Changmin tak makan dengan banyak malam itu, bukan karena dia sakit, tapi karena cuma pada saat itulah kesempatan terbesarnya tiba, dimana ia bisa menelpon appanya dengan bebas tanpa gangguan siapapun termasuk ummanya. Jaejoong sibuk membantu teman-temannya yang lain di dapur tak sadar bahwa Changmin sudah meninggalkan makan malamnya.
Drrt..drrt... Yunho mengangkat ponselnya cepat
"Minnie,"
"Appa..." Suara lantang sang putra terdengar, ia begitu rindu dengan putra semata wayangnya itu
"Minnie, baik-baik saja kan?" tanya Yunho lembut
"Emm," Changmin mengangguk merasakan seolah appanya bisa melihat "Appa, Minnie ada di Ghana sama umma,"
"Ia appa tahu, appa akan menyusul kesana,"
"Jinja?! Nee kesini cepat-cepat ya appa,"
"Memangnya kenapa? Minnie mau dibelikan sesuatu? Apa umma kehabisan uang?"
"Tidak appa." Jawab Changmin "Umma punya banyak uang dalam dompetnya, tapi umma tidak bisa membeli panggung akrobatiknya,"
"Membeli panggung akrobatik?" Yunho balik tanya
"Emm," lagi-lagi ia mengangguk "Panggung akrobatik itu sudah dijual, kasihan umma, dia sedih appa,"
"Nee, kalau begitu Changmin jaga umma ya, nanti appa kesana appa belikan umma panggung akrobatik lagi,"
"Ok appa," dan Changmin menutup telepon sepihak, Yunho kaget ia bahkan belum sempat mengatakan selamat malam untuk putranya. Kebiasaan mematikan telpon sepihak? Changmin benar-benar miniatur Yunho.
"Minnie..." desah Yunho geli
OoooO
Namun berhubung penyelidikan panggung Gisangel berlanjut, dan rapat pemegang saham belum selesai keesokan harinya, keberangkatan Yunho ke Ghaha terpaksa di tunda. Changmin melaksanakan tugasnya dengan baik, ia menjaga ummanya sungguh-sungguh. Keberadaan Jaejoong dan rekannya di rumah sakit itu memberikan bantuan tersendiri, pasalnya hari dimana mereka berkumpul di Ghana untuk mempertahankan panggung adalah hari dimana, rumah sakit itu mendadak banjir pasien, tak sedikit pasien yang datang berobat, tentu saja berkaitan dengan wabah yang beberapa hari ini menyerang warga. Meski tak berpengalaman dalam tindakan medis, namun Jaejoong dan rekannya membantu sebisa mereka.
"Pasien ini, muntah-muntah sejak beberapa hari ini, dan lihat seluruh tubuhnya kering," Junno berkata pada Serra, mereka terlihat kebingungan
"Apa yang harus kita lakukan, mana dokternya," Serra panik, "Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya,"
"Astaga bagaimana ini, dia semakin lemah,"Junno semakin panik, Serra melakukan apa yang bisa, memposisikan pasien sebisa mungkin, dan berusaha untuk menyadarkan pasien dengan terus memanggil namanya. Dalam keadaan serba darurat itu, Changmin yang kala itu seharusnya berada di kamar, keluar tanpa sepengetahuan Jaejoong, ia melihat Junno dan Serra dalam keadaan panik dan bertanya.
"Ahujussi, ahjumma ada apa?" tanyanya, namun suaranya yang kali ini terbilang pelan, tak terdengar olah kadua teman ummanya itu, Serra melihat Changmin berada di dekat mereka, dan buru-buru menoleh kesana kemari memastikan keberadaan Jaejoong
"Minnie, apa yang Minnie lakukan, ayo ke kamar saja, disini banyak orang sakit," Bujuk Serra, merangkul Changmin dan mengajaknya kembali ke kamar
"Emm, orang itu dehidrasi, ahjumma, paling tidak beri ia larutan garam, sebelum sempat di infus," Ucap Changmin polos, sama polosnya seperti pernyataannya jika ingin meminta es krim, Junno dan Serra saling pandang, kemudian mengangguk mantap, Serra berlari entah kemana
"Changmin, apalagi yang harus kita lakukan? Apa yang terjadi dengannya?" tanya Junno
"Diare,emm orang itu harus diberi air minum banyak-banyak" jawab Changmin singkat, tak lama kemudian Serra datang dengan se teko air garam, dan mereka meminumkannya pada pasien itu. Changmin pergi, ia kembali berkeliling mencari sang umma.
Sementara itu di New York, Yunho dan beberapa asistennya menuju ke tempat lain dengen limousin yang berjejer. Tujuan mereka kali ini adalah Perusahaan pusat yang bernama Brown's corp yang bergerak di bidang perhotelan, perusahaan itu adalah pusat dari perusahaan cabang yang telah membeli panggung Gisangel, dan akan menjadikan panggung itu sebuh hotel. Yunho sudah menghubungi bahkan langsung dengan sang CEO, dan mereka terkejut sekali, bahwa Jung Yunho CEO dari perusahaan raksasa Jung's corp ingin bertemu.
Dan disinilah Yunho, duduk berhadapan dengan sang CEO, orangnya bertampang sangar, bertubuh gempal, buncit, berkumis lebat, dan terlihat jelas usianya jauh di atas Yunho, di kelilingi oleh bodyguard masing-masing, menjamu minuman hangat di atas meja, dan tampak sama terhormatnya.
"Ini suatu yang mengejutkan, CEO Jung's corp ingin bertemu dengan saya, apa yang membuat tuan Jung ingin bertemu saya?" sang CEO Brown's corp bertanya dengan sangat sopan
"Saya akan bicara langsung saja, perusahaan cabang anda, sepertinya membeli sebuah panggung akrobatik bernama Gisangel, benarkan," Ujar Jung Yunho, sang CEO yang bernama Alistair Brown, mangut-mangut berusaha menafsirkan maksud semua ini.
"Jadi apa yang bisa saya bantu dengan panggung Gisangel tuan?"
"Saya ingin membeli kembali panggung itu," sentak Yunho langsung, Alistair mengerutkan dahi
"Jadi anda juga menginginkan panggung itu tuan Jung? Apa yang membuat perusahaan sebesar Jung's corp menginginkan panggung yang dibeli oleh perusahaan sekecil kami" tanya Alistair merendah diri, Yunho tersenyum tipis, perusahaan Brown's corp memang tidak ada apa-apanya dibanding Jung's Corp, tapi perusahaan Brown's corp tidak kecil sama sekali, berkelas dan berbenefit besar.
"Bukan saya, tapi seseorang,"
"Oh seseorang yang penting kah? Cinta pertama anda?" Alistair menggoda
"Ia," Jawab Yunho yakin "Istri saya," Lanjutnya kemudian, Alistair tertawa begitu renyah, dan kentara sekali ia terkejut dan terkesan dengan jawaban Yunho.
"Tapi tuan Jung, panggung itu adalah salah satu aset besar dalam industri kami, tempatnya strategis dan semua orang tahu panggung Gisangel, sangat berat sekali untuk saya melepaskannya, mengingat sudah sejak lama kami mengincar lokasi panggung itu," Alistair serius kali ini , matanya kini tampak berkilat penuh ketegasan
"Yah anda pasti tidak mengerti, perusahaan kami tidak sebesar perusahaan Jung's Corp, kami sudah lama berdiri dan kali ini berharap bisa mengepakkan sayap lebih lebar lagi," Lanjut Alistair, berusaha menjelaskan dengan sopan, bahwa ia memang sedang menolak permintaan Jung Yunho
"Sudah saya pikirkan itu," Ujar Yunho mantap "Bagaimana kalau begini, tawaran yang akan saya berikan kali ini, lebih memuaskan dari sekadar kawasan strategis,dan hotel bintang lima di pusat kota New York,"
Alistair memilin-milin kumisnya yang sudah cukup melengkung, Yunho menatapnya dengan tenang seperti biasa.
"Perusahaan besar Jung's corp menawarkan sesuatu yang luar biasa untuk sebuah panggung kecil, anda sepertinya sangat mencintai istri anda, tuan Jung" tutur Alistair
"Bagaimana, apa anda ingin mendengar penawaran saya?" berusaha mengindahkan ungkapan Alistair, Yunho meneruskan
"Apa yang akan anda tawarkan untuk kami?" tanya Alistair
"Saya ingin mengajak tuan Brown untuk bekerja sama dengan Jung's corp, untuk menggarap sebuah pulau kecil yang baru saja kami beli,"kata Yunho, mendengar itu Mata Alistair membulat berseri, mulutnya tercekat seakan waktu berhenti untuknya
"Maksud anda..." Ia berhenti tak yakin
"Mendirikan hotel di pulau itu," Potong Yunho segera
"Mendirikan hotel di pulau itu?" ulang Alistair meyakinkan
"Terserah anda, Lahan dan pajak gratis, bagaimana?" Yunho berkata ringan, seakan ungkapannya adalah bahasa sehari-harinya, mata Alistair semakin membulat
"Anda serius? Tuan Jung?"
"Saya serius, jika anda juga serius menjual kembali panggung itu pada kami,"
"Saya akan serius sekali Tuan, saya bisa memberikannya saja untuk anda,"
"Tidak, bukan begitu caranya berbisnis, beritahu sekretaris saya berapa harga yang ingin anda tawarkan untuk panggung Gisangel, dan kami akan segera transfer,"
Dengan begitu Yunho sambil lalu menyeruput kopi hangat di atas mejanya, dan kemudian berdiri dan berganjak dari tempat duduknya.
"Saya masih ada urusan, dan terima kasih tuan Brown untuk waktunya, saya harus pergi sekarang, senang berbisnis dengan anda," Yunho menjabat tangan Alistair yang dingin dan berkeringat dengan elegan, wajahnya masih arogan, tapi tak dipungkiri pesona yang terpancar diwajah Yunho saat itu, Alistair menganga saking terpesonanya.
"Se...senang, sangat senang juga berbisnis dengan anda Tuan," Alistair begitu gugup hingga hampir menumpahkan kopi diatas meja, saat Yunho melepas jabatan tangannya untuk pergi. Yunho tersenyum sekilas, dan berbalik meninggalkan tempat itu diikuti oleh bodyguardnya yang lain, sang sekretaris langsung mengambil alih tempat duduknya, dan tampaknya bicara serius dengan tuan Alistair.
OoooO
Tak perlu menunggu waktu lama untuk Yunho berangkat ke Ghana, ia langsung menuju bandara dan menaiki pesawat pribadinya untuk menuju ke tempat di mana anak dan istrinya berada sekarang. Sang sekretaris sudah melaporkan kesepakatan yang diminta perusahaan Brown's corp, dan setelah mentransfer sejumlah uang, maka panggung Gisangel kini menjadi hak milik Yunho sepenuhnya.
Sementara itu di Ghana...
"Apa saya bisa bertemu tuan Adofo," seorang wanita mendatangi Jaejoong dan teman-temannya kala mereka sedang istirahat setelah seharian melayani banyak pasien, di tangan kanannya tertenteng tas original bermerk, dan tangan kirinya mendekap sebuah dokumen yang kelihatan penting dari tingkat cara ia menjaganya.
"Ah, Nona Sherry yang cantik," Tuan Adoffo datang dengan wajah berseri-seri menyambut kedatangan wanita cantik itu
"Wah sepertinya anda sedang sibuk tuan," Ujar Sherry sambil melihat sekeliling, Tuan Adofo terkekeh
"Yah, beginilah, lalu apa yang membuat nona Sherry kemari?"
"Saya hanya ingin, menyerahkan surat pemindahan kepemilikan untuk di tandatangani,"
"Oh tentu saja, ayo kita keruangan saya," Tuan Adoffo tergesa-gesa mempesilahkan nona Sherry untuk masuk. Namun tak berapa lama kemudian ia keluar, tertawa renyah dan mereka berdua saling menjabat tangan, tentu saja sekarang panggung itu sudah menjadi milik perusahaan yang diwakili oleh nona Sherry, tapi Jaejoong merasa harus melakukan sesuatu kalau tidak impiannya untuk melihat Changmin menyaksikan pertunjukkan akrobatiknya di panggung Gisangel akan punah, belum sempat sang nona melangkah lebih jauh, Jaejoong dan rekannya langsung menghalangi.
"Ah Nona maaf," Jaejoong tertawa canggung, Nona Sherry memandangnya tak begitu ramah, mungkin tak ingin mengakui terpukau dengan kecantikan ibu satu anak ini
"Kami adalah bintang akrobatik dari panggung Gisangel," Lanjut Jaejoong, nona Sherry memandang Jaejoong dari atas sampai ke bawah
"Lalu..." Ia mendecak seakan berlagak bosan
"Saya tidak berharap bahwa perusahaan nona membatalkan jual beli ini, tapi bisakah... bisakah... emm" Jaejoong ragu "Bisakah anda menjual kembali panggung itu pada saya,"
Nona Sherry terkekeh, terkejut dan tak percaya bintang akrobatik yang baginya tak berkelas sama sekali tiba-tiba mengajukan penawaran mustahil.
"Maaf saya tidak bermaksud merendahkan, tapi harga panggung Gisangel terus meroket ketika berpindah tangan dari satu orang ke orang lain," Katanya lugas
"eh iya, saya mengerti, kalau begitu berapa penawaran yang akan anda berikan?"
Nona Sherry menyipitkan mata tak suka dengan pertanyaan Jaejoong "Maaf, sekadar informasi saja, harga yang anda maksud bukan sesuatu yang bisa anda beli dengan uang tabungan selama bertahun-tahun dari hasil akrobatik, ini lebih dari itu," Katanya sombong, telinga Victoria merah saking marahnya ia maju dan berkata
"Hei, kau pikir dia tak mampu apa?! Kau tahu dia siapa..." Jaejoong menyentak tangan Victoria mencoba menghentikannya
"Maaf jika tersinggung, tapi saya rasa akan membuang waktu membahas ini berlama-lama, permisi" kata Nona Sherry sinis, ia hendak pergi
"Katakan saja," Victoria menekankan "Berapa yang harus kami bayar,"
Nona Sherry tak jadi pergi "Begini saja, saya akan beritahu ini, berapa waktu yang lalu, panggung Gisangel sudah berpindah tangan ke perusahaan raksasa yang membayarnya dua kali lipat dari harga asli," Nona Sherry melipat kedua tangan di dadanya
"Panggung ini akan berpindah tangan lagi?" ucap Jaejoong tak percaya
"Ya sudah kalau tidak ada lagi, saya permisi dulu," Nona Sherry mengibaskan rambutnya angkuh
"Tunggu!" jaejoong menahannya, Sherry berhenti dan memutar bola matanya dengan malas
"Hari yang buruk kurasa,"Gumamnya pada dirinya sendiri
"Katakan perusahaan besar mana yang membeli Panggung Gisangel?"
"Ah, kau akan terkejut mendengarnya," Ia tersenyum meremehkan "Jung's Corp," tutur Sherry, mata Jaejoong membulat, dan teman-temannya yang lain saling pandang dan berbisik
"Mwo!" Jaejoong terpekik kaget, Changmin mematut wajah polosnya, dan kembali meneruskan bemain game portablenya.
"Hah sudah kuduga kau akan terkejut, sekarang kau mengerti maksudku kan nona..." ia memandang Changmin di samping Jaejoong dan buru-buru meralatnya "Nyonya maksudku..."
"Kau serius, Yunho... eh maksudku Jung's corp membelinya? Tapi atas dasar apa?"
"Saya tidah tahu, kalaupun saya tahu, anda juga tak berhak tahu," Ketus Sherry "Lupakanlah Nyonya, carilah pekerjaan lain, anda tidak akan mau berurusan bisnis dengan Jung's Corp kan,"
"Khee..." Victoria terkekeh "Urusan suami istri maksudmu," Gumamnya pelan, meski Sherry tak mendengarnya tapi berhasil membuat Sherry tersinggung. Jaejoong tak tahu harus bagaimana, namun begitu sadar ia segera menatap Changmin di sampingnya.
"Minnie-ya, katakan pada umma, Minnie..."Jaejoong tak meneruskan ucapannya
"Umma, lihat," Changmin menunjuk ke atas, tepat ketika suara deru helikopter memburu mendekat ke arah mereka, Jaejoong dan yang lain menyingkir termasuk nona Sherry yang pada akhirnya tak juga pulang karena terus-terusan di tahan, helikopter itu terbang semakin rendah, dan mendarat, di halaman rumah sakit yang super luas.
"Appa," Changmin berteriak kencang, berlari sebagaimana anak kecil seumurnya. Jaejoong tersentak tak sempat menahan Changmin, Nona Sherry mengerutkan dahi bingung
"Minnie hati-hati," teriaknya, dan sosok yang keluar terlihat jelas, Jung Yunho..
"Oh," Sherry kaget menutup kedua mulutnya dengan tangan melihat sosok keren Yunho yang baru turun dari helikopter, teman-teman Jaejoong yang lain termasuk Victoria juga sama terkejutnya melihat kedatangan Jung Yunho, bahkan Tuan Adoffo segera keluar dari ruangannya dan berlari menyaksikan keriuhan di luar, matanya sembab, oh, sepertinya ia habis menangis. Dengan setelah jas mewahnya Yunho selalu tampak bersih dan rapi, kaca mata hitamnya membuat sosok Yunho terlihat lebih tampan dan eksotis. Beberapa wanita yang melihatnya menelan ludah beberapa kali, tak terkecuali Nona Sherry dan Victoria.
"Yunnie," gumam Jaejoong tanpa suara
Changmin berlari menghampiri appanya dan segara memeluk sang appa dengan kuat, Yunho balas memeluknya
"Minnie makannya banyak?" Tanya Yunho memastikan kondisi sang anak, seperti yang kita tahu bahwa nafsu makan Changmin adalah tolak ukur kesehatannya, Changmin mengangguk senang
"Appa, sudah belikan umma panggung Gisangel kan," ujarnya, Yunho mengangguk, ia menggendong Changminnya dan membawanya kepada Jaejoong yang masih membeku di tempat.
"Waktunya pulang Boo," Ujarnya kalem, meski ada nada dingin dan rindu dalam suaranya, Nona Sherry matanya tak berkedip memandang Yunho dan Jaejoong bergantian dan nafasnya jadi setengah-setengah
"Yunnie," Jaejoong merengek "Gomawo," Isaknya dan langsung memeluk suaminya penuh sayang, Yunho mendekap Jaejoong dengan tangannya yang satu lagi
"Oh," Nona Sherry kembali membekap mulutnya dengan kedua tangannya
"Anda istri tuan Jung? Anda Nyonya Jung Jaejoong?" Sherry berkata tak percaya, Jaejoong melepas pelukannya menyeka air matanya dengan punggung tangannya
"Jung jaejoong imnida, maaf sudah merepotkanmu tadi," Ujar Jaejoong ramah membungkuk sedikit, Nona Sherry hampir oleng kebelakang saking terkejutnya
"Ah tidak saya yang harus meminta maaf karena bersikap kurang sopan tadi,"nona sherry menunduk cepat dan lebih dalam, rambutnya yang bergelombang rapi sampai berantakan dibuatnya. Tuan Adoffo maju dan segera menyapa Yunho
"Ah tuan Jung, suatu kehormatan bisa melihat anda sedekat ini,"
Yunho tersenyum tipis "Terima kasih karena sudah memberikan tumpangan pada istri dan anak saya," kata Yunho merendah, Tuan Adoffo terkekeh canggung
"Mereka semua sudah seperti keluarga buat saya,"
"Jadi rumah sakit ini milik anda tuan Adoffo,"
"Ah iya tuan Jung, kakek saya dimasa kejayaannya mendirikan rumah sakit ini, seiring waktu sepertinya rumah sakit ini terlalu menelan banyak biaya, dan dari sedikit penghasilan yang kami punya, hanya seperti inilah yang mampu kami pertahankan," Jelas Tuan Adofo bercerita, Yunho tersenyum penuh arti, tak lama kemudian sang sekretaris dan asistennya datang menghampirinya, mereka menyapa dengan penuh sopan pada Jaejoong dan Changmin yang masih dalam gendongan Yunho.
"Tuan Jung, ini,..." Tiffany sekretaris Yunho menyerahkan sebuah map pada Yunho, Changmin turun dari gendongannya, dan langsung di rangkul Jaejoong.
"Kami dari Jung's Corp sudah menandatangani pemindahan kekuasaan terhadap panggung Gisangel dan menjadikannya di bawah kepemilikan Jaejoong, apa anda keberatan Tuan Adoffo?" tanya Yunho, baik Jaejoong maupun tuan Adoffo sama-sama terkejut
"te.. tentu tidak, lagipula saya sudah menerima sejumlah uang dari hasil penjualannya," katanya menenangkan, Yunho tersenyum dengan tenang, kali ini memakai kaca mata minusnya, dan selalu saja ia masih terlihat keren.
"Tuan Adoffo, Panggung Gisangel tetap akan berjalan," ujar Yunho kalem "Istri saya dan yang lain, akan tetap melakukan pertunjukkan di panggung itu, dan anda bisa tetap menjadi direkturnya..."
"Ah benarkah? Yunnie mengijinkan Jongie kembali ikut?" Yunho mengabaikan Jejoong dan kembali berucap
"Tapi semua hasil penjualan tiket di tujukan untuk rumah sakit ini," Tuan Adoffo membelalakkan matanya yang besar, dan seakan matanya hendak keluar dari kelopaknya ia berkata
"Anda serius tuan Jung?" tanya Tuan Adoffo tak percaya, matanya mulai berair
"Uang hasil penjualan panggung Gisangel pada perusahaan Brown's corp silahkan digunakan sebijaksana tuan, dan kami akan membantu sedikit dengan perlengkapan rumah sakit," Yunho meneruskan, tak sediki dari orang-orang yang disitu terharu, bahkan Nona Sherry terlihat terpesona, mungkin pada Yunho. Tuan Adoffo terbungkam dalam, dan ia tak bisa berkata apa-apa selama beberapa menit. Yunho menatap istrinya kali ini.
"Dan saatnya kita pulang, Changmin harus masuk sekolah,"Kata Yunho, Jaejoong tersenyum simpul, menahan air mata kebahagiaan yang hendak menetes, dan ia mengangguk.
"Gomawo Yunnie-ya," Jaejoong memeluk Yunho sangat erat, Yunho membiarkan istrinya menangis di pelukannya, dan teman-teman Jaejoong yang lain juga menangis bersamanya. Bahagia sekali jika panggung Gisangel bisa tetap berdiri untuk mereka. Tuan Adoffo yang sudah sadar sepenuhnya terisak lebih keras dari yang lain, dan ia masih tak sanggup berkata-kata, satu-satunya ucapan yang berhasil keluar tak berhenti dari mulutnya adalah
"Terima kasih"
OoooO
Di pagi yang dingin ini, dua Appa dan anak sedang duduk berseberangan, saling menikmati sarapan, terlihat di sisi satunya sang appa sibuk dengan gadgetnya.
"Appa, umma..." Changmin tak meneruskan ucapannya, melirik sekilas kearah dapur dimana sang umma dengan riang sedang membantu menyiapan sarapan.
"Umma sedang sibuk, Minnie mau apa?" Tanya Yunho lembut, kini sudah melepas Gadget dari pandangannya , Changmin tak menjawab, ia meneguk susu sekenyangnya dan berganjak menghampiri sang Appa.
"Appa, Minnie tidak bisa menyelesaikan ini," Changmin duduk di pangkuan sang appa dan membuka buku berhitungnya, perhitungan rumit yang tak sesuai umurnya.
" Berat sekali," Yunho mengelus rambut Changmin sayang, "Changminnie, berapa kali appa bilang, Minnie tidak mempelajari ini di SD,"
"Tapi Minnie sudah menyelesaikan semua soal," Jawab Changmin ngotot
"Tidak! Tidak masalah dengan menggampangkan semua persoalan, tapi semudah apapun masalah itu kita harus mengenalnya lebih dulu," Nasehat sang Appa, Changmin diam, berusaha mencerna dengan baik maksud sang appa
"Kalian bicara apa?" Jaejoong datang dengan sepiring nasi goreng merah menyala, yang di duga super pedas, Changmin turun dari pangkuan appanya dan duduk kembali di tempatnya.
"Minnie, ya, nanti, Minnie tidak usah pergi dengan supir ya, nanti Umma yang akan mengantar Minnie," Ucap Jaejoong sambil menyendok nasi goreng itu, ke piring Yunho dan Changmin.
"Tidak," Tegas Yunho, ia mengusap gadgetnya, "kali terakhir kau melakukannya aku sampai harus membatalkan rapat penting untuk menjemputmu di kantor polisi,"
"Tidak akan terjadi lagi Yunnie, Jongie janji," Pohon Jaejoong penuh harap, Changmin di sampingnya tampak tak peduli, ia menyendok nasi goreng ke dalam mulutnya
"Tidak!" Yunho masih keukeuh dengan pendiriannya
"Yunnie... Minnie-ya, Minnie mau kan berangkat dengan umma?" Tak mempedulikan tatapam tajam suaminya, Jaejoong beralih menatap sang anak, alih-alih menjawab mulut Changmin sudah terisi penuh dengan nasi goreng dan kelihatan sekali ingin menyendok lagi.
"Minnie-ya! Pelan-pelan makannya," Omel Jaejoong akhirnya
Changmin berangkat dengan diantar supir dan para bodyguardnya, sudah menjadi kebiasaan jika anak miliyarder satu ini selalu ditemani bodyguard, berbeda dengan sang umma, Changmin kelihatan sekali tidak risih dengan bodyguard atau mungkin tidak peduli. Sementara Yunho, mengingat betapa marahnya Jaejoong tidak berhasil membujuknya untuk mengantar Changmin, Yunho memutuskan untuk mengajaknya bersama-sama mengantar Changmin ke sekolah asramanya dengan supir
"Jongie tahu, Yunnie, sengaja kan melakukannya,"
"Melakukan apa?" tanya Yunho sabar
"Sengaja melakukannya supaya Jongie tidak kabur dan membawa mobil sendiri kan?"
"Emmm, tahu dari mana," ujar Yunho santai
"Pokoknya Jongie tahu," Tegas Jaejoong berapi-api, dan Yunho kelihatan tidak peduli. Sementara Changmin tak jauh lebih baik, kembali bermain game portable dan tenggelamlah ia di dunia tiga dimensinya itu.
OoooO
Jaejoong menangis pilu melepas putranya saat hendak memasuki wilayah asrama, Changmin memutar bola matanya dengan malas, ummanya membuat para guru yang mengantarnya kebingungan, meski begitu Yunho tampak santai saja, ia meraih bahu Jaejoong dan mencoba menenangkan istrinya.
"Minnie rajin-rajin belajar ya," Nasehat Yunho sambil mengusap-ngusap puncak kepala Changmin, dan tangisan Jaejoong semakin pecah
"Minnie,..hiks...hiks...umma...hiks hiks pasti kangen... hiks hik setiap hari... huaaaa," dan meledak lagi tangisnya, Yunho tersenyum geli, Changmin kemudian kembali mendekati ummanya, dan memeluk ummanya penuh sayang.
"Umma jangan nangis, Minnie akan menonton pertunjukkan akrobatik umma, kalau umma berhenti menangis," Jaejoong buru-buru menghentikan tangisnya, dan mengangguk mantap, Yunho tersenyum melihat tingkat konyol istri dan anaknya. Setelah melambaikan tangan berkali-kali sambil menyeka air matanya terus menerus, Jaejoong akhirnya mau pulang juga, itu pun setelah Yunho akhirnya mengeluarkan ultimatum untuk tidak akan mengijinkannya bertemu Changmin selama 6 bulan penuh, jika ia masih tak berhenti menangis dan tidak mau pulang.
Jaejoong benar-benar tak lagi menangis setelah itu, di dalam limousin mereka, ia duduk bersebelahan dengan Yunho, menyandarkan kepalanya pada bahu Yunho, sementara Yunho merangkulnya, Jaejoong tak bicara sepatah katapun sejak tadi, dan Yunho mulai tak suka.
"Baiklah boo..." katanya kemudian, Jaejoong bingung dan segera mengangkat kepalanya menatap Yunho, matanya masih sembab.
"Kita akan menjenguk Minnnie sebulan sekali, bagaimana," Tukas Yunho, Jaejoong mengerjap lucu
"Aku akan bicara dengan pihak sekolahnya,"lanjut Yunho, Jaejoong masih mengerjap, Yunho menatapnya hangat
"Emm kemarilah..." Yunho merentangkan tangannya, bermaksud ingin memberikan pelukan hangat untuk istrinya, tapi Jaejoong bergerak lebih cepat, mendadak sendi-sendi ditubuhnya bereaksi dan belum sempat Yunho meneruskan tindakannya, Jaejoong langsung menerkamnya dan menciumnya.
"Ummmuaaacccch..." kecupnya "Yunnie, saranghae, Yunnie yang terbaik saranghae..." dan ia kembali mencium Yunho, supir di depan mereka, merasa wajahnya memerah seperti tomat, dan buru-buru memasang tampang polos.
"Bisa tidak lakukan ini dirumah saja,"
"Tidak bisa... saranghae Yunnie..."
"Nado saranghae boo..."
"Yunnie adalah suami terbaik di dunia,"
"Dan kau adalah istri paling merepotkan di dunia,...menculik anak sendiri... darimana kau mendapat ide buruk itu?"
"Itu naluri seorang ibu Yunnie,"
"Hanya kau yang mempunyai naluri ibu, menculik putra sendiri,"
"Ya Yunnie, kenapa menyalahkan Jongie terus sih,"
"Aku akan terus mengatakan ini boo, bisakah kau tidak membuat masalah lagi?"
"Emm, akan Jongie pikirkan,"
"Hah, sudah kuduga,"
OoooO
Seperti yang sudah saya janjikan, saya akan mempostingnya di hari ulang tahun saya, ulang tahun kali ini sepi sekali...
Well secara keseluruhan apakah kalian menyukai ceritanya?
Untuk semua yang sudah memberikan reviewnya terima kasih banyak, untuk ucapan selamat ulang tahun dan doanya juga saya ucapkan terima kasih banyak, buat yang memfavorite-kan dan memfollow cerita ini juga terima kasih banyak, untuk siapapun yang membacanya juga terima kasih banyak
Selamat Membaca, Terima Kasih
