LOVIN' YOU
.
.
Maaf ya nunggu lama untuk ff ini *bow* sankyuuu yg udh nyempetin baca en review ^^ sankyu juga yg udh mapir baca tanpa ninggalin review, sankyu lagi buat yang udah mampir tapi ngga baca cuman liat-liat aja hehe. Selamat membaca #pelukmanja
.
.
Keesokan harinya, kondisi Yunho sudah mulai membaik ia sudah siuman.
Menurut dokter Kangta, Yunho kemungkinan mengingat sedikit memori, namun karena kondisi fisik dan otaknya belum siap menerima memori mendadak itu, ia kehilangan kesadarannya.
Hari ini kembali, Lee Yeon Hee ibu dari Yihan datang berkunjung, Jaejoong mengajak yeoja cantik itu melihat hewan peliharaannya.
"Ahjumma"
"Ne sayang?"
"Joongie boleh meminta sesuatu boleh?"
"Tentu, apa itu?"
Jaejoon berpikir sejenak, ia menggigit bibir bawahnya gugup sambil sesekali mata doenya berkedip memandang wanita yang masih saja cantik meski usianya tak lagi muda.
"A-ahjumma J-Joongie b-boleh ikut ahjumma ke Jepang?"
Yeon Hee terkejut, tangan halusnya berhenti mengelus surai rambut Jijji, dipandangnya Jaejoong dengan tatapan tak percaya sekaligus senang.
"Joongie mau ikut ahjumma ke Jepang? Benarkah?"
"Hum, bolehkah ahjumma?"
Kedua mata wanita cantik itu berkaca-kaca.
Ia melepaskan Jijji dan berganti mengelus surai hitam Jaejoong.
Bagaimana ia tidak terharu, inilah keinginannya sejak dulu, membawa Jaejoong untuk tinggal bersamanya.
"Tentu sayang tentu, Yihan dan ahjussi pasti akan senang sekali kalau mendengar kabar ini"
Namja cantik itu tersenyum, ia memeluk Yeon Hee yang sudah ia anggap Umma.
Mungkin benar, tidak ada salahnya juga ia ikut dengan keluarga dari sahabatnya itu. Toh mereka juga sama-sama menyayangi Jaejoong. Tapi, entah kenapa hatinya terasa berat?
Setelah Jaejoong memilih untuk ikut bersama Yeon Hee.
Kini saatnya wanita berambut panjang itu meminta ijin pada Tae Hee dan Ji Hoon, kedua orang tua angkat Jaejoong.
Dan bisa ditebak bahwa Tae Hee menolak keras keinginan putera cantiknya itu, ia sungguh tidak ingin berpisah dengan Jaejoong, ia sudah terlanjur sangat menyayangi Jaejoong.
Jung Appa juga sudah beberapa kali menanyakan keseriusan Jaejoong untuk pindah dan sempat menahannya namun jawaban Jaejoong tetaplah sama.
Setelah melalui pertimbangan dan perdebatan yang cukup alot akhirnya Jung Umma bersedia melepas Jaejoong pergi, meski hatinya tak akan pernah rela. Ia terus saja menangis dan meminta Jaejoong untuk tidak pergi.
Tapi tekad namja cantik itu terlalu kuat untuk dibantah, demi dirinya dan juga Yunho, ia rela menempuh semua kesakitan ini.
Jung Umma kini berada di kamar Jaejoong, membantu si cantik Kim mengepak pakaian yang akan ia bawa ke Jepang. Lusa ia harus sudah pergi.
"Umma jangan menangis lagi nanti Joongie ikut sedih"
"Joongie nappeun! Joongie tidak mau melihat Umma sedih keunde Joongie tetap mau pergi eoh?" ucap Tae Hee pura-pura kesal, sambil tetap isakan itu lolos dari bibirnya.
"Umma hikss mianhe Umma hiksss Umma jangan marah sama Joongie ne?"
Jung Umma tetap memasukan baju-baju Jaejoong kedalam koper.
Beberapa kali ia harus menyeka air matanya yang jatuh.
"Umma mianhe"
Jaejoong memeluk Tae Hee yang selama ini sudah merawatnya, orang yang sudah ia anggap ibu dan selalu memberinya pelukan hangat serta kehidupan yang layak untuknya.
Tangisan Tae Hee sudah tidak bisa dibendung.
Ia membalas pelukan hangat Jaejoong.
Kedua anak dan ibu itu berpelukan erat sambil terisak tanpa mereka sadari Changmin yang berada di balik pintu juga sedang menahan hasratnya untuk tidak menangis, meski air mata itu sudah tergenang di sudut matanya.
Malam hari dirumah keluarga Jung terasa begitu sendu.
Entahlah, mungkin dikarenakan besok Jaejoong akan pergi.
Saat acara makan malam-pun begitu, hanya terdengar dentingan garpu dan sendok.
Mereka benar-benar tidak bisa menikmati makan malam mereka.
Oh, kecuali satu orang yang sibuk dengan makanannya dan orang itu adalah Jung Yunho.
Selesai makan malam, mereka kembali ke kamarnya masing- masing.
Jung Umma dan Jung Appa tidak bisa tidur, kedua suami istri Jung itu gelisah tidak bisa memejamkan mata.
Begitu pula dengan Changmin yang masih berkutat dengan buku-buku pelajaran di meja belajarnya.
Menatap sebuah foto saat mereka berjalan-jalan di taman hiburan minggu lalu. Jaejoong terlihat lucu, ia menggembungkan pipinya sambil memakai bando kelinci. Changmin tersenyum tak terasa air matanya menetes.
Di kamar, Jaejoong juga tidak bisa terpejam.
Badannya bergerak ke kanan dan ke kiri.
Dipeluknya boneka gajah besar pemberian Yunho saat namja Jung itu pertama kali mengajaknya keluar.
Jaejoong sungguh tidak bisa tidur, ia ingin melihat Yunho untuk terakhir kalinya, ia beranikan diri untuk mengetuk kamar Yunho.
TOK TOK TOK
Pintu kamar Yunho terbuka, Yunho yang terlihat sangat mengantuk hanya membuka matanya sedikit.
"Ada apa?"
"Y-Yunnie"
"Hm?" jawab Yunho malas.
"I-Itu J-Joongie"
"Ada apa cepat katakan aku mengantuk!"
Jaejoong ragu, Yunho mulai bersikap kasar lagi padanya.
Ia memainkan ujung piyamanya sambil tertunduk.
"J-Joongie b-boleh tidak Joongie tidur dikamar Yunnie malam ini?"
Yunho membuka matanya lebar, ngantuknya hilang seketika, ia menatap Jaejoong yang sedang menunduk dan menggigit bibirnya.
"Kau-"
"Ah tidak boleh ya? Arraso Joongie akan tidur dikamar Joongie saja, selamat malam Yunnie"
"YA! Aku belum selesai" sahut Yunho saat Jaejoong berbalik menuju kamarnya.
Namja manly itu menghela napasnya.
"Baiklah kau boleh tidur dikamarku, itu karena kau besok akan pergi jadi jangan berpikiran macam-macam"
Jaejoong segera membalikan tubuhnya menghadap Yunho, ia mengangguk dan tersenyum senang.
"Uhm! Gomawo Yunnie~ah"
Yunho menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Jaejoong masuk kedalam kamar yang bernuansa hijau itu.
Perlahan langkah Jaejoong menuju kasur luas Yunho.
Ia menidurkan tubuhnya disisi kasur tak berapa lama Yunho juga ikut berbaring disebelahnya, memunggungi si cantik Kim.
Ditatapnya punggung lebar Yunho, napas Yunho yang teratur membuktikan bahwa dirinya sudah terlelap, dengan gerakan pelan, Jaejoong mendekatkan diri dan mengangkat tangannya ke pinggang Yunho.
Dengan penuh keberanian dia memeluk tubuh yang lebih besar darinya, aroma Yunho membuat Jaejoong sangat nyaman dan aman, dia semakin menepiskan jarak antara dirinya dan namja tampan itu, kepalanya ia dekatkan ke punggung Yunho.
"Hikss Yunnie~ya" dengan nyaman, kepala Jaejoong berada di punggung Yunho ia kembali menangis.
Entah sudah berapa kali ia menangis hari ini.
Sekarang ia hanya ingin menumpahkan kesedihannya, ia ingin memeluk Yunho karena mungkin Jaejoong tahu bahwa kesempatan itu tidak akan datang lagi.
Namja Kim itu terus terisak pelan, tubuhnya bergetar seiring dengan tangisannya, ia tidak sadar bahwa Yunho sebenarnya belum tertidur.
Ia membuka mata dan membiarkan Jaejoong memeluknya erat, meski ia tidak rela tapi entahlah hatinya tidak bisa menolak pelukan hangat itu.
Tak terasa pagi menyambut menyongsong hari berikutnya.
Matahari bersinar cukup terik meski udara dingin sehabis winter masih mengalun. Yunho menggeliat dan mengusap wajahnya, mengumpulkan tenaga selepas tidurnya semalam. Diliriknya sisi ranjang satunya.
Kosong.
"Kemana dia?"
Yunho menggedikan bahunya cuek, ia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dulu sebelum sarapan.
*INCHEON INTERNATIONAL AIRPORT*
"Joongie~ah"
"Kyunie jangan menangis, Joongie nanti bisa ikut menangis"
"Joongie kenapa mendadak sekali eoh?"
"Mianhe Kyu"
"Nappeun Joongie!"
Hari ini si cantik Kim akan ke Jepang bersama keluarga Jin. Jung Appa, Jung Umma, Changmin, Kyuhyun, Yuchun dan Jessica ikut mengantar Jaejoong.
"Kau benar-benar akan pergi huh?"
"Ne Chunie~ah, Joongie titip Suie ne. Jangan mengganggu yeoja lagi, jangan membuat Suie marah"
Yuchun terkekeh ia mengacak rambut Jaejoong.
Baginya Jaejoong sudah seperti adik, namja cassanova itu baru sadar kalau Junsu tidak berada disana, ia menelpon si manis Kim namun ponselnya tidak aktif.
"Yah Kim Jaejoong"
"Jessie nuna" Jaejoong memeluk yeoja cantik itu. mereka berpelukan cukup lama.
"Jaga dirimu, jangan biarkan orang lain menyakitimu arraso!"
"Uhm! Joongie juga titip Yunnie ne, Joongie yakin nuna bisa membuat Yunnie bahagia"
Jessica melepaskan pelukannya.
Ia menghapus jejak air mata di pipi putih Jaejoong yang nampak memerah.
"Aku tidak yakin bisa membuatnya bahagia, karena dia hanya bisa bahagia jika kau ada di sisinya Jaejoongie"
"Aniya, Yunnie yang sekarang adalah milik Jessie nuna, Joongie hanya akan menjadi pengganggu"
"Aish paboya! Jangan berpikiran seperti itu, Yunnie tetap milik Joongie, suatu saat nanti dia akan kembali padamu, percayalah"
Jaejoong tersenyum.
Apalagi yang bisa ia lakukan selain menyunggingkan bibirnya?
Sudah terlalu banyak ia menumpahkan air matanya.
Sekarang saatnya untuk tersenyum bukan?
"Joongie sudah siap?" tanya Jin Akanishi sekembalinya chek in pesawat.
"Ne ahjussi"
"Andwe! Joongie~ah jangan tinggalkan Umma hiksss Joongie"
Jung Umma kembali menangis, Jung Appa menahan bahu istrinya seolah memberinya kekuatan.
"Umma~" isak Jaejoong yang kembali memeluk ibunya itu.
Adegan itu sungguh membuat siapapun yang melihatnya terharu.
"Changminie"
"Diam, kalau kau ingin pergi pergilah"
"Hikss Minnie tidak mau memeluk Joongie? Hiksss"
"Kalau aku memelukmu itu artinya tanda perpisahan, dan aku tidak mau berpisah denganmu, setelah lulus sekolah aku akan kuliah di Jepang itu berarti kita akan bertemu lagi aniya? Lagipula Jepang dan Korea kan dekat"
"Keunde-"
"Pergilah Jaejoongie, carilah kebahagianmu sendiri, aku akan selalu mendoakanmu"
"Hiksss Minnie~"
"Jangan menangis, kau sudah jelek akan tambah jelek kalau hingus itu keluar dari lubang hidungmu"
Namja cantik itu tertawa kecil.
Ia menghapus lelehan air mata di pipinya.
Memberi si bungsu Jung itu sebuah senyum yang lebar.
"Aku menyayangimu Joongie"
"Nado Minnie~ah"
"Jaejoongie kajja" sahut Yihan.
"Tuan Jung, Nyonya Jung terima kasih karena sudah merawat Jaejoong" ucap Yeon Hee sambil membungkuk sopan.
Jung Umma hanya bisa terisak.
Ia tidak sanggup berpisah dengan Jaejoong, hatinya sakit sekali.
"Kami mohon jagalah dia, bersabarlah menghadapinya jangan memarahinya terlalu keras dia akan ketakutan" ucap Jung Appa.
"Joongie takut pada api, jangan biarkan ia melihatnya ahjussi" ujar Kyuhyun.
"Joongie juga sangat suka es krim, sediakan eskrim yang banyak di kulkasnya karena ia suka memakannya malam hari" kali ini Changmin yang berbicara.
"Dia juga mudah tersasar, jangan membiarkannya keluar sendiri, oh iya dia juga sangat menyayangi boneka gajah pemberian dari Yunho jangan sampai hilang atau rusak" timpal Yuchun.
"Joongie juga sangat menyayangi Taepong dan Jijji, bantu ia memberi makan mereka karena Joongie suka lupa" ucap Jessica.
Yeon Hee sedikit terkejut, ternyata mereka semua sangat perhatian pada Jaejoong hingga hapal dengan kebiasaan namja cantik itu.
Yeon Hee bahkan terharu dibuatnya, ia bersyukur ternyata Jaejoong mendapatkan sebuah keluarga yang begitu menyayanginya.
"Ne aku akan mengingatnya, gamsahamnida"
"Kita pergi sekarang?" tanya Akanishi.
"Hum, kajja Joongie" ajak Yeon Hee
Jaejoong mengambil tasnya namun ditepis Yihan.
Pria tampan itu yang membawa tas cangklong Jaejoong.
Tangannya digenggam Yihan erat.
Jaejoong mulai nampak menjauh dari keluarga Jung.
"Jaejoongie" panggil Jung Umma.
Si cantik Kim itu berbalik
"Hati-hati ne, jangan lupa makan daging yang banyak, kau tidak boleh kurus arraso"
"Yah cantik! Saat kembali kesini kau tidak boleh kalah main ular tangga denganku" teriak Changmin
Jaejoong melambaikan tangan kearah keluarganya dan teman-teman yang sangat ia sayangi, ia tersenyum meski air matanya terus mengalir deras.
Jaejoong pergi, tubuhnya mulai menghilang masuk kedalam ruangan yang hanya boleh dimasuki penumpang pesawat.
Tak terlihat lagi Kim Jaejoong yang manja, yang selalu membuat semuanya tertawa, Jaejoong adalah adik dan teman yang sangat baik, sifatnya selalu membuat semua orang bahagia, tak ada yang mampu membencinya, mungkin ia diciptakan untuk membuat semuanya menyayanginya bukan membencinya.
"KIM JAEJOONG!"
Semuanya berbalik saat mereka mendengar suara yang sangat mereka kenal.
Suara bass khas yang datang dari seorang Jung lain.
"Yunho?"
"Hyung"
"KIM JAEJOONG! Jangan tinggalkan aku, Joongie!" teriaknya kencang.
"Y-Yunho? Kenapa kau-"
"Hyung cepat kejar Joongie! Ppali hyung" ucap Changmin memotong pertanyaan Yuchun.
Tanpa berfikir panjang, Yunho mengejar Jaejoong namun langkahnya tertahan karena pihak keamanan bandara menahannya.
"Maaf, selain penumpang anda tidak di ijinkan masuk"
"Aish minggir! Aku ingin bertemu Joongie, Joongie gotjimal! Joongie~ah"
"Yunho, kau kemana saja eoh? Joongie sudah pergi"
"Umma tadi di jalan macet jadi aku terlambat! Joongie, Jaejoongie"
"Y-Yunho apa kau sudah-"
"Aku sudah mengingatnya Appa, aku sudah ingat semua"
"MWO? Benarkah itu?"
"Yaish aku tidak ada waktu untuk menjelaskan! Aku ingin mengejar Joongie"
Yunho yang nekad kini melompat pagar pembatas dan melarikan diri masuk ke dalam bandara mengejar Jaejoong. Tidak ia pedulikan panggilan security yang mengejarnya.
"YAH! KAU BERHENTI!"
Changmin dengan cepat mengambil tangan polisi yang ingin mengejar Yunho, dia menahannya sekuat tenaga karena badan polisi tersebut sedikit lebih besar darinya, polisi satu lagi ingin mengejar Yunho namun Kyuhyun menjegal kakinya hingga polisi bertubuh lebih pendek itu terjatuh dan dengan segera Yuchun menahannya.
"YAH! APA YANG KALIAN LAKUKAN? KALIAN BISA DIPENJARA KARENA BERSEKONGKOL MELAKUKAN INI PADA PIHAK KEAMANAN!"
"Mianhe ahjussi, kami tidak bermaksud menyakiti atau menyalahi aturan keunde kami mohon ijinkan dia masuk"
"KALIAN SUDAH MELANGGAR ATURAN!"
"Changmin~ah Yuchun~ah, lepaskan mereka"
"Tapi Appa-"
"Jung Changmin"
"Ne Appa"
Changmin dan Yuchun melepaskan tangan kedua polisi itu.
"Kalian semua! Ikut saya ke kantor polisi"
"Eeh? T-Tapi tapi"
Dengan sigap kedua polisi itu kini bergantian menahan lengan Yuchun dan Changmin.
"Ahjussi lepaskan mereka"
Entah darimana datangnya, Junsu tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka dan memohon kepada kedua polisi bertampang sangar itu agar melepaskan Yuchun dan Changmin.
"Junsu~ya dua orang ini sudah membuat onar"
"Aish mereka ini teman-temanku ahjussi, mereka pasti punya alasan kenapa mereka berbuat seperti itu" rajuknya.
"Tapi-"
"Ahjussi, kalau ahjussi tidak mau menuruti perintahku, aku akan laporkan pada Appa"
"Eeh? Aish baiklah baiklah aku akan melepaskan mereka, yah kalian berdua jangan berbuat onar lagi arraso?!"
Setelah melepaskan Yuchun dan Changmin, kedua polisi itu pergi begitu saja.
"Su, kenapa kau-" tanya Changmin
"Appaku kepala keamanan disini, jadi kalian tenang saja"
"Eoh? Benarkah? Kenapa kau tidak pernah cerita?" tanya Kyu penasaran.
"Huh? Untuk apa? Itu tidak begitu penting aniya?"
"Tapi itu penting untuku Kim Junsu"
Kalimat Yuchun membuat Junsu mendengus.
Namja Park ini kembali mencoba menggodanya.
Sementara itu di dalam bandara, Yunho masih sibuk mencari Jaejoong mata musangnya terus memperhatikan kerumunan penumpang lain.
Hingga akhirnya ia menemukan Jaejoong, sedang mengantri untuk masuk kedalam pesawat.
"Joongie! Jaejoongie"
Merasa ada yang memanggil namanya, Jaejoong yang sedaritadi terus tertunduk menegakan kepalanya dan menatap seseorang yang sudah sangat dihapalnya.
"Yu-Yunnie?"
"Jaejoongie-"
Yunho menghampiri Jaejoong dan tanpa mempedulikan sekitar Yunho langsung memeluk Jaejoong erat, erat sekali seolah tidak ingin terlepas lagi.
"Joongie kotjimal, kotjimal Joongie~ah" ucap Yunho sambil terus memeluk tubuh mungil Jaejoong.
"Yunnie, Yunnie kenapa kesini? Bukankah Yunnie sedang sakit? Yunnie tidak boleh keluar, Yunnie harus pulang kerumah"
Yunho melepaskan pelukannya dan menatap wajah Jaejoong sambil memegang kedua pipi chuby namja cantiknya.
"Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku Jaejoongie"
"T-Tapi-"
"Aku sudah mengingatnya, mengingat semuanya dengan jelas tanpa ada satupun yang terlewat, aku bisa mengingatmu sekarang Joongie aku ingat padamu"
Kedua doe indah Jaejoong melebar.
Menatap tidak percaya kalimat yang baru saja diucapkan Yunho.
"Jeongmal? Jeongmalyo?"
"Hum, aku mengingatmu Joongie aku bisa mengingatmu" ucap Yunho yang kembali memeluk erat kekasih hatinya itu.
*FLASHBACK*
Pagi sudah menyambut dunia kembali, matahari bersinar sangat terik, menerobos masuk kedalam tirai hijau di kamar Yunho, matanya yang masih tertutup berpapasan dengan cahaya mentari yang menyilaukan, Yunho menggeliat dan mengusap wajahnya, menatap langit-langit berusaha mengumpulkan tenaganya kembali, ia kemudian teringat bahwa semalam ia tidak tidur sendiri.
"Tuan muda Yunho anda sudah bangun, mau langsung sarapan?" tanya maid yang langsung menuju ruang makan begitu melihat Yunho keluar dari kamarnya.
Yunho hanya menggeleng, dia mengusap wajahnya beberapa kali dan memandang seluruh ruangan yang terlihat begitu sunyi.
"Eomma Appa eodiga?"
"Tuan, Nyonya dan Tuan Muda Changmin pergi ke bandara mengantar tuan muda Jaejoong"
Yunho mengangguk mengerti.
"Tuan muda apa anda ingin sarapan sekarang?"
"Tidak, buatkan aku segelas susu saja"
Saat ia melewati tangga untuk kembali ke kamarnya, ia melihat ke sebuah ruangan. Ruangan yang di pintunya tertulis "Sekolah Joongie" rasa penasaran memaksa langkahnya untuk masuk kedalam ruangan berukuran cukup luas itu.
Yunho membuka pintu bercorak coklat kayu tersebut perlahan, di tatapnya sekeliling ruangan yang berwarna warni, terdapat begitu banyak gambaran yang sudah pasti digambar oleh Jaejoong sendiri, Yunho terlihat mengambil sebuah toples bening berisi ratusan bahkan mungkin ribuan origami burung-burung kecil, di depan toples itu tertulis "Cepat sembuh Yunnie"
Yunho ingat saat masih di RS, Jaejoong pernah membawa origami itu namun Yunho tidak mau menerimanya dan malah membentak dan hampir memecahkannya.
Pelan Yunho menaruh toples kaca itu, ia kembali memandang sebuah gambar, gambar yang menurutnya lucu, seperti bentuk badak bercula yang sangat abstrak (inget Running Man episode Yunho ngegambar Badak) Yunho tersenyum kecil ia mengira Jaejoonglah yang menggambarnya, namun saat ia melihat sebuah tulisan dibawahnya senyumnya memudar "Gambar badak Yunnie jelek :P "
"Ini gambaranku?" monolog Yunho.
Saat ia sedang asik melihat-lihat ruang sekolah Jaejoong, mendadak kepalanya terasa sakit, libasan ingatan masa lalu dengan Jaejoong mulai terlintas di pikirannya, Yunho jatuh terduduk ia meringis sambil memegang kepalanya.
"Aaaarrgghh kepalaku!"
Selibas memori akan Jaejoong terbuka perlahan.
"Aaaaaaaa bukan begitu Yunni, begini lihat daritadi Yunnie salah terus"
"Aish ini sudah benar Joongie apa yang salah?"
"Ck, ini salah Yunnie lipatannya tidak begini, ini kurang rapiiihh, Ish Yunnie hanya menghabiskan kertas warna Joongie, lihat kertas warna merahnya hanya tinggal satu"
"Salah sendiri, kenapa Joongie memberikan aku kertas berwarna merah terus daritadi"
"Tapi Joongie kan suka warna merah!"
Yunho semakin tersungkur, ia memegang kepalanya yang terasa sakit luar biasa.
"Kyaaaaaaaa Yunnie itu apa? Kenapa ada kereta di langit?"
"Itu namanya Jetcoster , Joongie mau naik?"
"Shiruh nanti Joongie jatuh! Yunnie~ya Joongie lapar"
"Hm? Lapar? Kajja kita makan"
Dan begitulah seterusnya, ingatan Jaejoong sedikit demi sedikit memenuhi ruang otak Yunho. Membuatnya seketika sadar dengan napas yang memburu, keringat membasahi tubuhnya seolah ia telah kembali dari lomba lari marathon.
"J-Joongie?" ucapnya pelan.
"Kau sudah ingat Yunho?" tanya sesosok mahluk berpendar kabut yang berdiri tak jauh darisana.
"K-Kau? S-Siapa kau?" Tubuh Yunho bergetar takut, ia seperti merasa dirinya sudah mati.
"Tidak penting siapa aku, tugasku hanya membantu Joongie untuk membuat ingatanmu kembali padanya, kau tahu Joongie sudah banyak menderita karenamu"
Yunho diam, ia merasa ini seperti mimpi.
Ini terlalun tiba-tiba.
"Tidak ada waktu lagi, kalau Joongie sampai pergi ke Jepang berarti takdirmu sudah tidak bisa dirubah dan selamanya kau akan kehilangan Joongie, cepatlah kau pergi ke bandara dan cegah dia, aku hanya diperbolehkan membantumu sampai disini saja, sisanya kau yang menentukan takdirmu"
Masih dengan tatapan bingung Yunho memandang sosok berjubah seperti suster itu, namun ia segera sadar bahwa ia harus mengejar takdirnya, ia harus kembali merebut takdir yang hampir hilang dari kehidupannya.
"Siapapun anda, terima kasih"
Sosok itu tersenyum damai, kemudian perlahan menghilang.
*FLASHBACK END*
"Jadi, maksud Yunnie?"
"Hm, jadi saat aku masuk keruangan itu dikepalaku terlintas kenangan-kenangan tentang dirimu, dan aku sadar aku harus mengejarmu, aku tidak ingin kehilangan dirimu, maafkan aku Joongie"
"Yunnie-"
"Yunho? Bagaimana kau bisa masuk kesini?" tanya Yihan sekembalinya dari toilet.
"Yihan~shi aku-"
"Aku tidak akan memberikan Jaejoong padamu, dia sudah berjanji akan ikut denganku ke Jepang, kau ingatkan Joongie orang yang melanggar janjinya itu dosa" ujar Yihan.
Jaejoong diam.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Di satu sisi ia bahagia karena akhirnya Yunho bisa mengingatnya lagi, tapi ia tidak bisa mengingkari janjinya pada Yihan untuk pergi ke Jepang.
"Joongie kajja" Yihan menarik tangan Jaejoong pergi bersamanya.
"Yunnie"
"Joongie, ahjumma ahjussi aku mohon jangan bawa Joongie, aku-aku mencintainya aku tidak ingin berpisah dengannya"
"Kalau kau memang mencintainya, kenapa kau bisa melupakannya? Kau bahkan menyakitinya" ucap Yihan lagi.
"Aku-"
"Yihan~ah, kita tidak bisa memaksakan kehendak kita, semuanya biar Joongie yang memutuskan"
"Umma~"
"Joongie sayang, apa kau tetap mau ikut ahjumma ke Jepang?"
"Ahjuuma Joongie-" Jaejoong tidak bisa melanjutkan ucapannya, ia tertunduk.
Yeon Hee tersenyum, ia mengerti sangat mengerti maksud keraguan Jaejoong.
Wanita itu mengelus surai hitam Jaejoong lembut.
"Pulanglah, pergilah bersama Yunho"
"Umma!" sergah Yihan.
"Pergilah untuk orang yang kau cintai Joongie, ahjumma tidak bisa memaksamu"
"Cinta?"
"Ne sayang, mungkin Joongie masih belum mengerti, tapi bukankah disini selalu ada kehangatan dan kenyamanan saat Joongie berada di dekat Yunho?"
Jaejoong mengangguk.
"Itu cinta sayang Joongie mencintai Yunho dan ahjumma lihat-" Yeon Hee bergantian memandang Yunho
"Yunho juga sangat mencintai Joongie"
"Hikss ahjumma"
Kegiatan mereka terhenti karena ucapan dari operator bandara mengenai jadwal keberangkatan.
"Kita harus segera naik pesawat" ucap Akanishi.
"Kka, kalau begitu sudah waktunya kita pergi, ahjumma percaya Yunho akan menjagamu Joongie"
"Ahjumma"
"Sssssttt Uljimma jangan menangis, mulai sekarang Joongie harus lebih sering tertawa ne"
"Hikss hiksss ahjumma dan ahjussi janji sama Joongie kalau liburan akan mengunjungi Joongie"
"Neeee tentu sayang, ahjumma pasti akan menemui Joongie dan juga akan menelpon Joongie kalau perlu setiap hari"
"Jinjja? Pinky promise" sahut dan mengajak Yeon Hee untuk mengaitkan kelingkingnya.
"Pinky promise"
"Yihan hyung"
"Ish kau ini-"
"Hiksss hyung mianhe hiksss"
"Arraso arraso kau jangan menangis terus, kalau Yunho tidak membuatmu bahagia kau tahu harus menghubungi siapa, ok?"
"Neee hiksss hiksss"
"Jaga dia Yunho~shi"
"Pasti ahjussii"
"Sampai jumpa Jaejoongie"
Yunho memeluk pinggang Jaejoong berusaha menenangkan Jaejoong yang masih terus menangis.
Keluarga Jin sudah tak terlihat lagi, keduanya sudah masuk ke dalam cabin pesawat dan tak lama pesawat itupun tinggal landas. Meninggalkan Jaejoong dan Yunho untuk kisah yang baru.
*2 BULAN KEMUDIAN*
"Joongieeeeee"
"Aish Minnie! Jangan teriak-teriak begitu Umma kaget"
"Mian Umma, Omo kau memakai gaun Joongie? Neomu Yeppo"
"Jinjja? Hehehe kata Umma Joongie harus memakai gaun karena Joongie yang jadi mempelai wanitanya"
"Aaahh itu benar, akan sangat mengerikan kalau Yunho hyung yang menjadi wanita"
"Hum, Kyu eoddie?"
"Diluar sedang membantu Junsu menerima tamu"
TOK TOK TOK
"Jung sajangnim acaranya sudah mau dimulai"
"Kajja kajja kita harus segera ke altar, Min kau pegang ujung gaun Joongie Umma akan membawa bunganya"
Gaun Pengantin?
Setelah kejadian di bandara beberapa bulan lalu Jaejoong kembali kerumah Jung. Yunho dinyatakan sembuh total dan bisa memulai kembali aktifitasnya, sebulan lalu ia telah menyelesaikan kuliah dan berencana akan membantu Jung Appa di perusahaan, karena itu tidak ada alasan lagi baginya untuk berlama-lama tidak melamar Kim Jaejoong.
Dibantu Changmin dan Jung Umma, Jaejoong berjalan pelan menelusuri lorong Gongseri CatholicChurch. Gaun pernikahan berwarna putih gading itu terlihat cocok dengan kulit putih bersih Jaejoong, gaun panjang dengan tirai yang menutupi rambut Jaejoong yang kini sudah dicat pirang.
KRIET
Pintu gereja eksotik itu terbuka, Jaejoong sama sekali tidak berani menatap Yunho yang sudah berdiri di depan altar dengan gagahnya, jangan tanyakan bagaimana penampilan Yunho, dengan tuxedo berwarna sama seperti gaun Jaejoong, Yunho tampak seperti pangeran berkuda putih yang akan menjemput sang puteri, dia benar-benar terlihat sangat tampan, bahkan beberapa tamu wanita berharap merekalah yang menjadi mempelai wanitanya.
"Joongie kau berjalanlah, hyung menunggumu disana"sahut Changmin menyuruh Jaejoong berjalan.
Hening, Jaejoong tidak menjawab melainkan hanya tertunduk diam.
"Joongie" panggil Umma Jung.
Masih Hening.
Yunho yang melihat dari jauh sedikit bingung dengan apa yang terjadi di depan gerbang gereja yang dibangun pada tahun 1894 itu. Ia memutuskan untuk menghampiri Jaejoong.
"Joongie wae geure?" tanya Yunho sambil mencoba melihat wajah Jaejoong yang tertunduk
"Joongie?" ia mulai khawatir sekarang.
Perlahan Jaejoong mulai mengangkat wajahnya, Yunho terkejut saat melihat wajah Jaejoong begitu merah, ia takut Jaejoong demam, dengan segera Yunho menempelkan tangannya untuk memeriksa dahi Jaejoong.
"J-Joongie kau sakit?"
Jaejoong menggeleng imut.
"Wajahmu merah begitu, kau demam Joongie?"
"A-ani"
"Lalu? Kau kenapa huh? Kenapa wajahmu merah begini sayang?"
"Joongie-Joongie maluuuu~" Jaejoong kembali tertunduk dan mengigit bibir bawahnya.
AAAAAAAAHHH kalau saja ini bukan di depan banyak orang, sudah dipastikan Jaejoong akan habis dilahap oleh Jung Yunho. Ia begitu gemas dengan tingkah kekasih cantiknya itu.
Changmin yang berada disamping Jaejoong hanya bisa menepuk dahinya.
Ia sungguh tidak mengerti jalan pikiran namja cantik itu.
Yunho tersenyum kecil kemudian tanpa berfikir ia menggendong Jaejoong ala bridal dan membawanya ke altar.
"Yunie kenapa menggendong Joongie? Joongie kan malu"
"Kau terlalu lama sayang"
Keduanya kini sudah berada di depan pastur Shindong yang akan menikahkan mereka berdua.
"Jung Yunho, apa kau bersedia menerima Kim Jaejoong sebagai pasanganmu baik dalam keadaan susah maupun senang, sehat maupun sakit hingga maut memisahkan kalian?"
"Ne, bersedia" jawab Yunho mantap.
"Kim Jaejoong, apakah kau bersedia menerima Jung Yunho sebagai pasanganmu baik dalam keadaan susah maupun senang, sehat maupun sakit hingga maut memisahkan kalian berdua?"
Jaejoong memandang Yunho dan berkedip imut, membuat Yunho benar-benar tidak tahan ingin segera melemparkan Jaejoong ke kasur saat itu juga.
"Neeeeeeee Joongie mau bersama Yunnie selamanya" ucap Jaejoong senang.
Setelah mengucap janji suci dihadapan Tuhan kemudian pasangan YunJae itu bertukar cincin dan moment yang paling ditunggu oleh beruang liar Jung Yunho adalah mencium pasangannya, dengan gerakan tidak sabar, Yunho menarik Jaejoong kedalam pelukannya dan tanpa basa basi langsung meraup penuh bibir merah merekah yang berwarna berkilauan karena Jaejoong menggunakan lip gloss tipis.
Seolah waktu berhenti yang ada hanya mereka berdua, Yunho semakin menekan tengkuk Jaejoong agar memperdalam ciumannya, ia mengabsen satu persatu gigi Jaejoong, lidahnya ia gunakan untuk mengelap (?) seluruh permukaan bibir pouting red milik Jung Jaejoong.
Yunho melepaskan tautan bibirnya untuk mengambil napas, dilihatnya bibir Jaejoong begitu membengkak akibat ulahnya, basah dan merekah semakin membuat jiwa liar Yunho terbangun, ia tersenyum 'mesum' dan kembali akan kembali mencium pasangannya itu.
"YA! YUNHO HYUNG BISAKAH KAU LANJUTKAN ADEGAN MESUMMU ITU NANTI MALAM?! KAPAN ACARA MAKANNYA DIMULAI? PERUTKU SUDAH TIDAK TAHAN! Aish~" teriak Jung Changmin sambil berdecak kesal karena ia hanya menonton adegan kakakknya 'memakan' bibir Jaejoong.
Yunho langsung melepas pagutannya dan memandang Changmin kesal, jangan tanyakan bagaimana bentuk wajah Jaejoong sekarang, wajahnya benar-benar merah karena malu.
Tak lama pesta formal berganti menjadi informal, acara dengan live music dan acara yang paling ditunggu oleh Changmin yaitu makan. Berbeda dengan pernikahan lain dimana para tamu yang akan mendatangi pengantin, pasangan YunJae malah mendatangi para tamu dan mengucapkan terima kasih, keduanya tampak begitu mesra dan serasi terlihat dari tangan Yunho yang tidak berhenti terus saja menggenggam Jaejoong.
Karena lelah Jaejoong memutuskan untuk beristirahat di salah satu meja melingkar yang ada di aula megah dan mewah tersebut, Yunho bermaksud akan mengambilkan minum untuk Jaejoong saat ia melihat sosk yang berdiri tak jauh darisana. Ia mengenali sosok itu, sosok yang waktu itu membantu memulihkan ingatannya.
Ia ingin menghampiri sosok itu, namun sosok itu hanya tersenyum kearahnya kemudian menghilang dibalik kerumunan para tamu.
"Yunnie, kau kenapa?"
Yunho terkejut saat Jaejoong berdiri disampingnya.
"Hum? Ah aniya tidak ada apa-apa sayang, ini minum untukmu kau lelah hum?"
"Hum, Joongie capek! Tapi ini menyenangkan hehe, haaaaaah kalau saja suster kepala datang pasti akan sangat menyenangkan"
"Suster kepala?"
"Ndeee suster kepala panti Joongie dulu, suster Ahra. Suster Ahra baik sekali sama Joongie, Joongie sayang sama suster Ahra"
"Benarkah?"
"Huum, Yunnie mau lihat fotonya? Joongie waktu itu foto sama suster Ahra sebelum Joongie pergi kerumah Yunnie sama Umma dan Appa"
Jaejoong nampak menarik Yunho menuju satu foto berbingkai besar yang ada di aula itu. Selain foto pernikahan YunJae, disana juga terdapa foto-foto memori dari masing-masing pasangan, bahkan foto bayi Yunho juga ada disana.
Kedua bola mata Yunho melebar, ia terkejut bahkan sangat terkejut.
"I-Ini?"
"Ini suster Ahra Yunnie~ah, Joongie ingin sekali suster Ahra datang keunde kata suster BoA suster Ahra meninggal dua bulan lalu hiksss"
"M-MWO?"
Lidah Yunho kelu, dadanya bergemuruh cepat.
Wajah itu, wajah tersenyum yang ada di bingkai foto itu?
Wajah yang tidak akan pernah Yunho lupakan.
Wajah yang sudah kembali membawanya pada ingatan tentang Jaejoong.
"Joongie, kau sudah makan? Kita makan bersama"
"Suie? Hm, Joongie lapar! Yunnie" panggil Jaejoong, Yunho masih asik memandang foto itu.
"Hum? Ada apa sayang?"
"Joongie lapar"
"Lapar? Kajja kita makan"
"Aish Jung Changmin bisakah kau menaruh piring itu dulu huh? Kau sudah 3 kali mengambil bulgogi masih belum kenyang juga?!" teriak Kyuhyun yang terlihat menarik-narik jas Changmin untuk mendekat kearah YunJae.
"Wae? Ini pernikahan hyungku aku bebas mau makan apapun"
Kyu menjitak kepala sahabatnya itu
"Jangan macam-macam, kita harus memberi selamat dulu untuk mereka. Yunho hyung Joongie chukkae semoga pernikahan kalian lancar dan segera diberi anak yang banyak dan lucu-lucu"
"Gomawo Kyu"
"Kyunieeee gomawooo"
"Min giliranmu, YAK JUNG CHANGMIN~"
"Aish arra arra. Yun hyung Joongie chukkae neee"
"YAH! Telan dulu semua makanan yang ada dimulutmu, aish jorok sekali!" ucap Yunho.
Seolah tidak mendengar ucapan kakaknya, Changmin kini sibuk melirik hidangan yang berada tak jauh darinya.
"Huuuumm, wangi kambing barbeque nya harum sekali, aku kesana dulu hyung"
"Yah Changmin~ah, tunggu aku. Hyung permisi"
Semuanya tertawa melihat tingkah ChangKyu yang sejak tadi tidak berhenti bertengkar.
"YUNJAE~ah"
"Jessie nuna!"
"Chukkae"
"Gomawo nunaaaa"
Jessica memeluk Jaejoong dan Yunho bergantian.
"Gomawo Jess"
"Hum, ah Oppa Joongie kenalkan ini tunanganku, Taecyeon Oppa ini kedua temanku Yunho oppa dan Jaejoong"
"Ah anyeong, Ock Taecyeon imnida"
"Aigooo kau sudah bertunangan dan tidak mengundang kami eoh?"
"Hehehe mian Oppa, saat itu aku sedang syuting di LA dan bertemu Taecyeon Oppa jadi kita memutuskan untuk tunangan disana"
"Hum dasar kau"
"Ahjumma dan ahjussi dimana Oppa?"
"Mereka di meja sana"
"Aaaahh, baiklah aku akan menyapa mereka dulu"
"Hm, cobalah makanannya Jess dan jangan lupa ikut sesi pelemparan bunga nanti"
"Tentu saja aku akan ikut karena siapa tahu setelah ini giliranku hehe, bye Joongie"
"Bye nuna, Yunnie tunangan Jessie nuna tampan sekali"
"Aigooo Joongie berani memuji namja lain di depan suami Joongie sendiri eoh?"
"Hehehe aniya tetap Yunnie yang paling tampan"
Yunho tertawa kecil sambil mencubit hidung Jaejoong gemas.
"Junsuyaaa lama tidak bertemu, did you miss me?" tanya Yuchun yang entah sejak kapan sudah berada disana.
"Kita sudah bertemu sejak dua bulan lalu dan kau selalu mengikuti-ku kemanapun Park~shi"
"Begitukah? Tapi kenapa aku masih sering merindukanmu yah?" goda Yuchun.
"Jangan tergoda olehnya rayuannya Su, dia itu iblis wanita"
"Ne hyung, dan untung aku bukan wanita" jawab Junsu.
"Kau memang bukan wanita, tapi kecantikan dan wajahmu yang lucu jauh melebihi wanita manapun"
Junsu memuta bola matanya jengah.
Park Yuchun ini memang tidak pantang menyerah untuk mendapatkannya.
"Dan, kau seksi~"
"YAK! Mesum!"
"Hahaha, hei Su bagaimana kalau kita mulai berkencan?"
"Dengan namja mesum sepertimu? No"
"Aish berhentilah menyebutku mesum, kita coba dulu 3 bulan bagaimana?"
"Tidak mau"
"Kalau kau tidak mau, kau langsung menjadi istriku saja"
"YAK! Berkencan denganmu saja aku tidak mau bagaimana aku mau menjadi istrimu, gila!"
Junsu pergi meninggalkan Yuchun dengan wajah yang memerah malu.
"Aigooo kau ditolak Yuchun~ah"
"Tidak akan Yun, lihat saja dia yang akan menjadi takdirku! Suie chakkaman"
Yunho dan Jaejoong tertawa.
Dalam hati mereka berharap semoga YooSu bisa menyusul mereka menuju kebahagiaan.
Yunho memandang 'istri' tercintanya dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong, pelan tapi pasti Yunho memegang wajah Jaejoong lembut, mata Jaejoong berkedip berulang kali menambah kadar keimutan yang luar biasa bagi siapapun yang memandangnya.
Saat bibir mereka akan saling menyentuh, Yunho merasa ada yang menarik kerah kemejanya dari belakang.
"Hyuuuunngg bisa sabar sedikit? Sekarang waktunya melemapr bunga" sahut Changmin.
"Eiiiiii kau lagi"
"Waktunya melempar bunga hyung ok"
"Ne ne"
"Jangan terlalu lama hyung"
"NEEEEEEEE" kesal Yunho.
CHUP
"Kita lanjutkan nanti malam sayang" kerling nakal Yunho membuat Jaejoong semakin menundukan wajahnya malu.
Tiba saatnya kini sesi pelemparan bunga, Yunho dan Jaejoong sudah berada di atas sebuah panggung tempat para penyanyi menghibur tamu, keduanya memegang bunga dan bersiap untuk melempar buque bunga lili putih tersebut.
"Hana dul set"
Para yeoja berkumpul di tengah aula untuk menantikan datangnya bunga pengantin yang konon menurut legenda siapapun yang mendapatkan bunga tersebut akan segera menikah.
"Mwoooooo?" ucap hampir semua yeoja.
"Ugh kenapa aku?"
Bunga itu justru jatuh di tangan seorang namja manis yang berdiri tenang.
Ia bahkan tidak berniat untuk ikut mengambil bunga pengantin itu.
"See? Sudah kubilang kan Yun kalau Junsu adalah takdirku" sahut Yuchun yang langsung turun dari panggung mendekati Junsu.
"Jadi bagaimana? Kau mau mencoba takdirmu denganku?"
Lelah dengan kegiatan Yuchun yang tidak berhenti terus mengejarnya, Junsu akhirnya menyerah juga, ia tersenyum begitu manis.
"Baiklah tidak ada salahnya mencoba"
"Jeongmal?"
"Hum, jangan membuatku kecewa"
"Tidak akan! Aku akan membuatmu selalu tersenyum"
Junsu tersenyum mendengar pernyataan Yuchun, yah mungkin tak ada salahnya menerima cinta dari namja cassanova nan tampan itu.
"Joongie baby"
"Hm?"
"Saranghae" bisik Yunho
"N-Nado" jawab Jaejoong malu.
Yunho mengecup pucuk kepala Jaejoong lembut, membuat Jaejoong merasakan betapa besar cinta Yunho untukknya.
"Kau jangan terlalu lelah karena nanti malam kita masih ada satu kegiatan lagi"
"Kegiatan apa Yunnie?" tanya Jaejoong polos.
"Making Love"
"Making love? Making Love itu bahasa inggris ya Yunnie? Joongie tidak tahu artinya ah Joongie tanya Siwon saenim dulu"
"Yah yah kau mau kemana?"
"Tanya Siwon saenim"
Yunho kembali menarik Jaejoong mendekat ketubuhnya.
"Aish kau tidak perlu bertanya padanya, tanya saja padaku"
"Huuumm, Making Love itu apa Yunnie?"
"Making Love itu eung, itu- bertarung ya bertarung hehehe"
"Bertarung?"
"Yap bertarung diatas ranjang tepatnya"
"MWOOOO? B-bertarung diatas kasur? SHIRUH!"
"Eeh? Setiap orang yang sudah menikah akan melakukan itu Joongie"
"Shiruh! Joongie tidak mau! Joongie tidak mau menyakiti Yunnie, kalau di drama bertarung itu pukul-pukulan, Joongie tidak mau memukul Yunnie shiruh shiruh"
Yunho melongo tak percaya, ternyata Jaejoongienya memang benar-benar masih sangat polos.
"Joongie maksudku bertarung, bertarung untuk hmmmm membuat anak, Joongie mau kan punya baby?"
"Baby? Seperti Yoogeun yang ada di Hello Baby? Mau mau Joongie mau, euunngg caranya bagaimana Yunnie?"
Yunho menampakan seringai mesumnya saat Jaejoong mengatakan caranya.
"Joongie ingin cepat mempunyai baby?" tanya Yunho sok polos.
Jaejoong mengangguk cepat.
"Bagaimana kalau kita lakukan sekarang agar babynya cepat muncul"
"Uhm! Kajja kajja Yunnie kita membuat baby, Joongie ingin punya baby cute seperti Yoogeun"
"Arraso bersiaplah Joongie sayang"
"Kyaaaaaaaaa Yunnie kenapa Yunnie menggendong Joongie lagi?"
Yunho terlihat membawa Jaejoong menjauh dari kerumunan menuju tempat istirahat mereka di sebuah hotel mewah yang sudah disiapkan Jung Appa dan Jung Umma, semua tamu yang melihatnya hanya tertawa melihat keromantisan pasangan YunJae itu.
Akhirnya mereka bahagia, meski banyak hal yang harus mereka lalui, namun inilah faith mereka, takdir yang sudah dituliskan bahwa Jung Yunho dan Kim Jaejoong harus bersama.
Happy Wedding YUNJAE.
THE END
Sampai jumpa di ff berikutnya :D miaaaaaann kl banyak kekurangan di ff ini, typo GJ dll masih jadi kelemahan author yg semoga cepat menghilang karena belajar. Salam YUNJAE!
