Naruto by 'Masashi Kishimoto' "THE RED HAIR COUPLE" – Clareta Vero

R&R please…?

Chapter7: Fushame's Dissapeared!

"BAKA! Fushame akan marah kalau begitu! Dasar BAKA!" suara seseorang terdengar di telinga Fushame. Suaranya tidak asing lagi. Suara seorang gadis. Terdengar suara keras dan lantang. Matanya belum dapat ia buka dengan jelas. Ia mengerutkan-kerutkan keningnya.

"Fushame, tak akan marah padaku!" suara seseorang terdengar lagi. Kali ini suara seorang laki-laki. Suara yang juga tidak asing. Setelah itu, suara riuh terdengar. Sepertinya sedang ada ramai-ramai. Sayangnya, Fushame hanya dapat mendengar. Ia belum dapat membuka matanya. Tepatnya belum sanggup. Belum sanggup melihat cahaya yang ada di depan matanya.

"Jangan begitu, Neji – san! Fushame sekarang lebih sensitive dari yang kau kira, ingat itu!" seseorang berkata lagi. Kali ini suara gadis yang berbeda. Dan gadis itu menyebut nama Neji – san? Neji? Siapa dia? Fushame terus berusaha memutar kepalanya dan mencari sebuah nama. Neji? Tapi, ia tidak pernah kenal sepertinya.

"Aku yang selalu tahu tentang Fushame! Lihat! Kepalanya telah dipukul seperti ini, ia perlu sebuah belaian tanganku, tahu!" kata laki-laki itu lagi yang dipanggil Neji itu.

"BAKA! Fushame itu bukan milikmu, BAKA!" kata seorang gadis lagi.

"Sudahlah, Sakura – chan!" kata seorang gadis lain. Lalu mereka sahut-sahutan kembali. Lalu terdengar suara orang lebih banyak. Berdebat. Yang jelas, perdebatan mereka menyebutkan nama 'Fushame'.

Akhirnya Fushame memaksakan membuka matanya. Meskipun dengan sangat memaksakan. Hingga membuat kepalanya cenat-cenut sampai membuat tangannya memegang kepalanya untuk menahan rasa sakit kepalanya. Kepalanya sangat sakit. Ketika ia mencoba membukakan mata, riuh ramai suara orang sahut-sahutan tadi menjadi hening seketika.

Fushame akhirnya membuka mata. Menyentuh dahinya yang dililit dengan perban putih. Langit-langit kamar yang sudah tidak asing ia lihat begitu membukakan mata. Lalu, ia mencoba melihat ke arah suara riuh tadi. Banyak sekali orang. Semua temannya ada di sana. Temannya terlihat tersenyum dan wajahnya sudah tidak terlihat cemas kembali.

"Teman-teman?" Tanya Fushame sambil memegangi dahinya.

"Syukurlah. Akhirnya kau bangun juga, Fushame," kata Sakura. Kemudian Sakura meraih jari tangan Fushame. Neji berdiri di sebelah Fushame. Dan wajahnya terlihat bingung.

"Ada apa?" Tanya Fushame lagi.

"Setelah 10 hari tidak sadarkan diri, kau bertanya begitu Fushame?" sahut Neji.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi, makanya aku bertanya ada apa?" kata Fushame lagi.

Neji terlihat menghela napas. Shikamaru yang menjawab, "Terakhir kau menjalankan misi bersama Kakashi – sensei. Kau tidak ingat?"

Fushame mencoba membangkitkan diri dan mencoba duduk,"Oh itu, aku ingat."

"Lalu? Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Kiba.

"Tidak ada yang terjadi," kata Fushame.

"Jangan berkata-kata yang bohong seperti itu. Kalau tidak ada yang terjadi, kau tidak mungkin seperti ini, Fushame," kata Naruto sedikit agak ngotot.

"Benar, tidak ada yang terjadi. Tidak perlu khawatir. Aku hanya tertangkap para bandit itu, dan chakraku dihentikan oleh mereka," jelas Fushame tidak melanjutkan kata-katanya yang terdengar gantung.

"Lalu?" Tanya Shikamaru lagi ingin mengetahui selanjutnya.

"Aku disekap disebuah ruangan yang sangat menyiksa. Kepalaku terus dipukul oleh dua orang bandit itu hingga membuatku tidak bisa berpikir lagi," jelas Fushame.

"Untung saja, Fushame – chan tidak meninggal," kata Lee.

"Jangan berbicara seperti itu Lee! Selanjutnya bagaimana?" Tanya Neji.

"Aku pingsan, dan tiba-tiba dengan setengah sadar. Gaara menyelamatkanku. Dia seperti sedang berbicara padaku tapi aku tidak dapat mengingatnya lagi dengan jelas," jelas Fushame lagi. Lalu, ia mengambil gelas yang disodorkan oleh Ino.

"Cukup tragis. Seharusnya aku yang menjadi Gaara," kata Neji.

"Itu sudah tidak penting lagi. Yang penting aku masih berada di sini," kata Fushame. Lalu ia mengangkat tangan sebelahnya yang dari tadi hanya tergeletak di kasur. Tangannya seperti menggenggam sesuatu. Sesuatu yang sangat ia suka baru-baru ini. Lalu ia melihatnya. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk setetes air. Tapi lebih besar dari miliknya yang sebelumnya. Kalung peninggalan keluarganya. Yang sangat berarti baginya itu. Bentuknya mirip. Hanya warnanya lebih banyak dari semula.

Fushame termenung diam melihat benda itu. Sepertinya ia pernah menyukai ini. Tapi mengapa kali ini ia tidak dapat mengingatnya?

"Fushame? Ada apa? Mengapa terdiam?" Tanya Tenten, "Kau sudah baik, bukan?"

"Tidak apa," kata Fushame,"Aku sudah baikan," Fushame menyembunyikan kalung itu.

"Syukurlah, kau sudah baik," kata Sakura.

"Kalian semua berada di sini ada acara apa? Mulai dari Sakura, Tenten, Ino, Neji, Shikamaru, Kiba, Lee, Hinata, Naruto, Shino, Chouji semuanya berada di sini," kata Fushame dengan nada mengesalkan seperti biasanya.

"Kami mengkhawatirkanmu! Bahkan ketika tangan si orang centil ini akan menyentuhmu, aku menghalanginya," jelas Sakura sambil menunjuk Neji. Fushame hanya tersenyum kecil.

"Mmm, cukup mengesankan," kata Fushame tersenyum. "Sudahlah, kembali ke tempat kalian masing-masing saja. Aku akan baik-baik saja."

"Fushame, maafkan aku pada kejadian sebelumnya." Kata Hinata tiba-tiba. Suasana menjadi hening kembali. Kemudian dipecah oleh tatapan tajam Fushame dengan helaan napas.

"Hmm, kejadian apa?" tanya Fushame pura-pura lupa dengan nada dingin.

Hinata menjadi menundukkan kepalanya, "Ka-kau ti-tidak ingat Fushame – chan?" tanyanya.

Fushame melengos, "Tentu saja ingat," lagi-lagi dengan nada dingin itu.

"Ma-maafkan aku. Aku sudah salah paham," kata Hinata lagi merasa sedikit takut pada perkataan Fushame barusan.

"Lupakan saja," kata Fushame dengan tersenyum kecil sambil melipat tangan. Semuanya menjadi terkejut dan tercengang. Tidak percaya kalau Fushame akan mengatakan itu.

"Ma-ma...maksudmu itu ap-a...apa Fushame – chan?" tanya Hinata bingung sambil mengangkat kepalanya perlahan.

"Aku sudah tidak terlalu memikirkan itu. Aku sudah melupakan itu lagian. Seperti anak kecil kalau terus marah seperti itu. Aku sudah memaafkanmu," kata Fushame tersenyum kecil. Hinata juga terlihat senyum senang. Akhirnya Fushame dapat memaafkanmu.

"Te-terimakasih, Fushame – chan," kata Hinata lagi sambil membungkukkan tubuhnya.

"Baiklah, masalah sudah selesai. Aku akan kembali!" kata Kiba melambaikan tangan.

"Aku juga," kata Naruto, Neji, Chouji, Shino, Lee. Hinata hanya membungkukkan tubuhnya lagi dan tersenyum pada Fushame. Fushame hanya tertawa kecil melihat Hinata seperti itu.

"Mendokusei na. aku ingin tidur siang. Sampai jumpa, Fushame," kata orang yang sudah dapat ditebak. Yaitu Shikamaru.

"Kami juga akan kembali, ya Fushame," kata Tenten dan Ino melambaikan tangan. Sedangkan Sakura tetap terdiam di situ. Tetap menemani Fushame.

"Terima kasih sudah mau menemaniku," kata Fushame tersenyum pada Sakura.

"Iya, lagipula ada seseorang yang memintaku," terang Sakura.

"Siapa? Itachi –san?" Tanya Fushame menebak-nebak.

"Bukan. Sepertinya orang ini suka denganmu, Fushame. Terakhir kali, dia berkata 'tolong temani Fushame selama kau masih bisa. Aku mohon'." Kata Sakura sambil memperagakan,"terdengar sangat perhatian, bukan?"

"Hanya sebuah permintaan," Fushame tertawa kecil.

"Kau tidak mengerti. Orang ini menganggapmu sangat istimewa sepertinya. Kau tidak ingin tahu siapa orangnya?" Tanya Sakura sambil menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri.

"Jika tidak ingin memberi tahu, ya tidak apa," kata Fushame tenang.

"Aku akan kasih tahu. Jadi ingin tahu tidak?" Tanya Sakura lagi meyakinkan.

"Ya, terserah. Memang siapa?" Tanya Fushame dengan wajah tidak perduli.

"Lelaki yang menjalankan misi bersamamu. Ingat, kan?" kata Sakura.

"Kakashi – sensei?" sahut Fushame tetap tidak peduli.

"Bukan!" Sakura terlihat agak kesal, "Tapi, yang satunya. Suna no Gaara," kata Sakura.

"Gaara? Orang menyebalkan itu?" sahut Fushame mengernyitkan dahinya.

"Iya, waktu itu. Dia datang ke Konoha bersama Kakashi – sensei, dia adalah orang yang menggendongmu. Kemudian, Kakashi – sensei melapor pada Tsunade – sama, sedangkan Gaara mengantarmu kemari. Lalu, ia memberikan pesan itu padaku," kata Sakura. Setelah berkata demikian ia menghela napas lalu melanjutkan kembali perkataannya, "Kau masih kesal dengannya? Bukankah itu terlalu kejam, Fushame?"

Fushame tertawa kecil kembali, "Kejam katamu?"

"Dia sudah sangat baik padamu, kau tidak seharusnya membalas kebaikannya dengan sifatmu seperti itu," kata Sakura mencoba mengingatkan Fushame.

"Sudahlah, tak usah katakan lagi. Aku tidak ingin bertemu dengan yang namanya Gaara itu." Kata Fushame.

"Kenapa?" Tanya Sakura heran.

"Karena, antara aku dan dia sudah tidak akan bertemu lagi," kata Fushame.

"Pasti ada saatnya takdir untuk bertemu, bukankah kau sudah melupakan masalah insiden itu?" kata Sakura.

"Sudahlah, Sakura. Seseorang dapat belajar bermain drama sekali-kali. Kita bisa ganti topik, bukan?" kata Fushame mengalihkan pembicaraan. Sakura tidak bisa menyangkal lagi. Sebenarnya ia juga tidak terlalu mengerti dengan perkataan Fushame barusan. Tidak ada yang dapat ia lakukan selain mengikuti perkataan Fushame. Hati Fushame memang sudah keras. Sudah tidak dapat diubah kembali.

"Baiklah, bagaimana jika topik tentang Sasuke?" kata Sakura sambil tersenyum lebar.

"Ouh, aku curiga denganmu, Sakura," Fushame tertawa kecil. Disusul dengan Sakura yang tertawa pula.

3 tahun kemudian…

Tangannya terus membalik halaman buku besar itu. Terkadang ia menghela napas seperti mengeluh.

"Kazekage – sama, apa kau akan terus mencari nama itu, Gaara – sama?" Tanya seseorang yang berada di sebelah Gaara yang sedang memegang banyak buku yang besar.

"Hn,"kata Gaara mengangguk.

"Tapi, shinobi di Konoha itu banyak sekali dan jika anda membaca buku besar-besar ini hanya untuk mencari nama lengkapnya, itu tidak akan mungkin dapat ditemukan," kata orang yang berada di sebelah Gaara. Yang mulai mengeluh kesal. Gaara menatap ke depan. Pandangannya sangat jelas kalau ia sedang memikirkan sesuatu.

"Aku ingat," kata Gaara tiba-tiba yang membuat orang di sebelahnya itu menjadi sedikit terkejut. Lalu Gaara membuka buku lainnya yang tergeletak di meja besar itu. Buku besar bersampul hitam dan terdapat symbol klan Uchiha.

"Ada apa, Gaara – sama?" orang itu kebingungan, "apakah program pertukaran shinobi dengan Konoha ini harus dengan orang yang kau maksud itu?"

"Nah, ini dia ketemu!" sahut Gaara tanpa menghiraukan perkataan orang di sebelahnya yang terlihat lelah.

"Ketemu? Akhirnya," orang yang bersama Gaara itu terlihat lega dan menghela napas sambil terus memegangi buku besar di tangannya. Sedangkan Gaara malah pergi meninggalkannya. Wajah Gaara terlihat lega bercampur gembira. Kemudian ia mengingat-ingat nama itu. Ia segera menuju ruangannya.

"Apakah Hokage – sama sudah tiba?" Tanya Gaara begitu tiba di ruangannya.

"Benar, dia sudah menunggumu sejak 30 menit yang lalu, Gaara. Kau dari mana saja?" jelas Temari.

"Aku sedang mencari nama," sahut Gaara tidak jelas.

"Nama?" kata Temari bingung. Tetapi Gaara tidak menjawab dan segera menghampiri Hokage – sama dengan sedikit kegirangan.

"Kau darimana saja? Lama sekali!" kata Hokage baru itu. Sama seperti Gaara. Sama – sama kage baru.

"Maafkan aku, Uzumaki Naruto," sahut Gaara sambil terduduk di kursi menghadap Naruto yang tepatnya Hokage baru.

"Tidak apa, kita langsung ke titik pembicaraan saja," sahut Naruto sambil tersenyum lebar.

"Pertukaran shinobi terbaik itu, kan?" sahut Gaara.

"Tepat," kata Naruto tersenyum lebar dan menunjukkan ibu jarinya. "pertukaran ini hanya untuk 3 bulan, hanya untuk sebagai pengalaman baru pada shinobi yang kita rekomendasikan," jelas Naruto.

"Jadi?" Gaara malah bertanya.

"Aku merekomendasikan Temari – san saja. Karena Shikamaru yang memintaku," sahut Naruto blak-blakan. Wajah Gaara terlihat tetap tenang.

"Baik, aku merekomendasikan," kata Gaara tidak melanjutkan kata-katanya agak tersendat mungkin agak sedikit malu untuk mengakuinya.

"Katakan saja. Semua shinobi di Konoha banyak pilihan, bukan? Jadi kau pilih siapa?" Tanya Naruto sambil tersenyum.

"Aku merekomendasikan Fushame," kata Gaara sambil menundukkan kepalanya.

"Fushame? Fushame siapa?" Tanya Naruto terlihat heran.

"Fushame. Uchiha Haruma Fushame," sahut Gaara dengan tenang dan datar mengangkat kepalanya.

"Oh. Aku pikir kau sudah tahu, Gaara." Sahut Naruto dengan tidak jelas.

"Sudah tahu?" Gaara bertanya singkat.

"Ia sudah meninggalkan Konoha sejak 1 tahun yang lalu," jelas Naruto. Mendengar hal tersebut, mata Gaara terlihat terbelalak. Dan tubuhnya lemas tanpa sebab.

"Fushame meninggalkan Konoha?" Tanya Gaara lagi tidak yakin.

"Iya. Katanya, ia ingin mencari pengalaman baru dengan pindah desa," jelas Naruto lagi.

Gaara terlihat lemas. Entah mengapa, hati Gaara sedih tiba-tiba begitu mendengar penjelasan dari Naruto. "Apa ada rekomendasi lain?" Tanya Naruto.

"Kalau begitu, aku merekomendasikan Hyuuga Neji saja," Gaara menjawab dengan tidak semangat. Terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.

"Baik, dengan begini, program pertukaran shinobi telah ditentukan. Baik Gaara, aku akan kembali ke Konoha. Sampai Jumpa!" kata Naruto tersenyum lalu keluar meninggalkan Gaara.

Gaara hanya terdiam terduduk. Masih terduduk terlihat sedih. Ia sendiri juga bingung dengan perasaannya sendiri. Setelah 1 tahun tidak bertemu dengan Fushame, setelah misi yang hampir merenggut nyawa Fushame itu, Gaara merasa sangat kehilangan suatu hal yang dapat membuat hatinya terang seketika.

Tetapi, kini hatinya terasa sangat redup dan seperti mencari-cari sesuatu yang hilang darinya. Selama berbulan-bulan ia terus bertanya. Terus mencari apa yang hilang itu. Lalu akhirnya kini ia tahu, kalau yang selama ia cari-cari itu adalah. Fushame. Gadis yang pernah ia kenal waktu diadakannya ujian Chuunin. Kunoichi yang pernah sangat membencinya. Gadis yang pernah disakiti oleh Gaara. Gadis yang disukai oleh Gaara saat ini.

Gadis itu sudah menghilang sekarang. Dan Gaara tidak tahu dimana gadis itu berada.

Apa yang dapat Gaara lakukan kini?

Mencari pun sudah tidak mungkin. Ia sudah sangat sibuk semenjak menjadi kage menggantikan ayahnya. Tugasnya kini adalah melindungi penduduk di Sunagakure. Bukan untuk mencari Fushame lagipula.

"Mengapa?" kata Gaara berbisik dengan memejamkan matanya. Terlihat agak menyesal dan kesal.

Menyesal karena ia terlambat mencari Fushame dan telat menyadari perasaannya sendiri.

Kesal karena ia kini sudah tidak mungkin bisa mengejar Fushame yang selalu menghilang itu dan ia hanya dapat menyerah pada takdir.

CHAPTER 7 END!