Naruto by 'Masashi Kishimoto'"THE RED HAIR COUPLE" – Uchiha Cla

Chapter4:The Problem Make A Grudge!

Disclaimer: Tokoh karakter, tempat, dan property lain milik pencipta asli (kecuali Fushame). Hanya untuk berbagi cerita dan hiburan semata!

Warnings: AU, OC & OOC, Many clarify and dialogue, 'cripsy' crack and kidding, mystery and many skip time! Just two choice, "READ" or "DON'T Read"…

R&R please…? HAPPY READING!

Fushame menghela napas. Mendengus begitu pertanyaan temannya yang tidak masuk akal.

"Ouh! Kalian sangat serasi, loh!" teriak Sakura dengan cukup keras. Sambil menunggu makanan mereka siap dimakan, mereka berkata-kata yang tidak jelas tentang Fushame dan Gaara.

"Fushame, bagaimana kau bisa begitu? Tidak cerita hal yang begitu penting pada kami," kata Tenten.

"Iya, Fushame. Aku tak menyangka ternyata kau dan Gaara…" kata Ino, tapi tersendat oleh perkataan Fushame.

"Kami tidak ada hubungan apapun," katanya tegas sambil menundukkan kepala.

"Apa?" Tanya Ino tidak yakin.

"Sungguh," kata Fushame mulai mengangkat kepalanya. Mereka bertiga saling bertatapan satu sama lain. Dan bodohnya mereka, mereka baru mengingat kalau Fushame tidak kenal dengan Gaara. Begitu juga Gaara.

"Kami baru berkenalan, tadi kami menyelesaikan misi bersama. Oleh karena itu aku berjalan bersamanya," lanjut Fushame lagi.

"Oh, jadi begitu Fushame. Maafkan kami karena telah berbicara yang bukan-bukan," kata Sakura merasa bersalah.

"Tidak apa, bukan masalah," sahut Fushame dengan tersenyum kecil tapi terlihat menghangatkan hati.

"Sudahlah, tidak usah pikirkan lagi. Malam ini kita akan makan sepuasnya," kata Tenten. Semua tertawa mendengar perkataan Tenten.

Fushame yang sekarang, bukanlah Fushame yang dahulu yang suka marah-marah besar. Ia yang sekarang lebih tenang dan sabar. Malah, kini ia sudah tidak pernah marah-marah lagi. Oleh karena itu, banyak orang di Konoha yang menyukai Fushame. Baik dari sikap maupun kemampuannya. Kira-kira apa yang dapat membuat Fushame marah besar lagi?

Pagi. Cerah, matahari bersinar terang seperti biasanya. Daun-daun beterbangan ke sana-ke sini. Suasana masih sepi dan terlihat sunyi senyap. Mungkin hanya ada beberapa orang ibu rumah tangga yang menyapu dedaunan di halaman rumahnya.

Yah, begitulah keadaannya pagi ini. Pukul 06.00. sepi, terang, sedikit sejuk, dan tenang.

"Kau yakin? Bukankah tempat itu sudah tidak ada lagi?" Tanya Tenten yang berjalan di sebelah Fushame.

"Bukannya ga ada, tapi emang udah ga boleh didatengin lagi," sahut Fushame. (Reader: kalo ga boleh kenapa masih dateng ke situ? Aneh!)

Ralat!

"Kau yakin? Bukankah tempat itu sudah tidak ada lagi?" Tanya Tenten yang berjalan di sebelah Fushame.

"Hmm," sahut Fushame hanya berupa helaan napas. "beberapa bulan yang lalu aku sering berlatih di sana bersama Sasuke dan Itachi – san," lanjutnya.

"Oh, ternyata keluarga Uchiha sering berlatih dikala pagi seperti ini, ya?" kata Tenten sambil mengibas-ibaskan tangan sebelah kanannya.

"Hn," sahut Fushame singkat.

"Bisakah setidaknya kau menjawab dengan kata 'iya'?" kata Tenten kesal.

"Itu sudah karakterku, Tenten," aku Fushame.

"Untung aku adalah sahabatmu yang cukup sabar dengan karaktermu itu, Fushame," kata Tenten sambil menghela napas.

"Itu bagus. Hei, kita sudah sampai," kata Fushame sambil menunjuk ke sebuah tempat berumput yang luas. Terdapat beberapa pohon yang tinggi dan besar. Dan terdapat juga sebuah kolam yang kecil yang dikelilingi beberapa batu-batuan besar. Angin berhembus dengan sejuk di sini.

Begitu tiba, Tenten menyiapkan berbagai peralatannya untuk latihan. Dan ia memulai latihannya dengan melemparkan senjatanya pada sebuah lingkaran. Sedangkan Fushame terduduk di bawah sebuah pohon dan mengambil seuntai kalung dari saku bajunya. Kalung bersinar dengan bandul yang berbentuk seperti setetes air. Di bandul itu, terdapat beberapa ruas yang seperti membentuk ruang di dalam bandul itu. Terbentuk 5 ruang dan masing – masing memiliki warna yang berbeda. Ruang yang atas berwarna Violet. Lalu diikuti warna Vermilion. Dan 3 ruang yang ada di bawah 2 ruang tadi berwarna mulai dari warna biru, lalu merah, dan yang paling ujung warna putih. *yah pokoknya gitu deh*

Sepertinya bukan barang biasa. Dan Fushame sangat tidak ingin kehilangan kalung tersebut. Kalau dilihat, kalung itu sangat indah dan menarik perhatian. Tenten pun yang melihatnya menjadi ingin melihatnya dari dekat.

"Kalung itu indah, Fushame," katanya.

"Hn. Terimakasih," sahut Fushame tanpa melepaskan pandangannya dari kalung tersebut yang kini sedang digenggamnya.

"Dari Gaara, ya?" Tanya Tenten dengan nada gurau.

"Iya, dia ngasih ke gua," sahut Fushame.

"Kok baek banget sh?" kata Tenten.

"Kan dia tukang kalung," kata Fushame

"Oh, gua pikir tukang parkir," sahut Tenten.

SKIP! ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ -_-SKIP! ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ -_- *author mulai gaje*

RALAT!

"Dari Gaara, ya?" Tanya Tenten dengan nada gurau.

"Bukan." Kata Fushame dengan nada terdengar agak kesal dan memandang Tenten dengan tertawa kecil karena ia tahu kalau Tenten hanya bercanda, "ini adalah peninggalan keluargaku satu-satunya,"

"Mengapa peninggalan keluarga hanya berupa kalung warna-warni begini?" Tanya Tenten mengernyitkan dahi. Menjadi penasaran.

"Ini bukan seperti kalung biasanya, ini salah satu tradisi klan 'Haruma'," jelas Fushame sambil menyodor-sodorkan kalungnya pada Tenten.

"Haruma?" Tenten tambah mengernyitkan dahinya.

"Nama klan dari ayahku," Fushame tersenyum kecil melihat wajah Tenten kebingungan seperti itu.

"Oh, lalu maksud dari warna-warni ini apa?" Tenten bertanya lagi.

"Warna-warna ini maksudnya adalah warna chakra dari anggota keluargaku, lihat!" Fushame menunjuk bandul kalung tersebut, "warna Vermilion ini menunjukkan chakra dari ayahku, karena memang tipe perubahan chakra alamnya adalah api. Warna violet menunjukkan chakra dari ibuku. Karena kekuatan andalannya adalah Susano'o dan berwarna ungu. biru milik kakakku, dia pernah membangkitkan kekuatan 'Ao Sharingan'. Merah milikku, tipenya sebenarnya petir. dulu aku pernah mengendalikan kekuatan petir, dan ketika menggunakannya, reaksi jutsunya berwarna merah. Kalau putih milik adikku," Tenten hanya mengangguk-angguk, "karena sebagian kekuatannya berasal dari awan. Awan putih, begitulah," jelas Fushame begitu panjang lebar.

"Oh, jadi begitu. Ternyata keluargamu punya banyak cerita, ya. Lalu, bagaimana jika kalung ini dilenyapkan darimu?" Tanya Tenten dengan nada yang serius.

"Aku tidak akan memaafkan orang yang melenyapkan kalungku ini," kata Fushame sambil mencengkeram kalungnya dengan erat dan mengerjapkan matanya. Tenten agak tercengang dengan perkataan Fushame yang cukup serius itu.

Tapi, apakah benar kalung ini begitu berharga baginya? batin Tenten.

"Jagalah selalu kalungmu itu. Dan jika ada yang menghancurkan kalungmu itu, aku akan memukulinya, tenang saja." Kata Tenten mencoba meyakinkan Fushame kalau dia adalah salah satu sahabatnya yang baik.

"Ya. terimakasih, Tenten," sahut Fushame dengan senyuman yang lebar dan hampir tertawa.

"Kerja bagus, Fushame. Istirahatlah di tempatmu. Dan minggu depan aku baru akan memberimu misi lagi," kata Tsunade sambil tersenyum puas.

"Baik, Tsunade – sama," sahut Fushame dan keluar dari ruang Hokage meninggalkan Tsunade. Seperti biasa, selama misinya ia selalu membawa tasnya yang besar itu. Membuat Fushame harus selalu memegangi tasnya dengan kedua tangannya. Tidak seperti biasanya, kini ia selalu mengenakan kalung bandul warna-warninya di lehernya. Setelah ia bercerita mengenai kalung itu pada 2 bulan yang lalu pada Tenten, tidak tahu mengapa Fushame menjadi ingin selalu mengenakan kalung itu.

Dan kini ia sedang berjalan menuju rumahnya. Seperti biasa. Jika dulu ia bertemu dengan Shikamaru, kini ia bertemu dengan Kiba, Akamaru, dan Lee. Sepertinya mereka sedang jalan pagi bersama.

"Hai, Fushame – chan! Sudah lama tak bertemu denganmu," kata Kiba menyapa dengan ramah. Karena dia masih menyukai Fushame sebenarnya.

"Hai, Kiba. Oh ada Lee juga," sahut Fushame dan ia melihat Lee.

"Hai, Fushame – chan. Kita masih muda, jadi kita harus selalu berjalan pada pagi yang cerah seperti ini agar selalu muda, dan memulihkan kekuatan dengan semangat muda lalu…" Lee terus saja mengoceh. Untung saja berhenti. Karena disumpal dengan sepatu oleh Kiba.

"Kau habis menyelesaikan misi?" Tanya Kiba. Sedangkan Akamaru sedang bebaring di jalanan sebelah Kiba.

"Hn, begitulah," sahut Fushame dengan singkat.

"Kau sangat sibuk belakangan ini," kata Kiba.

"Apakah benar?" Tanya Fushame tidak yakin.

"Benar, apakah kau tidak menyadarinya?" kata Kiba sambil mengerutkan kening.

Belum sempat Fushame menjawab, tiba-tiba suara seorang perempuan seumuran Fushame dan Fushame tidak tahu namanya terdengar dari jauh dan seperti mengancam Fushame.

"Hoi! Fushame, beraninya ya kau menggoda pacarku!"

Fushame menoleh, ia bingung. Sepertinya orang itu membenci Fushame karena salah paham.

"Pacar? Siapa?" kata Fushame bingung sambil menoleh ke sana kemari mencari orang yang dimaksud gadis itu.

"Kiba – kun, dia adalah pacarku! Dasar gadis penggoda, kau tahu tidak? Aku telah menunggu Kiba selama 2 jam di bukit dan ternyata sedang bersamamu. Bagaimana aku tidak kesal?" kata gadis itu. Mendengar itu, Kiba menjadi teringat dan meminta maaf pada gadis itu.

"Hinata, sudahlah. Maafkan aku, ini sama sekali…" perkataan Kiba terputus karena gadis yang dipanggil Hinata itu mendorongnya. "Aku membencimu!" kata Hinata. Lalu ia menarik kalung yang dikenakan Fushame.

"Hei! Kembalikan kalungku!" kata Fushame dengan nada serius.

"Tidak akan, kecuali kau mengakui kalau kau telah menggoda Kiba," kata Hinata sambil menyodorkan kalung itu.

Reader: Oh, ya. Tadi si Lee, kan mulutnya disumpel pake sepatu. Gimana, tuh?

Tiba-tiba sepatu itu lepas dari mulut Lee, lalu terlempar lurus dan tepat mengenai kalung yang sedang disodor Hinata. Kalung itu lepas dari tangan Hinata dan terjatuh. Dengan kejam, Hinata menginjak-injak kalung itu sehingga bandul kalung itu menjadi hancur berantakan. Fushame terkejut. Amarahnya ke luar dengan sendirinya.

Hinata: Kok kayaknya aku kejam banget, ya sama Fushame?

Author: Sorry, ya! Di sini lo ceritanya sadis. Jadi, tolong dimaklumi… Lanjut ke cerita!

Melihat kalungnya hancur begitu, tentu saja ia menjadi sangat marah. Tidak terima barang yang begitu berharga baginya dihancurkan dengan kejam begitu.

"Hei! Apa yang telah kau lakukan?" teriak Fushame geram lalu menjambak Hinata. Hinata juga ikut menjambak Fushame. Padahal dia telah salah paham. Terus-terusan jambak-menjambak. Perasaan dengki terus muncul di antara mereka berdua. Kiba dan Lee hanya tercengang melihat tingkah mereka. (takutnya nanti malah ikut-ikutan dijambak kalo melerai). Mereka terus jambak-jambakkan sampai Gaara tiba-tiba datang. Lalu ia melerai mereka berdua. Ia menahan tangan Fushame yang tadi menjambak rambut Hinata.

"Sudahlah, Fushame," kata Gaara dengan tenang. Fushame tidak terima, dia malah menampar Gaara.

"Sudah katamu? Setelah barang berhargaku binasa?" kata Fushame dengan muka geram dan ia berlari meninggalkan mereka berempat (termasuk Akamaru).

"Hei! FUSHAME!" teriak Gaara. Ia takut mengejar Fushame. Nanti Fushame malah tambah marah lagi, batin Gaara. Hinata termangu bingung, ternyata Fushame bisa begitu kasar dengan temannya.

"Bagaimana kau bisa di sini Suna no Gaara?" Tanya Kiba.

"Aku habis mengantarkan pesan dari Kazekage untuk Hokage. Sebenarnya apa yang terjadi di sini?" Tanya Gaara sambil terus menatap ke arah Fushame berlari tadi.

"Ini semua gara-gara Hinata," kata Kiba pelan.

"Apa?" Tanya Gaara lagi.

"Fushame yang memulai duluan," kata Hinata sambil melipat tangannya di dada.

"Kau salah paham Hinata. Aku tidak selingkuh dengan Fushame. Tadi aku benar-benar lupa kalau kau mengajakku ke bukit pukul 12 siang. Aku baru ingat sekarang dan baru berjalan menuju bukit, tapi aku bertemu dengan Fushame. Masa aku tidak menyapanya?" jelas Kiba kepada Hinata, "seharusnya kau dengarkan penjelasanku terlebih dahulu," lanjutnya.

"Oh, jadi be-begitu. Ma-maafkan aku," Hinata tertunduk.

"Hinata – chan. Seharusnya kau mengatakan maaf pada Fushame – chan, bukan kepada kita," kata Lee dengan nada yang mantap. (Tumben Lee berkata bijak)

"Lee benar," lanjut Gaara. "Aku juga akan mencoba menghibur Fushame agar memaafkanku,"

"Hah? Kau kan tinggal di Suna. Bagaimana kau akan bertemu dengan Fushame lagi?" Tanya Kiba bingung. Akamaru juga ikut meraung-raung.

"Kita lihat saja kelak," kata Gaara mantap. Perkataan Gaara tadi membuat mereka bertiga tercengang dan mengernyitkan dahinya dengan dalam.

KIDDING!

Akamaru: Author Author!

Author: Hn? Lah? Kok lo bisa ngomong sih, Maru?

Shikamaru: Ada yang manggil gue?

Author: Akamaru! Bukan SHIKAMARU!

Akamaru: Bisa dong! Maru gitu, loh!

Shikamaru: Oi! Jgn pake 'Maru', kek! Hampir mirip sama nama gua tau!

Author: Udahlah! Oi, Kib. Kok si Akamaru bisa ngomong bahasa manusia, sih?

Kiba: Gue ajarin… Maru yg ngomong pingin gue ajarin bahasa manusia.

Shikamaru: Majikan sama anjingnya sama aja!

Author: Lah? Lo ngerti bahasa anjing, Kib?

Kiba: Lumayan lah, orang kata-katanya Cuma 2 dalam bahasa anjing.

Author: Apa aja tuh?

Kiba: Mmm dan Grr!

Author: Capcay deh!

Kiba: Jangan capcay, puyunghai aja!

CHAPTER 4 END!

A: Yaa, beginilah chapter 4. Maap ya kalo banyak yang ga jelas. Review jangan lupa yaa. Bocoran untuk chapter ke depan...

Next Chapter

"Ada apa, senpai?" Tanya Fushame bingung. Karena tidak tahu maksud Kakashi.

"Kita akan menjalankan misi dengan orang Suna, dan sudah janjian akan bertemu di sini. Tetapi, ternyata diia belum tiba," kata Kakashi sambil menggaruk-garuk rambutnya.

Kakashi terdiam sejenak. Lalu menghela napas, "kita jangan melakukan penyerangan dahulu. Kita harus mencari dahulu dimana markas 100 bandit itu. Yang jelas, mereka adalah orang kuat. Ada salah satu dari mereka memiliki kekuatan untuk menghentikan chakra kita sehingga kita tidak akan bisa mengeluarkan jurus apapun. Itu samasekali tidak baik untuk Fushame sebenarnya,"

Tetapi mengapa? mengapa orang yang Fushame benci adalah aku?…