Chapter6: Forgive me!
SUMMARY: Setelah sekian lama error, akhirnya bisa publish lagi Hehe. Sebelumnya terimakasih yah atas review dari Reviewer - san. ^^ mohon maaf udh telat banget mekasihnya. Mohon reviewnya lagi yaaa..
Disclaimer: Tokoh karakter, tempat, dan property lain milik pencipta asli (kecuali Fushame). Hanya untuk berbagi cerita dan hiburan semata!
Warnings: AU, OC & OOC, Many clarify and dialogue, 'cripsy' crack and kidding, mystery and many skip time! Just two choice, "READ" or "DON'T Read"…
R&R please…?
Angin bertiup cukup kencang sore ini. Suara dedaunan dari ranting pohon terdengar riuh dan cukup ramai. Perasaan hangat akan timbul jika merasakan saat ini. Tapi tidak bagi Fushame yang kini.
"Apa kau akan selalu menghindar dariku? Sebegitu bencinya kah kau padaku?" kata Gaara begitu mendekati Fushame. Berusaha berbicara, tetapi Fushame menghindarinya. Menjauh.
… Fushame hanya terdiam, tidak menjawab apa-apa.
"Haruskah kau selalu dingin padaku?" Gaara mencoba menghentikan langkah kaki Fushame yang terus berjalan menghindarinya."Sekali saja, dengarkan aku," lanjutnya. Dan benar, Fushame sudah menghentikan langkahnya.
"Hn?" mungkin hanya itu yang dapat diucapkan Fushame. Tapi Gaara merasa, setidaknya Fushame masih dapat mendengarnya.
"Maafkan aku. Aku tidak mengerti masalahmu, dan maaf karena aku telah membela Hinata. Aku mohon, maafkan aku. Tolong be…" kata Gaara tapi terpotong oleh ucapan Fushame yang menatapnya dengan dingin dan tajam.
"Maaf? Tidak tahu masalahku? Jika kau tidak tahu, jangan ikut campur! Dan jika kau ingin kumaafkan menjauhlah dariku!" jawab Fushame yang terdengar menusuk. Perasaan Gaara terasa hancur seketika. Napasnya terhenti sejenak, begitu tegang dan menjadi sulit bernapas.
Apa itu kah yang diinginkan Fushame? Batin Gaara yang selalu ia ulang dalam hatinya. Fushame kini sudah melesat ke arah utara menjauh dari Gaara. Meninggalkan Gaara di tengah tiupan angin yang sepi ini. Gaara menghela nafas. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti apa yang dikatakan Fushame. Ia sudah tidak mempunyai kesempatan lagi. Habis sudah.
Tapi, tunggu dulu… tadi, tadi. Fushame melesat ke arah… UTARA? Oh, tidak itu berarti.
"Ya, aku akan segera berangkat. Jaga dirimu dan Fushame. Dan ingat jangan pergi ke sebelah utara, itu terlalu bahaya. Ingatkan pada Fushame pula,"
Gaara mengingat perkataan peringatan yang diberikan oleh Kakashi tadi. Oh tidak, apa yang telah kulakukan. Mati sudah. Sebenarnya aku ini apa? Selalu melakukan hal yang salah pada Fushame. Selalu meretakkan hati Fushame. Batin Gaara. Bagaimana nasib Fushame jika jadinya begini?
Lalu Gaara berusaha mengejar Fushame yang tadi melesat menghindarinya tadi. Sudah tidak sempat. Sejauh apapun Gaara melesat, ia tidak melihat sosok seorang gadis berambut merah keunguan itu. Ia harus lebih cepat. Harus, kalau tidak?
FUSHAME SIDE
Fushame terus berlari, ia tidak ingin berada dekat-dekat dengan Gaara yang sangat ia benci kini. Kadangkala ia menoleh ke arah belakang. Ia tidak ingin diikuti oleh sosok Gaara, karena kenyataannya ia tidak ingin memaafkan apa yang telah dilakukan Gaara. Ia terus saja melesat tanpa melihat sekelilingnya.
Terus berlari, tanpa memerhatikan arah yang ia tuju. Kemudian, tiba-tiba.
BRUK!
Fushame terjatuh. Tubuhnya lemas seketika, sangat lemas. Seuntai tali telah membuatnya jatuh.
Jebakan!
Tanda-tanda para bandit sudah muncul. Fushame tidak dapat bangkit berdiri. Tiba-tiba saja ia merasakan chakranya hilang. Kekuatannya hilang. Mencoba bangkit, tetapi terjatuh kembali. Suasana ramai menyelimutinya tiba-tiba. Ia merasa ada orang-orang yang mengelilinginya. Banyak sekali orangnya. Dan mereka tertawa, seperti merendahkan Fushame.
Lalu akhirnya Fushame merasakan kelemahan yang luar biasa. Lemas sekali. Kemudian ia sudah tidak kuat membuka matanya. Kepalanya terasa sangat pusing dan yang paling parah adalah, kekuatannya telah hilang seketika.
Dimana aku? Batin Fushame terus bertanya dalam hati. Ia membuka matanya pelan-pelan. Mengerjapkan matanya hingga dapat melihat dengan jelas. Sekelompok orang dengan wajah sangar mengelilinginya dan berteriak-teriak padanya.
"Jawab aku! Apa yang kau lakukan di sini dan bersama siapa kau ke sini?!" tubuh Fushame terasa sangat sakit dan nyeri. Ia merasa sudah tidak dapat berdiri lagi. Seorang bandit terus saja berteriak dengan keras di telinganya. Terkadang bandit itu memukul kepala Fushame dengan keras hingga kepalanya jatuh ke tanah.
"KAU DENGAR AKU TIDAK?" kata bandit itu lagi. Kemudian kali ini ia menarik rambut Fushame dan membuat rambutnya berantakan. Acak-acakan. Tidak karuan. Tapi kini Fushame tergeletak lemas, tidak berdaya. Ia hanya pasrah. Mengingat chakranya sudah habis tanpa sebab.
"DASAR! Shinobi tidak berguna! Bunuh saja dia!" setidaknya itu yang dapat didengar oleh Fushame.
Mungkin ini adalah saat-saat terakhirku yang menyedihkan, batin Fushame.
Seorang bandit yang lain siap membunuh Fushame dengan membawa pedang besar. Fushame hanya memejamkan mata. Setidaknya dengan memejamkan mata, ia tidak dapat mendengar atau melihat peristiwa tragisnya.
"LEPASKAN DIA!" suara berat terdengar. Suara yang tidak asing lagi bagi Fushame. Suara orang yang menyebalkan. Masuk pintu ruang penyiksaan Fushame secara kasar.
"Hebat juga kau, masuk ke ruangan ini yang dijaga secara ketat oleh 100 anak buahku dengan mudah," kata salah satu bandit itu. "Oh, aku mengetahuimu. Kau adalah Gaara dari padang pasir. Suna no Gaara tepatnya" lanjutnya.
"Lepaskan dia! Jangan sakiti dia!" kata Gaara dengan tegas.
"Oh, jadi kau teman dari shinobi tidak berguna ini, ya?" kata bandit itu. Sedangkan Fushame sangat lemas. Hingga mendengar pun sudah tak bisa rasanya. Ia pun tidak tahu kalau yang sedang datang adalah Gaara.
"Beraninya kau!" kata Gaara dengan wajah yang dengki melihat Fushame tergeletak lemas dekat bandit itu.
"Jangan sombong dahulu! Ayo mari kita lihat, bagaimana jika aku menghentikan chakramu," tawa bandit itu.
Bandit itu kemudian mendekati Gaara. Berusaha menyentuh tubuh Gaara untuk menghentikan chakranya. Tapi sia-sia saja. Pasirnya terus menghalangi niat bandit itu. Tidak akan mungkin. Gaara menyerang kedua bandit itu dengan sekuat tenaga. Dan tidak ada 30 menit, bandit itu sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi.
Gaara menghampiri Fushame yang tergeletak lemas di tanah. Kedua tangannya mencoba membangkitkan tubuh Fushame yang terlihat sudah tidak berdaya itu.
Chakranya belum kembali, batin Gaara.
Tak beberapa lama mata Fushame terbuka perlahan, tapi terlihat belum seperti biasanya. Mulutnya terbuka mengucapkan suatu kata dengan lemas dan terbata.
"Ga-gaara," katanya.
"Fushame, berahanlah. Dan aku mohon darimu, maafkan aku." Kata Gaara. Kemudian Gaara merogoh sesuatu dari bajunya dengan tangannya. Ia menyodorkan sebuah…
Kalung.
Kalung warna-warni sama persis dengan milik Fushame hanya memiliki warna yang lebih banyak.
"Apa itu?" suara serak terdengar dari mulut Fushame.
"Aku berniat minta maaf. Dan mencoba mengganti kalung berhargamu itu. Tapi, tidak bisa. Aku selalu berpikir bagaimana caranya mengganti barangmu, setidaknya mirip dan dapat dihargai. Aku menemukan jawabannya," terang Gaara dengan lembut ia tidak melanjutkan kata-katanya.
"Jawaban?" Fushame menjawab dengan nada serak.
"Teman, ini adalah chakra dari teman-temanmu. Chakraku juga ada di sini. Beberapa hari yang lalu aku meminta teman-teman untuk memberikan chakranya. Sedikit saja," aku Gaara.
"Teman?" Tanya Fushame dengan nada serak.
"Iya, teman dari Suna dan Konoha. Walaupun yang dari Suna hanya aku, Temari, dan Kankurou. Tapi, tidak apa, bukan. Ini untukmu. Ambillah, kumohon," kata Gaara dengan seulas senyuman. Baru kali ini Fushame melihat Gaara tersenyum. Fushame menggenggam kalung itu. Fushame hanya tersenyum masam dan menghela napas. Sebenarnya ia sudah tidak sangup melakukan hal itu. Hanya saja, karena ia sangat takjub dengan apa yang telah dilakukan Gaara, ia memaksakan untuk tersenyum.
Fushame menggenggam kalung itu dengan erat dan, tiba-tiba ia memejamkan mata. Pingsan. Tak sadarkan diri. Kemudian belum sempat mengatakan, "Aku memaafkanmu, Suna no Gaara,"
CHAPTER 6 END!
Nah tamatlah chap 6.. Review please yaaa.
Next Chapter
"Jangan begitu, Neji – san! Fushame sekarang lebih sensitive dari yang kau kira, ingat itu!" seseorang berkata lagi. Kali ini suara gadis yang berbeda. Dan gadis itu menyebut nama Neji – san? Neji? Siapa dia? Fushame terus berusaha memutar kepalanya dan mencari sebuah nama. Neji? Tapi, ia tidak pernah kenal sepertinya.
…
"Terima kasih sudah mau menemaniku," kata Fushame tersenyum pada Sakura.
"Iya, lagipula ada seseorang yang memintaku," terang Sakura.
…
"Oh. Aku pikir kau sudah tahu, Gaara." Sahut Naruto dengan tidak jelas.
"Apa?" Gaara bertanya singkat.
"Ia sudah meninggalkan Konoha sejak 1 tahun yang lalu," jelas Naruto. Mendengar hal tersebut, mata Gaara terlihat terbelalak…
