Naruto by 'Masashi Kishimoto' "THE RED HAIR COUPLE" – Clareta Vero

Disclaimer: Tokoh karakter, tempat, dan property lain milik pencipta asli (kecuali Fushame). Hanya untuk berbagi cerita dan hiburan semata!

Warnings: AU, OC & OOC, Many clarify and dialogue, 'cripsy' crack and kidding, mystery and many skip time! Just two choice, "READ" or "DON'T Read"…

R&R please…?

Chapter9: Kazekage & Hokage Are Starting!

"Hoi, sudahlah tidak usah pura-pura tidur lagi," teriak Naruto sambil menyiram segelas air ke wajah Shikamaru yang terlihat terbaring di ranjang. Shikamaru terkejut dan segera membuka matanya. Air yang begitu dingin membuatnya terkejut begitu menyentuh kulit wajahnya yang hangat.

"Aku tidak pura-pura tidur," kata Shikamaru begitu mencoba membangkitkan tubuhnya.

"Kau yang paling lama siuman, Shikamaru. Kami jadi khawatir, dan oleh sebab itu Naruto – sama berbuat nekat seperti itu," kata Sai yang ternyata berada di sebelah ranjang Shikamaru.

"Huh, benarkah. Jangan bercanda," kata Shikamaru sambil mengelap wajahnya yang basah karena habis disiram segelas air oleh Naruto tadi.

Naruto mengalihkan pembicaraan, "Aku sudah dengar dari Sai, tetapi ia juga tidak terlalu jelas mengingat hal yang beberapa hari terjadi itu. Mungkin kau mengingat lebih banyak, Shikamaru,"

Shikamaru sedikit menghela napas lemas, "Oh benar juga, bukankah aku sudah mati? Bukan hanya aku, tetapi Sakura, Neji, Sai, dan Chouji juga sudah mati, bukan?" kata Shikamaru mengingat sesuatu.

"Aku pikir juga begitu, 2 hari yang lalu ada yang menemukanmu di tepi sungai. Lalu mereka membawa kalian kemari. Dan kalian terlihat sangat pucat, lemas, tidak berdaya. Kupikir juga sudah mati, tapi ternyata kalian dapat diselamatkan oleh tim medis," jelas Naruto sambil mendudukan dirinya di sebuah kursi yang ada di tengah-tengah antara Shikamaru dan Sai.

"Aku mengerti. Untung saja. Mendokusei na," sahut Shikamaru.

Naruto menatap serius Shikamaru, "Jadi apa yang masih kau ingat? Coba kau ingat,"

Shikamaru terdiam, ia hanya menundukkan kepalanya mencoba mengingat segala sesuatu yang terjadi minggu lalu itu. Tetapi, tidak ada ingatan yang tersangkut di otaknya, "Aku merasakan ada sesuatu yang penting untuk diingat, tetapi aku tidak dapat mengingatnya. Maafkan aku Naruto," sahut Shikamaru sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Hmm, bahkan dengan kecerdasanmu kita tidak dapat mengalahkan pengganggu itu," kata Naruto dengan tegas.

"Yang aku ingat, musuh kita adalah mantan anggota akatsuki," kata Shikamaru lagi sambil memegang kepalanya dengan tangannya.

"Mantan anggota akatsuki?" Tanya Naruto heran.

"Itu yang tidak dapat kuingat. Dan ada suatu kata penting yang ingin ketua mereka sampaikan padamu," kata Shikamaru dengan nada datar.

"Apa itu?" Tanya Naruto sambil memiringkan kepalanya.

"Katanya mereka ingin Kazekage dan kau menemui mereka secara langsung," sahut Shikamaru.

"Apa?" Naruto masih bingung. Sedangkan Sai hanya menyentuh kepalanya yang berdenyut-denyut sakit.

"Temui mereka secara langsung, Naruto. Minta Gaara menemanimu," kata Shikamaru dengan serius. Naruto terdiam sesaat. Ia bangkit berdiri dan beranjak keluar ruang rawat Shikamaru dan Sai itu.

"Aku akan menyelesaikannya sekarang," kata Naruto sambil membuka pintu keluar. Berjalan perlahan. Sebelum menjalankan apa yang Shikamaru katakan, ia menulis pesan kepada Gaara di Suna. Dan akhirnya, inilah pertarungan dunia shinobi, akan dimulai lagi.

Naruto berjalan perlahan. Perlahan tapi pasti. Hening dan tenang, seperti yang dikatakan Shikamaru dan Sai. Seperti tidak ada tanda-tanda dari musuh. Hanya ada suara gemerisik daun yang terkena angin dan suara seseorang yang seperti mendarat di depannya secara tiba-tiba, membuat Naruto sedikit terloncat.

"Maaf, aku datang terlambat," kata orang yang mendarat itu yang ternyata Gaara yang telah berjanji akan menemaninya untuk menyelesaikan masalah di perbatasan ini. Naruto terlihat lega, ia mengelap keringat dingin yang tadi mengucur di dahinya.

"Sudah jadi kebiasaanmu untuk selalu datang terlambat," sahut Naruto bergurau. Gaara terdiam sejenak, terlihat tetap melihat kea rah depan meski Naruto menoleh kepadanya. Gaara selalu bersikap dingin, batin Naruto.

"Hanya sekali ini saja," sahut Gaara tidak jelas setelah berselang waktu 5 detik. Tetapi tatapannya tetap menghadap lurus ke depan.

"Baiklah, kita harus waspada kali ini," kata Naruto dengan tegas dan mantap.

"Ya," sahut Gaara singkat. Selalu menjawab perkataan singkat kepada siapapun. Itulah salah satu ciri Gaara lagi.

Tiba-tiba suara menggelegar muncul dari tempat yang tidak diketahui,

"Benar, kali ini kita harus waspada,"

Begitu mendengar kemudian, tentu saja mereka berdua menjadi bingung dan heran. Perasaan seram timbul dalam diri Naruto.

"Su-suara a-apa i-ituu?" Tanya Naruto terbata. Ia ketakutan mendengar suara menggelegar tadi. Sedangkan Gaara hanya melongo ke atas mencari asal suara. Tidak ada perasaan gentar sedikit pun. Dan hal sama terjadi lagi, tiba-tiba sebuah kunai dengan bom kertas menancap di depan mereka. Mata Gaara terbelalak seketika. Sedangkan Naruto malah berteriak tidak jelas. Mau tidak mau Gaara harus menarik Naruto untuk menyelamatkan diri dari bom kertas itu.

DUAR!

Dan bom itu meledak seketika. Untung Naruto sempat ditarik Gaara untuk menyelamatkan diri. Asap hitam menutupi pandangan mereka berdua. Asap pun sudah mulai menipis. Tipis… dan

Tampak 5 mantan anggota akatsuki lagi. Tatapan mereka begitu dingin dan menyeramkan kecuali Hidan dan Deidara yang selalu unjuk gigi.

"Akhirnya mereka muncul juga, Kazekage dan Hokage. Sekian lama kami menunggumu," kata Pain dengan nada datar dan dingin.

"Akhirnya kalian datang, duo kage. Bukan anak buahmu. Kami menunggumu, Hmm…" kata Deidara mengulang perkataan Pain tadi.

"Akhirnya Hokage dan Kazekage datang," kata Hidan mengulang lagi sambil tertawa tidak jelas seperti biasa.

"Hokage, Kazekage, kami menunggumu. Akhirnya kau datang juga," kata Kakuzu yang lagi-lagi mengulang. Huh!

"Sudah, tidak usah diulang-ulang! Kazekage dan Hokage sudah datang, (Readers: sama aja ngulang! -_-) " kata Konan.

SKIP! ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ -_-

"Ya, kami datang untuk menghentikan kalian!" jawab Gaara tegas.

"Kami berdua datang untuk menghentikan kalian!" ulang Naruto.

(Readers: Kenapa kage jadi ikut2an main ulang2an sih? -_-)

SKIP! ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ -_-

"Benar perkiraanku ternyata. Kazekage dan Hokage juga sama-sama bocah," kata Kakuzu menghina.

Hidan tertawa kecil seperti biasanya, "20 tahun rasanya bukan bocah lagi. Dasar orang tua," ejek Hidan pada Kakuzu.

"Tetapi wajah mereka masih terlihat bocah, hmm," ejek Deidara lagi. Beginilah pekerjaan mereka, hanya mengejek orang yang akan menjadi lawan mereka.

"Diam kau Deidara. Kau juga masih bocah. Dan kau Kakuzu, kau juga sudah tua Bangka, jadi diam saja. Kalau Hidan biasa saja," kata Pain dengan tegas menoleh kepada anak buahnya yang berdiri di belakangnya. "ternyata kalian menuruti permintaan kami," kata Pain menoleh ke arah Naruto dan Gaara.

Naruto dan Gaara hanya terdiam heran melihat tingkah awal mantan anggota Akatsuki itu.

"Tentu anak buah kalian memberi tahu kalau kami ini bukan anggota akatsuki, bukan?" Tanya Konan memastikan.

"Ya, jadi organisasi apa kalian ini?" Tanya Naruto dengan serius.

Tiga orang bawel (Kakuzu, Hidan, Deidara) tertawa kecil. Sedangkan Konan terus menatap tajam. Pain hanya menatap dingin.

"Itu tidak penting untuk kalian. Yang penting bagi kalian adalah untuk berhati-hati dan terus waspada kepada kami," kata Pain dengan tegas dan dingin.

"Tak 'kan kubiarkan," kata Naruto seperti tidak terima. Setelah itu ia membuat segel tangan yang sudah biasa,

"Kagebunshin no Jutsu," jutsu andalan Naruto. Klon-klon dari Naruto menyerang mantan anggota akatsuki itu. Tetapi, seluruh klon dapat dibasmi dengan mudah. Disusul dengan Gaara yang terkenal dengan sebutan Absolute Ultimate Defense – nya. (Kekuatan pasir yang ampuh melindungi yang sulit untuk dikalahkan).

Pertarungan berlangsung sangat sengit dan seru. Seluruh kekuatan dikerahkan demi nyawa dan kekuasaan. Tetapi, tiba-tiba pertarungan dihentikan. Membuat Naruto dan Gaara menjadi heran karena mantan akatsuki ini menghentikan serangannya. Mereka berlima terlihat kebingungan. Pain segera berlari bersembunyi ke balik pohon tempat mereka biasa bersembunyi. Konan menyusul.

Sedangkan Kakuzu menarik Naruto bersama mereka dan menutup mulut Naruto dengan tangannya. Begitu pula Gaara yang digeret oleh Hidan dan juga Deidara. Tentu saja, duo kage itu kebingungan. Bingung begitu pertarungan berhenti dan mereka menggeretnya ke pohon besar aneh itu.

"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Naruto kesal dengan sedikit berteriak.

Kakuzu menutup mulut Naruto lagi. Naruto meronta-ronta, "Ssstt! Diamlah, itu adalah musuh kami. Musuh berbahaya, yang harus kita teliti," sahut Deidara dengan tertahan.

"Musuh berbahaya?" bisik Gaara bertanya bingung.

"Itu adalah ketua organisasi akatsuki yang sekarang. Dengan anggota yang baru dan juga menyebalkan, hmm…" sahut Deidara sambil berbisik pula.

"Padahal jelek, tapi sombong. Dasar orang jelek," kata Hidan mengejek orang yang kini sedang berjalan di depan mereka yang seperti mengendap-endap. Orang yang sangat asing bagi Naruto dan Gaara. Ternyata anggota Akatsuki kini hanya 4 orang.

"Siapa mereka?" Tanya Naruto heran.

"Itu adalah ketua baru Akatsuki, yang memakai topeng. Si pendekar mata satu, namanya Tobi," kata Konan.

"Sebelah Tobi adalah si Zetsu. Dia adalah seorang mata-mata yang sangat diandalkan," lanjut Pain.

"Dan di belakang Tobi itu adalah si orang jelek tapi sombong itu. Namanya Yakushi Kabuto," kata Hidan sambil memperagakan tangannya.

"Sebelah Kabuto adalah si ular tidak jelas. Namanya Orochimaru," tambah Kakuzu.

"Lalu, mengapa kalian malah bersembunyi di sini dan mengajak kami kemari?" Tanya Naruto bingung dengan tingkah 5 mantan akatsuki yang terkadang tidak jelas dan sulit dimengerti.

"Mereka adalah orang licik. Takutnya, mereka akan mengambil segala yang kami punya saat ini," jelas Konan.

"Lawan saja mereka. Kalian 'kan orang kuat," kata Naruto mencoba meyakinkan.

"Tidak bisa untuk saat ini. Kami pernah mencoba melawan mereka, tetapi sia-sia. Kami kalah jumlah," jelas Pain, "Kabuto dan Orochimaru memiliki kekuatan Edo Tensei yang dapat membangkitkan ninja-ninja hebat yang telah mati," lanjutnya.

"Zetsu putih dapat membuat bunshin(bayangan) dirinya sendiri sebanyak 100 ribu, hmm…" tambah Deidara.

"Selain itu, mereka memiliki Bijuu yang kami tangkap dahulu. Meskipun masih terdapat 2 jinchuuriki yang belum ditangkap," tambah Hidan.

"Sangat kuat," sahut Gaara dengan singkat. "Lalu, anggota akatsuki lain seperti Kisame, Sasori, dan Itachi?" tanyanya.

"Kisame sudah bunuh diri, Sasori ada di markas kami, sedangkan Itachi sedang berlibur ke Takigakure," jelas Pain dengan nada datar. "Namun ada tambahan 1 orang di organisasi kami, namanya Nagato, dan sekarang ia berada di markas juga bersama Sasori," lanjutnya.

"Aku mengerti kini," sahut Gaara lagi-lagi dengan singkat.

"Kalau begini terus, dunia ninja tidak akan pernah tenteram dan damai," kata Naruto dengan nada khawatir.

"Kami juga berusaha membuat perdamaian, tetapi sia-sia saja, segala rintangan terus saja muncul di jalan kami," kata Konan.

"Yang hanya bisa kami lakukan adalah membunuh orang untuk mencari uang yang banyak," tambah Kakuzu.

"Apa hubungannya sih?" Hidan bingung.

"Kami berusaha mencari hal besar, kekuasaan besar, pasukan besar. Tetapi tidak ada yang ingin bekerjasama dengan kami," kata Pain.

"Mereka hanya sering menghina kami dan memberikan rasa sakit pada kami. Terus saja disiksa," sahut Hidan lagi.

"Kita harus segera menyingkirkan pendekar bermata satu itu, kalau tidak, dunia ninja akan berakhir," kata Konan serius.

"Kalau para kage memang tidak ingin bekerjasama dengan kami, kami akan selalu berjuang sekuat tenaga sampai titik darah penghabisan demi dunia ninja," kata Pain sekali lagi dengan tegas.

"Kalau begini, aku ingin bekerjasama denganmu," sahut Gaara.

"Apa?" Tanya Pain agak tercengang. Begitu pula mantan akatsuki yang lain.

"Konoha juga ingin bekerjasama denganmu," tambah Naruto sambil tersenyum kecil.

"Kalian serius?" Konan masih tidak percaya. Naruto dan Gaara mengangguk pasti. Para mantan akatsuki sedikit meloncat kegirangan.

Pain sedikit merubah tatapan dinginnya, "Kalau begini, maafkan kami. Karena telah menyiksa daerah ini," kata Pain sambil tersenyum kecil.

"Hn," sahut Gaara singkat.

"Bukan masalah, Pain. Tetapi, ngomong-ngomong, mata rinneganmu kemana?" Tanya Naruto begitu memerhatikan mata Pain yang biasanya berbentuk Rinnegan berwarna keunguan, berubah menjadi berwarna cokelat muda.

Pain agak tertawa kecil, "Kalau begitu, aku akan memperkenalkan diriku sebenarnya." Naruto dan Gaara menatap pria yang selama ini mereka panggil Pain dengan serius. Sedangkan 4 mantan akatsuki lain malah mengobrol sendiri, "namaku adalah Yahiko bukan Pain, Pain adalah tubuhku yang mati," katanya.

"Ya-ya…?" Naruto agak tercengang.

"Baik," sahut Gaara singkat.

Dan inilah kelompok baru kita, Akatsuki yang bergabung dengan Konoha dan Suna…

Pagi. Udara sangat cerah. Terasa tidak terlalu panas tetapi juga tidak terlalu dingin. Burung-burung terlihat tenang terbang dan berkicauan ke sana kemari. Baru saja akan menyesap secangkir teh hangat, kegaduhan datang tiba-tiba,

"Raikage – sama! Berita gawat!" teriak Shi begitu memasuki ruang Raikage.

"Ada apa?" Tanya Raikage terkejut. Begitu pula Mizukage, Hokage, Kazekage, dan Tsuchikage yang dikejutkan oleh sepucuk surat dari orang tidak dikenal. Namun terdapat lambang dari Akatsuki. Tidak salah lagi.

"Surat apa ini?!" Raikage sedikit geram begitu membaca isi surat itu. Isi surat yang menyatakan bahwa Akatsuki adalah organisasi yang memberontak dunia ninja. Akatsuki adalah organisasi yang akan menguasai dunia ninja. Yang akan mengadakan perang melawan para 5 negara besar shinobi.

"Apa? Akatsuki ingin perang?" kata Mizukage.

Akhirnya kelima kage mengadakan pertemuan untuk membahas perang yang dinyatakan Akatsuki tersebut. Perang! Akhirnya kelima Negara besar Shinobi bergabung untuk melawan Akatsuki yang dipimpin oleh Tobi. Pendekar bermata satu, kata Konan. Bisa juga dipanggil si pahlawan bertopeng.

"Apa? Perang?" kata Konan tersentak begitu membaca surat dari Naruto yang baru saja dikirim untuknya.

"Perang apa maksudmu?" Tanya Hidan.

"Tobi menyatakan perang kepada 5 negara besar shinobi, dan perang sudah dimulai hari ini," kata Konan dengan sedikit bingung.

"Lalu kita bagaimana?" Tanya Deidara.

"Dasar Deidara bodoh! Katamu kita bekerjasama dengan 2 kage itu, berarti kita juga bergabung dengan 5 negara besar gabungan shinobi," sahut Sasori yang sedang duduk santai bersila.

"Perang bukanlah hal mudah," tambah Kakuzu.

"Perang hanya menimbulkan rasa sakit. Jadi apa yang akan kita lakukan, Yahiko?" Tanya Nagato kepada Yahiko yang sedang melamun merenungkan sesuatu.

"Kita harus tetap ikut perang itu," sahut Yahiko dengan mantap.

Hidan sedikit terkejut, "Apa kau yakin? Saingan kita adalah si orang sombong dan jelek itu," katanya.

"Kau diam saja, Hidan!" kata Kakuzu sambil memukul kepala Hidan.

"Dan edo tensei adalah jurus yang sangat kuat," tambah Itachi.

Semua menjadi terdiam sejenak, bingung harus bagaimana. Semua menatap lantai, kecuali Hidan yang sedang mengelus kepalanya yang sedang kesakitan dipukul oleh Kakuzu. Hidan merasa berbeda sendiri, lalu ia langsung ikut-ikutan menatap lantai.

"Kita akan membantu lima Negara besar gabungan shinobi secara diam-diam," kata Yahiko tiba-tiba.

"Diam-diam? Maksudmu?" Tanya Konan tidak mengerti.

Yahiko yang tadi terduduk bangkit berdiri dan berkata, "Semuanya! Siapkan mental dan kekuatan kalian. Selain lima Negara besar shinobi yang bersiap, kita juga harus bersiap," katanya tegas.

"Baik!" jawab semuanya serempak. Lalu mereka yang tadinya terduduk, mereka semua bangkit berdiri dan mempersiapkan segala sesuatunya. Mereka berpencar dan mengambil segala sesuatu yang mereka perlukan dalam bertarung.

"Persediaan tanah liatku, hmm… biasanya bawa 2 kantung, karena ini perang kayaknya harus menyewa truk deh," kata Deidara.

"Dasar bodoh! Bawa seperlunya saja!" kata Sasori memarahi Deidara sambil mengambil gulungan-gulungan kugutsu-nya.

"Tidak perlu mempersiapkan apa-apa. Cukup membawa pedang kesayanganku,"kata Hidan sambil mencium-cium pedang bermata tiganya itu.

"Aku hanya mempersiapkan aksi topengku saja sepertinya," kata Kakuzu sambil menggerak-gerakkan tubuh belakangnya. Sedangkan Itachi hanya melihat isi dari tas kecil yang biasa dibawanya.

"Persediaan senjataku yang penting," katanya. Beralih pada Konan yang hanya merapikan rambut birunya dengan kedua tangannya. Sedangkan Yahiko mengasah pedangnya. Nagato mempersiapkan ke-lima tubuh Pain.

Teringat akan perang, tiba-tiba Itachi menjadi teringat sesuatu pula.

"Perlukah kuundang Uchiha Sasuke dalam perang ini?" Tanya Itachi pada Pain sambil mengasah kunai-kunainya.

"Sepertinya tidak perlu. Sudah tidak ada waktu lagi," sahut Yahiko dengan tegas dan sedikit menghela napas kesal bercampur bingung.

"Apa kau yakin?" Tanya Itachi lagi.

Yahiko hanya terdiam. Sedangkan Konan sedikit termenung, oleh karena itu Nagato lah yang menjawab, "Kita sudah terlambat bergabung ke medan perang, sekarang kita harus segera ke medan perang. Mereka sudah menunggu kita," Itachi agak menghela napas. Dan ia hanya mengangguk kecil.

Dan Inilah saatnya yang sangat tidak diharapkan datang. Saat perang yang menyiksa. Saat perang yang menyakitkan, saat perang yang bertaruh nyawa. Perang untuk melindungi dunia ninja. PERANG KEGELAPAN yang sangat sulit untuk dihentikan.

CHAPTER 9 END!