LOVIN' YOU
.
.
Mian untuk apdet yg seabad *bow* sankyu telah menunggu *bowlagi* sankyu jg udh review di chap kemaren, it mean alot for me ^^ . Hepi reading readers #kecupmanja
.
.
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, Oktober berganti November, musim dingin tiba menandakan akan memasuki natal dan winter. Tak banyak perubahan yang terjadi di keluarga Jung. Jung Appa masih sibuk dikantornya, Jung Umma tetap menjadi ibu rumah tangga dan mengurus keluarga, Yunho sedang mempersiapkan skripsi karena sebentar lagi ia akan segera lulus, Changmin juga masih berkutat dengan makanan, kue, kulkas, game dan Kyuhyun(?).
"Sudah hampir sebulan, kita juga masih belum punya petunjuk"
Ucap si tampan Changmin sambil memasukan buku-bukunya kedalam tas, ini sudah waktunya jam pulang sekolah.
"Tidak adanya saksi saat kejadian cukup memperumit keadaan, ah bagaimana keadaan Joongie apa kondisinya sudah membaik?" tanya Kyuhyun.
"Dia sudah ceria seperti biasa, kau mau melihatnya?"
"Jeongmal? Aaaahh aku merindukan Joongie"
"Nde, dia juga beberapa kali menanyakan 'Changminnie, Kyuhyunnie kapan kesini? Joongie rindu' " ucap Changmin menirukan gaya bicara Jaejoong.
"Ya ya berhenti melakukan itu, kau tidak imut sama sekali Jung"
"Hahaha aku memang tidak imut tapi aku tampan"
"Neee tampan jika dilihat dari Namsan Tower"
"Eiiii, kau masih mau tidak mengaku kalau aku tampan eoh? Lalu yang kau katakan pada Minho apa?"
"Apa? Apa yang sudah aku katakan pada si muka kodok itu? Aku tidak ingat"
"Ya! GaemGyu, kau tidak mau mengaku? YA! Kau mau kemana? Tunggu aku!"
Dua sahabat dekat itu saling bekejaran di koridor sekolah, tak lupa dengan saling mengejek satu sama lain.
TOK TOK TOK
"Neee chakkamanyo"
CKLEK
"Anyeong Joongie"
"Huh? Noona jahat?"
"Apa kabar? Bagaimana keadaanmu?"
"Joongie sudah sembuh, Noona mau masuk?"
"Hm, bolehkah?"
"Tentu masuk saja" Jaejoong membuka pintu lebih lebar agar Jessica bisa masuk kedalam.
"Noona mencari Yunnie? Yunnie sedang mandi karena baru pulang latihan basket"
"Aniyo, noona ingin bertemu Joongie, lihat noona bawakan ini untuk Joongie"
Gadis cantik blondie itu mengambil sesuatu dari dalam bungkusan yang ia bawa.
"OMO! Gajaaaaaaaaahhhh"
Mata indah itu berbinar senang saat Jessica mengeluarkan boneka gajah kecil berwarna merah.
"Eotte Joongie suka? Kudengar dari Yuchun kau sangat suka gajah aniya?"
"Uhm! Joongie cinta gajah"
"Benarkah? Kalau begitu ini untuk Joongie"
"Jinjja?"
"Hum, ambilah"
"Hehehe gomawo noona"
Haah tawa itu.
Entah kenapa Jessica menyukai tawa renyah itu.
"Jess?" Yunho terlihat turun dari tangga.
"Yunnie! Noona memberikan Joongie gajah merah! Lihaaaaatt"
Yunho mengambil tempat duduk disamping Jaejoong.
Namja tampan itu mengacak rambut Jaejoong gemas saat si cantik Kim memamerkan koleksi gajah terbarunya dengan cara yang begitu lucu.
"Gomawo hadiahnya Jess"
"Gwaenchana Oppa aku senang kalau Joongie menerimanya"
"Kau baru pulang syuting? Tunggu kuambilkan minum"
"Tidak usah Oppa, aku hanya sebentar karena masih harus syuting lagi"
"Benarkah? Kau sibuk sekali akhir-akhir ini eoh?"
"Hum, aku sedang syuting drama terbaru Oppa doakan neee"
Yunho tersenyum sambil mengangguk.
"Oppa ahjumma eoddi?"
"Umma sedang keluar, katanya mau membeli buah keunde sudah hampir tiga jam belum pulang juga"
Jessica terkekeh.
"Kebiasaan perempuan Oppa"
"Haaaah kau benar, pasti saat pulang nanti Umma membawa barang yang bukan hanya buah"
"Dan aku yakin didalamnya ada banyak sekali camilan untuk Changmin"
Yunho dan Jessica tertawa.
Sudah lama juga mereka tidak berbicara santai seperti sekarang.
Hal itu membuat namja cantik kita mempoutkan bibirnya.
Ia sedikit kesal karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Ah Jaejoongie, kenapa kau diam?" tanya si blondie menyadari raut kesal Jaejoong.
"Uh, Joongie tidak mengerti yang Yunnie dan noona bicarakan jadi Joongie diam"
CKLEK
"Ummaaaaa anak ter-tampan-mu pulaaaaaanngg"
"Minnieeee"
"Anyeong Joongie, huh? Kau lagi? Untuk apa ada disini?" tanya Changmin sambil menunjuk pada Jessica.
"Jung Changmin"
Yunho berkata sedikit tegas.
Changmin hanya mempoutkan bibirnya.
"Kyunie? Kyaaaaaaa Kyuhyunieeeee"
"Joongie~aaaahhh"
Kedua uke itu saling berpelukan.
"Joongie kangen Kyu"
"Hum, aku juga"
"Yah, Joongie kenapa hanya Kyu yang dipeluk?"
Si cantik Kim melepaskan pelukannya kemudian melirik kearah Changmin.
Ia tersenyum dan kini gantian memeluk namja tiang itu.
Jaejoong juga menarik Kyuhyun agar mereka saling berpelukan bersama.
"Hehehe kalau begini kan semuanya kebagian pelukan Joongie"
JaeChangKyu asik berpelukan.
Tidak menyadari ada yang sedang menatap iritasi disana.
"Ehem, Jung Changmin Cho Kyuhyun kalian bukan telletubies bersaudara kan? Kalau bukan cepat sudahi acara BER-PELUKAN-NYA!"
ChangKyu melepas pelukan Jaejoong dan menatap Yunho bingung.
"Dan kau Kim Jaejoong, jangan sembarangan memeluk orang lain"
"Waeo? Joongie kan sayang Minnie dan Kyunie, Yunnie mau Joongie peluk juga?"
Oow.
Yunho gugup seketika.
"A-aniyo, kalau sayang kan tidak harus peluk-peluk"
"Ish, terlihat sekali" bisik Changmin
"Sangat jelas" jawab Kyuhyun
"Hmmmm~" ChangKyu mengangguk bersamaan.
Yunho menyipitkan pandangannya pada duo evil.
"Apa yang kalian pikirkan?"
"Opsoyo" jawab ChangKyu kompak.
Yunho mendecih, ia tahu pasti kedua dongsaeng setan itu sedang berfikir yang aneh-aneh padanya.
"Oppa, sepertinya aku harus pergi sekarang"
"Buru-buru sekali? Kau tidak mau makan siang dulu?" tanya Yunho.
"Ani Oppa aku harus segera kembali ke lokasi syuting"
"Ah arraso, di tempat syuting kau jangan lupa makan siang"
"Ne Oppa" wajah cantik itu tersenyum.
"Noona nanti kalau kesini lagi kita main bersama ne"
"Tentu, kita akan menghias rumah boneka gajah bersama eotte?"
"Uhm! Noona janji neeeeeee"
"Ndeee"
"Pinky Promise?"
"Eeh?"
Jessica menatap Jaejoong bingung, tapi sedetik kemudian ia tersenyum dan mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Jaejoong.
"Pinky Promise"
Perasaan bersalah Jessica masih menguar di dadanya setiap kali ia melihat senyum indah Jaejoong. Ada sedikit rasa lega si cantik Kim tidak mengingat apapun tentang kejadian hari itu. Karena percaya atau tidak, Jessica ingin menebus kesalahannya.
.
.
*NEXT DAY*
"Hyung, Apa hyung sudah menemukan Universitas yang bagus untuk-ku di Jepang? Ingat hyung, aku tidak mau kampus yang jarak antara kantin dan kelasnya jauh, aku juga tidak mau kampus yang hanya memiliki satu kantin"
"-_- kau ini mau kuliah atau makan huh? Apa kantin menjadi tolak ukurmu memilih Universitas?"
"Tentu! Aku ini sudah jenius hyung, jadi masuk kampus manapun tidak masalah tapi kampus yang memiliki kantin dengan menu makanan ter-lezat, terenak dan ter-bersih kan jarang"
Yunho menatap malas adik bungsunya.
Ia kembali menatap Apple tabletnya.
Dua bulan lagi Changmin akan lulus sekolah, dan ia memilih Jepang untuk melanjutkan jenjang pendidikannya.
"Universitas Tokyo eotte?"
"Hummm kudengar jurusan Astronomy yang terbaik disana, tapi aku tidak begitu tertarik dengan planet bintang dan segala macam benda langit, aku lebih suka Dorayaki yang terkenal dari kantin mereka, yang lain hyung"
Yunho melanjutkan pencarian.
Mengacuhkan si bungsu yang sedang asik mencomot donat miliknya.
Jaejoong? Si cantik itu sedang belanja dengan Jung Umma.
"Universitas Kyoto?"
"Eiiii, aku mau menjadi mahasiswa hyung bukan biksu, kuil disana banyak sekali, yang lain"
Yunho mulai menghela napas jengah.
Adiknya yang satu ini sungguh menyebalkan aniya?
"Universitas Osaka? Kau bisa mengambil jurusan Hukum atau Kedokteran disana, kedua jurusan itu yang terbaik dan banyak peminatnya"
Changmin nampak berpikir.
"Oke, simpan dulu Universitas Osaka nanti akan kucari informasi mengenai kantin yang mereka miliki, lanjut"
Yunho kembali mengetikan jari lentiknya di keyboard touch screen mahalnya.
Menyambangi website-website Universitas terbaik di Jepang.
"Universitas Keio? Perdana Menteri Jepang yang sekarang alumni Universitas itu jadi tidak perlu diragukan lagi kualitas pendidikannya"
"Aish shiruh, kau tahu hyung kampus itu hanya memiliki satu kantin dan lagi jaraknya jauuuuh sekali! Lewat lewat"
"YAH JUNG CHANGMIN"
"Wae? Hyung mau protes? AKu bilang Umma kalu hyung tidak ma-"
"Ya ya, siapa yang protes? Ck, kita lanjutkan"
Changmin terkekeh penuh kemenangan.
Sebenarnya Yunho malas harus membantu adiknya yang banyak sekali mau-nya itu.
Tapi demi Audi A6 miliknya yang diancam akan disita Jung Umma jika ia tidak membantu Changmin, maka ia memilih untuk mengikuti permainan sang adik.
60 Menit kemudian.
"Dengar Max Changmin, aku masih harus mengerjakan skripsi-ku bukan hanya membantumu mencarikan tempat kuliah! Dari puluhan Universitas yang ku tawarkan kau hanya baru memilih tiga, itupun karena makanan dikantinnya enak! Ini yang terakhir ARRASO"
"Yeeeeee"
"Universitas Tsukuba?"
"Tsukuba? Hummm kudengar jurusan Arsitekturnya yang terbaik se-Jepang, hajiman Universitas Tsukuba juga Universitas ter-luas di Jepang, aigoooo aku yakin kantinnya juga tidak dekat"
"-_- Jadi bagaimana?"
Changmin menghela napasnya.
Ia melipat tangan dibelakang kepalanya sambil bersandar di sofa.
"Haaah kalau begitu nanti akan kupikirkan lagi hyung. Osaka, Tohoku dan Hokaido. Hummm sebenarnya aku lebih suka Tohoku, itu terdengar seperti Tohoshinki"
"Yaish tadi kau memilih kampus karena makanannya sekarang karena boyband favoritmu itu huh?"
"Eiiii Tohoshinki bukan boyband biasa hyung, mereka itu dewa~"
Yunho memutar bola matanya jengah.
Entah apa yang Umma-nya inginkan sewaktu hamil sang adik.
Akhirnya selama lebih dari dua jam, Yunho hanya berkutat dengan tabletnya.
Membantu Changmin menemukan Universitas yang tepat.
Meski terkadang, ia ingin menjambak rambut sang adik karena membuatnya kesal.
Jung Changmin benar-benar manusia titisan setan.
*NEXT DAY*
Hari ini hari minggu.
Jung Appa membawa keluarganya berjalan-jalan ke taman hiburan.
Sudah lama juga mereka tidak berlibur bersama.
"Kyaaaaaaaa dingin sekaliiii, Minnie Minnie lihat mulut Joongie berasap, hah hah"
Seoul memasuki winter.
Membuat suhu udara semakin mendingin.
"Neee dan dingin membuatku lapar"
"Eoh? Bukannya Minnie sudah makan dirumah"
"Itu kan dirumah disini belum, lagipula ini karena faktor udara bukan karena perutku"
Jaejoong mengangguk sambil menggumam 'O'
Mungkin dia lupa kalau adik tirinya itu memiliki napsu makan yang kurang normal.
"Joongie, kenapa tidak memakai syal?" tanya Yunho.
"Huh? Omo! Joongie lupa, syalnya ada di mobil, chakkaman Joongie am-"
"Aish tidak usah, ini pakai saja punyaku"
Yunho mengalungkan syal merah miliknya ke leher putih Jaejoong.
Membuat si pemilik wajah putih pucat itu merona.
Dan membuat Jung Appa, Jung Umma dan Jung Changmin hanya bisa menatap keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"A-ada apa?"
"Tidak ada" jawab ketiga Jung itu kompak, dan memalingkan wajah mereka.
"Umma! Aku mau sosis bakar barbeque, belikan aku 5 porsi Umma"
"Ya ya ya Changmin~ah kau sudah makan banyak dirumah, beli 2 saja"
"Mwo? Dua? Itu hanya sampai tenggorokan-ku Umma, tidak mengenyangkan"
"Sosis itu berukuran jumbo Umma makan satu saja tidak habis"
"Itu kan Umma, ya sudah kalau Umma tidak mau membelikan Appa saja neeeee" ucapnya dengan mata yang berkedip-kedip lucu.
Jung Ji Hoon sang kepala keluarga tertawa kecil melihat tingkah anak bungsunya.
"Arraso, kajja"
"Yaaiiiyyy Appa yang terbaik, Umma pelit"
"Aish yah Jung Changmin!"
Jung Umma Jung Appa dan Changmin sudah berjalan mendahului YUNJAE.
Keduanya berjalan berdampingan.
Jaejoong masih belum bisa mengontrol perasaannya.
Ia masih saja diam, sejak Yunho mengalungkan syal merah padanya.
"YAH! Kenapa kau juga tidak memakai sarung tangan?!" pekik Yunho saat tahu si cantik Kim tidak memakai sarung tangan di udara yang begitu dingin.
"I-Itu"
"Yaish"
Si tampan Jung mencopot kedua sarung tangannya dan memakaikan-nya ke tangan Jaejoong.
"Eoh? Yunnie tidak memakai syal, sarung tangan Yunnie juga dipakai Joongie, Yunnie nanti kedinginan"
"Jaketku sudah tebal"
"Tetap saja dingin"
"Kau lebih penting, kau kan sering sekali sakit"
"Tapi nanti Yunnie juga bisa sakit"
"Kau cerewet sekali, sudah kita jalan lagi"
"Shiruh"
Jaejoong mencopot sarung tangan yang berada di sebelah kanan.
Kemudian ia memakaikannya ke tangan kanan Yunho.
Setelah itu ia menggamit tangan Yunho yang tidak terbalut sarung tangan.
Dan memasukan kedua tangan berbeda warna itu kedalam saku jaket Yunho.
"Y-Ya apa yang kau lakukan?"
"Begini lebih baik aniya? Tangan Yunnie tidak kedinginan hihihi"
Well.
Wajah tan itu kini nampak bersemu.
Bagaimana tidak jika tangannya dan tangan Jaejoong saling menggengam didalam saku jaket miliknya.
"Kajja kajja kita susul Umma dan Appa"
Jaejoong berjalan agak kencang.
Membuat Yunho sedikit tertarik.
Kegiatan jalan-jalan keluarga Jung sangat menyenangkan bagi Jaejoong.
Sejak mereka tiba, Jaejoong tidak berhenti mengoceh.
"Yunnieeeee, itu apa?"
"Permen kapas"
"Huh? Permen kapas?"
"Hum, kau mau mencobanya?"
"Enak?"
"Rasanya manis seperti permen"
"Jinjja? Joongie mau coba Joongie mau coba"
Yunho membelikan satu buah permen kapas berukuran besar untuk Jaejoong.
"Whoaaaaaaaa mashita!"
"Joongie, kau beli permen kapas? Hyung aku mau belikan juga"
"Ambilah"
"Yahooooo hyung yang terbaik! Ahjussi aku ambil 5"
"Yah satu saja cukup"
"Shiruuh aku mau lima"
Yunho memutar bola matanya jengah.
Apa adiknya ini tidak pernah merasa kenyang?
Setelah membeli banyak permen kapas.
Yunho dan Jaejoong kembali berkeliling.
Kali ini Yunho harus rela tangannya ditarik-tarik kedua adiknya memasuki sebuah toko yang menjual pernak pernik.
Ia merasa seperti seorang bapak yang mengajak kedua anak lelakinya bermain.
"Whoaaaa bagus sekali"
"Joongie gelang yang ini bagus ne?"
"Hum, tapi Joongie suka yang ini"
"Ah kau benar, hyung belikan kami gelang ini"
"Kau punya uang jajan sendiri Jung Changmin"
"Tidak bawa dompet, ayolah hyung gelang ini bagus sekali aku akan beli dua yang satu untuk Kyunie"
"Yah! Aish Umma dan Appa eoddie eoh?"
"Sedang kencan, sudah sebaiknya jangan ganggu mereka, hyung belikan neeee"
"Ck, arra arra"
"Yaiiiyyy hyung yang terbaik"
"Joongie kau mau juga?" tanya Yunho.
"Aniya, Joongie tidak mau beli"
Saat sedang asik melihat-lihat barang.
Jaejoong dikagetkan dengan sapaan seseorang disampingnya.
"Euung mian tapi apa kau Kim Jaejoong?"
"Huh? Ne nuguya?"
"Ah jadi kau benar Kim Jaejoong, yah kau tidak ingat aku? Aku Yihan, Jin Yihan"
"Eoh? Yihan hyung? Omo jeongmal?"
"Aigoooo kau sudah benar-benar melupakanku Joongie~ah"
"Hihihi mian hyung, ah hyung kenapa ada disini? Bukannya hyung sedang kuliah di Jepang?"
"Aku sedang libur natal, jadi pulang ke Korea"
"Omo jinjjaaaa?"
"Hm, sudah lama tidak melihatmu kau semakin cantik joongie~ah"
"Aish Joongie tampan hyung!"
"Ahahaha arra arra"
Yunho yang tidak mengerti dengan sosok namja-sok-kenal-dengan-Jaejoong- itu hanya bisa diam sambil memandangi keduanya tajam.
Entahlah.
Dia hanya tidak suka Jaejoong terlalu akrab dengan orang lain.
"Ah Yihan hyung, ini Yunnie dan yang ini Minnie"
"Yunnie? Minnie?"
"Uhm! Yunnie ini Yihan hyung, teman Joongie waktu di panti. Dulu Yihan hyung sering datang ke panti membawa banyak sekali makanan untuk Joongie dan teman-teman hehehe"
Ah, begitu.
Jadi namja ini salah satu penyumbang di Panti Asuhan tempat Jaejoong pernah tinggal.
"Anyeong, Jin Yihan imnida"
"Yunho, Jung Yunho"
"Hyung, sekarang Joongie sudah tidak tinggal di panti lagi setelah panti di tutup"
"Jeongmal? Jadi St. Cassiopeia sudah ditutup?"
"Hum, ada ahjussi jahat yang mau membeli panti jadi Joongie dan teman-teman berpisah" ucapnya sedih.
Yihan mengacak rambut Jaejoong.
Bermaksud untuk menghibur.
Tapi hal itu justru membuat mata seorang Jung iritasi.
"Sekarang Joongie tinggal bersama Umma Appa Jung, sama Yunnie dan Minnie juga"
"Aaah jadi kau diadopsi mereka?"
"Huh? Adopsi?" tanya Jaejoong tak mengerti.
"Hum, adopsi itu kau tinggal bersama keluarga barumu"
"Ooooo"
"Kka apa mereka semua baik padamu?"
"Yah yah apa maksud pertanyaan anda Jin Yihan~shi? Keluargaku semuanya menyayangi Jaejoong!" kesal Changmin.
"Benarkah? Kalau begitu syukurlah"
"Hum, Umma Appa Jung Minnie dan Yunnie sangat baik sama Joongie, Joongie sayang mereka semua hihihi"
"Neee aku senang kalau kau juga senang Joongie, ah bagaimana kalau kau mampir kerumahku? Tidak jauh darisini"
"Kerumah Yihan hyung?"
"Hum, disana ada pudding cake kau suka dengan pudding cake buatan Ummaku kan Joongie?"
"JINJJAAA? Uhm Joongie ma-"
"Kajja kita pulang"
Yunho mendadak menarik tangan Jaejoong keluar.
Sungguh ia sudah tidak tahan lagi dengan keakraban Jaejoong dan Yihan.
"Eh? Tapi tapi-"
"Tidak ada tapi tapi Kim Jaejoong! Kau mau Umma mengkhawatirkanmu karena kita sudah terlalu lama keluar, kajja"
"Y-Yunnie tangan Joongie, Yihan hyung sampai jumpa nanti"
"Neee bye Joongie"
Jaejoong melambaikan tangannya sambil tersenyum cerah.
Tidak tahu saja dia ada yang sedang menahan emosinya.
.
.
Malam harinya keluarga Jung sudah tiba di kediaman mereka.
Yunho memilih kembali ke kamar.
"Ada apa dengannya?" tanya Jung Umma bingung.
Jung Umma dan Jung Appa memasuki kamar mereka.
Memutuskan untuk beristirahat setelah seharian berjalan-jalan.
Jaejoong menatap punggung Yunho sedih.
Sejak pertemuannya dengan Yihan, Yunho bersikap acuh padanya.
"Joongie istirahat ne"
"Nde, Minnie~ah apa Joongie nappeun?"
"Huh? Ani, kenapa?"
"Yunnie marah sama Joongie"
Changmin terkekeh.
Dia sangat tahu kenapa kakaknya itu bersikap dingin pada Jaejoong.
"Jangan terlalu dipikirkan, sekarang tidurlah sudah malam"
"Arraso, jalja Minnie"
"Jalja Joongie"
.
.
Dua hari berlalu.
Dan dua hari juga Yunho masih bersikap dingin terhadap Jaejoong.
Hal itu jelas membuat Jung-Kim-Jaejoong sedih.
Ia sungguh tidak mengerti 'kesalahannya'.
TING TONG
"Joongie sayang tolong buka pintunya"
"Ne Umma"
CKLEK
"Omo, Yihan hyung?!"
"Anyeong Jaejoongie"
"Hyung! Bagaimana hyung tahu rumah Joongie?"
"Ahahaha keluarga Jung yang memiliki dua anak bernama Jung Yunho dan Jung Changmin di Seoul bahkan mungkin di dunia ini hanya ada satu, Jung Ji Hoon. Mudah sekali menemukan rumah ini Joongie, keluarga Jung adalah keluarga terpandang"
"Jeongmal?"
"Hum, hahaha wajah terkejutmu lucu sekali"
Jaejoong mempoutkan bibirnya.
"Joongie, siapa yang datang sayang?"
"Ah Umma, ini teman Joongie"
"Teman? Kenapa tidak disuruh masuk"
Setelah memperkenalkan diri.
Namja yang bisa dibilang tampan itu mengobrol santai dengan Jaejoong diruang tamu.
Dulu.
Keluarga Jin, adalah salah satu pendonor di Panti.
Karena itu Yihan dan Jaejoong bisa berteman baik.
CKLEK
"Aku pulang"
"Yunnie! Yunnie sudah pulang?"
Yunho yang baru saja pulang kuliah melihat Jaejoong dan namja bernama Yihan.
Serta eadaannya yang sedang lelah membuat moodnya sedikit memburuk.
"Yunho, kau sudah pulang? Sudah makan?"
"Hum sudah, Minnie mana?"
"Seperti biasa dirumah Kyu"
Yunho menaiki tangga menuju kamarnya.
Langkahnya terhenti saat Jaejoong mengekor dibelakangnya.
Si tampan Jung berbalik dan menatap malas.
"Ada apa?"
"Ani"
Ia menghela napasnya.
"Jangan ganggu aku Joongie, aku lelah sekali hari ini"
Raut wajah cantik itu nampak sedih.
Ia berpikir bahwa Yunho masih marah padanya.
"Arraso, Yunnie istirahat saja ne"
Yunho kembali berjalan menapaki tangga.
Meninggalkan Jaejoong yang menatap punggungnya sedih.
"Joongie?"
"Umma, Yunnie masih marah sama Joongie"
"Tidak sayang, Yunnie hanya lelah"
"Joongie nappeun! Selalu membuat Yunnie marah"
"Ani, Joongie anak Umma yang paling manis. Yunnie yang nappeun, biar nanti Umma marahi Yunnie"
"Eh? Andwe, Umma jangan marahi Yunnie"
"Aigoooo Joongie selalu membelanya, ya sudah sekarang Joongie kembali keruang tamu, teman Joongie sendirian disana"
"Uhm!"
Jaejoong melangkah kembali keruang tamu.
"Haaah ada apa dengan anak itu?" ucap Jung Umma.
Tiga jam kemudian Yihan sudah pulang.
Dan Jaejoong yang tidak tahu harus berbuat apa hanya berguling-guling diatas kasurnya.
Ia harus melakukan sesuatu agar Yunho tidak marah lagi.
Tentu ia tidak mau berlama-lama 'marahan' dengan Yunho.
Hal itu membuatnya tidak nyaman.
Ia-pun keluar dari kamarnya mencari si sulung Jung.
Dan ia mendapati Yunho yang sedang duduk di taman belakang.
"Y-Yunnie~ah"
Yunho menoleh.
Cukup terkejut melihat Jaejoong berada di sebelahnya.
"Kenapa kau disini? Masuklah, udaranya dingin"
"Y-Yunnie masih marah sama Joongie ne?"
"Marah? Padamu? Untuk apa"
"Lalu kenapa Yunnie mendiamkan Joongie? Yunnie pasti marah!"
"Ani"
"Bohong! Yunnie pasti marah sama Joongie, iya kan?"
"Kenapa aku harus marah padamu?"
"Molla, Joongie sendiri tidak tahu kenapa Yunnie marah sama Joongie"
Yunho menghela napasnya.
Apa yang dikatakan Jaejoong mungkin benar.
Kenapa dia bisa marah pada si cantik Kim?
"Aku tidak marah padamu, mian"
Jaejoong diam.
Ia masih memandang Yunho yang sejak tadi pemilik wajah kecil itu berbicara sama sekali tidak menatap padanya.
"Uh, Yunnie masih marah, Joongie nappeun ne? Mianhe Yunnie~ya"
Jaejoong menundukan kepalanya.
Memainkan kedua jari lentiknya.
Dengan bibir yang mengerucut imut.
Siapa yang tega dengan pemandangan seperti itu.
Tingkah Jaejoong seperti anak kecil yang sedang meminta maaf pada ibunya.
"Haaahh kemarilah, sudah jangan bersedih kau jelek sekali dengan wajah seperti itu"
Namja cantik itu mendongakan kepalanya.
Berjalan pelahan mendekati Yunho.
Dan dengan cepat memeluk si tampan Jung dari samping.
"Mian Yunnie~ya jeongmal mianhe, Joongie nappeun!"
Yunho tersenyum kecil.
Dielusnya tangan kecil yang melingkar di pundaknya itu.
"Kau tidak nakal Joongie, aku-aku hanya tidak suka kau dekat dengan namja itu"
"Hum? Maksud Yunnie Yihan hyung? Ish, Yihan hyung itu teman Joongie sewaktu di panti Yunnie"
"Tapi kau terlihat akrab sekali"
"Yihan hyung sangat baik dan juga tampan, Joongie dulu memanggilnya hyung tampan"
"Oh benarkah?"
"Keunde Yunnie jauuuuuuuuuuuuuuuuhh lebih tampan hehehe"
Yunho terkekeh.
Ia melepas pelukan Jaejoong dan mengapit kedua pipi chubbynya.
"Dengar, aku tidak tahu apa yang terjadi denganku tapi aku tidak bisa melihatmu terlalu akrab dengan namja lain. Kau miliku Kim Jaejoong"
Jaejoong yang tidak mengerti hanya merespon mengedipkan mata.
"Aku menyayangimu Joongie, sangat"
"Uhm! Joongie juga"
"Jeongmal? Apa kau mengerti arti rasa sayangku?"
"Euung?"
Jaejoong memiringkan kepalanya.
Masih dengan kedua tangan besar Yunho yang mengapit pipinya.
"Aku harap kau akan mengerti suatu saat nanti"
CHUP
Yunho mencium sekilas bibir merah Jaejoong.
Dan kembali ke kamar.
Meninggalkan si cantik Kim yang nampak terkejut.
Tubuhnya menegang.
Matanya berkedip cepat.
Darahnya berdesir hangat.
Jantungnya berdegup tak beraturan.
"Y-Yunnie" ucapnya sambil memegang bibirnya sendiri.
Saat sedang berjalan menuju kamarnya ia menemukan sang adik yang tengah tersenyum tidak jelas padanya.
"Kau belum tidur?"
"Masih jam 9 hyung"
"Umma Appa eoddie?"
"Di kamar"
Yunho mengangguk.
Dia berjalan melewati Changmin menuju dapur.
Diambilnya segelas air putih dingin dari dalam kulkas.
Sang adik mengekor di belakang.
"Hyung, apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Hum? Ada apa?"
"Apa yang hyung lakukan tadi dengan Joongie?"
Yunho mendelik
"Kau mengintip?"
"Tidak sengaja"
Yunho menaruh gelasnya di meja makan.
Menatap adik semata wayang dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku menyayanginya"
"Aku juga"
"Tapi rasaku berbeda"
"Seperti rasaku pada Kyu?"
"Ck, aku bukan menyayangi Jaejoong sebagai sahabat Changmin"
"Aku juga menyayangi Kyu bukan sebagai sahabat"
Yunho memicingkan matanya.
"Kau, kau menyukai Kyu?"
"Wae? Apa tidak boleh?"
"Lakukan sesukamu"
Keduanya diam sejenak.
"Hyung, katakan padaku benar kau menyukai Joongie?"
"Entahlah Min, aku juga bingung dengan perasaanku sendiri"
"Lalu apa alasan hyung selama dua hari ini mendiamkan Joongie? Apa hyung marah padanya karena Joongie bertemu dengan Yihan hyung?"
"A-aku tidak marah"
"Oh yeah hyung tidak marah hanya cemburu"
"Yah! Aku tidak cemburu"
"Ck, tidak mau mengaku"
Yunho menatap sang adik gelisah.
Changmin memang sangat tahu watak kakaknya.
Dan itu tidak bisa membuat Yunho berbohong sedikitpun di depan Changmin.
"Aku hanya tidak suka bukan cemburu!"
"Sama saja hyung, saranku kalau memang hyung benar menyukai Joongie katakan saja padanya"
"Dia belum mengerti hal seperti itu Minnie~ah"
"Sabar hyung, aku yakin suatu saat Joongie akan mengerti"
"Eiii kau cerewet sekali, lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah menyatakan perasaanmu pada Kyu?"
"Akan kukatakan setelah lulus nanti, sekarang kami disibukan dengan ujian akhir hyung, aku tidak mau membebani pikirannya"
"Yeah kau memang beban untuk Kyu Jung Changmin"
"Huh? Maksud hyung?"
"Makanmu banyak, badanmu tinggi, berat badanmu juga naik, sudah pasti kau akan membebani Kyu"
"YAH HYUNG!"
"Hahahaha"
*NEXT NEXT DAY*
"Yunnieeeee antarkan Joongie ke dokter hewan, Hiro harus di vaksin Yunnie~ya"
"Aish Kim Jaejoong, kau tidak lihat aku? Aku sedang mengerjakan skripsi, nanti saja tunggu Umma atau Minnie pulang"
Jaejoong mempoutkan bibirnya.
Ia kesal karena Yunho tidak mau mengantarnya ke dokter hewan.
Hiro, anjing yang baru saja dibelikan Jung Appa harus di vaksin agar terbebas dari penyakit.
"Yunnie~ah" rajuknya.
Yunho diam.
"Yunnie~"
Tidak ada jawaban.
"Ish Yunnie menyebalkan!"
TOK TOK TOK
"Ne?"
"Permisi tuan muda Jaejoong, ada tamu untuk anda"
"Huh? Tamu? Untuk Joongie?"
"Ne, Jin Yihan~shi menunggu anda di ruang tamu"
"Yihan hyung? Arraso, nanti Joongie kebawah gomawo Kang ahjussi"
"Ne saya permisi"
Dengan semangat Jaejoong menuruni anak tangga.
Di iringi lirikan tidak suka Yunho.
'Laki-laki itu lagi? Mau apa dia kesini?'
Setidaknya begitulah pikiran si tampan Jung kita.
30 Menit berlalu.
Dan sepertinya namja Jin itu belum pulang.
Karena Jaejoong belum kembali ke kamarnya.
Jujur saja hal itu membuat Yunho tidak nyaman.
Ia bahkan sulit untuk berkonsentrasi.
Karena lelah dengan pikiran-pikiran anehnya, yunho memutuskan untuk keluar kamar.
Saat ia menuruni tangga, Jaejoong justru nampak berlari kecil menaiki tangga dengan semangat.
Tapi si cantik Kim itu seolah tidak mempedulikan namja Jung yang berdiri di hadapannya.
"Yah, kau mau kemana?" tanya Yunho kesal saat Jaejoong seolah tak melihatnya.
"Hum? Joongie mau pergi sama Yihan hyung"
"Pergi? Kemana?"
"Ke dokter hewan"
Mata sipit Yunho melebar.
Pergi dengan Yihan?
Namja sok kegantengan itu?
Hell no!
"Tidak boleh! Nanti saja tunggu Umma atau Minnie"
"Eh? Kalo nunggu Umma sama Minnie lama Yunnie~ya, nanti dokternya keburu tutup"
"Kalau begitu besok saja"
"Besok minggu, dokternya tutup"
Aish.
Jaejoong ini cerewet sekali aniya?
"P-Pokoknya tidak boleh, perginya senin saja nanti kuantar"
"Ish Yunnie keunde-"
"Yunho~shi anda tenang saja, saya akan menjaga Joongie" ujar Yihan yang sedang berdiri tak jauh dari YunJae.
Yunho semakin tidak suka melihat sok pahlwan Yihan.
Ia mendengus dan memilih kembali ke kamarnya.
"Lakukan sesukamu Kim Jaejoong"
"Yunnie, Yunnie~ya"
Akhirnya dengan sedikit pengertian dari Yihan bahwa Yunho tidak marah padanya. Jaejoong membawa Hiro ke dokter hewan untuk di vaksinasi.
Setelah membawa Hiro ke dokter hewan, Jaejoong ingin segera pulang tapi Yihan membawa Jaejoong untuk makan siang bersama.
"Hyung, apa tidak apa-apa kalau makan dulu? Nanti Yunnie khawatir, Joongie kan janjinya cuman ke dokter hewan saja hyung"
"Gwaenchana Joongie, nanti biar hyung yang bilang sama Yunho kalau kita makan dulu, eotte?"
"Yunnie takut Joongie marah"
Melihat raut wajah Jaejoong yang bersedih membuat Yihan tidak tega.
Ia tersenyum lembut sambil memegang tangan Jaejoong, mencoba untuk menenangkan.
"Tenanglah dia tidak akan marah padamu, kalau dia marah Joongie bisa kabur kerumah hyung"
"Eoh? Kabur? Shiruh¸ Joongie suka tinggal dirumah Yunnie, ada Umma Appa Minnie"
"Benarkah? Dulu Joongie pernah janji kalau Joongie akan tinggal bersama hyung?"
Jaejoong memasang pose berpikir.
"Huuumm jeongmal? Joongie tidak ingat"
"Ish pikun"
"Joongie lupa hyung jinjja"
"Begitukah? Jangan-jangan Joongie juga lupa tentang janji kita tiga tahun lalu?"
Mata indah itu berkedip.
Menandakan bahwa ia tidak ingat apapun.
"Janji apa hyung?"
"Aish sudah hyung duga pasti Joongie lupa, janji bahwa kalau Joongie sudah besar Joongie akan menikah dengan hyung"
"Mwooo? Jeongmal? Joongie pernah berjanji seperti itu?"
Yihan mengangguk.
Jaejoong menunduk.
Ia meninggalkan sumpitnya diatas piring.
"Eh?Waeo?"
"J-Joongie tidak ingat janji itu"
"Sudah tidak apa-apa, yang penting kan sekarang Joongie sudah tahu"
Wajah pualam itu masih tertunduk.
"Joongie wae geure?"
"J-Joongie tidak mau menikah dengan Yihan hyung"
"Hum?"
"Joongie menyukai Yunnie"
Kali ini wajah Yihan yang nampak menegang.
Suka? Suka seperti apakah yang Jaejoong rasakan untuk Yunho.
"Ahahaha i-itu tentu saja harus Joongie, Joongie harus menyukai Yunho kan Joongie adiknya Yunho aniya?"
Jaejoong mengangkat wajahnya.
Ia tidak mengerti apa yang dikatakan Yihan.
"Joongie menyukai Yunho, neomu neomu joa"
Wajah Yihan kembali serius.
Ia memegang kedua tangan Jaejoong dan membuat namja cantik itu tersentak.
"H-Hyung"
"Joongie, aku serius. Kau tidak tahu khawatirnya aku saat aku harus pergi ke Jepang? Aku selalu merindukanmu Joongie, dan saat bertemu lagi denganmu kemarin aku senang sangat senang"
Jaejoong hanya diam.
Mencoba mencerna kalimat namja bermarga Jin di depannya ini.
"Joongie, aku menyukaimu aku menyayangimu ikutlah denganku ke Jepang Joongie jebbal"
"J-Jepang? Tap-"
"Kim Jaejoong"
Si cantik itu menoleh cepat saat ia tahu betul siapa pemilik suara bass itu.
"Yu-Yunnie?"
Mata kecil Yunho menajam saat melihat kedua tangan Jaejoong yang diapit tangan Yihan.
"Mengantar Hiro vaksinasi ke dokter eoh?"
"N-Ne tadi Joongie habis mengantar Hiro ke dokter, lalu Yihan hyung mengajak Joongie makan"
"Aaah begitukah?"
"Oppa kau ini kemana aku men- eoh? Joongie?"
"Jessie nuna?"
Jessica menatap Jaejoong bingung.
Ia berpikir, kenapa namja cantik itu bersama namja lain?
Siapa dia.
Jaejoong-pun sama.
Ia menatap Yunho dan Jessica.
Ada perasaan tidak nyaman saat melihat yeoja blondie itu bersama Yunnie-nya.
"O-Oppa kita du-"
"Kita pulang"
Yunho melangkah keluar dengan perasaan yang tidak menentu.
"Y-Yunnie chakkaman"
Jaejoong mengekor dibelakangnya, melepaskan genggaman tangan Yihan.
Tidak lupa juga ia membawa keranjang Hiro.
"Joongie kau mau kemana?"
"M-mian Yihan hyung, Joongie mau mengejar Yunnie"
"Tap-"
Terlambat.
Jaejoong sudah memilih pergi bersama Yunho.
Yihan melirik Jessica bingung.
Dan gadis cantik itu hanya menggedikan bahunya, lalu pergi darisana.
"Yunnie~ah Yunnie chakkaman"
Jaejoong berlari kecil menyusul Yunho keluar restoran.
Ia kerepotan karena membawa keranjang Hiro yang cukup besar.
Jaejoong bahkan sempat terjatuh, dan tidak menyadari kunci keranjang Hiro terlepas.
"Hiks appo"
Namja cantik itu terduduk di tanah.
Ia membersihkan lututnya yang kotor.
Matanya melebar saat melihat Hiro berlari keluar dari kandang.
Jaejoong langsung berdiri dan mengejar Hiro.
"Hiro, Hiro~ya Hiro"
Yunho yang mendengar suara Jaejoong memanggil Hiro langsung berbalik.
Ia melihat anjing kecil lucu itu berlari menjauh dari Jaejoong.
"Yunnie, tangkap Hiro Yunniee, Hiro~ya chakkamaaaan"
Hiro menyebrang jalan.
Jaejoong mengejar dari belakang.
Ia tidak tahu ada mobil dari samping dengan kecepatan cukup cepat mengampirinya.
"Joongie!" pekik Yunho
[ Adegan berikut adalah scene yang diambil dari In Heaven JYJ. Scene saat Junsu menyelamatkan Ji Hyo ]
CKIITT!
Yunho memeluk Jaejoong.
Menjadikan dirinya tameng pelindung bagi Jaejoong.
Keduanya berhasil selamat.
Mobil tersebut berhenti di waktu yang tepat.
Ia gunakan tubuhnya agar Jaejoong tidak jatuh menimpa aspal yang keras.
Dan itu mengakibatkan kepalanya membentur aspal trotoar.
DUGH!
"Ah"
"Yunnie? Y-Yunnie?"
Jaejoong yang menindih tubuh Yunho terkejut saat melihat kening si tampang Jung bersimbah darah.
"OPPA? Yunho Oppa"
Jessica dan Yihan yang memang berada tidak jauh dari tempat kejadian langsung menghampiri Yunho yang tergeletak pingsan.
Orang-orang berkerumun untuk melihat apa yang terjadi.
"Yunnie, Yunnie~yah bangun Yunnieee" panggil Jaejoong cemas.
"Oppa, Yunho Oppa, Joongie apa yang terjadi huh?"
"Hikss Y-Yunnie hiksss"
"Aku akan panggil ambulance"
"Hikss Yunnie, Yunnie~ah bangun hikss"
"Yah Kim Jaejoong, apa kau tidak melihat jalan saat menyebrang eoh?"
"Hikkss nuna hiksss"
"Paboya?!"
"Jess sudahlah ini semua kecelakaan, aku sudah memanggil ambulance"
"Hikss ini salah Joongie salah Joongie, Yunnie jadi begini karena Joongie hikss, Yunnie mian hikss"
Jaejoong terus menangis.
Dirinya sangat merasa bersalah sekarang.
Harusnya ia menuruti kata Yunho.
Harusnya ia segera pulang setelah membawa Hiro ke dokter.
Dan harusnya ia tidak usah memaksakan diri untuk pergi ke dokter hari ini.
Sungguh ia menyesal.
*SEOUL INTERNATIONAL HOSPITAL*
Yunho langsung dibawa ke UGD saat ambulance tiba di RS.
Jessica menghubungi Jung Umma, Changmin, Jung Appa, Kyuhyun, Yuchun.
Ia begitu panik hingga menelpon semua orang.
TAP TAP TAP TAP
Terdengar suara langkah kaki yang dipastikan menggunakan high heels.
Serta langkah-langkah yang mulai terdengar jelas lainnya.
"Mana Yunho?"
"Nuna apa yang terjadi?"
"Jess kenapa ini?"
Umma Appa Jung, Changmin, Yuchun memberondong Jessica dengan berbagai pertanyaan.
Jung Umma sangat amat shock.
Ia bahkan tidak mendengar jelas apa yang dikatakan yeoja blondie itu.
Yang dipikirannya saat ini adalah, bagaimana keadaan anak sulungnya.
Jaejoong?
Dia berdiri sambil memandangi pintu UGD dengan wajah pucat dan mata sembab yang memerah.
Hampir 60 menit Yunho berada dalam ruang UGD.
Lampu berganti hijau tanda bahwa pasien selesai ditangani.
Dokter Kangta yang khusus menangani pembedahan keluar dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.
"Uisa uisa bagaimana keadaan anak saya?"
"Keadaannya tidak begitu mengkhawatirkan, tapi kami akan melakukan citiscan setelah pasien sadar untuk mengetahui keadaan otaknya, kami sudah menjahit kepalanya yang robek di bagian belakang dan beberapa luka di pelipis"
"Tapi hyung akan baik-baik saja kan uisa?"
"Itu dia saya belum bisa memastikannya sampai pasien sadar, sekarang pasien sedang dibawa ke kamar rawat kalian bisa melihatnya disana, kalau pasien sudah sadar mohon hubungi suster, agar bisa diperiksa untuk mengetahui keadaan kepala bagian dalamnya"
"Kita ke kamar rawat sekarang, uisanim gamsahamnida" ucap Jung Appa.
"Itu sudah menjadi tugasku, kalau begitu permisi"
Seluruh keluarga sudah berada di kamar rawat Yunho sekarang.
Terdengar tangisan pilu dari Jung Umma.
Ia tidak pernah menyangka anak sulungnya akan terbaring lemah seperti ini.
Bukan hanya Jung Umma saja yang cemas.
Jung Appa, Changmin, Yuchun, Jessica, bahkan Yihan yang juga ikut mengantar ke RS juga cemas.
Tapi Yihan lebih mencemaskan Jaejoong sekarang.
Mata itu.
Mata yang selalu bening kini meredup.
Ia yakin Jaejoong sedang menyalahkan dirinya sekarang.
Tak berapa lama kemudian.
"Eungh"
Yunho mengeluh.
Semua yang berada disana terkejut.
"Yunho, Yunho kau sudah bangun sayang? Yunho ini Umma"
"Hyung! Hyung gwaenchana?"
Yunho menyipitkan matanya, mengeliminir cahaya yang masuk.
Dia memegang kepalanya yang terasa sakit sekali.
"U-Umma kepalaku argh"
"Panggil suster!" titah Jung Appa.
Secepat kilat Yuchun keluar kamar untuk memanggil suster.
"Hyung"
"Sayang mana yang sakit hum? Yunho~ya" Jung Umma kembali terisak.
"A-aku tidak apa-apa Umma, argh appo! I-ini sakit sekali"
"Hyung bertahanlah"
"Arrgghh Changmin~ah ini sakit!"
Yunho semakin memberontak.
Kepalanya benar-benar seperti ditimpa palu besar.
"Y-Yunnie?"
Jaejoong perlahan mendekati ranjang Yunho.
"Yunnie hiksss appo? Hiksss mian Yunnie hiksss mian"
"Kau, argh-"
"Yunnie maafkan Joongie hiksss maaf Yunnie~ya"
Jaejoong semakin menangis histeris.
Ia tidak tega melihat Yunho begitu tersiksa.
"Kau! P-Pergi"
"Yunnie hiksss Yunnie mau marah sama Joongie? Marah saja, pukul Joongie, Joongie nappeun! Hikss selalu membuat Yunnie marah"
"Joongie tenanglah" ucap Jessica.
"P-Pergi, k-kau pergi! Aku, aku tidak mengenalmu, kau siapa argh jangan menyentuhku! Umma kepalaku sakit sekali aaarrgghhh"
"Hikkss Y-Yunnie, ini Joongie hikss"
"ARGH! UMMA APPA YUCHUN JESSICA CHANGMIN USIR DIA DARISINI! SIAPA ORANG ITU AARRGHHH HAH…HAH…HAH"
Dan pandangan Yunho mengabur seketika.
Ia pingsan.
Kalimat terakhir Yunho membuat semua orang yang berada disana, dipenuhi pertanyaan besar.
Yunho tidak mengingat Jaejoong?
TBC
Maaf kl kurang memuaskan *bow*
Untuk chap depan sudah selesai tinggal publish, tapi nunggu review dulu hohoho.
muah #kecup2
