Naruto by 'Masashi Kishimoto'
"THE RED HAIR COUPLE" – Clareta Vero
Chapter8: Akatsuki Rising!
"Sakura – chan, ini bunganya," kata Ino sambil membawakan seikat bunga yang dibungkus dengan kertas mika.
"Oh, makasih Ino – chan," kata Sakura dengan wajah agak tersenyum kecil.
"Rasanya sudah lama sekali, ya tidak bertemu dengan Fushame – chan," kata Ino tiba-tiba dengan seulas senyum dan dengan helaan napas juga.
Sakura ikut menghela napas juga, "Ya, sudah 5 tahun kita tidak bertemu dengan Fushame," Sakura menundukkan kepalanya.
"5 tahun sudah kita lewati bersama tanpa Fushame, seperti ada yang menghilang. Tapi, apakah Fushame tidak akan kembali ke Konoha lagi?" sahut Ino.
"Perkataannya yang terakhir seperti itulah, tidak dapat ditebak," sahut Sakura lemas.
Ino juga ikut lemas dan menghela napas, "Setega itukah Fushame sampai tidak ingin bertemu kita kembali?"
"Tidak mungkin. Pasti Fushame akan kembali suatu saat," Sakura menggeleng pelan.
"Tapi, ini sudah 5 tahun ia pergi dan menghilang. 5 tahun bukanlah waktu yang singkat, Sakura – chan," sahut Ino.
"Aku tahu itu. Fushame, kau pergi ke mana sebenarnya?" kata Sakura mengangkat kepalanya dan menatap langit yang biru.
"Mungkin saja Fushame – chan, pindah ke Takigakure seperti Sasuke – kun, bukan?" Tanya Ino.
"Tidak, aku sudah mencoba menanyakan itu kepada Sasuke. Tapi, Sasuke juga berkata tidak tahu dimana Fushame berada," jelas Sakura yang terus menatap langit.
"Oh, begitu. Kalau begini, bagaimana kita dapat bertemu dengan Fushame?" Ino menundukkan kepalanya. Sakura menoleh menghadap Ino.
"Mungkin takdir akan mempertemukan kita dengan Fushame lagi," sahut Sakura dengan senyuman kecil.
"Sakura – chan!" terdengar suara seorang pemuda dari kejauhan memanggil Sakura. Sakura pun menoleh.
"Ada apa, Kiba – kun?" sahut Sakura begitu melihat Kiba berjalan menghampirinya bersama Akamaru.
"Naruto memanggilmu, katanya ada misi untukmu," kata Kiba sambil menggaruk-garuk kepalanya karena sedikit gugup ada Ino.
"Baik, aku akan segera menghampirinya. Sampai Jumpa, Ino. Aku akan kembali nanti," Sakura melambaikan tangan pada Ino. Ino hanya tersenyum dan ikut melambaikan tangan.
DI RUANG HOKAGE
Tok Tok!
"Iya, langsung masuk saja,"suara Naruto terdengar agak lelah.
"Ada misi apa?" Tanya Sakura begitu memasuki ruangan Naruto.
Naruto menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, "Ada masalah,"
Sakura menghela napas dalam, "Kalau tidak ada masalah kau tidak mungkin memberikanku misi," kata Sakura.
"Iya. Oleh karena itu. Jadi begini Sakura, menurut Gaara di dekat daerah perbatasan antara Konoha dan Suna terdapat sedikit gangguan. Menurut laporan, terdapat sekelompok orang yang kalau dipikir membuat penduduk ketakutan. Kemudian beberapa orang mencoba menyelidiki daerah tersebut. Tetapi, setelah menyelidiki daerah tersebut, orang yang menyelidiki itu langsung meninggal. Akhirnya, di daerah itu banyak sekali orang yang kehilangan nyawa," Jelas Naruto sambil membaca secarik kertas. "Aku pun mengirim beberapa ANBU untuk menyelidikinya, tetapi tidak ada hasil. Anbu pun dibasmi dengan mudah,"
"Jadi?" Tanya Sakura sedikit tidak mengerti.
"Selesaikan masalah di sana. Dan lenyapkan musuh yang ada di sana. Tapi kau harus meneliti hal apa yang ada di sana," jelas Naruto sambil memperagakan dengan tangannya.
"Baik akan kulaksanakan," kata Sakura sambil membungkukan tubuhnya untuk berpamit keluar.
"Minta si pelukis, si gendut, dan si pemalas untuk menemanimu," kata Naruto asal. Padahal sudah jadi Hokage, tetapi berbicaranya masih asal.
"Pelukis? Si gendut? Pemalas? " Sakura bingung dan menoleh ke arah Naruto.
"Maksudku Sai, Chouji, dan Shikamaru," kata Naruto. "Dan Neji," lanjutnya.
"Uh, baiklah," kata Sakura sambil menahan sedikit amarahnya. Setelah itu Sakura langsung keluar meninggalkan Naruto. Ia menghampiri Sai, Chouji, Neji, dan Shikamaru terlebih dahulu untuk memberitahu misi itu kemudian baru beranjak menuju rumahnya untuk bersiap-siap.
"Mendokusei na, lagi-lagi misi berat," kata si orang yang sudah bisa ditebak, yaitu si pemalas. Maksudnya Shikamaru Nara.
"Yah! Gua mau ke salon nih. Mau perawatan rambut! Rambut gua udah kering nih," kata Neji Hyuuga sambil mengelus-elus rambutnya yang panjang itu.
"Tumben Naruto ngasih gua misi," kata Sai.
"Wah! Aku siap, asal Naruto nyiapin makanan, gua pasti mau," kata Chouji.
"Tapi Naruto gak nyiapin makanan buat lo tuh, Chouji," sahut Sakura.
"Kalau begitu gua ga mau ikut. Udah ngatain gua gendut, ga nyiapin makanan lagi!" kata Chouji sambil melipat tangan.
SKIP! ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ -_-
RALAT!
Akhirnya mereka berlima memulai menjalankan misi dengan baik. Mereka berlari dan mencoba meneliti ke daerah yang Naruto maksud.
"Di sinilah daerah yang dimaksud Naruto," kata Neji.
"Tidak ada tanda-tanda musuh," kata Chouji sambil melahap sebungkus kripik kentang yang dibawanya.
"Mungkin saja musuh kita adalah Akatsuki yang berbahaya itu," kata Shikamaru sambil menaruh tangannya ke belakang kepalanya.
"Musuh kita saat ini adalah orang kuat. Anbu pun dapat dihantam dengan mudahnya," jelas Sakura sambil memegang sebuah kunai pada tangan kanannya.
"Benarkah jika Akatsuki?" Neji bertanya-tanya sendiri. Shikamaru menoleh pada Neji, lalu ia menghela napas.
"Tetap waspada, siapapun musuh kita, pasti dia sedang mengintai kini," kata Sai. Setelah berkata demikian sebuah kunai dengan bom kertas mendarat di depan mereka dan…
DUAR!
Meledak seketika. Untung saja Sakura dan kawan-kawan berhasil loncat ke ranting pohon terdekat.
"Benar bocah! Kalian harus waspada," suara seseorang terdengar dari dekat. Mereka berlima melongo berusaha mencari asal suara itu. Namun, tiba-tiba sebuah bom berada di depan mereka lagi. Kali ini terdapat 5 bom tanah liat.
DUAR!
Mereka belum sempat kabur. Akhirnya mereka terpental dan jatuh ke tanah. Tubuh mereka terasa sedikit sakit. Sambil berusaha melihat ke depan, Sakura melihat sosok 5 orang di depannya. Ternyata benar. Musuhnya adalah rombongan Akatsuki.
"Lagi-lagi ada orang yang mengganggu kita," kata seseorang yang membawa pedang dengan tiga mata. Yang tak lain adalah, Hidan.
"Kita diganggu lagi," seseorang dengan tubuh besar dan menyeramkan mengulang perkataan Hidan lagi. Yaitu, Kakuzu.
"Kita selalu diganggu, Hmm," seseorang dengan rambut pirang dan kerjaannya ha-hm ha-hm, Deidara, lagi-lagi mengulang.
"BERHENTI! Jangan mengulang-ulang perkataan itu terus. Kita sedang diganggu," hardik seseorang lagi sepertinya ketuanya dan ia marah. Padahal ia sendiri mengulang perkataan Hidan. -_-
"Dasar Pain, BAKA! Lo juga ngulang perkataannya Hidan, BAKA!" sahut seorang wanita berambut biru. Konan, memukul kepala seseorang yang dipanggil Pain itu.
SKIP! ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ -_-
RALAT!
"Kalian bocah, apa yang kalian lakukan di sini? Hmm," Tanya Deidara sambil menarik rambut Neji yang panjang.
"Aduh! Jangan tarik rambut gua dong! Belom perawatan nih, nanti rambut gua rontok. Ilang deh kepopuleran gua," sahut Neji marah-marah.
SKIP! ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ -_-
RALAT!
"Kalian bocah, apa yang kalian lakukan di sini? Hmm," Tanya Deidara sambil menarik rambut Neji yang panjang. "Oh, ternyata Konoha. Lagi-lagi Konoha mengirim orang suruhan, Hmm" lanjut Deidara begitu melihat ikat kepala pelindung dengan symbol Konoha milik Neji.
"Sia-sia saja kalian kemari," kata Hidan sambil tertawa tidak jelas.
"Kemarin mengirim Anbu. Sudah kalah, mengirim bocah lemah ini," tambah Kakuzu sambil menendang tubuh Chouji.
"Kalian pasti mengira kami adalah Akatsuki," kata Konan. Sedangkan Pain hanya terdiam menatap Sakura cs dengan tatapan yang curiga dan menyeramkan.
"Kalian memang Akatsuki," kata Shikamaru mencoba bangkit berdiri.
"Dan kami bukan bocah lagi," tambah Sakura yang kemudian bangkit berdiri juga.
"Oh, jadi mereka belum tahu, ya?" kata Hidan dengan nada menghina.
Sai dan yang lain pun bangkit berdiri. Meskipun dengan agak lemas.
"Tahu apalagi? Kalian memang anggota Akatsuki, bukan?" kata Neji sambil merintih kesakitan setelah dijambak Deidara.
"Kami keluar dari Akatsuki. Itu karena kekuasaanku diambil alih. Akatsuki menjadi organisasi yang seperti mesin pembunuh. Hanya berjuang demi keegoisan ketua baru, bukan demi perdamaian dunia shinobi," jelas Pain sambil menundukkan kepala.
"Iya, selain itu seniku tidak dihargai, Hmm," tambah Deidara yang kalau dipikir tidak terlalu penting.
"Kami selalu dipaksa untuk menguras chakra kami," tambah Konan lagi.
"Ya, dan gajiku tidak dinaikkan. Dan uangku tambah menipis karena dibebani kerjaan berat yang menguras biaya," tambah Kakuzu.
Akhirnya mereka terdiam.
"Kalau kau kenapa Hidan?" Tanya Shikamaru.
"Yah, aku ikut-ikutan saja sih sebenarnya," jawab Hidan jujur. Akhirnya, mantan Akatsuki itu menangis tanpa sebab.
(Readers: Kenapa jadi pada curhat sih?)
SKIP! ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ -_-
RALAT!
"Ingat! Kami bukan anggota Akatsuki lagi," kata Pain dengan lantang.
"Bukan Akatsuki? Kalau begitu, mengapa kalian mengganggu orang sekitar sini," Tanya Sakura sambil memegang lututnya yang masih terasa agak sakit.
"Mudah saja. Dengan membunuh orang sekitar, maka kami akan menguasai daerah ini dengan mendirikan organisasi baru," jelas Kakuzu. "Dan, tidak ada yang bisa mengalahkan kami,"
"Kami akan menjadi terkuat di dunia ninja ini, dan menguasai dunia ini layaknya dewa," kata Pain sambil menelentangkan tangannya dan menghadap ke atas .
"Tidak semudah itu. Kalau kalian dewa, maka kami adalah bocah ajaib yang akan mengalahkan kalian," sahut Neji tidak terima.
"Melawan mereka? Bukankah itu akan sulit?" Chouji masih ragu.
"Bocah ajaib harus menuruti dewa," kata Pain lagi masih tidak terima dengan perkataan Neji tadi.
"Dewa adalah yang paling terkuat. Jika dewa dikalahkan bocah, maka dewa itu tidak bisa disebut dewa lagi," balas Shikamaru.
"Berani sekali kalian," Hidan kesal.
"Kami akan menunjukkan kekuatan bocah ajaib yang sesungguhnya," kata Shikamaru sambil menyiapkan jutsunya, "Sakura, Sai, Neji, Chouji, ayo maju!" lanjut Shikamaru dengan penuh semangat. Sakura dan yang lain mengangguk. Mereka berlari ke depan menyerang mantan anggota Akatsuki itu. Namun, akhirnya mereka terpental karena jurus yang dikeluarkan Konan. Sedangkan Hidan juga sudah menyiapkan pedang tiga matanya.
Mantan anggota Akatsuki memang sangat kuat. Segala serangan yang dikeluarkan oleh Shikamaru dan kawan-kawan dapat ditebas oleh mantan Akatsuki. Dan beberapa saat kemudian, Shikamaru, Neji, Sakura, Chouji, dan Sai sudah terkapar di tanah.
"Huh, aku kehabisan chakra," kata Chouji dengan lemas dan terjatuh ke tanah.
"Bocah adalah bocah. Tidak ada yang dapat mengalahkan dewa selain bocah Haruma blasteran," kata Pain dengan dingin.
"Haruma blasteran? Apa sih maksudmu?" Tanya Hidan bingung.
"Kemarin ketua Pain bertarung dengan si murid tomat merah itu. Dan ternyata muridnya itu sudah sangat berkembang pesat. Akhirnya Pain – sama dapat dikalahkan," jelas Kakuzu sambil memperagakan tangannya kepada Hidan.
"Oh, jadi Uchiha – chan itu, tak kusangka," kata Hidan seperti merasa bangga.
"Gadis itu cantik rupawan, jangan kau samakan dengan tomat, hmm," timpal Deidara menentang perkataan Kakuzu tadi.
"Rambutnya merah seperti tomat," balas Kakuzu melipat tangannya.
"Sudah, hentikan ocehan kalian," kata Konan berusaha menghentikan perdebatan Deidara dan Kakuzu.
"A-apa maksud kalian? Ha-haruma?" kata Sakura agak tercengang.
"Apakah itu Fushame?" Tanya Neji lagi.
"Fushame? Kalian kenal Fushame?" tambah Shikamaru, "Jawab kami!" lanjut Shikamaru sedikit berteriak.
"Bukan urusan kalian. Bilang pada pemimpin kalian, datanglah sendiri! Jangan dengan anak buahnya seperti ini," kata Konan.
"Akan kami tunggu Kazekage dan Hokage untuk menyelesaikan masalah ini," tambah Kakuzu.
"Bocah tak akan bisa menyelesaikan masalah kami," lanjut Pain.
"Kalian adalah sampah tak berguna!" tambah Hidan yang terdengar menyakitkan.
Deidara menghela nafas, "Payah sekali, ternyata kage memiliki banyak anak buah, Hmm. Menyelesaikan masalah dengan orang suruhan, Payah! Hmm," kata Deidara. Sudah jelas.
Pain berjalan mendekati Shikamaru dan kawan-kawan. Ia menyentuh kepala mereka berlima satu persatu.
"Pulanglah dengan ketidaksadaran. Entah bagaimana, sampaikan pesan singkatku pada pimpinanmu," kata Pain. Perkataan yang sulit dimengerti. Shikamaru pun tidak mengerti. Seketika tubuh mereka menjadi beku, tidak dapat bergerak. Bergeser pun tidak bisa. Kekuatan dewa memang sangat menakjubkan. Tubuh Neji pun telah tergeletak di tanah tidak sadarkan diri.
Begitu pula Chouji dan Sai. Sakura yang terlihat memaksa untuk bergerak sedikit saja tetapi sia-sia, yang hanya dapat ia gerakkan hanya gertakan gigi. Akhirnya Sakura pun terjatuh ke tanah dan memejamkan matanya dengan lelap. Shikamaru pun juga demikian, ia tidak dapat bergerak. Membuat satu segel tangan saja,
Tetapi tetap tidak bisa. Ia seperti terhimpit di antara banyak bebatuan yang tajam dan besar. Tak dapat bergerak. Tak dapat mengatakan apapun. Sulit untuk berpikir. Mendengar pun sulit. Sebelum ia terlelap tidak sadarkan diri, ia hanya berharap dapat lari dari sini dan memberitahu hal ini pada Naruto. Tetapi, tidak mungkin.
"Ingat, bocah. Aku adalah Dewa. Dan kalian harus menuruti dewa, bukan?" kata terakhir Pain yang terdengar tidak jelas di telinga Shikamaru.
"Maafkan aku semuanya," batin Shikamaru sebelum memejamkan matanya. Ia terjatuh perlahan ke tanah. Menoleh, melihat teman-temannya yang sudah tak sadarkan diri.
Mengapa semua jadi begini? Mengapa aku harus mati secepat ini? Pikir Shikamaru.
Perlahan pandangan Shikamaru menjadi kabur. Dunia luar sudah tidak ia hiraukan lagi. Sepertinya, dunia luar adalah mimpi gelap dan tidak dapat digapai. Dahinya menjadi pusing dan ia sudah tidak kuat membuka matanya. Suara-suara tawa para mantan anggota Akatsuki itu sudah mulai terdengar jauh dan kabur.
"Sensei," tiba-tiba suara seorang gadis yang menurutnya tidak asing terdengar jelas di telinganya.
Siapakah itu gerangan? Apakah itu…
Fushame? Mengapa kau harus begini?
Tidak mungkin, seandainya itu Fushame, pasti ia sudah menolong kami, batin Shikamaru yang sudah diliputi oleh ketidaksadaran.
CHAPTER 8 END!
