilang aku orangnya serius"
"Woah! Sejak kapan kau peduli dengan mantan muridmu?" Tanya Hanji penasaran.
Kedua kutu kupret ini malah tertawa. "Tch" aku hanya membalikkan badanku, dengan terpaksa aku harus melayani mereka sebagai tamu, ingin kutendang mereka keluar kalau saja mereka tidak membawa informasi penting. Memang dasar teman.
Aku berjalan dihari yang begitu dingin. Tch, sebenarnya aku tidak suka hal dingin, membuatku ngilu, aku memaksakan diriku yang agak ngantuk karena mereka bermain dirumahku sampai tengah malam.
Saat menguap, aku melihat bocah itu bersama gadis itu, aku mengikutinya, jalan memang sepi, tapi beda dengan stasiun, pagi hari penuh dengan orang dan aku membuatku malas berjalan mendekati mereka, kuawasi dari jauh.
Mendadak hatiku lagi – lagi pilu, melihat bocah itu menyentuh gadis itu, dan aku tahu itu sentuhan kasih sayang, dalam berbagai arti. Agh! Lagi – lagi emosiku tidak terkontrol, aku sangat tidak menyukai ini, saat kereta itu berangkat, aku langsung berjalan mendekati bocah itu.
"R-Rivaille-san!?" ia terlonjak kaget melihat diriku, aku langsung menarik tangannya, membawanya keluar dari tempat sialan ini.
"L-Lepaskan Rivaille-san… S-sakit!" Keluhnya.
"Tch"
Aku mendorong badannya yang agak tinggi dariku masuk kedalam gang antara toko, untunglah jalanan begitu sepi jadi tidak ada yang melihat kami.
Kudorong badanku mendekap kepadanya, aku tahan kedua lengan dengan kedua tanganku, menahan agar ia tidak kabur, aku bisa merasakan emosiku yang sedang menggebu sambil mendengarkan nafasnya yang tersengal – sengal.
"R-Rivaille-san…Anda terlalu dekat" ucapnya dengan terbata – bata, tapi suaranya begitu menggoda.
"Kau sendiri menyentuh gadis itu" ujarku dengan tajam, tidak bisa menyembunyikan kecemburuanku.
"T-Tapi dia H-hanya-"
"Diam! Aku tidak butuh excuse darimu" Kudekati wajahnya yang memerah.
"Kau tidak mau mendengar jawabanku?" bisikku, mukanya tambah memerah, tapi raut mukanya menunujukan ia bingung.
"J-jawaban apa?" Tch, pura – pura tidak tahu ya? Ucapannya membuatku tambah emosi, kutabrak jidatku ke dagunya, membuat ia mengeluh sakit, selagi perhatiannya teralihkan, ku tempelkan bibirku dibibirnya.
Mmm, lebih lembut dari yang kukira, dan lagi sepertinya rasanya manis, kuciumkan bibirnya dengan lembut, lembut sampai terbuai. Aku bisa rasakan bocah ini yang tadinya begitu gugup, lama kelamaan ia menikmati ciumanku, dan perlahan mendorong bibirnya sebagai balasan. Dari gerakannya, aku bisa tahu ia tidak memiliki pengalaman seksual seperti ini.
"Mmm" ia mengeluarkan suara, membuatku semakin ingin memilikinya. Kubuka mulutku, mencumbu bibirnya yang panas, mencoba meng'invasi' mulutnya, tapi tampaknya ia tidak gampang menyerah, kugigit bibir bawahnya,bisa kurasakan rasa darah yang berada di lidahku, kujilat sedikit untuk meringankan sakitnya, ia merintih kesakitan dan otomatis mulutnya terbuka, dengan cepat, kulumatkan semua yang ada di mulutnya, bisa kurasakan ia terkejut, karena gerakan badannya.
"Ahhfn-Aaah"
Desahannya semakin terdengar, membuat diriku semakin gila, tanganku bergerak tanpa permisi, mengeksplorasi bagian bawahnya, bisa kurasakan ia mulai memberontak. Aku mulai mendominasi lidahnya, dengan kaku ia membalas jilatanku, mencoba mendorong keluar, tapi diriku yang handal, membuat dirinya terbuai, kalah dan menikmati cumbuan kami.
Dengan perlahan, aku mundur, merasakan saliva kami masih mengikat, beradu tatapan dengannya, bisa kurasakan detakan jatung kami yang beirama, wajahnya yang penuh dengan kemerahan sungguh cantik.
"Aku seharusnya tidak menyuruhmu pergi hari itu…" kupecahkan keheningan diantara kami.
"Bukan salah Rivaille kok! Aku yang memulai-" Dari ucapannya, sepertinya ia mengerti apa yang kuucapkan.
"Tch, gara – gara gadis itu, aku kehilangan kesabaranku.." Ujarku. "Seharusnya aku menjawabmu lebih lembut…" aku mengeluarkan bingkisan kecil, bingkisan dari saran Hanji untuk memberinya kalau 'ada suatu hal terjadi', aku bisa melihat Eren menatap bingkisan ini dengan binar – binar.
"Untukku?"
"…" kuserahkan bingkisan ini.
"A-aku tetap menyukai Rivaille-san" ucapnya mendadak, membangkitkan binatang buas yang ada didiriku. "W-walau Rivaille-san suka kasar…" dan sepertinya aku mencapai limitku.
"Dasar masochist"Kutepuk jidatnya, berharap ia berpikir ulang apa yang ia katakan.
"Hehehe" Eren hanya tersenyum lebar dengan polosnya, dasar bocah.
"Ja ne.."Aku memutuskan untuk meninggalkannya dari pada hal buruk akan terjadi lagi.
"Eh!? Rivaille-san mau kemana!?"
"…Aku sedang tidak bisa menahan diriku, sebaiknya kau menjauh" ucapku, berharap ia mengerti, tapi kelakukannya selalu diluar dugaan. Ia berlari mengejarku, dan mengenggam lenganku.
"He-Heichou" Tiba – tiba ia memanggilku dengan nickname yang ia beri.
"Mengapa kau-" protesku, tapi terpotong oleh ciuman dadakannya.
CHU!
Bibirnya yang manis menempel di pipiku yang dingin.
"A-aku ingin selalu bersamamu.."Ucapannya membuat diriku memeluknya.
"…..Dasar Bocah" Bisikku
"Me too, Eren"
FIN
(…)
Omake 2
Aku merasakan badanku lebih letih daripada biasanya ketika aku bangkit dari tempat tidur, kenapa? Padahal sedang musim dingin dan biasanya aku tidak banyak bergerak, lalu aku bisa merasakan ada bekas cakar dipunggungku, sejak kapan aku memelihara kucing? Oh, salah paham.
Panik melandaku ketika melihat bocah yang kucintai, Eren, tidur disebelahku dengan kebiasaan 'memeluk'ku dan lagi aku bisa melihat tanda gigitan dilehernya, yang menandakan aku sudah meng'iya-iya'kan badannya yang polos.
'Apa yang kulakukan…' depresi menginvasi kepalaku, kujatuhkan kepalaku di kepalan tangan, dan aku merasakan bocah itu bangkit dari tidurnya.
"Umm…Rivaille-san?" ia mengucek – ngucek matanya, Ugh, kenapa kau begitu imut bocah?
"…." Aku tidak bisa menghadapi ini, aku gagal sebagai "Orang Dewasa yang Tahu Aturan", gagal memberinya kepercayaan…Argh, aku seharusnya tidak menyentuhnya sebelum ia berumur 17 tahun.
"Rivaille-san kenapa?" aku tidak bergeming, kenapa ia yang khawatir kepadaku? Seharusnya ia marah, kecewa…. Dan kelihatan sekali dari sekujur tubuhnya, aku begitu 'kasar' kemarin malam.
"Umm…Etto.." ia bergumam. "A-Aku tidak apa – apa kok.."
"Maksudmu?"
"Aku tidak marah" jawabnya. "W-walau Heichou buas sekali kemarin malam.." gumamnya, ah, ia berhasil membuatku tambah malu.
"T-Tapi aku juga menginginkan Heichou" Tambahnya dengan semangat. Aku melirik ke arahnya diantara sela – sela jariku.
"Jadi ini bukan salahmu…" ucapnya, dengan muka memelas sambil memeringkan kepalanya, jangan lupa ia belum memakai busana.
Oke, pertahan diriku lagi – lagi turun karena pernyataan dari dirinya.
"Kalau begitu.." kudorong badannya.
"Kalau ronde 2, kau tidak akan protes kan?" bibirku membentuk senyum kecil, bisa kulihat ketakutan diwajah itu.
"E-Eh!? T-Tapi Jangan Sekarang-Aah!" ucapannya terhenti karena bibirku sudah melahap lehernya. "J-Jangan! B-b-bokongku sudah tidak kuat-Aaahn,Aaah" dan desahan terus berlanjut.
Happy End!
A/N: Finallyyy! Akhirnya kelar! apakah kalian puas dengan chapter baru ini? apakah mengecewakan? please jangan lupa reviews yaaa, I really love Reviews x3 dam sekali lagi maaf kalau cara mendeskripsi Rivaillenya salah =w= kalau ada yang tak mengerti silahkan tanya XD
and thank you for read until end! have nice days!
