LOVIN' YOU

.

.

Sankyu ya reviewnya atas ff ini :) smg membuat saia menjadi author yg lbh baik #sundulsayang. Hepi reading readers, enjoy it.

.

.

*SEOUL INTERNATIONAL HOSPITAL*

"Yunho..."

"Umma?"

Yunho berdiri saat melihat Umma-nya datang dengan tergesa-gesa, terlihat raut wajah yeoja cantik itu sangat khawatir. Tae Hee datang bersama si bungsu Jung.

"Hyung, sebenarnya apa yang terjadi?"

"Aku juga tidak tahu, Joongie sudah ada di lab saat aku menemukannya, sekarang dokter sedang memeriksa Joongie di dalam." Wajah tampan itu terlihat pucat karena cemas.

Jung Umma semakin terlihat sedih, ia tidak habis pikir bagaimana mungkin ini terjadi? Padahal baru tadi pagi Jaejoong baik-baik saja, ia bahkan terlihat gembira saat Jung Umma membuatkannya sandwich daging.

Wanita bernama lengkap Kim Tae Hee itu terduduk lemas di kursi RS, Changmin menahan tubuh Umma-nya agar tidak terjatuh.

"Umma tenanglah, uri Joongie akan baik-baik saja" ucap Changmin sambil menenangkan ibunya.

"Hiksss Joongie, Joongie Umma"

"Hyung, bagaimana hyung bisa menemukan Joongie?"

"Jijji, dia tiba-tiba saja menghampiriku dan membawaku ke lab saat itu lab sudah dalam keadaan terbakar"

Changmin mengerutkan keningnya.

Ada yang si jenius itu pikirkan.

"Appa eoddie?"

"Appa sudah berangkat ke Jepang siang tadi hyung, Appa juga cemas saat diberitahu keadaan Joongie keunde rapat pemegang saham tidak bisa ditinggal, kemungkinan Appa akan pulang cepat setelah kerjaan di Jepang selesai"

Yunho mengangguk.

Keluarga Jung duduk di bangku di depan Unit Gawat Darurat tempat dimana namja cantik itu sedang ditangani.

Mereka semua menunggu dengan cemas, berharap Jaejoong baik-baik saja.

Yuchun dan Junsu juga berada disana namun mereka duduk agak jauh dari Yunho dan keluarganya.

"Minumlah" ucap Junsu sambil menyodorkan segelas coffee pada Yuchun.

"Gomawo"

"Cepat diminum kalau tidak nanti coffee-nya dingin tidak enak"

"Aku mengkhawatirkan Joongie"

"Aku juga"

"Bagaimana bisa dia ada didalam sana? Apa yang dia lakukan?"

Junsu diam, dia hanya mendengarkan namja Park itu bicara.

"Dan, dan bagaimana lab itu bisa terbakar? Aish"

"Sepertinya kau sangat mencemaskan Joongie"

"Tentu saja, aku menyayangi Joongie seperti adik-ku sendiri"

Seutas senyum kecil terhias di bibir Junsu.

Entahlah, dia hanya merasa lega.

"Aku harap dia baik-baik saja, aku terkejut saat nadinya sempat menghilang tadi"

"Joongie akan baik-baik saja, aku yakin dia namja yang kuat"

Yuchun menunduk, dia memandangi coffee yang diberikan Junsu.

"Ah aku harus pulang, mianhe Umma-ku sedang sakit dirumah dan tidak ada yang menjaganya"

"Hum, nanti akan ku kabari soal Joongie"

"Arraso, aku pulang ne salam untuk Yunho"

"Ne, Su gomawo kau sudah membantu kami"

"Eukyangkyang gwaenchana"

Yuchun terpana.

Ini baru kali pertama ia melihat Junsu tertawa.

Manis.

"Su kau mau kuantar?"

"Tidak usah rumahku jauh dari sini, aku bisa naik taksi"

"Kalau begitu hati-hati"

"Hum, anyeong"

"Ah Su, eung itu b-boleh minta nomer ponselmu?" Yuchun menahan malunya, ia salah tingkah dengan menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.

Namja manis itu terkekeh lucu.

"Ini, kau tulis saja nomor-mu nanti aku yang akan menghubungimu"

Yuchun tersenyum lebar.

Senang eoh?

*SATU JAM KEMUDIAN*

Lampu merah UGD berganti hijau, pertanda bahwa pemeriksaan telah berakhir. Dokter bertubuh besar dan tinggi itu keluar sambil melepas kacamatanya, tertulis dokter Kangin di nametag jas dokternya.

Yunho, Jung Umma, Changmin dan Yuchun langsung berhambur mendekati dokter tampan itu.

"Uisa bagaimana keadaan anak saya? Apa dia baik-baik saja?"

"Pasien masih belum sadar, dia terlalu banyak menghirup asap, kami sudah menyedot sebagian asap yang memenuhi paru-parunya dan mengobati luka dibelakang lehernya, sepertinya ia terbentur sesuatu sebelum pingsan"

Jung Umma hanya bisa menangis mendengar keadaan putera cantiknya.

"Ah sebelumnya saya ingin bertanya, apakah pasien punya traumatik terhadap sesuatu?"

"Nde Joongie memang sangat takut dengan api, dulu dia pernah mengalami sesuatu yang buruk yang berhubungan dengan api" jelas Jung Umma sambil terisak.

"Pantas kondisinya kurang stabil, kemungkinan besar akibat traumatik yang pasien alami, dia sempat mengalami kejang dan kematian sementara, sepertinya apa yang pernah pasien alami dulu cukup tragis sehingga membuat seluruh organ tubuhnya berhenti"

"Tapi Joongie tidak apa-apa kan uisanim?" tanya Yunho kali ini.

Dokter tampan itu menghela napas, kedua tangannya ia masukan kedalam saku dokternya.

"Kami sudah mengobati luka fisiknya hajiman yang mampu mengobati luka jiwanya adalah keluarganya, saya sarankan untuk membawa pasien ke Psikiater"

"Tapi Joongie tidak gila" sela Changmin.

"Psikiater bukan hanya untuk orang-orang yang mengidap stress berlebih, tapi mereka juga mampu mengikis trauma bahkan yang berat sekalipun"

Jung Umma, Yunho dan Changmin saling berpandangan, sedikit shock dengan apa yang barusan katakan. Mereka tidak tahu bahwa trauma yang dialami namja cantik itu cukup berat bahkan bisa membahayakan nyawanya.

"Uisa boleh kami melihat Joongie?"

"Silahkan Nyonya Jung, tapi saya sarankan jangan menunjukan emosi sedih yang berlebih, ditakutkan hal itu mempengaruhi kondisi kejiwaan-nya"

"Ne, gamsahamnida uisanim"

Jung Umma membuka pintu kamar rawat Jaejoong, ia menyeka air matanya terlebih dahulu, ia tidak ingin menangis di depan Jaejoong. Changmin yang akan masuk mengikuti Umma-nya melirik kearah Yunho yang hanya berdiri diam.

"Hyung? Hyung tidak masuk?"

"Kau duluan saja"

Changmin mengerti, dia menepuk punda Yunho dan menyusul Umma-nya masuk kedalam ruangan.

"Kenapa kau tidak masuk?" tanya Yuchun.

"Aku-aku merasa bersalah padanya"

"Hei, ini kecelakaan jangan menyalahkan dirimu buddy"

"Tapi tetap saja aku-"

"Yunho dengar, semua ini bukan salahmu ok, tidak ada yang tahu kalau akan terjadi hal buruk seperti ini. Sekarang kita masuk, aku yakin saat ini yang paling dibutuhkan Joongie adalah kau"

Yunho diam, entah apa yang ada dipikirannya saat ini.

"Sudah jangan melamun lagi, kajja kita masuk"

Yuchun memegang kedua pundak sahabatnya dan menyuruhnya untuk melihat keadaan Jaejoong.

Namja cantik itu sedang tertidur pulas seperti bayi, pakaian Rumah Sakit membalut tubuh mungilnya, mulut kecilnya tertutup masker oksigen serta jarum infus di tangan-nya yang kecil, sungguh Yunho merasa sedih melihat Jaejoong yang biasanya selalu ceria, kini terbaring lemah tak berdaya di ranjang Rumah Sakit.

Yunho hanya berdiri diam, dilihatnya sang Umma memegang tangan Jaejoong dengan wajah sendu, Yunho yakin Umma-nya itu sedang menahan tangisnya.

"Joongie chagi, ini Umma sayang...Apa Joongie tidak ingin melihat Umma?"

Tak ada reaksi, Jaejoong masih diam.

"Joongie hikss Umma-"

"Umma kumohon jangan menangis" ucap Changmin mencoba menenangkan Umma-nya, meski ia juga tak kalah khawatir.

"Yunho eotte? Uri Joongie-"

"Dia akan baik-baik saja Umma"

Yunho beringsut mendekati Tae Hee dan memegang pundaknya, matanya tidak berhenti memandang wajah cantik alami itu meski terlihat pucat, Jaejoong nampak tengah tertidur lelap.

"Yuchun hyung, ada yang ingin aku tanyakan bisa ikut aku keluar?" bisik si bungsu Jung.

Wajah Yuchun menunjukan raut keheranan, namun ia tak banyak bertanya dan segera mengikuti Changmin keluar kamar UGD Jaejoong.

"Ada apa Min?"

"Hyung, bisakah hyung menceritakan dari awal bagaimana Joongie bisa ada di lab yang terbakar itu?"

"Huh? Memangnya kenapa?"

"Aish sudahlah hyung ceritakan padaku, dari awal sampai akhir yang jelas"

Park Yuchun mulai menceritakan setiap detail kejadian.

Mulai dari pertemuannya dengan Yunho sampai dibawanya Jaejoong ke Rumah Sakit.

"Hmmmm begitu"

Namja Cassanova itu mengangkat alisnya, ia sedikit bingung dengan reaksi Changmin.

"Kau kenapa?"

"Hyung, apa hyung tidak merasa ada yang ganjil? Pertama, kenapa Joongie bisa ada disana? Kedua, buat apa Joongie berada di lab di kampus Yunho hyung? Ketiga, kudengar Joongie harusnya berada di dalam mobil Yunho hyung tapi dia malah keluar mobil dan terjebak di lab kimia yang terbakar, jinjja ini sangat mengganggu-ku hyung!"

"Huh? Maksudmu?"

"Aku merasa ada yang ingin mencelakai Joongie"

"M-mwo?"

"Semuanya sangat tidak masuk akal hyung, kejadian ini bukan hanya kecelakaan tapi kemungkinan ada rekayasa"

"Apa menurutmu ada yang tidak menyukai Joongie?"

"Mungkin, semuanya menjadi mungkin selama pelakunya belum tertangkap"

"Aish kalau memang benar begitu, siapa yang tega membenci Joongie sampai Joongie hampir kehilangan nyawanya!"

Keduanya diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing, mencoba menerka-nerka sang pelaku.

"Chakkaman! Kalau tidak salah, aish pabo!"

"Wae? Wae hyung?"

"Pintu lab itu terkunci dari luar Changminah! Aish berarti kau benar, ada yang ingin melukai uri Joongie"

"Benar kan dugaanku"

"Ck, siapa orang jahat yang tega melakukan hal sekejam itu pada Joongie? Benar-benar tidak bisa dimaafkan!"

"Tenang saja hyung, aku akan membuka teka-teki ini" ucapnya dengan seringai yang sulit diartikan.

*NEXT DAY*

*OTHER PLACE*

"M-Mwo? K-Kebakaran?"

Jessica melempar Koran pagi yang ia beli hari ini, shock, kesal dan takut bercampur memenuhi dadanya yang berdegup kencang sejak ia membaca Koran pagi itu.

Well, ia memang tidak menyukai Jaejoong, tapi dia sama sekali tidak pernah bermaksud untuk membuatnya terluka, ia hanya ingin mengerjai Jaejoong karena namja cantik itu selalu mendapat perhatian lebih dari Yunho ketimbang dirinya.

"Aish eottoke~" rengeknya dan menelungkupkan diri di sofa.

*SEOUL INTERNATIONAL HOSPITAL*

Setelah hampir 2 hari Jaejoong dinyatakan tak sadarkan diri, kini namja berwajah porselen itu mulai menunjukan tanda-tanda 'kehidupan', bola matanya terlihat bergerak kesana kemari dari kedua matanya yang tertutup, wajahnya sudah tidak sepucat kemarin saat pertama kali dibawa ke Rumah Sakit. Ia juga sudah dipindah ke kamar rawat.

"Yu-Yunnieh~" panggilnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Yunho yang tertidur terkejut saat Jaejoong memanggil namanya.

"J-Joongie? Joongie kau sudah sadar? Benarkah?"

"Yunnieh~"

"Aku disini Joongie aku disini" Yunho menggenggam tangan kecil itu erat.

"Joongie haus" sahut Jaejoong yang terdengar seperti sebuah bisikan.

Dengan cepat Yunho berdiri menuju nakas yang terdapat disebelah ranjang Jaejoong dan mengambil segelas air.

Perlahan, Yunho mengangkat kepala Jaejoong dan meminumkan air dengan sabar agar tidak mengenai pakaian namja cantik itu. Setelah selesai, Yunho mengelap pinggiran bibir Jaejoong yang basah dengan tangannya sendiri.

"Kau tunggu disini aku akan panggilkan dokter"

"Kajima, j-jangan pergi Yunnie Joongie takut"

"Aku tidak akan meninggalkan Joongie, aku hanya akan memanggil dokter"

Air mata Jaejoong perlahan menetes, bahunya bergetar. Yunho tahu Jaejoong sedang merasa ketakutan. Ia mengurungkan niatnya untuk memanggil dokter dan memutuskan untuk kembali duduk di samping si cantik Kim.

"Joongie, mianhe"

"Gwaenchana, bukan salah Yunnie, Joongie nappeun dan tidak menurut perkataan Yunnie, uhukk uhukk"

"Joongie~ah sebaiknya jangan banyak bicara dulu ne"

CKLEK

Mata yeoja cantik itu membesar saat melihat Jaejoong sudah membuka matanya.

"OMO, J-Joongie? Joongie kau-kau sudah bangun sayang?"

"Umma~"

"Umma jaga Joongie, aku akan panggil dokter Kangin"

Jung Umma mendekati Jaejoong, ia mengelus wajah Jaejoong sayang.

Namja cantik itu tersenyum lemah.

Tak lama tiba, dengan segera ia memeriksa keadaan Jaejoong.

"Hmmmm kondisi pasien mulai stabil, hanya butuh istirahat dan masa pemulihan"

"B-benarkah uisa?"

"Hum keadaannya semakin membaik Nyonya Jung, Jja anyeong cantik bagaimana tidurmu hum? Nyenyak" tanya ramah.

"Uisa, Joongie namja dan Joongie keren" protes Jaejoong masih dengan suara lemahnya.

"Neee keren dan cantik, jangan lupa diminum obatnya juga harus makan yang banyak biar cepat pulang, Joongie mau cepat keluar dari Rumah Sakit aniya?"

Jaejoong mengangguk lemah.

"Kalau begitu Joongie harus mau makan yang banyak, minum obat dan vitamin, setuju?"

"Ne uisa"

"Good boy" tersenyum dan mengacak rambut Jaejoong pelan.

"Akan ada resep obat dan vitamin yang harus ditebus sebelum makan, resepnya bisa diambil diruangan saya" lanjut dokter berwajah tampan itu.

"Ne uisa nanti akan saya ambil resepnya"

"Baiklah saya masih ada pasien yang harus diperiksa, saya pamit dulu, Joongie~ah jangan lupa obatnya diminum ne?"

Jaejoong kembali mengangguk.

Dokter Kangin keluar di ikuti Jung Umma yang ingin mengambil resep. Yunho menemani Jaejoong, ia menawarkan beberapa buah dan beberapa kue yang ada di nakas.

CKLEK

"Hyuuuung Umma menelponku katanya Joongie sudah sadar, benarkah?"

Changmin yang tiba-tiba masuk kedalam kamar rawat Jaejoong. Tubuhnya masih terbalut seragam SMA beserta tas cangklong kesayangannya.

"Minnie~"

"OMO, Joongie? Joongie~aaaaaaahh kau sudah sadar eoh? Bagaimana keadaanmu?"

"Joongie lemas, keunde kata Kangin uisa Joongie akan cepat pulang kalau Joongie banyak makan, iya kan Yunnie?"

Yunho membenarkan.

"Kondisinya sudah semakin membaik"

"Jinjjayo? Kalau begitu Joongie harus makan yang banyak dan minum obat, biar nanti kita bisa main ular tangga lagi dirumah"

"Huh? Shiruh Joongie selalu kalah dari Minnie"

"Ahahaha aniyo, nanti pasti Joongie menang"

Jaejoong tersenyum senang sambil menganggukan kepalanya.

"Ah iya Joongie ini teman sekolahku, namanya Cho Kyuhyun"

"Anyeong Jaejoongie, nae Cho Kyuhyun imnida" namja manis plus tampan berkulit vampir itu tersenyum dan membungkuk kearah Jaejoong

"Anyeong Yunho hyung" lanjutnya lagi saat melihat Yunho.

"Anyeong Kyu, kemana saja huh? Lama tidak kerumah"

"Hehehe aku sibuk hyung"

"Neee sibuk dengan starcraft"

"Ck, diam kau tiang"

"Vampir kurus"

Ish,

Selalu saja begitu, kadang akur kadang bertengkar.

Tapi sangat manis aniya?

Hehehe.

"Anyeong Kyuhyunie"

Kyuhyun cukup terkejut Jaejoong memanggilnya begitu.

Terdengar manis.

Suasana kamar rawat Jaejoong mendadak ramai, ChangKyu yang tidak berhenti bertengkar membuat Jaejoong terkekeh lucu. Jung Umma juga sudah menebus obat dan meminumkannya pada putera cantiknya itu.

Jika ada yang menanyakan Jung Appa, maka kepala keluarga Jung itu masih berada di Jepang karena pekerjaannya yang tidak bisa ia tinggalkan. Pembukaan pabrik baru dan rapat pemegang saham disana sangat menyita perhatian tenaga dan pikirannya. Meski begitu, Jung Appa terus menelpon istri dan kedua anaknya untuk mengetahui perkembangan Jaejoong.

Setelah meminum obat dan vitamin kemudian makan, Jaejoong kembali tertidur pulas. Yunho dan Jung Umma menemani Jaejoong sedang ChangKyu kini nampak tengah menikmati secangkir teh hangat dengan tiramisu di café Rumah Sakit.

"Kyu eotte?"

"Hmmmm, Sepertinya Joongie memang ingin melupakan kejadian itu, keunde sorot ketakutan itu masih ada" jawab Kyu yang kini membuka netbooknya.

Changmin sudah menceritakan semua kejadian yang menimpa Jaejoong pada sahabatnya itu.

"Aish kalau dia lupa bagaimana aku bisa tahu siapa orang yang ingin mencelakainya!"

"Itu keinginan Joongie tidak bisa kau paksakan, kau dengar sendiri kan tadi penjelasan Yunho hyung? Kalau Joongie dipaksa mengingat kejadian di lab waktu itu, kesehatannya akan memburuk"

"Ck, tetap saja aku penasaran, aku takut nanti orang itu akan datang lagi untuk menyakiti Joongie"

"Aigoooo perhatian sekali eoh?"

Changmin menatap Kyu malas.

"Yah, apa benar tidak ada cara lain supaya Joongie mau mengatakan kejadian yang sebenarnya?"

"Kau ini pemaksa sekali! Sebenarnya ada tapi aku tidak begitu yakin dan ini terlalu berbahaya Jung Changmin, aku tidak berani"

"Benarkah? Cara apa itu? Katakan padaku"

"Reka ulang kejadian, meski yeah kemungkinan terburuknya Joongie akan kembali shock"

"Begitukah?"

"Aku tidak yakin Min, aku takut ini akan mengganggu psikisnya, kau mau Joongie tidak sadarkan diri lagi?"

Changmin kembali menatap sahabatnya.

Dia menghela napas dan bersender pada bangkunya.

"Lalu bagaimana Kyu? Kalau begini kita tidak akan menemukan pelakunya"

"Ish, dasar tidak bisa sabar! Kita tunggu saja perkembangannya"

Namja Jung itu mempoutkan bibirnya.

Ia kembali mengambil gelas tehnya dan menyeruputnya pelan, mata kecilnya melirik Kyuhyun yang nampak sibuk dengan notebooknya.

Siapa Cho Kyuhyun? Dia adalah sahabat si bungsu Jung. Namja berwajah tampan sekaligus manis ini memiliki kepintaran yang setara dengan Changmin. Selain pintar dalam pelajaran, Kyu juga pintar dalam bermain game.

Appanya seorang Psikolog ternama yang bekerja untuk Intelegen Kepolisian Korea, sedang ibunya seorang Psikiater terkenal dan sudah membuka sebuah Rumah Sakit di Nohwon.

Kyuhyun mewarisi darah orang tuanya yang pintar serta mampu menilai dan menganalisa sifat seseorang, karena itu Changmin meminta bantuan Kyu untuk membongkar teka-teki kejadian yang menimpa Jaejoong.

"Kyu, bagaimana kalau kita minta ijin Kangin Uisa?"

"Aigoooo uri Jung Changmin benar-benar penasaran rupanya, yah kau ingin menjadi detektif eoh?"

"Hum tentu saja! Aku ingin menjadi detektif, seorang intel seperti Appamu Kyu, keren sekali aniya?" kekehnya bangga.

Kyuhyun tertawa kecil mendengar perkataan Changmin.

"Wae? Kenapa tertawa? Aku serius, ah sudahlah jadi bagaimana? Apa bisa kita menjalankan saranmu tadi secepatnya?"

"Terlalu beresiko Jung, sudah kita tunggu saja beberapa hari sampai kondisi Joongie benar-benar pulih, lalu kita minta pendapat Yunho hyung dan Jung ahjumma, bersabarlah sedikit"

"Eung kau benar juga Kyu, ya sudahlah kita tunggu sampai kondisinya pulih" Changmin nampak merenggangkan tubuhnya.

"Btw apa kau sedang mencurigai seseorang sampai terburu-buru begitu ingin menemukan pelakunya?"

"Bisa dibilang begitu, aku mencurigai satu nama"

"Nuguya?"

"Jung Jessica"

_LOVING YOU_

"Aku masuk tidak ya? Nanti kalau dia mengingatku bagaimana? Ah tapi Yuchun bilang dia tidak mengingat apapun tentang kejadian itu"

Jessica bergumam sendiri, dirinya kini sudah berada didepan kamar rawat Jaejoong, ditangannya terdapat keranjang buah yang dibentuk sangat indah. Gadis itu memberanikan diri ke Rumah Sakit, bagaimana-pun ia juga merasa khawatir.

Pintu kamar rawat Jaejoong ia buka, dengan langkah perlahan Jessica memasuki kamar yang begitu sepi. Dilihatnya Jaejoong sedang tertidur pulas, mata kecilnya menangkap Yunho yang duduk disamping ranjang dan terus memperhatikan namja cantik itu terlelap. Jessica merasa cemburu, ia memang kekasih Yunho tapi dia tidak pernah melihat Yunho memandang dirinya seperti saat Yunho memandang Jaejoong.

"Jessie?"

"Ah anyeong Oppa"

"Bagaimana kau-"

"Yuchun yang memberitahuku"

"Aaah begitu"

Jessica mendekati nakas disamping ranjang dan menaruh keranjang buah yang ia bawa.

"Bagaimana kabar Joongie?"

"Ia mengalami shock dan sempat tidak sadarkan diri"

Hati Jessica entah kenapa berdenyut tidak nyaman.

Sungguh ia merasa bersalah sekarang.

"J-Jung ahjumma dimana?" tanyanya untuk mengurangi ketidaknyamanan hatinya.

"Umma pulang kerumah mengambil baju-baju Joongie"

"Aaah"

Hening.

"Kau, pulang syuting atau?"

"Aku baru pulang kuliah"

Yunho mengangguk.

Keadaan kembali hening.

"O-Oppa"

"Hum?"

"A-apa Joongie baik-baik saja? Kondisinya bagaimana?"

Yeoja cantik itu memberanikan diri bertanya pada Yunho.

"Joongie sempat koma tapi sekarang kondisinya mulai membaik, hanya saja dia tidak mengingat apa yang terjadi dengan kejadian waktu itu, dia hanya terus merasa bersalah karena sudah membuatku khawatir keunde dia tidak ingat apapun"

"B-Benarkah?"

"Hum, aku heran kenapa Joongie bisa ada di lab, dan lagi lab itu terbakar"

Jantung Jessica berdetak tak nyaman.

"Kudengar pihak universitas sudah memanggil polisi untuk menyelidiki kejadian ini, aku hampir gila saat tahu Jaejoong ada didalam untung saja ada Jijji"

Gadis blondie itu mengepalkan tangannya cemas.

Cemas kalau sampai Yunho tahu kejadian yang sebenarnya.

"Jess, kau kenapa? Wajahmu pucat, kau sakit?"

"A-ani, aku hanya terlalu lelah jadwalku padat sekali akhir-akhir ini"

"Istirahatlah, jangan terlalu dipaksakan nanti kau bisa sakit"

Hati Jessica terenyuh mendengar nada perhatian Yunho.

Ini pertama kalinya Yunho mengatakan hal yang begitu tulus padanya.

Sebenarnya meski mereka berpacaran, sikap Yunho terkesan dingin pada Jessica.

Well, mereka berpacaran pun itu karena Jessica yang memintanya.

Keluarga gadis cantik itu adalah sahabat Appanya.

Jadi Yunho menerima perasaan Jessica hanya sekedar menghormati sang Appa.

Jessica memandang sendu kearah Jaejoong.

Haruskah ia mengatakan hal yang sebenarnya?

Dengan resiko ia akan kehilangan Yunho?

Setelah hampir 30 menit berada di kamar rawat Jaejoong, Jessica pamit. Yunho mengantarnya sampai ke lift.

TRING

"Aku pulang dulu Oppa, sampaikan salamku untuk Joongie kalau dia sudah bangun nanti"

"Hum, hati-hati dijalan gomawo sudah menjenguknya"

Jessica tersenyum dan masuk kedalam lift.

Tak berapa lama pintu lift itu terbuka lagi, Jessica yang sudah berada di lantai dasar keluar dan berpapasan dengan Changmin dan Kyuhyun.

"Uh, ada apa kau kesini?"

"Aku habis menjenguk Joongie, apa tidak boleh?"

"Ck tumben, bukankah kau tidak menyukainya?"

Jessica diam.

Pertama, ia malas meladeni adik kekasihnya itu.

Kedua, perkataan Changmin barusan sedikit menohok ulu hatinya.

"Kenapa diam? Apa kau menyembunyikan sesuatu Jung noona?"

Jessica mendongak.

Ia berpikir apakah Changmin tahu?

Ah tapi tidak mungkin, tidak ada yang melihatnya saat kejadian itu terjadi.

"A-aku harus pulang aku ada syuting, permisi"

Gadis cantik itu melangkah cepat menjauhi ChangKyu.

"Aku yakin ada yang dia sembunyikan" ucap Changmin yakin.

"Eoh? Tapi yang aku lihat dia sepertinya tulus"

"Yah, jangan terkecoh dia itu aktris jadi dia pandai berakting!"

"Tapi barusan itu wajahnya benar-benar menunjukan wajah cemas Min"

"Kau membelanya?"

"Aish begitu saja marah, sudahlah kita lihat Joongie apa dia sudah bangun, dan berhenti menatapku seperti itu Jung, kau menyeramkan"

"Huh? Aku ini tampan, menyeramkan darimana"

"Dari atas sampai bawah wajahmu menyeramkan Jung"

"Meski aku menyeramkan tapi kau menyukaiku kan?" goda si bungsu Jung.

"A-apa maksudmu? Ah sudahlah, aku mau menengok Joongie"

"Yah, Cho Kyuhyun mengaku saja, Minho sudah membocorkan rahasiamu, Kyu tunggu aku"

"Berisik!"

_LOVING YOU_

Hampir seminggu Jaejoong dirawat dan sekarang akhirnya namja kelewat cantik itu diperbolehkan pulang.

Sepanjang perjalanan pulang Jaejoong tak henti-hentinya menyanyikan lagu favoritnya, dipangkuannya duduk kucing kecil yang menyelamatkan nyawanya, Yuchun kebagian tugas untuk menyetir, Changmin duduk dikursi depan sedang Yunho bersama Jaejoong duduk dikursi belakang. Jung Umma tidak ikut karena ia sibuk memasak makanan favorit puteranya dan bersiap menyambut Jaejoong dirumah.

"Jja kita sudah sampai"

"Kyaaaaaaaaaaa Joongie rindu rumah~"

"Yah yah jangan terlalu bersemangat seperti itu, ingat kata dokter kau tidak boleh terlalu lelah"

"Hehehe Joongie senang sekali akhirnya bisa pulang kerumah, Joongie bosan di Rumah Sakit! Makanannya tidak enak" pout Jaejoong.

"Uhm! Kau benar Joongie makanan di Rumah Sakit hambar tidak ada rasanya" sela Changmin.

Pria cantik itu mengangguk cepat.

"Kajja kita masuk, Umma dan Appa pasti sudah menunggu" ucap Yunho.

"Eeh? Appa sudah pulang?"

Yunho mengangguk.

Melihat Jaejoong tersenyum entah kenapa bibirnya juga tak tahan untuk ikut tersenyum.

"Jinjja? Kajja Yun, Joongie ingin bertemu Appa" Jaejoong menarik Yunho masuk kedalam rumah.

"Hyung angkat kopernya neeee" sahut Changmin cuek lalu mengikuti Yunho dan Jaejoong masuk.

"EOH? YA! CHANGMIN MAX CHANGMIN! Aish tidak sopan!"

"Ummaaaaaa Appaaaaaa"

"Joongie?"

Jaejoong menghambur memeluk Jung Appa, dieratkannya pelukan Jaejoong tanda bahwa ia sangat merindukan Appanya.

"Aigoooo Appa tidak percaya anak Appa sakit, seceria ini bagaimana bisa sakit eoh?"

"Joongie kangen Appa" ucap Jaejoong yang masih belum melepas memeluk Appanya.

"Jinjja? Appa juga rindu sekali dengan Joongie, Jja lihat Appa membawa sesuatu untuk putera Appa yang paling manis"

Jung Appa mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kado berwarna merah.

"Eoh? Ini Apa Appa?"

"Buka saja"

Dengan cepat Jaejoong membuka kotak itu, ia terkejut ketika mendapati sebuah kalung berbandul gajah mungil, hewan kesukaan Jaejoong.

"Kyaaaaaaaa yeppotta, Appa gomawoyo"

"Joongie suka?"

"Neomu neomu neomu joahe"

"Hahaha sukurlah, appa sengaja buatkan itu untuk Joongie karena kata Minnie Joongie sangat suka gajah"

Jaejoong terkekeh senang, ia sekali lagi memeluk Appa angkatnya itu.

"Whoaaa Joongie dapat hadiah dari Appa neee?" tanya Jung Umma yang masih menggunakan appronnya nampak keluar dari dapur.

"Umma~" Jaejoong kini menghambur memeluk Jung Umma.

"Aigoooo, anak Umma ceria sekali, bagaimana kabar Joongie hari ini?"

"Joongie sehat Umma, Joongie sudah tidak sakit lagi"

"Aish jangan terlalu gembira begitu, Joongie kan masih harus banyak istirahat, ah Umma juga punya hadiah buat Joongie"

Jung Umma membawa Jaejoong menuju ruang makan, di meja makan itu penuh dengan berbagai masakan kesukaan Jaejoong, mulai dari Samgyupsal, Kimchi Jjigae, Salmon Sushi, Kue Beras pedas, Pie Apple, cake Banana, Nok Du Jur Eo, Dwae Ji An Sim, Tot Kalbi, dan Vanilla Ice Cream, semuanya adalah makanan favorit seorang Kim Jaejoong.

Jaejoong terdiam takjub dibuatnya, mulutnya membuka lebar, air liurnya seolah menetes, tak sabar ia menarik kursi meja makan dan membuka piringnya.

"Umma Umma makan Joongie mau makan, Joongie lapar"

Jung Umma tersenyum sambil mengelus surai hitam Jaejoong.

Usahanya untuk membuat Jaejoong tersenyum berhasil, meski ia harus rela berlelah-lelah di dapur.

Jung Umma memanggil semua keluarga dan Yuchun untuk makan siang bersama.

"Kyaaaaaaa aku lapar sekali, Yunho hyuuuuung bisa kau dekatkan Tot Kalbi itu padaku? Ppaliwa" sahut Changmin yang kini sudah duduk disamping Jaejoong, wajah manisna berubah 'sangar' saat menatap semua hidangan yang tersaji.

"Kenapa kau duduk disana? Minggir itu tempatku"

"Ish duduk dimana saja sama kan hyung"

"Tidak sama Jung, kka pindah"

"Aish childist" dengan terpaksa Changmin mengangkat pantatnya dan pindah ketempat duduk di sebelah Yuchun.

Yuchun terkekeh.

Well, namja Cassanova itu sangat tahu apa yang terjadi dengan tatapan posesif Yunho.

Begitu meriah acara makan bersama, tawa canda memenuhi seluruh ruang makan. Yunho sepertinya sudah terbiasa membersihkan sisa makanan yang ada dimulut atau baju Jaejoong, semua yang menatapnya hanya tersenyum melihat begitu besarnya perhatian yang diberikan Yunho.

Gembira, itulah yang dirasakan Jaejoong saat ini, bisa dibilang peristiwa yang hampir menghilangkan nyawanya itu sudah ia lupakan, dia benar-benar sudah melupakan semuanya, bukan keinginannya, melainkan otaknya yang mengunci otomatis kejadian buruk itu. sama seperti ketika otaknya mengunci memori Jaejoong saat api melalap kedua orang tuanya.

Pasca Jaejoong keluar dari Rumah Sakit aktifitas keluarga Jung kembali seperti biasa, Yunho masih dengan kuliahnya, Changmin bersekolah, Jung Appa bekerja dan Jung Umma mengurus rumah tangga, Home Schooling Jaejoong juga masih berlanjut.

Ruangan yang kini menjadi 'sekolah' pribadi Jaejoong penuh dengan gambaran pria kelewat cantik itu. Jung Umma juga menambahkan wallpaper berwarna merah coklat agar lebih indah, serta terdapat whiteboard.

"Joongie kenapa langitnya berwarna hitam?" tanya Siwon yang melihat Jaejoong asyik mewarnai.

"Huh? Ini kan sudah malam saenim" jawab Jaejoong polos, Siwon tersenyum mendengarnya.

"Hmmmm begitu ya? Bagaimana kalau Joongie pakai warna abu-abu? Jadi tidak terlalu gelap"

Jaejoong yang tadinya terlihat bersemangat kini menundukan wajahnya.

"W-Waeo Joongie, ada apa hum?"

"Joongie salah ne saenim? Warnanya harusnya abu-abu bukan hitam?"

"Eh? Aniyo, Joongie tidak salah kka Joongie mau pakai warna hitam hum?"

Jaejoong mengangguk pelan, mulutnya mengerucut membuat siapapun gemas melihatnya.

"Baiklah, kalau begitu pakai warna hitam ne?"

"Jeongmal? Joongie boleh pakai warna hitam?"

"Hum tentu, kka lanjutkan menggambarnya"

"Hehehe ne saenim gomawo, Choi saenim yang terbaik!"

"Umma aku pulang"

"Eoh? Kau sudah pulang Yun? Tumben pulang cepat?"

"Tidak ada jadwal lagi Umma, Joongie mana?"

"Sedang belajar, kau sudah makan?"

"Belum lapar Umma, aku ingin melihat Joongie"

Yunho menaruh tas kuliahnya kemudian beranjak menuju ruang 'sekolah' Jaejoong, ia mengintip dari jendela dan dilihatnya Jaejoong sedang asik menggambar.

"Choi saenim lihat Joongie sudah selesai, eotte?"

Siwon mengangkat kedua alisnya bingung.

Pasalnya ia mendapati buku gambar besar Jaejoong itu hanya berwarna hitam, tidak ada gambar apapun disana.

"Eung Joongie rumah gunung dan pohonnya mana?"

"Huh? Ada disitu saenim keunde itu kan sudah malam jadi gelap"

Pfft.

Bermaksud menggambar keadaan suasana dimalam hari namja cantik itu malah mewarnai semua kertas dengan crayon hitam.

"A-ah begitu" senyumnya kikuk.

"Uhm! Jadi berapa bintang yang Joongie dapat hari ini saenim?"

"Bintang ya? Euuung untuk hari ini saenim beri satu ne?"

"Huh? Hanya satu? Waeeee gambar Joongie jelek ne saenim?" ujarnya sedih.

"Gambar Joongie bagus sangat bagus, hajiman kalau semuanya berwarna hitam seperti ini bagaimana saenim bisa lihat gambaran Joongie"

Jaejoong masih mempoutkan bibirnya lucu.

"Kka ini bintangnya, gambaran Joongie selanjutnya harus siang hari yang cerah neee?" Siwon mengelus pelan rambut Jaejoong, di ikuti anggukan semangat dari Jaejoong, meski ia masih kesal karena hanya mendapat satu bintang hari ini.

"Aish! Kenapa dia harus menyentuh rambutnya? Ya Kim Jaejoong, jangan tersenyum seperti itu untuk guru kelebihan otot sepertinya, ck!" gumam Yunho pelan.

"Sekarang kita lanjutkan membuat origami ne? Kemarin kita membuat origami gajah dan beruang, sekarang Joongie mau membuat origami apa?"

"Kodoooook, ajari Joongie membuat origami kodok ne saenim"

"Arraso sekarang kita akan belajar membuat origami katak"

"Kodok"

"Iyaaa katak itu kodok Joongie"

"Ooooo"

"Nah, Joongie mau pakai kertas warna apa?"

"Euuunngg merah!"

"Merah? Kenapa tidak hijau? Katak kan warnanya hijau"

"Aniyo Joongie lebih suka warna merah daripada hijau!"

"Ok, kalau begitu ini kertas merah untuk Joongie dan yang hijau untuk saenim, pertama-tama-"

Yunho masih 'menguntit' Jaejoong yang nampak asik belajar.

Ia sungguh merasa tidak nyaman dengan guru privat namja cantik itu.

Cemburu eoh?

"Ehem"

"Omo! Umma mengagetkan saja" Yunho terkejut ketika Jung Umma sudah ada dibelakangnya dengan membawa nampan berisi Ginger cookies kesukaan Jaejoong dan dua gelas Jus Jeruk.

"Suruh siapa mengintip? Awas Umma mau memberikan ini untuk Joongie dan Choi saenim"

"Umma~" Yunho menarik lengan baju Jung Umma dan merajuk.

"Omo omo Jung Yunho kau kenapa huh? Kenapa jadi manja begini?"

"Memangnya aku tidak boleh bermanja-manja dengan Umma-ku sendiri? Changmin saja boleh"

"Ck, kau lupa umurmu Yun? 22 tahun! Dan harusnya kau sudah pantas untuk menikah, Umma kan sudah kepingin menimang cucu"

"Ish Umma cerewet! Yah Umma, bisakah Umma mengganti guru privat Joongie? Yang sudah lebih tua lebih bagus lebih berpengalaman"

"Huh? Ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba ingin mengganti guru Joongie" tanya Jung Umma curiga.

"A-Aniya i-itu hanya saja Choi saenim nampak kurang berpengalaman menjadi guru, lebih baik cari yang sudah tua saja Umma"

"Ish kau jangan aneh-aneh Yun, Choi saenim itu guru privat terbaik se-Korea selatan, di usianya yang masih muda dia sudah meraih gelar S2nya dan sekarang dia sedang melanjutkan program doktor, kau tahu dia juga seorang dosen di Universitas Seoul, dan lagi dia itu anak temannya Umma"

Yunho merengut tidak suka sang Umma lebih membela guru tampan itu.

"Sudah Umma mau memberikan kue ini minggir Jung Yunho" Jung Umma mendorong pintu itu dengan kakinya kemudian melangkah masuk.

"Eiiii" protes si tampan Jung.

"Joongie sayaaanng lihat Umma bawa apa?"

"Kyaaaaaaaa ginger cookies!"

"Ah Choi saenim istirahat sebentar, ini ada kue dan minuman segar silahkan di cicipi, kue ini buatan saya sendiri" ujar Jung Umma sambil tertawa kecil.

"Nde Jung ahjumma gomawo" Siwon mengambil satu kue dan mengigitnya.

"Eotte? Enak tidak saenim?"

"Hm, enak sekali anda pintar memasak ahjumma"

"Ahahaha tidak juga, kka habiskan neee"

"Semua masakan Umma Joongie memang enak saenim"

"Joongie~ah" Yunho memunculkan kepalanya dari balik pintu.

"Yunnieeee"

Namja cantik itu berdiri dan langsung memeluk Yunho.

"Yunnie sudah pulang?"

"Kalau aku ada disini tentu aku sudah pulang"

Jaejoong terkekeh.

Yunho gemas melihatnya, ingin rasanya ia mencubiti pipi gembul itu sekarang juga.

Mencubiti dengan bibir lebih tepatnya.

"Kau sedang belajar apa eoh?"

"Joongie sedang membuat origami kodok"

Yunho memperhatikan kertas warna yang berantakan disana sini.

"Yunnie mau coba membuat origami kodok? Joongie ajarkan neee?"

Jaejoong memberikan kertas berwarna merah dan mengajarkan si tampan Jung. Namun karena memang Yunho tidak berbakat dalam seni melipat kertas, membuat Jaejoong sedikit kesal dibuatnya, beberapa kali Yunho salah melipat atau bahkan membuat kertasnya sobek.

"Aaaaaaaa bukan begitu Yunnie! Ish daritadi Yunnie salah terus"

"Aish ini sudah benar Joongie apanya yang salah?"

"Lipatannya tidak begini Yunnie ini kurang rapih, Uh Yunnie menghabiskan kertas warna Joongie saja! Lihat kertas merahnya hanya tinggal satu"

"Salah sendiri, kenapa Joongie memberikan aku kertas berwarna merah terus"

"Tapi Joongie kan suka warna merah!"

"Arraso arraso nanti kita beli lagi yang banyak, kajja ajarkan aku lagi"

"Shiruh Joongie capek, Yunnie tidak bisa membuat origami! Joongie mau ke kamar mandi dulu, Yunnie diam ne jangan mengambil kertas warna Joongie lagi, nanti kertas warna Joongie habis"

Jaejoong berlari kecil menuju kamar mandi, dan sekarang hanya tinggal Yunho dan Siwon yang berada diruangan tersebut, Jung Umma sudah keluar sejak mengantarkan kue dan minuman.

"Aigooo Joongie itu anak yang sangat manis ne" ucap Siwon.

Yunho menyipitkan matanya tidak suka.

"Aaahh sungguh menggemaskan, aku sangat menyukainya"

Sekarang mata musang itu berganti melebar.

"Senang sekali kalau anak-ku nanti akan manis dan lucu seperti Joongie"

Mata itu kembali menyipit ditambah keningnya yang berkerut bingung.

"A-anak?"

"Hum anak, istriku sedang hamil lima bulan dan aku harap anaku akan lahir dengan cantik seperti Joongie"

Oow.

Sepertinya ada yang sudah menuduh yang tidak-tidak eoh?

Yunho berdehem pelan.

"Joongie dataaang, Huh? Yunnie tidak memakai kertas warna Joongie kan?" Jaejoong menyipitkan matanya curiga.

Yunho menggeleng ia tersenyum lembut.

Ia berjalan keluar meninggalkan namja cantiknya untuk kembali belajar.

"Umma"

"Hum?"

"Aku rasa Joongie tidak membutuhkan guru baru, biar saja Choi saenim yang menjadi guru privat Joongie" ucapnya sambil melangkah menuju kamarnya.

"Huh? Memangya siapa yang mau mengganti guru Joongie?"

TBC

Miaaaann kl semakin GJ. Part ini manis2 dulu, chap depan jg manis, chap depannya manis lagi hehe, yg manis2 aja deh ye ffnya, konfliknya jg yg sederhana2 sajaaa. Buat yg nanya karakter Jessica disini, dia kg jahat cmn BT aja ama Jeje.

Sankyunaaaa #loveusign