LOVING YOU

.

.

Maaf baru bisa apdet sekarang, ada musibah di keluarga author maaf yaaaa. Sankyu yg udah ngirim PM nanya2 tentang kelanjutan ff ini :D tenang author tidak akan membuatnya terbengkalai dan pasti akan menamatkan ff ini. Sankyu juga buat reviewers2 keren yg selalu memberikan masukan, kritikan atau cuman sekedar coment. Meaning a lot for me*bow* Heppi reading readers #kecupmanja

.

.

Seakan ada batu besar yang menindih dadanya, napas Jaejoong tiba-tiba terasa berat, mata besar dan bening miliknya sama sekali tak berkedip sedikitpun.

Tak berapa lama, Yuchun kembali bersama dokter Kangta. Dokter tampan itu dengan sigap langsung memeriksa keadaan Yunho yang pingsan. Mengetahui ada yang tidak beres, ia langsung menyuruh kedua perawat yang berada disampingnya untuk membawa Yunho ke ruang pemeriksaan.

"U-uisa apa yang terjadi dengan Yunho?" tanya Jung Umma cemas.

"Maaf saya belum bisa memastikan apa yang terjadi dengan pasien, saya akan membawanya ke ruang scanning untuk diperiksa, permisi"

Jung Umma kembali menangis. Tubuhnya melemas seketika, ia akan jatuh jika tidak dipegangi Jessica.

"Ahjumma tenanglah, Oppa akan baik-baik saja"

"Sicca~ah Yunho hiksss uri Yunho"

"Umma tenanglah, hyung akan baik-baik saja"

Jung Appa memeluk tubuh bergetar istrinya.

Ia tentu sangat cemas dengan keadaan Yunho.

Tapi sosoknya sebagai kepala keluarga haruslah bersikap tegar.

Saat ini yang bisa mereka lakukan adalah berdoa dan menunggu hasil scanning dokter.

20 menit kemudian.

Yunho telah kembali ke kamar rawatnya. Ia nampak tertidur lelap dengan gurat letih tergores di wajah tampannya. Perban di kepalanya juga masih berada disana.

"Uisa bagaimana keadaan Yunho?"

"Retrograde Amnesia, pasien mengalami retrograde amnesia atau lupa ingatan sementara, adanya penumpukan darah yang membeku disekitar otak pasien akibat benturan yang cukup keras. Tidak terlalu berbahaya dan bisa disembuhkan dengan terapi"

"A-amnesia? Puteraku am-amnesia?"

"Nde Tuan Jung, Yunho mengalami amnesia sementara"

"Keunde, hyung mengingat kami semua tapi kenapa dia tidak mengingat Joongie?"

"Kemungkinan sebelum ingatannya terganggu, yang ada di pikiran pasien hanya orang itu, pasien bisa lupa akan kejadian sebelum terjadinya kecelakaan, bahkan mungkin ia bisa lupa dengan orang-orang yang berada di tempat kejadian kecelakaan"

"Jadi Yunho tidak akan bisa mengingat Joongie?" tanya Yuchun kali ini.

"Untuk sementara iya"

Jaejoong yang tidak mengerti istilah-istilah dokter hanya diam. Mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari dokter Kangta. Ia hanya bisa menarik kesimpulan bahwa Yunho, tidak mengenalnya. Dan hatinya berdenyut tak nyaman.

"L-Lalu bagaimana dengan terapi uisa? Kira-kira apa terapi bisa membuatnya cepat ingat kembali?" tanya Jung Appa.

"Tergantung kondisi pasien, jika ia memiliki motivasi untuk mengingat kembali maka bisa saja ingatannya akan kembali dengan cepat"

"Kira-kira berapa lama uisa?" tanya Umma Jung kali ini.

"Yang tercepat sekitar 3 hari tapi yang terlama bisa sampai puluhan tahun"

"M-mwo? Puluhan tahun?"

Semua yang berada disana cukup shock mendengar kabar Yunho amnesia.

Mereka bahkan tidak habis pikir bagaimana bisa ini semua terjadi pada Yunho?

Musibah ini terlalu cepat dan menganggetkan.

"U-Uisanim j-jadi Yunnie tidak akan mengenal Joongie lagi?"

"Untuk sementara ini tidak, bersabarlah. Kau harus membantunya untuk bisa mengingatmu lagi, berusahalah"

"Uhm! Joongie mau Yunnie ingat lagi sama Joongie"

Dokter dengan lesung pipi itu tersenyum lembut.

"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, jika ada perkembangan yang signifikan beritahu suster"

"Gamsahamnida uisa"

Jung Appa sambil menjabat tangan dokter Kangta.

Mengucapkan banyak terima kasih pada dokter tampan itu.

Jung Umma tak berhenti memegang tangan putera sulungnya.

Wajah cantiknya sembab karena air mata.

Begitu-pun dengan Changmin, ia bahkan tidak bisa berpikir sekarang.

Ia sungguh mengkhawatirkan kakak satu-satunya yang ia punya.

Semuanya berdoa, semoga Yunho akan baik-baik saja.

Dan keadaan akan kembali seperti semula.

.

.

Setelah hampir 5 hari Yunho dirawat, kini ia sudah kembali kerumah.

Yunho bersikap seperti biasa, ia mengenal semua pelayan yang ada dirumah.

Tapi Yunho tetap belum mengingat namja cantik itu.

Selama di Rumah Sakit, Jaejoong selalu berada di sisi Yunho. Hal itu membuat Yunho kesal karena baginya Jaejoong sangat mengganggu dan berisik.

"Aku lelah"

"Istirahatlah sayang, Umma akan membuatkan makanan kesukaanmu"

"Yunnie, Joongie bantu berjalan ne"

"Tidak perlu aku bisa sendiri" ucapnya ketus.

"Keunde-"

"Kau ini idiot huh? Tidak mengerti apa yang ku katakan?"

Oh tidak.

Perkataan Yunho barusan benar-benar membuat wajah berseri itu mendadak suram.

Belum pernah namja Jung sekasar itu padanya.

"M-Mian Yunnie"

Yunho memandang Jaejoong tajam.

Ia mendengus dan berlalu menuju kamarnya.

Jung Umma melihat raut wajah cantik itu tertunduk sedih.

Ia mendekati Jaejoong dan mengusap punggungnya penuh kasih.

Kalau saja Yunho tidak sedang sakit, ia pasti akan memarahinya.

"Joongie~ah Gwaenchana?"

"Uhm! Gwaenchana Umma" jawab Jaejoong tersenyum lembut "Ah Changminnie, sini Joongie bantu"

Namja cantik itu berlari kearah Changmin saat dilihatnya Changmin kesulitan membawa koper yang berisi baju-baju Yunho selama di RS.

"Joongie kau bawa ini ke ruang cuci baju ne, aku akan mengambil bantal dan selimut di mobil"

"Ndeeee"

Setelah membantu si bungsu Jung. Jaejoong membantu Jung Umma memasak di dapur. Hatinya begitu mencemaskan Yunho. Ingin rasanya ia menemui si tampan Jung itu sekarang juga, tapi ia tahu Yunho tidak akan mau bertemu dengannya.

Makan malam pun tiba, Jaejoong menata piring kemudian memanggil Jung Appa dan Changmin tak lupa ia pun memanggil Yunho. Seperti masih kesal dengan Jaejoong, Yunho tidak menjawab saat Jaejoong masuk ke kamar dan menyuruhnya untuk makan, ia berjalan melewati Jaejoong dan mengacuhkan namja cantik itu begitu saja.

Keluarga Jung telah berkumpul di ruang makan. Jung Umma memasak makanan favorit Yunho, Nasi Kimchi with Bulgogi Sauce Cream. Yunho terlihat sangat senang, segera saja ia menarik kursinya dan mulai menyiduk nasi, Jaejoong yang duduk disampingnya membantu mengambilkan nasi untuk Yunho namun Yunho menepisnya, kembali Jaejoong tertunduk sedih.

"Anyeoonngg"

"Sicca?"

"Ah mianhe ahjumma tadi aku sudah mengetuk pintu tapi sepertinya tidak terdengar jadi aku langsung masuk saja"

"Gwaenchana sayang, kau ini seperti kerumah siapa saja ayo masuk duduklah, kita makan bersama"

Jessica menaruh keranjang buah yang ia bawa untuk Yunho.

"Hi Oppa"

"Hi Jess, kau tidak mengantarku pulang tadi, sibuk eoh?"

"Ahahaha mianhe Oppa syuting-ku tidak bisa ditinggal, eotte? Sudah merasa baikan kembali kerumah?"

"Yeah begitulah, rumah akan terasa nyaman jika-"

Yunho menggantung kalimatnya.

Tatapan tidak suka ia arahkan pada Jaejoong yang nampak duduk disampingnya.

Gadis blondie itu mengerti maksud Yunho.

Ia tahu bahwa semenjak Yunho hilang ingatan, Yunho nampak tidak menyukai Jaejoong yang berada disisinya.

"Omo, ahjumma kau memasak Jjampyong? Whoaaaaaa perutku jadi lapar" ucap Jessica mengalihkan suasana.

"Hum, makanan kesukaanmu eoh? Kka makanlah yang banyak ne, kau terlihat kurus akhir-akhir ini"

"Hehehe ndeee aku akan makan lahap hari ini"

"Jess duduklah disini" titah Yunho.

"Wae? Aku sudah nyaman disini Oppa"

"Ani aku mau kau yang duduk disampingku"

"Aish Oppa jangan begitu, duduk dimana saja kan sama"

"Shiruh, yah kau pindah kesana" ucapnya pada Jaejoong.

"Tapi Joongie mau duduk disini"

"Tidak bisa, kau pindah duduk disamping Changmin saja tempat ini untuk Jessie"

"Oppa sudahlah tidak apa-apa"

"Andwe! Aku ingin kau duduk disini biar dia yang pergi, napsu makan-ku berkurang jika berada disampingnya, kau pindah ppali!"

"Yunho~ya jangan begitu bicaralah baik-baik, Joongie sayang bisakah kau pindah dan duduk disamping Minnie?"

Jaejoong menatap manik Jung Umma, lalu ia mengangguk.

Perasaannya saat ini kecewa bercampur sedih.

Yunho-nya sudah berubah.

Dulu namja Jung itu pasti akan memposisikan diri duduk disamping Jaejoong.

Bahkan bisa sampai berebut dengan sang adik.

Tapi sekarang? Jaejoong bahkan harus menjaga jarak untuk tidak berdekatan dengan Yunho.

Dengan berat hati, Jaejoong menggeser kursinya dan pindah kesamping Changmin. Si tampan yang biasa disapa Max itu nampak tersenyum lembut padanya.

"Nah nona cantik silahkan duduk"

Yunho menarik kursi yang tadi di duduki Jaejoong agar semakin dekat padanya. Jessica terlihat kikuk, ia merasa tidak enak pada Jaejoong karena sudah mengambil 'tempatnya'.

"Joongie lihat! Ada makanan kesukaanmu Tak dori haaah ini pasti lezat sekali"

Ucap Changmin mencoba menghibur Jaejoong yang sedaritadi sama sekali tidak menunjukan minatnya pada makanan.

"Joongie sayang, makan yang banyak ne? Mana piring Joongie sini Umma ambilkan nasi dan ayamnya"

Jung Umma mengambil piring Jaejoong dan menyiduk nasi beserta Ttak dori, ayam bumbu merah pedas kesukaan si cantik Kim.

"Jess, kau mau makan apa? Sini kuambilkan" tanya Yunho semangat.

"Aniya Oppa biar aku ambil sendiri saja"

"Aish tidak apa-apa sini piring-mu, kau harus makan yang banyak biar tubuhmu tidak terlalu kurus"

Kalau boleh jujur.

Jessica merasa senang ketika Yunho memperlakukannya seperti itu.

Tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya pada Jaejoong.

Sesekali ekor mata gadis blondie itu menangkap wajah Jaejoong yang bersedih.

Suasana makan keluarga Jung sedikit sunyi dari biasanya, hanya terdengar denting beradu-nya sendok garpu diatas piring.

Sesekali Yunho menawari Jessica menu lain atau sekedar menambahkan minuman ke gelas gadis bermarga sama dengannya itu.

Demi apa Jaejoong sesak melihat apa yang ada dihadapannya, karena biasanya ia yang diperlakukan dengan lembut seperti itu.

Mendadak Jaejoong tersedak dengan makanan yang masih penuh dari mulutnya.

Ia sungguh tidak bisa menikmati makan malam hari ini.

"Uhukuhuk-"

"Joongie minum air ini"

Tapi sesaat setelah ia meminum air yang diberikan Changmin, Jaejoong yang masih belum 'sembuh' dari acara tersedaknya mengeluarkan semua makanan-nya dan tepat mengenai wajah Yunho yang duduk di depannya.

"YAH!"

"O-Omo, mianhe Yunnie Joongie tidak sengaja"

Jaejong segera beranjak dari kursinya menuju kursi Yunho, ia bersihkan sisa-sisa nasi yang ada di wajah dan tubuh Yunho, sambil terus mulutnya bergumam kata maaf.

"Berhenti"

"Yunnie mianhe, mianheo, Joongie tidak sengaja, mianhe Yunnie"

"Berhenti"

"Hikshikss Yunnie mianhe, mianheo Yunnie~ah-"

"AKU BILANG BERHENTI!"

Wajah Yunho mengeras, ia bangun dari tempat duduknya dan menarik kerah baju Jaejoong kasar.

"Oppa"

"Yunho" ucap Jung Umma.

"Idiot!" Yunho melepas baju Jaejoong kasar membuat namja mungil itu tersungkur kebelakang.

"Yunho kau keterlaluan!"

"Tapi itu jorok Appa! Semua makanannya mengenai wajahku!"

"Tapi kau tidak perlu sekasar itu pada Jaejoong!"

"Yeobo sudahlah, Joongie chagy kau tidak apa-apa sayang?" Jung Umma menghampiri Jaejoong dan memeluk pundaknya.

"G-gwaenchana Umma hikss" isakan itu kembali lolos dari bibir mungilnya.

SRAK

Terdengar suara kursi yang ditarik.

"Hyung"

"Ap-"

BUAGH!

Tubuh kekar itu terhuyung kebelakang.

Yunho tidak menyadari bahwa adiknya sendiri yang melayangkan bogem mentah kearahnya.

"APA YANG KAU LAKUKAN JUNG CHANGMIN!"

"Aku sudah cukup sabar melihatmu menyakiti Joongie hyung! Kupikir setelah kembali kerumah kau bisa lebih menghargai uri Joongie, tapi justru kau semakin menjadi!"

"Hah, jadi kau memukul kakakmu sendiri hanya demi bocah idiot itu?"

"JOONGIE TIDAK IDIOT!"

"YUNHO CHANGMIN DUDUK!" titah Jung Appa.

Suasana semakin kacau.

Jung Umma bahkan menangis dalam diam, tidak pernah terbayangkan bahwa keluarganya akan seperti ini.

Tak butuh waktu lama bagi Jung Yunho sang juara Hapkido untuk membalas pukulan Changmin. Dia bangkit dan menarik kerah Changmin kasar, dengan wajah yang memerah penuh amarah Yuho terlihat sangat amat menakutkan.

"Kau berani padaku Jung Changmin?" desisnya di depan wajah sang adik.

"Aku tidak akan diam jika ada yang menyakiti Joongie, termasuk jika itu kau hyung"

Tanpa memandang status keluarga, Yunho mengepal tangannya dan memukul perut si bungsu. Changmin terdorong ke-belakang dan meringis. Emosi keduanya sudah tidak terbendung, acara makan keluarga berubah menjadi 'arena tanding' antar dua keluarga Jung. Jung Appa sudah mencoba melerai namun keduanya tetap pada ke-egoisan masing-masing.

"Yunho Changmin hentikan! Yeobo hentikan mereka hiksss"

"Y-Yunnie sudah hiksss jangan pukuli Minnie"

"Oppa, cukup Oppa hentikan!"

Seolah tidak mendengar apapun.

Yunho yang berada diatas Changmin terus memukuli sang adik.

Entah kenapa dia begitu emosi saat ini.

"Kau berani memukul hyung-mu sendiri hanya karena anak idiot itu, baik akan kuberi kau pelajaran Jung Changmin!"

"STOP MEMANGGILNYA ANAK IDIOT! Kim Jaejoong tidak idiot! Justru kau yang idiot! Bodoh keras kepala brengsek!"

"Mwoya?"

Yunho mendesis marah.

Ia layangkan pukulannya ke pipi Changmin.

Namun sebelum tangannya sampai, tiba-tiba ia meringis kesakitan.

Seperti ada yang menjambak rambutnya.

"Yunnie berhenti! Yunnie tidak boleh memukuli Minnie lagi! Lepas, lepas!"

Jaejoong menarik-narik rambut Yunho brutal, membuat si empunya kepala berteriak kesakitan.

"YAH! BERHENTI, SAKIT! YAH"

Yunho yang sedang 'disiksa' Jaejoong tanpa ampun mendorong tubuh mungil itu kasar hingga mundur kebelakang, kepala namja cantik itu bahkan terantuk kaki-kaki meja makan yang terbuat dari kayu yang cukup tebal.

"Ah"

"Joongie!"

"Hikss hiksss sakit Umma, hikss"

"HYUNG APA YANG KAU LAKUKAN!" teriak Changmin, ia mendorong tubuh Yunho yang berada di atasnya dan mendekati Jaejoong.

"Joongie kau tidak apa-apa?"

"Hikss gwaenchana Minnie eotte? Appo?"

"Aku tidak apa-apa meski ah-ah cukup sakit, jangan dipegang yang itu Joongie hsssshh"

"Hiksss Minnie~ah hueeeee HUEEEEEEEE"

Jung Umma membantu Jaejoong dan Changmin menuju ruang tamu agar bisa mengobati luka kedua puteranya. Sedang Yunho dibawa Jessica ke halaman belakang juga untuk diobati setelah dimarahi habis-habisan oleh Jung Appa.

"Oppa, kau keterlalulan"

"Argh! Dasar menyebalkan anak idiot itu, benar-benar menyusahkan!" geram Yunho sambil menghapus jejak darah di sudut bibirnya.

"Oppa~ya berhentilah memanggilnya seperti itu, dia itu punya nama"

"Kau ini kenapa sangat membelanya sih?"

"Oppa kau tidak mengerti, sebelumnya Oppa sangat menyu-"

Jessica menghentikan kalimatnya.

"Sebelumnya aku kenapa?"

"Se-sebelumnya Oppa mencin- ah sudahlah, luka Oppa harus diobati dulu"

Jung Umma mengobati kedua puteranya di ruang tamu.

"AW! Umma appo pelan-pelan ssshhh" ringis Changmin.

"Pabo! Kau ini sudah tahu kalau hyung-mu itu juara Hapkido sejak SMP masih saja berani memukulnya, aish Jung Changmin kepalamu jangan banyak bergerak Umma jadi susah mengobatinya!"

"Ck, aku tidak bisa membiarkan Yunho hyung bersikap kasar pada Joongie seperti itu Umma, hyung sudah keterlaluan!"

"Ne tapi kau tidak perlu memukulnya seperti itu, kau tahu kan Yunho sedang sakit"

"Ish tetap saja tidak bisa dibiarkan"

"Minnie~ah mianhe gara-gara Joongie, Minnie jadi terluka"

"Aku tidak apa-apa ini Joongie, keningmu bagaimana? Lebam begitu"

"Joongie tidak apa-apa"

Changmin tersenyum, ia mengacak rambut Jaejoong pelan.

'Aku akan melindungimu Joongie, tenanglah'

Ucap namja tiang itu dalam hati.

"AH AH UMMA SAKIT!"

"Cerewet, sudah diam kau mau lukanya cepat sembuh tidak?"

"Iya tapi pelan-pelan Ummaaa~"

"Aigooo kau ini, lihat Joongie bahkan tidak mengeluh sama sekali"

Si bungsu Jung mempoutkan bibirnya.

.

.

Sudah dua minggu Yunho masih juga belum menandakan bahwa ia mengingat Jaejoong. Ia justru semakin dekat dengan Jessica.

Jung Appa dan Jung Umma selalu mengontrol kesehatan Yunho baik itu terapi maupun dokter, namun tetap Yunho tidak menunjukan perubahan apapun, dia masih belum mengingat Jaejoong.

Perlakuan kasar Yunho pada Jaejoong pun semakin bertambah, terkadang Yunho mengatakan hal-hal yang membuat Jaejoong menangis, atau sikap dingin Yunho yang seringkali membuat Jaejoong bersedih.

Namun namja cantik itu kembali ceria saat Changmin, Yoochun, Kyuhyun bahkan Junsu yang sekarang semakin dekat dengannya, selalu berada disampingnya.

Seperti hari ini, Jaejoong diajak YooSuMinKyu ke taman bermain, melupakan sejenak beban di hatinya.

"Joongie kajja kita naik yang itu!" ajak Kyu semangat.

"Eh? Apa tidak berbahaya Kyunie? Itu tinggi sekali"

"Tenang saja itu aman kka, Min kau ikut tidak?"

"Andwe andwe aku disini saja"

"Kau takut eoh?" godanya sambil menyeringai.

" A-Ani aku hanya sedang tidak ingin naik, kau saja dengan Joongie"

"Yuchun~ah aku juga mau naik itu!"

"Jetcoster? Memang kau berani?"

"Ish muka mesum jangan remehkan aku. Sejak SMP aku sudah terbiasa naik yang seperti itu, kajja kita naik"

"Arraso Joongie Kyu kajja"

"Yahoooo lets gooo" pekik Kyu senang.

"Minnie benar tidak mau naik?"

"Hum pergilah"

"Arra, bye Minnie"

"Hei kami pergi dulu ne"

"YAK CHO KYUHYUN!"

Hampir seharian Jaejoong bermain di taman hiburan, raut wajahnya sudah kembali ceria, dilupakannya sejenak masalahnya dengan Yunho, hari itu Jaejoong bergembira dan tertawa.

Malam semakin larut, Yuchun mengantarkan Changmin dan Jaejoong kerumah Jung lalu mengantar Kyu pulang setelahnya baru ia mengantar Junsu.

"Yuchun~ah aku berhenti di halte itu saja"

"Wae? Rumahmu di Incheon kan masih cukup jauh darisini" Jawab Yuchun yang masih berkonsentrasi menyetir.

"Gwaenchana, aku bisa naik taksi"

"Aish kau ini, aku antar pulang saja ini sudah malam"

"Keunde-"

"Aku tidak suka dibantah Su"

Junsu diam.

Ia memandang Yuchun sejenak.

Meski jahil dan sedikit player, tapi namja di sisinya itu cukup tampan juga.

Lihatlah gaya rambutnya yang seperti jamur, mengingatkan Junsu pada Micky DBSK era Saipan.

Juga adams applenya yang terlihat menonjol.

Dan bibir tebalnya yang-

Ah mendadak wajah namja chubee itu merona.

"Yah kenapa kau diam?"

"A-ani"

Yuchun terkekeh.

Junsu sangat menarik aniya?

"Kau tahu Su, aku punya sebuah julukan untukmu"

"Jangan lagi bilang aku pantat bebek tuan Park"

"Ahahaha ani ani tentu saja bukan, kau mau tahu apa julukan-ku padamu?"

"Apa?"

"Guardian Angel"

"Hum? Maksudmu malaikat penjaga?"

"Yap, kau malaikat Su, kau selalu ada dimana Joongie sangat membutuhkanmu, kau bahkan muncul saat aku membutuhkan seorang teman"

"Hehe itu hanya kebetulan saja"

"Kebetulan? Aku pikir tidak, kau tahu di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan, semuanya sudah diatur Tuhan dan aku yakin pertemuan-mu dengan Joongie adalah peraturan Tuhan agar kau bertemu dengan-ku"

Junsu kembali diam.

Ia bingung harus berkata apa.

Kalimat Yuchun barusan mendebarkan hatinya.

"Aku senang saat dekat denganmu"

Junsu memainkan kedua tangannya diatas paha.

Sungguh ia gugup sekarang.

"Aku senang saat melihatmu tertawa"

Salivanya terasa berat ditelan.

"Aku juga senang mendengar suara tawa-mu yang menurutku sangat lucu dan unik"

Mendadak suasana sedikit panas di dalam mobil ber-AC itu.

"Aku ingin lebih dekat denganmu Su, apa bo-"

"Turunkan aku disana Yuchun~ah"

Mendadak Junsu membuka suara.

Sebuah kalimat yang sebenarnya tidak ingin Yuchun dengar.

"Eh tapi"

"Turunkan aku!"

Yuchun melihat Junsu sejenak.

Ia lalu meminggirkan mobilnya dan berhenti di sebuah halte.

Pintu mobil Yuchun hampir dibuka Junsu sebelum namja penyuka sandal jepit itu menahan tangan-nya.

"Su tunggu"

"Aku tidak suka dipermainkan Yuchun~shi"

"Eh? Aku tidak-"

"Kau sama saja seperti mereka, berpura-pura baik padaku, menjadi teman lalu menyatakan suka padaku, lalu kau akan mengajaku ke tempat tidur, begitu?"

"Su aku-"

"Maaf, meski aku bukan orang kaya seperti mu tapi aku masih punya harga diri Park~shi, terima kasih sudah mengajaku jalan-jalan hari ini, permisi"

CKLEK

BRUK

"Su, Junsu Junsu~ya"

Yuchun hanya memanggil Junsu tanpa berniat mengejarnya.

Ia tidak ingin namja manis itu takut padanya.

"Bagaimana aku harus meyakinkanmu Su?"

Porsche hitam Yuchun menghilang menembus malam.

Menyisakan namja tampan yang tengah menyetir dengan beribu pertanyaan di hatinya.

.

.

"Yunnie lihat Joongie dapat nilai 100 dari Choi saenim, kata Choi saenim Joongie sudah pintar berhitung sekarang"

"Hum" jawab Yunho malas yang masih tetap menatap layar tabletnya.

"Yunniiieee lihat dulu hasil berhitung Joongie, semuanya benar Joongie mendapat nilai sempurna Yunnie"

Yunho menoleh.

Menatap doe indah itu tajam.

"Kau bisa diam tidak? Kepalaku sakit mendengar ocehan-mu"

Wajah ceria itu berganti sendu.

"M-mianhe Yunnie, Joongie cuman-"

"Argh menyebalkan!"

Yunho beranjak dari sofanya meninggalkan Jaejoong yang masih termenung sedih.

"Joooonggie, aku boleh lihat?"

Tanya Changmin menghampiri namja cantik itu.

Ia sempat mengintip apa yang Yunho lakukan barusan.

Mencoba menghibur Jaejoong dari ulah kakaknya tadi.

"Whoaaa, kau mendapat nilai sempurna Joongie? Ini bagus sekali, kau sudah banyak kemajuan Joongie~~ah"

"Jeongmal? Joongie sudah pintar ne?"

"Neee kau memang pintar Jaejoongie" ucap si jangkung sambil mengacak surai hitam Jaejoong gemas.

JaeMin nampak sibuk tertawa bersama di ruang keluarga.

Membuat Yunho sedikit terganggu.

Ia memilih teras depan untuk 'mengasingkan' diri.

Jika kalian bertanya apa Yunho membenci Jaejoong?

Jawabannya ia sendiri juga tidak tahu.

Entahlah dia tidak membenci Jaejoong, hanya saja ia merasa terganggu dengan kehadiran namja Kim itu.

Dia selalu merasa di ikuti oleh Jaejoong, Yunho tidak menyukai semua yang ada di diri namja cantik yang menurutnya aneh.

Saat sedang asik bermain dengan tabletnya, Yunho melihat Porsche hitam metalik masuk ke pekarangan rumahnya. Dilihatnya sepasang wanita dan pria separuh baya turun dari mobil mewah itu menghampiri Yunho.

"Anyeong haseyo, mianhe apa benar ini rumah Jung Ji Hoon?"

"Ne, nuguseo?"

"Ah perkenalkan saya Jin Akanishi dan ini istri saya Lee Yeon Hee, kami orang tua dari Jin Yihan"

Yunho mengerungkan alisnya bingung.

Ia seperti pernah mengenal nama itu.

"Ne ada perlu apa?"

"Maaf anda?" tanya yeoja cantik itu.

"Yunho, aku Jung Yunho anak dari Jung Ji Hoon"

"Omo jadi anda yang bernama Jung Yunho? Bagaimana kabar anda? Saya dengar dari anak saya anda sedang sakit"

"Aku baik-baik saja"

"Ah syukurlah"

"Sebenarnya ada urusan apa kalian kesini?"

"Ah begini, kami ingin bertemu dengan Jaejoong, apa benar dia tinggal disini?"

"Maksud anda Kim Jaejoong?"

"Nde, apa kami boleh bertemu dengannya? Sudah lama sekali kami tidak bertemu dengan Joongie"

"Silahkan masuk, dia ada di dalam"

Yunho membawa pasangan berbeda kewarganegaraan itu masuk.

"Umma Appa ada tamu"

"Nugu?"

"Molla, mereka bilang orang tua dari Jin Yihan"

"Yihan? Ah Umma ingat, dia namja temannya Joongie itu kan?"

"Hm mungkin"

"Ada perlu apa orang tuanya kesini?"

"Mereka ingin bertemu anak itu Appa"

"Anak itu?"

"Jaejoong"

Jung Umma mendelik.

Sungguh ia tidak suka panggilan Yunho untuk Jaejoong.

"Anak itu punya nama Yunho, dan namanya Kim Jaejoong"

"Ne ne ne" jawab Yunho malas.

Selain melupakan Jaejoong.

Sifat Yunho juga berubah drastis.

Jung Umma bahkan harus mengusap dada tiap melihat kelakuan putera bungsu-nya itu.

Ji Hoon dan Tae Hee menuju ruang tamu untuk menyambut keluarga dari Yihan.

Setelah saling mengakrabkan diri dan keluarga Jin mengutarakan keinginan mereka untuk bertemu Jaejoong. Jung Umma segera memanggil putera cantiknya yang nampak asik bergelung dengan hewan peliharaannya di taman belakang.

Jaejoong terkejut senang melihat pasangan suami istri tersebut.

Sudah lama tidak bertemu membuat Jaejoong rindu pada orang tua sahabatnya itu.

"Omo Lee ahjumma"

"Joongie? Jaejoongie?"

Jaejoong menghampiri Yeon Hee, ibu dari Yihan dan memeluknya.

"Ahjuma, ahjumma kemana saja? Joongie rindu"

"Aigoooo Joongie kecil ahjumma masih manja eoh? Mianhe ne ahjumma dan ahjussi baru sempat menjenguk Joongie karena kami baru tiba dari Jepang seminggu yang lalu"

"Nde, saat ahjussi ke panti mereka bilang sudah ditutup dan akan dibangun villa, saat itu kami bingung harus mencari Joongie dimana, tapi untung saja Yihan bertemu dengan Joongie di Hyundai waktu itu"

"Joongie sayang bagaimana kabarmu hum? Ahjumma rindu sekali"

"Hikss Joongie juga rindu ahjumma"

"Hei kenapa menangis eoh? Kka jangan menangis, anak lelaki tidak boleh menangis"

"Hiksss hiksss"

Jaejoong masih terus terisak.

Ia memang rindu pada pasangan suami istri itu, karena selama Jaejoong di panti keduanya selalu menjenguk Jaejoong. Jaejoong bahkan sudah menganggap mereka sudah seperti orang tuanya.

Ji Hoon dan Tae Hee meninggalkan Jaejoong dan keluarga Jin untuk saling melepas rindu. Sesekali Tae Hee melirik keakraban mereka, ada rasa khawatir dan cemas saat melihat Jaejoong bersama keluarga Jin.

Tak jauh darisana.

Changmin juga melihat Jaejoong begitu bahagia dengan pasangan suami-istri yang masih nampak muda itu. Sama seperti Umma-nya, ia juga memiliki perasaan tidak nyaman saat melihat Jaejoong bersama orang tua Yihan.

"Yah, sedang apa kau disini?" tegur Yunho.

"Hyung sendiri sedang apa?"

"Aku mau ambil minum, minggir"

Changmin menggeser tubuhnya agar kakaknya itu bisa masuk ke dapur.

"Ish dasar tukang intip, tidak sopan Min~ah"

"Hyung, aku tidak menyukai keluarga Jin, mereka seperti akan mengambil Joongie"

"Benarkah? Kalau begitu bagus, kalau anak itu pergi hidupku bisa tenang"

"YAH HYUNG!"

"Wae?"

"Aish, aku sedang tidak ingin bertengkar! Lihat saja nanti kalau ingatan hyung sudah kembali dan ternyata Joongie benar pergi dengan mereka, hyung jangan mencari Joongie dan mengharap dia kembali"

"Mwo merindukan anak itu? Never Jung Changmin"

"Baik, pegang janji hyung. Ingat hyung, penyesalan selalu datang terlambat dan saat itu tiba aku tidak mau mendengar keluhan penyesalan dari mulut hyung"

Ucap Changmin panjang lebar sambil berlalu meninggalkan Yunho.

Si tampan Jung hanya menggedikan bahunya malas menanggapi sang adik.

Tapi tak berapa lama, ia merasa dadanya berdenyut tak nyaman.

Entahlah, perkataan Changmin barusan sedikit mengganggunya.

.

.

Seminggu setelah kedatangan Akanishi dan Yeon Hee, membuat Jaejoong terus menempel pada keluarga yang sekarang menetap di Jepang itu. Tak lupa juga sang anak, Jin Yihan yang terlihat semakin intens berkunjung.

Begitupun Jessica dan Yunho.

Keduanya semakin dekat saja.

Meski sekarang, Yunho-lah yang mendekati Jessica.

"Kau kedinginan?" tanya Yunho.

Keduanya berada di halaman belakang sekarang.

"Aniya Oppa hanya sedikit sejuk"

"Tunggu sebentar, akan kuambilkan jaket"

"Tidak perlu Oppa"

"Ck jangan membantah, wajahmu sudah pucat begitu. Tunggu disini"

Yunho berlalu ke kamarnya.

Meninggalkan Jessica seorang diri di taman belakang.

Udara di bulan November memang susah di kompromi, padahal yeoja cantik itu sudah mengenakan baju tebal dipadu dengan long blazer.

"Minnie~ah, Changminnie eoddieso?"

"Jaejoongie"

"Jessie noona? Anyeong"

"Anyeong, kau sedang apa hum?"

"Bermain petak umpet, noona lihat Minnie?"

"Ani, sejak pertama datang noona belum melihatnya"

"Ah begitu, arra Joongie cari Minnie dulu neeee bye noona"

Saat akan mencari Changmin, pandangan mata Jaejoong melihat bando berbentuk mahkota berwarna pink di rambut Jessica. Kedua bola matanya berkedip lucu.

"Whoaaaa yeppo, noona bando-nya beli dimana?"

"Eeh? Ah ini, aku beli di Paris saat pemotretan disana, wae baguskah?"

"Uhm! Bagus sekali noona"

Jessica terkekeh.

Ia mencopot bando-nya dan memberikannya pada Jaejoong.

"Kka Joongie mau coba?"

"Eoh? Bolehkah"

"Tentu, Joongie pasti akan terlihat manis memakai bando ini. Sini noona pakaikan"

Jessica merapihkan rambut Jaejoong yang memang sedikit lebih panjang dari namja umumnya. Ia lalu memakaikan bando mahkota itu dan menatap Jaejoong takjub.

Bagaimana mungkin seorang laki-laki bisa begitu cantik dengan bando yang seharusnya dipakai wanita? Jessica bahkan mengakui bahwa kecantikan namja Kim itu melebihi yeoja manapun. Pantas dulu Yunho begitu tergila-gila.

"Jja selesai, kyaaaaa cocok sekali untukmu Joongie, yeppo"

"Ish Joongie keren noona"

"Ahahaha kau ini tidak mau mengakui dirimu cantik eoh? Arraso baiklah Joongie keren sekarang kau bergaya seperti foto model, aku akan mengambil gambarmu"

"Eeh? Tapi Joongie bukan foto model noona"

"Aish pura-pura saja, kka hana dul set bergaya Joongie seperti ini"

Jessica mencontohkan gaya bak super model pada Jaejoong.

Sungguh, Jaejoong benar-benar menggemaskan dengan bando mahkota itu.

"Seperti ini noona?"

"Ndee begitu, aku foto yaaa"

Jika ada yang bertanya ada apa dengan Jessica yang mendadak baik?

Ok, dia merasa bersalah karena hampir menghilangkan nyawa namja cantik itu.

Namun setelah lama mengenal Jaejoong dia kini menyayangi Jaejoong seperti adiknya sendiri, rasa bersalah itu berubah menjadi rasa sayang. Ia berharap permasalahan kemarin tidak lagi di ungkap dan tidak ada yang mengetahuinya, karena sungguh ia sudah menerima Jaejoong sekarang.

Dan kalaupun Yunho meninggalkannya demi Jaejoong, ia rela.

Bukan karena rasa bersalahnya, melainkan rasa sayangnya pada namja Kim itu.

"Noona sudah ne, Joongie capek"

"Hihihi neeee, nanti fotonya noona cetak ok?"

"Uhm! Gomawo noona sudah memijamkan bando-nya" sahut Jaejoong sambil membungkuk.

"Kau suka bando ini Joongie?"

"Euunngg neee"

"Kalau begitu bando ini untuk Joongie saja"

"Eeeh? andwe andwe tidak boleh noona, bando ini terlalu bagus, Joongie tidak bisa menerimanya"

"Waeeee? Joongie kan suka bando ini, dan lagi Joongie lebih pantas memakai ini daripada aku, anggap saja hadiah"

"Hadiah lagi? Noona sudah banyak memberikan hadiah buat Joongie"

Jessica tersenyum lembut.

"Anggap saja ini hadiah pertemanan, bagaimana? Joongie mau berteman dengan noona?"

"Uhm! Tentu saja! Ehehe teman Joongie banyak sekarang, gomawo noonaaaa" pekiknya senang sambil memeluk yeoja blondie itu.

"Ne jadi Joongie mau menerima bando ini kan?"

"Euuunngg itu-"

"Mau kaaaann?"

"Hum, Joongie mau gomawo ne noona"

Gadis cantik itu tertawa senang.

Ia kembali merapihkan rambut Jaejoong dan menyiapkan ponselnya untuk kembali memotret si cantik Kim.

"Kalau begitu kita foto lagi, sekarang Joongie bergaya ne"

"Aish lagi noona?"

"Ndeeee kajja kajja, pose yang imut Joongie"

"Begini?"

"Kyaaaaaaa Joongie cantik! Ne ne begitu"

Dalam sekejap suasana -memotret-Jaejoong- menjadi meriah.

Keduanya tertawa bersama, terlihat benar seperti kakak perempuan dan adik perempuannya yang lucu dan cantik.

"Ehem-"

Deheman Yunho menginterupsi acara porter-memotret-Jaejoong.

"Ah Oppa, kau sudah kembali" ucap Jessica sedikit tidak rela kegiatannya bersama Jaejoong diganggu.

"Kalian sedang apa? Jess pakai ini" sahut Yunho sambil mengalungkan jaket itu di pundak si blondie.

Jessica melirik Jaejoong yang terus saja memperhatikan gerak-gerik Yunho.

Tentu hal itu membuat Jessica tidak nyaman.

"Ah gomawo Oppa, keunde aku tidak merasa kedinginan, sepertinya Joongie lebih membutuhkannya, lihat saja wajahnya memerah begitu"

Yunho mengikuti arah pandang Jessica.

Ia menatap acuh Jaejoong yang memang benar wajahnya memerah karena dingin.

"Joongie, ini pakai jaketnya kau hanya memakai kaos saja pasti dingin aniya?" Jessica mengalungkan jaket tebal milik Yunho di pundak Jaejoong.

"Yah Sicca, kenapa kau memberikan jaket itu padanya? Aku membawakannya untukmu"

"Oppa tidak apa-apa Joongie lebih membutuhkannya"

"Tapi kau kan juga kedingingan! Yah berikan jaket itu dan, astaga apa yang kau pakai? Kenapa kau memakai bando Jessica?"

"Eung i-itu"

"Lepas jaketnya dan kembalikan bando Sicca, ppali!"

"T-Tapi bando-nya sudah diberikan untuk Joongie"

"M-mwo? Diberikan? Ya Tuhan Kim Jaejoong, kau itu laki-laki! Dan kau tidak malu memakai bando wanita huh?"

"Oppa sudah jangan memarahi Joongie, aku yang memberikannya lagipula uri Joongie sangat manis memakai bando itu"

"Tidak bisa! Bukankah kau juga suka bando itu? Kau bilang bando itu salah satu barang kesayanganmu, kau bahkan berebut dengan anak kecil di Paris hanya untuk mendapatkan bando itu"

Jessica tertegun.

Yunho mengingat ceritanya tentang bando itu?

Hatinya mendadak hangat.

Bukankah dulu Yunho sangat tidak peduli padanya?

Tapi sekarang Yunho justru ingat setiap detail perkataannya.

"Aish lepaskan bando itu bodoh!"

"Shiruh! Joongie suka bando ini, dan lagi noona sudah memberikannya untuk Joongie"

"Oppa sudah-"

"Jess kau diamlah, YAH! Lepaskan bando itu aish kau ini pabo atau apa? Tidak mengerti ucapanku eoh?"

"Hiksss ini bando Joongie sekarang hiksss"

"Aish jinjja! Kau keras kepala Kim Jaejoong!"

Yunho menarik paksa bando mahkota Jessica dari rambut Jaejoong, tapi Jaejoong tetap tidak mau melepaskannya.

"Lepaskan! Lepas"

"Shiruh, ini bando Joongie ini punya Joongie! Yunnie jahat hiksss"

"Lepaskan idiot!"

"Oppa sudahlah berikan saja untuk Joongie"

Jessica mencoba menenangkan Yunho, tapi keningnya justru terkena sikut Jaejoong yang tengah sibuk menahan bando itu dikepalanya. Membuat gadis cantik itu tersungkur ke belakang.

"Ah"

Yunho yang melihat Jessica terjatuh membuatnya semakin emosi.

"YAH KENAPA KAU MENDORONG SICCA!"

"N-noona noona tidak apa-apa? Mianhe J-Joongie tidak sengaja"

"Jess gwaenchana?"

"Ne Oppa a-aku tidak apa-apa hanya ah sedikit pusing"

"Semua ini salah-mu anak idiot!"

"Oppa cukup! Berhenti menyalahkan Joongie, semua ini salahku karena tidak hati-hati dan lagi aku tidak apa-apa" kesal Jessica.

Dengan mata yang sudah sembab, Jaejoong mencopot bando mahkota Jessica dan memberikannya pada gadis itu.

"Jessie noona, bando-nya Joongie kembalikan. Benar kata Yunnie, Joongie namja jadi Joongie tidak boleh memakainya, mianhe noona sudah membuat noona terluka"

Jaejoong membungkuk masuk kedalam rumah sambil tertunduk sedih air matanya seolah tidak bisa dihentikan. Sejak kedatangannya kerumah Jung, Yunho memang sedikit cuek tapi tidak pernah sekalipun namja tampan itu berlaku kasar padanya seperti hari ini.

Sampai kapankah ini akan berakhir?

Sanggupkah ia terus menerus digempur perlakuan kasar Yunho?

Ia hanya bisa berdoa, semoga Yunho bisa kembali seperti Yunho yang ia kenal.

.

.

.

Senin pagi, seperti biasa kesibukan dirumah keluaga Jung seperti tidak pernah usai. Jaejoong tengah mempersiapkan buku-buku sekolahnya, ia masih tetap menjalani home schooling dirumah.

Changmin bersiap untuk ujian kelulusannya

"Umma Min berangkat, doakan neee"

"Hum, anak Umma pasti bisa fighting!"

"Fighting! Appa ingat janji Appa neee, kalau aku berhasil mendapat peringakat satu di ujian kelulusan Appa akan membelikanku X-Box One"

"Arraso, berjuanglah anak Appa jenius aniya?"

"Hehehe tentu, siap-siap saja uang Appa berkurang. Joongie aku pergi neee" kekehnya.

"Uhm! Bye Minnie fighting neee"

"Neeeee"

Selesai sarapan Yunho memilih masuk keruang kerja Jung Appa untuk berkonsentrasi pada skripsinya yang memasuki bab akhir.

"Umma Joongie memandikan Jijji dulu ne, nanti kalau Choi saenim sudah datang beritahu Joongie"

"Arraso baby" ucap Tae Hee sambil mencubit gemas pipi chubby Jaejoong.

Waktu terus berjalan.

Hari semakin siang, Jaejoong sudah berada didalam kelasnya.

Jung Umma yang nampak asik menata tanaman menatap sebuah mobil yang ia sudah kenal memasuki halaman rumahnya.

Porsche hitam metalik milik keluarga Jin.

Wanita yang sudah berumur namun masih terlihat cantik itu nampak keluar dari mobilnya. Ia tersenyum ramah pada Tae Hee yang langsung datang menyambutnya.

"Anyeong Nyonya Jung"

"Anyeong Nyonya Jin, kau sendiri? Dimana Akanishi~sama?"

"Ah dia sedang mengerjakan sesuatu, anda tahu bagaimana laki-laki? Tidak pernah berhenti bekerja meski sedang libur sekalipun"

"Ahahaha ne ne anda benar Nyonya Jin"

"Ah apakah anda sedang berkebun? Pantas saja tanaman-tanaman ini begitu cantik anda begitu rajin merawatnya Nyonya Jung"

Keduanya saling berbincang dalam keakaraban.

Kedua yeoja cantik itu kini duduk di tengah hamparan bunga-bunga milik Tae Hee.

Menyesapi teh di pagi menuju siang hari.

"Nyonya Jung, sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan dengan anda"

"Hm? Mengenai apa Nyonya Jin?" ucapnya sambil menaruh cangkir tehnya di meja.

"Ini mengenai Joongie"

Kalimat dari istri Jin Akanishi itu menghentikan gerakan tangannya pada piring kecil dari cangkir teh miliknya. Perasaannya mulai tak nyaman sekarang.

"Nyonya Jung, anda mungkin sudah tahu bahwa Jaejoongie sangat dekat dengan keluarga kami"

Tae Hee diam, ia mencerna semua perkataan Yeon Hee.

"Ia juga sudah seperti keluarga kami sendiri, Yihan bahkan pernah menyatakan rasa sukanya pada Joongie dan- yah kami tidak pernah keberatan tentang hal itu"

Nyonya Jung yang cantik itu semakin gelisah sekarang.

"Nyonga Jung, mohon maafkan perkataanku jika ini membuat anda tidak merasa nyaman keunde aku-aku ingin mengadopsi Joongie dan membawanya ke Jepang bersama kami"

Yeon Hee menatap lekat mata Tae Hee yang kini memancarkan kesedihan.

"Kami tahu bahwa keluarga anda sangat menyayangi Joongie, kami sangat berterima kasih anda sudah merawat Joongie begitu baik dan menganggapnya sebagai bagian dari keluarga Jung, tapi-"

"Aku tidak akan menyerahkan puteraku, Jaejoong anaku, dia bukan lagi anak dari panti asuhan dia adik dari Yunho dan kakak bagi Changmin, jadi sepertinya aku tidak perlu lagi menjelaskan posisi Kim Jaejoong dirumah ini"

"Nyonya Jung aku-"

"Mianhe Nyonya Jin, tapi aku akan tetap mempertahankan Jaejoong meski anda memaksa atau bahkan membawa masalah ini ke ranah hukum, Jaejoong adalah anaku dan aku sangat menyayanginya"

"Nyonya Jung mohon jangan salah sangka padaku, aku sangat menyayanginya bahkan sejak dulu aku sudah ingin mengangkatnya sebagai anak"

"Lalu kenapa tidak anda lakukan? Mengambil sesuatu milik orang lain yang sudah dirawat, dijaga dengan cinta dan kasih sayang, apakah anda tidak merasa bahwa itu sangat keterlaluan?"

Yeon Hee menatap Tae Hee.

Ia tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan istri dari Jung Ji Hoon itu.

Ia hanya mengutarakan niatnya untuk membawa Jaejoong ke Jepang bersamanya.

Menjadi bagian dari keluarganya.

"Jika anda menyayangi Joongie kami silahkan berkunjunglah kesini sesering yang anda inginkan tapi saya tidak akan membiarkan anda membawanya, maaf saya masih banyak kerjaan yang harus saya selesaikan, permisi"

Tae Hee berdiri meninggalkan Yeon Hee yang juga berdiri dan sedikit membungkuk pada Nyonya besar Jung itu. Ia tidak ingin hubungan dengan keluarga Jung menjadi rusak karena niatnya barusan, tapi sungguh ia benar-benar ingin membawa Jaejoong bersamanya.

Saat kedua wanita cantik itu berbincang, mereka tidak menyadari sesuatu.

Putera pertama Jung berada tak jauh darisana, mendengarkan dengan seksama tiap perkataan detil yang terucap dari bibir keduanya.

Tak lama ia menyeringai.

Sebuah seringaian yang sulit untuk dimengerti maksudnya.

.

.

.

TOK TOK TOK

"Yunnie makan malam sudah siap"

CKLEK

"Aku sibuk, bisa kau bawakan makan malamnya ke kamarku?"

Jaejoong mengedipkan kedua matanya lucu.

"Yunnie mau makan di kamar?"

"Hum, aku masih harus mengerjakan skripsi"

Namja cantik itu mengangguk.

"Arraso, Joongie akan bawakan makan malam Yunnie chakkaman"

Ia berlari kecil menuju ruang makan.

Hatinya merasa gembira, ini pertama kalinya Yunho tidak berkata kasar sejak namja Jung itu kehilangan ingatan akan dirinya.

"Umma, Yunnie bilang mau makan dikamar"

"Eoh? Waeo? Apa Yunnie sakit?"

"Ani, Yunnie mau mengerjakan se-sekrip-sepriksi-se-"

"Skirpsi sayang"

"Ah nde itu hehehe"

"Arraso, Joongie bawakan makan malam Yunnie ke kamar ne"

"Uhm! Joongie yang bawa Umma"

Jung Umma mengambil piring, menuangkan nasi dengan beberapa lauk pauk beserta segelas air putih untuk Yunho. Dan Jaejoong membawa nampannya dengan hati-hati. Senyum seakan tak lepas dari bibirnya.

"Yunnie ini makan malamnya" ucap Jaejoong dari luar kamar Yunho.

CKLEK

Si tampan Jung membuka pintunya lebar agar memudahkan Jaejoong untuk masuk.

SRAK

Jaejoong menaruh nampan itu di nakas samping ranjang Yunho.

Ia berniat untuk kembali keruang makan, tapi Yunho menahan lengannya.

Doe indah itu menatap kebawah dimana tangan besar Yunho bertengger di lengan mungilnya.

"Eh?"

"Temani aku makan"

Jaejoong mendongakan kepalanya.

Menatap wajah kecil Yunho yang nampak serius.

"T-Tapi"

"Kau tidak mau menemaniku makan?"

"A-ani tapi nanti Yunnie tidak bisa makan kalau ada Joongie disini"

"Aku masih harus mengetik sisa skripsi-ku tapi aku juga lapar, bisa kau suapi aku?"

"Eeh?"

"Kalau kau tidak mau ya sudah"

"ANI J-Joongie mau"

Bibir kecil itu terangakat keatas.

Menyunggingkan sebuah senyum yang sudah lama tidak Jaejoong lihat.

Hatinya kembali berdebar hangat, sebuah perasaan yang selama beberapa hari ini tidak ia rasakan.

Yunho duduk di meja belajarnya dan kembali berkutat pada laptop.

Dan Jaejoong duduk disamping Yunho memegang sebuah piring.

Ia bersiap untuk menyuapi putera pertama keluarga Jung itu.

"Aku tidak suka wortel, singkirkan itu"

"Tapi wortel bagus untuk mata Yunnie"

"Ck, kubilang tidak suka ya tidak suka"

Jaejoong mempoutkan bibirnya.

"Arraso"

Jaejoong begitu telaten menyuapi Yunho.

Hatinya senang bukan main melihat sikap lembut Yunho yang ia pikir telah kembali. Padahal ia juga merasa lapar, tapi ini kesempatan langka yang tidak boleh dilewatkan begitu saja kan?

Hingga tak terasa semua makanan di piring itu habis.

"Yunnie mau tambah?"

"Tidak, aku sudah kenyang"

"Nde kalau begitu Joongie bawa piring ini keluar dulu"

Jaejoong mengangkat tubuhnya dari kursi tapi Yunho menariknya untuk kembali duduk.

Kedua mata mereka saling berhadapan.

Jaejoong sangat gugup, jantungnya bergetar tak beraturan.

"Apa kau menyayangiku?" tanya Yunho dengan tatapan intensnya.

"Hum" angguk si cantik Kim.

"Kau mau aku bisa segera sembuh?"

"Hum"

"Dan- apa kau mau menuruti semua perkataan ku?"

"Hum"

"Bagus, kalau begitu dengarkan aku. Kau tahu kan kalau aku menyukai Jessica? And yeah aku tidak tahu kenapa aku sulit sekali mendekatinya, dan mungkin itu karena kau"

"Eoh? Karena Joongie?"

"Hum, aku yakin ada sesuatu diantara kita dulu dan itu membuat Sicca tidak enak denganmu, tapi masa lalu biarlah jadi masa lalu karena aku yang sekarang adalah aku yang ingin menatap lurus kedepan"

Kedua mata Jaejoong berkedip tidak mengerti.

Dan Yunho tahu itu, ia menghela napasnya.

"Jaejoongie, kudengar orang tua Yihan ingin membawamu ke Jepang, ikutlah dengan mereka, mereka juga sangat menyayangimu"

Jaejoong merasakan tubuhnya membeku.

Merasa bahwa aliran darahnya berhenti.

Kakinya dirasa sangat lemas, hatinya sakit.

"Y-Yunnie mau Joongie pergi? Wae? Apa Joongie sangat mengganggu?" tanyanya sambil mencengkram jeansnya erat.

"Bagaimana kalau aku bilang iya? Aku- entahlah aku tidak merasa nyaman dengan kau ada di sisiku, bisakah kau mengerti?"

Air bening itu turun perlahan tanpa dikomando.

Jaejoong menangis tanpa suara, hatinya bahkan sudah tidak bisa dijelaskan lagi bagaimana perasaannya saat ini.

"A-Apa Yunnie membenci Joongie?"

"Aku tidak membencimu, hanya saja aku tidak menyukaimu, dan lagi kemungkinan aku akan menikah dengan Jessica karena setelah lulus aku akan segera melamarnya"

DEG

Perasaan itu berdebar lagi, namun kali ini debaran yang menyakiti hatinya.

Dan Jaejoong tidak suka itu.

CKLEK

"Jung Yunho"

BUAGH!

Kembali si sulung Jung masuk kedalam kamar Yunho.

Ia memang khawatir saat Yunho menyuruh Jaejoong membawakan makanan ke kamar, ia curiga kakaknya itu akan menyakiti Jaejoong lagi dan itu terbukti benar.

Ia memukul Yunho yang tidak menyadari keberadaannya.

"HYUNG! Kenapa kau senang sekali menyakiti Joongie? Aku sudah memperingatkanmu sekali apa itu belum cukup hyung?!"

"Kau jangan ikut campur Min, ini urusanku dengan Jaejoong!" desis Yunho tajam.

"Ini akan menjadi urusanku jika itu berhubungan dengan Joongie"

Yunho dan Changmin saling menebar deathglare.

Suatu sikap yang tidak pernah kakak beradik ini lakukan sebelumnya.

Jaejoong yang masih sakit dengan perkataan Yunho lebih memilih keluar dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.

"Kenapa semua orang menyayangi anak idiot itu? Kenapa semua menyalahkan aku dan berpikir bahwa aku menyakitinya? Aku membencinya! Aku tidak menyukai semua yang ada didalam dirinya, apa itu salah? HAH?"

"Ne, semua itu salah hyung! Tidak akan salah jika kau tidak mencintai Jaejoongie sebelum kau kehilangan ingatanmu"

"M-mwo? Men-mencintai? Aku-aku mencintai namja idiot itu?" Yunho terkekeh meremehkan "Yah Jung Changmin, aku rasa kau harus ikut aku ke psikiater besok, ada masalah dengan otakmu"

"Aku lebih baik bermasalah dengan otak daripada dengan hati, tidak seperti hyung yang sepertinya bermasalah dengan keduanya"

"Brengsek kau Jung!"

"Kenapa? Apa kau mau memukulku lagi? Oh yeah itulah yang kau lakukan sejak tiba dirumah, selalu bermain kasar! Aku membencimu hyung, aku benci dengan perubahan sikapmu seperti ini"

"JUNG CHANGMIN!"

"Aku selalu menganggapmu sebagai panutanku, aku berpikir apakah aku bisa sepertimu, tapi tidak itu adalah the old Jung Yunho karena the new Jung Yunho membuatku tidak bisa mengenali kakaku sendiri"

"KAU- Arrghhh!"

Tiba-tiba Yunho merasakan sakit di kepalanya.

Ia memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri dan ngilu sekaligus.

Pandangannya mengabur, ia hanya bisa mendengar suara khawatir Changmin yang terus memanggilnya.

Dan tak lama, semuanya dirasa gelap.

*DI KAMAR JAEJOONG*

Jaejoong menangis, ia duduk di pinggiran jendela sambil memeluk lututnya.

Kebiasaan yang ia lakukan saat ia bersedih.

Kepalanya ia benamkan di kedua lututnya, kedua bahunya bergetar naik turun, ia sakit, bukan fisiknya tapi hatinya.

"Yunnie~ah hiksss"

"Joongie?"

Jaejoong mendongak ketika mendengar ada yang memanggilnya.

"Sus-suster kepala?"

"Joongie~ah"

"Suster kepala hiksss" Jaejoong berlari kecil menuju sosok yang ia rindukan, Suster kepala Go Ahra. Meski sosok itu jika dilihat dengan benar tampak berkabut.

"Joongie~ah gwaenchana, menangislah Joongie~ah suster ada disini"

"Hiksss suster kepala hiksss Yunnie-Yunnie mau Joongie pergi, Yunnie membenci Joongie hiksss"

"Sayang, Yunnie kan sedang sakit apa Joongie lupa?"

Seolah tidak mendengar perkataan Suster Go, Jaejoong terus saja menangis, ia ingin berhenti namun hatinya masih tidak mengijinkannya.

"Joongie sayang, dengarkan suster ne"

Jaejoong mendongak.

Wajahnya memerah, matanya sedikit membengkak.

Tapi tidak kehilangan aura kecantikan yang terpancar.

"Joongie harus sabar, Joongie harus bisa menghadapi semua cobaan yang Tuhan berikan, suster tahu Joongie adalah anak yang kuat, semua kesedihan dan air mata ini akan berganti dengan kebahagiaan yang tidak pernah Joongie bayangkan sayang, bersabarlah sedikit lagi hm?"

"Hiksss Joongie hiksss Joongie sakit suster kepala, hiksss disini sakit sekali" Jaejoong menunjuk dadanya sendiri.

"Arrayo, tapi kesakitan itu akan berubah menjadi obat saat Joongie tahu bahwa semua masalah ini akan berlalu, Tuhan menyayangi Joongie karena itu ia memberikan cobaan ini untuk menguji seberapa kuat cinta Joongie untuk Yunnie"

"Hikss cinta?"

"Hum, cinta. Sebuah perasaan hangat dan menggembirakan yang tumbuh di setiap hati manusia, dan Joongie sudah jatuh cinta pada Yunnie"

"Joongie mencintai Yunnie? Hiksss apa Yunnie juga mencintai Joongie?"

Suster kepala Go mengangguk.

Ia mengelus puncak kepala Jaejoong lembut.

"Bersabarlah sayang, semua ini akan segera berakhir"

Wajah penuh kasih itu perlahan menghilang.

TOK TOK TOK

"Joongie, Jaejoongie kau didalam?"

TOK TOK TOK

"Jaejoongie"

TOK TOK TOK

Jaejoong mendadak terbangun.

Ia melihat sekeliling, tidak didapatinya suster kepala Go disana.

Apa ia bermimpi?

TOK TOK TOK

"Jaejoongie"

Namja cantik itu berlari kecil untuk membuka pintu.

"Minnie?"

"Joongie, Yunho hyung pingsan!"

"Yu-Yunnie pingsan?"

"Umma sudah memanggil dokter, kajja kita ke-kamar hyung" Changmin menarik tangan Jaejoong.

Jaejoong terburu-buru masuk kedalam kamar Yunho, dilihatnya Jung Appa dan Jung Umma sudah berada disana. Jung Umma bahkan sudah terlihat menangis.

"Yunho bangun sayang, ada apa denganmu nak Yunho~ya"

"Min, kau jaga kakakmu Umma dan Appa akan menjemput dokter Kangta"

"Ne Appa"

Meski berat Jung Umma melangkahkan kakinya keluar dari kamar Yunho.

"Joongie kau jaga Yunho hyung sebentar, aku akan ke kamar mengambil ponsel aku akan mengabari pada Kyu dan Yuchun hyung"

"Ne"

Sekarang hanya tinggal dirinya dan Yunho yang berada di kamar itu.

Jaejoong memperhatikan wajah Yunho yang terlihat damai sedang memejamkan mata.

"Yunnie"

Hanya itu yang bisa ia ucapkan.

Jaejoong mencoba memberanikan diri mengusap rambut Yunho pelan.

Wajah itu tetap terlihat tampan meski sedang sakit dan pucat begini.

Dan Jaejoong menyukai setiap yang ada pada diri Yunho.

"Yunnie apa Yunnie sangat tidak menyukai Joongie?"

Air matanya perlahan mulai menetes kembali.

"Yunnie harus cepat sembuh ne, Yunnie tidak boleh sakit lagi hikssss"

Entah sudah keberapa kalinya isakan itu lolos dari mulut kecilnya.

"Joongie hiksss Joongie akan pergi kalau itu bisa membuat Yunnie sembuh hiksss Joongie akan pergi Yunnie~ah Joongie tidak akan mengganggu Yunnie lagi Joongie janji hiksss, mianhe Joongie mianhe"

Isakan Jaejoong mulai terdengar semakin keras.

Ia menutup mulutnya untuk meredam suaranya, tapi tidak bisa.

Suara tangisan itu terdengar memilukan.

"Gomawo Yunnie, gomawo karena sudah memberikan banyak kebahagiaan untuk Joongie, Yunnie cepat sembuh ne"

Perlahan Jaejoong mendekatkan dirinya kearah kening Yunho.

Ia mengecup kening yang tertutup poni itu lembut.

CHUP~

"Saranghae Yunnie~ah"

Jaejoong menekuk lututnya, mengatupkan kedua tangannya dan memejamkan mata, ia berdoa.

"Tuhan mianhe Joongie ingin meminta sesuatu dari Tuhan boleh tidak? Joongie mohon sembuhkan Yunnie, Joongie tidak mau melihat Yunnie sakit, Joongie-"

Doanya tertahan, ia menangis.

"Joongie mohon sembuhkan Yunnie, Joongie berjanji Joongie tidak akan meminta apapun lagi, asal Tuhan mau menjaga Yunnie sembuhkan Yunnie dan buat Yunnie bahagia, Tuhan kabulkan ne? Amien"

TBC

Review? Sankyu :)