Huaa... chorus dua, lho!! Sudah sampai chorus dua!!
Walau jujur aja, ceritanya berjalan dengan alur yang lambat...
Habis, tiba2 ide saya mandeg, ni... TT
Ada yang bisa kasih ide?
-Nama Fuhrer baru saya ambil dari fict returning Echoes karya silkendreammaid. Maaf ya, sudah asal nyomot nama...-
Disclaimer:
Punyaku, dong!! -dijitak Arakawa-
Ya, ya, Oom!! Bawel amat, sih! -dijewer-
Selalu, Fullmetal Alchemist dan tokoh-tokohnya itu punya Hiromu Arakawa.
Terus, Michael Sterben punya silkendreammaid...
Summary:
Satu kejutan baru lagi...
- RoyfemEd, slight: AlWin, JeanRiza-
Fate Sonata
Chorus 2
Promotion, Again
Roy mengemudikan mobilnya perlahan. Matanya menyapu jalanan Central yang mulai berbenah menyambut lagi kehidupan setelah perang yang baru pertama kali itu melandanya. Para pedagang mulai kembali menggelar dagangannya di kaki lima, taksi-taksi mulai berkeliaran lagi, para pejalan kaki juga meramaikan trotoar.
Pikirannya melayang ke seminggu sebelumnya. Saat ia harus sebentar-sebentar menjentikkan jari ke arah para pasukan militer yang berusaha menghalanginya memasuki markas militer Central. Saat itu ia harus terus berlari, dengan bantuan para anak buahnya yang setia, yang rela mempertaruhkan, tak hanya pekerjaan dan jabatan tapi juga nyawa mereka.
Tiba-tiba ia melihat seorang bocah perempuan berambut pirang yang sedang duduk di pinggir jalan. Entah kenapa gadis itu menarik perhatiannya. Mungkin karena rambut pirang madunya mengingatkannya pada seseorang. Gadis itu memeluk boneka beruang putih yang di lehernya terikat pita merah. Tampaknya ia sedang menunggu seseorang. Tiba-tiba gadis itu menoleh. Lalu tersenyum lebar. Sepertinya orang yang ditunggunya telah datang. Benar, ibu gadis kecil itu datang menjemputnya. Sepertinya ibunya tadi sedang berbelanja.
Roy tersenyum melihat gadis itu tersenyum riang. Dia senang. Karena setidaknya satu harapan kecilnya, agar lebih banyak senyum mengembang di Amestris sudah terwujud.
Tapi tiba-tiba wajahnya mengeruh. Ia melihat seorang pria berjalan dengan kruk baru saja keluar dari sebuah apotik. Ia menghela nafas panjang. Jalan untuk menggapai cita-citanya,untuk mensejahterakan Amestris, agar semua orang yang tinggal di Amestris bisa bahagia, masih amat panjang. Tapi lihat saja, perang yang barusan saja terjadi malah seakan membuat impiannya menjauh lagi.
Ia tahu jalannya masih panjang. Dan ia takkan pernah menyerah. Karena ia tahu. Dia juga takkan menyerah. Ia bisa melihat kilau semangat di matanya yang baru saja dijenguknya tadi.
Jalan kita masih panjang.
Dan tak ada alasan untuk menyerah sekarang.
Iya 'kan?
Al dan Winry masuk ke bangsal di mana Ed dirawat ketika akhirnya suster dan dokter keluar setelah memeriksa kakaknya itu. Ed diam menatap keluar jendela kamarnya. Sepertinya dia entah sedang memikirkan apa, dia sama sekali tak menyadari Al dan Winry memasuki kamarnya.
"Kak…"
Ed menoleh, tampak terkejut tapi lantas tersenyum.
"Bagaimana kencan kalian setelah sekian lama?" ujarnya dengan satu cengiran menghiasi wajahnya.
Wajah Al langsung merah padam 'ditembak' kakaknya begitu. Winry juga, hanya saja dia masih bisa membalas ledekan Ed.
"Apaan, sih! Kan kamu yang menyuruh kami makan siang? Dasar maniak alchemist aneh!" katanya tanpa pikir panjang.
Ed nyengir lagi. Hanya saja kali ini Al merasa itu bukan cengiran biasa. Ada kepedihan yang tak kasat mata di sana.
"Ed…," nada suara Winry berubah jadi lebih tegas, "Susunya tidak kau minum lagi, ya?"
Ed membatu. Dan memalingkan wajahnya.
Winry kenal reaksi Ed yang satu ini. Hafal malah. Gara-gara Ed selalu begini tiap kali ada susu terhidang di depannya.
"Kalau begini kapan kamu sembuh, hah??"
"Tanpa minum 'itu' juga aku tetap sembuh, kok!!"
"Susu itu bagus untuk kesehatan, tahu!"
"Kalau begitu kau saja yang minum!!"
"Susu itu kan untukmu, Nona Pasien!!!"
Tiba-tiba Ed terdiam. Wajahnya menegang.
"Ed?" tanya Winry hati-hati.
Apa aku sudah menyakiti perasaannya?
Ed menggelengkan kepalanya perlahan.
"Tidak apa-apa," dia tersenyum meyakinkan Winry, seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja, tidak apa-apa, seperti biasa, "Aku hanya belum terbiasa dengan panggilan itu."
Al merasa ada yang menusuk jantungnya dan menyayatnya perlahan waktu mendengar Ed mengucapkan hal itu.
"Anda sangat terlambat, Sir."
Baru saja menginjakkan kaki di kantor, ajudannya yang setia sudah menyambutnya dengan tatapan tegas dan wajah garang. Wajar saja jika sang ajudan, yang kini berpangkat Kolonel, marah. Kantor sekarang sedang kekurangan orang dan atasannya ini tiba-tiba menghilang. Di hari biasa, ia mungkin cuma akan menodongkan pistol ke kepala atasannya itu. Tapi sayangnya ini bukan hari biasa. Karena ini hari-hari paling sibuk di Central Headquarter. Jadi, kemungkinan ia akan menembakkan pistol itu lebih besar lagi sekarang.
Roy melepaskan mantelnya dan tersenyum, berusaha tampak sepolos mungkin. Meskipun ia tahu, walau senyumnya itu maut untuk para gadis yang selalu antri untuk diajaknya kencan, senyumnya itu takkan mempan pada sang ajudan. Lagipula, mana bisa mempan, kalau target jurus itu sudah melihatnya selama bertahun-tahun?
"Senyuman Anda takkan mempan pada Ma'am, Sir." komentar Breda yang sedang meneguk secangkir black coffee dengan nikmat.
"Bukan maksudku untuk terlambat, Hawkeye. Tadi aku terjebak macet. Tahulah… " Roy masih saja berusaha ngeles.
"Paperwork Anda menunggu di atas meja, Sir." potong Riza tegas.
Roy menghela nafas panjang. Dia benci paperwork. Bahkan lebih benci daripada hujan. Dia berjalan lunglai ke arah ruang kantornya sendiri, yang letaknya lebih ke dalam lagi.
"Anda dari rumah sakit lagi, ya?" tanya Riza, gerakan tangan Roy yang sedang memutar kenop pintu ruangannya terhenti.
Roy tersenyum dan menoleh, "Aku tak bisa menyembunyikan apapun darimu, Kolonel."
"Bagaimana kondisinya?" tanyanya lagi tanpa ragu.
Itu yang Roy kagumi dari seorang Riza Hawkeye, kepastiannya dalam menghadapi apapun. Ia takkan pernah ragu dalam mengambil suatu keputusan. Karenanya ia bisa dengan lega menitipkan punggungnya pada wanita itu. Ia akan jauh lebih lega lagi kalau bisa menemukan seseorang yang cocok untuk Riza. Setidaknya itu akan membuatnya bisa menegakkan kepala saat berkunjung ke makam gurunya, yang tidak lain adalah ayah Riza.
"Jauh lebih baik dari kemarin, tentu saja," Roy mengangguk, mengiyakan ucapannya sendiri, " Dia bahkan sudah bisa mencelaku lagi."
"Dia benar-benar membaik kalau begitu" tanggap Breda lagi.
Roy tersenyum lagi. Tampaknya semua orang berpikiran sama dengannya. Edward yang sehat adalah Edward yang selalu mencelanya tiap kali ada kesempatan. Herannya, itu sama sekali tidak membuat Roy terganggu. Dia memang bilang dia merasa kesal dan terganggu. Tapi pada kenyataannya, dia sangat menikmati tiap pertengkaran kecilnya dengan Edward. Karena memang itu menyenangkan.
"Kurasa dalam beberapa hari ini ia sudah bisa pulang dari rumah sakit" tambah Roy lagi.
"Baguslah kalau begitu" ucap Riza, suaranya penuh dan wajahnya menunjukkan ekpresi penuh kelegaan.
"Perlu syukuran, tuh, Sir" celetuk Breda lagi.
Roy yang peka terhadap segala celetukan anak buahnya itu langsung menyahut.
"Kalau yang kau maksud aku harus mentraktir kalian. Jangan harap," ucapnya tegas.
Roy tersenyum dalam hati, mengetahui banyak orang, tak hanya dia, walau ia tak pernah menyebutkannya, yang menyayangi dua bersaudara itu.
Roy memutar kenop pintunya lagi. Baru saja ia hendak melangkah ke kantor dalam, kantornya sendiri, ketika pintu kantor luar terbuka. Dan muncullah Falman dengan setumpuk kertas di tangan. Tanpa diberitahu pun, Roy yakin itu paperwork yang harus timnya dan tentu saja juga dirinya, kerjakan.
"Ah, kebetulan Anda sudah datang, Sir," dari belakang Falman muncul Fuery, yang juga membawa setumpuk kertas yang tampaknya amat berat, "Fuhrer mencari Anda."
"Fuhrer?"
Roy heran. Ada apa Fuhrer baru itu memanggilnya? Bukannya mereka nanti juga akan bertemu di sidang umum militer yang akan diadakan kurang lebih 3 jam lagi?
"Anda diminta segera menghadap ke kantornya," jelas Fuery, "Kira-kira kenapa, ya?"
"Mungkin Anda akan dipromosikan lagi, Sir." celetuk Breda membuat Roy meringis mendengarnya.
Baru saja ia dipromosikan menjadi Mayor Jenderal, masa dipromosikan lagi? Kelihatannya mustahil.
"Kalau benar, kalian kutraktir makan di Dominic's." ujar Roy.
Jelas ia tak bersungguh-sungguh dengan janjinya itu.
Tapi akan lebih dari lumayan bila itu benar-benar terjadi. Dominic's kan restoran yang cukup bergengsi di Central, bahkan di Amestris. Ditraktir di sana? Siapa yang akan menolak?
"Kurasa paperwork bisa menunggu, Kolonel." kata Roy yang lantas beranjak keluar kantornya dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Paperwork itu takkan pergi ke mana-mana, Sir." ujar Riza, seraya menatap Roy tajam dan berkata dalam diam, 'akan kupastikan peluru ini menembus otakmu kalau kau berani melalaikan paperwork-paperwork itu'.
Michael Sterben. Dilahirkan di kalangan elit politik dan kemiliteran, turun temurun keluarganya menjadi pejabat militer dan keluarganya termasuk keluarga berpengaruh di Amestris, membuatnya mendapatkan semua yang dibutuhkan untuk merangkak ke atas. Dengan dukungan sebagian besar anggota parlemen, dengan pasti, dia menduduki kursi Fuhrer. Dia termasuk golongan moderat. Demokrat. Dan sangat menghargai bibit-bibit muda berbakat seperti Roy Mustang.
Dia sudah banyak mendengar tentang sepak terjang Flame Alchemist itu di perang Ishvall dan kemiliteran. Dia termasuk salah satu orang yang kagum padanya, yang bisa menjadi Kolonel bahkan di usia belum mencapai kepala tiga, tanpa backing dari siapapun, mengingat setahunya Roy Mustang itu seorang yatim piatu. Dia tahu bahwa Roy Mustang memiliki kapabilitas untuk menduduki jabatannya, lebih daripada dirinya. Tapi dia tak mau melepaskan jabatannya begitu saja. Banyak orang menginginkan dirinya ada di sini, dan ia tak ingin mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan padanya. Walau pada dasarnya ia merasa curang juga karena kemenangannya dari Roy Mustang itu lebih disebabkan oleh kuatnya backingnya. Bukan karena kemampuannya.
Meski begitu ia tak berkecil hati dan juga tak berusaha untuk menjegal Roy Mustang, dengan cara seperti mengirimnya ke Briggs atau melemparnya ke East City. Dia akan memberinya jabatan yang pantas untuknya.
Oleh karena itulah ia memanggilnya sebelum sidang umum nanti.
TOKTOKTOK.
Ketukan di pintu membuat Michael menoleh dari paperworknya.
"Masuk."
Pintu terbuka dan jenderal bermata satu yang ia tunggu-tunggu muncul dan memberi hormat padanya.
"Silakan masuk, Mayjen." ujarnya mempersilakannya masuk.
Roy melangkah masuk dengan langkah tegap. Michael tersenyum penuh wibawa. Ia jadi makin yakin pria di depannya ini juga pantas untuk duduk di 'singgasana' yang ia tempati sekarang.
"Apa kau tahu kenapa kau kupanggil kemari, Mayjen?" tanyanya, mencoba menguji pria di depannya itu.
"Tidak, Sir."
Roy menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tak punya gambaran kenapa dia dipanggil kali ini. Rasa-rasanya dia tak melakukan kesalahan apapun. Kalau prestasi… jangan ditanya. Bukannya sombong tapi memang jumlah prestasinya dan timnya sudah terlampau banyak. Sampai-sampai sulit menghitungnya.
Michael tersenyum. Mungkin apa yang akan dilakukannya ini bakal ditentang sesepuh militer Amestris, dan juga parlemen, tapi dengan kemampuannya meyakinkan orang, dia yakin semua orang akan setuju, karena dia memang punya bakat alam dalam hal yang bersifat argumentatif dan persuasif, juga karena orang di depannya lebih dari mampu untuk menerima tugas ini.
"Langsung saja," Michael menatap Roy lurus, "Mayor Jenderal Roy Mustang, Anda akan diangkat menjadi Kepala Pasukan Internal Amestris. Dengan itu, pangkat anda sekarang menjadi Letnan Jenderal. Pengesahan akan dilakukan di sidang umum militer nanti sore."
Roy tertegun. Dia tak mampu berkata-kata. Speechless.
Serius?
"Kenapa, Jenderal? Terkejut?"
Michael ingin tertawa melihat ke-cengo-an Jenderalnya itu. Sepertinya dia tak mengira Fuhrer baru itu bisa membuat keputusan se-ekstrim itu. Mengangkat rival terberatnya menjadi orang kedua di bawahnya, yang bisa menggantikannya sewaktu-waktu jika terjadi sesuatu padanya, itu tindakan nekat.
Bagaimana jika sang orang kedua malah mencelakainya?
Tidakkah dia berpikir sampai ke sana?
"Kau tak mengira kalau aku akan melakukan ini, ya?"
Roy menatapnya lurus. Bukan tatapan yang menantang. Tapi tatapan yang meminta jawaban.
"Aku mempercayaimu, Jenderal. Kau orang yang bertanggung jawab, meski aku tahu kau benci paperwork. Kau orang yang bisa pasang badan demi bawahan-bawahanmu, dan kau orang yang juga punya kapabilitas untuk duduk di kursi yang sekarang kududuki."
Roy diam. Kagum dengan kejujuran orang di depannya yang mengingatkannya pada seseorang.
"Aku bukan orang bodoh yang akan melemparmu ke Briggs hanya karena kau punya kemungkinan melemparku dari kedudukanku sekarang. Tidak. Aku orang yang selalu memanfaatkan kesempatan sekecil apapun untuk membangun negeri ini. Jadi, aku akan memanfaatkanmu kali ini," ucapnya ringan, lalu tambahnya, seolah ia hampir lupa bilang, "Tapi kau bisa menolak kalau kau ingin."
Rpy tersenyum. Dia juga tipe orang yang tak pernah melewatkan peluang sekecil apapun untuk meraih mimpinya.
Roy mengangkat tangannya, memberi hormat pada sang Fuhrer.
"Saya terima pengangkatan ini, Sir," matanya lurus menatap Michael, Michael bisa melihat kesungguhan yang terpatri di sana, "Dan saya tak akan mengecawakan Anda."
Michael tersenyum.
"Bagus. Kau bisa pergi sekarang," Michael melambaikan tangannya menyuruh sang Jenderal keluar ruangannya.
Baru saja Roy berbalik, Michael bertanya, "Oya, kau perlu kantor baru?"
"Saya rasa tidak, sir. Saya sudah nyaman dengan kantor saya sekarang."
"Ya, sudah."
Roy membuka pintu.
"Sampai jumpa di sidang umum nanti, Sir."
"Sampai jumpa, Letnan Jenderal."
"Ah… "
Roy baru ingat. Dia sudah berjanji untuk mentraktir anak buahnya nanti malam di Dominic's jika dia dipromosikan lagi.
Duhh…
Roy mengambil dompetnya. Mengecek isinya.
Tampaknya dia harus ke bank, mengambil uang, setelah rapat nanti sore.
Bersambung…
Huehehheheh….
Masih gak jelas, ya?
Emang belum. Romancenya belum keluar. Masih jauh, sih.
Tetap setia baca, ya…
And, thanks banget buat yang sudah review :
kuro unagi, shizuka daihyooga, cute apple, agate…
Sayang, saya belum bisa memberikan fict yaoi yang Anda harapkan… -digebuki ramai-ramai-
Tunggu saja, ya…
Please, read and review
Luv,
sherry
